BUTIR HIKMAH KETUJUH
Lalu, ketika dalam keadaan itu aku mengucapkan
ﺍِﻫْﺪِﻧَﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢَ ﺻِﺮَﺍﻁَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ
, kulihat dalam rombongan umat manusia yang telah berpindah ke masa lalu, rombongan para nabi, siddiq, syuhada, wali, dan orang-orang saleh yang sangat bercahaya dan terang.
Mereka menghalau gelapnya masa depan dan berjalan di jalan raya besar yang lurus menuju hidup selama-lamanya.
Ungkapan ini menunjukkan jalan kepadaku untuk bergabung dengan rombongan itu, bahkan membuatku bergabung dengannya.
Tiba-tiba, aku mengucapkan fesübhanallah.
Orang yang memiliki kesadaran walau sebesar zarah semestinya mengetahui betapa besar kerugian dan kehancuran jika ia tidak bergabung dengan rombongan agung bercahaya ini, yang menerangi gelapnya masa depan dan berjalan dengan sepenuhnya selamat.
Dari mana orang yang menyimpang dari rombongan agung itu dengan mengadakan bidah dapat memperoleh cahaya?
Jalan mana yang dapat ditempuhnya?
Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, pembimbing kita, telah menyatakan:
ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ضَلَالَةٌ ﻭَﻛُﻞُّ ضَلَالَةٍ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
.
Di hadapan pernyataan yang tegas ini, maslahat apa yang ditemukan dan fatwa apa yang diberikan oleh sejumlah orang malang yang layak disebut ulama buruk, sehingga mereka menentang hal-hal yang sudah jelas dalam syiar Islam secara sia-sia dan merugikan, serta menganggapnya boleh diubah?
Paling-paling, kesadaran sesaat yang timbul dari suatu kilasan makna sesaat telah menipu ulama buruk tersebut.
Misalnya, jika kulit seekor hewan atau sebuah buah dikupas, untuk sementara tampak sesuatu yang indah.
Namun, dalam waktu singkat, daging yang indah dan buah yang bagus itu menghitam dan membusuk di bawah kulit yang liar, berkarat, tebal, dan muncul kemudian tersebut.
Demikian pula, ungkapan-ungkapan Nabi ﷺ dan Allah سُبْحَانَهُ dalam syiar Islam bagaikan lapisan kulit yang hidup dan mendatangkan pahala.
Dengan mengupasnya, cahaya dalam makna-maknanya untuk sementara tampak agak telanjang.
Namun, seperti buah yang terpisah dari kulitnya, ruh makna-makna yang diberkahi itu terbang pergi, meninggalkan kulit manusiawinya dalam hati dan pikiran yang gelap.
Cahaya terbang pergi, asapnya tertinggal.
Bagaimanapun...
BUTIR HIKMAH KEDELAPAN
Perlu dijelaskan suatu kaidah hakikat mengenai hal ini.
Demikianlah:
Sebagaimana terdapat dua macam hak, yakni hak pribadi dan hak umum yang dianggap sebagai sejenis hak Allah سُبْحَانَهُ, demikian pula dalam persoalan syariat, sebagian berkaitan dengan pribadi dan sebagian berkaitan dengan masyarakat secara keseluruhan.
Yang kedua ini disebut syiar Islam.
Karena syiar ini berkaitan dengan masyarakat secara keseluruhan, semua orang mempunyai bagian di dalamnya.
Tanpa persetujuan semuanya, mengusiknya berarti melanggar hak mereka semua.
Bahkan bagian paling kecil dari syiar tersebut, suatu persoalan yang termasuk sunah, dipandang amat penting seperti persoalan yang paling besar.
Ia berkaitan langsung dengan seluruh dunia Islam.
Orang-orang yang berusaha memutus, merusak, dan mengubah rantai bercahaya yang menjadi pegangan seluruh tokoh besar Islam sejak Zaman Kebahagiaan hingga sekarang, serta yang membantu mereka, hendaklah memikirkan betapa mengerikan kesalahan mereka.
Jika mereka memiliki kesadaran walau sebesar zarah, hendaklah mereka gemetar!..
BUTIR HIKMAH KESEMBILAN
Sebagian persoalan syariat disebut taabbudi.
Ia tidak bergantung pada pertimbangan akal, melainkan dilakukan karena diperintahkan.
Dasar penyebabnya ialah Perintah.
Sebagian disebut ma'qul al-ma'na.
Yakni, ada hikmah dan maslahat yang menjadi alasan untuk memilih penetapan hukum tersebut, tetapi bukan sebab dan dasar penyebabnya.
Sebab dasar penyebab yang sesungguhnya ialah Perintah dan Larangan Allah سُبْحَانَهُ.
Bagian syiar yang bersifat taabbudi tidak dapat diubah karena hikmah atau maslahat.
Sifat taabbudinya lebih diutamakan; ia tidak boleh diusik.
Sekalipun datang seratus ribu maslahat, semuanya tidak dapat mengubahnya.
Demikian pula, tidak boleh dikatakan, "Manfaat syiar hanyalah maslahat-maslahat yang sudah diketahui." Memahaminya demikian merupakan kesalahan.
Maslahat-maslahat itu mungkin hanya satu manfaat di antara sekian banyak hikmahnya.
Misalnya, seseorang berkata, "Hikmah azan ialah memanggil kaum Muslim untuk salat.
Maka, menembakkan sepucuk senapan sudah cukup." Padahal, orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa hal tersebut hanyalah satu maslahat di antara ribuan maslahat azan.
Sekalipun bunyi senapan memberikan maslahat itu, bagaimana ia dapat menggantikan azan yang, atas nama umat manusia atau penduduk kota itu, menjadi sarana untuk menyatakan tauhid dan memperlihatkan ubudiyah di hadapan Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ?
Itulah hasil terbesar dari kainat diciptakan dan hasil dari manusia diciptakan.
Kesimpulannya,
neraka bukan sesuatu yang sia-sia.
Ada banyak perbuatan yang berseru dengan segenap tenaganya, "Hidup neraka!" Surga pun tidak murah; ia menuntut harga yang penting.
لَا ﻳَﺴْﺘَﻮ۪ٓﻯ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﺍَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻔَٓﺎﺋِﺰُﻭﻥَ
ilh...
--