Risale-i NurSinar-Sinar

Ada lima sebab yang menyulitkan pemahaman terhadap risalah ini:

Sinar-Sinar · hlm. 109

PERTAMA: Aku menulis hal-hal yang kusaksikan sendiri menurut pemahamanku sendiri dan untuk diriku sendiri. Aku tidak menulisnya menurut pemahaman dan tanggapan orang lain sebagaimana kitab-kitab yang lain.

KEDUA: Karena tauhid hakiki ditulis dalam bentuk yang teragung dengan pancaran Ismul A'zham, persoalan-persoalannya sangat luas sekaligus sangat dalam, dan kadang sangat panjang, sehingga tidak setiap orang dapat meliputinya sekaligus.

KETIGA: Karena setiap persoalan merupakan sebuah hakikat yang besar lagi panjang, maka agar hakikat itu tidak terpecah-pecah, kadang satu halaman atau satu lembar

menjadi satu kalimat saja. Dan dalam kedudukan satu dalil terdapat banyak mukadimah.

KEEMPAT: Karena masing-masing dari kebanyakan persoalannya memiliki teramat banyak dalil dan hujah, maka dari segi menjadikan kadang sepuluh, kadang dua puluh dalil sebagai satu burhan, persoalan itu pun memanjang; pemahaman yang pendek tidak dapat menangkapnya.

KELIMA: Meskipun aku memperoleh cahaya-cahaya risalah ini dengan limpahan berkah Ramadan, risalah ini ditulis dengan tergesa-gesa pada suatu masa ketika keadaanku porak-poranda dari beberapa segi dan tubuhku terguncang oleh beberapa penyakit, lalu dicukupkan dengan naskah buram yang pertama. Selain itu, pada waktu aku menuliskannya aku merasa bahwa hal itu tidak terjadi dengan iradah dan pilihanku sendiri, sehingga aku tidak memandang tepat untuk menatanya atau memperbaikinya dengan pikiranku sendiri; karena itu ia mengambil keadaan yang sedikit menyulitkan pemahaman. Selain itu, banyak potongan berbahasa Arab yang masuk ke dalamnya. Bahkan karena Maqam Pertamanya seluruhnya berbahasa Arab, ia dikeluarkan dari dalamnya dan ditulis tersendiri.

Beserta lima sebab yang menjadi sumber kekurangan dan kesulitan ini, risalah ini memiliki kepentingan sedemikian rupa sehingga Imam Ali (ra) di dalam karamah gaibnya memberikan kepada risalah ini nama "Ayatul Kubra" dan "Asa-yı Musa" (Tongkat Musa). Beliau memandangnya secara khusus di antara risalah-risalah Risale-i Nur dan menarik perhatian kepadanya. {(Catatan kaki): Ya, kabar yang diberikan Imam Ali (ra) tentang Ayatul Kubra benar-benar dibenarkan oleh peristiwa Denizli. Sebab pencetakan risalah ini secara diam-diam menjadi sebab dipenjarakannya kami, dan menangnya hakikatnya yang suci lagi sangat kuat itu menjadi sebab penting bagi pembebasan dan keselamatan kami. Hal itu juga memperlihatkan karamah gaib Imam Ali (ra) kepada mata kepala, serta membuktikan dikabulkannya doa وَ بِالْاٰيَةِ الْكُبْرٰى اَمِنّ۪ى مِنَ الْفَجَتْ tentang kami.} Risalah Ayatul Kubra ini, yang merupakan tafsir hakiki dari "Al-Ayatul Kubra", adalah kitab "Sinar Ketujuh" yang menurut istilah Sayidina Imam (ra) bernama "Asa-yı Musa".

"Sinar Ketujuh" ini terdiri atas satu mukadimah dan dua maqam. Mukadimahnya menjelaskan empat persoalan yang penting; Maqam Pertamanya menjelaskan bagian berbahasa Arab dari tafsir Ayatul Kubra; dan Maqam Keduanya menjelaskan burhan-burhannya, terjemahannya, serta maknanya.

Mukadimah yang akan datang ini, di samping dijelaskan melebihi keperluan, panjangnya sampai pada derajat tertentu itu pun terjadi tanpa pilihanku. Berarti memang ada keperluan sehingga ia dituliskan demikian. Bahkan boleh jadi sebagian orang justru memandang yang panjang ini sebagai sesuatu yang pendek.