Penawar Kedua Puluh:
Penyakit ada dua bagian: yang hakiki dan yang dibayangkan. Untuk bagian yang hakiki, Sang Syâfî Dzul-Jalâl menyimpan penawar bagi setiap penderitaan dalam apotek besar bola bumi. Karena penawar-penawar itu menghendaki adanya penyakit, memakainya dibenarkan, tetapi pengaruh penawar harus diketahui berasal dari Allah سُبْحَانَهُ. Penyakit yang dibayangkan tidak perlu dianggap penting: semakin dianggap penting, ia semakin bertambah; jika tidak dianggap penting, ia berlalu dengan ringan. Penawar ini membuktikannya melalui perumpamaan indah.
Penawar Kedua Puluh Satu:
Membuktikan bahwa dalam penyakit terdapat kepedihan jasmani, tetapi kenikmatan batin yang menghilangkan kepedihan itu meliputinya. Secara lahiriah, kasih ayah, ibu, serta kerabat tertarik oleh penyakit dan mengelilinginya, lalu mereka memandangnya dengan penuh cinta. Karena itu, kepedihan tersebut menjadi sangat murah. Dengan adanya banyak penolong jasmani serta batin, manusia harus bersyukur, bukan mengeluh.
Penawar Kedua Puluh Dua:
Membuktikan dan menunjukkan bahwa penyakit berat seperti kelumpuhan dipandang sangat diberkahi bagi mukmin, dan para wali menyaksikan berkahnya. Ada dua dasar yang ditempuh untuk sampai kepada Allah سُبْحَانَهُ; penyakit seperti kelumpuhan memberikan khasiat kedua dasar tersebut. Yang pertama adalah mengingat kematian, yakni sebagaimana ia mengetahui dunia fana, ia juga melihat dirinya fana serta seorang tamu yang memiliki tugas. Yang kedua: untuk selamat dari bahaya nafsu ammarah serta perasaan yang buta, sebagian ahli iman mematikan nafsu ammarah melalui latihan-latihan berat, sehingga meraih kehidupan kekal mereka dengan cara ini. Karena khasiat yang sama terdapat dalam penyakit seperti kelumpuhan, penyakit itu menjadi sangat murah baginya.
Penawar Kedua Puluh Tiga:
Memberitahukan dengan penting bahwa ketika penyakit datang saat seseorang berada jauh dari tempat asal serta tidak memiliki siapa-siapa, kesendiriannya itu menarik rasa iba bahkan dari hati yang paling keras. Allah سُبْحَانَهُ, Yang memperkenalkan Diri-Nya kepada kita melalui Sifat “Er-Rahmanu'r-Rahîm” pada awal seluruh surah Al-Qur'an, membuat para ibu bergegas membantu semua anak melalui satu kilau Kasih-Nya, serta mengirim nikmat-nikmat-Nya kepada kita setiap musim semi melalui satu manifestasi Rahmat-Nya. Memperoleh nikmat-nikmat itu terjadi melalui iman, ikatan kepada-Nya, serta mengenal-Nya. Penyakit dalam keadaan jauh dari tempat asal dan sendirian itu akan menarik Pandangan Kasih Allah سُبْحَانَهُ.
Penawar Kedua Puluh Empat:
Merawat serta memberi khidmah kepada anak-anak yang tidak berdosa dan orang-orang tua sakit yang seperti tidak berdosa merupakan perniagaan akhirat yang besar. Penyakit anak-anak lembut itu bagaikan suntikan Rabb untuk menghadapi kesusahan kehidupan dunia kelak. Pahala serta ganjaran dari suntikan-suntikan itu dicatat dalam buku amal para perawat mereka, terutama ibu mereka. Orang-orang yang mengetahui hakikat menyaksikan hal ini. Terutama, memperoleh doa orang tua seperti ayah, ibu, serta kerabat menjadi sarana kebahagiaan akhirat. Mereka yang merawat juga kelak akan melihat perlakuan yang sama dari anak-anak mereka. Sebaliknya, mereka yang tidak merawat, selain menerima azab akhirat pada akhirnya, telah dan akan menghadapi banyak bencana dunia; kejadian-kejadian membuktikannya. Bahkan jika bukan kerabat, merawat mereka tetap merupakan tuntutan Islam. Penawar ini membuktikannya dengan sangat pasti.
Penawar Kedua Puluh Lima:
Menjelaskan bahwa penawar batin yang sangat bermanfaat serta obat hakiki dan suci bagi seluruh penyakit adalah berkembangnya iman. Melalui tobat, memohon ampunan, salat, serta ubudiyah, penawar suci berupa iman dan obat yang berasal dari iman harus digunakan, serta bahwa dunia batin besar orang-orang lalai, yang terluka melalui pukulan lenyap dan berpisah, akan diobati dan dibebaskan dari luka melalui kesembuhan iman, penawar yang suci. Pengaruh obat iman itu datang melalui pelaksanaan ibadah fardu. Perbuatan yang mengumbar hawa nafsu, keinginan nafsu, serta hiburan yang tidak dibenarkan menghalangi pengaruh penawar tersebut. Risalah ini memperlihatkan, menjelaskan, serta membuktikannya dengan sangat pasti.
Hafiz Mustafa (rh)
LEM'A KEDUA PULUH ENAM:
ﻛٓﻬٰﻴٰﻌٓﺺٓ ٭ ﺫِﻛْﺮُ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺭَﺑِّﻚَ ﻋَﺒْﺪَﻩُ ﺯَﻛَﺮِﻳَّﺎ ٭ ﺍِﺫْ ﻧَﺎﺩٰﻯ ﺭَﺑَّﻪُ ﻧِﺪَٓﺍﺀً ﺧَﻔِﻴًّﺎ ٭ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺏِّ ﺍِﻧّ۪ﻰ ﻭَﻫَﻦَ ﺍﻟْﻌَﻈْﻢُ ﻣِﻨّ۪ﻰ ﻭَﺍﺷْﺘَﻌَﻞَ ﺍﻟﺮَّﺍْﺱُ ﺷَﻴْﺒًﺎ ﻭَﻟَﻢْ ﺍَﻛُﻦْ ﺑِﺪُﻋَٓﺎﺋِﻚَ ﺭَﺏِّ ﺷَﻘِﻴًّﺎ
Lem'a Kedua Puluh Enam terdiri atas dua puluh enam Harapan.
Harapan Pertama:
Iman merupakan asal, cahaya, sinar, sumber, tambang, serta pancuran segala sesuatu. Ini Harapan berharga dan ringkas yang menjelaskan bahwa sebelum segala sesuatu, orang harus berusaha meraih cahaya suci, bersih, serta luhur itu.
Harapan Kedua:
Hakikat yang memancarkan cahaya serta memberi kabar gembira bahwa orang-orang tua, yang sebenarnya seperti anak-anak, melalui iman, ikatan, serta ketaatan kepada Sang Khâliq Yang Rahîm pada masa tua, akan menerima tajalli Asma “Ar-Rahmân dan Ar-Rahîm” seperti anak-anak.
Harapan Ketiga:
Menjelaskan bahwa dalam keberangkatan menuju alam barzakh serta perubahan-perubahan akhirat yang dialami umat manusia, suka atau tidak, keselamatan serta kebebasan dari bahaya terdapat dalam mengikuti sunah yang mulia dari Nabi kita Yang Agung Habibullah ﷺ, pemimpin dua dunia ﷺ, penghulu para nabi ﷺ, serta teladan Rahmat dan Kasih Allah سُبْحَانَهُ.
Harapan Keempat:
Orang-orang tua laki-laki serta perempuan, yang mulai terputus hubungannya dengan dunia, memikirkan pintu kubur yang mendekat. Mereka mendengarkan Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya melalui cahaya iman, menaati Perintah-perintahnya, dan menjauhi larangannya. Al-Qur'an menerangi serta mencahayai alam-alam yang secara lahiriah tampak gelap itu melalui cahayanya, memberi manusia sepuluh pahala serta kebaikan untuk satu huruf, terkadang seratus, dan terkadang seribu, serta merupakan kunci khazanah Rahmat. Dengan memberi kabar gembira bahwa mereka akan memperoleh kelegaan di alam kekal, Harapan ini memperlihatkan pintu harapan yang sangat kuat.
Harapan Kelima:
Penghiburan iman kepada akhirat, yang memperlihatkan pengaruh yang bersifat juz'i maupun universal pada setiap individu serta pribadi, memberi harapan dan penghiburan yang lebih besar serta kuat kepada orang tua. Karena itu, Harapan ini menganjurkan agar masa tua diketahui sebagai kapal Rabb yang aman, dicintai serta diterima dengan puas, dan agar Allah سُبْحَانَهُ disyukuri serta dipuji.
Harapan Keenam:
Melalui cahaya iman, lapisan-lapisan kainat serta wujud-wujud dan makhluk-makhluk bumi bersaksi atas Sang Khâliq Yang Rahîm seperti sahabat yang akrab, sehingga menghilangkan rasa jauh dari tempat asal, asing, serta gelap. Demikian pula, pada masa tua, ketika hal-hal yang menemani hidup berpisah, terdapat saksi-saksi sebanyak huruf kitab alam dan dalil-dalil Rahmat sebanyak perlengkapan, makanan, serta nikmat makhluk berruh yang menjadi sarana Kasih, Rahmat, dan Pertolongan. Semua ini akan terlihat melalui teropong keadaan tak berdaya serta kelemahan, yang merupakan pemberi syafaat paling diterima, dan melalui mata masa tua. Dengan menunjukkan agar masa tua dicintai, alih-alih dijauhi dengan kecewa, Harapan ini memperlihatkan jalan harapan.
Harapan Ketujuh:
Harapan yang berjuang, yang meruntuhkan bangunan khayalan yang terlihat di ibu kota kerajaan serta dengan bodoh memberi dunia fana penampilan kekal, dari enam arah. Ia menghalau gelap mengerikan yang berasal dari kesesatan melalui cahaya Al-Qur'an serta rahasia iman, membawa orang-orang tua malang yang tertimpa musibah keluar dari lembah-lembah khayalan dan keraguan, serta menyampaikan mereka ke pantai keselamatan dan Rahmat Sang Rahmân.
Harapan Kedelapan:
Melalui Kemurahan-Nya Yang Sempurna serta Rasa Iba dan Kasih-Nya yang tidak berakhir, Allah سُبْحَانَهُ menciptakan umat manusia untuk hidup kekal serta kehidupan yang kekal. Untuk menyelamatkannya dari lupa sepenuhnya, sebagaimana Dia memberitahukan kematian setiap diri melalui Firman Suci
ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَٓﺍﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ
dalam Al-Qur'an Yang Agung, demikian pula Dia membangunkan manusia dari tidur kelalaian melalui rahasia iman serta cahaya Al-Qur'an dengan memutihnya rambut, tanda sekaligus pemberi kabar kematian, sahabat tetap serta gurunya. Manusia ini telah bersiap menundukkan kepala, selalu cenderung lalai, serta terjerat yang fana. Harapan ini memberikan kaidah harapan yang kuat ke tangannya.
Harapan Kesembilan:
Masa tua membuat manusia merasakan keadaan tak berdaya serta kelemahan secara langsung, dan dari segi perasaan ia menjadi seperti anak-anak. Sebagaimana masa tua menjadi sarana menarik Rahmat serta Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ, demikian pula melalui Perintah Al-Qur'an dan Isyarat Nabi ﷺ, ia menghimpun orang-orang muda di sekelilingnya dengan hormat, belas kasih, serta kasih sayang, seperti prajurit yang menerima perintah. Dengan demikian, dengan menerima masa tua yang mendapat Perhatian Sang Khâliq Yang Karîm serta menjadi sarana khidmah dan bantuan manusia, Harapan ini membuka pintu harapan.
Harapan Kesepuluh:
Melalui cahaya Al-Qur'an Al-Hakîm, kematian yang merupakan hakikat serta kenyataan lebih dipilih dan dicintai daripada kehidupan. Mereka yang telah meninggal dan berada di alam barzakh tentu lebih layak mendapat kedekatan serta keakraban daripada manusia yang hanya menjadi tamu sementara di dunia dan juga akan pergi ke sana. Karena hal ini terlihat dengan pasti melalui mata masa tua yang beriman, Harapan yang kuat ini memberitahukan bahwa masa tua beriman adalah nikmat Allah سُبْحَانَهُ yang besar. Terkadang melalui perjalanan serta latihan ruhani, ia memberi kabar gembira tentang kedudukan tinggi seperti tingkatan para wali, serta membawa kegembiraan.
Harapan Kesebelas:
Melalui peringatan rambut putih, penyeru masa tua yang tidak pernah diam, manusia melihat bahwa tubuh yang dianggap kekal itu fana dan merupakan calon penghuni alam lain. Melalui pukulan sebagian orang yang dianggap setia tetapi tidak setia, ia melihat bahwa semua yang berkaitan dengannya tidak layak mendapat ikatan hati. Ketika ia mencari tempat berlindung serta sandaran, Firman Suci “Lâ ilahe illâ Hû” yang keluar dari bahasa Al-Qur'an Al-Hakîm datang membantu. Melalui satu atau dua perumpamaan yang benar-benar berisi hakikat, Harapan ini memperlihatkan bahwa sebab-sebab di kainat serta rawa alam yang menyesatkan jalan abad ini tidak berarti, dan merupakan khayalan kufur yang tanpa dasar. Ia membuktikan niscayanya Wujud dari Sang Qadîr Yang Azali, Yang dalam genggaman Kekuasaan serta cakupan Ilmu-Nya terdapat segala sesuatu, dari zarah hingga matahari, dari langit hingga malaikat, dari lalat hingga ikan, dan dari khayal hingga kehidupan. Ia menganugerahkan pintu harapan kuat yang menjadi sarana cahaya iman.
Harapan Kedua Belas:
Atas wafatnya Abdurrahman, Rahmetullahi aleyh, melalui rahasia ayat suci
ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤُﻜْﻢُ ﻭَﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ,
hakikat
ﻳَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ﻰ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ ﻳَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ﻰ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ,
serta penghiburan ayat
ﻓَﺎِﻥْ ﺗَﻮَﻟَّﻮْﺍ ﻓَﻘُﻞْ ﺣَﺴْﺒِﻰَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻭَﻫُﻮَ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﻟْﻌَﻈ۪ﻴﻢِ,
Harapan ini memperlihatkan suatu hakikat nyata: cukuplah Perhatian Sang Bâqî Dzul-Jalâl, Zat Yang Kekal Selamanya Dzul-Kamâl, serta Sang Rahîm Dzul-Jamâl tetap ada. Satu manifestasi Pertolongan-Nya menggantikan seluruh dunia, dan satu manifestasi Cahaya-Nya menghilangkan seluruh gelap. Mereka yang pergi telah pergi ke Kerajaan-Nya yang kekal, dan Dia telah serta akan mengirim yang sama ke tempat mereka, sehingga Harapan yang seperti listrik ini mengarahkan wajah orang-orang tua, yang kebanyakan mengalami perpisahan serta kerinduan, kepada Sang Bâqî Dzul-Jalâl, mengubah gelap menjadi cahaya, serta memberikan cahaya iman kepada hati.
Harapan Ketiga Belas:
Dalam Perang Dunia, kota Van menjadi reruntuhan karena diserbu serta dibakar Rusia, sebagian besar penduduknya hilang melalui syahid serta hijrah, dan Madrasah Horhor hancur serta wafat. Ketika itu, Benteng Van yang berdiri di atas Horhor dan berupa satu batu utuh tampak sebagai batu nisan seluruh madrasah yang ditutup serta wafat di negeri ini. Saat berada di puncak Benteng Van dalam keputusasaan dan duka yang sangat kuat, hakikat ayat
ﺳَﺒَّﺢَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ٭ ﻟَﻪُ ﻣُﻠْﻚُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ
dari Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya bertajalli. Ia menyelamatkan dari keadaan-keadaan yang mengerikan, pedih, serta memilukan itu, mengarahkan pandangan ke cakrawala serta tanda-tanda kainat. Sebagai ganti terhapusnya surat buatan yang ditulis tangan para tamu manusia, Sang Pengukir Azali menghadiahkan dan membuatnya membaca kitab kainat yang besar, yang tidak terhapus serta tidak pudar, dan pada setiap hurufnya tertulis sebuah kitab. Dengan demikian, kepedihan itu dihilangkan. Kemudian, Dia memberikan Isparta sebagai madrasah pengganti Madrasah Horhor, serta lebih banyak pelajar dan sahabat sebagai ganti mereka yang berpisah, sehingga memperlihatkan rahasia Hikmah, Rahmat, dan Kasih-Nya. Harapan berharga ini menganjurkan agar orang-orang tua beriman, yang mendekat ke hadapan Rabb Yang Rahîm serta menjadi hamba yang diterima di sana, tidak bersedih atau berputus asa karena keadaan-keadaan dunia yang menakutkan. Kepada Sang Muhsin Yang Karîm, Yang menganugerahkan iman suci serta Islam yang diakui itu, hendaknya kita memberikan kenikmatan kepada lidah kita melalui pujian dan syukur yang tidak berakhir, serta semangat kepada jiwa kita melalui ubudiyah dan ketaatan.
Hafiz Mustafa
(rahmetullahi aleyhi rahmeten vâsiaten)
Harapan Keempat Belas:
Ketika orang-orang yang mengejar dunia mengasingkan Guru kami dari segala sesuatu, dan ia berada dalam lima macam keadaan jauh dari tempat asal, ia melihat cinta yang sangat kuat terhadap hidup kekal, cinta kuat terhadap wujud, kerinduan besar terhadap kehidupan, keadaan tak berdaya yang tidak terbatas, serta keadaan serba membutuhkan yang tidak berakhir menguasai dirinya. Saat ia menundukkan kepala dengan putus asa, Ayat Hasbiye
ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ
datang membantu dan berkata, “Bacalah aku dengan cermat.” Atas ucapan itu, ia membacanya lima ratus kali setiap hari, dan menyatakan bahwa, semakin ia membacanya, dari cahaya-cahaya berharga ayat ini sembilan tingkatan Hasbiye tersingkap, bukan hanya melalui ilmulyaqin, melainkan ainulyaqin...
Tingkatan Pertama Cahaya Hasbiye:
Saat cinta terhadap hidup kekal dalam dirinya melekat pada bayangan suatu manifestasi satu Nama Zat Dzul-Jalâl dan Dzul-Jamâl Yang Memiliki Kesempurnaan Mutlak dalam hakikat dirinya, ayat
ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ
datang serta mengangkat tabir. Ia menyatakan bahwa kenikmatan serta kebahagiaan hidup kekal dalam dirinya sebenarnya terdapat dengan cara lebih sempurna dalam Wujud Kekal Sang Bâqî Dzul-Kamâl, serta dalam membenarkan dan beriman kepada-Nya; ia merasakannya serta menikmati melalui haqqulyaqin.
Tingkatan Kedua Cahaya Hasbiye:
Ketika Guru kami berada dalam masa tua, jauh dari tempat asal, sendirian, serta diasingkan, dan orang-orang yang mengejar dunia menyerangnya melalui tipu daya serta mata-mata mereka, ia berbicara kepada hatinya, “Pasukan-pasukan menyerang seorang laki-laki yang tangannya terikat, lemah, serta sakit. Tidakkah ada titik sandaran bagiku?” Ketika ia beralih kepada ayat
ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ,
ayat ini memberinya pelajaran batin, “Melalui bukti ikatan iman, engkau mengikatkan diri kepada Sultan Yang Qadîr Mutlak, Yang di bawah Perintah serta genggaman Kekuasaan-Nya terdapat pasukan tumbuhan dan hewan yang terdiri atas empat ratus ribu kelompok. Engkau dapat bersandar kepada Pemilik Kudrat serta Kekuatan yang tidak terbatas itu.” Ia menyatakan bahwa melalui pelajaran ini, ia merasakan kekuatan iman yang mampu menantang bukan hanya musuh-musuh saat ini, bahkan seluruh dunia, serta mengucapkan
ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ
dengan segenap jiwanya.
Tingkatan Ketiga Cahaya Hasbiye:
Ketika ia memikirkan bahwa dirinya calon penerima kebahagiaan tetap di dunia kekal serta negeri kekal, tetapi tujuan cita-cita, sasaran jiwa, serta hasil fitrah ini hanya dapat terwujud melalui Kudrat tidak terbatas Sang Qadîr Mutlak, Yang Mengetahui serta Mencatat seluruh gerak makhluk dan segala sesuatu pada mereka, ia menginginkan penjelasan yang menenteramkan hati. Ketika kembali beralih kepada ayat itu, ayat tersebut memerintahkannya agar dalam ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ia memperhatikan ﻧَﺎ: siapa saja yang bersama dirinya mengucapkan ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ melalui bahasa keadaan serta ucapan? Kemudian seluruh tumbuhan dan hewan terlihatnya menyebut makna
ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ
melalui bahasa keadaan. Ia menyatakan bagaimana ia menyaksikan Kebesaran serta Keagungan Kudrat dalam segala wujud.
Tingkatan Keempat Cahaya Hasbiye:
Ketika ia berada dalam kekhawatiran pedih bahwa wujud dirinya, bahkan wujud seluruh makhluk, menuju tidak ada, ia kembali beralih kepada Ayat Hasbiye ini. Ketika melihat melalui teropong iman, ia menyatakan bahwa kematian bukan perpisahan, melainkan pertemuan; kematian adalah berpindah tempat serta bertunasnya buah yang kekal.
Tingkatan Kelima Cahaya Hasbiye:
Menghadapi kepedihan karena kehidupan cepat padam, dengan bantuan yang ia terima dari Ayat Hasbiye, ia berkata: kehidupan tetap ada selamanya selama menghadap kepada Zat Yang Hayy lagi Qayyûm, serta iman menjadi kehidupan dan jiwa bagi kehidupan. Karena kehidupan memberi buah-buah yang kekal, ia menjelaskan bahwa pendek atau panjangnya umur tidak perlu dilihat.
Mereka yang tidak mati atau yang ingin hidup, serta mereka yang ingin memahami sifat dan hakikat kehidupan, hendaknya melihat empat persoalan tingkatan ini dalam Sinar Keempat, lalu hidup kembali.
Tingkatan Keenam Cahaya Hasbiye:
Saat ia melihat lenyap dan fana, perusak yang terus bekerja, serta kematian dan tidak ada, pemisah yang terus berlangsung, mengoyak dunia indah serta makhluk-makhluk indah ini dengan mengerikan, memecah mereka menjadi kepingan, serta merusak keindahannya, cinta majasi dalam fitrahnya bergolak dan memberontak dengan kuat terhadap keadaan itu. Ketika ia beralih kepada Ayat Hasbiye ini untuk menemukan penghiburan, ayat tersebut berkata, “Bacalah aku dan pandang maknaku dengan cermat!” Karena itu, ia memasuki observatorium ayat
ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻧُﻮﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ
dalam surah An-Nur, lalu melalui teropong iman memandang lapisan-lapisan terjauh Ayat Hasbiye ini. Ia menjelaskannya serta menyebut rahasia-rahasia yang dilihat melalui teropong itu.
Risalah ini menjelaskan bahwa ciptaan-ciptaan indah, makhluk-makhluk manis, serta wujud-wujud elok ini menjadi cermin Keindahan Suci Sang Jamîl Dzul-Jalâl serta Keindahan yang kekal selamanya dari Asma-Nya Yang Indah tanpa batas, dan bahwa semua ini dijelaskan melalui dalil-dalil sangat kuat dalam bagian-bagian Risale-i Nur.
Harapan Kelima Belas:
Setelah Penjara Denizli, ketika Nur diterbitkan serta disebarkan melalui cetak stensil, musuh-musuh munafik yang tersembunyi tidak tahan melihat terbukanya kemenangan Nur. Melalui berbagai tipu daya serta fitnah, mereka mengubah pemerintah menjadi penentang, membuat risalah-risalah Nur disita serta diperiksa. Namun, sebagai hasil pemeriksaan, bukan kritik serta permusuhan, bahkan hati para pegawai yang memeriksa pun ditaklukkan, sehingga mereka menghargai sebagai ganti mengkritik. Kejadian ini menyebabkan meluasnya tempat-tempat belajar Nur. Beberapa waktu kemudian, musuh-musuh agama yang tersembunyi, melalui alasan-alasan sangat rendah, membuat Guru kami ditangkap pada hari-hari paling keras pertengahan musim dingin, lalu dipenjarakan dalam ruang besar yang sangat dingin serta tanpa tungku. Dalam penjara ini, melalui Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ suatu hakikat tersingkap, dan ia bersyukur ribuan kali atas tersebar serta berkembangnya Nur di dalam maupun di luar penjara. Jiwanya diingatkan, “Akibat kezaliman mereka, engkau meraih pahala, menjadikan jam-jam fanamu kekal, memperoleh kenikmatan batin, serta menjalankan tugas ilmu dan agama dengan ikhlas.” Karena itu, ia berdoa dengan segenap kekuatannya, “Elhamdülillah”. Harapan ini menjelaskannya dengan sangat indah.
Pada akhir Harapan ini dijelaskan bahwa melalui kekuatan iman yang didasarkan pada bukti, para pelajar Risale-i Nur menghentikan anarki di seluruh penjuru tanah air ini serta menjaga keamanan dan ketertiban umum. Selama dua puluh tahun, tidak seorang pun pelajar Nur di seluruh negeri memiliki kejadian yang melanggar keamanan. Bahkan, sebagian petugas keamanan yang adil mengakui, “Para pelajar Nur merupakan polisi batin. Mereka membantu kami menjaga ketertiban. Melalui iman yang didasarkan pada bukti, mereka menempatkan penjaga dalam kepala setiap orang yang membaca Nur serta bekerja menjamin keamanan.” Terhadap mereka yang melalui berbagai tuduhan serta fitnah ingin menghalangi cahaya Al-Qur'an dan iman, Guru kami berkata, “Kepala kami pun hendaknya dikorbankan bagi hakikat suci yang untuknya seratus juta kepala telah dikorbankan. Sekalipun kalian menjadikan dunia api di kepala kami, kepala-kepala yang dikorbankan bagi hakikat Al-Qur'an tidak akan menyerahkan senjata kepada kekufuran serta tidak akan meninggalkan tugas suci, inşâallah!” Harapan ini menjelaskannya.
Harapan Keenam Belas:
Kumpulan-kumpulan rahasia serta penting, terutama risalah tentang Sufyan dan karamah-karamah Nur, disimpan untuk diterbitkan ketika waktunya datang. Namun, dalam suatu penggeledahan, risalah-risalah itu dikeluarkan dari tempatnya, dan Guru kami ditangkap dalam keadaan sakit serta dibawa ke penjara. Ketika Guru kami merasa pedih serta sedih atas kerugian yang menimpa Nur, tiba-tiba Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ datang membantu. Kantor-kantor resmi yang membaca risalah-risalah rahasia itu menjadi tempat belajar Nur serta menyambut risalah-risalah dengan penghargaan. Ketika di Penjara Denizli ia kembali merasa pedih serta sedih karena masa tua, penyakit, dan kesusahan yang menimpa saudara-saudara yang tidak bersalah, tiba-tiba Pertolongan Rabb datang, mengubah penjara menjadi tempat belajar Nur, serta membuktikan bahwa ia merupakan Madrasah Yusufiyah (as). Nur mulai tersebar melalui pena-pena berlian para pahlawan Medresetü'z-Zehra. Setelah musuh-musuh tersembunyi meracuni Guru kami, almarhum Hafiz Ali menjadi syahid sebagai gantinya serta berangkat ke alam barzakh. Ketika semuanya merasa pedih serta sedih, tiba-tiba Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ kembali datang membantu: bahaya racun pada Guru kami berlalu; almarhum syahid itu sibuk dengan Nur di kubur serta menjawab malaikat penanya melalui Nur; sebagai gantinya, Pahlawan Denizli Hasan Feyzi rahmetullahi aleyh dan saudara-saudaranya masuk dalam khidmah; serta para tahanan diperbaiki melalui Nur. Setelah mengungkapkan datangnya Pertolongan Rabb melalui banyak tanda seperti ini, Harapan penting ini menjelaskan bahwa, sebagai jawaban atas keinginannya pada masa muda untuk melewatkan akhir umurnya dalam gua, gua-gua tersebut berubah menjadi penjara, tempat menyendiri, tempat latihan berat, serta sel pengasingan mutlak. Sebagai madrasah-madrasah Yusufiyah, semuanya membuatnya memberi khidmah dengan perjuangan kepada hakikat Al-Qur'an serta iman. Dalam penjara-penjara penuh penderitaan itu terdapat tiga hikmah serta tiga manfaat penting bagi khidmah Nur.
LEM'A KEDUA PULUH TUJUH:
Karena diterbitkan dalam kumpulan lain, tidak dimasukkan di sini.
LEM'A KEDUA PULUH DELAPAN:
Terdiri atas dua puluh delapan butir hikmah. Sebagian dimasukkan dalam kumpulan ini, sedangkan yang lain, karena diterbitkan dalam kumpulan lain, tidak dimasukkan di sini.
Bagian Kedua Butir Hikmah Kedua Puluh Dua:
Menjelaskan secara ringkas tiga segi di antara makna-makna sangat indah dan tinggi ayat mulia
ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺍﻟْﺠِﻦَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﻥِ ٭ ﻣَٓﺎ ﺍُﺭ۪ﻳﺪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﺭِﺯْﻕٍ ﻭَﻣَٓﺎ ﺍُﺭ۪ﻳﺪُ ﺍَﻥْ ﻳُﻄْﻌِﻤُﻮﻥِ ٭ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺯَّﺍﻕُ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻘُﻮَّﺓِ ﺍﻟْﻤَﺘ۪ﻴﻦُ.
Segi Pertama:
Bahwa pemberian makan serta rezeki dalam ayat itu berkaitan dengan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ...
Segi Kedua:
Memberi jawaban yang sangat indah kepada mereka yang ingin mencari alasan, dengan menganggap usaha memperoleh rezeki sebagai penghalang ubudiyah. Makna kiasan ayat ini menyatakan, “Kalian tidak diciptakan untuk menyampaikan rezeki kepada makhluk-makhluk-Ku yang menjadi Milik-Ku dan Kujamin rezekinya. Bahkan, tugas utama kalian ialah ubudiyah. Berusaha memperoleh rezeki menurut Perintah-perintah-Ku juga merupakan ibadah.”
Segi Ketiga:
Dengan mengambil ayat mulia
ﻟَﻢْ ﻳَﻠِﺪْ ﻭَ ﻟَﻢْ ﻳُﻮﻟَﺪْ
dalam surah Al-Ikhlas sebagai contoh, menjelaskan makna, “Hal-hal yang memiliki kemampuan menerima rezeki serta makanan tidak dapat menjadi ilah atau ma'bûd; mereka tidak layak disembah.”
Surat penting yang menjelaskan jenis-jenis tidur, waktunya, serta waktu-waktu tidur yang menentang atau sesuai sunah yang mulia:
Saat membaca kalimat
ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ صَلَاةٍ ﻭَ ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ سَلَامٍ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ
setelah tasbih salat Isya, surat ini menjelaskan bagaimana ia menyaksikan pribadi maknawi Muhammad ﷺ yang menyemarakkan, mengakrabkan, serta menerangi rumah dunia ini. Sebagai balasan syukur terhadap cahaya serta hadiah yang dibawanya, seluruh jin dan manusia harus mengucapkan salawat serta salam yang tidak terbatas kepadanya. Ini surat yang sangat halus dan indah:
Surat yang sangat penting, yang menjelaskan adanya tiga kerugian penting dalam mengajarkan jalan wahdatul wujud Yang Mulia Muhyiddin kepada manusia masa kini:
Jawaban ilmiah serta ringkas atas pertanyaan yang kembali menjadi pokok perdebatan tentang Muhyiddin Al-Arabi dan wahdatul wujud:
Gambaran pelajaran yang sangat indah, yang menjelaskan bagaimana ia menyaksikan keadaan lima puluh orang malang yang tertawa serta bersenang-senang dalam lingkup yang tidak dibenarkan pada suatu hari raya, lima puluh tahun kemudian:
Tulisan berpengaruh yang seperti tamparan keras kepada nafsu, dengan menyebut satu per satu kerugian mengikuti nafsu ammarah:
Jawaban meyakinkan yang menjelaskan bagaimana azab neraka yang tidak terbatas sebagai balasan atas kekufuran dalam waktu singkat merupakan keadilan hakiki:
Tawafuk halus yang penuh makna:
Tawafuk-tawafuk bermakna tentang diterimanya Risale-i Nur serta menerima Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ.
Surat tulus serta bercahaya, yang menceritakan bagaimana cahaya-cahaya terpantul pada hati-hati yang tidak berdosa:
Mimpi Zekâi:
Mimpi baik yang membawa kabar gembira serta penuh makna.
Terhadap ucapan yang berpihak serta bersaing melawan Risale-i Nur:
Kasidah berbentuk syair yang mengungkapkan betapa mulia serta diterimanya Risale-i Nur.
Butir Hikmah Kedua Puluh Delapan dari Lem'a Kedua Puluh Delapan:
Sebagaimana dipahami dari ayat mulia
لَا ﻳَﺴَّﻤَّﻌُﻮﻥَ ﺍِﻟَﻰ الْمَلَاِ الْاَعْلٰى ﻭَﻳُﻘْﺬَﻓُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺟَﺎﻧِﺐٍ ٭ ﺩُﺣُﻮﺭًﺍ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﻭَﺍﺻِﺐٌ ٭ اِلَّا ﻣَﻦْ ﺧَﻄِﻒَ ﺍﻟْﺨَﻄْﻔَﺔَ ﻓَﺎَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺷِﻬَﺎﺏٌ ﺛَﺎﻗِﺐٌ ٭ ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﻤَﺼَﺎﺑ۪ﻴﺢَ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣًﺎ ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ,
untuk mendapat berita tentang kejadian-kejadian gaib yang bersifat juz’i serta terkadang pribadi, setan-setan mata-mata menyusup ke negeri langit yang sangat jauh. Seolah-olah kejadian yang bersifat juz’i itu dibicarakan di setiap penjuru negeri yang sangat luas itu, setan mana pun, di tempat mana pun ia menyusup, mendengar berita itu secara tidak lengkap lalu membawanya. Bagaimana hal ini dapat diterima oleh akal serta hikmah?
Selain itu, menurut ayat mulia, sebagian nabi dan wali mengambil buah-buah surga yang berada di atas langit seakan-akan mengambilnya dari tempat dekat. Terkadang mereka memandang surga dari dekat. Bagaimana sesuatu yang amat jauh menjadi amat dekat dapat masuk dalam akal abad ini?
Selain itu, bagaimana keadaan-keadaan yang bersifat juz’i dari seorang individu dibicarakan dalam Majelis Tertinggi di negeri langit yang universal serta luas dapat sesuai dengan Hikmah yang sangat Bijaksana dalam pengaturan kainat? Risalah ini memuat jawaban-jawaban yang sangat berdasarkan ilmu, akal, serta meyakinkan atas pertanyaan bercabang tiga tersebut.