Risalah Nur — Bahasa Indonesia

PERSOALAN KEEMPAT

Perbandingan Iman dan Kekufuran · Bahasa Indonesia

PERSOALAN KEEMPAT

Penjelasannya juga terdapat dalam Panduan Pemuda (Gençlik Rehberi). Suatu ketika, saudara-saudaraku yang membantuku bertanya:

"Selama lima puluh hari, engkau tidak pernah bertanya serta tidak ingin mengetahui Perang Dunia yang dahsyat ini, yang mengacaukan bola bumi dan berhubungan dengan Takdir Islam. (Sekarang telah lewat tujuh tahun; keadaannya tetap sama.) (Catatan kaki: Catatan dalam tanda kurung berasal dari tahun 1946.) Padahal, sebagian orang yang taat beragama serta berilmu meninggalkan jemaah dan masjid, lalu berlari mendengarkan radio. Apakah ada peristiwa yang lebih besar daripada ini? Atau, adakah bahaya dalam memperhatikannya?" Demikian mereka berkata.

Sebagai jawaban, aku berkata:

Modal umur sangat sedikit. Pekerjaan yang diperlukan sangat banyak. Seperti lingkaran-lingkaran yang saling masuk, dalam kehidupan setiap orang terdapat lingkup hati serta lambung, tubuh serta rumah, lingkungan serta kota, tanah air serta negeri, bola bumi serta umat manusia, sampai makhluk hidup dan dunia; semuanya saling berada di dalam yang lain. Dalam setiap lingkup, setiap manusia dapat memiliki suatu tugas. Namun, dalam lingkup terkecil terdapat tugas terbesar, penting, serta tetap. Dalam lingkup terbesar dapat terdapat tugas terkecil, sementara, serta sesekali. Menurut perbandingan ini, dapat ada tugas-tugas yang berbanding terbalik dengan kecil serta besarnya lingkup.

Namun, daya tarik lingkup besar membuat seseorang meninggalkan pekerjaan yang diperlukan serta penting dalam lingkup kecil, lalu menyibukkannya dengan pekerjaan yang tidak diperlukan, tidak berguna, serta jauh dari dirinya. Ia menghancurkan modal kehidupannya di tempat yang sia-sia dan membunuh umurnya yang berharga dalam hal-hal tanpa nilai. Terkadang, orang yang dengan penasaran mengikuti pertarungan perang ini memihak salah satu pihak dalam hatinya. Ia memandang wajar kezaliman pihak itu serta menjadi sekutu kezalimannya.

Adapun jawaban atas pokok pertama:

Ya, ada peristiwa yang lebih besar daripada Perang Dunia ini serta perkara yang lebih penting daripada perebutan kekuasaan umum pada permukaan bumi. Peristiwa serta perkara itu telah dihadapkan kepada setiap orang, khususnya kaum Muslim, sedemikian rupa, sehingga jika seseorang memiliki kekuatan dan kekayaan sebesar bangsa Jerman serta Inggris, dan juga memiliki akal, ia akan menghabiskannya tanpa ragu untuk memenangkan satu perkara tersebut.

Perkara itu ialah sebagaimana diberitakan bersama oleh seratus ribu tokoh manusia, serta bintang dan pembimbing umat manusia yang tak terhitung, berdasarkan ribuan Janji serta Ikrar Sang Pemilik dan Pengelola kainat, dan sebagian melihatnya dengan mata mereka: Setiap orang dihadapkan kepada perkara memenangkan atau kehilangan tanah serta milik yang kekal dan tetap, dihiasi taman-taman dan istana seluas permukaan bumi ini, sebagai imbalan iman. Jika ia tidak memperoleh dokumen iman yang kukuh, ia akan kalah. Pada abad ini, melalui wabah taun materialisme, banyak orang kehilangan perkara tersebut. Bahkan, seorang ahli yang memperoleh penglihatan batin serta meneliti dengan cermat menyaksikan pada sakarat bahwa dari empat puluh kematian di suatu tempat, hanya beberapa yang menang, sedangkan yang lainnya kalah. Jika seluruh kekuasaan dunia diberikan kepada seseorang, dapatkah semuanya menggantikan perkara yang telah kalah itu?

Karena kami mengetahui bahwa sepenuhnya tidak berakal jika seseorang meninggalkan khidmah yang memenangkan perkara tersebut serta tugas yang mempekerjakan seorang pembela luar biasa, yang membuat sembilan puluh persen tidak kehilangan perkara itu, lalu menyibukkan diri dengan hal jauh yang tidak berguna, seakan-akan akan tetap berada di dunia selamanya; kami para murid Risale-i Nur yakin bahwa meskipun akal setiap kami seratus tingkat lebih besar, ia harus digunakan hanya untuk tugas ini.

Wahai saudara-saudara baruku dalam musibah penahanan! Kalian belum melihat Risale-i Nur seperti saudara-saudaraku terdahulu yang datang bersamaku. Dengan menjadikan mereka serta ribuan murid seperti mereka saksi, aku mengatakan, membuktikan, dan telah membuktikan: Yang memenangkan perkara besar itu bagi sembilan puluh persen, serta selama dua puluh tahun menyerahkan kepada dua puluh ribu orang iman tahkiki, dokumen, surat bukti, dan keputusan kemenangan perkara tersebut, ialah Risale-i Nur. Ia lahir serta keluar dari mukjizat maknawi Al-Qur’an Al-Hakîm, dan merupakan pembela utama pada zaman ini.

Selama delapan belas tahun ini, musuh-musuhku, kaum zindik, serta penganut materialisme telah menipu sebagian pejabat pemerintah melalui siasat yang sangat kejam terhadapku. Untuk memusnahkan kami, sebagaimana kali ini, mereka juga memasukkan kami ke penjara serta sel-sel pada masa lalu. Namun, dalam benteng baja Risale-i Nur,

dari seratus tiga puluh bagian perlengkapannya, mereka hanya dapat mengusik dua atau tiga bagian. Jadi, orang yang ingin memperoleh pembela cukup mendapatkannya.

Jangan pula takut; Risale-i Nur tidak akan dilarang. Risale-risale pentingnya, kecuali dua atau tiga, beredar dengan bebas dalam tangan para wakil rakyat serta pejabat pemerintahan republik. İnşâallah, suatu hari, untuk menjadikan penjara-penjara tempat perbaikan yang sempurna, para kepala serta petugas yang berbahagia akan membagikan Nur-Nur itu kepada para tahanan seperti roti dan obat.

--

(Dari Meyve Risalesi)

SEBUAH RINGKASAN PERSOALAN KEDELAPAN

Dalam Persoalan Ketujuh, kami hendak memperoleh jawaban mengenai kebangkitan dari berbagai sumber. Namun, jawaban Khâliq kami melalui Asma-Nya memberikan kepastian serta keyakinan yang begitu kuat, sehingga tidak menyisakan kebutuhan akan pertanyaan lain. Karena itu, kami mempersingkatnya di sana.

Sekarang, dalam persoalan ini, satu dari seratus manfaat serta hasil yang dijamin iman kepada akhirat, baik bagi kebahagiaan akhirat maupun dunia, akan diringkas. Penjelasan Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya mengenai kebahagiaan akhirat tidak menyisakan kebutuhan akan penjelasan lain; karena itu, bagian tersebut diserahkan kepadanya. Penjelasan mengenai kebahagiaan dunia diserahkan kepada Risale-i Nur. Dengan ringkasan singkat saja, kami akan menjelaskan tiga atau empat dari ratusan hasil yang berhubungan dengan kehidupan pribadi serta bermasyarakat manusia.

PERTAMA:

Berbeda dengan hewan-hewan lainnya, manusia berhubungan dengan dunia sebagaimana dengan rumahnya, dan memiliki hubungan sungguh-sungguh serta fitri dengan umat manusia sebagaimana dengan kerabatnya. Sebagaimana ia menginginkan tetap ada untuk sementara di dunia, ia menginginkan, sampai tingkat cinta yang mendalam, tetap ada dalam negeri abadi. Sebagaimana ia berusaha memenuhi kebutuhan makanan lambungnya, secara fitri ia juga harus dan berjuang menyediakan meja hidangan serta makanan seluas dunia, bahkan membentang hingga selamanya, bagi lambung akal, hati, ruh, dan kemanusiaannya. Ia memiliki keinginan serta permintaan yang hanya dapat dipuaskan oleh kebahagiaan abadi.

Bahkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kalimat Kesepuluh, suatu ketika pada masa kecilku, aku bertanya kepada khayalku, "Apakah engkau menginginkan umur satu juta tahun serta kekuasaan dunia, tetapi kemudian jatuh menjadi tidak ada dan tiada;

atau menginginkan wujud yang tetap ada, meskipun biasa serta penuh kesusahan?" Aku melihat bahwa ia menginginkan yang kedua dan mengeluh, "Âh!" atas yang pertama. Ia berkata, "Meskipun dalam neraka, aku ingin tetap ada."

Karena kenikmatan dunia ini tidak memuaskan daya khayal, satu pelayan hakikat kemanusiaan, tentu hakikat kemanusiaan yang sangat mencakup banyak segi berhubungan secara fitri dengan hidup yang kekal. Bagi manusia yang terikat kepada keinginan serta harapan tak terhitung ini, padahal modalnya hanya kehendak bebas manusia yang terbatas dan fakir mutlak, iman kepada akhirat merupakan khazanah yang kuat, cukup, serta lengkap; sarana kebahagiaan dan kenikmatan; tempat memohon pertolongan dan kembali; serta sarana penghiburan terhadap dukacita dunia yang tak terhitung. Betapa besarnya semua ini merupakan buah dan manfaat, sehingga meskipun ia mengorbankan kehidupan dunia untuk memperolehnya, harganya tetap murah.