Saripati sebuah peristiwa penuh pelajaran yang penjelasannya terdapat di dalam Panduan Pemuda adalah sebagai berikut:
Sinar-Sinar · hlm. 234
Suatu waktu, pada sebuah Hari Raya Republik, aku sedang duduk di jendela Penjara Eskişehir. Gadis-gadis besar dari sekolah menengah di seberangnya sedang menari sambil tertawa di halaman sekolah itu.
Tiba-tiba, melalui sebuah layar bioskop maknawi, keadaan mereka lima puluh tahun kemudian tampak kepadaku. Dan aku melihat bahwa dari lima puluh enam puluh gadis dan murid itu, empat puluh lima puluh orang telah menjadi tanah di dalam kubur dan sedang menanggung azab. Sedangkan sepuluh orang lainnya telah menjadi buruk rupa pada usia tujuh puluh delapan puluh tahun; karena tidak menjaga kehormatan dirinya pada masa muda, mereka justru mendapati kebencian pada pandangan-pandangan yang dahulu mereka harapkan penuh cinta. Semua itu aku saksikan dengan pasti. Aku menangis melihat keadaan mereka yang menyedihkan itu. Sebagian kawan di penjara mendengar tangisku. Mereka datang dan bertanya. Aku berkata: Sekarang biarkanlah aku sendiri, pergilah kalian.
Ya, apa yang kulihat itu adalah hakikat, bukan khayalan. Sebagaimana akhir dari musim panas dan musim gugur ini adalah musim dingin, demikian pula di belakang musim panas masa muda dan musim gugur masa tua terdapat musim dingin kubur dan alam barzakh. Sebagaimana peristiwa-peristiwa masa lalu lima puluh tahun yang silam dapat diperlihatkan pada masa kini dengan sinema, seandainya ada pula sebuah sinema yang memperlihatkan peristiwa-peristiwa masa depan lima puluh tahun kemudian, lalu keadaan orang-orang yang sesat dan berfoya-foya lima puluh enam puluh tahun kemudian diperlihatkan kepada mereka, niscaya mereka akan menangis dengan penuh kebencian dan rasa pedih terhadap tawa mereka sekarang dan terhadap kesenangan-kesenangan mereka yang tidak dibenarkan syariat.
Ketika aku sedang tenggelam dalam apa yang kusaksikan di Penjara Eskişehir itu, sebuah pribadi maknawi yang menganjurkan dan menyebarkan foya-foya serta jalan yang sesat berdiri menghadangku laksana setan dari kalangan manusia, lalu berkata: "Kami ingin merasakan dan mencicipkan setiap ragam kelezatan dan kesenangan hidup ini; jangan campuri urusan kami."