Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Persoalan Kelima:

Panduan Pemuda · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Persoalan Kelima:

Karena dunia fana. Dan karena umur singkat. Dan karena ada banyak tugas yang sangat dibutuhkan. Dan karena kehidupan yang kekal diperoleh di sini. Dan karena dunia tidak tanpa Pemilik. Dan karena rumah singgah dunia ini memiliki Sang Pengatur Yang Sangat Hakîm dan Karîm. Dan karena kebaikan maupun keburukan tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Dan karena menurut rahasia

لَا ﻳُﻜَﻠِّﻒُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻧَﻔْﺴًﺎ اِلَّا ﻭُﺳْﻌَﻬَﺎ

tidak ada tuntutan di luar kemampuan. Dan karena jalan tanpa bahaya lebih diutamakan daripada jalan berbahaya. Dan karena sahabat dan pangkat dunia hanya sampai pintu kubur.

Tentu orang yang paling bahagia ialah orang yang tidak melupakan akhirat demi dunia, tidak mengorbankan akhiratnya bagi dunia, tidak merusak kehidupan kekalnya demi kehidupan dunia, tidak menghabiskan umurnya pada hal yang tidak berguna, memandang dirinya sebagai tamu, bertindak menurut Perintah Sang Pemilik rumah singgah, membuka pintu kubur dengan selamat, dan memasuki kebahagiaan abadi.

Pertanyaan Ketujuh Kalian:

Apakah

ﺧَﻴْﺮُ ﺷَﺒَﺎﺑِﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻜُﻬُﻮﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺷَﺮُّ ﻛُﻬُﻮﻟِﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﺸَﺒَﺎﺑِﻜُﻢْ

hadis, dan apa maksudnya?

Jawaban:

Aku telah mendengarnya sebagai hadis. Maksudnya ialah: "Pemuda terbaik ialah yang seperti orang lanjut usia memikirkan kematian serta bekerja bagi akhiratnya, tidak menjadi tawanan keinginan masa muda, dan tidak tenggelam dalam kelalaian. Orang lanjut usia kalian yang paling buruk ialah yang ingin menyerupai pemuda dalam kelalaian serta keinginan, lalu mengikuti keinginan nafsu seperti anak-anak."

Bentuk yang benar dari bagian kedua yang engkau lihat pada papanmu ialah berikut ini. Aku menggantungkannya di atas kepalaku sebagai papan hikmah. Setiap pagi serta petang aku memandangnya dan mengambil pelajaranku:

Jika engkau menginginkan sahabat, Allah سُبْحَانَهُ cukup. Ya, jika Dia menjadi sahabat, segala sesuatu menjadi sahabat.

Jika engkau menginginkan teman-teman, Al-Qur'an cukup. Ya, melalui khayalan orang bertemu dengan nabi-nabi serta malaikat di dalamnya, memandang peristiwa-peristiwa mereka, lalu menjadi akrab.

Jika engkau menginginkan harta, kanaah cukup. Ya, orang yang berkanaah berhemat; orang yang berhemat menemukan berkah.

Jika engkau menginginkan musuh, nafsu cukup. Ya, orang yang mengagumi dirinya menemukan bencana serta mengalami kesulitan; orang yang tidak mengagumi dirinya menemukan ketenteraman serta menuju Rahmat.

Jika engkau menginginkan nasihat, kematian cukup. Ya, orang yang memikirkan kematian selamat dari cinta dunia serta bekerja sungguh-sungguh bagi akhiratnya.

(Dari Kumpulan Lem'alar (Kilau-Kilau))

PENAWAR KELIMA

Wahai orang sakit yang ditimpa penyakit! Melalui pengalamanku pada zaman ini, aku telah yakin bahwa bagi sebagian orang, penyakit merupakan anugerah Ilahi dan hadiah dari Ar-Rahmân. Selama delapan atau sembilan tahun ini, meskipun aku tidak layak, beberapa pemuda menemuiku untuk meminta doa karena penyakit mereka. Aku memperhatikan bahwa setiap pemuda sakit yang kutemui mulai memikirkan akhiratnya, dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain. Tidak ada mabuk masa muda. Sampai tingkat tertentu, ia menyelamatkan diri dari keinginan hewani dalam kelalaian. Aku pun memperhatikannya dan mengingatkan bahwa penyakit mereka yang masih dapat ditanggung merupakan anugerah Ilahi. Aku berkata, “Saudaraku, aku tidak menentang penyakitmu ini. Aku tidak merasa kasihan dan iba kepadamu karena penyakit itu sehingga aku akan mendoakanmu. Berusahalah bersabar sampai penyakit membangunkanmu sepenuhnya. Setelah penyakit menyelesaikan tugasnya, Sang Khâliq Yang Rahîm, inşâallah, memberimu kesembuhan.”

Aku juga berkata, “Sebagian orang seusiamu jatuh dalam kelalaian akibat bencana kesehatan, meninggalkan salat, tidak memikirkan kubur, dan melupakan Allah سُبْحَانَهُ. Melalui kesenangan lahir kehidupan duniawi selama satu jam, mereka mengguncangkan, merusak, bahkan mungkin menghancurkan kehidupan kekal mereka yang tak terbatas. Dengan mata penyakit, engkau melihat kuburmu, suatu tempat singgah yang pasti akan engkau datangi, serta tempat-tempat singgah akhirat di belakangnya. Engkau bertindak sesuai dengan semuanya itu. Berarti, bagimu penyakit adalah kesehatan. Kesehatan pada sebagian orang seusiamu adalah penyakit.”

(Dari Kumpulan Lem'alar)

{(Catatan kaki): Bagian ini bermanfaat bagi setiap orang.}

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲَ لَاَمَّارَةٌ ﺑِﺎﻟﺴُّٓﻮﺀِ

Ini merupakan suatu butir hikmah dari ayat yang bermakna, “Nafsu selalu mendorong kepada hal-hal buruk,” serta dari hadis

ﺍَﻋْﺪٰﻯ ﻋَﺪُﻭِّﻙَ ﻧَﻔْﺴُﻚَ ﺍﻟَّﺘ۪ﻰ ﺑَﻴْﻦَ ﺟَﻨْﺒَﻴْﻚَ

yang maknanya mulia ialah, “Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu.”

Dengan syarat ia mempunyai nafsu ammarah yang belum dibersihkan, orang yang menyukai dan mencintai dirinya sendiri tidak mencintai orang lain. Meskipun secara lahir ia mencintai, ia tidak dapat mencintai dengan tulus; justru ia mencintai keuntungan dan kenikmatan yang didapatnya dari orang itu. Ia selalu berusaha agar dirinya disukai dan dicintai. Ia tidak mengakui kesalahan pada dirinya, tetapi membela dan menyatakan dirinya tidak bersalah seperti seorang pengacara. Dengan berlebih-lebihan, bahkan dengan kebohongan, ia memuji dirinya dan menyatakan dirinya bebas dari kekurangan, sampai seakan-akan menganggap dirinya suci. Menurut tarafnya, ia menerima suatu tamparan dari ayat

ﻣَﻦِ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍِﻟٰﻬَﻪُ ﻫَﻮٰﻳﻪُ

. Adapun memuji diri dan berusaha agar dicintai, sebagai reaksi berbalik justru mengundang rasa muak dan membuat orang menjauh.

Ia juga kehilangan ikhlas dalam amal untuk akhirat dan mencampurkan riya ke dalamnya. Ia dikalahkan oleh perasaan yang tidak melihat akhir segala sesuatu, tidak memikirkan hasil, dan kecanduan kenikmatan sesaat, serta oleh hawa nafsu. Dengan mengikuti fatwa perasaan yang tersesat itu, demi kenikmatan satu jam ia mendekam di penjara selama setahun. Karena kebanggaan atau balas dendam satu menit, ia dihukum sepuluh tahun. Seperti seorang anak yang menuruti hawa nafsu dan menjual Juz Amma yang dipelajarinya demi sebutir permen, ia menjadikan amal-amal baiknya yang bernilai berlian sebagai sarana untuk kenikmatan dan ananiyah yang seperti pecahan kaca tidak berharga, demi membelai perasaannya, menyenangkan hawa nafsunya, dan memuaskan keinginannya. Ia pun merugi dalam pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya menguntungkan.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍﺣْﻔَﻈْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﻭَﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﺍﻟْﺠِﻦِّ وَالْاِنْسَانِ

(Dari Mesnevî-i Nuriye (Mesnevî Cahaya))

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz!

Aku termasuk dalam cakupan syair

ﻭَ ﻋَﻴْﻨ۪ﻰ ﻗَﺪْ ﻧَﺎﻣَﺖْ ﺑِﻠَﻴْﻞِ ﺷَﺒ۪ﻴﺒَﺘ۪ﻰ ﻭَ ﻟَﻢْ ﺗَﻨْﺘَﺒِﻪْ اِلَّا ﺑِﺼُﺒْﺢِ ﻣَﺸ۪ﻴﺐِ

yang bermakna, ‘Pada masa mudaku yang menyerupai malam, mataku tidur; aku hanya terbangun melalui pagi masa tua.’ Sebab, pada masa muda aku menyangka telah naik ke puncak kesadaran paling tinggi. Kini kupahami bahwa kesadaran itu bukan kesadaran, melainkan hanya berada dalam sumur tidur paling dalam. Karena itu, kesadaran terang yang dibanggakan orang-orang beradab agaknya termasuk golongan kesadaran masa mudaku.

Contoh mereka ialah orang tidur yang seolah-olah terbangun dalam mimpi dan menceritakan mimpinya kepada orang lain. Padahal, terbangunnya dalam mimpi merupakan isyarat bahwa ia berpindah dari tirai tidur tipis ke tirai yang dalam serta tebal. Orang tidur seperti ini seperti mati. Bagaimana ia dapat membangunkan manusia yang setengah tidur?

Wahai orang-orang yang menyangka dirinya terjaga ketika tidur! Jangan mendekat kepada orang-orang beradab melalui kelonggaran atau penyerupaan dalam urusan agama. Sebab, jurang di antara kita amat dalam. Kalian tidak dapat mengisinya serta memastikan jalan hubungan. Kalian akan bergabung dengan mereka, atau jatuh dalam kesesatan lalu tenggelam.

(Dari Mesnevî-i Nuriye)