BUTIR HIKMAH KELIMA
Misalnya, Elhamdülillah merupakan satu kalimat Al-Qur'an.
Maknanya yang paling singkat, sebagaimana dituntut oleh kaidah ilmu nahwu dan bayan, ialah:
ﻛُﻞُّ ﻓَﺮْﺩٍ ﻣِﻦْ ﺍَﻓْﺮَﺍﺩِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪِ ﻣِﻦْ ﺍَﻯِّ ﺣَﺎﻣِﺪٍ ﺻَﺪَﺭَ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻯِّ ﻣَﺤْﻤُﻮﺩٍ ﻭَﻗَﻊَ ﻣِﻦَ الْاَزَلِ ﺍِﻟَﻰ الْاَبَدِ ﺧَﺎﺹٌّ ﻭَﻣُﺴْﺘَﺤِﻖٌّ ﻟِﻠﺬَّﺍﺕِ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐِ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﺍﻟْﻤُﺴَﻤّٰﻰ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ
Yakni, "Segala puji dan sanjungan, dari siapa pun datangnya dan kepada siapa pun ditujukan, sejak azali hingga selama-lamanya, khusus bagi dan layak diberikan kepada Zat Wâjibul Wujûd, yang disebut Allah سُبْحَانَهُ."
Ungkapan "segala puji" berasal dari "el-i istiğrak".
Batasan "dari siapa pun datangnya" diperoleh karena "hamd" adalah masdar dan pelakunya tidak disebutkan; dalam konteks semacam ini, hal tersebut menyatakan makna umum.
Objeknya juga tidak disebutkan.
Dalam konteks pembicaraan ini, hal tersebut kembali menyatakan makna menyeluruh dan umum, sehingga memberikan batasan "kepada siapa pun ditujukan".
Batasan "sejak azali hingga selama-lamanya" diperoleh dari kaidah peralihan kalimat verbal menjadi kalimat nominal.
Karena peralihan itu menunjukkan sifat tetap dan terus berlangsung, ia menyatakan makna tersebut.
Makna "khusus bagi dan berhak atasnya" dinyatakan oleh "lâm-ı cer" dalam "Lillah", sebab "lâm" itu menyatakan pengkhususan dan hak.
Adapun batasan "Zat Wâjibul Wujûd": karena niscaya ada merupakan sifat yang tak mungkin terpisah dari keilahian, serta merupakan sebutan untuk memandang Zat Dzul-Jalâl, maka lafaz Allah سُبْحَانَهُ, karena mencakup Asma dan Sifat-sifat lainnya serta merupakan Ismul A'zham,
menunjukkan makna itu melalui makna yang melekat padanya.
Dengan cara yang sama, lafaz tersebut juga menunjukkan sebutan "Wâjibul Wujûd" melalui makna yang melekat padanya itu.
Jika makna lahir yang paling singkat dari kalimat Elhamdülillah, yang disepakati oleh para ahli bahasa Arab, saja demikian, bagaimana kalimat itu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lain dengan mukjizat dan daya ungkap yang sama?
Di antara bahasa-bahasa dunia, selain bahasa Arab hanya ada satu bahasa yang termasuk bahasa nahwu.
Itu pun tidak pernah dapat menyamai keluasan bahasa Arab.
Kata-kata Al-Qur'an muncul secara bermukjizat melalui bahasa nahwu yang luas dan bermukjizat itu, dalam Ilmu yang meliputi segala sesuatu, Yang Mengetahui dan Menghendaki semua seginya sekaligus.
Bagaimana kata-kata terjemahan dari sejumlah orang yang pikirannya terbatas, kesadarannya sempit, pemikirannya kacau, dan hatinya gelap, melalui bahasa-bahasa lain yang membentuk kata dengan penggabungan dan perubahan bentuk, dapat menggantikan kata-kata suci tersebut?
Bahkan, dapat kukatakan dan mungkin dapat kubuktikan bahwa setiap huruf Al-Qur'an menjadi seperti khazanah hakikat.
Terkadang, satu huruf saja mengajarkan hakikat sebanyak satu halaman.
BUTIR HIKMAH KEENAM
Untuk menerangi makna ini, akan kuceritakan suatu keadaan bercahaya yang pernah kualami sendiri dan suatu gambaran khayal yang mengandung hakikat.
Demikianlah:
Pada suatu waktu, aku memikirkan huruf nun yang menyatakan pembicara bersama yang lain dalam
ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ
.
Hatiku mencari sebab peralihan dari bentuk pembicara tunggal ke bentuk Na'büdü.
Tiba-tiba, keutamaan dan rahasia berjemaah dalam salat tersingkap dari nun tersebut.
Kulihat bahwa:
Aku ikut bersama jemaah di Masjid Bayezid tempat aku sedang salat.
Kulihat setiap orang di dalamnya menjadi seperti pemberi syafaat bagiku, serta menjadi saksi dan penguat bagi ketetapan dan pernyataan yang kuungkapkan dalam bacaanku.
Aku pun memperoleh keberanian untuk mempersembahkan ubudiyahku yang kurang sempurna ke hadirat Allah سُبْحَانَهُ, di tengah ibadah jemaah yang besar dan banyak itu.
Tiba-tiba, satu tirai lagi terbuka.
Yakni, semua masjid di Istanbul saling terhubung.
Kota itu menjadi seperti Masjid Bayezid tersebut.
Tiba-tiba, secara maknawi kurasakan bahwa aku memperoleh bagian dari doa dan pengakuan mereka.
Dalam keadaan itu, kulihat pula diriku berada di tengah saf-saf melingkar di sekitar Ka'bah yang mulia, dalam masjid seluas permukaan bumi.
Aku mengucapkan
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ
.
Aku mempunyai begitu banyak pemberi syafaat.
Mereka mengucapkan dan membenarkan setiap perkataan yang kuucapkan dalam salat dengan kata-kata yang persis sama.
Karena tirai ini telah terbuka dalam khayal, Ka'bah yang mulia menjadi seperti mihrab.
Aku memanfaatkan kesempatan ini, menjadikan saf-saf itu sebagai saksi, dan menyerahkan ungkapan iman
ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ
yang kuucapkan dalam tahiyat kepada Hajar Aswad yang diberkahi.
Ketika aku mengatakan bahwa kutinggalkan ungkapan itu sebagai amanat, tiba-tiba terbuka suatu keadaan lagi.
Kulihat bahwa jemaah yang kuikuti terbagi menjadi tiga lingkaran:
Lingkaran Pertama: Jemaah agung dari orang-orang beriman dan yang mengesakan Allah سُبْحَانَهُ di muka bumi.
Lingkaran Kedua: Kulihat diriku berada dalam suatu jemaah yang mencakup segala yang ada, dalam salat yang amat besar dan tasbih yang amat agung.
Setiap kelompok sibuk dengan doa dan tasbihnya masing-masing.
Pengabdian yang terlihat, yang disebut "tugas segala sesuatu", merupakan sebutan bagi ubudiyah mereka.
Dalam keadaan itu, aku mengucapkan "Allahu Ekber", menundukkan kepala karena takjub, dan memandang diriku:
Di dalam lingkaran ketiga, kulihat sebuah alam kecil yang mengagumkan: kecil secara lahir dan sifat, tetapi besar secara hakikat, tugas, dan jumlah.
Kulihat suatu jemaah yang terdiri atas kelompok-kelompok, mulai dari zarah-zarah tubuhku hingga indra lahirku, semuanya sibuk menunaikan tugas ubudiyah dan syukur.
Dalam lingkaran ini, latifah dari Rabb di dalam hatiku mengucapkan
ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ
atas nama jemaah tersebut.
Sebagaimana dalam kedua jemaah sebelumnya, lisanku telah mengucapkannya dengan meniatkan kedua jemaah agung itu.
Kesimpulannya,
nun dalam Na'büdü mengisyaratkan ketiga jemaah tersebut.
Ketika aku berada dalam keadaan ini, tiba-tiba pribadi rohani Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, yang menerangkan dan menyampaikan Al-Qur'an Al-Hakîm, hadir dalam gambaran dengan segenap kemegahannya di mimbar maknawinya yang disebut Madinah yang bercahaya.
Seperti semua orang, secara maknawi aku pun mendengar seruan
ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ
dari beliau.
Aku membayangkan bahwa setiap orang dalam ketiga jemaah tersebut, sepertiku, menjawab dengan ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ
.
Berdasarkan kaidah
ﺍِﺫَﺍ ﺛَﺒَﺖَ ﺍﻟﺸَّﻲْﺀُ ﺛَﺒَﺖَ ﺑِﻠَﻮَﺍﺯِﻣِﻪ۪
, tampaklah dalam pikiran suatu hakikat berikut:
Rabb seluruh alam menjadikan manusia sebagai pihak yang disapa, dan berbicara dengan seluruh makhluk.
Rasul Yang Paling Mulia ﷺ ini menyampaikan seruan kemuliaan tersebut kepada umat manusia, bahkan kepada semua makhluk yang berjiwa dan sadar.
Maka, seluruh masa lalu dan masa depan menjadi seperti masa kini.
Seluruh umat manusia berada dalam satu majelis, sebagai suatu jemaah dengan saf-saf yang berbeda, dan seruan itu ditujukan kepada mereka dalam keadaan tersebut.
Pada saat itu, kulihat setiap ayat Al-Qur'an dalam daya ungkap, gaya yang luhur, ungkapan yang kukuh, dan balagah yang diperolehnya dari kedudukan yang amat megah dan luas; dari pihak yang disapa yang amat banyak, beragam, dan penting; dari Yang Berfirman sejak azali, Pemilik Kebesaran dan Keagungan yang tak terhingga; serta dari Penjelas-Nya yang luhur ﷺ, yang memiliki kedudukan amat tinggi sebagai yang dicintai-Nya.
Kulihat setiap ayat itu berada di dalam cahaya mukjizat yang terang, bahkan amat terang.
Pada saat itu, bukan hanya seluruh Al-Qur'an; satu surah, satu ayat, bahkan setiap katanya menjadi seperti satu mukjizat tersendiri.
Aku mengucapkan Elhamdülillahi alâ nuri'l-iman ve'l-Kur'an.
Sebagaimana aku masuk ke dalam gambaran khayal yang merupakan hakikat itu melalui nun dalam Na'büdü, melalui nun itu pula aku keluar.
Aku mengerti bahwa bukan hanya ayat dan kata Al-Qur'an, bahkan sejumlah hurufnya, seperti Nun-u Na'büdü, juga merupakan kunci-kunci bercahaya bagi hakikat-hakikat penting.
Sesudah hati dan khayal keluar dari Nun-u Na'büdü tersebut, akal muncul di hadapan keduanya dan berkata: "Aku juga ingin mendapat bagian.
Aku tidak dapat terbang seperti kalian.
Kakiku adalah dalil dan hujah.
Jalan menuju Sang Khâliq, Ma'bûd dan Yang Dimintai Pertolongan dalam ﻧَﻌْﺒُﺪُ dan ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ itu, perlu ditunjukkan agar aku dapat ikut bersama kalian."
Pada saat itu, terlintas dalam hati: Katakanlah kepada akal yang kebingungan itu:
Pandanglah segala yang ada di kainat.
Baik makhluk hidup maupun benda yang tak bernyawa, semuanya memiliki ubudiyah berupa tugas yang mereka jalankan dengan patuh dan teratur secara sempurna.
Sekalipun sebagian tidak sadar dan tidak memiliki rasa, mereka menunaikan tugas seolah-olah sangat sadar, menyukai keteraturan, dan penuh ubudiyah.
Jadi, ada Sang Ma'bûd Yang Hakiki dan Sang Pemberi Perintah Mutlak, yang mengarahkan serta menugaskan mereka untuk beribadah.
Pandanglah pula segala yang ada, khususnya makhluk hidup.
Masing-masing memiliki kebutuhan yang sangat banyak dan beragam, serta sangat banyak keperluan yang berbeda untuk hidup dan terus bertahan.
Tangan mereka tidak mampu menjangkau dan daya mereka tidak mampu memenuhi bahkan yang paling kecil.
Namun, keperluan mereka yang tak terhingga itu diberikan kepada mereka secara teratur, dari tempat yang tak mereka duga dan pada waktu yang tepat.
Hal ini terlihat dengan mata.
Keadaan segala yang ada yang serba membutuhkan serta kebutuhan mereka yang tak terhingga ini, serta bantuan gaib yang luar biasa dan pertolongan dari Ar-Rahmân ini, menunjukkan dengan amat jelas bahwa mereka memiliki Pelindung dan Ar-Râziq, yaitu Sang Ghaniyy Mutlak, Sang Karîm Mutlak, dan Sang Qadîr Mutlak.
Segala sesuatu dan setiap makhluk hidup meminta pertolongan serta mengharapkan bantuan dari-Nya.
Secara maknawi, semuanya mengucapkan
ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ
.
Pada saat itu, akal berkata, "Âmennâ ve saddaknâ".