Aku pun menjawab:
Sinar-Sinar · hlm. 235
Selama engkau, demi kelezatan dan kesenangan, tidak mau mengingat kematian lalu menceburkan diri ke dalam jalan yang sesat dan foya-foya, ketahuilah dengan pasti bahwa menurut ketentuan jalan sesat yang engkau tempuh itu seluruh masa lalu yang telah lewat adalah sesuatu yang telah mati dan tidak ada sama sekali, dan ia adalah pekuburan mencekam yang di dalamnya jenazah-jenazah telah membusuk. Sebagaimana rasa pedih yang datang dari perpisahan-perpisahan tak terhingga itu dan dari kematian abadi sahabat-sahabatmu yang tak terhitung — yang menimpa kepalamu dan, jika masih ada dan belum mati, menimpa kalbumu, karena engkau terpaut dengan sesama manusia dan lewat jalan sesat itu — telah melenyapkan kelezatan juz'i-mu yang seperti mabuk dan hanya sesaat itu; demikian pula masa depan yang akan datang, dari segi engkau tidak beriman, juga merupakan padang liar yang tidak ada, gelap, mati, dan mengerikan. Dan karena kepala orang-orang malang yang datang dari sana, yang mengeluarkan kepalanya ke alam wujud lalu singgah di masa kini, dipenggal dengan golok algojo ajal dan dilemparkan ke dalam kehampaan, maka masa depan itu terus-menerus — lewat kaitan akal — menghujani kepalamu yang tidak beriman itu dengan kecemasan-kecemasan pedih yang tak terhingga. Ia memporakporandakan kelezatan juz'i-mu yang penuh foya-foya itu.
Jika engkau meninggalkan jalan yang sesat dan foya-foya lalu masuk ke dalam lingkaran iman tahkiki dan istikamah, dengan cahaya iman engkau akan melihat bahwa masa lalu yang telah lewat itu bukanlah sesuatu yang tidak ada dan bukan pekuburan yang membusukkan segala sesuatu, melainkan sebuah alam bercahaya yang ada dan yang beralih menuju masa depan, serta sebuah ruang tunggu bagi ruh-ruh yang kekal untuk memasuki istana-istana kebahagiaan di masa depan; dari segi ini ia bukan mendatangkan rasa pedih, bahkan sesuai dengan kekuatan iman ia mencicipkan semacam kelezatan maknawi surga bahkan di dunia ini. Demikian pula masa depan yang akan datang, ia bukanlah padang liar dan tempat yang gelap; bahkan dengan mata iman tampaklah bahwa di istana-istana kebahagiaan abadi telah digelar jamuan-jamuan Sang Rahmân lagi Rahîm, Dzul-Jalâli wal-Ikrâm — Zat yang memiliki rahmat dan kemurahan tak terhingga, yang menjadikan setiap musim semi dan musim panas sebagai satu hidangan lalu memenuhinya dengan aneka nikmat — dan telah dibuka pameran-pameran karunia-Nya, serta ada pengiriman ke sana; karena engkau menyaksikan hal itu dengan sinema iman, engkau dapat merasakan semacam kelezatan alam yang kekal sesuai dengan tingkatanmu.
Jadi, kelezatan yang hakiki dan tanpa rasa pedih hanya ada di dalam iman dan hanya dapat diperoleh dengan iman.
Dari ribuan faedah dan hasil yang diberikan iman bahkan di dunia ini, kami akan menerangkan satu faedah dan kelezatannya saja — sehubungan dengan pembahasan kita yang telah disebutkan tadi — melalui sebuah perumpamaan yang ditulis sebagai catatan kaki di dalam Panduan Pemuda. Yaitu sebagai berikut:
Misalnya, ketika satu-satunya anakmu yang sangat engkau cintai sedang sekarat hendak meninggal dunia, dan engkau dengan putus asa memikirkan perpisahan abadi yang pedih dengannya, tiba-tiba datanglah seorang dokter laksana Nabi Khidir dan Luqman Al-Hakîm, lalu meminumkan kepadanya sebuah ramuan bagaikan penawar. Anakmu yang manis dan elok itu pun membuka matanya dan selamat dari kematian. Engkau tentu memahami betapa besar kegembiraan dan kelegaan yang ditimbulkannya.
Nah, ketika jutaan manusia yang engkau cintai seperti anak itu dan yang sungguh-sungguh engkau perhatikan — menurut pandanganmu — hampir membusuk dan lenyap di pekuburan masa lalu itu, tiba-tiba hakikat iman, laksana Luqman Al-Hakîm, memberikan seberkas cahaya dari jendela kalbu kepada pekuburan yang disangka sebagai rumah eksekusi mati yang besar itu. Dengan cahaya itu, seluruh orang mati hidup kembali dari ujung ke ujung. Dan karena mereka berkata dengan lisan keadaan, "Kami tidak mati dan tidak akan mati; kami akan berjumpa lagi dengan kalian," maka kegembiraan dan kelegaan tak terhingga yang engkau peroleh dari perkataan itu — yang diberikan iman bahkan di dunia ini — membuktikan bahwa:
Hakikat iman adalah sebutir benih sedemikian rupa sehingga, seandainya ia mewujud dalam bentuk yang kasatmata, dari benih itu akan keluar sebuah surga khusus, dan surga itu menjadi pohon Tuba baginya. Demikianlah kataku.
Orang yang keras kepala itu berbalik dan berkata: "Setidak-tidaknya kami akan hidup seperti binatang, menghabiskan hidup kami dengan kesenangan dan kelezatan, dengan foya-foya dan hiburan, tanpa memikirkan perkara-perkara yang halus ini."
Aku menjawab: "Engkau tidak dapat menjadi seperti binatang. Sebab binatang tidak memiliki masa lalu dan masa depan. Ia tidak menerima rasa pedih dan penyesalan dari masa lalu, dan tidak pula datang kepadanya kecemasan dan ketakutan dari masa depan. Ia mengambil kelezatannya dengan penuh. Ia hidup dengan tenang, lalu berbaring. Ia bersyukur kepada Khâliq-nya. Bahkan seekor binatang yang direbahkan untuk disembelih tidak merasakan apa-apa. Ia hanya hendak merasakan ketika pisau memotong, tetapi rasa itu pun hilang. Ia terlepas juga dari rasa pedih itu. Jadi, rahmat yang paling besar dan kasih sayang Ilahi adalah tidak diberitahukannya perkara gaib dan ditutupinya hal-hal yang akan menimpa. Terlebih lagi terhadap binatang-binatang yang tidak berdosa, hal itu lebih sempurna lagi. Tetapi wahai manusia, karena akalmu membuat masa lalu dan masa depanmu sampai batas tertentu tidak lagi tersembunyi, engkau sama sekali tidak mendapat ketenangan yang diperoleh binatang dari tertutupnya yang gaib itu. Penyesalan yang keluar dari masa lalu, perpisahan-perpisahan yang pedih, serta ketakutan dan kecemasan yang datang dari masa depan menjadikan kelezatan juz'i-mu tidak berarti apa-apa. Dari segi kelezatan, semuanya menjatuhkanmu seratus derajat lebih rendah daripada binatang. Selama hakikatnya demikian, cabutlah akalmu lalu buang; jadilah binatang dan selamatlah — atau sadarkanlah akalmu dengan iman, dengarkanlah Al-Qur'an. Raihlah kelezatan-kelezatan yang jernih, seratus derajat lebih banyak daripada binatang, bahkan di dunia yang fana ini!" Demikianlah aku mematahkan hujahnya.
Sekali lagi orang yang membangkang itu berbalik dan berkata: "Setidak-tidaknya kami akan hidup seperti orang-orang tak beragama dari bangsa asing."
Aku menjawab: "Engkau juga tidak dapat menjadi seperti orang-orang tak beragama dari bangsa asing. Sebab jika mereka mengingkari seorang nabi, mereka masih dapat beriman kepada nabi-nabi yang lain. Jika mereka tidak mengenal para nabi, mereka masih dapat beriman kepada Allah. Jika ini pun tidak mereka ketahui, pada mereka masih dapat terdapat beberapa watak yang menjadi sumber kesempurnaan. Akan tetapi jika seorang Muslim mengingkari Nabi Akhir Zaman صلى الله عليه وسلم — nabi yang paling akhir dan paling agung, yang agama dan dakwahnya bersifat menyeluruh — lalu melepaskan diri dari rantainya, ia tidak akan lagi menerima nabi mana pun, bahkan tidak menerima Allah. Sebab seluruh nabi, Allah, dan segala kesempurnaan ia kenal melalui beliau. Semua itu tidak akan tinggal di dalam kalbunya tanpa beliau. Karena inilah, sejak dahulu orang-orang dari setiap agama masuk ke dalam Islam. Dan tidak ada seorang Muslim pun yang menjadi Yahudi, Majusi, atau Nasrani yang sejati. Ia justru menjadi orang tak beragama, wataknya rusak, lalu masuk ke dalam keadaan yang membahayakan tanah air dan bangsa." Demikianlah aku membuktikannya. Orang yang keras kepala dan membangkang itu tidak lagi memiliki tempat berpegang. Ia lenyap, pergi ke neraka.
Wahai teman-teman sepelajaranku di Madrasah Yusufiyah ini! Selama hakikatnya demikian, dan selama Risale-i Nur telah membuktikan hakikat ini sedemikian pasti dan seterang matahari sehingga selama dua puluh tahun ia mematahkan kekerasan hati orang-orang yang membangkang lalu membawa mereka kepada iman; maka kita pun hendaknya menempuh jalan iman dan istikamah — yang benar-benar bermanfaat, mudah, dan selamat bagi dunia kita, masa depan kita, akhirat kita, tanah air kita, dan bangsa kita — dan hendaknya kita berusaha, dengan amal-amal saleh berupa: mengisi waktu luang kita, sebagai ganti dari lamunan-lamunan yang menyesakkan, dengan membaca surah-surah Al-Qur'an yang kita ketahui serta mempelajarinya dari teman-teman yang mengetahui maknanya; mengqada salat-salat fardu kita yang tertinggal; mengambil manfaat dari akhlak baik satu sama lain; dan mengubah penjara ini menjadi kebun penuh berkah yang menumbuhkan tunas-tunas berwatak mulia — supaya para direktur penjara dan pihak-pihak terkait bukan menjadi petugas-petugas azab laksana zabaniyah di atas kepala para penjahat dan pembunuh, melainkan menjadi guru-guru yang lurus dan pembimbing-pembimbing yang penuh kasih sayang, yang bertugas menyiapkan manusia untuk surga di Madrasah Yusufiyah ini dan mengawasi pendidikan mereka.