YANG PERTAMA
Sinar-Sinar · hlm. 228
Sebagaimana dijelaskan di dalam Kelimat Keempat, setiap hari Khâliq kita menganugerahkan kepada kita modal kehidupan berupa dua puluh empat jam. Supaya segala yang diperlukan bagi dua kehidupan kita dibeli dengan modal itu.
Jika kita mencurahkan dua puluh tiga jam untuk kehidupan dunia yang teramat singkat, lalu tidak mencurahkan satu jam yang cukup untuk salat lima waktu kepada kehidupan akhirat kita yang teramat panjang, hendaklah dikiaskan: betapa itu sebuah kesalahan yang bertentangan dengan akal, dan betapa besar kerugian yang kita derita karena — sebagai hukuman atas kesalahan itu — kita menanggung berbagai kesempitan hati dan jiwa, lalu karena kesempitan itu merusak akhlak dan menjalani hidup dengan putus asa, sehingga bukannya meraih pendidikan, bahkan berjalan berlawanan dengan pendidikan.
Namun jika kita mencurahkan satu jam untuk salat lima waktu, maka setiap jam dari masa penjara dan musibah kadang bernilai satu hari ibadah, satu jam yang fana dapat berkedudukan sebagai jam-jam yang kekal, rasa putus asa serta kesempitan hati dan jiwa sebagiannya lenyap, kesalahan-kesalahan yang menjadi sebab masuknya kita ke penjara diampuni sebagai kafarat, dan pendidikan yang menjadi hikmah penjara pun diperoleh; hendaklah direnungkan betapa semua itu merupakan sebuah ujian yang menguntungkan, sebuah pelajaran, dan sebuah perbincangan indah yang menghibur bersama kawan-kawan senasib dalam musibah.
Sebagaimana dikatakan di dalam Kelimat Keempat: orang yang memberikan lima sepuluh lira dari dua puluh empat liranya untuk sebuah judi lotre yang diikuti seribu orang demi hadiah seribu lira, tetapi tidak memberikan satu dari dua puluh empat itu untuk tiket sebuah harta karun permata yang kekal — padahal kemungkinan memenangkan seribu lira dalam lotre duniawi itu satu berbanding seribu, sebab masih ada seribu orang lain yang ikut serta;
sedangkan di dalam lotre ketentuan nasib manusia yang ukhrawi, kemungkinan menang bagi ahli iman yang meraih Husnul Khatimah adalah sembilan ratus sembilan puluh sembilan berbanding seribu — dan kabar seratus dua puluh empat ribu nabi tentang hal itu telah dibenarkan dengan kasyaf oleh para pemberi kabar yang jujur lagi tak terhitung banyaknya dari kalangan wali dan asfiya —
padahal mereka telah mengabarkannya; maka hendaklah dibandingkan, betapa berlarinya seseorang kepada lotre yang pertama dan larinya ia dari yang kedua itu bertentangan dengan kebaikan dan manfaat.
Dalam persoalan ini, para direktur penjara dan para kepala sipir, bahkan para pengatur pemerintahan negeri dan para penjaga keamanan, seharusnya merasa senang dengan pelajaran Risale-i Nur ini. Sebab telah terlihat melalui banyak pengalaman bahwa mengatur dan menertibkan seribu orang yang taat beragama dan setiap saat mengingat penjara neraka itu lebih mudah daripada mengatur sepuluh orang yang tidak salat, tidak beriman, hanya memikirkan penjara duniawi, tidak mengenal haram dan halal, serta sebagiannya sudah terbiasa hidup sebagai berandal.