Risalah Nur — Bahasa Indonesia

HARAPAN KETIGA BELAS

Risalah Orang-Orang Lanjut Usia · Bahasa Indonesia

HARAPAN KETIGA BELAS

{(Catatan kaki): Merupakan tawafuk yang halus bahwa peristiwa madrasah yang dibicarakan dalam Harapan Ketiga Belas ini terjadi tiga belas tahun sebelumnya.}

Karena dalam harapan ini aku akan membicarakan sebuah gambaran penting dari perjalanan hidupku, tentu pembahasan akan agak panjang. Aku berharap kalian tidak jemu dan tidak tersinggung.

Setelah selamat dari tawanan Rusia dalam Perang Dunia, khidmah agama di Dârülhikmet membuatku tinggal di Istanbul selama dua atau tiga tahun. Kemudian, melalui bimbingan Al-Qur'an Al-Hakîm, pertolongan Ghauts Yang Agung, dan kesadaran masa tua, aku merasa jemu terhadap kehidupan peradaban serta benci terhadap kehidupan masyarakat yang gemerlap di Istanbul. Perasaan rindu tanah air, yang disebut “Dâü's-sıla”, mendorongku menuju tanah airku. Dengan pikiran karena aku akan mati, biarlah aku mati di tanah air, aku pergi ke Van.

Sebelum segala sesuatu, aku mengunjungi madrasahku yang disebut Horhor di Van. Aku melihat bahwa seperti rumah-rumah lain di Van, madrasah itu juga, selama penyerbuan Rusia,

telah dibakar oleh orang-orang Armenia. Benteng Van yang terkenal terdiri atas satu batu utuh seperti gunung. Madrasahku tepat berada di bawah dan melekat padanya. Bayangan murid-muridku yang benar-benar menjadi sahabat, saudara, serta teman akrab di madrasah yang kutinggalkan tujuh atau delapan tahun sebelumnya muncul di depan mataku. Sebagian sahabat yang rela berkorban itu wafat sebagai syahid yang sejati, sedangkan sebagian lain sebagai syahid secara batin akibat musibah tersebut.

Aku tidak dapat menahan tangis. Aku naik ke puncak benteng yang menghadap madrasah, tepat di atasnya dengan tinggi setara dua menara, lalu duduk. Dalam bayangan, aku kembali ke masa tujuh atau delapan tahun sebelumnya. Karena bayanganku kuat, ia cukup lama membawaku berkeliling pada masa itu. Tidak ada orang di sekeliling yang dapat membalikkan aku dari bayangan dan menarikku dari masa tersebut, sebab aku sendirian. Dalam tujuh atau delapan tahun, setiap kali membuka mata, aku melihat perubahan sebesar satu abad yang telah berlalu. Aku melihat bahwa daerah Kaledibi di dalam kota, di sekitar madrasahku, seluruhnya dibakar serta dihancurkan. Dari yang kulihat dahulu kepada yang kulihat sekarang, seolah-olah aku datang ke dunia dua ratus tahun kemudian dan memandang dengan pandangan yang begitu sedih. Aku bersahabat serta berteman dengan sebagian besar penghuni rumah-rumah itu. Sebagian besar telah wafat ketika mengungsi dan terlunta-lunta di negeri asing—semoga Allah سُبْحَانَهُ merahmati mereka. Aku juga melihat seluruh rumah kaum Muslim di Van dihancurkan, selain lingkungan Armenia. Hatiku terasa sakit dari bagian paling dalam. Hal itu menyentuhku demikian besar sehingga jika aku memiliki ribuan mata, semuanya akan menangis bersama.

Aku kembali dari negeri asing ke tanah air dan menganggap telah terbebas dari keadaan terasing. “Vâ-esefâ”, aku justru melihat keadaan terasing yang paling mengerikan di tanah airku. Aku melihat ratusan murid serta sahabat yang sangat terhubung dengan ruhku, seperti Abdurrahman yang dibicarakan dalam Harapan Kedua Belas, berada dalam kubur, dan tempat-tempat sahabat itu menjadi puing. Sejak dahulu terdapat suatu ungkapan seseorang dalam ingatanku, tetapi aku tidak dapat melihat maknanya sepenuhnya. Di hadapan gambaran sedih itu, aku melihat maknanya sepenuhnya. Ungkapan itu ialah:

لَوْلَا ﻣُﻔَﺎﺭَﻗَﺔُ الْاَحْبَابِ ﻣَﺎ ﻭَﺟَﺪَﺕْ ﻟَﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﻨَﺎﻳَﺎ ﺍِﻟٰﻰ ﺍَﺭْﻭَﺍﺣِﻨَﺎ سُبُلًا

Artinya, “Seandainya tidak ada perpisahan dari sahabat-sahabat, kematian tidak akan menemukan jalan menuju ruh kita untuk datang dan mengambilnya.” Berarti, yang paling banyak membunuh manusia ialah perpisahan dari sahabat. Ya, tidak sesuatu pun membuatku terbakar dan menangis seperti keadaan itu. Seandainya pertolongan tidak datang dari Al-Qur'an serta iman, duka, pilu, dan kesedihan tersebut akan memberi pengaruh seolah-olah menerbangkan ruhku.

Sejak dahulu, para penyair menangisi puing tempat-tempat mereka bertemu dengan sahabat, yang rusak melalui berlalunya waktu. Aku sendiri melihat gambaran yang paling penuh perpisahan dari hal ini. Dengan kesedihan seseorang yang mengunjungi tempat tinggal sahabat-sahabat tercinta dua ratus tahun kemudian, ruh dan hatiku juga membantu mataku serta menangis. Di hadapan mataku, masa ketika tempat-tempat yang kini menjadi puing itu sangat makmur, ramai, ceria, dan gembira kembali tampak. Bagian-bagian manis kehidupanku selama hampir dua puluh tahun yang paling menyenangkan, ketika mengajar dan hidup bersama murid-murid berharga, satu demi satu menjadi hidup serta tampak seperti gambar film, kemudian seolah-olah wafat dan pergi. Bayangan itu berlangsung cukup lama di depan mataku.

Saat itu aku sangat heran terhadap keadaan orang-orang yang mencintai dunia. Bagaimana mereka menipu diri sendiri? Sebab, keadaan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa dunia sepenuhnya tidak kekal dan manusia merupakan tamu di dalamnya. Aku melihat dengan mataku betapa benar para ahli hakikat yang terus berkata bahwa dunia kejam, menipu, dan tidak kekal; jangan tertipu olehnya.

Aku juga melihat dalam diriku bahwa sebagaimana manusia terhubung dengan tubuh serta rumahnya, demikian pula ia terhubung dengan kotanya, negerinya, bahkan dunianya. Sebab, dari segi tubuhku, aku menangis dengan dua mata akibat rasa tersentuh pada masa tua. Namun, karena madrasahku bukan hanya tua, melainkan wafat, aku ingin menangis dengan sepuluh mata. Karena tanah airku yang menyenangkan setengah mati, aku memerlukan seratus mata untuk menangis.

Dalam riwayat hadis terdapat bahwa setiap pagi seorang malaikat menyeru,

ﻟِﺪُﻭﺍ ﻟِﻠْﻤَﻮْﺕِ ﻭَﺍﺑْﻨُﻮﺍ ﻟِﻠْﺨَﺮَﺍﺏِ

, yaitu, “Kalian lahir dan datang ke dunia untuk mati; kalian mendirikan bangunan untuk menjadi puing.” Aku mendengar hakikat ini melalui mataku, bukan telingaku.

Ya, sebagaimana keadaanku saat itu membuatku menangis, selama sepuluh tahun ini bayanganku masih menangis setiap kali mendatangi keadaan tersebut. Tempat-tempat tinggal di puncak benteng tua yang telah hidup selama ribuan tahun menjadi puing. Kota di bawahnya menjadi tua sebesar delapan ratus tahun dalam waktu delapan tahun. Madrasahku di bawah benteng, yang sangat hidup dan menjadi tempat berkumpulnya sahabat-sahabat, wafat. Kewafatannya menunjukkan wafatnya seluruh madrasah dalam Negara Utsmani. Untuk mengisyaratkan besarnya jenazah itu secara batin, batu utuh Benteng Van yang besar menjadi batu nisannya. Seolah-olah murid-muridku yang telah wafat, yang delapan tahun sebelumnya berada bersamaku di madrasah itu, menangis bersamaku dalam kubur mereka. Bahkan, dinding-dinding puing kota itu dan

batu-batunya yang berserakan juga menangis bersamaku; aku melihat mereka seperti sedang menangis.

Saat itu aku memahami bahwa aku tidak dapat bertahan dalam keadaan terasing di tanah airku ini. Aku berpikir, aku pun harus pergi ke sisi mereka dalam kubur, atau menarik diri ke sebuah gua di gunung dan menantikan ajalku di sana. Aku berkata: Karena di dunia terdapat perpisahan yang begitu tidak tertahankan, mematahkan kesabaran, menghancurkan daya tahan, dan membakar, tentu kematian lebih baik daripada kehidupan. Keadaan kehidupan yang berat ini bukan penderitaan yang dapat ditanggung.

Saat itu aku mengedarkan pandangan ke enam arah, yang disebut enam penjuru, dan melihatnya gelap. Kelalaian yang berasal dari rasa sakit yang sangat kuat itu memperlihatkan dunia kepadaku sebagai sesuatu yang menakutkan, kosong, sunyi, dan akan runtuh menimpaku. Ruhku mencari titik sandaran terhadap bencana-bencana tak terbatas yang menjadi musuh. Ia mencari titik tempat memohon pertolongan yang akan memenuhi keinginan-keinginan tak terbatas dalam ruh, yang memanjang sampai masa tanpa akhir, serta menantikan penghiburan terhadap kesedihan dan duka dari perpisahan, kepergian, kehancuran, serta wafat yang tak terbatas itu. Tiba-tiba, hakikat ayat

ﺳَﺒَّﺢَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ٭ ﻟَﻪُ ﻣُﻠْﻚُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ

dari Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya menampakkan Tajalli (tampak nyata). Ia menyelamatkanku dari bayangan yang menyentuh, penuh perpisahan, mengerikan, dan sedih itu, lalu membuka mataku.

Aku melihat buah-buah di puncak pohon yang berbuah memandangku seolah-olah tersenyum dan berkata, “Perhatikan kami juga; jangan terus memandang puing.” Hakikat ayat mulia ini memberikan peringatan berikut: Mengapa terhapusnya sebuah surat buatan yang ditulis oleh tangan manusia sebagai tamu pada lembaran dataran Van dan mengambil bentuk kota, akibat jatuh ke bencana banjir mengerikan yang disebut penyerbuan Rusia, membuatmu demikian menderita? Pandanglah Sang Pengukir Yang Azali, Sang Pemilik Yang Hakiki, Pemilik dan Rabb segala sesuatu. Pada lembaran Van ini, surat-surat-Nya terus ditulis dengan kemegahan penuh, mempertahankan keadaan yang engkau lihat dahulu. Tangismu dengan pikiran bahwa tempat-tempat itu tetap kosong, rusak, dan sunyi berasal dari lalai terhadap Sang Pemiliknya Yang Hakiki, tidak membayangkan manusia sebagai tamu, serta kesalahan menganggap mereka pemilik.

Namun, dari kesalahan dan keadaan yang membakar itu terbuka pintu hakikat. Nafsuku menjadi siap untuk menerima hakikat tersebut sepenuhnya. Ya, sebagaimana

besi dimasukkan ke api agar lunak serta dapat diberi bentuk yang indah dan bermanfaat, demikian pula keadaan yang menimbulkan kesedihan dan keadaan yang mengerikan itu menjadi api serta melunakkan nafsuku. Melalui hakikat ayat tersebut, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya memperlihatkan limpahan hakikat-hakikat iman sepenuhnya kepada nafsuku dan membuatnya menerima.

Ya, lillahi'l-hamd, melalui limpahan iman, hakikat ayat ini memberikan titik sandaran kepada ruh serta hati, yang terbuka sesuai dengan kekuatan iman setiap orang, sebagaimana telah kami buktikan dengan pasti dalam risalah-risalah seperti Surat Kedua Puluh. Ia memberikan kekuatan dari iman kepada Allah سُبْحَانَهُ yang dapat menghadapi musibah seratus kali lebih menakutkan dan lebih berbahaya daripada kengerian keadaan itu. Ia juga mengingatkan: Segala sesuatu tunduk kepada Perintah Sang Pemilik Yang Hakiki negeri ini, Yang merupakan Sang Khâliq-mu. Kendali segala sesuatu berada di Tangan-Nya; hubunganmu kepada-Nya mencukupi.

Setelah bersandar kepada Sang Khâliq-ku dan mengenal-Nya, seluruh yang menjadi musuh meninggalkan sikap bermusuhannya. Keadaan sedih yang membuatku menangis mulai menggembirakanku. Seperti telah kami buktikan dengan dalil-dalil pasti dalam banyak risalah, melalui cahaya yang datang dari iman kepada akhirat, terhadap keinginan-keinginan tak terbatas itu ia memberikan titik tempat memohon pertolongan. Titik itu bukan hanya mencukupi keinginan serta ikatanku yang sangat terbatas, sementara, dan singkat terhadap sahabat-sahabat duniawi, melainkan juga keinginan-keinginanku yang panjang tanpa batas untuk selama-lamanya, di alam yang kekal dan kebahagiaan yang kekal.

Sebab, melalui satu manifestasi Rahmat-Nya, untuk membuat tamu-tamu-Nya bergembira selama satu atau dua jam, setiap musim semi Dia menganugerahkan nikmat yang penuh seni, manis, serta tak terhitung pada meja musim semi di muka bumi, salah satu tempat singgah dalam dunia ini, tempat bertamu-Nya yang sementara. Setelah memberi para tamu makan sebagai sarapan, Ar-Rahmân Yang Rahîm menyiapkan bagi hamba-hamba-Nya delapan surga yang kekal di tempat tinggal mereka untuk selama-lamanya, yang dipenuhi jenis-jenis nikmat tanpa batas selama waktu tak terbatas. Orang yang bersandar melalui iman kepada Rahmat-Nya dan mengetahui hubungannya dengan-Nya tentu menemukan titik tempat memohon pertolongan demikian rupa sehingga tingkatnya yang paling rendah pun membantu serta mempertahankan harapan-harapan kekal yang tak terbatas.

Melalui hakikat ayat itu pula, cahaya yang datang dari terang iman menampakkan Tajalli demikian kuat sehingga menerangi enam penjuru yang gelap itu seperti siang hari. Ia menerangi keadaanku yang tertinggal dan menangis di belakang murid serta sahabat di madrasah dan kota ini dengan peringatan berikut: Alam tempat sahabat-sahabat pergi tidak gelap. Mereka hanya berpindah tempat; kalian akan bertemu lagi. Peringatan itu menghentikan tangisku

sepenuhnya. Ia juga membuatku memahami bahwa aku akan menemukan orang-orang yang menggantikan serta menyerupai mereka di dunia. Ya, lillahi'l-hamd, madrasah Van yang wafat dihidupkan kembali melalui madrasah Isparta, serta sahabat-sahabat di sana dihidupkan kembali secara batin melalui murid dan sahabat yang lebih banyak serta lebih berharga.

Ia juga memberitahukan bahwa dunia tidak kosong serta sunyi, dan aku keliru membayangkannya sebagai negeri yang hancur. Sebaliknya, sesuai dengan tuntutan Hikmah-Nya, Sang Pemilik Yang Hakiki mengganti gambaran buatan manusia serta memperbarui surat-Nya. Sebagaimana ketika sebagian buah sebuah pohon dipetik, buah-buah lain kembali datang sebagai gantinya, lenyap dan perpisahan dalam umat manusia ini pun merupakan pembaruan serta menjadi baru kembali. Dari segi iman, hal itu bukan kesedihan yang menyakitkan karena tanpa sahabat, melainkan pembaruan yang memberikan kesedihan manis akibat berpisah untuk bertemu di tempat indah yang lain.

Ia juga menerangi wajah makhluk-makhluk kainat yang tampak gelap melalui keadaan yang mengerikan itu. Saat itu aku ingin bersyukur atas keadaan tersebut. Ungkapan bahasa Arab ini datang dan menggambarkan hakikat itu sepenuhnya. Demikianlah, aku berkata:

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﻧُﻮﺭِ الْا۪يمَانِ ﺍﻟْﻤُﺼَﻮِّﺭِ ﻣَﺎ ﻳُﺘَﻮَﻫَّﻢُ ﺍَﺟَﺎﻧِﺐَ ﺍَﻋْﺪَﺍﺀً ﺍَﻣْﻮَﺍﺗًﺎ ﻣُﻮَﺣِّﺸ۪ﻴﻦَ ﺍَﻳْﺘَﺎﻣًﺎ ﺑَﺎﻛ۪ﻴﻦَ ﺍَﻭِﺩَّﺍﺀَ ﺍِﺧْﻮَﺍﻧًﺎ ﺍَﺣْﻴَﺎﺀً ﻣُﻮﻧِﺴ۪ﻴﻦَ ﻣُﺮَﺧَّﺼ۪ﻴﻦَ ﻣَﺴْﺮُﻭﺭ۪ﻳﻦَ ﺫَﺍﻛِﺮ۪ﻳﻦَ ﻣُﺴَﺒِّﺤ۪ﻴﻦَ

Artinya, “Melalui kelalaian yang berasal dari pengaruh keadaan kuat tersebut, sebagian makhluk kainat tampak kepada nafsuku yang lalai melalui sangkaan sebagai musuh dan asing, {(Catatan kaki): Yaitu, seperti gempa, badai, banjir, wabah taun, dan api.} sebagian sebagai jenazah yang mengerikan, serta sebagian lain sebagai anak yatim yang menangis karena sendirian. Melalui cahaya iman, aku melihat dengan ainulyaqin bahwa yang tampak asing dan sebagai musuh itu merupakan sahabat serta saudara. Jenazah-jenazah mengerikan itu sebagian hidup dan akrab, serta sebagian telah dibebaskan dari tugas. Jerit tangis anak-anak yatim itu merupakan senandung zikir serta tasbih. Karena aku melihat hal ini melalui cahaya iman, aku memuji tanpa batas Sang Khâliq Dzul-Jalâl, Yang memberiku iman, sumber nikmat-nikmat tak terbatas itu. Dari sudut pandang bahwa di dunia ini aku berhak menggunakan seluruh makhluk dalam dunia pribadiku yang sebesar dunia, melalui bayangan serta niat, untuk memuji dan bertasbih kepada Allah سُبْحَانَهُ, bersama bahasa keadaan masing-masing makhluk itu

serta seluruhnya, kita berkata Elhamdülillahi alâ nuri'l-iman.” Demikian artinya.

Melalui keadaan mengerikan yang lalai tersebut, kenikmatan hidup jatuh menjadi tidak berarti, harapan-harapan tertarik seluruhnya dan mengering, serta nikmat dan kenikmatan pribadi terjepit dalam lingkup yang paling sempit, bahkan lenyap. Tiba-tiba, melalui cahaya iman, sebagaimana telah dibuktikan dengan pasti dalam risalah-risalah lain, lingkup sempit di sekeliling hati menjadi demikian luas sehingga memuat kainat. Sebagai ganti nikmat yang mengering dan kehilangan kenikmatannya di kebun Horhor, negeri dunia serta negeri akhirat masing-masing menjadi meja nikmat dan nampan Rahmat. Cahaya iman itu memperlihatkan bukan sepuluh, melainkan seratus perlengkapan manusia, seperti mata, telinga, dan hati, masing-masing sebagai tangan yang sangat panjang. Sesuai dengan tingkatan setiap mukmin, tangan-tangan itu terulur ke kedua meja Ar-Rahmân dengan cara yang dapat mengumpulkan nikmat dari segala sisi. Karena itu, untuk menyatakan hakikat yang luhur ini serta bersyukur atas nikmat tak terbatas tersebut, saat itu aku berkata demikian:

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﻧُﻮﺭِ الْا۪يمَانِ ﺍﻟْﻤُﺼَﻮِّﺭِ ﻟِﻠﺪَّﺍﺭَﻳْﻦِ ﻣَﻤْﻠُﻮﺅَﺗَﻴْﻦِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨِّﻌْﻤَﺔِ ﻭَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ ﻟِﻜُﻞِّ ﻣُﺆْﻣِﻦٍ ﺣَﻘًّﺎ ﻳَﺴْﺘَﻔ۪ﻴﺪُ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺑِﺤَﻮَﺍﺳِّﻪِ ﺍﻟْﻜَﺜ۪ﻴﺮَﺓِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺸِﻔَﺔِ ﺑِﺎِﺫْﻥِ ﺧَﺎﻟِﻘِﻪ۪

Artinya, “Dunia dan akhirat dipenuhi nikmat serta Rahmat. Sebagai balasan atas nikmat cahaya iman yang menjamin dan menunjukkan bahwa para mukmin sejati dapat memperoleh manfaat dari dua meja besar itu melalui tangan seluruh daya mereka, yang berkembang dan meluas melalui cahaya iman serta Islam, jika mampu, dengan seluruh zarah tubuhku aku akan memuji serta bersyukur sebanyak isi dunia dan akhirat kepada Sang Khâliq-ku Yang memberikan iman itu kepadaku.” Demikian artinya.

Karena iman memberi pengaruh demikian besar dalam alam ini, tentu di negeri yang kekal ia akan memiliki buah dan limpahan yang tidak dapat diliputi serta dijelaskan oleh akal di dunia ini.

Wahai saudara dan saudari lanjut usia yang sepertiku menanggung penderitaan berpisah dari begitu banyak sahabat karena masa tua! Meskipun yang paling tua di antara kalian secara lahir lebih tua dariku, secara batin aku memperkirakan diriku lebih tua daripada mereka. Sebab, dalam fitrahku terdapat lebih banyak rasa peka terhadap sesama manusia serta rasa iba. Melalui rahasia kasih sayang itu, selain penderitaanku sendiri, aku menanggung penderitaan ribuan saudaraku,

sehingga aku tua seperti telah hidup ratusan tahun. Sebanyak apa pun bencana perpisahan yang kalian tanggung, kalian belum tertimpa bencana itu sebesar yang kualami.

Sebab, aku tidak memiliki anak laki-laki sehingga hanya memikirkan anakku sendiri. Melalui rahasia kasih sayang, rasa iba dan kasih sayang yang besar dalam fitrahku membuatku merasakan rasa tersentuh serta penderitaan terhadap kesakitan ribuan anak Muslim, bahkan hewan-hewan yang tidak berdosa. Aku tidak memiliki rumah pribadi sehingga hanya memusatkan pikiranku kepadanya. Sebaliknya, dari segi semangat membela Islam, aku terhubung dengan negeri ini, bahkan wilayah dunia Islam, seperti rumahku sendiri. Aku menderita melalui penderitaan saudara seagamaku dalam dua rumah besar itu dan bersedih melalui perpisahan mereka!

Cahaya iman sepenuhnya mencukupi seluruh rasa sakitku yang berasal dari masa tua dan bencana perpisahan. Ia memberikan harapan yang tidak patah, asa yang tidak putus, cahaya yang tidak padam, serta penghiburan yang tidak habis. Tentu, iman juga cukup dan memenuhi kebutuhan terhadap gelap, kelalaian, rasa sakit, serta penderitaan yang datang kepada kalian melalui masa tua. Masa tua yang sebenarnya paling gelap, paling tanpa cahaya dan tanpa penghiburan, serta perpisahan yang paling menyakitkan dan mengerikan ialah masa tua serta perpisahan orang-orang yang sesat serta orang-orang yang hidup dalam kebejatan.

Untuk menikmati iman yang memberikan harapan, cahaya, dan penghiburan tersebut serta merasakan pengaruhnya, hendaknya mengambil sikap sadar dalam ubudiyah, yang sesuai dengan masa tua dan Islam. Hal itu diperoleh melalui sikap tersebut, bukan dengan berusaha menyerupai pemuda dan memasukkan kepala ke dalam kelalaian mereka yang mabuk, lalu melupakan masa tua. Pikirkanlah hadis yang memiliki arti berikut:

ﺧَﻴْﺮُ ﺷَﺒَﺎﺑِﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻜُﻬُﻮﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺷَﺮُّ ﻛُﻬُﻮﻟِﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﺸَﺒَﺎﺑِﻜُﻢْ

—ﺍَﻭْ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ—. Artinya, “Yang terbaik di antara pemuda kalian ialah mereka yang menyerupai orang lanjut usia dalam ketenangan dan menjauh dari kebejatan. Yang terburuk di antara orang lanjut usia kalian ialah mereka yang menyerupai pemuda dalam kebejatan serta memasukkan kepala ke dalam kelalaian.”

Wahai saudara dan saudariku yang lanjut usia! Dalam hadis mulia terdapat, “Ketika seorang mukmin lanjut usia, berumur enam puluh atau tujuh puluh tahun, mengangkat tangannya ke Hadirat Ilahi dan berdoa, Rahmat Ilahi merasa malu memulangkan tangannya dengan kosong.” Karena Rahmat menghormati kalian demikian, kalian pun hormatilah Penghormatan Rahmat ini melalui ubudiyah kalian.

HARAPAN KEEMPAT BELAS

Ringkasan awal Âyet-i Nuriye-i Hasbiye (Ayat Bercahaya Hasbiye), yaitu Sinar Keempat, menyatakan: Pada suatu waktu, karena orang-orang yang mencintai dunia memisahkanku dari segala sesuatu, aku jatuh dalam lima jenis keadaan terasing. Dengan kelalaian yang berasal dari kesusahan, tanpa memandang cahaya-cahaya Risale-i Nur yang menghibur serta menolong, aku langsung memandang hatiku dan mencari ruhku.

Aku melihat bahwa cinta yang sangat kuat untuk kekal, cinta yang kuat terhadap wujud, kerinduan besar terhadap kehidupan, keadaan tak berdaya yang tak terbatas, serta keadaan serba membutuhkan tanpa batas menguasaiku. Padahal, kebinasaan yang mengerikan memadamkan kekalnya diriku itu. Dalam keadaan tersebut, seperti perkataan seorang penyair yang terbakar, aku berkata:

Hatiku menghendaki kekal; Al-Haqq menghendaki lenyapnya kerajaan tubuhku.

Aku jatuh dalam penyakit tanpa obat; âh, Luqman pun tidak tahu.

Aku menundukkan kepala dengan putus asa. Tiba-tiba,

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

datang menolong dan berkata, “Bacalah aku dengan teliti!” Aku pun membacanya lima ratus kali sehari. Ketika membaca, bukan hanya dengan ilmulyaqin, melainkan dengan ainulyaqin, sembilan tingkatan Hasbiye dari cahaya-cahayanya yang sangat berharga terbuka bagiku.

Tingkatan Pertama Cahaya Hasbiye: Cintaku untuk kekal tidak tertuju pada kekalnya diriku sendiri. Sebaliknya, dalam hakikatku terdapat bayangan satu manifestasi dari suatu Nama Zat Dzul-Kamâl dan Dzul-Jalâl, Pemilik Kesempurnaan Yang Mutlak, Yang dicintai pada Diri-Nya sendiri tanpa sebab. Karena itu, cinta fitrah dalam diriku, yang menghadap kepada Wujud, Kesempurnaan, dan Sifat Kekal Sang Kâmil Mutlak itu, akibat kelalaian tersesat jalannya, melekat pada bayangan, dan jatuh cinta kepada kekalnya cermin.

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

datang dan mengangkat tabir.

Aku melihat, merasakan, dan menikmati dengan haqqulyaqin bahwa kenikmatan serta kebahagiaan dari kekalnya diriku terdapat persis, bahkan lebih sempurna, dalam sikapku membenarkan, mengimani, dan meyakini bahwa Sang Bâqî Dzul-Kamâl Kekal dan merupakan Rabb-ku serta Ilah-ku. Dalil-dalil hal ini telah dijelaskan dalam Risale-i Hasbiye melalui dua belas bisikan batin serta kesadaran iman yang sangat dalam dan halus, yang membuat orang-orang dengan daya rasa menjadi heran.

Tingkatan Kedua Cahaya Hasbiye: Bersamaan dengan keadaan tak berdaya yang tak terbatas dalam fitrahku, di tengah masa tua, keadaan terasing, kesendirian, serta pengucilanku,

ketika orang-orang yang mencintai dunia menyerangku melalui tipu daya dan mata-mata mereka, aku berkata kepada hatiku, “Pasukan-pasukan menyerang seorang laki-laki lemah dan sakit yang tangannya terikat. Apakah tidak ada titik sandaran bagiku?” Aku pun mendatangi ayat

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

. Ayat itu memberitahukan kepadaku:

Melalui dokumen hubungan iman, engkau terhubung kepada Sang Qadîr Mutlak, Sultan Yang setiap musim semi memberikan seluruh perlengkapan pasukan tumbuhan serta hewan yang terdiri atas empat ratus ribu bangsa di muka bumi dengan keteraturan sempurna. Bersamaan dengan itu, Dia menempatkan seluruh perbekalan pasukan hewan yang besar, terutama manusia, dalam sari-sari Ar-Rahmân yang disebut benih dan biji dari setiap jenis makanan. Sari-sari itu bukan seperti sari daging, gula, serta makanan lain yang baru ditemukan manusia beradab, melainkan seratus kali lebih sempurna daripada sari-sari peradaban tersebut. Dia membungkus sari-sari itu dalam petunjuk Takdir tentang memasak serta mengembangkannya, lalu menaruh dan menitipkannya dalam peti-peti kecil agar terjaga. Penciptaan peti-peti tersebut berlangsung melalui Perintah “Kün”, dari pabrik “kâf-nun” di dalamnya, dengan demikian cepat, mudah, dan banyak sehingga Al-Qur'an berkata, “Sang Khâliq memerintahkan, lalu terwujud.” Karena melalui surat hubungan iman engkau dapat menemukan titik sandaran seperti ini, engkau dapat bersandar kepada Kekuatan dan Kudrat Yang Tak Terbatas.

Ketika menerima pelajaran ini dari ayat, aku menemukan kekuatan batin demikian besar sehingga merasa memiliki daya iman yang dapat menantang bukan hanya musuh-musuhku sekarang, melainkan dunia. Bersama seluruh ruhku, aku berkata

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

.

Tingkatan Ketiga Cahaya Hasbiye: Ketika iman mengajarkan bahwa melalui tekanan keadaan terasing, penyakit, dan penindasan, aku mendapati hubunganku dengan dunia telah terputus dan menjadi calon penerima kebahagiaan yang terus berlangsung di dunia yang kekal serta negeri yang tetap ada, aku meninggalkan “Of, of!” yang mengalirkan sesal dan berkata “Oh, oh!” yang menunjukkan kegembiraan.

Namun, aku berpikir bahwa terwujudnya tujuan bayangan, sasaran ruh, dan hasil fitrah ini hanya mungkin melalui Kudrat Sang Qadîr Mutlak Yang Tak Terbatas. Dia mengetahui dan mencatat seluruh gerak, diam, keadaan, serta perbuatan seluruh makhluk-Nya melalui ucapan dan tindakan; menjadikan umat manusia yang sangat kecil dan sama sekali tak berdaya sebagai sahabat serta pihak yang Dia ajak bicara; memberikan kedudukan di atas seluruh makhluk; serta memberikan kepada manusia Pertolongan dan

Perhatian Yang Tak Terbatas. Ketika memikirkan hal ini, aku menginginkan penjelasan yang mengembangkan iman dan memberikan ketenteraman kepada hati tentang kedua pokok tersebut, yaitu bekerjanya Kudrat seperti itu dan arti penting yang sejati dari manusia yang dari luar tampak tidak berarti. Aku kembali mendatangi ayat itu. Ayat tersebut memerintahkan, “Di dalam ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ, perhatikanlah ﻧَﺎ dan dengarkan siapa yang bersama engkau mengatakan ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ melalui bahasa keadaan serta bahasa ucapan!”

Tiba-tiba, aku melihat bahwa burung-burung yang tak terbatas, lalat-lalat seperti burung kecil, hewan-hewan yang tak terhitung, tumbuhan-tumbuhan yang tiada akhir, serta pohon-pohon yang tak terbatas juga, sepertiku, mengingat makna

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

melalui bahasa keadaan dan mengingatkannya kepada semua orang. Mereka memiliki Wakil Yang menjamin seluruh syarat kehidupan mereka. Dari telur-telur yang serupa serta berbahan sama, tetesan-tetesan yang seperti sama, butir-butir yang seperti identik, dan biji-biji yang mirip, Dia menciptakan serta membuat seratus ribu jenis burung, seratus ribu ragam hewan, seratus ribu jenis tumbuhan, dan seratus ribu golongan pohon. Semuanya tanpa salah, tanpa kurang, tanpa tertukar, indah, seimbang, teratur, berbeda satu sama lain, serta memiliki ciri pembeda di depan mata kita, terutama setiap musim semi, dengan jumlah sangat banyak, sangat mudah, dan dalam lingkup sangat luas. Dalam Keagungan serta Kemegahan Kudrat yang demikian, melalui kebersamaan, kemiripan, berada di dalam satu sama lain, dan dibuat dengan satu cara, Dia menunjukkan Keesaan-Nya serta Ahadiyah-Nya kepada kita. Aku memahami bahwa Dia memberitahukan tidak mungkinnya campur tangan dan ikut serta dalam Perbuatan Rububiyah serta Pengaturan Penciptaan yang menampilkan mukjizat-mukjizat tak terbatas seperti itu.

Mereka yang ingin memahami siapa diriku secara pribadi serta hakikatku sebagai manusia, seperti setiap mukmin, dan ingin menjadi sepertiku, hendaknya memandang penjelasan tentang “aku”, yaitu nafsuku, yang terdapat dalam ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ pada kelompok ﻧَﺎ. Apakah tubuhku yang tampak tidak berarti, hina, dan serba membutuhkan—seperti tubuh setiap mukmin—sebenarnya? Apakah kehidupan, sifat manusia, Islam, iman yang bertumpu pada bukti, makrifatullah, dan bagaimana cinta seharusnya? Hendaknya mereka memahami dan mengambil pelajaran!

Tingkatan Keempat Cahaya Hasbiye: Pada suatu waktu, gangguan-gangguan yang mengguncangkan tubuhku, seperti masa tua, keadaan terasing, penyakit, dan kekalahan, bertepatan dengan suatu

waktu kelalaian dan memberikan kecemasan yang menyakitkan dengan berkata, “Menuju tidak ada,” tentang tubuhku yang sangat mengikat dan membuatku terpikat, bahkan tubuh makhluk-makhluk. Aku kembali mendatangi Ayat Hasbiye ini. Ayat itu berkata, “Perhatikan maknaku dan pandanglah dengan teropong iman!”

Aku pun memandang dan melihat dengan mata iman. Dengan ilmulyaqin aku mengetahui bahwa tubuhku yang sangat kecil ini, seperti tubuh setiap mukmin, merupakan cermin bagi Wujud Yang Tak Terbatas dan sarana untuk memperoleh wujud-wujud tak terbatas melalui bentangan yang tiada akhir. Tubuh ini merupakan suatu kalimat hikmah yang menghasilkan banyak wujud yang tetap ada, yang lebih berharga daripada dirinya. Dari segi hubungannya, hidup selama satu saat bernilai sebesar wujud yang kekal.

Sebab, melalui kesadaran iman, dengan memahami bahwa tubuhku merupakan karya, seni, dan manifestasi Wâjibul Wujûd, aku terbebas dari sangkaan yang liar, perpisahan yang tak terbatas, serta penderitaan dari kepergian dan perpisahan yang tak terbatas. Aku mengetahui bahwa dalam perpisahan sementara terdapat pertemuan yang terus berlangsung dengan seluruh makhluk tercinta yang dengannya aku menjalin hubungan melalui ikatan persaudaraan sebanyak Perbuatan serta Asma Ilahi yang berkaitan dengan makhluk, terutama makhluk hidup.

Melalui iman dan hubungan dalam iman, tubuhku ini pun, seperti setiap mukmin, memperoleh cahaya-cahaya dari wujud yang tak terbatas tanpa perpisahan. Meskipun ia sendiri pergi, karena cahaya-cahaya itu tertinggal di belakang, ia merasa senang seolah-olah tetap ada.

Ringkasnya: Kematian bukan perpisahan, melainkan pertemuan, berpindah tempat, dan bertunasnya suatu buah yang kekal.

Tingkatan Kelima Cahaya Hasbiye: Pada suatu waktu, kehidupanku kembali diguncangkan oleh keadaan yang sangat berat, yang mengalihkan perhatianku kepada umur serta kehidupan. Aku melihat bahwa umurku pergi dengan berlari dan telah mendekati akhirat. Kehidupanku juga hampir padam di bawah tekanan. Padahal, dengan merasa sakit aku berpikir bahwa tugas-tugas penting, kelebihan-kelebihan besar, dan manfaat-manfaat berharga kehidupan, yang dijelaskan dalam risalah tentang Nama Hayy, layak mendapat kehidupan yang panjang, bukan padam secepat ini. Aku kembali mendatangi ayat

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

, guruku. Ayat itu berkata, “Pandanglah kehidupan menurut Sang Hayy Yang Qayyûm, Yang memberimu kehidupan!”

Aku pun memandang dan melihat bahwa jika kehidupanku menghadap kepadaku dengan satu segi, ia menghadap kepada Zat Yang Hayy lagi Qayyûm dengan seratus segi. Jika satu hasilnya milikku,

seribu hasilnya milik Sang Khâliq-ku. Maka, hidup satu saat dalam lingkup yang diridai Allah سُبْحَانَهُ mencukupi; tidak memerlukan waktu yang panjang.

Hakikat ini dijelaskan melalui empat persoalan. Mereka yang tidak mati atau ingin menjadi hidup hendaknya mencari dan menemukan inti, hakikat, serta hak-hak sejati kehidupan dalam keempat persoalan itu, lalu menjadi hidup!..

Ringkasnya: Ketika kehidupan menghadap kepada Zat Yang Hayy lagi Qayyûm dan iman menjadi kehidupan serta ruh bagi kehidupan, ia tetap ada dan menghasilkan buah-buah yang tetap ada. Ia juga menjadi begitu tinggi sehingga memperoleh manifestasi Sifat Kekal Selamanya. Panjang atau pendeknya umur tidak lagi diperhatikan.

Tingkatan Keenam Cahaya Hasbiye: Di tengah peristiwa-peristiwa akhir zaman yang memberitakan hancurnya dunia ketika perpisahan umum terjadi, masa tua mengingatkan perpisahanku secara pribadi. Pada akhir umurku, dengan kepekaan luar biasa, perasaan memuja keindahan, mencintai keelokan, serta terpikat kepada kesempurnaan dalam fitrahku berkembang. Saat itu aku melihat dengan kesadaran dan rasa sakit luar biasa bahwa lenyap serta kebinasaan yang terus menghancurkan, dan kematian serta tidak ada yang terus memisahkan, dengan cara mengerikan mengoyak dunia serta makhluk-makhluk indah ini, memecahkannya, dan merusak keindahannya. Ketika cinta majazi (cinta kepada keindahan ciptaan) dalam fitrahku sangat bergejolak serta memberontak terhadap keadaan ini, untuk menemukan sarana penghiburan aku kembali mendatangi Ayat Hasbiye tersebut. Ayat itu berkata, “Bacalah aku dan pandanglah maknaku dengan teliti!”

Aku pun memasuki tempat pengamatan ayat

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻧُﻮﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ

dalam Surah An-Nur. Dengan teropong iman aku memandang lapisan-lapisan terjauh Ayat Hasbiye ini, dan dengan mikroskop kesadaran iman memandang rahasia-rahasianya yang paling halus. Aku melihat:

Sebagaimana cermin, kaca, benda-benda bening, bahkan gelembung memperlihatkan keelokan tersembunyi dan beragam dari cahaya matahari, serta berbagai keindahan tujuh warnanya yang disebut elvan-ı seb'a, melalui pembaruan, gerak, kemampuan yang berbeda, dan pembiasan cahaya pada benda-benda itu, semuanya memperbarui keelokan serta keindahan tersebut. Melalui pembiasan cahaya itu, semuanya memperlihatkan dengan indah keindahan tersembunyi matahari, cahayanya, serta tujuh warnanya.

Persis demikian, untuk menjadi cermin bagi Keelokan Suci Sang Jamîl Dzul-Jalâl, Sang Matahari Azali dan Kekal Selamanya, serta Keindahan Yang Kekal Selamanya dari Asma-Nya Yang Indah Tanpa Batas, dan untuk memperbarui manifestasi Asma tersebut, ciptaan-ciptaan indah,

makhluk-makhluk manis, serta wujud-wujud elok ini terus datang dan pergi tanpa berhenti. Keindahan serta keelokan yang terlihat pada mereka bukan milik mereka sendiri, melainkan isyarat, tanda, kilau, dan manifestasi Keelokan Yang Kekal Selamanya serta Suci, Yang ingin tampak, dan Keindahan Yang Tak Terikat Materi serta Mahasuci, Yang terus menampakkan Tajalli dan ingin terlihat. Begitu banyak dalil kuat tentang hal ini dijelaskan secara terperinci dalam Risale-i Nur. Di sini, tiga dari dalil-dalil itu disebutkan dengan singkat serta sangat masuk akal, demikian penjelasan itu dimulai.

Setiap orang dengan cita rasa yang baik yang melihat risalah ini merasa heran. Selain mengambil manfaat sendiri, mereka merasa perlu berusaha agar orang lain juga mengambil manfaat. Terutama dalam dalil kedua, lima pokok dijelaskan. Orang yang akalnya tidak rusak dan hatinya tidak buruk tentu akan menghargai, memuji, serta menyetujui dengan berkata “Mâşâallah, fetebârekellah”. Ia akan memahami dan membenarkan bahwa hal itu merupakan mukjizat luar biasa yang mengangkat tubuhnya yang dianggap serba membutuhkan serta hina.

Harapan Kelima Belas

{(Catatan kaki): Karena masa penulisan Nur telah berakhir tiga tahun sebelumnya, Harapan Kelima Belas ini ditulis sebagai sumber bagi seorang murid Nur kelak untuk melengkapi—menulis—İhtiyarlar Lem'ası.}

Pada suatu waktu, ketika ditetapkan tinggal di Emirdağı dan berada sendirian dalam suatu tempat tinggal, hampir sebagai kurungan sendirian, pengawasan serta penindasan yang sangat berat bagiku membuatku tersiksa. Aku menjadi jemu terhadap kehidupan dan menyesal telah keluar dari penjara. Dengan seluruh jiwa serta raga, aku menginginkan Penjara Denizli dan ingin masuk ke kubur. Dengan berkata, “Penjara dan kubur lebih baik daripada cara hidup ini,” ketika memutuskan akan masuk penjara atau kubur, Pertolongan Ilahi datang menolong. Pertolongan itu memberikan mesin pengganda yang baru muncul ke tangan murid-murid Medresetü'z-Zehra, yang pena-penanya merupakan mesin pengganda. Tiba-tiba, dari masing-masing kumpulan Nur yang berharga, melalui satu pena muncul lima ratus salinan. Kemenangan-kemenangan yang mulai mereka raih membuatku mencintai kehidupan yang penuh kesusahan itu dan berkata, “Syukur tanpa batas.”

Beberapa waktu kemudian, musuh-musuh tersembunyi Risale-i Nur tidak dapat menanggung kemenangan-kemenangan Nur. Mereka menggerakkan pemerintah untuk menentang kami. Kehidupan kembali menjadi berat bagiku. Tiba-tiba, Pertolongan Rabb menampakkan Tajalli. Para pegawai yang terlibat, yang paling membutuhkan Nur, karena tugas mereka membaca Risalah Nur yang disita dengan penuh minat serta perhatian,

dan menelitinya. Namun, Nur membuat hati mereka menjadi pendukungnya. Ketika mereka mulai menghargai sebagai ganti mengkritik, ruang pelajaran Nur menjadi sangat luas. Hal ini memberikan manfaat seratus kali lebih besar daripada kerugian materi kami dan membuat kecemasan yang menyusahkan menjadi tidak berarti.

Kemudian, musuh-musuh munafik yang tersembunyi mengarahkan perhatian pemerintah kepada diriku. Mereka mengingatkan kehidupan politikku dahulu. Mereka menimbulkan sangkaan keliru pada pengadilan, Dinas Pendidikan, kepolisian, serta Kementerian Dalam Negeri. Melalui arus partai-partai dan hasutan kaum anarkis di balik kedok kaum komunis, sangkaan keliru itu meluas. Mereka mulai menekan, menahan kami, dan menyita risalah-risalah yang jatuh ke tangan mereka. Kegiatan murid-murid Nur terhenti. Dengan pikiran merusak diriku, sebagian pegawai resmi melontarkan tuduhan yang tidak akan dipercayai siapa pun. Mereka berusaha menyebarkan fitnah yang sangat aneh, tetapi tidak dapat membuat siapa pun percaya.

Kemudian, melalui alasan-alasan yang sangat sepele, mereka menahanku pada hari-hari paling dingin di tengah musim dingin, dan memenjarakanku dalam pengucilan sepenuhnya di ruang tahanan yang besar, sangat dingin, serta tanpa tungku selama dua hari. Dalam kamar kecilku, meskipun menyalakan tungku beberapa kali sehari dan api selalu ada di anglo, aku masih sulit bertahan karena kelemahan serta penyakit. Kini, dalam keadaan ini, ketika aku menggigil akibat dingin dan meronta di tengah kesusahan yang mengerikan serta kemarahan, melalui Pertolongan Ilahi suatu hakikat terbuka dalam hatiku.

Secara batin, ruhku diberi peringatan, “Engkau menamai penjara Medrese-i Yusufiye (Madrasah Yusufiyah). Di Denizli, hasil-hasil seperti rasa lega, keuntungan batin, manfaat Nur bagi para tahanan di sana, dan kemenangan Nur dalam lingkup besar, yang seribu kali melebihi kesusahan kalian, membuat kalian bersyukur ribuan kali sebagai ganti mengeluh. Semuanya menjadikan setiap jam penjara dan kesusahan setara dengan sepuluh jam ibadah, serta membuat jam-jam yang sementara itu tetap ada. İnşâallah, manfaat dan penghiburan yang diperoleh orang-orang tertimpa musibah dalam Madrasah Yusufiyah Ketiga ini dari Nur akan menghangatkan kesusahanmu yang dingin serta berat dan mengubahnya menjadi kegembiraan. Jika orang-orang yang membuatmu marah telah tertipu, mereka menzalimimu tanpa mengetahui. Mereka tidak layak dimarahi. Jika mereka menyakitimu dan menyiksamu dengan mengetahui, niat buruk, serta demi kesesatan, dalam waktu sangat dekat mereka akan masuk ke kurungan seorang diri dalam kubur melalui kematian yang merupakan lenyap untuk selama-lamanya, lalu menanggung azab menyusahkan yang terus berlangsung. Melalui kezaliman mereka, engkau memperoleh pahala, membuat jam-jam yang sementara tetap ada, memperoleh kenikmatan batin, dan menjalankan tugas ilmu serta agama dengan ikhlas!”

Aku pun berkata “Elhamdülillah” dengan seluruh kekuatanku. Melalui rasa kemanusiaan, aku merasa iba terhadap orang-orang zalim itu dan berdoa, “Yâ Rabbi! Perbaikilah mereka!”

Dalam peristiwa baru ini, seperti kutulis dalam pernyataanku kepada Kementerian Dalam Negeri, perlakuan mereka melanggar hukum dari sepuluh segi. Orang-orang zalim yang melanggar hukum atas nama hukum itu—merekalah sebenarnya yang bersalah—mencari alasan-alasan demikian. Melalui fitnah serta rekaan yang membuat pendengar tertawa dan pencinta kebenaran menangis, mereka menunjukkan kepada orang-orang yang berlaku adil bahwa dari segi hukum serta hak, mereka tidak menemukan peluang untuk mengganggu Risale-i Nur dan murid-muridnya, sehingga menempuh kegilaan.

Di antaranya: Karena pegawai-pegawai yang memata-matai kami selama sebulan tidak dapat menemukan alasan apa pun, mereka menulis sebuah catatan, “Orang yang berkhidmah kepada Said membeli minuman keras rakı dari sebuah toko dan membawanya kepadanya.” Karena tidak dapat menemukan siapa pun untuk menandatangani catatan itu, mereka akhirnya menangkap seorang liar dan mabuk, lalu berkata dengan mengancam, “Mari, tanda tangani ini!” Orang itu berkata, “Tobat, berkali-kali tobat! Siapa yang dapat menandatangani kebohongan aneh ini?” Ia memaksa mereka merobek catatan tersebut.

Contoh kedua: Seseorang yang tidak kukenal dan sampai sekarang pun belum kukenal menyediakan kudanya untuk membawaku berjalan-jalan. Karena sakit, pada sebagian besar hari di musim panas aku berjalan-jalan selama satu atau dua jam dengan tujuan menghirup udara. Aku berjanji memberi pemilik kuda dan kereta itu kitab senilai lima puluh lira, agar kaidahku tidak rusak dan aku tidak merasa berutang budi. Adakah kemungkinan bahaya apa pun dalam hal ini? Padahal, gubernur, petugas pengadilan, petugas keamanan, dan polisi bertanya kepada kami lima puluh kali, “Kuda itu milik siapa?” Seolah-olah ini peristiwa politik yang besar dan berkaitan dengan ketertiban. Bahkan, agar pertanyaan-pertanyaan tanpa arti ini berhenti, dua orang dengan semangat membantu berkata, yang satu, “Kuda itu milikku,” dan yang lain, “Kereta itu milikku.” Karena itu, mereka menahan keduanya bersama aku.

Seperti contoh-contoh ini, kami menyaksikan banyak permainan anak-anak, lalu menangis sambil tertawa dan memahami bahwa orang-orang yang mengganggu Risale-i Nur serta murid-muridnya akan menjadi bahan tertawaan.

Suatu percakapan halus dari contoh-contoh itu: Karena pada surat penahananku tertulis alasan tuduhan melanggar keamanan, sebelum melihat catatan tersebut aku berkata kepada jaksa, “Semalam aku melakukan gibah tentangmu.” Kepada seorang polisi yang memintaku berbicara atas nama Kepala Keamanan, aku berkata, “Jika di negeri ini aku tidak melakukan khidmah bagi keamanan

umum sebesar seribu jaksa dan seribu kepala keamanan, semoga Allah سُبْحَانَهُ membinasakanku!”—tiga kali.

Kemudian, pada saat ini, dalam dingin ini, ketika aku sangat membutuhkan istirahat, tidak kedinginan, dan tidak memikirkan dunia, muncul rasa kecewa serta marah yang luar biasa terhadap mereka yang, dengan cara yang menunjukkan niat buruk dan kesengajaan, mendorongku kepada pemindahan paksa, pengucilan, penahanan, serta tekanan yang melampaui daya tahanku. Suatu Pertolongan datang menolong. Secara batin, hati diberi peringatan:

Dalam kezaliman manusia itu sendiri terhadapmu, terdapat bagian besar dari Takdir Ilahi yang merupakan Keadilan itu sendiri. Dalam penjara ini terdapat rezeki yang akan engkau makan. Rezeki itu memanggilmu ke sini. Hendaknya engkau menanggapinya dengan rela dan berserah diri.

Hikmah serta Rahmat Rabb juga memiliki bagian besar: menerangi dan menghibur orang-orang dalam penjara ini, serta memberi kalian pahala. Terhadap bagian ini, hendaknya bersyukur ribuan kali dalam kesabaran.

Nafsumu juga memiliki bagian melalui kesalahan-kesalahannya yang tidak engkau ketahui. Terhadap bagian itu, melalui istigfar dan tobat, engkau harus berkata kepada nafsumu, “Engkau pantas mendapat tamparan ini!”

Musuh-musuh tersembunyi juga memiliki bagian melalui tipu daya yang menyesatkan beberapa pegawai yang polos serta penuh sangkaan, lalu mendorong mereka kepada kezaliman tersebut. Terhadap hal ini, tamparan-tamparan batin mengerikan yang diberikan Risale-i Nur kepada orang-orang munafik itu telah sepenuhnya membalas mereka atas kezaliman terhadapmu. Hal itu cukup bagi mereka.

Bagian terakhir ialah pegawai-pegawai resmi yang secara langsung menjadi perantara. Terhadap bagian ini, demi manfaat iman yang pasti mereka peroleh ketika, mau tidak mau, membaca Nur dengan niat mengkritik, memaafkan mereka melalui prinsip

ﻭَﺍﻟْﻜَﺎﻇِﻤ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﻐَﻴْﻆَ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻓ۪ﻴﻦَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ

merupakan sikap berjiwa besar.

Melalui peringatan yang benar ini, dengan rasa lega dan syukur penuh, aku memutuskan tinggal dalam Madrasah Yusufiyah yang baru ini, bahkan melakukan pelanggaran yang tidak membahayakan tetapi membuatku mendapat hukuman, agar membantu orang-orang yang menentangku.

Selain itu, aku berusia tujuh puluh lima tahun dan tidak memiliki ikatan duniawi. Dari tujuh puluh sahabat yang kucintai di dunia, hanya lima yang masih hidup. Tujuh puluh ribu salinan Nur yang akan menjalankan tugas Nur tetap ada dan

beredar bebas. Aku pun memiliki saudara-saudara dan pewaris yang akan melakukan khidmah iman melalui ribuan lisan sebagai ganti satu lisan. Bagi orang sepertiku, kubur seratus kali lebih baik daripada penjara ini. Penjara ini pun seratus kali lebih nyaman dan bermanfaat daripada kebebasan di luar yang berada di bawah penindasan tanpa kebebasan. Sebab, sebagai ganti seorang diri menanggung penindasan ratusan pegawai terkait di luar, dalam penjara bersama ratusan tahanan ia hanya harus menanggung penguasaan ringan satu atau dua orang, seperti kepala dan kepala sipir, demi suatu manfaat. Sebagai gantinya, ia menerima penghargaan persaudaraan serta penghiburan dari banyak sahabat dalam penjara. Selain itu, kasih sayang Islam dan fitrah manusia memberikan belas kasih kepada orang lanjut usia dalam keadaan ini, sehingga mengubah kesulitan penjara menjadi rahmat. Dengan memahami ini, aku rela terhadap penjara.

Ketika datang ke pengadilan ketiga ini, karena lemah, lanjut usia, dan sakit, aku kesulitan berdiri, sehingga duduk di kursi di luar pintu pengadilan. Tiba-tiba, seorang hakim datang, marah, dan berkata dengan menghina, “Mengapa ia tidak menunggu sambil berdiri?” Karena masa tua, aku marah terhadap sikap tidak berbelas kasih ini. Tiba-tiba, aku melihat begitu banyak Muslim berkumpul di sekitar kami, memandang dengan kasih sayang, persaudaraan, serta belas kasih penuh dan tidak dapat dibubarkan. Tiba-tiba, “dua hakikat” diingatkan:

Yang pertama: Musuh-musuh tersembunyi yang memusuhi diriku serta Nur menipu beberapa pegawai resmi yang polos, dengan pikiran bahwa mengurangi simpati masyarakat kepadaku, padahal tidak kuminta, akan menghalangi kemenangan Nur. Dengan keinginan merusak diriku dalam pandangan bangsa, mereka mendorong pegawai itu memperlakukanku dengan penghinaan seperti ini. Sebagai tanggapan, Pertolongan Ilahi memberikan karunia atas khidmah iman Nur: Sebagai ganti penghinaan satu orang itu, lihatlah seratus orang ini! Dengan menghargai khidmah kalian, merasa iba penuh kasih sayang, serta perhatian, mereka menyambut dan mengantar kalian.

Bahkan, pada hari kedua, ketika aku menjawab pertanyaan jaksa di ruang hakim penyidik, sekitar seribu penduduk berkumpul dengan perhatian penuh di halaman pemerintah, menghadap jendela-jendela pengadilan. Melalui bahasa keadaan, mereka seolah-olah menyatakan, “Jangan menyusahkan mereka!” Polisi tidak dapat membubarkannya. Hatiku diberi peringatan:

Penduduk ini menginginkan penghiburan yang utuh, cahaya yang tidak dapat dipadamkan, iman yang kuat, dan kabar gembira yang benar tentang kebahagiaan yang kekal pada abad yang berbahaya ini,

serta mencarinya secara fitrah. Mereka mendengar bahwa yang dicari terdapat dalam Risalah Nur, sehingga memberikan penghargaan kepada diriku yang tidak berarti jauh melampaui kelayakanku, karena sedikit khidmahku kepada iman.

Hakikat kedua: Sebagai tanggapan terhadap perlakuan buruk sejumlah kecil orang yang tertipu, yang menghina kami dengan sangkaan bahwa kami melanggar keamanan dan dengan tujuan mengurangi simpati masyarakat, terdapat tepuk tangan penghargaan para ahli hakikat yang tak terhitung serta generasi mendatang, demikian peringatan itu diberikan.

Ya, ketika anarki di balik kedok komunisme berusaha secara mengerikan merusak keamanan umum, Risale-i Nur dan murid-muridnya melalui kekuatan iman yang pasti berdasarkan bukti menghentikan serta mematahkan kerusakan mengerikan itu di seluruh tanah air ini. Mereka berusaha menjamin keamanan dan ketertiban. Dalam dua puluh tahun ini, tiga atau empat pengadilan yang terkait dan petugas keamanan sepuluh provinsi tidak menemukan serta tidak mencatat satu peristiwa pelanggaran keamanan dari murid-murid Nur, yang sangat banyak serta berada di seluruh negeri. Sebagian petugas keamanan yang berlaku adil di tiga provinsi berkata:

“Murid-murid Nur merupakan petugas keamanan secara batin. Mereka membantu kami menjaga ketertiban. Dengan iman yang pasti berdasarkan bukti, mereka menempatkan penjaga larangan dalam pikiran setiap orang yang membaca Nur dan berusaha menjamin keamanan.”

Salah satu contohnya ialah Penjara Denizli. Dengan masuknya Nur dan Risalah Buah yang ditulis bagi para tahanan itu, dalam tiga atau empat bulan lebih dari dua ratus tahanan memperoleh perubahan yang demikian luar biasa, patuh, dan saleh dalam agama sehingga seorang yang telah membunuh tiga atau empat orang enggan membunuh kutu busuk. Ia mulai menjadi anggota masyarakat yang sepenuhnya berbelas kasih, tidak membahayakan, dan bermanfaat bagi tanah air. Bahkan, pegawai resmi memandang keadaan ini dengan heran serta menghargai. Sebagian pemuda yang belum menerima vonis berkata, “Jika murid-murid Nur tetap di penjara, kami akan membuat diri kami dihukum dan berusaha mendapat hukuman agar belajar dari mereka serta menjadi seperti mereka. Melalui pelajaran mereka, kami akan memperbaiki diri.”

Orang-orang yang menuduh murid Nur, yang memiliki sifat seperti ini, melanggar keamanan tentu telah tertipu atau ditipu dengan sangat buruk, atau—dengan mengetahui maupun tanpa mengetahui—menyesatkan pemerintah demi anarki dan berusaha menghancurkan kami melalui siksaan.

Terhadap mereka kami berkata: Karena kematian tidak dibunuh, kubur tidak ditutup, dan para pengembara di tempat bertamu dunia masuk ke belakang tanah serta menghilang dengan sangat cepat dan tergesa, rombongan demi rombongan, tentu dalam waktu sangat dekat kita akan berpisah. Kalian akan melihat hukuman kezaliman kalian

dengan cara mengerikan. Setidaknya, kalian akan naik ke tiang gantungan lenyap untuk selama-lamanya dari kematian, yang bagi ahli iman yang dizalimi merupakan surat pembebasan. Kenikmatan yang sementara yang kalian peroleh di dunia dengan menyangka kekal akan berubah menjadi penderitaan yang tetap ada dan menyakitkan.

Sangat disayangkan, musuh-musuh munafik yang tersembunyi terkadang memberi nama “tarekat” kepada hakikat Islam, yang diperoleh serta dijaga melalui darah dan pedang ratusan juta syahid pada kedudukan wali serta pejuang perkasa bangsa yang taat beragama ini. Mereka menunjukkan corak tarekat, yang hanya satu sinar matahari tersebut, sebagai matahari itu sendiri. Dengan menipu beberapa pegawai pemerintah yang kurang teliti dan memberi nama “penganut tarekat” serta “anggota perkumpulan politik” kepada murid-murid Nur yang bekerja dengan pengaruh kuat bagi hakikat Al-Qur'an serta hakikat-hakikat iman, mereka ingin menggerakkannya untuk menentang kami. Seperti dikatakan dalam pengadilan Denizli yang adil, kami berkata kepada mereka dan orang-orang yang mendengarkan mereka untuk menentang kami:

“Semoga kepala kami juga dikorbankan bagi suatu hakikat suci yang demi dirinya ratusan juta kepala telah berkorban. Meskipun kalian menjadikan dunia api di atas kepala kami, kepala-kepala yang dikorbankan bagi hakikat Al-Qur'an tidak akan menyerahkan senjata kepada paham zindik dan tidak akan meninggalkan tugas sucinya, inşâallah!”

Melalui penghiburan-penghiburan suci dari iman dan Al-Qur'an yang datang menolong penderitaan serta putus asa dalam perjalanan masa tuaku, aku tidak akan menukar satu tahun paling sulit dalam masa tua ini dengan sepuluh tahun paling lapang dalam masa muda. Terutama dalam penjara, setiap jam orang yang menunaikan salat fardu dan bertobat menjadi setara dengan sepuluh jam ibadah. Dalam penyakit serta keadaan dizalimi, setiap hari yang sementara juga memberikan sepuluh hari umur yang tetap ada dari segi pahala. Melalui peringatan batin itu, aku mengetahui betapa hal ini menjadi sarana syukur bagi orang sepertiku yang menantikan giliran di pintu kubur. Aku berkata, “Syukur tanpa batas kepada Rabb-ku!” Aku bergembira atas masa tua dan rela terhadap penjaraku.

Sebab, umur tidak berhenti, pergi dengan cepat. Jika berlalu dengan kenikmatan serta rasa lega, karena lenyapnya kenikmatan adalah penderitaan, umur berlalu dan pergi, meninggalkan sesal, tidak bersyukur, kelalaian, serta sebagian dosa sebagai gantinya. Jika berlalu dalam penjara serta kesulitan, karena berakhirnya penderitaan menjadi kenikmatan batin dan dianggap semacam ibadah, dari satu segi umur tetap ada dan melalui buah-buah kebaikannya memberi umur yang tetap ada. Hal itu menjadi penghapus dosa-dosa masa lalu serta kesalahan yang menyebabkan penjara, dan membersihkannya. Dari sudut pandang ini, tahanan yang menunaikan kewajiban fardu harus bersyukur dalam kesabaran.