Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Surat Kedua Puluh Enam

Risalah Ijtihad · Bahasa Indonesia

Surat Kedua Puluh Enam

Pembahasan Keempat

Persoalan Kedelapan

Catatan kaki bagi contoh ketiga pada pokok ketiga sebab kelima di antara sebab-sebab yang menghalangi ijtihad dalam Kalimat Kedua Puluh Tujuh.

Pertanyaan penting:

Sebagian pengkaji yang saksama berkata: Setiap lafal Al-Qur'an, zikir, serta tasbih lainnya menerangi perangkat rohani halus manusia dari banyak segi dan memberinya makanan rohani.

Jika maknanya tidak diketahui, lafal saja tidak mengungkapkannya serta tidak mencukupi.

Lafal adalah pakaian; jika diganti dan setiap kelompok mengenakan kepada makna-makna tersebut lafal dalam bahasanya sendiri, bukankah lebih bermanfaat?

Jawaban:

Lafal-lafal Al-Qur'an serta tasbih Nabi ﷺ bukan pakaian tanpa kehidupan, melainkan seperti kulit hidup tubuh; bahkan melalui berlalunya waktu telah menjadi kulit.

Pakaian dapat diganti, tetapi jika kulit berubah, tubuh dirugikan.

Bahkan, lafal-lafal diberkahi seperti dalam salat serta azan telah menjadi tanda dan nama bagi makna lazimnya.

Tanda serta nama tidak diganti.

Aku berkali-kali mengkaji keadaan yang kualami sendiri dan melihat bahwa keadaan itu hakikat.

Keadaannya ialah:

Pada hari Arafah, aku mengulang serta membaca Surah Al-Ikhlas seratus kali.

Aku melihat bahwa sebagian perasaan rohaniku menerima makanannya dalam beberapa kali, lalu meninggalkan serta berhenti.

Sebagian, seperti daya berpikir, mengarah kepada makna selama suatu waktu, mengambil bagiannya, lalu juga berhenti.

Sebagian, seperti hati, mengambil bagiannya melalui beberapa konsep yang menjadi sarana kenikmatan rohani, lalu juga diam.

Dan demikian seterusnya...

Lama-kelamaan, dalam pengulangan itu hanya sebagian latifah tetap ada, yang amat lambat bosan dan terus berlangsung, bahkan tidak lagi membutuhkan makna serta kajian.

Kelalaian tidak merugikannya seperti merugikan daya berpikir.

Lafal, makna ringkas yang meresapi lafal, serta makna lazim yang lafal itu menjadi nama dan tandanya mencukupi bagi mereka.

Jika pada saat itu makna dipikirkan, ia memberi rasa bosan yang merugikan.

Latifah-latifah yang terus berlangsung itu tidak membutuhkan belajar serta memahami, tetapi membutuhkan ingat, perhatian, serta dorongan.

Lafal-lafal yang seperti kulit itu mencukupi bagi mereka serta menjalankan tugas makna.

Terutama, mengingat melalui lafal-lafal Arab itu bahwa ia Firman Allah سُبْحَانَهُ serta Perkataan Ilahi menjadi sarana limpahan yang terus berlangsung.

Keadaan yang kualami sendiri ini menunjukkan bahwa mengungkapkan dalam bahasa lain hakikat-hakikat seperti azan, tasbih salat, Al-Fatihah, serta Surah Al-Ikhlas yang diulang setiap saat amat merugikan.

Sebab, setelah lafal Ilahi serta Nabi ﷺ yang menjadi sumber terus-menerus hilang, bagian-bagian tetap perangkat rohani halus itu juga hilang.

Ada pula kerugian seperti sekurang-kurangnya sepuluh pahala setiap huruf tersia-sia, dan karena rasa terus hadir di hadapan-Nya tidak berlangsung bagi setiap orang sepanjang salat, dalam kelalaian ungkapan-ungkapan manusia melalui terjemahan memberikan gelap kepada ruh.

Ya, sebagaimana Imam A'zham berkata, "Lâ ilahe illallah merupakan tanda serta nama tauhid," kami juga berkata: Sebagian terbesar kata-kata tasbih dan zikir, terutama dalam azan serta salat, telah menjadi tanda serta nama.

Seperti tanda, yang dipandang lebih daripada makna kamusnya ialah makna lazim menurut syariat.

Karena itu, menurut syariat mengubahnya tidak mungkin.

Adapun makna-makna ringkasnya, yakni arti singkat yang harus diketahui setiap mukmin, bahkan orang paling awam dapat segera mempelajarinya.

Bagaimana orang-orang yang menjalani seluruh umur dalam Islam dan mengisi kepala dengan ribuan hal sia-sia dapat dimaafkan karena dalam satu-dua minggu tidak mempelajari makna ringkas kata-kata diberkahi yang menjadi kunci kehidupan abadi mereka ini?

Bagaimana mereka menjadi Muslim serta disebut "orang berakal"?

Demi kemalasan orang-orang seperti itu, merusak wadah sumber-sumber cahaya tersebut bukan tindakan berakal!

Orang yang berkata "Sübhanallah", dari bangsa mana pun, memahami bahwa ia menyatakan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mahasuci.

Bukankah sebanyak ini mencukupi?

Jika mengarah kepada maknanya melalui bahasa sendiri, dari segi akal ia belajar sekali.

Padahal, setiap hari ia mengulang seratus kali.

Seratus kali itu, selain bagian belajar akal, melalui lafal serta makna ringkas yang menjalar ke dalam dan bercampur dengannya, menjadi sarana banyak cahaya serta limpahan.

Terutama kesucian yang diterimanya dari segi menjadi perkataan Ilahi, serta limpahan dan cahaya yang berasal dari kesucian itu, amat penting.

Kesimpulannya,

tidak satu pun dapat menggantikan, menempati, atau menjalankan tugas lafal-lafal suci Ilahi yang menjadi wadah hal-hal pokok agama.

Sekalipun mengungkapkan sementara, ia tidak dapat mengungkapkan secara terus-menerus, luhur, serta suci.

Adapun lafal-lafal yang menjadi wadah pembahasan teori agama, tidak ada kebutuhan menggantinya.

Sebab, melalui nasihat, pengajaran, pelajaran, serta ceramah lain, kebutuhan itu hilang.

Kesimpulannya:

Bahasa Arab, bahasa yang bertumpu pada nahwu (tata bahasa), begitu menyeluruh, dan lafal-lafal Al-Qur'an begitu bermukjizat sehingga tidak dapat diterjemahkan!

Bahkan, aku dapat mengatakan, "Mustahil." Siapa yang ragu hendaknya merujuk Kalimat Kedua Puluh Lima mengenai mukjizatnya.

Yang disebut terjemahan merupakan arti yang amat ringkas serta tidak lengkap.

Betapa jauhnya arti seperti itu dibandingkan dengan makna hakiki ayat-ayat yang hidup serta bercabang dari banyak segi!

--