Tambahan Kalimat Kedua Puluh Tujuh
Mengenai para sahabat
Aku berkata sebagaimana perkataan Maulana Jami:
ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﭼِﻪ ﺑَﺎﺷَﺪْ ﭼُﻮﻥْ ﺳَﮓِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﻛَﻬْﻒْ ﺩَﺍﺧِﻞِ ﺟَﻨَّﺖْ ﺷَﻮَﻡْ ﺩَﺭْ ﺯُﻣْﺮَﻩﺀِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺗُﻮ ﺍُﻭ ﺭَﻭَﺩْ ﺩَﺭْ ﺟَﻨَّﺖْ ﻣَﻦْ ﺩَﺭْ ﺟَﻬَﻨَّﻢْ ﻛَﻰْ ﺭَﻭَﺍﺳْﺖْ ﺍُﻭ ﺳَﮓِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﻛَﻬْﻒْ ﻣَﻦْ ﺳَﮓِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺗُﻮ ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ٭ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُٓ ﺍَﺷِﺪَّٓﺍﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺭُﺣَﻤَٓﺎﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ
ilâ âhiri'l-âyet...
Kalian bertanya:
Dalam sebagian riwayat terdapat keterangan bahwa, "Ketika bidah tersebar luas, sebagian orang saleh dari ahli iman dan takwa dapat setingkat dengan sahabat atau lebih utama." Apakah riwayat-riwayat ini sahih?
Jika sahih, apakah hakikatnya?
Jawaban:
Ijmak Ahlusunah waljamaah bahwa para sahabat adalah manusia paling utama setelah para nabi merupakan hujah yang pasti bahwa bagian sahih dari riwayat-riwayat itu mengenai keutamaan yang juz'i (yang sebagian).
Sebab dalam keutamaan yang juz'i dan kesempurnaan tertentu, yang kurang utama dapat melebihi yang lebih utama.
Namun, dari segi keutamaan menyeluruh, para sahabat, yang menerima gambaran penuh pujian dari Rabb pada akhir Surah Fath serta pujian dan sanjungan Taurat, Injil, dan Al-Qur'an, tidak dapat disamai.
Dari banyak sebab dan hikmah hakikat ini, untuk sementara kami akan menjelaskan tiga hikmah yang mencakup tiga sebab: HIKMAH PERTAMA: Pergaulan dengan Nabi ﷺ adalah ramuan yang begitu ampuh sehingga seseorang yang memperolehnya selama satu menit menerima cahaya-cahaya hakikat setara perjalanan rohani selama bertahun-tahun.
Sebab dalam pergaulan terdapat pengaruh yang mewarnai dan pantulan.
Telah diketahui bahwa melalui pantulan dan mengikuti, seseorang dapat naik ke tingkatan yang amat tinggi bersama cahaya kenabian yang paling agung itu.
Seperti halnya seorang pelayan sultan, karena mengikuti sultan itu, naik ke suatu kedudukan yang tidak dapat dicapai seorang raja.
Karena rahasia inilah para wali terbesar tidak dapat naik ke derajat sahabat.
Bahkan para wali seperti Jalaluddin Suyuti, yang berkali-kali memperoleh pergaulan dengan Nabi ﷺ dalam keadaan terjaga, sekalipun bertemu Rasul Yang Paling Mulia ﷺ saat terjaga dan mendapat kehormatan bergaul dengannya dalam alam ini, tetap tidak dapat menyamai sahabat.
Sebab para sahabat bergaul dengannya melalui cahaya kenabian Ahmad ﷺ, yakni mereka bergaul dengannya sebagai Nabi.
Adapun para wali yang melihat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ setelah wafatnya Nabi ﷺ, pergaulan mereka berlangsung melalui cahaya kewalian Ahmad ﷺ.
Jadi, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ yang tergambar dan tampak dalam pandangan mereka berasal dari segi kewalian Ahmad ﷺ, bukan dari segi kenabian.
Karena demikian, setinggi apa pun derajat kenabian di atas derajat kewalian, sebesar itu pula perbedaan kedua pergaulan tersebut.
Betapa pergaulan dengan Nabi ﷺ merupakan ramuan cahaya yang ampuh dapat dipahami dari hal ini: seorang pengembara yang memiliki kekerasan hati begitu liar sampai sanggup mengubur putrinya hidup-hidup, datang dan mendapat kehormatan bergaul dengan Nabi ﷺ selama satu jam, lalu memperoleh kasih sayang yang begitu penuh belas kasih sampai tidak dapat lagi menginjak seekor semut.
Seorang yang bodoh dan liar juga memperoleh pergaulan dengan Nabi ﷺ selama satu hari; kemudian ia pergi ke negeri-negeri seperti Tiongkok dan India, lalu menjadi guru hakikat serta pembimbing kesempurnaan bagi bangsa-bangsa yang beradab itu.
SEBAB KEDUA: Sebagaimana dijelaskan dan dibuktikan dalam pembahasan ijtihad pada Kalimat Kedua Puluh Tujuh, sebagian besar sahabat berada pada tingkat kesempurnaan manusia yang paling tinggi.
Sebab pada zaman itu, dalam perubahan Islam yang amat besar tersebut, kebaikan dan haq terlihat dengan seluruh keindahannya, keburukan dan kebatilan dengan seluruh kejelekannya, dan dirasakan secara nyata.
Terbuka perbedaan begitu besar antara keburukan dan kebaikan, serta jarak begitu jauh antara dusta dan kejujuran, sehingga keduanya saling berjauhan sebesar kekufuran dan iman, bahkan sebesar neraka dan surga.
Karena Musailamah si Pendusta beserta kata-katanya yang menggelikan menjadi penyeru serta contoh dusta, keburukan, dan kebatilan, para sahabat, yang secara fitrah memiliki perasaan luhur, mencintai akhlak yang tinggi, serta cenderung kepada kehormatan dan kemuliaan, tentu tidak mengulurkan tangan dengan pilihan mereka kepada dusta dan keburukan lalu jatuh ke tingkat kehinaan Musailamah.
Dengan memandang kedudukan Habibullah ﷺ, penyeru serta contoh kejujuran, kebaikan, dan haq, pada a'lâ illiyyîn dalam kesempurnaan, berlari ke arah itu dengan seluruh daya serta tekad merupakan tuntutan watak mereka.
Misalnya, kadang dalam pasar peradaban manusia dan toko kehidupan masyarakat, hasil-hasil mengerikan serta dampak buruk suatu barang seperti racun pembunuh, sehingga setiap orang tidak membelinya, bahkan membenci dan menjauhinya dengan seluruh kekuatan.
Adapun hasil-hasil indah dan dampak berharga sebagian barang serta barang maknawi seperti penawar yang bermanfaat dan berlian, yang menarik pandangan penuh minat semua orang.
Semua orang berusaha membelinya semampu mereka.
Begitu pula, di pasar kehidupan masyarakat pada masa Nabi Muhammad ﷺ, karena barang-barang seperti dusta, keburukan, dan kekufuran menghasilkan kesengsaraan abadi serta orang-orang rendah yang menggelikan seperti Musailamah si Pendusta, jelas bahwa para sahabat, yang terpikat oleh watak luhur dan cinta kepada kemuliaan, membenci serta menjauhinya seperti menjauhi racun pembunuh.
Dan para sahabat yang memiliki fitrah jernih serta watak luhur itu tentu mencari dan merindukan dengan seluruh daya, perasaan, serta latifahnya (daya halus dalam diri manusia) kejujuran, haq, dan iman, yang menghasilkan kebahagiaan abadi serta memperlihatkan buah-buah bercahaya seperti Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, laksana penawar paling bermanfaat dan berlian paling berharga.
Namun, setelah zaman itu, lambat laun jarak antara kejujuran dan dusta terus berkurang hingga keduanya berdiri bahu-membahu.
Seperti keduanya mulai dijual bersama dalam satu toko, akhlak masyarakat pun rusak.
Propaganda politik membuat dusta semakin laris.
Ketika keburukan dusta yang mengerikan tersembunyi dan keindahan cemerlang berkata benar mulai tidak terlihat, siapakah yang dapat menyamai kekuatan, keteguhan, dan takwa para sahabat dalam keadilan, kejujuran, sifat luhur, serta kebenaran, atau melampaui derajat mereka?
Aku akan menjelaskan suatu keadaan yang kualami untuk sedikit menerangi persoalan tadi.
Demikianlah: Pada suatu waktu, terlintas dalam hatiku, mengapa pribadi-pribadi luar biasa seperti Muhyiddin Arabi tidak dapat menyamai sahabat?
Kemudian ketika aku mengucapkan
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻰَ الْاَعْلٰى
dalam salat, makna kalimat ini terbuka.
Bukan maknanya sepenuhnya, tetapi sedikit hakikatnya tampak.
Aku berkata dalam hati, "Andaikan aku berhasil melaksanakan satu salat dengan keadaan seperti kalimat ini, tentu lebih baik daripada ibadah satu tahun." Setelah salat, aku memahami bahwa pikiran dan keadaan itu merupakan petunjuk bahwa derajat para sahabat dalam ibadah tidak dapat disamai.
Ya, dalam perubahan masyarakat yang amat besar yang lahir dari cahaya Al-Qur'an Al-Hakîm itu, ketika hal-hal yang berlawanan muncul dan berpisah satu dari lainnya; ketika keburukan dengan seluruh pengikut, gelap, serta rinciannya, dan kebaikan serta kesempurnaan dengan seluruh cahaya serta hasilnya berhadapan dalam suatu keadaan dan zaman yang menggerakkan perasaan, setiap zikir dan tasbih menyatakan seluruh lapisan maknanya seperti hasil pertama yang baru dipetik, segar, baru, dan muda; ia juga membangunkan seluruh perasaan serta latifah maknawi manusia yang berada di bawah gemuruh perubahan besar itu; bahkan daya-daya batin seperti dugaan, khayal, dan sir menerima serta menyerap berbagai makna dalam zikir dan tasbih tersebut sesuai pengalaman rohani masing-masing, dalam keadaan terjaga dan waspada.
Berdasarkan hikmah ini, ketika para sahabat, yang seluruh perasaannya terjaga dan latifahnya waspada, mengucapkan kalimat-kalimat yang diberkahi dan mencakup cahaya iman serta tasbih, mereka mengucapkannya dengan seluruh makna kalimat itu dan mengambil bagian dengan seluruh latifah mereka.
Namun, setelah ledakan dan perubahan itu, lambat laun latifah tertidur dan indra lalai terhadap hakikat-hakikat tersebut; kalimat-kalimat yang diberkahi itu, seperti buah-buahan, lambat laun kehilangan kelembutan serta kesegarannya karena tirai kebiasaan.
Seakan mengering dalam udara yang dangkal, hanya sedikit kelembapan tersisa, sehingga keadaan sebelumnya hanya dapat dikembalikan melalui usaha tafakur yang kuat.
Karena itulah keutamaan dan kedudukan yang diperoleh seorang sahabat dalam empat puluh menit hanya dapat dicapai orang lain dalam empat puluh hari, bahkan empat puluh tahun.
SEBAB KETIGA: Sebagaimana dibuktikan dalam Kalimat Kedua Belas, Kedua Puluh Empat, dan Kedua Puluh Lima, perbandingan kenabian dengan kewalian seperti matahari itu sendiri dibanding gambaran matahari yang terlihat dalam cermin-cermin.
Maka setinggi apa pun lingkup kenabian di atas lingkup kewalian, sebesar itu pula keunggulan para sahabat, pelayan lingkup kenabian dan bintang-bintang matahari itu, di atas orang-orang saleh dalam lingkup kewalian.
Bahkan jika seorang wali memperoleh warisan kenabian dan siddîqiyah, yakni kewalian agung yang merupakan kewalian para sahabat, ia tetap tidak menyamai kedudukan para sahabat yang berada di barisan pertama.
Dari berbagai segi sebab ketiga ini, kami menjelaskan tiga segi: Segi Pertama: Para sahabat tidak dapat disamai dalam ijtihad, yakni menggali hukum-hukum, yakni memahami hal-hal yang diridai Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dari Kalam-Nya.
Sebab perubahan Ilahi yang besar pada zaman itu berpusat pada memahami hal-hal yang diridai Rabb serta Hukum-Hukum Ilahi.
Seluruh benak mengarah kepada menggali hukum-hukum.
Seluruh hati ingin tahu, "Apa yang diinginkan Rabb kita dari kita?" Keadaan zaman berlangsung dengan cara yang mengandung dan membuat orang merasakan keadaan itu.
Percakapan-percakapan terjadi dengan mencakup makna-makna tersebut.
Karena itulah, segala sesuatu, setiap keadaan, percakapan, pergaulan, dan kisah berlangsung dengan cara yang sedikit banyak mengajarkan seluruh makna itu, menyempurnakan kemampuan sahabat, serta menerangi pikirannya; kemampuannya dalam ijtihad dan menggali hukum siap bercahaya seperti korek api, sehingga tingkatan menggali hukum dan ijtihad yang ia peroleh dalam satu hari atau satu bulan tidak akan diperoleh seseorang pada zaman ini yang memiliki kecerdasan serta kemampuan setingkat sahabat itu dalam sepuluh tahun, bahkan seratus tahun.
Sebab sekarang yang menjadi perhatian ialah kebahagiaan dunia sebagai ganti kebahagiaan abadi.
Perhatian manusia mengarah kepada tujuan-tujuan lain.
Karena kesulitan mencari nafkah tanpa tawakal membingungkan ruh, dan filsafat tabiat serta materialisme membutakan akal, lingkungan masyarakat manusia tidak memberi kekuatan kepada benak serta kemampuan orang itu dalam ijtihad, bahkan mengacaukan dan menceraiberaikannya.
Dalam pembahasan ijtihad pada Kalimat Kedua Puluh Tujuh, melalui perbandingan Sufyan bin Uyainah dengan seseorang yang memiliki kecerdasan setingkat dirinya, kami telah membuktikan bahwa apa yang diperoleh Sufyan dalam sepuluh tahun tidak dapat diperoleh orang yang lain dalam seratus tahun.
Segi Kedua: Kedudukan para sahabat dalam kedekatan kepada Allah سُبْحَانَهُ tidak dapat dicapai dengan langkah kewalian.
Sebab Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq paling Dekat kepada kita dan lebih Dekat daripada segala sesuatu.
Sedangkan kita jauh dari-Nya tanpa batas.
Kedekatan kepada-Nya diperoleh melalui dua cara.
Pertama: Melalui tersingkapnya Kedekatan Allah سُبْحَانَهُ kepada makhluk; kedekatan dalam kenabian menghadap kepada hal itu, dan para sahabat menerima rahasia tersebut melalui warisan kenabian serta pergaulan dengan Nabi ﷺ.
Cara kedua: Dari segi jauhnya kita, melewati tingkatan-tingkatan dan mendapat kehormatan suatu tingkat kedekatan; sebagian besar perjalanan rohani kewalian mengikuti cara itu, dan perjalanan ke dalam diri serta perjalanan ke alam luar berlangsung dengan cara tersebut.
Cara pertama murni anugerah, bukan hasil usaha; ia berupa tertarik, Tarikan Ar-Rahmân, dan dicintai.
Jalannya pendek, tetapi sangat kukuh, sangat tinggi, sangat murni, dan tanpa bayangan.
Yang lain merupakan hasil usaha, panjang, dan berbayang.
Sekalipun keajaibannya banyak, dalam nilai dan kedekatan ia tidak dapat menyamai yang pertama.
Misalnya, ada dua jalan untuk mencapai hari kemarin pada hari ini: Pertama: Tanpa mengikuti aliran waktu, naik melampaui waktu dengan suatu kekuatan suci, lalu melihat kemarin hadir seperti hari ini.
Kedua: Menempuh jarak satu tahun, berputar, lalu sampai kepada hari kemarin.
Namun, ia tetap tidak dapat memegang hari kemarin, lalu meninggalkannya dan berlalu.
Begitu pula, beralih dari yang lahiriah menuju hakikat terjadi melalui dua cara: Pertama: Langsung terseret oleh daya tarik hakikat dan menemukan hakikat di dalam yang lahiriah itu sendiri, tanpa memasuki perantara tarekat.
Kedua: Melewati banyak tingkatan melalui perjalanan rohani.
Sekalipun para wali berhasil membuat nafsu fana dan mematikan nafsu ammarah, mereka tetap tidak dapat menyamai sahabat.
Sebab nafsu para sahabat telah dibuat suci dan bersih; melalui banyak perangkat dalam hakikat nafsu, mereka lebih banyak memperoleh berbagai jenis ubudiyah serta bagian-bagian syukur dan pujian.
Setelah nafsu menjadi fana, ubudiyah para wali menjadi lebih sederhana.
Segi Ketiga: Para sahabat tidak dapat disamai dalam keutamaan amal, pahala perbuatan, dan keutamaan akhirat.
Sebab seorang prajurit, dalam syarat-syarat tertentu, dapat memperoleh keutamaan setara ibadah satu tahun dengan berjaga selama satu jam di suatu tempat penting dan menakutkan; dan dengan terkena satu peluru dalam satu menit, ia naik ke suatu kedudukan seperti derajat kewalian yang baru dapat diperoleh setidaknya dalam empat puluh hari.
Begitu pula, khidmah para sahabat dalam mendirikan Islam dan menyebarkan Hukum-Hukum Al-Qur'an, serta menyatakan perang kepada seluruh dunia demi Islam, begitu tinggi sehingga orang lain tidak dapat menyamai satu menitnya dalam satu tahun.
Bahkan dapat dikatakan bahwa seluruh menit mereka — dalam khidmah suci itu — seperti menit prajurit yang gugur tersebut.
Seluruh jam mereka seperti penjagaan seorang prajurit yang rela berkorban dan berjaga satu jam di tempat yang mengerikan; amalnya sedikit, upahnya banyak, nilainya tinggi.
Ya, karena para sahabat membentuk barisan pertama dalam mendirikan Islam dan menyebarkan cahaya Al-Qur'an, menurut rahasia
ﺍَﻟﺴَّﺒَﺐُ ﻛَﺎﻟْﻔَﺎﻋِﻞِ
mereka memperoleh bagian dari kebaikan seluruh umat.
Ucapan umat
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪِ ﻭَﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ
menunjukkan bahwa para sahabat memiliki bagian dalam kebaikan seluruh umat.
Seperti halnya kelebihan kecil pada akar pohon mengambil bentuk yang besar pada dahan-dahannya dan lebih besar daripada satu dahan besar.
Seperti halnya kenaikan kecil pada awal lambat laun membentuk jumlah yang besar.
Seperti halnya tambahan sebesar ujung jarum di dekat titik pusat kadang setara tambahan sebesar satu meter pada lingkaran luar.
Tepat seperti empat contoh ini, karena para sahabat merupakan akar dan dasar pohon Islam yang bercahaya, berada pada awal garis-garis bercahaya bangunan Islam, termasuk para imam jemaah Islam dan yang pertama di antara mereka, serta dekat dengan pusat Matahari Kenabian dan Pelita Hakikat ﷺ, amal mereka yang sedikit menjadi banyak dan khidmah mereka yang kecil menjadi besar.
Untuk menyamai mereka, seseorang harus menjadi sahabat yang sesungguhnya.
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ۨﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻗَﺎﻝَ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑ۪ﻰ ﻛَﺎﻟﻨُّﺠُﻮﻡِ ﺑِﺎَﻳِّﻬِﻢْ ﺍِﻗْﺘَﺪَﻳْﺘُﻢْ ﺍِﻫْﺘَﺪَﻳْﺘُﻢْ ﻭَ ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻘُﺮُﻭﻥِ ﻗَﺮْﻧ۪ﻰ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
Pertanyaan:
Dikatakan: Para sahabat melihat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, kemudian beriman.
Sedangkan kami beriman tanpa melihat.
Maka iman kami lebih kuat.
Bukankah ada pula riwayat yang menunjukkan kekuatan iman kami?
Jawaban:
Pada zaman itu, ketika pendapat umum seluruh alam menentang dan melawan hakikat-hakikat Islam, para sahabat hanya melihat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ dalam rupa manusiawinya, kadang tanpa mukjizat, lalu memiliki iman sedemikian rupa sehingga seluruh pendapat umum alam tidak dapat mengguncangkan iman mereka.
Pada sebagian mereka, bukan hanya syubhat (keraguan), bahkan waswas pun tidak ditimbulkannya.
Sedangkan kalian membandingkan iman kalian dengan iman para sahabat.
Padahal seluruh pendapat umum Islam memberi kekuatan dan sandaran kepada iman kalian; dengan mata akal kalian melihat, bukan kemanusiaan dan bentuk jasmani Rasul Yang Paling Mulia ﷺ yang merupakan benih pohon Tuba kenabiannya, melainkan pribadi maknawinya yang bercahaya dan megah dengan seluruh cahaya Islam serta hakikat Al-Qur'an, dikelilingi seribu mukjizat; lalu di manakah iman kalian yang jatuh ke dalam waswas dan syubhat karena perkataan seorang filsuf Eropa?
Dan di manakah iman para sahabat yang tidak terguncang menghadapi serangan seluruh alam kekufuran, kaum Nasrani, Yahudi, serta filsuf?
Di manakah takwa mereka yang begitu kuat dan kesalehan mereka yang sempurna, yang menunjukkan kekuatan iman para sahabat dan merupakan limpahan iman mereka?
Wahai orang yang mengajukan klaim!
Di manakah imanmu yang redup, yang karena begitu lemahnya tidak memperlihatkan seluruh kewajiban melalui dirimu?
Adapun riwayat yang terdapat dalam hadis dengan makna, "Pada akhir zaman, orang yang tidak melihatku dan beriman lebih diterima," mengenai keutamaan tertentu.
Ia mengenai pribadi-pribadi khusus.
Sedangkan pembahasan kita mengenai keutamaan menyeluruh dan sebagian besar orang.
Pertanyaan Kedua:
Mereka berkata: Para wali dan pemilik kesempurnaan telah meninggalkan dunia.
Bahkan dalam hadis terdapat keterangan, "Cinta dunia adalah pangkal seluruh kesalahan." Padahal para sahabat sangat banyak masuk ke dalam dunia; alih-alih meninggalkan dunia, sebagian sahabat bahkan melampaui orang-orang beradab pada zaman itu.
Bagaimana kalian berkata bahwa sahabat yang paling rendah seperti ini bernilai sebesar wali yang paling agung?
Jawaban:
Dalam Bagian Kedua dan Ketiga Kalimat Ketiga Puluh Dua telah dibuktikan secara amat pasti bahwa mencintai wajah dunia yang menghadap kepada akhirat serta wajahnya yang berhadapan dengan Asma Ilahi bukan sebab kekurangan, melainkan dasar kesempurnaan; semakin maju seseorang dalam kedua wajah itu, semakin maju pula ia dalam ibadah serta makrifatullah.
Dunia para sahabat berada pada kedua wajah ini.
Mereka memandang dunia sebagai ladang akhirat, lalu menanam dan menuainya.
Mereka memandang segala wujud sebagai cermin Asma Ilahi, lalu menyaksikan serta memandangnya dengan penuh kerinduan.
Adapun dunia yang sementara ialah wajahnya yang sementara, yang menghadap kepada keinginan manusia.
Pertanyaan Ketiga:
Tarekat-tarekat merupakan jalan menuju hakikat.
Mengenai jalan Naqsyabandiyah, yang diklaim paling terkenal, paling tinggi, serta jalan raya terbesar di antara tarekat-tarekat, sebagian tokoh dan imam tarekat itu telah menjelaskan dasarnya seperti ini.
Mereka berkata:
ﺩَﺭْ ﻃَﺮ۪ﻳﻖِ ﻧَﻘْﺸِﺒَﻨْﺪ۪ﻯ لَازِمْ ﺍٰﻣَﺪْ ﭼَﺎﺭْ ﺗَﺮْﻙْ ﺗَﺮْﻙِ ﺩُﻧْﻴَﺎ ﺗَﺮْﻙِ ﻋُﻘْﺒٰﻰ ﺗَﺮْﻙِ ﻫَﺴْﺘ۪ﻰ ﺗَﺮْﻙِ ﺗَﺮْﻙْ
Yakni, dalam jalan Naqsyabandiyah perlu meninggalkan empat hal: tidak menjadikan dunia maupun akhirat demi nafsu sebagai tujuan yang sesungguhnya, melupakan wujud diri, serta tidak memikirkan tindakan meninggalkan hal-hal itu agar tidak masuk ke dalam ujub dan kebanggaan diri.
Jadi, makrifatullah yang sesungguhnya serta kesempurnaan manusia dicapai dengan meninggalkan segala selain Allah سُبْحَانَهُ?
Jawaban:
Jika manusia hanya terdiri atas satu hati, ia perlu meninggalkan segala selain Allah سُبْحَانَهُ, bahkan Asma dan Sifat sekalipun, dan hanya mengikatkan hati kepada Zat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.
Namun, manusia memiliki banyak latifah dan indra yang bertugas, seperti akal, ruh, sir, dan nafsu.
Manusia sempurna ialah orang yang mengarahkan seluruh latifah itu kepada hakikat, masing-masing dalam jalan ubudiyah yang khusus baginya, sehingga hati berjalan dengan gagah menuju tujuan seperti seorang panglima bersama pasukan latifahnya, dalam lingkup yang luas dan cara yang kaya seperti para sahabat.
Jika hati meninggalkan pasukannya dan pergi sendirian hanya untuk menyelamatkan dirinya, hal itu bukan dasar kebanggaan, melainkan hasil keadaan terpaksa.
Pertanyaan Keempat:
Dari mana timbul klaim lebih unggul daripada sahabat?
Siapa yang menimbulkannya?
Mengapa persoalan ini dibicarakan pada zaman ini?
Dari mana pula timbul klaim setara dengan para mujtahid agung?
Jawaban:
Orang yang membicarakan persoalan ini ada dua golongan: Sebagiannya ialah orang-orang beragama dan ahli ilmu yang tulus; mereka melihat beberapa hadis dan membuka pembahasan semacam itu untuk mendorong serta membangkitkan semangat orang-orang yang bertakwa dan saleh pada zaman ini.
Kami tidak memiliki keberatan terhadap golongan ini.
Mereka memang sedikit dan segera sadar.
Adapun golongan lainnya ialah orang-orang sombong yang sangat mengerikan; mereka ingin menyebarkan sikap tidak bermazhab mereka di bawah klaim setara dengan para mujtahid agung, dan melaksanakan sikap tidak beragama mereka di bawah klaim setara dengan sahabat.
Sebab: Pertama: Orang-orang yang sesat itu telah masuk ke dalam hidup mengumbar hawa nafsu dan menjadi kecanduan; mereka tidak dapat menjalankan kewajiban syariat yang menghalanginya.
Untuk mencari alasan bagi dirinya, mereka berkata, "Persoalan-persoalan ini menyangkut ijtihad.
Dalam persoalan itu, mazhab-mazhab saling berbeda.
Mereka pun manusia seperti kita dan dapat salah.
Maka kita juga berijtihad seperti mereka dan beribadah menurut keinginan kita.
Apa yang mengharuskan kita mengikuti mereka?" Dengan tipu daya setan ini, orang-orang malang tersebut melepaskan kepala mereka dari rantai mazhab.
Karena betapa rapuh dan tanpa dasarnya klaim mereka telah ditunjukkan secara pasti dalam Kalimat Kedua Puluh Tujuh, kami menyerahkan penjelasannya ke sana.
Kedua: Golongan orang sesat itu melihat bahwa urusan tidak selesai pada para mujtahid.
Yang berada di bahu mereka hanyalah perkara-perkara agama yang memerlukan penalaran.
Padahal golongan orang sesat ini ingin meninggalkan dan mengubah perkara-perkara pokok agama yang pasti.
Jika berkata, "Kita lebih baik daripada mereka," urusan mereka belum selesai.
Sebab para mujtahid dapat menangani perkara-perkara yang memerlukan penalaran serta rincian yang belum pasti.
Namun, karena orang-orang sesat yang tidak bermazhab ini ingin mencampurkan pikiran mereka bahkan ke dalam perkara-perkara pokok agama, mengubah persoalan-persoalan yang tidak dapat diubah, dan menentang rukun-rukun Islam yang pasti, tentu mereka akan menyerang para sahabat, pemikul serta tiang perkara-perkara pokok agama.
Sungguh mustahil!
Bukan hanya binatang berwujud manusia seperti mereka; bahkan manusia sejati dan para wali agung, manusia sejati yang paling sempurna, tidak dapat memenangkan klaim setara dengan sahabat yang kecil; hal itu telah dibuktikan secara amat pasti dalam Kalimat Kedua Puluh Tujuh.
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺭَﺳُﻮﻟِﻚَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻗَﺎﻝَ لَاتَسُبُّوا ﺍَﺻْﺤَﺎﺑ۪ﻰ ﻟَﻮْ ﺍَﻧْﻔَﻖَ ﺍَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣِﺜْﻞَ ﺍُﺣُﺪٍ ﺫَﻫَﺒًﺎ ﻣَﺎ ﺑَﻠَﻎَ ﻧِﺼْﻒَ ﻣُﺪٍّ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑ۪ﻰ ﺻَﺪَﻕَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
--