SARIPATI PERSOALAN KEDUA
Sinar-Sinar · hlm. 230
Sebagaimana dijelaskan dengan indah oleh Panduan Pemuda (Gençlik Rehberi) dari Risale-i Nur, kematian itu demikian pasti dan nyata sehingga ia akan menimpa kita seperti datangnya malam pada hari ini dan datangnya musim dingin setelah musim gugur ini. Sebagaimana penjara ini merupakan rumah singgah sementara bagi orang-orang yang terus-menerus keluar dan masuk, demikian pula permukaan bumi ini adalah sebuah penginapan tempat kafilah-kafilah yang bergerak dengan tergesa-gesa singgah semalam di tengah perjalanan mereka, lalu berangkat lagi. Kematian yang mengosongkan setiap kota ke pekuburan seratus kali, sudah pasti memiliki suatu maksud yang lebih besar daripada kehidupan. Maka teka-teki hakikat yang dahsyat ini telah dipecahkan dan disingkapkan oleh Risale-i Nur. Sebuah saripatinya yang teramat singkat adalah sebagai berikut:
Selama kematian tidak dapat dibunuh dan pintu kubur tidak dapat ditutup, sudah pasti — jika ada jalan untuk selamat dari tangan algojo ajal ini dan dari kurungan sendirian di dalam kubur — hal itu merupakan kekhawatiran terbesar manusia dan persoalannya yang berada di atas segala sesuatu. Ya, jalannya ada; dan Risale-i Nur, dengan rahasia Al-Qur'an, telah membuktikan jalan itu secara pasti sampai pada derajat dua kali dua sama dengan empat. Saripatinya yang teramat singkat adalah sebagai berikut:
Kematian itu adakalanya merupakan hukuman mati abadi, yaitu sebuah tiang gantungan yang akan menggantung manusia itu sekaligus seluruh sahabat dan kerabatnya. Atau adakalanya ia merupakan surat pelepasan tugas untuk pergi ke alam lain yang kekal dan untuk memasuki istana kebahagiaan dengan surat keterangan iman.
Adapun kubur, ia adakalanya merupakan kurungan sendirian yang gelap dan sebuah sumur tanpa dasar; atau adakalanya ia merupakan sebuah pintu yang terbuka dari penjara dunia ini menuju tempat jamuan dan taman yang kekal lagi bercahaya. Hakikat ini telah dibuktikan oleh "Panduan Pemuda" dengan sebuah perumpamaan.
Misalnya, di halaman penjara ini telah dipasang tiang-tiang gantungan untuk menggantung orang, dan di balik tembok tempat tiang-tiang itu bersandar telah didirikan sebuah kantor lotre yang sangat besar yang diikuti oleh seluruh dunia. Kami, lima ratus orang di penjara ini, sama sekali tidak ada yang dikecualikan dan tidak mungkin
selamat; kami akan dipanggil satu per satu ke lapangan itu. Di segala penjuru diumumkan: Adakalanya "Datanglah, ambil pengumuman hukuman matimu, naiklah ke tiang gantungan!" atau "Peganglah surat kurungan sendirian yang abadi, masuklah ke pintu yang terbuka ini!" atau "Kabar gembira untukmu! Tiket jutaan keping emas telah keluar untukmu, datang dan ambillah!" Dan kami pun melihat dengan mata kepala sendiri bahwa mereka naik ke tiang-tiang gantungan itu berturut-turut. Kami menyaksikan sebagian mereka digantung. Sebagian lain menjadikan tiang gantungan itu sebagai anak tangga lalu memasuki kantor lotre di balik tembok itu — dan hal itu kami ketahui seakan-akan melihatnya sendiri melalui kabar-kabar pasti dari para pegawai yang besar lagi sungguh-sungguh di sana. Pada saat itulah dua rombongan masuk ke penjara kami ini.
Satu kafilah membawa di tangan mereka alat-alat musik, arak, serta halwa dan baklava yang tampak sangat manis. Mereka berusaha menyuapkannya kepada kami. Namun manisan itu beracun; setan-setan dari jenis manusia telah menaburkan racun ke dalamnya.
Jemaah dan rombongan kedua membawa di tangan mereka kitab-kitab pendidikan, makanan halal, dan serbat-serbat yang penuh berkah. Mereka memberi kami hadiah, dan dengan sepakat, dengan sungguh-sungguh lagi pasti, mereka berkata: "Jika kalian mengambil dan memakan hadiah-hadiah rombongan pertama tadi yang diberikan untuk menguji kalian, kalian akan digantung di tiang-tiang gantungan yang ada di depan mata kami ini, seperti orang-orang lain yang telah kalian lihat. Namun jika kalian menerima hadiah-hadiah yang kami bawa dengan titah penguasa negeri ini sebagai ganti hadiah yang pertama, lalu kalian membaca doa-doa dan wirid-wirid yang ada di dalam kitab-kitab pendidikan itu, kalian akan selamat dari gantungan itu. Yakinilah — seakan-akan melihatnya sendiri dan seterang siang hari — bahwa di kantor lotre itu kalian masing-masing akan menerima tiket sejuta keping emas sebagai anugerah mulia dari sang raja. Dan jika kalian memakan manisan yang haram, syubhat, lagi beracun itu, kalian akan menanggung perih racunnya bahkan sampai saat kalian digiring ke tiang gantungan. Titah-titah ini dan kami semua secara sepakat mengabarkan hal itu kepada kalian dengan pasti." Demikianlah mereka berkata.
Maka seperti perumpamaan ini, di balik tiang gantungan ajal yang setiap saat kita lihat, dari lotre ketentuan nasib jenis manusia akan keluar tiket sebuah harta karun yang kekal dan tidak akan habis bagi ahli iman dan ahli taat — dengan syarat Husnul Khatimah — dengan kemungkinan seratus persen; sedangkan orang-orang yang terus berfoya-foya, memakan yang haram, tidak beriman, dan berbuat fasik — dengan syarat tidak bertobat — akan menerima keputusan hukuman mati abadi (bagi yang tidak beriman kepada akhirat), atau kurungan sendirian yang abadi lagi gelap (bagi yang beriman kepada kekalnya ruh namun tetap berfoya-foya) serta sengsara abadi, dengan kemungkinan sembilan puluh sembilan persen. Yang mengabarkan hal itu secara pasti adalah, pertama-tama, seratus dua puluh empat ribu nabi yang di tangan mereka terdapat mukjizat tak terhingga sebagai tanda yang membenarkan mereka; kemudian lebih dari seratus dua puluh empat juta wali yang melihat jejak-jejak kabar yang disampaikan para nabi itu serta bayangan-bayangannya seperti di dalam layar bioskop — melihatnya dengan kasyaf dan dengan zauk — lalu membenarkannya dan membubuhkan tanda tangan
(kaddasallahu asrarahum); kemudian miliaran ahli tahkik yang datang silih berganti, yang membuktikan kabar dua golongan tokoh besar manusia itu secara meyakinkan dengan burhan-burhan yang pasti menurut akal dan dengan hujah-hujah yang kuat — secara pemikiran dan logika — lalu membenarkannya dan membubuhkan tanda tangan, {(Catatan kaki): Salah satu dari para ahli tahkik itu adalah Risale-i Nur. Sudah dua puluh tahun juz-juznya yang membungkam para filsuf paling keras kepala dan kaum zindik paling membangkang itu terpampang di hadapan semua orang. Setiap orang dapat membacanya dan tidak seorang pun membantahnya.} juga para mujtahid dan Siddiqin. Maka orang yang tidak mendengarkan kabar-kabar yang diberikan — secara ijmak dan mutawatir — dengan titah tiga rombongan yang besar lagi tinggi ini, yaitu tiga jemaah agung yang menjadi matahari, bulan, dan bintang bagi jenis manusia, tiga golongan ahli hakikat, dan tiga panglima suci umat manusia; yang tidak berjalan di sirat mustaqim, yaitu jalan yang mereka tunjukkan yang menuju kebahagiaan abadi; yang tidak memperhitungkan kemungkinan bahaya dahsyat sembilan puluh sembilan persen — padahal ia meninggalkan sebuah jalan hanya karena satu orang pemberi kabar mengatakan ada bahaya di jalan itu, lalu menempuh jalan lain yang panjang — sudah pasti, sungguh pasti, keadaannya adalah sebagai berikut:
Dari dua jalan itu — menurut kabar-kabar pasti dari para pemberi kabar yang tak terhingga banyaknya — ia meninggalkan jalan yang paling pendek dan paling mudah, yang seratus persen memberikan surga dan kebahagiaan abadi, lalu memilih jalan yang paling penuh kegaduhan, paling panjang, dan paling menyusahkan, yang berujung pada penjara neraka dan sengsara yang terus-menerus dengan kemungkinan sembilan puluh sembilan persen. Maka orang itu, seperti orang-orang celaka yang mabuk lagi gila — yang dari dua jalan di dunia meninggalkan jalan pendek yang hanya memiliki satu persen kemungkinan bahaya dan kemungkinan dipenjara satu bulan berdasarkan kabar satu orang yang bisa jadi dusta, lalu memilih jalan panjang yang tidak ada manfaatnya, hanya karena tidak ada mudaratnya — telah kehilangan akal, hati, ruh, dan sifat kemanusiaannya sampai pada tingkat: ia tidak mempedulikan naga-naga dahsyat yang tampak di kejauhan dan yang menyerangnya, melainkan sibuk dengan lalat-lalat dan hanya mempedulikan lalat-lalat itu.
Selama keadaan yang sebenarnya demikian, kami para tahanan harus menerima hadiah-hadiah rombongan kedua yang penuh berkah itu, agar kami dapat membalas musibah penjara ini dengan balasan yang setimpal. Yakni, sebagaimana musibah ini — hanya dengan kenikmatan balas dendam selama satu menit dan kenikmatan berfoya-foya selama beberapa menit atau satu dua jam — telah memasukkan kami ke penjara ini selama lima belas, lima, sepuluh, dan dua tiga tahun, serta menjadikan dunia kami sebagai penjara bagi kami; demikian pula kami, untuk melawan dan menentang musibah ini, harus membalasnya dengan sempurna: dengan menjadikan satu dua jam masa penjara sebagai satu dua hari ibadah, dengan menjadikan hukuman dua tiga tahun kami — melalui hadiah-hadiah kafilah yang penuh berkah itu — sebagai umur kekal selama dua puluh tiga puluh tahun, dan dengan menjadikan hukuman sepuluh dan dua puluh tahun penjara kami sebagai sarana ampunan dari penjara neraka selama jutaan tahun; sehingga kami membuat kehidupan kami yang kekal tertawa sebagai ganti tangisan dunia kami yang fana.
Kami harus memperlihatkan penjara sebagai rumah pendidikan dan berusaha menjadi orang yang terdidik, aman, dan bermanfaat bagi tanah air serta bangsa kami. Dan hendaklah para pegawai, direktur, dan pengurus penjara pun memandang orang-orang yang mereka sangka penjahat, perampok, berandal, pembunuh, pengumbar hawa nafsu, dan pembawa bahaya bagi tanah air itu sebagai murid-murid yang belajar di sebuah ruang belajar yang penuh berkah, lalu bersyukur kepada Allah dengan penuh rasa bangga.