Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Arah Kiri:

Sinar-Sinar · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Arah Kiri:

Yakni, ketika masa mendatang dipandang dengan kacamata filsafat, ia akan terlihat seperti kubur besar yang gelap serta menakutkan, yang akan membusukkan kita, memberi kita sebagai makanan ular dan kalajengking, serta memusnahkan kita.

Namun, jika dipandang dengan kacamata iman, ia akan terlihat sebagai hidangan serta meja hidangan Ar-Rahmân, yang memuat berbagai makanan dan minuman nikmat serta lezat yang Disiapkan Allah سُبْحَانَهُ, Sang Khâliq Yang Rahmân dan Rahîm, bagi manusia. Ia akan membuat orang membaca serta mengulang ‘Elhamdülillah’ ribuan kali.

Arah Atas:

Yakni, orang yang memandang arah langit melalui filsafat akan menghadapi rasa ngeri, rasa asing, serta ketakutan yang besar akibat gerak miliaran bintang dan bola langit yang amat cepat serta beragam di ruang kosong yang tidak berujung ini, seperti pacuan kuda atau manuver militer.

Namun, ketika orang yang beriman memandang, ia akan melihat bahwa, sebagaimana manuver yang luar biasa serta menakjubkan itu dilakukan atas perintah seorang Panglima serta di bawah Pengawasan⁠-⁠Nya, bintang-bintang yang menghiasi alam langit juga merupakan lampu-lampu bercahaya bagi kita. Dalam pacuan kuda itu, ia akan merasakan keakraban serta cinta sebagai pengganti ketakutan dan rasa ngeri. Tentu, mengucapkan ‘Elhamdülillah’ ribuan kali masih sedikit bagi nikmat iman yang melukiskan alam langit demikian.

Arah Bawah:

Yakni, manusia yang memandang alam bumi dengan mata filsafat melihat bumi seperti hewan liar tanpa tali kekang yang berkeliaran di sekitar matahari, atau perahu dengan papan-papan rusak tanpa nakhoda, lalu jatuh dalam rasa ngeri serta gelisah.

Namun, jika memandang dengan iman, ia melihat bumi sebagai kapal Ar-Rahmân, yang di bawah Perintah Allah سُبْحَانَهُ membawa umat manusia berjalan-jalan mengelilingi matahari, bersama seluruh makanan, minuman, serta pakaian. Ia mulai mengucapkan ‘Elhamdülillah’ yang besar-besar bagi nikmat besar yang lahir dari iman ini.

Arah Depan:

Jika seorang pengikut filsafat memandang arah ini, ia melihat semua makhluk hidup, baik manusia maupun hewan, kelompok demi kelompok, pergi dengan sangat cepat menuju arah itu dan menghilang. Yakni, mereka menuju keadaan tidak ada, lenyap. Karena mengetahui bahwa dirinya juga merupakan musafir jalan tersebut, akibat kesedihannya ia sampai pada keadaan hampir kehilangan akal.

Namun, seorang mukmin yang memandang melalui iman menyambut arah ini dengan puas, karena pergi serta bepergiannya manusia ke arah tersebut tidak menuju alam tanpa wujud, melainkan merupakan perpindahan seperti kaum pengembara yang berpindah dari satu dataran tinggi ke dataran tinggi lainnya. Mereka berpindah dari tempat sementara ke tempat kekal, dari ladang khidmah ke ruang upah, dari negeri kesulitan ke negeri Rahmat. Mereka tidak menuju alam tanpa wujud.

Namun, kesulitan yang terlihat di sepanjang jalan, seperti kematian serta kubur, pada akhirnya merupakan kebahagiaan. Sebab, jalan menuju alam-alam penuh nur melewati kubur, dan kebahagiaan terbesar merupakan hasil malapetaka besar serta menyakitkan. Misalnya, Nabi Yusuf mencapai kebahagiaan seperti kedudukan pembesar Mesir hanya melalui sumur tempat saudara-saudaranya melemparkannya, serta penjara tempat ia dimasukkan karena fitnah Zeliha. Demikian pula, anak yang datang dari rahim ibu ke dunia memperoleh kebahagiaan dunia sebagai hasil kesulitan menyesakkan serta menekan yang dialaminya dalam terowongan yang dikenal itu.

Arah Belakang:

Yakni, jika mereka yang datang kemudian dipandang melalui filsafat, tidak diperoleh jawaban atas pertanyaan, ‘Hei, dari mana menuju mana mereka pergi, dan untuk apa mereka datang ke negeri dunia?’ Karena itu, tentu manusia tetap berada dalam azab keheranan serta kebimbangan.

Namun, jika memandang dengan kacamata nur iman, ia memahami bahwa manusia merupakan para pengamat yang Dikirim oleh Sang Sultan Azali untuk melihat serta menelaah mukjizat Kudrat yang luar biasa serta menakjubkan, yang diperlihatkan di pameran kainat. Ia memahami bahwa, sesuai pengetahuan yang mereka peroleh mengenai nilai serta keagungan mukjizat-mukjizat tersebut dan derajat penunjukannya kepada Keagungan Sang Sultan Azali, mereka memperoleh tingkatan serta nilai, lalu kembali ke negeri Sang Sultan Azali. Ia akan mengatakan ‘Elhamdülillah’ bagi nikmat iman yang memberinya nikmat pemahaman ini.

Peringatan:

Pujian yang diucapkan dengan ‘Elhamdülillah’ bagi nikmat iman yang menyingkirkan keadaan gelap tersebut juga merupakan nikmat, sehingga diperlukan satu pujian pula untuknya. Bagi pujian kedua ini diperlukan pujian ketiga, dan bagi yang ketiga pujian keempat. ﻭَﻫَﻠُﻢَّ ﺟَﺮًّﺍ. Jadi, dari satu pujian muncul rangkaian pujian yang tidak berujung, yang terdiri atas pujian-pujian yang lahir darinya.

Pokok Kedua:

Manusia juga harus mengatakan ‘Elhamdülillah’ bagi nikmat iman yang menerangi keenam arah. Sebab, sebagaimana iman merupakan nikmat besar dari jenis menolak bencana dengan menyingkirkan keadaan gelap pada keenam arah, demikian pula, dari segi meneranginya, ia tentu merupakan nikmat kedua dari jenis mendatangkan manfaat. Karena secara fitri manusia hidup bermasyarakat, ia berkaitan dengan makhluk-makhluk pada keenam arah. Melalui nikmat iman, ia dapat mengambil manfaat dari keenam arah itu.

Karena itu, melalui rahasia ayat yang mulia

ﺍَﻳْﻨَﻤَﺎ ﺗُﻮَﻟُّﻮﺍ ﻓَﺜَﻢَّ ﻭَﺟْﻪُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ,

manusia memperoleh nur dari arah mana pun di antara keenam arah. Bahkan, manusia yang beriman memiliki umur rohani yang membentang dari terbentuknya dunia hingga akhirnya. Umur rohani manusia itu menerima pertolongan serta bantuan dari Nur suatu Hidup yang membentang dari azali hingga abadi.

Demikian pula, melalui iman yang menerangi keenam arah, waktu serta tempat manusia yang sempit ini berubah menjadi alam yang luas dan nyaman. Alam besar itu menjadi seperti rumah manusia, dan masa lampau serta masa mendatang menjadi seperti masa kini bagi ruh serta hatinya. Jarak di antara mereka hilang.

Pokok Ketiga:

Karena iman memuat titik sandaran serta titik tempat memohon pertolongan, hal itu juga menuntut manusia mengatakan ‘Elhamdülillah’.

Ya, karena keadaan tak berdaya serta banyaknya musuh, umat manusia membutuhkan titik sandaran yang dapat dituju sebagai tempat berlindung untuk menolak musuh-musuhnya. Demikian pula, karena banyaknya kebutuhan serta betapa besar rasa membutuhkan, ia memerlukan titik tempat memohon pertolongan, agar melalui bantuannya ia memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Wahai manusia! Titik sandaranmu hanya iman kepada Allah سُبْحَانَهُ. Titik tempat memohon pertolongan bagi ruh serta nuranimu hanya iman kepada akhirat. Karena itu, hati serta ruh manusia yang tidak mengetahui kedua titik ini merasa takut dan asing, dan nuraninya selalu tersiksa. Namun, orang yang bersandar pada titik pertama serta memohon pertolongan dari yang kedua merasakan banyak nikmat, kesenangan, serta keakraban dalam hati dan ruh. Ia terhibur, dan nuraninya tenteram.

Pokok Keempat:

Dengan memperlihatkan bahwa yang serupa sedang serta akan datang, nur iman menyingkirkan penderitaan yang timbul ketika kenikmatan yang dibenarkan mulai lenyap. Dengan menunjukkan sumber nikmat, ia juga memastikan bahwa nikmat-nikmat berlanjut serta tidak berkurang.

Demikian pula, dengan menunjukkan kenikmatan diperbaruinya yang serupa, ia menyingkirkan penderitaan perpisahan. Yakni, dalam satu kenikmatan terdapat banyak penderitaan akibat pikiran tentang lenyapnya. Iman mengingatkan bahwa hal-hal serupa muncul kembali, lalu menyingkirkan penderitaan-penderitaan itu. Lagi pula, dalam pembaruan kenikmatan sendiri terdapat kenikmatan lain. Ya, jika suatu buah tidak memiliki pohon, kenikmatan yang terbatas pada buah itu lenyap dengan dimakannya, dan lenyapnya menimbulkan kesedihan. Namun, jika pohon buah itu diketahui, lenyapnya buah tersebut tidak menimbulkan penderitaan, sebab terdapat yang datang menggantikannya. Pada saat yang sama, pembaruan itu sendiri merupakan kenikmatan.

Demikian pula, yang paling menyesakkan jiwa manusia ialah penderitaan akibat perpisahan. Nur iman menyingkirkannya melalui harapan diperbaruinya yang serupa serta terjadinya pertemuan kembali.

Pokok Kelima:

Nur iman memperlihatkan hal-hal di antara makhluk yang dianggap manusia sebagai musuh dan asing, atau dianggap tidak hidup serta malang seperti orang mati dan anak yatim, sebagai sahabat serta saudara, dan menunjukkan mereka sebagai makhluk hidup yang bertasbih.

Yakni, orang yang memandang dengan lalai menganggap makhluk-makhluk alam merugikan seperti musuh, lalu merasa takut dan asing. Ia melihat segala sesuatu seperti orang asing. Sebab, dalam pandangan kesesatan, tidak ada ikatan persaudaraan antara hal-hal pada masa lampau serta masa mendatang. Hanya terdapat hubungan kecil serta terbatas di antara hal-hal pada masa kini. Karena itu, persaudaraan orang-orang yang sesat terhadap satu sama lain hanya seperti satu menit dalam waktu panjang ribuan tahun.

Demikian pula, pandangan iman melihat semua benda memiliki hidup serta saling akrab. Ia menunjukkan bahwa setiap benda, melalui bahasa keadaannya, bertasbih kepada Khâliq-nya. Dari segi ini, semua benda memiliki suatu jenis hidup serta ruh menurut keadaan masing-masing. Karena itu, menurut pandangan iman ini, pada benda-benda tersebut terdapat keakraban serta cinta sebagai pengganti rasa ngeri dan rasa asing.

Pandangan kesesatan menganggap manusia yang tidak mampu memperoleh hal-hal yang diinginkannya tidak memiliki pemilik ataupun pelindung, serta seperti anak yatim yang menangis karena kesedihan, duka, serta keadaan tak berdaya.

Pandangan iman memandang makhluk hidup sebagai petugas yang memikul tanggung jawab, serta hamba-hamba yang diberi tugas berzikir dan bertasbih, sebagai pengganti anak yatim yang menangis.

Pokok Keenam:

Nur iman melukiskan alam dunia serta akhirat sebagai dua meja hidangan yang memuat beragam nikmat. Orang yang beriman mengambil manfaat dari kedua hidangan itu melalui tangan iman, indra lahir serta batinnya, dan latifah-latifah maknawi serta rohaninya. Dalam pandangan kesesatan, lingkaran manfaat makhluk hidup mengecil dan terbatas pada kenikmatan jasmani.

Dalam pandangan iman, lingkaran tersebut meluas hingga meliputi langit serta bumi. Ya, seorang mukmin dapat menganggap matahari sebagai lampu minyak bertekanan yang digantung pada atap rumahnya, dan bulan sebagai lampu minyak bersumbu. Dari segi ini, matahari serta bulan menjadi nikmat masing-masing baginya. Karena itu, lingkaran manfaat orang yang beriman menjadi lebih luas daripada langit. Ya, melalui balagah ayat-ayat

ﻭَ ﺳَﺨَّﺮَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ٭ ﻭَ ﺳَﺨَّﺮَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺒَﺮِّ ﻭَﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ,

Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya mengisyaratkan anugerah serta Pemberian Nikmat luar biasa yang lahir dari iman ini.

Pokok Ketujuh:

Melalui nur iman, diketahui bahwa Wujud Allah سُبْحَانَهُ merupakan nikmat yang begitu besar, melampaui seluruh nikmat. Ia merupakan sumber yang memuat jenis nikmat tanpa batas, macam anugerah tanpa akhir, serta golongan pemberian yang tidak terhitung. Karena itu, memuji serta menyanjung nikmat iman sebanyak zarah alam merupakan kewajiban. Sebagian telah diisyaratkan dalam bagian-bagian Risale-i Nur. Lagi pula, bagian-bagian Risale-i Nur yang membahas iman kepada Allah سُبْحَانَهُ membuka tirai nikmat ini serta memperlihatkannya.

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ, melalui lâm yang mencakup keseluruhan, mengisyaratkan semua pujian. Salah satu nikmat yang harus dipuji melalui semua pujian itu ialah nikmat Rahmaniyah. Ya, Rahmaniyah memuat nikmat sebanyak makhluk hidup yang menjadi tempat terwujudnya Rahmat. Sebab, khususnya manusia berkaitan dengan setiap makhluk hidup. Dari segi ini, manusia menjadi bahagia melalui kebahagiaan setiap makhluk hidup serta bersedih melalui penderitaannya. Jadi, nikmat pada individu mana pun merupakan nikmat pula bagi sahabat-sahabatnya.

Demikian pula, salah satu yang memuat nikmat sebanyak anak yang memperoleh nikmat melalui kasih sayang ibu-ibu mereka, dan sesuai dengannya berhak menerima pujian serta sanjungan, ialah Rahîmiyah. Ya, seseorang yang memiliki nurani, yang tersentuh serta merasa iba atas tangisan anak lapar tanpa ibu, tentu menikmati kasih sayang para ibu kepada anak-anaknya, merasa puas serta gembira. Kesenangan-kesenangan demikian masing-masing merupakan nikmat, yang meminta pujian serta syukur.

Demikian pula, salah satu yang menuntut pujian serta syukur sebanyak seluruh jenis dan anggota Hikmah yang terkandung dalam kainat ialah Hikmah⁠-⁠Nya. Sebab, sebagaimana nafsu manusia memperoleh nikmat melalui Manifestasi Rahmaniyah, dan hatinya melalui Tajalli Rahîmiyah, demikian pula akalnya menikmati serta merasakan kenikmatan melalui kehalusan-kehalusan Hikmah⁠-⁠Nya. Dari segi ini, hal itu menuntut pujian serta sanjungan dengan mengucapkan ‘Elhamdülillah’ sepenuh mulut.

Demikian pula, nikmat Penjagaan harus dipuji melalui ‘Elhamdülillah’ yang begitu besar hingga bunyinya memenuhi ruang ini: Sebanyak Tajalli Nama ‘Al-Wârits’ dari Asmaulhusna; sebanyak keturunan yang tetap tinggal setelah para leluhur seperti ayah lenyap; sebanyak makhluk alam akhirat; serta sebanyak amal manusia yang Dipelihara agar menjadi sarana menerima balasan akhirat. Sebab, berlanjutnya nikmat lebih berharga daripada nikmat itu sendiri. Tetap adanya kenikmatan lebih nikmat daripada kenikmatan. Tetap tinggal di surga melampaui surga, demikian seterusnya... Karena itu, nikmat-nikmat yang termuat dalam Penjagaan Allah سُبْحَانَهُ lebih banyak serta lebih tinggi daripada seluruh nikmat yang terdapat di seluruh kainat. Dari segi ini, ia meminta satu ‘Elhamdülillah’ sepenuh mulut.

Bandingkan Asmaulhusna yang tersisa dengan keempat Nama yang disebutkan ini. Karena dalam masing-masing terdapat nikmat yang tidak berujung, semuanya menuntut pujian serta syukur yang tidak berujung.

Demikian pula, Hazrat Muhammad ﷺ, sarana bagi nikmat iman yang memiliki wewenang membuka seluruh khazanah nikmat, merupakan nikmat yang begitu besar, sehingga umat manusia wajib memuji serta menyanjung pribadi beliau ﷺ untuk selama-lamanya.

Demikian pula, nikmat Islam serta Al-Qur’an, daftar dan sumber seluruh jenis nikmat jasmani serta rohani, dengan sepenuhnya layak menuntut pujian yang tidak berujung.

Pokok Kedelapan:

Pujian kepada Allah سُبْحَانَهُ! Menurut penjelasan Al-Qur’an yang agung, tafsir kitab besar yang disebut kainat ini, seluruh bab dan bagian, seluruh halaman dan baris, serta seluruh kata dan huruf kitab besar itu memuji dan menyanjung Zat Yang Mahasuci tersebut dengan memperlihatkan Sifat Keindahan serta Kesempurnaan⁠-⁠Nya.

Demikianlah: Setiap ukiran kitab besar tersebut, kecil ataupun besar, menurut kemampuannya seperti semut, memuji serta menyanjung dengan memperlihatkan Sifat Jalâl Pengukirnya Yang Wâhid dan Shamad.

Demikian pula, setiap tulisan kitab itu menyanjung dengan menunjukkan Sifat Keindahan Penulisnya Yang Rahmân dan Rahîm.

Demikian pula, setiap susunan syair serta kasidah kitab itu menyatakan bahwa Penyusunnya Yang Qadîr dan Alîm Mahasuci, serta memuji⁠-⁠Nya.

Demikian pula, sebagai cermin serta tempat Tajalli dan Manifestasi Asmaulhusna, seluruh tulisan, titik, serta ukiran kitab itu menyanjung Zat Yang Mahasuci melalui takdis, pujian, serta pemuliaan.

Pokok Kesembilan:

{ Saya tidak memiliki kunci kode-kode seperti ini untuk membukanya. Lagi pula, kepala yang sedang saum tidak dapat membuka kode-kode itu ataupun melakukan perkalian tersebut. Mohon maklum atas kekurangan ini. Sebanyak ini pun hanya dapat saya lakukan melalui bantuan rohani penulisnya, berkah Lailatul Qadar, serta manfaat bertetangga dengan Mevlâna.

Penerjemah

Abdülmecid Nursî}

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻟِﻠّٰﻪِ

Bedîüzzaman Said Nursî

ﺍَﻟﺪَّﺍﻋ۪ﻰ {(): Bait ini merupakan tanda tangannya.}

Aku makam yang runtuh; di dalamnya bertumpuk

tujuh puluh sembilan jasad Said {(): Karena tubuh diperbarui dua kali setiap tahun, berarti dua Said telah mati. Pada tahun ini pula, Said berada pada tahun ketujuh puluh sembilan. Berarti setiap tahun satu Said telah mati, dan Said akan hidup hingga tahun ini.}, bersama dosa serta derita.

Yang kedelapan puluh telah menjadi batu nisan bagi makam,

bersama-sama menangis {(): Melalui firasat sebelum peristiwa terjadi, ia merasakan keadaan sekarang ini, dua puluh tahun kemudian.} atas kerugian Islam.

Dengan batu nisanku serta makam penuh jasad yang merintih,

aku melangkah menuju medan akhiratku esok hari.

Aku yakin: langit masa depan serta tanah Asia

bersama-sama akan tunduk kepada tangan putih Islam.

Sebab, ia adalah tangan kanan iman yang penuh berkah,

yang memberi keamanan serta perlindungan kepada makhluk...

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻳَﺎ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﺎ ﺭَﺣْﻤٰﻦُ ﻳَﺎ ﺭَﺣ۪ﻴﻢُ ﻳَﺎ ﻓَﺮْﺩُ ﻳَﺎ ﺣَﻰُّ ﻳَﺎ ﻗَﻴُّﻮﻡُ ﻳَﺎ ﺣَﻜَﻢُ ﻳَﺎ ﻋَﺪْﻝُ ﻳَﺎ ﻗُﺪُّﻭﺱُ

Demi hak Ismul A'zham, kehormatan Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya, serta kemuliaan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, Jadikanlah mereka yang mencetak kumpulan ini serta para pembantu mereka yang diberkahi sebagai penerima kebahagiaan abadi di Jannatul-Firdaus, âmin!

Jadikanlah mereka selalu berhasil dalam khidmah iman serta Al-Qur’an, âmin! Perintahkanlah agar dalam catatan amal baik mereka ditulis seribu kebaikan bagi setiap huruf kumpulan Şuâlar, âmin!

Anugerahkanlah keteguhan, kesinambungan, serta ikhlas dalam penyebaran Nur, âmin! Yâ Erhame'r-râhimîn! Jadikanlah semua murid Risale-i Nur bahagia di kedua alam, âmin!

Jagalah dari keburukan setan manusia serta jin, âmin! Ampunilah kekurangan Said yang tak berdaya serta malang ini, âmin!

Atas nama semua murid Nur

Bedîüzzaman Said Nursî

DAFTAR ISI

SINAR KEDUA

Bagian Kedua

Bagian Ketiga

Penutup

SINAR KETIGA (Münâcat Risalesi)

SINAR KEEMPAT (Âyet-i Hasbiye Risalesi)

SINAR KEENAM (Dua butir hikmah mengenai tasyahud.)

SINAR KETUJUH (ÂYETÜ'L-KÜBRA) (Hal-hal yang disaksikan seorang musafir yang bertanya kepada kainat tentang Khâliq-nya.)

BAB PERTAMA:

BAB KEDUA:

Pertanyaan serta jawaban dalam percakapan rohani

SINAR KESEMBILAN (Tambahan penting Kalimat Kesepuluh)

SINAR KESEBELAS (RISALAH BUAH) (Risalah ini merupakan buah serta kenangan Penjara Denizli, dan hasil dua hari Jumat.)

PERSOALAN PERTAMA

PERSOALAN KEDUA

PERSOALAN KETIGA

PERSOALAN KEEMPAT

PERSOALAN KELIMA

PERSOALAN KEENAM

PERSOALAN KETUJUH

PERSOALAN KEDELAPAN

PERSOALAN KESEMBILAN

PERSOALAN KESEPULUH (Jawaban yang sangat kuat terhadap sanggahan atas pengulangan dalam Al-Qur’an.)

PERSOALAN KESEBELAS

SINAR KEDUA BELAS (Dari pembelaan Pengadilan Denizli)

SINAR KETIGA BELAS (Surat-surat penuh nur yang dikirim Üstad kepada para muridnya.)

SINAR KEEMPAT BELAS (Pembelaan serta surat-surat Bedîüzzaman di Pengadilan Afyon, dan pembelaan yang benar dari para murid Nur di Pengadilan Afyon.)

SINAR KELIMA (Dua puluh tiga persoalan yang memberi kabar mengenai ‘Tembok Zulkarnain’, ‘Yakjuj dan Makjuj’, serta ‘Tanda-Tanda Kiamat’ lainnya, yang dibahas dalam pelengkap Muhakemat-ı Bedîiye yang tidak dicetak.)

SINAR KELIMA BELAS (EL-HÜCCETÜ'Z-ZEHRA) (Buah keimanan serta buah Al-Qur’an yang bersifat firdausi, yang keluar dari bersatunya ilmulyaqin dan ainulyaqin dalam kehidupan rohani sejati Nur.)

BAGIAN PERTAMA

BAGIAN KEDUA

ULASAN-ULASAN PENGANTAR

SINAR PERTAMA (Jawaban atas dua pertanyaan yang menakjubkan serta isyarat tiga puluh tiga ayat Al-Qur’an)

SINAR KEDELAPAN (KERAMET-İ ALEVİYE)

BAB KEDUA DARI LEM’A KEDUA PULUH SEMBILAN

EDDÂÎ

1 Şuâlar