Setelah menemukan haq, jangan berselisih demi yang lebih haq
Wahai pencari hakikat, jika pada haq ada sepakat dan pada yang lebih haq orang berselisih, kadang haq lebih haq daripada yang lebih haq. Kadang pula yang baik lebih baik daripada yang lebih baik.
Islam adalah damai dan hidup berdamai; ia tidak menghendaki pertikaian dan permusuhan di dalam
Wahai dunia Islam! Hidupmu ada dalam ittihad. Jika engkau menginginkan ittihad, kaidahmu hendaklah begini: sebagai ganti "Huwa al-Haqq", hendaklah "Huwa Haqqun". Sebagai ganti "Huwa al-Hasan", hendaklah "Huwa al-Ahsan". Setiap Muslim hendaklah berkata tentang jalan dan mazhabnya sendiri: "Ini haq, aku tidak mengusik yang lain. Jika yang lain baik, milikku yang paling baik." Ia tidak semestinya berkata: "Inilah haq, yang lain batil." Atau: "Hanya milikku yang baik, yang lain salah dan buruk." Pikiran yang memonopoli lahir dari cinta kepada nafsu sendiri, lalu menjadi penyakit; pertikaian lahir darinya. Beragamnya penyakit dan obat adalah haq, maka haq pun beragam. Bermacamnya kebutuhan dan makanan adalah haq, maka haq pun bermacam-macam. Banyaknya bakat dan didikan adalah haq, maka haq pun banyak. Satu zat menjadi racun sekaligus penawar, menurut dua tabiat tubuh yang berbeda. Dalam masalah-masalah cabang, hakikat tidak tetap; ia relatif dan tersusun. Tabiat para mukalaf memberi bagian padanya; sesuai dengan itu ia terwujud dan tersusun. Penganut setiap mazhab memberikan putusan tanpa batas yang ditentukan. Ia menyerahkan penentuan batas mazhabnya kepada kecenderungan tabiat; fanatisme mazhab menyebabkan putusan diberlakukan secara umum. Berpegang pada pemberlakuan umum itu menyebabkan pertikaian. Sebelum Islam, jurang-jurang yang dalam dan jarak yang luar biasa antara lapisan-lapisan manusia menuntut, pada satu masa, banyak nabi, beragam syariat, dan beberapa mazhab. Islam membawa perubahan besar pada manusia; manusia saling mendekat, syariat mewujudkan ittihad, Nabi ﷺ hanya satu. Tingkat manusia belum sama, maka mazhab beragam. Ketika satu didikan telah mencukupi, mazhab-mazhab akan mencapai ittihad...
Ada hikmah besar dalam mencipta dan menghimpun hal-hal yang berlawanan. Di tangan Kudrat, matahari dan zarah adalah sama.
Wahai saudara yang hatinya terjaga! Dari terhimpunnya hal-hal yang berlawananlah Daya menampakkan Tajalli. Tahukah engkau rahasia adanya derita dalam nikmat, buruk dalam baik, jelek dalam indah, rugi dalam manfaat, bencana dalam nikmat, api dalam cahaya? Agar hakikat-hakikat relatif menjadi tetap dan kukuh; agar dalam satu hal terdapat banyak hal, agar terwujud dan tampak. Dengan gerak cepat, sebuah titik menjadi garis. Putaran cepat menjadikan sekilat cahaya sebagai lingkaran bercahaya. Melalui tugas hakikat-hakikat relatif, benih-benih di dunia menjadi tunas. Itulah yang membentuk tanah liat alam, ikatan-ikatan tatanannya, pertalian-pertalian ukirannya. Di akhirat, perkara-perkara relatif ini menjadi hakikat. Tingkat-tingkat panas disebabkan oleh masuknya dingin. Derajat-derajat indah disebabkan oleh masuknya yang jelek. Sebab menjadi penyebab. Terang berutang kepada gelap, nikmat berutang kepada derita; sehat tidak ada tanpa sakit. Mungkin bila tidak ada surga, neraka tidak menyiksa. Ia tidak ada tanpa zamharir. Jika tidak ada zamharir, ia pun tidak dapat membakar. Sang Khallâq yang Azali menunjukkan Hikmah-Nya dalam menciptakan hal-hal yang berlawanan; Keagungan-Nya tampak. Sang Qadîr yang Kekal menunjukkan Daya-Nya dalam menghimpun hal-hal yang berlawanan; Kebesaran-Nya tampak. Karena Kudrat Ilahi merupakan sifat yang tak terpisahkan dari Zat yang Azali dan keniscayaan yang lahir dari-Nya, tidak ada lawan di dalamnya, keadaan tak berdaya tidak dapat menyusup, tidak ada tingkat-tingkat di dalamnya; hubungannya dengan segala sesuatu sama, tidak satu pun berat. Matahari menjadi ceruk bagi cahaya Kudrat itu. Permukaan laut menjadi cermin bagi cahaya ceruk ini, mata-mata embun masing-masing menjadi cermin. Matahari yang ditampilkan wajah laut yang luas juga ditampilkan oleh tetes-tetes di lipatan dahinya; mata kecil embun berkilau seperti bintang. Ia menampilkan jati diri yang sama; embun dan laut menjadi sama dalam pandangan matahari, menjadi perumpamaan bagi Kudrat. Pupil mata embun adalah matahari kecil. Matahari yang megah ini pun merupakan embun kecil; pupilnya adalah cahaya yang datang dari matahari Kudrat, menjadi bulan bagi Kudrat itu. Langit adalah laut; dengan satu napas Sang Rahmân, lipatan-lipatan dahinya bergelombang, tetes-tetesnya ialah bintang dan matahari. Kudrat menampakkan Tajalli, menebarkan kilatan-kilatan bercahaya kepada tetes-tetes itu. Setiap matahari adalah setetes, setiap bintang adalah sebutir embun, setiap kilatan adalah citra. Matahari yang serupa tetes itu merupakan pantulan kecil dari limpahan Tajalli. Kilatan kecil itu membuat kacanya mengilap, berkilau seperti mutiara. Dalam mata lembut bintang yang serupa embun itu, ia menyediakan tempat bagi kilatan; kilatan menjadi pelita, mata menjadi kaca, lampunya bercahaya.
Jika engkau memiliki keunggulan, biarlah ia tinggal dalam tanah tersembunyi agar tumbuh dan berkembang
Wahai pemilik sifat istimewa yang terkenal! Jangan berbuat zalim dengan tampil sebagai orang tertentu. Jika engkau tetap berada di bawah tirai tersembunyi, engkau memberikan kebaikan dan berkah kepada saudara-saudaramu. Kemungkinan dan peluang bahwa di balik setiap saudaramu engkau dapat muncul, bahwa masing-masing mungkin engkau, menarik pandangan hormat kepada setiap mereka. Jika engkau menampakkan diri dan keluar dari bawah tirai, sementara di bawahnya engkau memuliakan, di atasnya engkau menjadi zalim. Sementara di sana engkau matahari, di sini engkau menimbulkan bayangan, membuat saudara-saudaramu jatuh dari pandangan hormat. Berarti tampil dan menjadi pribadi yang dikenali masing-masing merupakan perkara yang zalim. Jika dalam keadaan yang sah dan benar demikian, engkau pun melihatnya demikian, bagaimana dengan memperoleh kemasyhuran pribadi melalui kepura-puraan dusta dan ria? Inilah rahasia agung: Hikmah Ilahi dan tatanan terbaik menyelubungi seorang pribadi luar biasa di dalam jenisnya sendiri dengan tirai tersembunyi; dengan itu jenisnya dihargai dan dipandang baik. Inilah contohnya bagimu: wali di antara manusia, ajal di dalam umur, menjadi tidak diketahui dan tidak ditentukan. Pada hari Jumat tersembunyi suatu saat; jika engkau berdoa, ia diterima. Di dalam Ramadan tersebar satu malam yang bernilai tinggi; di dalam Asmaulhusna tersembunyi eliksir Ismul A'zham. Keagungan contoh-contoh ini dan rahasia yang indah itu ditampakkan melalui yang tidak ditentukan, dibuktikan melalui yang disembunyikan. Misalnya, dalam tidak diketahuinya ajal terdapat suatu keseimbangan; ia menjaga kedua sisi timbangan takut dan harap, bekerja bagi akhirat dan dunia, setiap menit dalam keadaan apa pun engkau berada. Anggapan bahwa hidup akan terus berlanjut memberi nikmat umur. Umur dua puluh tahun yang akhirnya tidak diketahui lebih baik daripada umur seribu tahun yang akhirnya ditentukan. Sebab bila separuhnya berlalu, setiap jam yang datang seolah-olah engkau melangkah menuju tiang gantungan. Bersedih sedikit demi sedikit, angan-angan pun tidak menghibur, engkau pun tidak tenang...
Merasa lebih daripada Rahmat dan Murka Allah subhânahu adalah kesalahan
Jangan menaruh belas kasih melebihi Rahmat Allah subhânahu. Jangan marah melebihi Murka Allah subhânahu. Maka serahkan urusan kepada Sang Âdil Rahîm itu. Kasih sayang yang berlebihan menjadi derita, marah yang berlebihan menjadi sifat tercela...
Boros adalah pintu hidup yang rusak, hidup yang rusak adalah pintu derita
Wahai saudaraku yang boros! Dari segi memberi makan tubuh, dua suapan adalah sama; satu suapan satu kurus, satu suapan sepuluh kurus. Baik sebelum masuk ke mulut maupun setelah melewati kerongkongan, keduanya sama. Hanya di mulut, dan itu pun beberapa detik, keduanya memberi kenikmatan kepada yang tidak sadar. Terdapat perbedaan rasa, yang terus memperdayanya: daya pengecap itu penjaga pintu dan pemeriksa bagi tubuh serta perut. Pengaruhnya bersifat negatif, bukan positif! Tugasnya hanya menyenangkan dan memuaskan penjaga pintu! Engkau memberi nikmat kepada yang tidak sadar itu, mengacaukannya dalam tugas aslinya. Memberikan sebelas kurus sebagai ganti satu kurus menjadi pekerjaan setan. Suatu cara, suatu jenis pemborosan yang paling bodoh dan penghamburan yang paling rusak; jangan menginginkan pekerjaan ini...
Daya pengecap adalah petugas telegraf; jangan menyesatkannya dengan memanjakan rasa
{(): Inilah benih İktisat Risalesi (Risalah Hemat). Bahkan, sebelum terwujud, ia seakan membaca İktisat Risalesi yang sepuluh halaman itu dalam sepuluh baris.} Rububiyah Ilahi, dengan Hikmah dan Inayah-Nya, membentuk dua pusat melalui mulut dan hidung, menempatkan pos perbatasan serta para pemberi kabar di dalamnya. Dalam alam kecil ini, urat-urat dijadikan seperti telepon, saraf-saraf seperti telegraf. Inayah menugaskan penciuman pada telepon dan pengecapan pada telegraf. Ar-Razzâq Yang Hakiki menaruh keterangan dari Rahmat di atas rezeki: rasa, warna, dan aroma. Ketiga ciri ini masing-masing merupakan pengumuman, undangan, izin, sekaligus penyeru dari Ar-Razzâq itu; dengan semuanya orang yang memerlukan dan para pembeli ditarik datang. Dia memberi hewan-hewan penerima rezeki rasa, penglihatan, dan penciuman sebagai alat masing-masing. Dia pun menghias makanan dengan beragam hiasan, membujuk hati-hati yang mengikuti keinginan, membangkitkan dan menarik yang tidak peduli. Ketika makanan masuk ke mulut, pengecapan seketika mengirim telegraf ke segenap penjuru tubuh. Penciuman memberi kabar melalui telepon, menyebut jenis dan macam makanan yang datang. Penerima-penerima rezeki yang kebutuhannya berbeda-beda bertindak sesuai dengannya, menyiapkan diri baginya, atau datang jawaban penolakan; ia diusir dari pintu, bahkan diludahkan ke wajahnya. Karena ini tugas yang diberikan oleh Inayah, jangan menyesatkan pengecapan dan jangan memperdayanya dengan memanjakan rasa. Lalu ia pun lupa apa itu selera yang benar; selera palsu datang menerpa. Kesalahannya mendatangkan hukuman berupa sakit dan penyakit. Nikmat yang sejati lahir dari selera yang sejati, selera yang benar dari kebutuhan yang sungguh ada. Dalam nikmat yang mencukupi ini, raja dan pengemis sama. Satu dinar dan satu dirham pun sama; nikmat itu mematahkan derita, menjadi obat baginya.
Sebagaimana niat, cara memandang pun mengubah kebiasaan menjadi ibadah
Perhatikan hal ini: sebagaimana kebiasaan yang mubah menjadi ibadah melalui niat, demikian pula ilmu-ilmu tentang alam menjadi makrifat Ilahi melalui cara memandang. Penelitian pun menjadi tafakur; yakni jika dengan pandangan makna harfi dan dari sudut Seni, sebagai ganti "Betapa indahnya," engkau memandang alam dengan pikiran, "Betapa indah Sang Pembuat membuatnya, bagaimana Dia membuat ikan itu," maka ukiran Sang Pengukir Azali, dengan Tatanan dan Hikmah-Nya serta kilatan Maksud dan Ketelitian-Nya menerangi syubhat. Ilmu-ilmu alam berubah menjadi makrifat Ilahi. Jika dengan makna ismi, dari sudut tabiat, engkau mengarahkan pandangan, "Bagaimana ia terjadi dalam dirinya sendiri," lalu memandang alam, lingkup ilmu menjadi lingkup kebodohan. Tangan-tangan yang tidak bernilai membuat hakikat-hakikat yang malang kehilangan nilainya. Saksi-saksinya banyak.
Pada zaman seperti ini, izin syariat tidak membiarkan kita bebas memilih hidup mewah
Saat nikmat-nikmat memanggil, hendaklah berkata, "Seolah-olah aku telah makan." Orang yang menjadikan "Seolah-olah aku telah makan" sebagai kaidah tidak memakan sebuah masjid. {(): Di Istanbul ada masjid bernama Sanki Yedim. Orang yang berkata "Seolah-olah aku telah makan" membangunnya dengan uang yang diselamatkan dari keinginannya.} Dahulu kebanyakan kaum Muslim setidaknya tidak lapar. Ada sedikit ruang untuk memilih hidup nikmat. Kini kebanyakan telah jatuh dan tinggal dalam lapar. Tidak tersisa pilihan dan izin syariat untuk mengejar nikmat. Kehidupan rakyat kebanyakan dan mayoritas yang tak bersalah sederhana. Mengikuti mereka dalam kesederhanaan makan seribu kali lebih baik daripada menyerupai minoritas yang boros atau sebagian orang yang hidup rusak dalam kemewahan makan...
Ada saat ketika tidak adanya suatu nikmat adalah nikmat
Ingatan adalah nikmat. Namun bagi orang yang buruk akhlaknya pada saat musibah, lupa lebih baik daripada ingatan. Lupa pun adalah nikmat. Ia hanya membuat orang menanggung derita setiap hari itu sendiri, melupakan derita yang telah menumpuk.
Dalam setiap musibah terdapat sisi nikmat
Wahai yang tertimpa musibah! Dalam musibahmu terkandung suatu nikmat. Perhatikan dan lihatlah. Sebagaimana dalam setiap sesuatu ada suatu tingkat panas, dalam setiap musibah ada suatu tingkat nikmat. Pikirkan yang lebih besar. Dengan melihat derajat nikmat dalam yang kecil, banyaklah bersyukur kepada Allah subhânahu. Jika sebaliknya engkau takut dengan menganggapnya besar, meniupnya dengan "aduh, aduh", ia justru membengkak. Ia membengkak dan menjadi mengerikan. Jika engkau mencemaskannya pula, yang satu menjadi dua. Bayangannya dalam hati berubah menjadi hakikat, mengambil pelajaran dari hakikat. Lalu ia berbalik dan mulai menampar hatimu...
Jangan tampil besar, engkau akan mengecil
Wahai yang enenya menendang dan kepalanya sombong! Ketahuilah ukuran ini: bagi setiap orang dalam masyarakat manusia, dalam bangunan sosial, tentu ada suatu jendela bernama kedudukan, untuk melihat dan terlihat. Jika jendela itu lebih tinggi daripada ukuran nilainya, dengan sombong ia akan meninggikan diri, menjulur. Jika jendela itu lebih rendah daripada ukuran tekadnya, dengan rendah hati ia akan membungkuk, menunduk. Pada orang yang sempurna, kecilnya diri menjadi ukuran besar. Pada orang yang kurang, besarnya diri menjadi ukuran kecil...
Bila tempat sifat-sifat berubah, hakikatnya berubah
Suatu sifat, tempatnya berbeda, wajahnya sama. Kadang raksasa, kadang malaikat, kadang baik, kadang buruk; inilah contohnya: sifat yang dianggap sebagai harga diri si lemah di hadapan yang kuat, jika ada pada yang kuat, menjadi sombong dan angkuh. Sifat yang dianggap sebagai rendah hatinya yang kuat di hadapan si lemah, jika ada pada si lemah, menjadi merendahkan diri dan ria. Bila seorang pemegang wewenang berada pada jabatannya, sikap seriusnya adalah wibawa; tidak menonjolkan diri adalah kehinaan. Bila di rumahnya, tidak menonjolkan diri adalah rendah hati; sikap seriusnya adalah sombong. Jika seseorang berbicara atas nama dirinya sendiri, sikap memaklumi adalah menjaga kehormatan; berkorban adalah sifat dan amal saleh. Jika ia berbicara atas nama orang lain bersama dirinya, sikap memaklumi adalah pengkhianatan; berkorban adalah sifat dan amal buruk. Tawakal saat menyusun sebab-sebab awal adalah malas. Menyerahkan saat hasil tersusun adalah tawakal yang disyariatkan. Rida atas buah usaha dan bagiannya adalah kanaah yang dipuji, memberi kekuatan untuk berusaha. Merasa cukup dengan harta yang ada bukan kanaah yang diinginkan, melainkan tekad yang rendah. Masih banyak contoh lain. Al-Qur’an menyebut amal saleh dan takwa tanpa membatasinya. Dalam tidak ditentukannya itu, ia mengisyaratkan pengaruh kedudukan dan keadaan. Ringkasnya merupakan uraian; diamnya merupakan perkataan yang luas.
ﺍَﻟْﺤَﻖُّ ﻳَﻌْﻠُﻮ dimaksudkan pada dirinya sendiri dan pada akhirnya
Wahai kawan! Suatu ketika seorang penanya berkata: "Jika ﺍَﻟْﺤَﻖُّ ﻳَﻌْﻠُﻮ haq, mengapa orang kafir mengalahkan Muslim, kekuatan mengalahkan haq?" Aku berkata: lihat empat nokta, kesulitan ini pun terurai. Nokta pertama: tidak setiap sarana dari sesuatu yang haq mesti haq. Demikian pula, tidak setiap sarana dari sesuatu yang batil mesti batil. Hasilnya: sarana yang haq mengalahkan sarana yang batil. Karena itu, sesuatu yang haq dikalahkan oleh sesuatu yang batil, untuk sementara dan melalui sarana. Pada dirinya sendiri dan selamanya tidak demikian. Namun hasil paling akhir selalu tetap milik yang haq. Kekuatan memiliki suatu hak, memiliki suatu rahasia penciptaan. Nokta kedua: meskipun setiap sifat Muslim wajib bersifat Muslim, dalam kenyataan hal itu tidak selalu terjadi dan terbukti. Demikian pula tidak setiap sifat orang kafir mesti kafir dan lahir dari kekafirannya. Tidak setiap sifat orang fasik pun selalu terbukti fasik dan lahir dari kefasikannya. Berarti sifat Muslim pada orang kafir mengalahkan sifat yang tidak sah pada seorang Muslim. Melalui sarana, orang kafir itu pun mengalahkannya. Di dunia, hak hidup meliputi semua dan bersifat umum. Ini suatu tampilan penuh makna dari Rahmat yang umum, memiliki suatu rahasia hikmah; kekafiran tidak menghalanginya. Nokta ketiga: dari dua Sifat sempurna Zat Dzul-Jalâl itu, dua syariat bertajalli. Dari Sifat Kehendak datang Masyîah dan Takdir; itulah syariat penciptaan. Dari Sifat Kalam datang syariat yang dikenal. Sebagaimana ada taat dan durhaka terhadap perintah syariat agama, demikian pula ada taat dan durhaka terhadap perintah penciptaan. Yang pertama biasanya menerima hukuman dan pahala di negeri akhirat. Yang kedua kebanyakan menerima ganjaran dan hukuman di dunia. Misalnya, sebagaimana ganjaran sabar ialah menang dan hukuman malas ialah derita, demikian pula pahala usaha ialah harta. Ganjaran teguh ialah unggul. Hukuman racun ialah sakit, pahala penawar ialah sehat. Kadang perintah kedua syariat terhimpun bersama dalam satu perkara; masing-masing dari satu sisi... Berarti taat kepada perintah penciptaan, yang merupakan suatu haq, mengalahkan durhaka terhadap perintah itu, yang merupakan sikap batil. Jika suatu haq telah menjadi sarana bagi yang batil, lalu mengalahkan yang batil yang telah menjadi sarana bagi yang haq,melalui sarana, sesuatu yang haq dikalahkan oleh sesuatu yang batil. Namun bukan pada dirinya sendiri. Berarti ﺍَﻟْﺤَﻖُّ ﻳَﻌْﻠُﻮ bermakna pada dirinya sendiri. Hasil akhir pun dimaksudkan; pembatasan dari sisi tertentu dimaksudkan. Nokta keempat: suatu haq tetap berupa potensi, atau tanpa kekuatan, atau bercampur dan tercemar. Ia perlu diberi perkembangan atau kekuatan baru. Untuk membersihkan dan memurnikannya, yang batil sementara dibiarkan menguasainya, sampai emas haq keluar murni dan bersih sejauh yang diperlukan. Pada permulaan, di dunia, yang batil dapat unggul, tetapi tidak memenangkan perang. "Âqibatu al-muttaqîn" memberinya suatu pukulan! Maka yang batil kalah. Rahasia ﺍَﻟْﺤَﻖُّ ﻳَﻌْﻠُﻮ menimpakan hukuman padanya; maka yang haq pun menang.
Beberapa kaidah sosial
Jika engkau menginginkan kaidah dalam masyarakat: keadilan tanpa persamaan, pertama-tama, bukan keadilan. Keserupaan merupakan sebab penting bagi pertentangan. Kesesuaian adalah dasar saling menopang. Kecilnya jiwa adalah sumber sombong. Lemahnya hati adalah tambang angkuh. Keadaan tak berdaya menjadi asal perlawanan. Rasa ingin tahu adalah guru ilmu. Kebutuhan adalah guru kemajuan. Sesak hati adalah guru hidup yang rusak. Berarti sumber hidup yang rusak adalah sesak hati. Adapun tambang sesak hati ialah putus asa dan prasangka buruk, pikiran yang sesat, gelapnya hati, serta tubuh yang boros.
Perempuan keluar dari rumah mereka dan menyesatkan manusia; mereka hendaklah kembali ke rumah mereka
ﺍِﺫَﺍ ﺗَﺎَﻧَّﺚَ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝُ ﺍﻟﺴُّﻔَﻬَﺎﺀُ ﺑِﺎﻟْﻬَﻮَﺳَﺎﺕِ ٭ ﺍِﺫًﺍ ﺗَﺮَﺟَّﻞَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀُ ﺍﻟﻨَّﺎﺷِﺰَﺍﺕُ ﺑِﺎﻟْﻮَﻗَﺎﺣَﺎﺕِ {(): Inilah dasar Tesettür Risalesi (Risalah Menutup Aurat). Sebuah pengadilan yang dua puluh tahun kemudian menjadikannya sebab menghukum penulisnya telah membuat dirinya dan para hakimnya terhukum serta malu selamanya.} Peradaban yang kehilangan mim—medeniyet menjadi deniyet, kehinaan— menerbangkan kaum perempuan dari rumah mereka, meruntuhkan hormat kepada mereka, menjadikan mereka barang dagangan yang melimpah. Syariat Islam mengundang mereka, dengan Rahmat, ke rumah mereka yang dahulu. Hormat mereka di sana, ketenangan mereka di rumah, dalam hidup keluarga. Kebersihan adalah hiasan mereka. Kemegahan mereka adalah akhlak yang baik; keindahan mereka yang anggun adalah menjaga diri; indahnya kesempurnaan mereka adalah kasih sayang; hiburan mereka adalah anak-anak mereka. Di hadapan begitu banyak sebab kerusakan, keteguhan sekuat besi diperlukan agar dapat bertahan. Setiap kali seorang perempuan cantik masuk ke majelis persaudaraan, ria dan persaingan, iri dan mementingkan diri menggerakkan urat-urat! Keinginan yang tertidur tiba-tiba terbangun. Meluasnya kebebasan pada kaum perempuan menjadi sebab berkembangnya akhlak buruk pada manusia secara tiba-tiba. Dalam ruh manusia beradab yang menjadi kasar ini, peran jenazah-jenazah kecil, orang-orang mati yang tersenyum, yang disebut gambar-gambar ini, amat besar dan pengaruhnya mengerikan. {(): Sebagaimana memandang mayat perempuan dengan pandangan nafsu menunjukkan rendahnya nafsu yang mengerikan, demikian pula memandang gambar indah seorang perempuan malang yang telah mati dan memerlukan rahmat dengan pandangan penuh hasrat memadamkan perasaan-perasaan luhur ruh.} Patung dan gambar yang terlarang: kezaliman yang membatu, ria yang menjelma, atau keinginan yang membeku. Atau jimat yang menarik ruh-ruh jahat itu.
Luasnya Tasarruf Kudrat menolak perantara dan penolong
Dari segi meluasnya pengaruh Tasarruf Kudrat Sang Qadîr Dzul-Jalâl, matahari kita menjadi seperti zarah. Jangkauan Tasarruf-Nya yang agung dalam satu jenis sangat luas. Ambillah daya tarik antara dua zarah, pergilah dan letakkan di samping daya tarik antara Matahari dari Matahari-Matahari dan Bimasakti. Bawalah malaikat yang bebannya sebutir salju ke samping malaikat serupa matahari yang memegang matahari. Letakkan ikan sebesar jarum dan ikan paus berdampingan. Bayangkan sekaligus Tajalli luas Sang Qadîr Azali Dzul-Jalâl itu, Ketelitian yang sempurna dari yang terkecil hingga yang terbesar. Hal-hal yang lazim, seperti daya tarik, hukum-hukum, dan sarana yang mengalir; hanya sebagai nama bagi Tajalli Kudrat dan Tasarruf Hikmah, itulah maknanya. Tidak ada makna lain. Pikirkan pula bersama-sama; engkau akan mengetahui dengan pasti bahwa sebab-sebab sejati, perantara-perantara yang memiliki citra, penolong dan sekutu, masing-masing perkara batil, khayalan yang mustahil dalam pandangan Kudrat itu. Hidup menyempurnakan wujud, tempatnya besar dan penting. Karena itu aku berkata: mengapa bumi dan alam kita tidak patuh dan tunduk seperti hewan? Hewan dan burung semacam ini milik Sang Sultan Azali tersebar banyak di medan angkasa yang megah dan penuh indah ini. Dia melepas dan memutarnya dalam taman penciptaan-Nya. Nada-nada pada mereka, gerak-gerak pada yang ini; ucapan-ucapan itu adalah tasbih, keadaan-keadaan itu adalah ibadah kepada Sang Qadîm yang Azali, Sang Hakîm yang Kekal. Bumi kita sangat menyerupai hewan, menunjukkan tanda-tanda hidup. Jika, dengan anggapan yang mustahil, ia mengecil menjadi sebesar telur, sangat mungkin ia menjadi hewan mungil. Jika hewan kecil yang bulat membesar sebesar bumi, sangat mungkin ia pun demikian. Jika alam kita mengecil sebesar manusia dan bintang-bintangnya berubah menjadi zarah, ia mungkin menjadi hewan yang sadar; akal pun mendapat ruang untuk itu. Berarti alam beserta unsur-unsurnya masing-masing adalah hamba yang beribadah dan bertasbih, patuh dan tunduk kepada Sang Khâliq yang Azali, Sang Qadîr yang Kekal. Besar dalam jumlah tidak selalu menuntut besar dalam mutu; sebab jam serupa biji sawi lebih unggul daripada jam yang citranya sebesar Hagia Sophia. Penciptaan seekor lalat lebih menakjubkan daripada gajah, makhluk yang tidak begitu rinci itu. Jika dengan Pena Kudrat, di atas satu partikel tunggal, dengan partikel-partikel tunggal eter, ditulis suatu Al-Qur’an, kecilnya halaman itu menyatakan besarnya Seni; dalam keunggulan ia setara dengan Al-Qur’an yang mulia yang ditulis dengan bintang-bintang pada halaman langit. Seni Sang Pengukir Azali penuh indah dan sempurna di setiap tempat. Demikianlah di setiap tempat. Dalam derajat sempurnanya, ittihad Pena menyatakan tauhid. Perhatikan baik-baik perkataan yang penuh makna ini!
Malaikat adalah suatu umat yang ditugasi dengan syariat fitri
Syariat Ilahi ada dua. Keduanya datang dari dua Sifat; dua manusia menjadi pihak yang disapa dan dibebani kewajiban. Syariat penciptaan yang datang dari Sifat Kehendak ialah syariat yang mengatur keadaan dan gerak alam—manusia yang lebih besar—yang tidak bersifat sukarela. Masyîah Rabbani itu juga disebut tabiat dengan istilah yang keliru. Adapun syariat yang datang dari Sifat Kalam ialah syariat yang mengatur perbuatan manusia—alam yang lebih kecil—yang bersifat sukarela. Kedua syariat kadang bertemu di satu tempat. Para malaikat Ilahi, umat yang besar sekaligus tentara Sang Mahasuci, menjadi pembawa yang patuh dan pekerja yang mewakili syariat pertama. Sebagian mereka adalah hamba yang bertasbih. Sebagian larut dalam ibadah, menjadi para malaikat yang dekat di Arasy.
Semakin halus materi, semakin kuat hidup
Hidup adalah asal dan dasar; materi tunduk kepadanya dan bertahan dengannya. Jika engkau membandingkan hewan mikroskopis kecil dengan lima indranya dan indra manusia, engkau akan melihat: sebesar apa manusia lebih besar darinya, sejauh itu indranya lebih rendah daripada indra hewan itu. Hewan kecil itu mendengar suara saudaranya, juga melihat rezekinya. Jika membesar sebesar manusia, indranya akan menakjubkan, hidupnya memancarkan nyala, penglihatannya menjadi cahaya samawi secepat kilat. Manusia bukan makhluk hidup dari suatu gumpalan benda mati. Ia justru merupakan sel manusia yang hidup, tersusun dari miliaran sel yang hidup. ﺍِﻥَّ الْاِنْسَانَ ﻛَﺼُﻮﺭَﺓِ ﴾ﻳٰﺲٓ﴿ ﻛُﺘِﺒَﺖْ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺳُﻮﺭَﺓُ ﴾ﻳٰﺲٓ﴿ ﻓَﺘَﺒَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘ۪ﻴﻦَ
Materialisme adalah wabah maknawi
Materialisme adalah wabah maknawi, yang membuat manusia terserang demam mengerikan ini. {(): Ia menunjuk kepada Perang Dunia yang dahulu.} Ia pun tiba-tiba menimpakan Murka Ilahi. Seiring meluasnya kemampuan menerima ajaran, meniru, dan mengkritik, wabah itu pun meluas dan menyebar. Ia mengambil ajaran dari ilmu, peniruan dari peradaban. Kebebasan memberi kritik; dari kesombongannya lahir kesesatan.
Dalam wujud tidak ada keadaan berdiam diri. Orang yang menganggur bekerja di dalam wujud demi yang tidak ada.
Orang yang paling malang, sesak, dan menderita ialah yang menganggur. Sebab berdiam diri ialah keadaan tidak ada di dalam wujud, maut di dalam hidup. Adapun usaha tentu merupakan hidup bagi wujud dan keadaan terjaga bagi hidup!
Riba adalah bahaya mutlak bagi Islam
Riba menimbulkan keadaan berdiam diri, memadamkan semangat usaha. Manfaat bank-bank yang menjadi pintu sekaligus wadah riba ini selalu jatuh kepada bagian manusia yang paling buruk, yakni orang-orang kafir. Manfaatnya di antara orang kafir jatuh kepada bagian yang paling buruk, yakni orang-orang zalim. Manfaatnya di antara orang zalim selalu jatuh kepada bagian yang paling buruk, yakni orang-orang yang hidup rusak. Ia merupakan bahaya mutlak bagi dunia Islam. Dalam pandangan syariat, kesejahteraan bagi manusia tanpa pembatasan dalam setiap keadaan tidaklah diakui; sebab seorang kafir harbi tidak memiliki kehormatan dan perlindungan, darahnya tidak diperhitungkan setiap sa.........at.
{(): Maqam yang ditulis tiga puluh lima tahun dahulu ini tampak seperti ditulis tahun ini. Berarti ia semacam pemberitaan gaib yang dituliskan dengan berkah Ramadan.}
Al-Qur’an melindungi dirinya sendiri dan meneruskan kekuasaannya
Aku melihat seseorang yang dilanda putus asa, sakit karena berpandangan suram. Ia berkata: ulama berkurang, jumlah dan mutunya. Kami khawatir agama kita akan padam pada suatu saat. Aku berkata: sebagaimana alam tidak dipadamkan, iman Islam pun tidak dapat padam. Demikian pula, selama syiar-syiar Islam, menara-menara agama, tempat-tempat ibadah Ilahi, dan tanda-tanda syariat yang setiap saat seperti paku tertancap di muka bumi tidak dipadamkan, Islam akan bersinar dari saat ke saat! Setiap tempat ibadah secara alami menjadi guru yang memberi pelajaran kepada tabiat manusia. Setiap tanda pun menjadi seorang guru; bahasa keadaannya mengajarkan agama tanpa salah dan tanpa lupa. Setiap syiar adalah guru yang arif, terus mengajarkan ruh Islam kepada pandangan, menjadi sebab ajaran itu terus bertahan sepanjang berlalunya abad. Seolah cahaya-cahaya Islam menjelma dalam syiar-syiarnya. Seolah air jernih Islam mengeras dalam tempat-tempat ibadahnya, masing-masing tiang iman. Seolah hukum-hukum Islam mengambil tubuh dalam tanda-tandanya. Seolah rukun-rukun Islam membatu dalam alam-alamnya, masing-masing tiang berlian. Dengannya bumi dan langit terhubung. Terutama Al-Qur’an ini, khatib yang ungkapannya bermukjizat, terus mengulang Khotbah Azali. Di seluruh wilayah Islam tidak tersisa satu desa ataupun tempat yang tidak mendengarkan ucapannya dan mendengar ajarannya. Dengan rahasia ﺍِﻧَّﺎ ﻟَﻪُ ﻟَﺤَﺎﻓِﻈُﻮﻥَ, menghafalnya adalah kedudukan yang sangat besar. Tilawah adalah ibadah manusia dan jin. Di dalamnya ada pengajaran dan pengingat atas perkara-perkara yang telah diterima. Dengan berulangnya waktu, perkara-perkara yang memerlukan telaah berubah menjadi perkara yang diterima, lalu menjadi jelas dengan sendirinya; tidak lagi memerlukan uraian. Pokok-pokok agama telah keluar dari perkara yang memerlukan telaah dan menjadi perkara yang pasti. Mengingatkan sudah mencukupi. Memperingatkan sudah memadai. Al-Qur’an selalu menyembuhkan. Kebangkitan Islam dan keadaan masyarakat yang terjaga ini memberikan kepada setiap pengingat dan peringatan dalil-dalil serta ukuran yang berlaku umum. Karena hidup bermasyarakat telah bermula dalam Islam, sandaran nurani bagi iman setiap orang tidak terbatas pada dalil yang khusus bagi dirinya. Ia juga bersandar pada sebab-sebab yang tak terbatas di hati jamaah. Bahkan patut diperhatikan: seiring berlalunya waktu, suatu mazhab yang lemah pun menjadi sulit dibatalkan. Apalagi Islam, yang bersandar pada dua dasar kukuh seperti wahyu dan fitrah, serta berkuasa dengan pengaruh yang menembus sepanjang begitu banyak abad!Dengan dasar-dasarnya yang kukuh dan hasil-hasilnya yang nyata, ia menyatu dengan separuh bumi, menjadi ruh yang fitri. Bagaimana ia memasuki gerhana, sementara kini telah keluar dari gerhana! Namun sayangnya, sebagian orang kafir yang banyak omong, orang-orang penuh sesat pikir, mengusik dasar-dasar kukuh istana tinggi ini setiap mendapat kesempatan. Mereka mengguncangnya. Dasar-dasar itu tidak diusik, tidak dipermainkan; hendaklah sikap tanpa agama kini diam! Si hina itu telah bangkrut. Cukuplah percobaan ingkar dan dusta. Pos dunia Islam yang paling depan menghadapi dunia kafir ini ialah universitas itu. Karena tidak peduli dan lalai, musuh berupa ular tabiat membuka celah di belakang garis depan; sikap tanpa agama menyerang, bangsa terguncang cukup keras. Pos terdepan adalah hati yang diterangi ruh Islam. Ia harus paling kukuh dan paling waspada; atau universitas itu jangan ada, jangan menipu Islam. Tempat iman adalah hati; otak menjadi tempat pantulan cahaya iman. Kadang ia pejuang, kadang penyapu. Jika waswas dan begitu banyak kemungkinan di otak tidak masuk ke dalam hati, iman dan nurani tidak terguncang. Jika tidak, bila iman berada di otak sebagaimana dugaan sebagian orang, begitu banyak kemungkinan menjadi musuh-musuh tanpa ampun bagi haqqul-yaqîn, ruh iman. Hati dan nurani adalah tempat iman. Intuisi dan ilham adalah dalil iman. Indra keenam adalah jalan iman. Pikiran dan otak adalah penjaga iman.