Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Bagian 2

Risalah Buah · Bahasa Indonesia

Dan, dari segi hakikat Muhammad ﷺ, merupakan benih asalnya.

Dan ayat terbesar dari Al-Qur’an kainat.

Dan Ayat Kursinya yang membawa Ismul A'zham.

Dan tamu paling dimuliakan dalam istana kainat.

Dan petugas paling aktif, yang diizinkan mengelola penghuni lain istana tersebut.

Dan pengawas paling riuh serta paling besar tanggung jawabnya, yang ditugaskan mengawasi pemasukan, pengeluaran, penanaman, serta penaburan dalam kebun dan ladang lingkungan bumi di kota kainat, dan dilengkapi ratusan ilmu serta ribuan seni.

Dan seorang pemeriksa di bawah perhatian yang sangat teliti dari Sang Raja Azali dan Abadi, serta suatu khalifah bumi dalam negeri bumi, bagian dari negara kainat.

Dan pengelola yang gerak juz'i maupun menyeluruhnya dicatat.

Dan hamba yang mencakup banyak segi, diwajibkan menjalankan ubudiyah yang sangat luas, memikul amanat terbesar yang langit, bumi, serta gunung enggan memikulnya, dan dihadapannya terbuka dua jalan menakjubkan; pada satu jalan ia menjadi makhluk hidup yang paling malang, dan pada jalan lain paling berbahagia.

Dan tempat Manifestasi Ismul A'zham dari Sang Sultan kainat, serta cermin yang paling mencakup seluruh Asma-Nya.

Dan penerima khusus Sapaan serta Percakapan Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci, yang paling memahami.

Dan makhluk hidup paling membutuhkan di antara makhluk hidup kainat; dalam keadaan serba membutuhkan serta tak berdaya yang tak terhingga, ia merupakan makhluk malang yang memiliki tujuan dan keinginan tak terhitung, musuh tak terbatas, serta hal-hal berbahaya yang menyakitinya.

Dan paling kaya dari segi potensi.

Dan paling menderita dari segi kenikmatan hidup, dengan kenikmatan yang bercampur kepedihan dahsyat.

Dan paling rindu serta membutuhkan untuk tetap ada, juga paling layak serta berhak atasnya.

Dan meminta serta memohon kelangsungan dan kebahagiaan abadi melalui doa-doa tak terhitung.

Dan meskipun seluruh kenikmatan dunia diberikan kepadanya, semuanya tidak memuaskan keinginannya untuk tetap ada.

Dan mukjizat Kudrat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad serta keajaiban penciptaan yang sangat luar biasa, yang mencintai Zat yang memberinya anugerah sampai tingkat penghambaan, membuat-Nya dicintai, serta dicintai.

Dan mencakup kainat, serta seluruh perlengkapan kemanusiaannya bersaksi bahwa ia diciptakan untuk menuju hidup yang kekal...

Manusia-manusia ini, yang melalui dua puluh hakikat menyeluruh tersebut terhubung kepada Asma Al-Haqq dari Allah سُبْحَانَهُ, terus dicatat amalnya melalui Asma Hafîzh dari Sang Hafîzh Dzul-Jalâl, Yang melihat kebutuhan paling kecil makhluk hidup yang terkecil, mendengar permohonannya, serta menjawab melalui Perbuatan. Tindakan mereka yang berhubungan dengan kainat ditulis oleh kiraman katibin (malaikat pencatat) dari Asma tersebut, dan lebih daripada segala sesuatu, mereka menjadi sasaran Pandangan Perhatian-Nya. Tentu, tentu, dalam segala keadaan, tanpa keraguan, berdasarkan dua puluh hakikat ini, akan berlangsung kebangkitan serta hidupnya kembali manusia. Melalui Asma Al-Haqq, mereka akan menerima pahala khidmah terdahulu serta hukuman kesalahan mereka. Melalui Asma Hafîzh, mereka akan dihisab dan ditanyai mengenai setiap amal, baik yang juz'i maupun yang menyeluruh, yang telah dicatat. Dalam negeri yang kekal, pintu tempat perjamuan kebahagiaan abadi serta penjara kemalangan tetap akan dibuka. Seorang pengawas yang dalam alam ini memimpin banyak golongan, turut campur, dan terkadang

membuatnya kacau, tidak akan masuk ke tanah, berbaring, serta bersembunyi tanpa ditanyai setiap amalnya dan tanpa dibangunkan.

Jika tidak, meskipun suara lalat didengar dan dijawab melalui Perbuatan dengan diberikan hak hidupnya, doa-doa mengenai hak manusia yang tak terhitung untuk tetap ada, yang disampaikan dengan bahasa dua puluh hakikat tersebut, sekuat guruh dan menggemakan Arasy serta bumi, tidak akan didengar, dan hak-hak tak terhitung itu akan disia-siakan. Hikmah yang, menurut kesaksian keteraturan sayap lalat, tidak memboroskan bahkan sebesar sayap lalat, akan sepenuhnya memboroskan kemampuan manusia yang menjadi tempat terhubung seluruh hakikat itu, harapan serta keinginan yang menjangkau hidup yang kekal, dan begitu banyak hubungan serta hakikat kainat yang memberi makanan kepada kemampuan serta keinginan tersebut. Hal ini merupakan pelanggaran hak, keburukan zalim, serta sesuatu di luar kemungkinan. Seluruh wujud yang bersaksi atas Asma Al-Haqq, Hafîzh, Hakîm, Jamîl, serta Rahîm menolaknya. Semuanya mengatakan bahwa hal itu mustahil pada seratus tingkat dan tidak mungkin dari seribu segi.

Asma Al-Haqq, Hafîzh, Hakîm, Jamîl, serta Rahîm menjawab pertanyaan kami kepada Khâliq kami mengenai kebangkitan, dan berkata, "Sebagaimana Kami merupakan kebenaran serta hakikat, dan sebagaimana nyatanya wujud-wujud yang bersaksi atas Kami, kebangkitan benar serta pasti terwujud."

Dan karena...

Aku hendak menulis lebih lanjut, tetapi karena telah diketahui seterang matahari, aku mempersingkatnya.

Seperti pada hal-hal dalam contoh-contoh serta premis berawal "karena" tadi, setiap Asma dari seratus, bahkan seribu Asma Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq yang mengarah kepada kainat, sebagaimana membuktikan Sang Pemilik Asma dengan jelas melalui cermin dan manifestasinya dalam wujud-wujud; demikian pula, ia menunjukkan kebangkitan serta negeri akhirat dan membuktikannya dengan pasti.

Sebagaimana Rabb kami memberi jawaban yang suci serta pasti atas pertanyaan kami kepada Khâliq melalui seluruh Firman, kitab yang diturunkan-Nya, serta sebagian besar Asma yang dimiliki-Nya; demikian pula, melalui malaikat-malaikat-Nya serta bahasa mereka, Dia juga menyampaikan dengan cara lain:

"Sejak masa Adam, terdapat peristiwa-peristiwa pertemuan kalian dengan makhluk rohani serta kami yang berkekuatan ratusan tawatur. Terdapat tanda dan dalil tak terhitung yang menunjukkan adanya kami serta makhluk rohani, dan ubudiyah kami serta mereka. Ketika bertemu panglima-panglima kalian, kami telah memberitakan dengan saling bersesuaian bahwa kami berjalan-jalan dalam ruang-ruang akhirat serta sebagian lingkupnya, dan kami selalu memberitakannya. Tentu,

ruang-ruang yang kekal serta sempurna tempat kami berjalan-jalan ini, dan istana serta tempat tinggal yang dilengkapi dan dihiasi di belakangnya, tanpa keraguan sedikit pun bagi kami, sedang menunggu untuk menempatkan tamu-tamu yang sangat penting di sana. Kami memberitahukannya kepada kalian dengan pasti." Demikian mereka menjawab pertanyaan kami.

Karena Khâliq kami telah menetapkan Muhammad Al-Arabi ﷺ sebagai guru terbesar, pembimbing yang paling sempurna, serta penunjuk jalan paling benar, yang tidak keliru ataupun membuat keliru, dan mengirim beliau sebagai utusan terakhir ﷺ; sebelum segala sesuatu, kami harus mengajukan kepada guru kami ini ﷺ pertanyaan yang telah kami ajukan kepada Khâliq kami, agar kami maju serta menyempurna dari tingkat ilmulyaqin (yakin melalui ilmu) menuju ainulyaqin (yakin melalui penglihatan) dan haqqulyaqin (yakin melalui pengalaman nyata). Sebab, sebagai suatu mukjizat Al-Qur’an, beliau membuktikan bahwa Al-Qur’an benar serta Kalâmullah melalui seribu mukjizat yang masing-masing merupakan tanda pembenaran dari Khâliq kami. Al-Qur’an pun, melalui empat puluh ragam sifat bermukjizatnya, merupakan mukjizat beliau, dan membuktikan bahwa beliau benar serta Rasulullah ﷺ. Keduanya bersama-sama, yang satu melalui bahasa alam yang terlihat, sepanjang hidup beliau di bawah pembenaran seluruh nabi serta wali, dan yang lain melalui bahasa alam gaib, dalam pembenaran seluruh Firman samawi serta hakikat kainat, menyatakan dan membuktikan hakikat kebangkitan melalui ribuan ayat. Tentu, hakikat tersebut sepasti matahari dan siang.

Ya, persoalan seperti kebangkitan, yang sangat menakjubkan, dahsyat, serta berada di luar jangkauan akal, hanya dapat diselesaikan dan dipahami melalui pelajaran dua guru luar biasa seperti ini.

Sebab para nabi terdahulu tidak memberikan penjelasan seperti Al-Qur’an kepada umat mereka ialah karena zaman-zaman itu merupakan masa kehidupan yang bersahaja serta masa kanak-kanak umat manusia. Dalam pelajaran permulaan, penjelasan sedikit.

Kesimpulannya:

Karena sebagian besar Asma Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq mengharuskan serta menuntut akhirat, tentu seluruh dalil yang menunjukkan Asma tersebut, dari satu segi, juga menunjukkan kenyataan akhirat.

Karena para malaikat memberitakan bahwa mereka melihat lingkup-lingkup akhirat serta alam yang kekal, tentu dalil-dalil yang bersaksi atas adanya serta ubudiyah malaikat, ruh, dan makhluk rohani, secara tidak langsung juga menunjukkan adanya akhirat.

Karena sepanjang hidup Muhammad ﷺ, ajaran, pernyataan, serta dasar yang paling tetap setelah Keesaan ialah akhirat;

tentu seluruh mukjizat serta dalil yang menunjukkan kenabian dan kebenaran beliau, dari satu segi, secara tidak langsung bersaksi atas kenyataan serta datangnya akhirat.

Karena seperempat Al-Qur’an mengenai kebangkitan serta akhirat, dan melalui seribu ayat, ia berusaha membuktikan serta memberitakannya; tentu seluruh hujah, dalil, serta bukti yang bersaksi serta menunjukkan kebenaran Al-Qur’an, secara tidak langsung juga menunjukkan dan bersaksi atas adanya, kenyataan, serta dibukanya akhirat.

Pandanglah, dan lihat betapa kuat serta pastinya rukun iman ini.

--

SEBUAH RINGKASAN PERSOALAN KEDELAPAN

Dalam Persoalan Ketujuh, kami hendak memperoleh jawaban mengenai kebangkitan dari berbagai sumber. Namun, jawaban Khâliq kami melalui Asma-Nya memberikan kepastian serta keyakinan yang begitu kuat, sehingga tidak menyisakan kebutuhan akan pertanyaan lain. Karena itu, kami mempersingkatnya di sana.

Sekarang, dalam persoalan ini, satu dari seratus manfaat serta hasil yang dijamin iman kepada akhirat, baik bagi kebahagiaan akhirat maupun dunia, akan diringkas. Penjelasan Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya mengenai kebahagiaan akhirat tidak menyisakan kebutuhan akan penjelasan lain; karena itu, bagian tersebut diserahkan kepadanya. Penjelasan mengenai kebahagiaan dunia diserahkan kepada Risale-i Nur. Dengan ringkasan singkat saja, kami akan menjelaskan tiga atau empat dari ratusan hasil yang berhubungan dengan kehidupan pribadi serta bermasyarakat manusia.

PERTAMA:

Berbeda dengan hewan-hewan lainnya, manusia berhubungan dengan dunia sebagaimana dengan rumahnya, dan memiliki hubungan sungguh-sungguh serta fitri dengan umat manusia sebagaimana dengan kerabatnya. Sebagaimana ia menginginkan tetap ada untuk sementara di dunia, ia menginginkan, sampai tingkat cinta yang mendalam, tetap ada dalam negeri abadi. Sebagaimana ia berusaha memenuhi kebutuhan makanan lambungnya, secara fitri ia juga harus dan berjuang menyediakan meja hidangan serta makanan seluas dunia, bahkan membentang hingga selamanya, bagi lambung akal, hati, ruh, dan kemanusiaannya. Ia memiliki keinginan serta permintaan yang hanya dapat dipuaskan oleh kebahagiaan abadi.

Bahkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kalimat Kesepuluh, suatu ketika pada masa kecilku, aku bertanya kepada khayalku, "Apakah engkau menginginkan umur satu juta tahun serta kekuasaan dunia, tetapi kemudian jatuh menjadi tidak ada dan tiada;

atau menginginkan wujud yang tetap ada, meskipun biasa serta penuh kesusahan?" Aku melihat bahwa ia menginginkan yang kedua dan mengeluh, "Âh!" atas yang pertama. Ia berkata, "Meskipun dalam neraka, aku ingin tetap ada."

Karena kenikmatan dunia ini tidak memuaskan daya khayal, satu pelayan hakikat kemanusiaan, tentu hakikat kemanusiaan yang sangat mencakup banyak segi berhubungan secara fitri dengan hidup yang kekal. Bagi manusia yang terikat kepada keinginan serta harapan tak terhitung ini, padahal modalnya hanya kehendak bebas manusia yang terbatas dan fakir mutlak, iman kepada akhirat merupakan khazanah yang kuat, cukup, serta lengkap; sarana kebahagiaan dan kenikmatan; tempat memohon pertolongan dan kembali; serta sarana penghiburan terhadap dukacita dunia yang tak terhitung. Betapa besarnya semua ini merupakan buah dan manfaat, sehingga meskipun ia mengorbankan kehidupan dunia untuk memperolehnya, harganya tetap murah.

BUAH KEDUA SERTA SATU MANFAAT BAGI KEHIDUPAN PRIBADI:

Merupakan hasil sangat penting yang dijelaskan dalam Persoalan Ketiga, serta terdapat sebagai catatan kaki dalam Panduan Pemuda (Gençlik Rehberi).

Ya, kekhawatiran utama yang setiap manusia selalu pikirkan ialah bagaimana ia akan memasuki tempat hukuman mati itu, seperti sahabat serta kerabatnya yang masuk pemakaman. Manusia malang yang mengorbankan ruhnya demi satu sahabat membayangkan ribuan, bahkan jutaan serta miliaran sahabatnya dimusnahkan dalam perpisahan abadi. Ketika melalui pikiran itu muncul kepedihan yang lebih buruk daripada azab neraka, iman kepada akhirat datang, membuka matanya, serta mengangkat tabir. Ia berkata, "Pandanglah." Manusia itu memandang dengan iman, dan memperoleh kenikmatan rohani yang memberitakan kenikmatan surga, dengan melihat bahwa sahabat-sahabat tersebut selamat dari kematian abadi serta pembusukan, dan dengan gembira menunggunya dalam alam bercahaya. Karena hasil ini telah dijelaskan dengan dalil dalam Risale-i Nur, kami mempersingkatnya.

MANFAAT KETIGA BAGI KEHIDUPAN PRIBADI:

Keunggulan serta kedudukan manusia atas makhluk hidup lainnya ialah dari segi wataknya yang tinggi, kemampuannya yang mencakup banyak segi, ubudiyahnya yang menyeluruh, serta lingkup wujudnya yang luas. Padahal, melalui ukuran masa kini, waktu singkat yang terhimpit antara masa lalu serta masa depan yang tidak ada, mati, dan gelap, manusia memperoleh watak seperti kepedulian, cinta, persaudaraan, serta kemanusiaan.

Misalnya, ia mencintai serta berkhidmah kepada ayah, saudara, istri, bangsa, dan tanah air yang sebelumnya tidak dikenalnya, serta setelah berpisah tidak akan dilihatnya lagi. Ia sangat jarang dapat mencapai kesetiaan serta keikhlasan yang sempurna. Sejauh itu,

kesempurnaan serta wataknya mengecil. Ketika ia, alih-alih menjadi yang paling tinggi di antara hewan, hampir jatuh menjadi yang paling malang serta paling rendah dari segi akal, iman kepada akhirat datang menolong. Iman mengubah waktunya yang sempit seperti kubur menjadi waktu yang sangat luas, mencakup masa lalu serta masa depan, dan memperlihatkan lingkup wujud seluas dunia, bahkan dari azali sampai abadi.

Ia mencintai, menghormati, mengasihi, serta membantu ayahnya melalui hubungan sebagai ayah, bahkan di negeri kebahagiaan dan alam ruh; saudaranya dengan memikirkan persaudaraan hingga selamanya; serta istrinya dengan mengetahui bahwa ia merupakan pendamping hidup terindah, bahkan dalam surga. Ia tidak menjadikan khidmah penting demi hubungan-hubungan dalam lingkup kehidupan serta wujud yang besar dan luas itu alat bagi urusan dunia tanpa nilai, kepentingan pribadi kecil, serta keuntungan. Dengan mencapai kesetiaan sungguh-sungguh dan keikhlasan tulus, kesempurnaan serta sifat baiknya mulai naik menurut tingkatnya. Kemanusiaannya menjadi luhur.

Manusia yang dalam kenikmatan hidup tidak dapat menyamai burung pipit itu menjadi tamu kainat yang paling terpilih serta berbahagia, di atas seluruh hewan; dan hamba Sang Pemilik kainat yang paling dicintai serta diterima. Hasil ini pun, karena telah dijelaskan melalui dalil dalam Risale-i Nur, dipersingkat.

MANFAAT KEEMPAT YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEHIDUPAN BERMASYARAKAT MANUSIA:

Ringkasan hasil yang dijelaskan dalam Sinar Kesembilan dari Risale-i Nur demikian:

Anak-anak yang membentuk seperempat umat manusia dapat hidup secara manusiawi serta membawa kemampuan kemanusiaan melalui iman kepada akhirat. Jika tidak, dalam kecemasan menyakitkan, mereka akan hidup dengan mainan kanak-kanak serta hidup dengan tingkah nakal, untuk menidurkan dan membuat diri lupa. Sebab, setiap saat, kematian anak-anak seperti mereka di sekelilingnya begitu memengaruhi otaknya yang rapuh, hatinya yang lemah tetapi membawa keinginan panjang ke masa depan, serta ruhnya yang tidak tahan. Ketika kehidupan dan akal menjadi alat azab serta siksaan bagi anak malang itu, melalui pelajaran iman kepada akhirat, ia justru merasakan kegembiraan dan rasa lega sebagai ganti kecemasan yang darinya ia bersembunyi di balik mainan agar tidak melihat. Ia berkata:

"Saudara atau temanku ini telah meninggal dan menjadi burung surga. Ia lebih menikmati hidup serta berjalan-jalan daripada kita. Ibuku telah meninggal, tetapi pergi kepada Rahmat Ilahi. Ia akan kembali memeluk serta mencintaiku di surga, dan aku juga akan melihat

ibuku tersayang yang penuh kasih itu." Dengan mengatakan demikian, ia dapat hidup dengan cara yang layak bagi kemanusiaan.

Orang-orang lanjut usia yang membentuk seperempat umat manusia juga hanya dapat menemukan penghiburan dalam iman kepada akhirat, terhadap segera padamnya kehidupan, masuknya mereka ke tanah, serta tertutupnya dunia mereka yang indah dan dicintai. Jika tidak, ayah-ayah yang pengasih dan terhormat serta ibu-ibu yang rela berkorban dan penuh kelembutan akan mengalami jeritan ruh serta keguncangan hati sedemikian rupa, sehingga dunia menjadi penjara penuh keputusasaan bagi mereka, dan hidup menjadi azab yang menyiksa.

Namun, iman kepada akhirat berkata kepada mereka, "Jangan cemas. Kalian memiliki masa muda abadi yang akan datang. Kehidupan terang serta umur tak terbatas menunggu kalian. Kalian akan bertemu dengan gembira anak-anak serta kerabat yang telah hilang dari kalian. Seluruh kebaikan yang kalian lakukan telah terjaga, dan kalian akan menerima pahalanya." Dengan demikian, iman kepada akhirat memberi penghiburan serta rasa lega sedemikian rupa, sehingga meskipun seratus masa tua sekaligus menimpa setiap mereka, semuanya tidak membuat mereka putus asa.

Pemuda yang membentuk sepertiga umat manusia, dengan keinginan yang bergolak, dikalahkan perasaan, berani, serta tidak selalu menggunakan akalnya, jika kehilangan iman kepada akhirat dan tidak mengingat azab neraka, akan membahayakan harta serta kehormatan orang-orang yang menjaga kehormatan dalam masyarakat, juga kenyamanan serta martabat orang lemah dan lanjut usia. Terkadang, demi satu menit kenikmatan, ia menghancurkan kebahagiaan sebuah rumah yang bahagia dan menderita azab penjara seperti ini selama empat hingga lima tahun, lalu menjadi seperti binatang buas.

Jika iman kepada akhirat datang menolongnya, ia segera kembali menggunakan akal. Ia berkata, "Memang, mata-mata pemerintah tidak melihatku dan aku dapat bersembunyi dari mereka. Namun, malaikat Sang Raja Dzul-Jalâl, Yang memiliki penjara seperti neraka, melihatku dan mencatat keburukanku. Aku tidak dibiarkan tanpa aturan; aku musafir yang memiliki tugas. Aku juga akan menjadi tua serta lemah seperti mereka." Tiba-tiba, ia mulai merasakan kasih serta penghormatan terhadap orang-orang yang ingin ia serang secara zalim. Karena makna ini juga telah dijelaskan dengan bukti dalam Risale-i Nur, kami mempersingkatnya.

Bagian penting umat manusia lainnya ialah orang sakit, teraniaya, yang ditimpa musibah seperti kami, orang fakir, serta tahanan yang menerima hukuman berat. Jika iman kepada akhirat tidak datang menolong, kematian yang setiap saat terlihat melalui peringatan penyakit, pengkhianatan angkuh orang zalim yang terhadapnya mereka tidak dapat membalas dendam dan

tidak dapat menyelamatkan kehormatan mereka dari tangannya, keputusasaan menyakitkan akibat kehilangan harta serta anak dengan sia-sia dalam musibah besar, dan kesempitan menyedihkan akibat menderita azab penjara seperti ini selama lima hingga sepuluh tahun demi satu-dua menit atau satu-dua jam kesenangan, tentu menjadikan dunia penjara serta hidup azab yang menyiksa bagi orang-orang malang itu.

Jika iman kepada akhirat datang menolong mereka, tiba-tiba mereka dapat bernapas. Sesuai tingkat iman, kesempitan, keputusasaan, kecemasan, serta kemarahan untuk membalas dendam hilang sebagian, dan terkadang sepenuhnya.

Bahkan, aku dapat mengatakan bahwa dalam penahanan tanpa alasan serta musibah dahsyat kami ini, jika iman kepada akhirat tidak menolong, bertahan satu hari saja akan terasa seperti kematian dan mendorongku serta sebagian saudara untuk mengundurkan diri dari kehidupan. Namun, syukur tak terhingga, meskipun aku juga menanggung kepedihan akibat musibah dari banyak saudara yang kucintai seperti nyawaku; menanggung penyesalan atas hilangnya serta tangisan ribuan risalah Risale-i Nur yang kucintai seperti mataku, dan kitab-kitabku yang berlapis emas, berhias, serta sangat berharga; dan sejak dahulu tidak dapat menerima sedikit pengkhianatan atau pemaksaan; aku meyakinkan kalian dengan sumpah:

Cahaya serta kekuatan iman kepada akhirat memberiku kesabaran, ketahanan, penghiburan, dan keteguhan sedemikian rupa; bahkan semangat untuk memperoleh pahala lebih besar dalam pelajaran ujian yang menguntungkan, dengan perjuangan. Karena itu, sebagaimana kukatakan pada awal risalah ini, aku memandang diriku berada dalam madrasah yang indah serta baik, layak bernama Madrasah Yusufiyah. Seandainya tidak ada penyakit yang sesekali datang serta kepekaan yang timbul dari usia lanjut, aku akan lebih banyak mengerjakan pelajaranku dengan sempurna dan hati yang tenang. Bagaimanapun... Karena berkaitan dengan bagian ini, uraian keluar dari pokok pembicaraan; mohon dimaklumi.

Dunia kecil setiap manusia, bahkan surga kecilnya, ialah rumahnya sendiri. Jika iman kepada akhirat tidak memerintah kebahagiaan rumah itu, setiap anggota keluarga menderita kecemasan serta azab menyakitkan sesuai kadar kasih, cinta, dan perhatiannya. Surganya berubah menjadi neraka. Atau, melalui hiburan sementara serta kebejatan, ia membius dan menidurkan akalnya. Seperti burung unta, ia melihat pemburu, tidak dapat lari atau terbang, lalu memasukkan kepala ke pasir agar tidak terlihat. Ia memasukkan kepala ke dalam kelalaian agar kematian, berlalunya kehidupan, serta perpisahan tidak melihatnya. Ia menemukan jalan sementara yang tanpa akal, berupa mematikan rasa.

Sebab, misalnya, ibu gemetar setiap kali melihat anak yang untuknya ia rela mengorbankan ruh terus terpapar bahaya. Anak-anak yang tidak dapat menyelamatkan ayah serta saudaranya dari bencana yang tak habis juga merasakan kesedihan dan ketakutan yang tetap. Dengan perbandingan ini, dalam kehidupan dunia yang kacau serta tidak stabil, kehidupan keluarga yang dianggap bahagia itu kehilangan kebahagiaannya dari banyak segi. Hubungan serta kekerabatan dalam hidup yang sangat singkat pun tidak menghasilkan kesetiaan sejati, keikhlasan tulus, khidmah tanpa kepentingan pribadi, serta cinta. Sejauh itu, akhlak mengecil, bahkan jatuh.

Jika iman kepada akhirat memasuki rumah itu, ia tiba-tiba akan meneranginya. Hubungan, kasih, kekerabatan, serta cinta di antara mereka diukur menurut kelangsungan hubungan tersebut, bahkan dalam kebahagiaan abadi di negeri akhirat, bukan menurut waktu yang sangat singkat. Karena itu, akhlak seperti penghormatan tulus, cinta, kasih, kesetiaan, serta tidak memperhatikan kekurangan menjadi luhur. Kebahagiaan kemanusiaan sejati mulai terbuka dalam rumah itu. Karena makna ini juga telah dijelaskan dengan dalil dalam Risale-i Nur, uraian dipersingkat.

SETIAP KOTA PUN MERUPAKAN RUMAH LUAS BAGI PENDUDUKNYA. Jika iman kepada akhirat tidak memerintah anggota keluarga besar itu, di tempat keikhlasan, ketulusan, keutamaan, kepedulian, pengorbanan, Rida Ilahi, dan pahala akhirat yang merupakan dasar akhlak indah, muncul kepentingan pribadi, keuntungan, kepalsuan, sikap hanya mementingkan diri, kepura-puraan, riya, suap, serta penipuan. Di bawah ketertiban serta kemanusiaan yang tampak, anarki dan kebuasan memerintah; kehidupan kota itu diracuni. Anak-anak mulai bersikap nakal, pemuda mabuk, orang kuat berlaku zalim, dan orang lanjut usia menangis.

Dengan perbandingan ini, negeri juga merupakan rumah, dan tanah air merupakan rumah suatu keluarga bangsa. Jika iman kepada akhirat memerintah dalam rumah-rumah luas ini, penghormatan tulus, kasih sungguh-sungguh, cinta serta pertolongan tanpa suap, khidmah serta pergaulan tanpa tipu daya, kebaikan dan keutamaan tanpa riya, serta kebesaran dan kelebihan tanpa ananiyah, tiba-tiba mulai terbuka dalam kehidupan itu.

Kepada anak-anak, ia berkata, "Surga ada; berhentilah bersikap nakal." Melalui pelajaran Al-Qur’an, ia memberi sikap tenang dan berhati-hati.

Kepada pemuda, ia berkata, "Neraka ada; berhentilah mabuk." Ia membuat mereka kembali menggunakan akal.

Kepada orang zalim, ia berkata, "Azab keras ada; engkau akan menerima tamparan." Ia membuatnya menundukkan kepala kepada keadilan.

Kepada orang lanjut usia, ia berkata, "Kebahagiaan akhirat yang tetap serta jauh lebih tinggi daripada seluruh kebahagiaan yang telah lepas dari tanganmu, dan masa muda yang segar serta kekal, menunggumu. Berusahalah memperolehnya." Ia mengubah tangisnya menjadi tawa.

Dengan perbandingan ini, ia memperlihatkan pengaruh baik serta menerangi setiap kelompok, baik dalam lingkup kecil maupun luas. Hendaknya para ahli masyarakat serta akhlak yang memperhatikan kehidupan bermasyarakat umat manusia memasang telinga!

Jika manfaat lain dibandingkan dengan lima atau enam contoh yang kami isyaratkan dari ribuan manfaat iman kepada akhirat ini, akan dipahami dengan pasti bahwa hanya iman yang menjadi sarana kebahagiaan kedua alam serta kedua kehidupan.

Dengan mencukupkan diri pada jawaban kuat dalam Kalimat Kedua Puluh Delapan serta risalah-risalah lain Risale-i Nur terhadap keraguan lemah mengenai kebangkitan jasmani, di sini kami hanya memberi isyarat singkat:

Cermin Asma Ilahi yang paling mencakup banyak segi terdapat pada sisi jasmani. Pusat paling kaya dan aktif Tujuan-Tujuan Ilahi dalam penciptaan kainat terdapat pada sisi jasmani. Jenis serta warna anugerah Rabb yang terbanyak terdapat pada sisi jasmani. Benih doa serta syukur manusia kepada Khâliq melalui bahasa kebutuhannya yang paling banyak juga terdapat pada sisi jasmani. Benih paling beragam alam maknawi serta rohani juga terdapat pada sisi jasmani.

Menurut perbandingan ini, karena ratusan hakikat menyeluruh terpusat pada sisi jasmani, untuk memperbanyak wujud jasmani di permukaan bumi serta menjadikannya tempat tampaknya hakikat-hakikat tersebut, Sang Khâliq Yang Hakîm, melalui Kegiatan yang begitu cepat serta dahsyat, mengenakan wujud kepada makhluk dalam rombongan demi rombongan dan mengirim mereka ke tempat pameran itu. Kemudian, Dia membebastugaskan mereka serta mengirim yang lain. Dia terus membuat pabrik kainat beroperasi, menenun hasil-hasil jasmani, serta menjadikan bumi taman pembibitan bagi akhirat dan surga.

Bahkan, untuk memuaskan lambung jasmani manusia, Dia mendengarkan serta menerima dengan perhatian paling besar doanya melalui bahasa keadaan untuk tetap ada. Untuk menjawab melalui Perbuatan, Dia menyediakan bagi jasmani makanan yang sangat berseni serta nikmat yang sangat berharga, tak terhitung, dalam ratusan ribu cara dan ribuan jenis kenikmatan. Hal ini memperlihatkan dengan jelas, tanpa keraguan, bahwa dalam negeri akhirat, kenikmatan surga yang terbanyak serta paling beragam bersifat jasmani. Nikmat kebahagiaan abadi yang paling penting, diinginkan setiap orang, serta akrab bagi mereka, bersifat jasmani.

Apakah dari segi mana pun ada peluang atau kemungkinan bahwa Sang Qadîr Yang Rahîm, Sang ‘Alîm Yang Karîm, Yang menerima doa lambung biasa ini melalui bahasa keadaan untuk tetap ada, dan membuatnya berterima kasih dengan makanan jasmani yang memiliki mukjizat tak terhingga,

serta setiap waktu menjawab melalui Perbuatan, dengan Maksud dan tanpa kebetulan; tetapi tidak menerima doa umum tak terhitung dari umat manusia melalui lambung besar kemanusiaannya, agar kenikmatan jasmani yang menyeluruh, tinggi, terus diinginkan, akrab, serta diminta secara fitri, diberikan dalam negeri yang kekal? Padahal manusia merupakan hasil kainat yang paling penting, khalifah bumi, serta makhluk terpilih dan pengabdi Khâliq itu. Mungkinkah Dia tidak menjawab melalui Perbuatan dengan kebangkitan jasmani, serta tidak membuat manusia berterima kasih selamanya; seakan-akan mendengar suara lalat tetapi tidak mendengar guruh, sangat memperhatikan perlengkapan prajurit biasa tetapi sama sekali tidak memandang atau mementingkan pasukan? Hal ini mustahil serta batil pada seratus tingkat.

Ya, berdasarkan kejelasan pasti ayat

ﻭَ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺸْﺘَﻬ۪ﻴﻪِ الْاَنْفُسُ ﻭَ ﺗَﻠَﺬُّ الْاَعْيُنُ

, manusia akan melihat serta mengecap kenikmatan jasmani yang paling akrab baginya dan telah dicicipi contohnya di dunia, dengan cara yang layak bagi surga. Pahala syukur murni serta ibadah khusus anggota tubuh, seperti lidah, mata, dan telinga, akan diberikan melalui kenikmatan jasmani yang khusus bagi anggota tersebut. Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya menjelaskan kenikmatan jasmani dengan begitu tegas, sehingga tidak menerima makna lahirnya melalui penafsiran lain berada di luar kemungkinan.

Buah serta hasil iman kepada akhirat menunjukkan: Sebagaimana hakikat serta kebutuhan lambung, salah satu anggota manusia, menunjukkan adanya makanan dengan pasti; demikian pula, hakikat manusia, kesempurnaan, kebutuhan fitri, serta keinginan abadinya, dan hakikat serta kemampuan yang menuntut hasil dan manfaat iman kepada akhirat tersebut, lebih pasti menunjukkan akhirat, surga, serta kenikmatan jasmani yang kekal, dan bersaksi atas kenyataannya. Hakikat kesempurnaan kainat ini, tanda-tanda penciptaannya yang penuh makna, serta seluruh hakikat kemanusiaan yang berhubungan dengan hakikat-hakikat tersebut juga menunjukkan dan bersaksi atas adanya serta kenyataan negeri akhirat, datangnya kebangkitan, dan dibukanya surga serta neraka. Bagian-bagian Risale-i Nur, khususnya Kalimat Kesepuluh, Kedua Puluh Delapan dengan dua bagiannya, Kedua Puluh Sembilan, Sinar Kesembilan, serta risalah-risalah Münâcat, telah membuktikannya melalui dalil dengan terang dan tanpa menyisakan keraguan. Dengan menyerahkannya kepada bagian-bagian tersebut, kami mempersingkat uraian panjang ini.

Penjelasan Al-Qur’an mengenai neraka begitu jelas serta nyata, sehingga tidak menyisakan kebutuhan akan penjelasan lain. Kami hanya akan menjelaskan ringkasan sangat singkat dua atau tiga butir hikmah yang menghilangkan satu atau dua keraguan lemah,

dengan menyerahkan perinciannya kepada Risale-i Nur.

BUTIR HIKMAH PERTAMA: Pemikiran tentang neraka tidak mengusir kenikmatan buah-buah iman tadi melalui rasa takutnya. Sebab, Rahmat Rabb yang tak terhingga berkata kepada orang yang takut itu: Datanglah kepada-Ku; masuklah melalui pintu tobat. Dengan demikian, adanya neraka, alih-alih menakutkan, justru memperkenalkan sepenuhnya kenikmatan surga kepadamu, membalaskan dendammu serta dendam makhluk-makhluk tak terhitung yang hak-haknya telah dilanggar, dan membuat kalian bergembira.

Jika engkau tenggelam dalam kesesatan serta tidak dapat keluar, adanya neraka tetap seribu tingkat lebih baik daripada pemusnahan abadi, dan merupakan suatu kasih bahkan bagi orang kafir. Sebab, manusia, bahkan hewan-hewan yang beranak, menikmati kesenangan serta kebahagiaan kerabat, anak, dan sahabatnya, dan dari satu segi menjadi bahagia.

Dalam keadaan ini, wahai orang yang mengingkari, menurut kesesatanmu, engkau akan jatuh menjadi tidak ada melalui pemusnahan abadi, atau masuk neraka! Keadaan tiada, yang merupakan keburukan murni, membakar ruh, hati, serta hakikat kemanusiaanmu ribuan tingkat lebih daripada neraka. Sebab, bersama engkau, semua yang kaucintai, kerabat, leluhur, serta keturunan yang kebahagiaannya membuatmu puas dan sampai tingkat tertentu bahagia, juga dimusnahkan. Jika neraka tidak ada, surga pun tidak ada. Melalui kekufuranmu, segala sesuatu jatuh menjadi tidak ada.

Jika engkau masuk neraka dan tetap berada dalam lingkup wujud, orang-orang yang kaucintai serta kerabatmu akan bahagia di surga, atau dari satu segi menerima kasih dalam lingkup wujud. Jadi, dalam segala keadaan, engkau harus mendukung adanya neraka. Menentang neraka berarti mendukung keadaan tiada, yaitu mendukung lenyapnya kebahagiaan sahabat-sahabatmu yang tak terhitung.

Ya, neraka merupakan negeri yang ada, dahsyat serta penuh Jalâl, yang bertugas sebagai penjara penuh Hikmah dan adil dari Sang Penguasa Dzul-Jalâl atas lingkup wujud, yang merupakan kebaikan murni. Bersama tugas penjara, ia memiliki banyak tugas lain, banyak hikmah, serta khidmah bagi alam yang kekal. Ia juga merupakan tempat tinggal penuh Jalâl bagi banyak makhluk hidup, seperti zabaniyah.

BUTIR HIKMAH KEDUA: Adanya neraka serta azabnya yang keras tidak berlawanan dengan Rahmat tak terhingga, Keadilan sejati, serta Hikmah yang tanpa pemborosan dan seimbang. Justru Rahmat, Keadilan, serta Hikmah menuntut adanya neraka. Sebab, sebagaimana menghukum seorang zalim yang menginjak hak seribu orang tidak bersalah

serta membunuh binatang buas yang mencabik seratus hewan teraniaya, merupakan seribu kasih kepada yang teraniaya di dalam keadilan; memaafkan orang zalim serta membebaskan binatang buas itu berarti ratusan sikap tanpa kasih terhadap ratusan makhluk malang, sebagai imbalan satu kasih yang tidak pada tempatnya.

Demikian pula, orang kafir mutlak yang termasuk mereka yang masuk penjara neraka, melalui kekufurannya melanggar hak Asma Ilahi dengan pengingkaran; melanggar hak wujud-wujud yang bersaksi atas Asma itu dengan mendustakan kesaksian mereka; melanggar hak makhluk dengan mengingkari tugas-tugas luhur tasbih mereka kepada Asma tersebut; serta, dari suatu segi, melanggar hak melalui pendustaan terhadap tanggapan ubudiyah dan peran mereka sebagai cermin manifestasi Rububiyah Ilahi, yang merupakan tujuan penciptaan, suatu sebab adanya, serta tetap adanya kainat. Dari segi ini, perbuatannya merupakan kejahatan dan kezaliman yang begitu besar, sehingga tidak tersisa kelayakan menerima ampunan. Ia patut menerima ancaman ayat

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ لَا ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺍَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪ۪

.

Tidak memasukkannya ke neraka berarti sikap tanpa kasih yang tak terhitung terhadap penggugat-penggugat tak terhitung yang haknya telah diserang, sebagai imbalan suatu kasih yang tidak pada tempatnya. Sebagaimana para penggugat itu menuntut adanya neraka, Martabat Jalâl serta Keagungan Kesempurnaan pun menuntutnya dengan pasti.

Ya, sebagaimana seorang pembangkang tanpa aturan yang menyerang rakyat berkata kepada penguasa bermartabat di sana, "Engkau tidak dapat memasukkanku ke penjara; engkau tidak mampu," lalu mencederai martabatnya; tentu, meskipun tidak ada penjara dalam kota itu, ia akan membuat penjara bagi orang tanpa adab tersebut dan memasukkannya ke dalamnya.

Demikian pula, melalui kekufurannya, orang kafir mutlak sangat mencederai Martabat Jalâl-Nya. Melalui pengingkaran, ia menentang Keagungan Kudrat-Nya, dan melalui pelanggarannya mengusik Kesempurnaan Rububiyah-Nya. Tentu, meskipun tidak ada banyak sebab yang mengharuskan serta berbagai hikmah adanya neraka untuk banyak tugas, menciptakan neraka bagi orang-orang kafir seperti itu serta memasukkan mereka ke dalamnya merupakan tuntutan Martabat dan Jalâl tersebut.

Hakikat kekufuran pun memperkenalkan neraka. Ya, sebagaimana jika hakikat iman mengambil wujud jasmani, melalui kenikmatannya, ia dapat berbentuk surga pribadi, dan dari segi ini memberikan kabar tersembunyi mengenai surga;

demikian pula, telah dibuktikan melalui dalil dalam Risale-i Nur serta diisyaratkan dalam persoalan-persoalan pada awal bahwa kekufuran, khususnya kekufuran mutlak, kemunafikan, serta kemurtadan, memiliki kepedihan yang gelap dan dahsyat serta azab maknawi. Jika mengambil wujud jasmani, semuanya menjadi neraka pribadi bagi orang murtad itu, dan dari segi ini memberikan kabar tersembunyi mengenai neraka besar. Selain itu,

karena hakikat-hakikat kecil dalam ladang dunia, taman pembibitan ini, akan mengeluarkan bulir-bulir di akhirat, benih beracun ini menunjuk kepada pohon zaqqum itu. Ia berkata, "Aku merupakan salah satu dasarnya. Contoh khusus pohon zaqqum bagi orang malang yang membawaku dalam hatinya akan menjadi buahku."

Karena kekufuran merupakan pelanggaran hak yang tak terhitung, tentu ia merupakan kejahatan tak terhitung, sehingga membuat seseorang patut menerima azab tak terhitung. Karena keadilan manusia menerima hukuman penjara lima belas tahun, hampir delapan juta menit, bagi pembunuhan satu menit, dan memandangnya sesuai dengan manfaat serta hak umum; tentu, dari segi satu kekufuran seperti seribu pembunuhan, azab hampir delapan miliar menit bagi satu menit kekufuran mutlak sesuai hukum keadilan itu. Orang yang melewatkan satu tahun umurnya dalam kekufuran tersebut patut menerima azab hampir dua triliun delapan ratus delapan puluh miliar menit, dan menjadi tempat berlakunya rahasia

ﺧَﺎﻟِﺪ۪ﻳﻦَ ﻓ۪ﻴﻬَٓﺎ ﺍَﺑَﺪًﺍ

. Bagaimanapun...

Penjelasan bermukjizat Al-Qur’an Al-Hakîm mengenai surga serta neraka, dan dalil-dalil Risale-i Nur, tafsir Al-Qur’an yang datang darinya, mengenai adanya surga serta neraka, tidak menyisakan kebutuhan akan penjelasan lain. Banyak ayat seperti

ﻭَﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ ﻓ۪ﻰ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖَ ﻫٰﺬَﺍ بَاطِلًا ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻓَﻘِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ٭ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﺻْﺮِﻑْ ﻋَﻨَّﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺍِﻥَّ ﻋَﺬَﺍﺑَﻬَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻏَﺮَﺍﻣًﺎ ٭ ﺍِﻧَّﻬَﺎ ﺳَٓﺎﺀَﺕْ ﻣُﺴْﺘَﻘَﺮًّﺍ ﻭَﻣُﻘَﺎﻣًﺎ

, serta terutama Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, seluruh nabi, dan ahli hakikat yang dalam doa mereka setiap waktu paling banyak mengucapkan

ﺍَﺟِﺮْﻧَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ٭ ﻧَﺠِّﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ٭ ﺧَﻠِّﺼْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

serta, berdasarkan wahyu serta apa yang mereka saksikan langsung, memohon agar kami dilindungi dari neraka yang telah menjadi pasti bagi mereka, menunjukkan bahwa persoalan terbesar umat manusia ialah selamat dari neraka. Neraka merupakan hakikat kainat yang sangat penting, agung, serta dahsyat. Sebagian dari ahli yang menyaksikan langsung, memperoleh penglihatan batin, serta

meneliti dengan cermat itu menyaksikannya. Sebagian melihat pancaran serta bayangannya, lalu berteriak karena kedahsyatannya. Mereka berkata, "Selamatkanlah kami darinya!"

Ya, dalam kainat ini, kebaikan dan keburukan, kenikmatan dan kepedihan, cahaya dan keadaan gelap, panas dan dingin, keindahan dan keburukan rupa, serta hidayah dan kesesatan saling berhadapan serta bercampur, demi Hikmah yang sangat besar. Sebab, tanpa keburukan, kebaikan tidak diketahui; tanpa kepedihan, kenikmatan tidak dipahami; tanpa gelap, cahaya tidak mempunyai arti penting; dan melalui dingin, tingkat panas menjadi nyata. Melalui keburukan rupa, satu hakikat keindahan menjadi seribu hakikat, dan ribuan macam tingkatan keindahan terwujud. Tanpa neraka, banyak kenikmatan surga tetap tersembunyi. Dengan perbandingan ini, dari satu segi, segala sesuatu dapat diketahui melalui lawannya, dan satu hakikat mengeluarkan bulir lalu menjadi banyak hakikat.

Karena wujud-wujud yang bercampur ini mengalir dari negeri fana menuju negeri yang kekal, tentu, sebagaimana kebaikan, kenikmatan, cahaya, keindahan, serta iman mengalir ke surga; demikian pula, bahan-bahan berbahaya seperti keburukan, kepedihan, keadaan gelap, keburukan rupa, serta kekufuran turun bagai hujan ke neraka. Arus kainat yang terus bergolak ini memasuki kedua kolam tersebut dan berhenti. Dengan menyerahkannya kepada butir-butir hikmah dengan isyarat tersirat pada akhir Kalimat Kedua Puluh Sembilan yang memiliki karamah (karunia Allah سُبْحَانَهُ yang luar biasa), kami mempersingkatnya.

Wahai teman-teman belajarku dalam Madrasah Yusufiyah ini! Jalan mudah serta cara selamat dari penjara abadi yang dahsyat itu ialah memanfaatkan penahanan dunia kita ini. Selain terhindar dari banyak dosa yang terpaksa tidak dapat kita lakukan, kita bertobat dari dosa-dosa terdahulu dan menunaikan kewajiban fardu, lalu menjadikan setiap jam umur dalam penjara ini seperti satu hari ibadah. Inilah kesempatan terbaik bagi kita untuk selamat dari penjara abadi itu serta memasuki surga bercahaya. Jika melewatkan kesempatan ini, sebagaimana dunia kita menangis, akhirat kita pun akan menangis. Kita akan menerima tamparan

ﺧَﺴِﺮَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَ الْاٰخِرَةَ

.

Ketika bagian ini ditulis, Iduladha tiba.

Melalui "Allahu Ekber" "Allahu Ekber" "Allahu Ekber", seperlima umat manusia, tiga ratus juta orang, sekaligus dibuat mengucapkan "Allahu Ekber". Seakan-akan bola bumi yang besar, sesuai ukurannya, memperdengarkan kalimat suci "Allahu Ekber" kepada sahabat-sahabat planetnya di langit. Lebih dari dua puluh ribu jemaah haji di Arafah serta pada hari raya bersama-sama mengucapkan "ALLAHU EKBER", sebagai semacam gema dari perkataan yang disampaikan serta diperintahkan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ seribu tiga ratus tahun lalu

bersama keluarga dan sahabat beliau, yakni "ALLAHU EKBER". Aku membayangkan, merasakan, serta meyakini bahwa hal ini merupakan tanggapan ubudiyah yang luas dan menyeluruh terhadap Tajalli (tampak nyata) Rububiyah Ilahi yang menyeluruh melalui sebutan agung "Rabbü'l-Ardı ve Rabbü'l-Âlemîn".

Kemudian aku teringat: Apakah perkataan suci ini juga berhubungan dengan persoalan kami? Tiba-tiba terlintas bahwa banyak perkataan syiar, terutama perkataan ini, serta "Sübhanallah", "Elhamdülillah", dan "Lâ ilahe illallah", yang bernama al-baqiyat as-salihat, mengingatkan persoalan kami, baik yang juz'i maupun yang menyeluruh, serta mengisyaratkan kenyataannya.

Misalnya, satu segi makna "Allahu Ekber" ialah Kudrat dan Ilmu Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq lebih Besar daripada segala sesuatu; tidak ada sesuatu pun yang dapat keluar dari lingkup Ilmu-Nya, atau lari serta selamat dari Pengelolaan Kudrat-Nya. Dia lebih Besar daripada hal-hal terbesar yang kami takuti. Artinya, Kudrat-Nya melampaui urusan mendatangkan kebangkitan, menyelamatkan kami dari keadaan tiada, serta memberikan kebahagiaan abadi. Dia lebih Besar daripada segala hal yang menakjubkan dan berada di luar jangkauan akal. Melalui kejelasan pasti ayat

ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ

, kebangkitan serta hidupnya kembali umat manusia semudah menciptakan satu jiwa bagi Kudrat itu. Dari segi makna ini, seperti peribahasa, menghadapi musibah besar serta tujuan besar, setiap orang berkata, "Allah سُبْحَانَهُ Mahabesar, Allah سُبْحَانَهُ Mahabesar." Ia menjadikannya penghiburan, kekuatan, serta titik sandaran bagi dirinya.

Ya, sebagaimana dalam Kalimat Kesembilan, kalimat ini bersama dua sahabatnya merupakan benih serta ringkasan salat, indeks seluruh ibadah. Ia berulang dalam salat dan tasbihnya untuk menguatkan makna salat melalui tiga hakikat agung "Sübhanallah" "Elhamdülillah" "Allahu Ekber". Ia juga memberi jawaban yang sangat kuat atas pertanyaan manusia yang timbul dari kekaguman, kenikmatan, serta rasa gentar ketika melihat banyak hal luar biasa dalam kainat, yang menakjubkan, indah, dan besar, serta menjadi sarana kekaguman, syukur, Keagungan, serta Kebesaran. Sebagaimana pula dijelaskan pada akhir Kalimat Keenam Belas:

Pada hari raya, seorang prajurit masuk ke hadapan raja bersama seorang marsekal; pada waktu lain, ia mengenal raja melalui kedudukan komandannya. Demikian pula, saat haji, setiap orang mulai mengenal Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq sampai tingkat tertentu seperti para wali, melalui sebutan "Rabbü'l-Ardı ve Rabbü'l-Âlemîn". Ketika tingkatan Kebesaran itu terbuka bagi hatinya, dengan mengulang "Allahu Ekber", ia menjawab seluruh pertanyaan kekaguman yang berulang serta penuh semangat dan menguasai ruhnya. Sebagaimana dijelaskan pada akhir Lem'a Ketiga Belas, "Allahu Ekber" juga memotong sampai akar siasat terpenting setan-setan dan memberi jawaban pasti. Ia juga menjawab dengan singkat tetapi kuat pertanyaan kami mengenai akhirat. Demikian pula, kalimat "Elhamdülillah" mengingatkan serta menuntut kebangkitan.

Ia berkata kepada kami, "Maknaku tidak dapat tanpa akhirat. Sebab, aku menyatakan bahwa dari azali sampai abadi, seluruh pujian serta syukur, dari siapa pun dan kepada siapa pun, khusus bagi-Nya. Karena itu, hanya kebahagiaan abadi yang dapat menjadi pokok seluruh nikmat, menjadikan nikmat benar-benar nikmat, serta menyelamatkan seluruh makhluk berkesadaran dari musibah tak terhitung akibat keadaan tiada. Ia menanggapi maknaku yang menyeluruh itu."

Ya, setelah salat, setiap orang beriman mengucapkan "Elhamdülillah" "Elhamdülillah" menurut syariat, setidaknya lebih dari seratus lima puluh kali setiap hari. Maknanya menyatakan pujian serta syukur dengan keluasan tak terbatas, dari azali sampai abadi. Hal ini hanya merupakan harga di muka serta bayaran yang disegerakan bagi kebahagiaan abadi serta surga. Ia tidak terbatas atau khusus pada nikmat dunia yang singkat, fana, serta bercampur kepedihan. Ia juga memandang serta bersyukur atas nikmat-nikmat itu dari segi menjadi sarana bagi nikmat abadi.

Kalimat suci "Sübhanallah", melalui makna menyatakan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mahasuci serta bebas dari sekutu, cacat, kekurangan, kezaliman, keadaan tak berdaya, sikap tanpa kasih, kebutuhan, penipuan, serta seluruh kekurangan yang berlawanan dengan Kesempurnaan, Jamâl, dan Jalâl-Nya, mengingatkan, menunjukkan, serta mengisyaratkan kebahagiaan abadi, negeri akhirat yang menjadi sarana Kemegahan Jalâl, Jamâl, serta Kesempurnaan Kekuasaan-Nya, dan surga di dalamnya. Jika tidak, sebagaimana telah dibuktikan, apabila kebahagiaan abadi tidak ada, Kekuasaan,

Kesempurnaan, Jalâl, Jamâl, serta Rahmat-Nya akan ternoda oleh noda cacat dan kekurangan.

Seperti tiga kalimat suci ini, "Bismillah", "Lâ ilahe illallah", serta perkataan yang diberkahi lainnya masing-masing merupakan benih rukun-rukun iman. Seperti sari daging dan sari gula yang ditemukan pada zaman ini, semuanya merupakan ringkasan rukun-rukun iman serta hakikat Al-Qur’an. Sebagaimana ketiga kalimat itu merupakan benih salat, semuanya juga merupakan benih Al-Qur’an, tampak seperti permata pada awal sebagian surah yang terang. Semuanya merupakan sumber serta dasar sejati Risale-i Nur, yang banyak lintasan ilhamnya bermula dalam tasbih, serta benih hakikat-hakikatnya.

Dari segi kewalian Ahmad ﷺ serta ubudiyah Muhammad ﷺ, dalam lingkup zikir seperti itu, dalam tasbih setelah salat, ketiga kalimat ini merupakan wirid suatu tarekat Muhammad ﷺ. Pada setiap waktu salat, lebih dari seratus juta orang beriman bersama-sama dalam lingkaran zikir terbesar itu, dengan tasbih di tangan, mengulang Sübhanallah tiga puluh tiga kali, Elhamdülillah tiga puluh tiga kali, serta Allahu Ekber tiga puluh tiga kali.

Dalam lingkaran zikir yang sangat megah seperti ini, sebagaimana telah kami jelaskan, tentu kalian memahami betapa berharga serta berpahalanya membaca masing-masing tiga puluh tiga kali setelah salat, tiga kalimat yang diberkahi itu, ringkasan dan benih Al-Qur’an, iman, serta salat.

Sebagaimana Persoalan Pertama pada awal risalah ini merupakan pelajaran indah mengenai salat, meskipun sama sekali tidak kupikirkan, bagian akhirnya pun, seakan-akan tanpa kehendakku sendiri, menjadi pelajaran penting mengenai tasbih salat.

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﺍِﻧْﻌَﺎﻣِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ

--

PERSOALAN KESEMBILAN

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍٰﻣَﻦَ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﺑِﻤَٓﺎ ﺍُﻧْﺰِﻝَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻛُﻞٌّ ﺍٰﻣَﻦَ ﺑِﺎﻟﻠّﻪِ ﻭَﻣَﻠٰٓﺌِﻜَﺘِﻪ۪ ﻭَﻛُﺘُﺒِﻪ۪ ﻭَﺭُﺳُﻠِﻪ۪ لَا ﻧُﻔَﺮِّﻕُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍَﺣَﺪٍ ﻣِﻦْ ﺭُﺳُﻠِﻪ۪

Sebuah pertanyaan maknawi yang dahsyat serta keadaan yang timbul dari terbukanya nikmat Ilahi yang agung menjadi sebab penjelasan suatu butir hikmah yang menyeluruh serta panjang dari ayat yang paling mencakup banyak segi, paling tinggi, dan paling besar ini. Demikian yang datang secara maknawi kepada ruh:

Mengapa orang yang mengingkari satu hakikat iman yang juz'i menjadi kafir, dan yang tidak menerimanya bukan Muslim? Padahal, iman kepada Allah سُبْحَانَهُ serta akhirat, masing-masing seperti matahari, seharusnya menghilangkan keadaan gelap itu. Mengapa pula orang yang mengingkari satu rukun serta hakikat iman menjadi murtad, jatuh ke dalam kekufuran mutlak, dan yang tidak menerimanya keluar dari Islam? Padahal, jika ia beriman kepada rukun-rukun iman lainnya, hal itu seharusnya menyelamatkannya dari kekufuran mutlak?

Jawaban: Iman merupakan hakikat yang satu, keluar dari enam rukunnya, dan tidak menerima pemisahan. Ia merupakan sesuatu yang menyeluruh, yang tidak dapat dipecah, serta suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi. Sebab, setiap rukun iman, melalui dalil yang membuktikannya, membuktikan rukun-rukun lainnya. Masing-masing menjadi bukti terbesar yang sangat kuat bagi setiap rukun lain. Karena itu, suatu pikiran batil yang tidak mengguncangkan seluruh rukun beserta semua dalilnya, dalam pandangan hakikat tidak dapat membatalkan serta mengingkari satu rukun, bahkan satu hakikat pun. Ia hanya dapat menutup mata di balik tabir tidak menerima, lalu melakukan kekufuran karena keras kepala. Lama-kelamaan, ia jatuh ke dalam kekufuran mutlak, kemanusiaannya binasa, dan ia pergi ke neraka jasmani serta maknawi.

Dalam bagian ini, melalui isyarat-isyarat sangat singkat, sebagaimana dalam bukti kebangkitan pada Risalah Buah telah dijelaskan melalui ringkasan singkat bahwa rukun-rukun iman lainnya juga membuktikan kebangkitan, dengan Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, butir hikmah terbesar ini akan dijelaskan dalam enam pokok, melalui kesimpulan padat serta ringkasan singkat.

POKOK PERTAMA: Iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, melalui dalil-dalilnya sendiri, membuktikan rukun-rukun lainnya serta iman kepada akhirat, sebagaimana diperlihatkan dengan baik dalam Persoalan Ketujuh Risalah Buah. Ya, ada Kekuasaan Rububiyah yang Azali serta Kekal, dan Pemerintahan Keilahian yang Abadi serta Tetap, Yang mengelola kainat tak terbatas ini seperti istana, kota, serta negeri, beserta seluruh keperluannya; menggerakkannya dalam keseimbangan dan keteraturan; mengubahnya dengan berbagai hikmah; memperlengkapi serta mengelola zarah dan planet, lalat dan bintang, bersama-sama seperti pasukan teratur; serta terus, melalui Perintah dan Kehendak-Nya, membawa semuanya kepada kegiatan, pergerakan, upacara pembukaan yang penuh ubudiyah, serta perjalanan, dengan latihan dan penugasan dalam manuver luhur. Apakah mungkin, diterima akal, atau memiliki peluang bahwa negeri akhirat tidak ada, padahal ia menjadi tempat menetap yang kekal, tempat bertumpu yang tetap, serta tempat Manifestasi yang abadi bagi Kekuasaan Abadi, Kekal Selamanya, Kekal, dan Tetap itu? Seribu kali hâşâ!

Jadi, Kekuasaan Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, sebagian besar Asma-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam Persoalan Ketujuh, serta dalil-dalil tentang Wujud-Nya yang mesti ada, bersaksi atas akhirat dan menuntutnya. Lihat serta ketahuilah betapa kuat titik sandaran poros iman ini. Berimanlah seakan-akan melihat.

Sebagaimana iman kepada Allah سُبْحَانَهُ tidak dapat tanpa akhirat, demikian pula, sebagaimana dijelaskan melalui isyarat singkat dalam Kalimat Kesepuluh, apakah mungkin dari segi mana pun, atau diterima akal, bahwa Allah سُبْحَانَهُ, Ma’bûd Yang Hakiki, Yang demi Manifestasi Keilahian serta Hak-Nya untuk Disembah menciptakan kainat ini sebagai kitab Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad yang berwujud jasmani, dengan setiap halaman menyatakan makna sebanyak satu kitab dan setiap baris sebanyak satu halaman; sebagai Al-Qur’an jasmani dari Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci, yang setiap tanda penciptaan, kata, bahkan titik serta hurufnya merupakan mukjizat; serta sebagai masjid Ar-Rahmân yang begitu megah, bagian dalamnya dihiasi ayat-ayat serta ukiran penuh makna yang tak terhitung, dan pada setiap sudutnya terdapat kelompok yang sibuk melakukan suatu ibadah fitri; tetapi Dia tidak mengirim sebagai utusan guru-guru yang mengajarkan makna kitab besar itu dan para mufasir yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad itu, serta tidak menetapkan imam bagi mereka yang beribadah dengan cara tak terhitung dalam masjid terbesar tersebut,

atau tidak memberi Firman kepada guru-guru, mufasir, serta imam itu? Hâşâ, seratus ribu hâşâ!

Ada Sang Pembuat Yang Rahîm serta Karîm, Yang menciptakan kainat ini sebagai tempat perjamuan, pameran, serta menikmati pemandangan, dengan nikmat-nikmat lezat yang tak terhitung dan beraneka ragam, serta karya-karya seni antik yang sangat menakjubkan dan tak terhitung, tersusun di dalamnya. Dia melakukannya untuk memperlihatkan Keindahan Rahmat, Keelokan Kasih, serta Kesempurnaan Rububiyah-Nya kepada makhluk berkesadaran, dan menggerakkan mereka kepada syukur serta pujian. Apakah mungkin atau diterima akal bahwa Dia tidak berbicara kepada makhluk berkesadaran dalam tempat perjamuan itu, serta melalui utusan-utusan-Nya tidak memberitahukan tugas syukur sebagai tanggapan terhadap nikmat, dan tugas ubudiyah sebagai tanggapan terhadap Manifestasi Rahmat serta Perbuatan-Nya membuat Diri-Nya dicintai? Hâşâ, ribuan hâşâ!

Mungkinkah Sang Pembuat Yang mencintai Seni-Nya serta ingin membuatnya disukai; bahkan, sebagaimana ditunjukkan perhatian-Nya kepada seribu macam selera mulut, ingin disambut dengan penghargaan dan kekaguman; serta menghiasi kainat dengan karya-karya seni antik, dengan cara yang melalui setiap Karya-Nya Dia ingin memperkenalkan Diri-Nya, membuat Diri-Nya dicintai, serta memperlihatkan suatu Keindahan maknawi-Nya; tetapi Dia tidak berbicara kepada sebagian tokoh besar manusia, panglima makhluk hidup dalam kainat, dan mengirim mereka sebagai utusan? Mungkinkah Seni-Nya yang indah tanpa penghargaan, Keindahan Asma-Nya yang luar biasa tanpa pujian, serta Perbuatan-Nya memperkenalkan dan membuat Diri-Nya dicintai tanpa tanggapan? Hâşâ, seratus ribu hâşâ!

Ada Sang Mutakallim Yang ‘Alîm, Yang dengan jelas berbicara melalui Perbuatan serta bahasa keadaan, tepat pada waktunya, dengan Pemberian Nikmat tak terhitung dan anugerah tak terbatas, menjawab doa kebutuhan fitri seluruh makhluk hidup, serta semua permohonan dan keinginan melalui bahasa keadaan, dengan cara yang memperlihatkan Maksud, Pilihan, serta Kehendak. Apakah mungkin atau diterima akal bahwa Dia berbicara melalui Perbuatan serta bahasa keadaan kepada makhluk hidup yang paling kecil, mendengar penderitaannya melalui anugerah yang tepat menyampaikan penawarnya, melihat serta mengetahui kebutuhannya; tetapi tidak berbicara kepada pemimpin-pemimpin rohani manusia, hasil kainat yang paling terpilih, khalifah bumi, serta panglima sebagian besar makhluk bumi? Mungkinkah, sebagaimana Dia berbicara kepada mereka, bahkan setiap makhluk hidup, melalui Perbuatan serta bahasa keadaan, Dia tidak berbicara kepada mereka melalui Perkataan dan Kalâm, serta tidak mengirim Firman, suhuf, dan kitab kepada mereka? Hâşâ, tak terhingga hâşâ!

Jadi, iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, dengan kepastian serta dalil-dalilnya yang tak terhitung, membuktikan "ve bikütübihi ve rusülihi", yakni iman kepada para nabi serta kitab suci.

Mungkinkah dari segi mana pun, atau diterima akal, bahwa sebagai tanggapan kepada Yang melalui seluruh Karya-Nya memperkenalkan Diri-Nya, membuat Diri-Nya dicintai, serta meminta syukur melalui Perbuatan dan bahasa keadaan; Muhammad ﷺ, yang melalui hakikat Al-Qur’an yang menggemakan kainat, mengenal serta memperkenalkan Sang Seniman Dzul-Jalâl itu dengan cara paling sempurna, mencintai serta membuat-Nya dicintai, bersyukur serta membuat orang bersyukur; melalui "Sübhanallah" "Elhamdülillah" "Allahu Ekber", membuat bola bumi berbicara sampai dapat didengar langit, dengan keadaan yang membuat daratan serta lautan bergelora; selama seribu tiga ratus tahun, menghimpun di belakang beliau seperlima umat manusia dari segi jumlah, serta separuh dari segi mutu dan kemanusiaan; menanggapi seluruh Manifestasi Rububiyah Khâliq itu dengan ubudiyah yang luas dan menyeluruh; melalui surah-surah Al-Qur’an, berseru, mengajar, serta memberitakan seluruh Tujuan Ilahi kepada kainat dan abad-abad; memperlihatkan kehormatan, nilai, serta tugas manusia; dan dibenarkan dengan seribu mukjizat; tetapi beliau bukan makhluk-Nya yang paling terpilih, utusan-Nya yang paling sempurna ﷺ, serta Rasul-Nya yang terbesar ﷺ? Hâşâ ve kellâ! Seratus ribu kali hâşâ!

Jadi, hakikat "Eşhedü en Lâ ilahe illallah", melalui seluruh dalilnya, membuktikan hakikat "Eşhedü enne Muhammederresulullah".

Mungkinkah Sang Pembuat kainat ini membuat makhluk-Nya saling berbicara dengan seratus ribu bahasa, mendengar serta mengetahui percakapan mereka, tetapi Dia sendiri tidak berbicara? Hâşâ!

Apakah diterima akal bahwa Dia tidak memberitahukan Tujuan-Tujuan Ilahi dalam kainat melalui suatu Firman, serta tidak mengirim kitab seperti Al-Qur’an yang membuka teka-tekinya dan memberi jawaban sejati kepada tiga pertanyaan umum yang dahsyat: Dari mana makhluk datang, ke mana mereka akan pergi, dan mengapa mereka datang ke sini dalam rombongan demi rombongan, tinggal sebentar, lalu berlalu? Hâşâ!

Ada Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, yang menerangi tiga belas abad; setiap jam berada pada seratus juta lidah dengan penghormatan sempurna; ditulis dengan kesuciannya dalam hati jutaan hafiz; mengelola bagian terbesar umat manusia dari segi mutu melalui hukum-hukumnya; mendidik, membersihkan, memurnikan, serta mengajar nafsu, ruh, hati, dan akal mereka; serta empat puluh segi sifat bermukjizatnya dibuktikan dalam Risale-i Nur. Dalam Surat Kesembilan Belas yang memiliki karamah serta keajaiban, dijelaskan bahwa ia memperlihatkan suatu bentuk sifat bermukjizatnya kepada masing-masing dari empat puluh golongan serta lapisan manusia. Muhammad ﷺ,

yang merupakan suatu mukjizat Al-Qur’an, membuktikan dengan pasti melalui seribu mukjizat beliau bahwa Al-Qur’an itu Kalâmullah yang benar. Apakah mungkin dari segi mana pun bahwa ia bukan Kalâm serta Firman Sang Mutakallim Yang Azali dan Sang Pembuat Yang Kekal Selamanya? Hâşâ, seratus ribu kali hâşâ ve kellâ!

Jadi, iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, melalui seluruh dalilnya, membuktikan bahwa Al-Qur’an merupakan Kalâmullah.

Mungkinkah Sang Sultan Dzul-Jalâl, Yang terus memenuhi serta mengosongkan permukaan bumi dengan makhluk hidup dan meramaikan dunia kita dengan makhluk berkesadaran, agar Diri-Nya dikenal, disembah, serta dipuji melalui tasbih; tetapi Dia membiarkan langit dan bintang-bintang kosong, tidak menciptakan penghuni yang sesuai serta menempatkan mereka dalam istana-istana langit itu, dan membiarkan Kekuasaan Rububiyah-Nya dalam negeri terbesar-Nya tanpa pelayan, kemegahan, petugas, utusan, pendamping, pengawas, penonton, penyembah, atau rakyat? Hâşâ, sebanyak malaikat, hâşâ!

Ada Sang Penguasa Yang Hakîm serta Sang ‘Alîm Yang Rahîm, Yang menulis kainat sebagai kitab, mencatat seluruh riwayat hidup setiap pohon dalam semua benihnya, menulis seluruh tugas kehidupan setiap rumput serta bunga dalam semua bijinya, membuat seluruh riwayat hidup setiap makhluk berkesadaran ditulis dengan sangat sempurna dalam daya ingatnya yang kecil seperti biji sawi, serta menjaga setiap amal dan peristiwa dalam seluruh milik-Nya serta lingkup Kekuasaan-Nya dengan mengambil berbagai foto. Untuk Tajalli serta kenyataan Keadilan, Hikmah, dan Rahmat, dasar paling penting Rububiyah, Dia menciptakan surga dan neraka yang besar, sirat, serta timbangan terbesar. Mungkinkah dari segi mana pun Dia tidak membuat amal manusia yang berhubungan dengan kainat ditulis, tidak membuat tindakan mereka dicatat untuk hukuman serta pahala, dan tidak menulis keburukan serta kebaikan mereka dalam lembaran-lembaran Takdir? Hâşâ, sebanyak huruf yang ditulis dalam Lauh Mahfuz Takdir, hâşâ!

Jadi, hakikat iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, melalui dalil-dalilnya, juga membuktikan dengan pasti hakikat iman kepada malaikat serta Takdir. Sebagaimana matahari menunjukkan siang dan siang menunjukkan matahari, rukun-rukun iman saling membuktikan.

POKOK KEDUA: Seluruh kitab samawi serta suhuf, terutama Al-Qur’an, dan seluruh nabi aleyhimüsselâm, terutama Muhammad ﷺ, memusatkan seluruh ajaran mereka pada lima atau enam dasar. Mereka terus berusaha mengajarkan serta membuktikan dasar-dasar itu. Seluruh dalil serta bukti yang bersaksi

atas kenabian serta kebenaran mereka mengarah kepada dasar-dasar tersebut dan memperkuat kebenarannya. Dasar-dasar itu ialah iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, iman kepada akhirat, serta iman kepada rukun-rukun lainnya.

Jadi, enam rukun iman tidak mungkin dipisahkan satu sama lain. Setiap rukun membuktikan, menuntut, serta mengharuskan seluruhnya. Keenamnya merupakan suatu keseluruhan yang menyeluruh, yang tidak menerima pemecahan dan tidak mungkin dibagi. Sebagaimana pohon Tuba yang akarnya di langit, setiap cabang, buah, serta daunnya bersandar pada kehidupan menyeluruh dan tidak habis dari pohon besar itu. Orang yang tidak dapat mengingkari kehidupan yang kuat serta terang seperti matahari itu tidak dapat mengingkari kehidupan satu daun yang terhubung kepadanya. Jika ia melakukannya, pohon tersebut akan mendustakan serta membungkamnya sebanyak cabang, buah, dan daunnya. Demikian pula keadaan iman dengan enam rukunnya.

Pada awal bagian ini, telah diniatkan untuk menjelaskan enam rukun iman dalam tiga puluh enam butir hikmah, melalui enam pokok, dan setiap pokok lima butir hikmah. Aku hendak menjawab dengan penjelasan pertanyaan dahsyat pada awal. Namun, sebagian gangguan tidak memberi kesempatan. Aku memperkirakan, karena Pokok Pertama merupakan ukuran yang cukup, orang-orang yang lebih cerdas tidak lagi membutuhkan penjelasan tambahan. Telah dipahami sepenuhnya bahwa jika seorang Muslim mengingkari satu hakikat iman, ia jatuh ke dalam kekufuran mutlak.

Sebab, dibandingkan ringkasan agama-agama lain, Islam memberikan penjelasan lengkap, dan rukun-rukunnya saling terangkai. Seorang Muslim yang tidak mengenal serta membenarkan Muhammad ﷺ juga tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ dengan Sifat-Sifat-Nya, dan tidak mengetahui akhirat. Iman seorang Muslim bersandar pada dalil-dalil tak terhitung yang begitu kuat dan tidak terguncang, sehingga tidak tersisa alasan untuk mengingkari. Seakan-akan akal harus menerimanya.

POKOK KETIGA: Suatu ketika, aku mengucapkan "Elhamdülillah". Aku mencari nikmat yang dapat menanggapi maknanya yang luas tanpa batas. Tiba-tiba, kalimat ini terlintas:

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠَﻰ الْا۪يمَانِ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﻭَﺣْﺪَﺍﻧِﻴَّﺘِﻪ۪ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩ۪ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺻِﻔَﺎﺗِﻪ۪ ﻭَﺍَﺳْﻤَٓﺎﺋِﻪ۪ ﺣَﻤْﺪًﺍ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺗَﺠَﻠِّﻴَﺎﺕِ ﺍَﺳْﻤَٓﺎﺋِﻪ۪ ﻣِﻦَ الْاَزَلِ ﺍِﻟَﻰ الْاَبَدِ

Aku melihat bahwa hal itu sepenuhnya sesuai. Demikian:...

--

PERSOALAN KESEPULUH

Emirdağı Çiçeği (Bunga Emirdağı)

Merupakan jawaban sangat kuat terhadap keberatan mengenai pengulangan dalam Al-Qur’an.

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Memang, karena keadaanku yang kacau, persoalan ini menjadi kurang teratur serta tanpa kelembutan ungkapan. Namun, di bawah ungkapan yang kurang teratur itu, aku mengetahui dengan pasti suatu jenis sifat bermukjizat yang sangat berharga. Sayang sekali, aku tidak mampu mengungkapkannya. Meskipun ungkapannya redup, karena berhubungan dengan Al-Qur’an, ia merupakan ibadah perenungan serta kerang bagi permata yang suci, tinggi, dan terang. Pandanglah berlian di tangannya, bukan pakaiannya yang robek. Jika sesuai, jadikanlah “Persoalan Kesepuluh”; jika tidak, terimalah sebagai sepucuk surat balasan bagi surat-surat ucapan selamat kalian.

Aku juga menulisnya dalam keadaan sangat sakit, kacau, serta tanpa makanan, selama satu atau dua hari Ramadan. Karena terpaksa, aku menulis sangat padat serta singkat, menghimpun banyak hakikat dan berbagai dalil dalam satu kalimat. Mohon dimaklumi. (Catatan kaki-1: Sebagai Persoalan Kesepuluh bagi buah Penjara Denizli, ia merupakan bunga kecil bercahaya dari Emirdağı serta Ramadan mulia ini. Dengan menjelaskan satu hikmah pengulangan Al-Qur’an, ia menghilangkan anggapan-anggapan keliru yang busuk dan beracun orang-orang yang sesat.)

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Ketika membaca Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya pada Ramadan mulia, setiap kali datang salah satu dari tiga puluh tiga ayat yang isyaratnya kepada Risale-i Nur dijelaskan dalam Sinar Pertama, aku melihat bahwa halaman, lembaran, serta kisah ayat itu juga sampai tingkat tertentu mengarah kepada Risale-i Nur dan murid-muridnya, dari segi mengambil pelajaran dari kisah. Khususnya, sebagaimana Âyetü'n-Nur dari Surah Nur menunjuk dengan sepuluh jari kepada Risale-i Nur, Âyet-i Zulümat setelahnya juga tepat mengarah kepada para penentangnya dan memberi bagian lebih besar. Aku merasakan bahwa bagian tersebut seakan-akan

berubah dari lingkup juz'i menjadi menyeluruh; pada abad ini, salah satu contoh lengkap dari yang menyeluruh itu ialah Risale-i Nur serta murid-muridnya.

Ya, Sapaan Al-Qur’an memperoleh sifat luas dan luhur, serta cakupan dari kedudukan luas Rububiyah Umum Sang Mutakallim Yang Azali; dari kedudukan luas pribadi penerima Sapaan ﷺ atas nama umat manusia, bahkan kainat; dari kedudukan sangat luas pembimbingan seluruh keturunan Adam dalam segala abad; serta dari kedudukan luas penjelasan Hukum-Hukum Ilahi yang sangat tinggi dan meliputi semuanya, mengenai dunia serta akhirat, bumi serta langit, azali serta abadi, Rububiyah Khâliq kainat, dan Pengaturan seluruh makhluk. Karena itu, Sapaan tersebut memperlihatkan sifat bermukjizat serta cakupan yang begitu tinggi, sehingga bahkan tingkatnya yang lahir dan sederhana, yang menyentuh pemahaman sederhana kaum awam, kelompok terbesar penerima pelajaran Al-Qur’an, juga memberi bagian lengkap kepada lapisan yang paling tinggi.

Seakan-akan, kisah itu memberi lebih daripada hanya satu pelajaran, dan cerita sejarah lebih daripada satu teladan. Sebagai contoh-contoh suatu kaidah menyeluruh, ia menyapa setiap abad serta lapisan manusia, dan turun dengan kesegaran baru. Khususnya, dengan banyak pengulangan