Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Lem'a Kesebelas

Kilau-Kilau · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Lem'a Kesebelas

Mirkatü's-Sünneti ve Tiryaku Marazı'l-Bid'a (Tangga Sunah dan Penawar Penyakit Bidah)

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻟَﻘَﺪْ ﺟَٓﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦْ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﻋَﺰ۪ﻳﺰٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣَﺎ ﻋَﻨِﺘُّﻢْ ﺣَﺮ۪ﻳﺺٌ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﺭَﺅُﻑٌ ﺭَﺣ۪ﻴﻢٌ

Bagian Pertama ayat ini ialah Minhacü's-Sünnet; Bagian Kedua ialah Mirkatü's-Sünnet.

ﻓَﺎِﻥْ ﺗَﻮَﻟَّﻮْﺍ ﻓَﻘُﻞْ ﺣَﺴْﺒِﻰَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻭَﻫُﻮَ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﻟْﻌَﻈ۪ﻴﻢِ ﻗُﻞْ ﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻧ۪ﻰ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ

Sebelas butir hikmah dari ratusan butir hikmah kedua ayat agung ini akan dijelaskan secara ringkas.

BUTIR HIKMAH PERTAMA

Rasul Yang Paling Mulia ﷺ bersabda:

ﻣَﻦْ ﺗَﻤَﺴَّﻚَ ﺑِﺴُﻨَّﺘ۪ﻰ ﻋِﻨْﺪَ ﻓَﺴَﺎﺩِ ﺍُﻣَّﺘ۪ﻰ ﻓَﻠَﻪُ ﺍَﺟْﺮُ ﻣِﺎَﺓِ ﺷَﻬ۪ﻴﺪٍ

Yakni, "Pada masa rusaknya umatku, siapa yang berpegang teguh pada sunahku dapat memperoleh balasan serta pahala seratus orang syahid."

Ya, mengikuti sunah yang luhur tentu sangat berharga. Terutama pada masa bidah menguasai, mengikuti sunah yang luhur lebih berharga lagi. Terutama pada masa rusaknya umat, memperhatikan suatu adab kecil dari sunah yang luhur memperlihatkan takwa yang penting serta iman yang kuat. Langsung mengikuti sunah membuat orang teringat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ. Ingatan yang berasal dari pengingatan itu berubah menjadi kesadaran hadir di hadapan Allah سُبْحَانَهُ.

Bahkan, ketika seseorang memperhatikan sunah yang luhur dalam suatu tindakan yang paling kecil, bahkan dalam adab makan, minum, serta tidur, tindakan biasa dan perbuatan fitri itu menjadi ibadah yang berpahala serta tindakan menurut syariat. Sebab, melalui tindakan biasanya ia memikirkan bahwa dirinya mengikuti Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, membayangkan bahwa hal itu termasuk adab syariat, serta mengingat bahwa beliau ialah pembawa syariat ﷺ. Dari situ, hatinya menghadap kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, Sang Penetap Syariat Yang Hakiki, dan memperoleh suatu rasa hadir di hadapan⁠-⁠Nya serta ibadah.

Berdasarkan rahasia ini, orang yang membiasakan diri mengikuti sunah yang luhur mengubah kebiasaannya menjadi ibadah, serta dapat membuat seluruh umurnya berbuah dan berpahala.

BUTIR HIKMAH KEDUA

Imam Rabbani Ahmad Al-Faruqi (ra) berkata, "Ketika saya melewati tingkatan-tingkatan dalam perjalanan ruhani, di antara lapisan-lapisan para wali saya melihat bahwa orang-orang yang menjadikan mengikuti sunah yang luhur sebagai dasar tarekat ialah yang paling bercahaya, megah, indah, serta aman. Bahkan, wali-wali biasa dari lapisan itu tampak lebih megah daripada wali-wali istimewa dari lapisan lainnya." Ya, Imam Rabbani (ra), pembaru milenium kedua, berkata benar.

Orang yang menjadikan sunah yang luhur sebagai dasar memperoleh kedudukan sebagai yang dicintai di bawah naungan Habibullah ﷺ.

BUTIR HIKMAH KETIGA

Pada suatu masa ketika Said yang fakir ini berusaha keluar dari Said Lama, akibat tidak adanya pembimbing serta kesombongan nafsu ammarah, akal dan hatiku berguling-guling di antara hakikat dalam badai maknawi yang sangat mengerikan. Keduanya berguncang dalam gerak turun serta naik, terkadang dari Tsurayya ke tanah, terkadang dari tanah sampai Tsurayya.

Saat itu aku menyaksikan bahwa persoalan-persoalan sunah yang luhur, bahkan adab-adabnya yang kecil, seperti kompas dengan penunjuk kiblat yang memperlihatkan arah gerak kapal; aku melihat masing-masing menjadi seperti kancing di tengah jalan-jalan berbahaya dan gelap yang tak terhitung jumlahnya.

Selain itu, ketika dalam perjalanan ruhani itu aku melihat diriku berada di bawah banyak tekanan serta membawa beban-beban yang sangat berat, setiap kali mengikuti persoalan-persoalan sunah yang luhur yang berkaitan dengan keadaan tersebut, aku merasa ringan seolah-olah seluruh bebanku diangkat. Dengan berserah, aku terbebas dari ragu serta waswas, yakni rasa cemas seperti, "Apakah bertindak demikian benar dan membawa manfaat?"

Setiap kali melepaskan pegangan, aku melihat bahwa tekanan sangat banyak. Terdapat banyak jalan yang tidak diketahui menuju ke mana. Beban berat dan aku sangat tidak berdaya. Pandanganku juga terbatas dan jalan gelap. Setiap kali berpegang pada sunah, aku merasakan suatu keadaan seolah-olah jalan menjadi terang, jalan yang selamat tampak, beban menjadi ringan, serta tekanan terangkat. Pada masa-masa itulah, dengan menyaksikan sendiri, aku membenarkan penilaian Imam Rabbani.

BUTIR HIKMAH KEEMPAT

Pada suatu masa, melalui ingatan akan kematian, pembenaran ketetapan ﺍَﻟْﻤَﻮْﺕُ ﺣَﻖٌّ, serta keadaan ruhani yang berasal dari sirna dan fananya alam, aku melihat diriku berada dalam suatu alam yang aneh. Aku melihat bahwa diriku ialah jenazah yang berdiri di depan tiga jenazah besar yang penting.

Pertama: Aku menjadi seperti batu nisan di kepala jenazah maknawi seluruh makhluk hidup yang berhubungan dengan hidupku serta memasuki kubur masa lalu.

Kedua: Pada wajah zaman ini, yang merupakan batu nisan di kepala jenazah besar seluruh jenis makhluk hidup yang berhubungan dengan hidup umat manusia dan telah dikuburkan dalam makam masa lalu di pemakaman bola bumi, aku ialah suatu titik yang akan segera terhapus serta seekor semut yang akan segera mati.

Ketiga: Karena matinya kainat ini pada waktu kiamat pasti terjadi, dalam pandanganku hal itu menjadi seperti telah terjadi. Selain melihat diriku berada dalam rasa ngeri akibat sakaratulmaut jenazah besar itu serta dalam takjub dan heran akibat wafatnya, wafatku yang juga pasti terjadi pada masa depan tampak seolah-olah terjadi saat itu; melalui rahasia

ﻓَﺎِﻥْ ﺗَﻮَﻟَّﻮْﺍ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ,

seluruh yang berwujud serta semua yang dicintai berpaling dariku akibat wafatku, meninggalkan aku, serta membiarkan aku sendiri. Ruhku didorong menuju masa depan yang kekal, berbentuk lautan tidak bertepi. Mau tidak mau, aku harus terjun ke lautan itu.

Ketika berada dalam keadaan yang sangat aneh serta sedih itu, melalui bantuan yang datang dari iman serta Al-Qur'an, ayat

ﻓَﺎِﻥْ ﺗَﻮَﻟَّﻮْﺍ ﻓَﻘُﻞْ ﺣَﺴْﺒِﻰَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻭَﻫُﻮَ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﻟْﻌَﻈ۪ﻴﻢِ

datang menolong aku dan menjadi seperti kapal yang amat aman serta selamat. Ruh masuk ke dalam ayat itu dengan aman serta gembira sepenuhnya. Ya, aku memahami bahwa selain maknanya yang jelas, suatu makna isyarat ayat itu menghibur aku sehingga aku menjadi tenang; ia memberi ketenteraman.

Ya, sebagaimana melalui maknanya yang jelas ayat itu berkata kepada Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, "Jika orang-orang yang sesat berpaling, menjauh dari syariat serta sunahmu, dan tidak mendengarkan Al-Qur'an, jangan cemas! Katakan: Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Cukup bagiku. Aku bertawakal kepada⁠-⁠Nya. Dia menumbuhkan orang-orang yang akan mengikuti untuk menggantikan kalian. Takhta Kekuasaan⁠-⁠Nya meliputi segala sesuatu. Orang-orang yang membangkang tidak dapat melarikan diri dari Batas⁠-⁠Nya, dan orang-orang yang memohon pertolongan tidak akan dibiarkan tanpa bantuan!"

Demikian pula, melalui makna isyaratnya ia berkata, "Wahai manusia dan wahai pemimpin serta pembimbing umat manusia ﷺ! Jika semua yang berwujud meninggalkanmu serta pergi melalui jalan fana hingga lenyap sama sekali; jika makhluk-makhluk hidup berpisah darimu serta berlari di jalan kematian; jika manusia meninggalkanmu serta masuk ke pemakaman; jika orang-orang yang lalai dan sesat tidak mendengarkanmu serta jatuh ke dalam keadaan gelap, jangan cemas! Katakan: Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Cukup bagiku. Karena Dia ada, segala sesuatu ada. Dengan demikian, mereka yang pergi itu tidak lenyap sama sekali. Mereka pergi ke negeri⁠-⁠Nya yang lain. Sebagai ganti mereka, Pemilik Arasy Yang Agung itu mengirim yang lain dari pasukan serta tentara⁠-⁠Nya yang tidak berhingga. Mereka yang masuk ke pemakaman tidak musnah; mereka pergi ke alam lain. Sebagai ganti mereka, Dia mengirim petugas-petugas yang lain. Sebagai ganti orang-orang yang jatuh ke dalam kesesatan, Dia dapat mengirim hamba-hamba⁠-⁠Nya yang taat dan akan mengikuti jalan kebenaran. Karena demikian, Dia menggantikan segala sesuatu. Seluruh benda tidak dapat menggantikan satu Perhatian⁠-⁠Nya saja!"

Melalui makna isyarat ini, ketiga jenazah mengerikan yang membuatku ngeri berubah bentuk. Yakni, dalam Pengaturan serta Rububiyah Zat Dzul-Jalâl Yang Hakîm, Rahîm, Âdil, serta Qadîr, dan di dalam Hikmah serta Rahmat⁠-⁠Nya, ada suatu gerak perjalanan dalam bentuk gerak yang memperlihatkan Hikmah, peredaran yang memperlihatkan pelajaran, serta perjalanan untuk menjalankan tugas; ada pembebastugasan serta penugasan. Dengan demikian kainat berguncang, pergi, serta datang!..

BUTIR HIKMAH KELIMA

Ayat agung

ﻗُﻞْ ﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻧ۪ﻰ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ

mengumumkan dengan amat pasti betapa penting serta perlunya mengikuti sunah. Ya, di antara silogisme-silogisme logika, ayat mulia ini merupakan salah satu silogisme yang paling kuat serta pasti dari jenis silogisme bersyarat. Sebagai berikut:

Sebagaimana dalam logika, sebagai contoh silogisme bersyarat dikatakan, "Jika matahari terbit, akan menjadi siang." Untuk kesimpulan positif dikatakan, "Matahari telah terbit; maka disimpulkan bahwa sekarang ialah siang." Untuk kesimpulan negatif dikatakan, "Tidak ada siang; maka disimpulkan bahwa matahari belum terbit." Menurut logika, kedua kesimpulan positif serta negatif ini pasti.

Persis demikian, ayat mulia ini berkata, "Jika kalian mencintai Allah سُبْحَانَهُ, Habibullah ﷺ harus diikuti. Jika tidak diikuti, disimpulkan bahwa kalian tidak mencintai Allah سُبْحَانَهُ." Jika cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ ada, ia menghasilkan kesimpulan bahwa sunah yang luhur dari Habibullah ﷺ harus diikuti.

Ya, orang yang beriman kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq tentu akan menaati⁠-⁠Nya. Di antara jalan-jalan taat, tanpa keraguan yang paling diterima, paling lurus, serta paling singkat ialah jalan yang ditunjukkan dan diikuti Habibullah ﷺ.

Ya, Zat Karîm Dzul-Jamâl yang memenuhi kainat ini dengan begitu banyak anugerah tentu dan dengan jelas meminta makhluk-makhluk yang sadar untuk bersyukur atas nikmat-nikmat itu.

Selain itu, Zat Hakîm Dzul-Jalâl yang menghiasi kainat ini dengan begitu banyak mukjizat Seni tentu, dengan jelas, akan menjadikan seseorang yang paling istimewa di antara makhluk-makhluk yang sadar sebagai orang yang Dia ajak berbicara, penerjemah⁠-⁠Nya, penyampai kepada hamba-hamba⁠-⁠Nya, serta imam mereka ﷺ.

Selain itu, Zat Jamîl Dzul-Kamâl yang menjadikan kainat ini tempat tajalli Keindahan serta Kesempurnaan⁠-⁠Nya yang tidak terhingga dan tidak terhitung tentu, dengan jelas, akan memberi keadaan ubudiyah yang paling sempurna kepada seseorang yang merupakan ukuran serta pusat paling menyeluruh dan paling sempurna bagi Keindahan, Kesempurnaan, Asma, serta Seni⁠-⁠Nya, yang Dia cintai dan ingin tampakkan. Dia akan menjadikan keadaannya contoh untuk diikuti orang lain serta mendorong semua orang untuk mengikutinya, agar keadaan indah tersebut juga tampak pada orang-orang lain.

Kesimpulannya:

Cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ mengharuskan serta menghasilkan tindakan mengikuti sunah yang luhur. Alangkah bahagianya orang yang bagiannya dalam mengikuti sunah yang luhur begitu besar. Celakalah orang yang tidak menghargai sunah yang luhur lalu memasuki bidah.

BUTIR HIKMAH KEENAM

Rasul Yang Paling Mulia ﷺ bersabda:

ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ضَلَالَةٌ ﻭَﻛُﻞُّ ضَلَالَةٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

Yakni, melalui rahasia

ﺍَﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩ۪ﻳﻨَﻜُﻢْ,

sesudah kaidah-kaidah syariat yang cemerlang serta prinsip-prinsip sunah yang luhur telah lengkap dan sempurna, tidak menyukai prinsip-prinsip itu dengan menciptakan hal-hal baru, atau mengada-adakan bidah yang menimbulkan rasa menganggapnya kurang—hâşâ ve kellâ—ialah kesesatan serta api.

Sunah yang luhur memiliki tingkatan-tingkatan. Sebagiannya wajib dan tidak boleh ditinggalkan. Bagian itu telah dijelaskan secara terperinci dalam syariat yang cemerlang. Ia ialah ketetapan-ketetapan yang kukuh dan tidak berubah dari segi apa pun. Sebagian lainnya termasuk jenis nafilah. Bagian nafilah juga terdiri atas dua bagian. Sebagiannya ialah sunah-sunah luhur yang mengikuti ibadah. Ia juga telah dijelaskan dalam kitab-kitab syariat. Mengubahnya ialah bidah. Bagian lainnya disebut "adab", yang disebutkan dalam kitab-kitab sirah yang luhur. Melanggarnya tidak disebut bidah. Namun, hal itu merupakan suatu jenis pelanggaran terhadap adab Nabi ﷺ, serta tidak mengambil manfaat dari cahayanya dan adab yang hakiki itu. Bagian ini ialah mengikuti tindakan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ yang diketahui secara mutawatir (diberitakan oleh banyak orang) dalam kebiasaan, adat, serta perbuatan fitri.

Misalnya, terdapat banyak sunah luhur yang memperlihatkan adab berbicara, menjelaskan prinsip adab dalam keadaan seperti makan, minum, serta tidur, dan berkaitan dengan pergaulan. Sunah jenis ini disebut "adab". Namun, orang yang mengikuti adab itu mengubah kebiasaannya menjadi ibadah serta memperoleh suatu limpahan penting darinya. Memperhatikan adab yang paling kecil membuat orang teringat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ serta memberi cahaya kepada hati.

Yang paling penting di antara sunah yang luhur ialah sunah-sunah yang merupakan tanda Islam serta berkaitan dengan syiar. Syiar ialah suatu ubudiyah milik masyarakat, seolah-olah termasuk hak umum. Sebagaimana seluruh masyarakat memperoleh manfaat ketika seseorang menjalankannya, seluruh jamaah juga bertanggung jawab ketika ia ditinggalkan. Riya tidak dapat memasuki syiar jenis ini, dan ia diumumkan. Meskipun termasuk jenis nafilah, ia lebih penting daripada fardu-fardu pribadi.

BUTIR HIKMAH KETUJUH

Sunah yang luhur ialah adab. Tidak ada satu persoalannya pun yang tidak mengandung cahaya serta adab! Rasul Yang Paling Mulia ﷺ bersabda:

ﺍَﺩَّﺑَﻨ۪ﻰ ﺭَﺑّ۪ﻰ ﻓَﺎَﺣْﺴَﻦَ ﺗَﺎْﺩ۪ﻳﺒ۪ﻰ

Yakni, "Rabb-ku telah menganugerahi adab kepadaku dengan indah serta mendidikku dalam adab." Ya, orang yang memperhatikan sirah Nabi ﷺ serta mengetahui sunah yang luhur memahami dengan pasti bahwa Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah menghimpun berbagai jenis adab pada Kekasih ﷺ⁠-⁠Nya. Orang yang meninggalkan sunah beliau yang luhur meninggalkan adab. Ia menjadi contoh bagi kaidah

ﺑ۪ﻰ ﺍَﺩَﺏْ ﻣَﺤْﺮُﻭﻡْ ﺑَﺎﺷَﺪْ ﺍَﺯْ ﻟُﻄْﻒِ ﺭَﺏْ

dan jatuh pada sikap tidak beradab yang merugikan.

Pertanyaan:

Bagaimana beradab di hadapan Sang ‘Allâmul-Ghuyûb, yang mengetahui serta melihat segala sesuatu dan tidak ada sesuatu pun yang dapat disembunyikan dari⁠-⁠Nya? Keadaan-keadaan yang menyebabkan malu tidak dapat disembunyikan dari⁠-⁠Nya. Salah satu jenis adab ialah menutup diri, menyembunyikan keadaan yang menimbulkan rasa jijik. Bukankah menutup diri di hadapan Sang ‘Allâmul-Ghuyûb tidak mungkin?

Jawaban:

Pertama:

Sebagaimana Sang Pembuat Dzul-Jalâl ingin memperlihatkan Seni⁠-⁠Nya dengan indah dan dengan perhatian yang sempurna, menutupi hal-hal yang menjijikkan dengan tabir, serta menarik perhatian kepada nikmat-nikmat⁠-⁠Nya dengan menghiasi nikmat tersebut, Dia juga ingin memperlihatkan makhluk serta hamba-hamba⁠-⁠Nya dengan indah kepada makhluk-makhluk lain yang sadar. Mereka tampil dalam keadaan buruk menjadi suatu jenis pembangkangan serta pelanggaran adab terhadap Asma⁠-⁠Nya seperti Jamîl, Muzayyin, Lathîf, serta Hakîm.

Adab dalam sunah yang luhur ialah mengambil sikap yang sepenuhnya beradab dalam Batas-batas Asma Sang Pembuat Dzul-Jalâl itu.

Kedua:

Sebagaimana seorang dokter, dalam tugas sebagai dokter, melihat bagian tubuh paling pribadi seseorang yang bukan mahramnya, dan ketika diperlukan bagian itu diperlihatkan kepadanya, hal ini tidak disebut pelanggaran adab. Bahkan, dikatakan bahwa adab kedokteran menghendaki demikian. Namun, dokter itu tidak dapat melihat bagian pribadi orang-orang bukan mahram tersebut sebagai laki-laki, sebagai penceramah, atau sebagai guru agama. Adab tidak dapat memberi fatwa agar bagian itu diperlihatkan kepadanya. Memperlihatkannya kepada dokter dari segi itu ialah tidak memiliki rasa malu.

Demikian pula, Sang Pembuat Dzul-Jalâl memiliki banyak Asma. Setiap Asma mempunyai manifestasi tersendiri. Misalnya, sebagaimana Asma "Ghaffâr" menghendaki adanya dosa dan Asma "Sattâr" menghendaki adanya kesalahan, Asma "Jamîl" juga tidak ingin melihat keburukan. Asma Keindahan serta Kesempurnaan seperti "Lathîf, Karîm, Hakîm, Rahîm" menghendaki agar yang berwujud berada dalam bentuk indah serta dalam keadaan terbaik dari semua keadaan yang mungkin. Asma Keindahan serta Kesempurnaan itu ingin memperlihatkan Keindahan Asma itu di hadapan malaikat, makhluk ruhani, jin, serta manusia melalui keadaan indah dan adab yang baik dari segala yang berwujud.

Adab-adab dalam sunah yang luhur ialah isyarat, prinsip, serta contoh bagi adab-adab luhur tersebut.

BUTIR HIKMAH KEDELAPAN

Ayat yang mendahului

ﻓَﺎِﻥْ ﺗَﻮَﻟَّﻮْﺍ ﻓَﻘُﻞْ ﺣَﺴْﺒِﻰَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ,

yaitu

ﻟَﻘَﺪْ ﺟَٓﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ,

memperlihatkan kasih sayang yang sempurna serta belas kasih yang tidak berhingga dari Rasul Yang Paling Mulia ﷺ kepada umatnya. Sesudah itu, melalui ayat ﻓَﺎِﻥْ ﺗَﻮَﻟَّﻮْﺍ ini ia berkata, "Wahai manusia! Wahai kaum Muslim! Ketahuilah betapa tidak berhati nurani dan tidak berakal kalian jika memalingkan wajah dari sunah serta hukum-hukum yang disampaikan seorang yang penuh kasih sayang itu, hingga seolah-olah mengingkari kasih sayangnya yang jelas serta menuduh belas kasihnya yang tampak di depan mata! Ia membimbing kalian dengan kasih sayang yang tidak berhingga, mengerahkan seluruh kekuatannya demi kebaikan kalian, serta mengobati dan memberi salep pada luka-luka batin kalian melalui hukum-hukum serta sunah luhur yang dibawanya dengan kasih sayang sempurna."

"Wahai Rasul yang penuh kasih sayang ﷺ dan wahai Nabi yang berbelas kasih ﷺ! Jika mereka tidak mengakui kasih sayangmu yang agung serta belas kasihmu yang besar ini, lalu karena tidak berakal berpaling darimu serta tidak mendengarkan, jangan cemas! Zat Dzul-Jalâl, yang pasukan langit serta bumi berada di bawah Perintah⁠-⁠Nya, dan yang Kekuasaan Rububiyah⁠-⁠Nya memerintah di bawah Arasy Yang Agung yang meliputi segalanya, Cukup bagimu. Dia mengumpulkan golongan-golongan yang sungguh taat di sekitarmu, membuat mereka mendengarkanmu, serta menerima hukum-hukummu!"

Ya, tidak ada satu persoalan pun dalam syariat Muhammad ﷺ serta sunah Ahmad ﷺ yang tidak mengandung banyak hikmah. Aku yang fakir ini, dengan seluruh kesalahan serta keadaanku yang tak berdaya, menyatakan hal itu dan juga siap membuktikan pernyataan ini. Selain itu, tujuh puluh-delapan puluh Risalah Nur yang telah ditulis sampai sekarang menjadi seperti tujuh puluh-delapan puluh saksi yang benar atas betapa penuh hikmah serta hakikat persoalan-persoalan sunah Ahmad ﷺ dan syariat Muhammad ﷺ. Jika ada kemampuan untuk menulis mengenai pokok bahasan ini, bukan hanya tujuh puluh, bahkan tujuh ribu risalah pun tidak akan mampu menghabiskan hikmah-hikmah tersebut.

Selain itu, aku sendiri, dengan melihat serta mengalami langsung, mungkin memiliki seribu pengalaman bahwa persoalan syariat serta prinsip sunah yang luhur ialah obat yang amat bermanfaat bagi penyakit ruhani, akal, serta hati, terutama penyakit masyarakat. Aku menyatakan bahwa aku mengetahui hal itu; aku sendiri menyaksikan serta merasakan bahwa persoalan-persoalan filsafat serta hikmah lainnya tidak dapat menggantikannya, dan melalui risalah-risalah aku juga membuat orang lain merasakannya hingga suatu tingkat. Orang-orang yang meragukan pernyataanku ini hendaknya membuka serta membaca bagian-bagian Risale-i Nur.

Pertimbangkanlah betapa menguntungkan berusaha mengikuti sunah luhur pribadi seperti ini sesuai kemampuan, betapa membawa bahagia bagi hidup yang kekal, serta betapa bermanfaat bagi hidup duniawi.

BUTIR HIKMAH KESEMBILAN

Hanya orang-orang paling istimewa di antara yang istimewa yang dapat dimudahkan untuk sepenuhnya mengikuti setiap jenis sunah yang luhur melalui perbuatan nyata. Meskipun tidak melalui perbuatan nyata, setiap orang mampu menginginkannya melalui niat serta tujuan, dengan mendukung dan berpegang teguh padanya. Memang, bagian fardu serta wajib harus diikuti. Meskipun meninggalkan sunah luhur yang mustahab dalam ubudiyah tidak berdosa, pahala besar hilang. Adapun mengubahnya merupakan kesalahan besar. Ketika sunah luhur dalam kebiasaan serta pergaulan diikuti, kebiasaan tersebut menjadi ibadah. Jika tidak diikuti, tidak ada teguran. Namun, manfaat yang diperoleh dari cahaya adab kehidupan Habibullah ﷺ berkurang.

Hal-hal baru yang diada-adakan dalam hukum ubudiyah ialah bidah. Bidah ditolak karena bertentangan dengan rahasia

ﺍَﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩ۪ﻳﻨَﻜُﻢْ.

Namun, jika termasuk jenis wirid, zikir, serta corak jalan dalam tarekat, dengan syarat dasarnya diambil dari Kitab serta Sunah, meskipun berbeda cara dan bentuk, ia bukan bidah, dengan syarat tidak menentang dan tidak mengubah tata cara dan dasar sunah luhur yang telah ditetapkan. Akan tetapi, sebagian ahli ilmu memasukkan sebagian hal tersebut dalam bidah, namun memberinya nama "bidah hasanah".

Imam Rabbani, pembaru milenium kedua (ra), berkata, "Dalam perjalanan serta suluk ruhani, saya melihat bahwa ucapan yang diriwayatkan dari Rasul Yang Paling Mulia ﷺ bercahaya, bersinar dengan sinar sunah yang luhur. Ketika saya melihat wirid-wirid serta keadaan-keadaan yang cemerlang dan kuat, yang tidak diriwayatkan dari beliau, cahaya itu tidak terdapat padanya. Yang paling cemerlang dari bagian ini tidak dapat menyamai yang paling sedikit dari bagian sebelumnya. Dari hal ini saya memahami bahwa sinar sunah yang luhur ialah suatu eliksir. Selain itu, sunah tersebut cukup bagi orang-orang yang menginginkan cahaya; tidak perlu mencari cahaya di luar."

Penilaian orang yang merupakan seorang pahlawan hakikat serta syariat seperti ini menunjukkan bahwa sunah yang luhur ialah batu dasar bagi kebahagiaan dunia dan akhirat, serta sumber dan tempat asal kesempurnaan.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍِﺗِّﺒَﺎﻉَ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﺍﻟﺴَّﻨِﻴَّﺔِ ﺭَﺑَّﻨَٓﺎ ﺍٰﻣَﻨَّﺎ ﺑِﻤَٓﺎ ﺍَﻧْﺰَﻟْﺖَ ﻭَﺍﺗَّﺒَﻌْﻨَﺎ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻓَﺎﻛْﺘُﺒْﻨَﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺸَّﺎﻫِﺪ۪ﻳﻦَ

BUTIR HIKMAH KESEPULUH

Dalam ayat

ﻗُﻞْ ﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻧ۪ﻰ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ

terdapat ungkapan ringkas yang bermukjizat. Sebab, banyak kalimat telah dimasukkan ke dalam ketiga kalimat ini. Sebagai berikut: Ayat ini berkata, "Jika kalian beriman kepada Allah سُبْحَانَهُ (Celle Celalühü), tentu kalian akan mencintai Allah سُبْحَانَهُ. Karena kalian mencintai Allah سُبْحَانَهُ, kalian akan melakukan cara yang Allah سُبْحَانَهُ cintai. Cara yang Dia cintai itu ialah kalian harus menyerupai pribadi yang Allah سُبْحَانَهُ cintai. Menyerupainya ialah mengikutinya. Setiap kali kalian mengikutinya, Allah سُبْحَانَهُ juga akan mencintai kalian. Memang, kalian mencintai Allah سُبْحَانَهُ agar Allah سُبْحَانَهُ juga mencintai kalian."

Seluruh kalimat ini hanya merupakan kandungan makna ringkas serta singkat ayat tersebut. Jadi, tujuan luhur yang paling penting bagi manusia ialah menerima Cinta Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Melalui bunyinya yang tegas, ayat ini memperlihatkan bahwa jalan menuju tujuan yang paling tinggi itu ialah mengikuti Habibullah ﷺ serta meneladani sunahnya yang luhur. Pada bagian ini, jika tiga pokok dibuktikan, hakikat yang disebutkan akan tampak sepenuhnya.

Pokok Pertama:

Secara fitri, manusia diciptakan dengan cinta yang tidak berhingga kepada Khâliq kainat ini. Sebab, dalam fitrah manusia terdapat cinta kepada keindahan, memuja kesempurnaan, serta mencintai kebaikan. Cinta itu meningkat menurut derajat keindahan, kesempurnaan, serta kebaikan. Ia mencapai derajat cinta yang paling tinggi. Selain itu, dalam hati kecil manusia yang kecil ini, cinta sebesar kainat dapat bersemayam. Ya, daya ingat, yang merupakan sebuah peti kecil seukuran lentil bagi hati, dapat memuat tulisan sebanyak ribuan buku, seperti sebuah perpustakaan. Hal ini menunjukkan bahwa hati manusia dapat memuat kainat serta membawa cinta sebesar itu.

Karena dalam fitrah manusia terdapat potensi cinta yang tidak berhingga kepada kebaikan, keindahan, serta kesempurnaan seperti ini, dan karena Khâliq kainat ini memiliki Keindahan Suci yang tidak berhingga, yang pasti dan dengan jelas terbukti melalui Karya-karya⁠-⁠Nya yang tampak dalam kainat; Kesempurnaan Suci yang tidak berhingga, yang pasti serta mesti terbukti melalui Ukiran Seni⁠-⁠Nya yang tampak pada segala yang berwujud; serta anugerah-anugerah yang tidak berhingga, yang adanya terbukti dengan yakin, bahkan dengan melihat langsung, lewat berbagai jenis Kebaikan serta Pemberian Nikmat⁠-⁠Nya yang tidak berhingga, yang tampak pada semua makhluk hidup; tentu Dia menghendaki cinta yang tidak berhingga dari manusia, yang paling menyeluruh, paling membutuhkan, paling banyak berpikir, serta paling merindukan di antara makhluk-makhluk yang sadar.

Ya, sebagaimana setiap manusia berpotensi mencintai Sang Khâliq Dzul-Jalâl dengan cinta yang tidak berhingga, Khâliq itu juga lebih dari siapa pun Layak Dicintai tanpa batas karena Keindahan, Kesempurnaan, serta Kebaikan⁠-⁠Nya. Bahkan, berbagai jenis cinta serta ikatan kuat seorang mukmin kepada hidupnya, tetap adanya, wujudnya, dunianya, nafsunya, serta segala yang berwujud ialah tetesan-tetesan dari potensi cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ itu. Bahkan, berbagai perasaan kuat manusia ialah perubahan bentuk potensi cinta tersebut serta tetesan-tetesannya yang telah mengambil bentuk lain.

Diketahui bahwa sebagaimana manusia menikmati bahagia dirinya sendiri, ia juga menikmati bahagia orang-orang yang berhubungan dengannya. Sebagaimana ia mencintai orang yang menyelamatkannya dari bencana, ia juga mencintai orang yang menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.

Berdasarkan keadaan ruhani ini, jika manusia hanya memikirkan hal berikut dari berbagai anugerah Allah سُبْحَانَهُ bagi setiap manusia: Sebagaimana Khâliq-ku menyelamatkanku dari tidak ada, yang merupakan keadaan gelap selama-lamanya, lalu memberi sebuah dunia yang indah kepadaku di dunia ini, ketika ajalku tiba Dia juga kembali menyelamatkanku dari lenyap sama sekali serta musnah, yang merupakan hukuman mati selama-lamanya, lalu menganugerahi sebuah alam yang kekal dan sangat gemerlap kepadaku dalam suatu alam yang kekal; Dia menganugerahi indra serta daya rasa lahir dan batin agar aku dapat mengambil manfaat dari seluruh jenis kenikmatan serta keindahan alam itu, berkeliling, serta bertamasya di sana; demikian pula Dia membuat semua kerabat, sahabat, serta sesama manusiaku yang sangat kucintai dan sangat berhubungan denganku menerima anugerah-anugerah tidak berhingga seperti itu. Dari satu segi, anugerah tersebut juga menjadi milikku. Sebab, aku menjadi bahagia serta menikmati bahagia mereka.

Karena melalui rahasia

اَلْاِنْسَانُ ﻋَﺒ۪ﻴﺪُ الْاِحْسَانِ

setiap orang memuja kebaikan, tentu jika aku memiliki hati sebesar kainat, hati itu harus penuh cinta terhadap anugerah yang tidak berhingga dan kekal seperti ini; aku ingin memenuhinya dengan cinta terhadap anugerah itu. Ia akan berkata, "Meskipun tidak menjalankan cinta itu melalui perbuatan nyata, aku menjalankannya melalui potensi, iman, niat, menerima, menghargai, merindukan, bertekad, serta berkehendak," dan seterusnya... Adapun cinta yang ditunjukkan manusia kepada Keindahan serta Kesempurnaan hendaknya dibandingkan dengan cinta kepada Kebaikan yang telah kita isyaratkan secara ringkas. Orang kafir, melalui kufurnya, memusuhi tanpa batas. Bahkan, ia membawa permusuhan zalim serta menghina terhadap kainat dan segala yang berwujud.

Pokok Kedua:

Cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ mengharuskan mengikuti sunah Muhammad ﷺ. Sebab, mencintai Allah سُبْحَانَهُ ialah melakukan apa yang Dia ridhai. Hal-hal yang Dia ridhai tampak dalam bentuk paling sempurna pada pribadi Muhammad ﷺ. Menyerupai pribadi Ahmad ﷺ dalam gerak serta perbuatan ialah dari dua segi:

Pertama:

Dari segi mencintai Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, menaati Perintah⁠-⁠Nya serta bertindak dalam Lingkup hal-hal yang Dia ridhai menghendaki tindakan mengikuti itu. Sebab, imam yang paling sempurna ﷺ dalam perkara ini ialah pribadi Muhammad ﷺ.

Kedua:

Karena pribadi Ahmad ﷺ ialah salah satu perantara paling penting bagi anugerah Allah سُبْحَانَهُ yang tidak berhingga kepada manusia, tentu demi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq beliau layak menerima cinta yang tidak berhingga. Jika dapat menyerupai orang yang dicintainya, secara fitri manusia ingin menyerupainya. Karena itu, orang-orang yang mencintai Habibullah ﷺ pasti harus berusaha menyerupainya dengan mengikuti sunahnya yang luhur.