PETUNJUK TERSIRAT KELIMA
Karena Celcelutiye Diturunkan melalui wahyu kepada Nabi ﷺ dan menyatakan makna dengan Ilmu Sang ‘Allâmul-Ghuyûb; karena dalam bagian ﺍَﻗِﺪْ ﻛَﻮْﻛَﺒ۪ﻰ serta
ﺗُﻘَﺎﺩُ ﺳِﺮَﺍﺝُ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ
Celcelutiye memberi kabar dengan jelas mengenai Risale-i Nur, yang membuktikan hakikat kasidah itu melalui makna kiasan, serta dengan isyarat mengenai tiga belas risalah pentingnya; demikian pula dalam
ﻓَﻴَﺎ ﺣَﺎﻣِﻞَ الْاِسْمِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺟَﻞَّ ﻗَﺪْﺭُﻩُ
ia memberi kabar melalui makna kiasan, petunjuk, petunjuk tersirat, serta isyarat mengenai penulis Risale-i Nur dan tiga belas peristiwa penting kehidupannya, yang sangat banyak mendalami serta memohon pertolongan melalui
اَلْاِسْمُ ﺍﻟْﻤُﻌَﻈَّﻢُ,
salah satu dasar kasidah tersebut; karena satu qarinah yang lemah, tanda tersembunyi, serta hubungan tunggal cukup untuk menunjukkan bahwa suatu makna kiasan serta maksud isyari dimaksudkan; dan karena isyarat kepada Risale-i Nur, risalah-risalahnya, penulisnya, serta keadaan-keadaannya menjadi qarinah bagi satu sama lain, bahkan dari segi kesatuan persoalan, seluruh isyarat bersama qarinahnya merupakan qarinah kuat serta tanda yang kukuh bagi masing-masingnya,
tentu kita dapat berkata: Sebagaimana pada awal Hazrat Imam Ali (ra) mengatakan
ﺑَﺪَﺋْﺖُ ﺑِﺒِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺭُﻭﺣ۪ﻰ ﺑِﻪِ ﺍﻫْﺘَﺪَﺕْ ﺍِﻟٰﻰ ﻛَﺸْﻒِ ﺍَﺳْﺮَﺍﺭٍ ﺑِﺒَﺎﻃِﻨِﻪِ ﺍﻧْﻄَﻮَﺕْ,
yakni, ‘Aku memulai dengan Bismillahirrahmanirrahîm, khazanah rahasia. Dengannya, ruhku menyingkap khazanah itu,’ melalui qarinah isyarat-isyarat lain, sebagai suatu makna isyari serta penunjukan kiasan, ia memberi petunjuk, bahkan petunjuk tersirat, bahkan isyarat, kepada Bismillah Risalesi (Risalah Bismillah), yang bernama Kalimat Pertama. Risalah itu singkat serta amat kuat, seperti Bismillah Risale-i Nur, pembuka serta basmalahnya, dan menerangkan hakikat rahasia besar dalam ‘Bismillah’.
Demikian pula, melalui qarinah serta hubungan isyarat-isyarat lain, pada akhir doa, munajat, serta sumpah permohonan pertolongan yang agung dan menyeluruh, setelah isyarat kepada Kalimat-Kalimat serta Surat-Surat, ia mengatakan bagian
ﺑِﻮَﺍﺡِ ﺍﻟْﻮَﺣَﺎ ﺑِﺎﻟْﻔَﺘْﺢِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺼْﺮِ ﺍَﺳْﺮَﻋَﺖْ.
Ia mengubah ungkapan dan mulai memohon pertolongan melalui rahasia huruf-huruf, dengan cara yang menyerupai hakikat delapan risalah kecil bernama Rumuzat-ı Semaniye, yang membahas rahasia huruf Al-Qur’an; ini merupakan qarinah yang halus. Aku meyakini bahwa ia memberi petunjuk, bahkan isyarat, kepada Fetih ve Nasr Risalesi (Risalah Penaklukan dan Pertolongan), serta risalah kecil yang sangat berharga bernama Âyet-i Fetih Risalesi (Risalah Ayat Penaklukan). Keduanya termasuk yang paling penting dari delapan risalah kecil Rumuzat-ı Semaniye dalam Surat Kedua Puluh Sembilan, yang menerangkan sebagian rahasia huruf Al-Qur’an. Yang pertama menerangkan rahasia Surah
ﺍِﺫَﺍ ﺟَٓﺎﺀَ ﻧَﺼْﺮُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺍﻟْﻔَﺘْﺢُ,
yang memberi kabar gaib mengenai banyak penaklukan Islam, seperti penaklukan Makkah, Damaskus, Yerusalem, serta Istanbul, sehingga menarik perhatian Hazrat Imam Ali (ra), pahlawan penaklukan Islam. Yang kedua menerangkan serta membuktikan sifat ayat terakhir Surah Fath yang paling penting itu yang bermukjizat dari lima segi, sehingga menarik perhatian Hazrat Imam Ali (ra), pahlawan Islam. Walaupun keyakinan ini tidak diikuti, ia tidak seharusnya disanggah.
PETUNJUK TERSIRAT KEENAM
Karena berdasarkan pelajaran yang diterimanya dari gurunya yang suci ﷺ, Hazrat Imam Ali (ra) memberi kabar mengenai peristiwa-peristiwa mendatang yang berkaitan dengan Al-Qur’an, dan dengan mengatakan, ‘Bertanyalah kepadaku!’ ia memberi banyak kabar benar serta membuktikan dirinya sebagai raja kewalian melalui karamah demikian; dan karena pada abad ini, ketika orang-orang Eropa yang tidak beragama serta para munafik sesat menyerang Al-Qur’an dengan cara yang mengerikan, Risale-i Nur bertahan melawan banjir kesesatan itu, menyingkap rahasia-rahasia Al-Qur’an serta menjaga hakikatnya; karena melalui bagian
ﺍَﻗِﺪْ ﻛَﻮْﻛَﺒ۪ﻰ بِالْاِسْمِ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻭَ ﺑَﻬْﺠَﺔً ﻣَﺪَﻯ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮِ ﻭَ الْاَيَّامِ ﻳَﺎ ﻧُﻮﺭُ ﺟَﻠْﺠَﻠَﺖْ,
sebagaimana dibuktikan dalam Lem’a Kedua Puluh Delapan, selain mengisyaratkan Risale-i Nur dengan cara yang mendekati terang-terangan, ia mengisyaratkan pula isyarat Âyetü'n-Nur dalam Surah Nur kepada Risale-i Nur; dan karena
ﺍَﻗِﺪْ ﻛَﻮْﻛَﺒ۪ﻰ بِالْاِسْمِ ﻧُﻮﺭًﺍ
bertawafuk dengan tepat kepada Risale-i Nur melalui makna serta ilmu jafr, tentu kita dapat berkata: Setelah bagian ini, melalui bagian
ﺑِﺎٰﺝٍ ﺍَﻫُﻮﺝٍ ﺟَﻠْﻤَﻬُﻮﺝٍ جَلَالَةٍ ٭ ﺟَﻠ۪ﻴﻞٍ ﺟَﻠْﺠَﻠَﻴُّﻮﺕٍ ﺟَﻤَﺎﻩٍ ﺗَﻤَﻬْﺮَﺟَﺖْ ﺑِﺘَﻌْﺪَﺍﺩِ ﺍَﺑْﺮُﻭﻡٍ ﻭَ ﺳِﻤْﺮَﺍﺯِ ﺍَﺑْﺮَﻡٍ ٭ ﻭَ ﺑَﻬْﺮَﺓِ ﺗِﺒْﺮ۪ﻳﺰٍ ﻭَ ﺍُﻡٍّ ﺗَﺒَﺮَّﻛَﺖْ,
dua belas kata Suryani dalam bagian tersebut merupakan satu isyarat masing-masing kepada dua belas risalah kecil Risale-i Nur yang pada awalnya terkenal serta tersebar dengan nama On İki Söz, melalui qarinah ﺍَﻗِﺪْ ﻛَﻮْﻛَﺒ۪ﻰ. Memang, salinan Celcelutiye di tanganku merupakan yang paling sahih serta paling dapat dipercaya. Banyak imam, seperti Imam Ghazali (ra), telah menjelaskan Celcelutiye. Namun, karena aku tidak sepenuhnya mengetahui makna kata-kata Suryani ini, terdapat perbedaan antarsalinan, serta untuk saat ini aku tidak mengetahui segi isyarat dan hubungan masing-masingnya, aku meninggalkannya.
Kesimpulannya:
Sekali, melalui bagian ﺍَﻗِﺪْ ﻛَﻮْﻛَﺒ۪ﻰ, Hazrat Imam Ali (ra) memohon serta meminta Risale-i Nur dari Allah سُبْحَانَهُ melalui doa pada akhir zaman. Karena pada awalnya ia terdiri atas dua belas risalah, ia hanya mengisyaratkan dua belas risalahnya. Pada kali kedua, melalui bagian
ﺗُﻘَﺎﺩُ ﺳِﺮَﺍﺝُ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ,
dengan cara yang lebih jelas ia menunjukkan Risale-i Nur melalui pujian, dan dengan mengisyaratkan penyempurnaannya, memberi kabar tersirat tentang semua Kalimat, Surat, serta Lem’a. Sebagaimana risalah-risalah kecil yang tersebar luas dengan nama On İki Söz itu saling menyerupai dalam nama serta bentuk, seperti kata-kata dalam bagian tersebut, demikian pula, sesuai dengan kata Celcelutiye yang bermakna bedî’, masing-masing menafsirkan serta membuktikan hakikat Al-Qur’an yang besar dan mendalam dengan cara yang sangat luar biasa, melalui perumpamaan yang indah.
Jika seorang yang keras kepala berkata, ‘Hazrat Imam Ali (ra) tidak memaksudkan semua makna kiasan ini?’
Kita menjawab: Andaikan Hazrat Imam Ali (ra) tidak memaksudkannya, perkataannya tetap menunjukkannya. Melalui kekuatan qarinah, dengan penunjukan isyari serta tersirat, perkataan itu memasukkan makna-makna tersebut ke dalam cakupannya. Karena makna kiasan serta maksud isyari itu benar, tepat, sesuai kenyataan, layak menerima perhatian ini, dan qarinahnya kuat, tentu, andaikan Hazrat Imam Ali (ra) tidak memiliki perhatian menyeluruh untuk memaksudkan semua makna isyari ini, pemilik sejatinya—karena Celcelutiye merupakan wahyu—ialah Nabi Yang Mulia ﷺ, Guru ﷺ dari Hazrat Imam Ali (ra). Perhatian menyeluruh beliau serta Ilmu yang meliputi dari Sang Guru Dzul-Jalâl, Guru beliau, memandang semuanya dan mengambilnya ke dalam lingkaran kehendak.
Salah satu sebab keyakinanku yang khusus, pasti, serta hingga derajat yakin mengenai hal ini ialah: Karena menanggung banyak kesulitan dalam menulis Sinar Ketujuh, tafsir terbesar El-Âyetü'l-Kübra, di tengah kesulitan yang amat besar, aku benar-benar sangat membutuhkan penghiburan serta dorongan suci. Hingga kini, melalui pengalaman berulang-ulang, dalam keadaan seperti ini Pertolongan Ilahi datang membantuku. Pada waktu yang sama ketika aku menyelesaikan risalah itu, walaupun tidak pernah terlintas dalam pikiranku, karamah Ali ini tiba-tiba muncul. Tidak tersisa keraguan dalam diriku bahwa hal ini juga merupakan Pertolongan Rabb Yang Rahîm, seperti Pertolongan Ilahi lain yang datang membantuku. Pertolongan tidak menipu serta tidak tanpa hakikat.
PETUNJUK TERSIRAT KETUJUH
Sebagaimana Hazrat Imam Ali (ra) melalui bagian pertama mengatakan
ﻭَ بِالْاٰيَةِ ﺍﻟْﻜُﺒْﺮٰﻯ ﺍَﻣِﻨّ۪ﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔَﺠَﺖْ ﻭَ ﺑِﺤَﻖِّ ﻓَﻘَﺞٍ ﻣَﻊَ ﻣَﺨْﻤَﺔٍ ﻳَﺎ ﺍِﻟٰﻬَﻨَﺎ ﻭَ ﺑِﺎَﺳْﻤَﺎﺋِﻚَ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨٰﻰ ﺍَﺟِﺮْﻧ۪ﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺘَﺖْ ﺣُﺮُﻭﻑٌ ﻟِﺒَﻬْﺮَﺍﻡٍ ﻋَﻠَﺖْ ﻭَ ﺗَﺸَﺎﻣَﺨَﺖْ ﻭَ ﺍﺳْﻢُ ﻋَﺼَﺎ ﻣُﻮﺳٰﻰ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻈُّﻠْﻤَﺖُ ﺍﻧْﺠَﻠَﺖْ
dan mengisyaratkan Sinar Ketujuh, demikian pula melalui bagian yang sama ia juga mengisyaratkan Lem’a Kedua Puluh Sembilan berbahasa Arab, suatu kitab tafakur yang luhur serta kitab makrifat tinggi mengenai tauhid. Melalui bagian kedua, setelah dengan kalimatnya ia mengisyaratkan Altı Nükte-i Esma Risalesi, yang bernama Lem’a Ketiga Puluh, yang mengikuti Lem’a Kedua Puluh Sembilan, serta menerangkan dan membuktikan dengan cara sangat luhur hakikat-hakikat Ismul A'zham dan enam Nama terkenal yang disebut Sekine, yakni melalui kalimat
ﺑِﺎَﺳْﻤَﺎﺋِﻚَ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨٰﻰ ﺍَﺟِﺮْﻧ۪ﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺘَﺖْ,
segera sesudahnya ia mengisyaratkan risalah yang mencatat isyarat tiga puluh tiga ayat Al-Qur’an kepada Risale-i Nur sebagai Sinar Pertama Lem’a Ketiga Puluh Satu yang mengikuti Risalah Asma, melalui kata
ﺣُﺮُﻭﻑٌ ﻟِﺒَﻬْﺮَﺍﻡٍ ﻋَﻠَﺖْ ﻭَ ﺗَﺸَﺎﻣَﺨَﺖْ.
Karena hubungan perhitungan jafr, risalah ini dari awal hingga akhir tampak seperti risalah ilmu huruf, dan merupakan suatu mukjizat Al-Qur’an. Kemudian, melalui perkataan
ﻭَ ﺍﺳْﻢُ ﻋَﺼَﺎ ﻣُﻮﺳٰﻰ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻈُّﻠْﻤَﺖُ ﺍﻧْﺠَﻠَﺖْ,
ia juga mengisyaratkan risalah kumpulan yang mengikuti risalah huruf, yang tersusun dari El-Âyetü'l-Kübra serta risalah-risalah Nur lain, dan mengambil nama Asa-yı Musa. Seperti tongkat Musa, ia membatalkan sihir kesesatan serta syirik. Dengan memberi nama Asa-yı Musa kepada risalah Risale-i Nur yang untuk saat ini paling akhir itu, selain mengisyaratkannya, ia memberi kabar gembira bahwa risalah tersebut akan mengusir keadaan gelap rohani.
Ya, sebagaimana isyaratnya kepada Sinar Ketujuh melalui kata
ﻭَ بِالْاٰيَةِ ﺍﻟْﻜُﺒْﺮٰﻯ
telah dibuktikan melalui qarinah yang kuat, demikian pula, dengan makna lain, perkataan ini melalui kaidah ‘müstetbeatü't-terakib’ memandang Lem’a Kedua Puluh Sembilan berbahasa Arab serta memasukkannya ke dalam anggota cakupannya. Lem’a itu benar-benar seperti Âyetü'l-Kübra Risale-i Nur dan menghimpun ruh sebagian besar risalah. Jadi, kita dapat berkata bahwa Hazrat Imam Ali (ra) juga memandang serta mengisyaratkannya dari bagian ini.
Melalui qarinah isyarat-isyarat lain, setelah Mektubat, ia memberi petunjuk kepada Lem’alar dengan cara ungkapan lain. Dengan makna kiasan serta maksud isyari, ketika Lem’a yang paling cemerlang di antara Lem’a-Lem’a ditulis pada masa mengerikan, untuk selamat dari penjara serta hukuman mati dan memperoleh keamanan serta keselamatan, Hazrat Ali (ra) memakai bahasanya sendiri demi penulis yang berada dalam bahaya besar, lalu berdoa
ﻭَ بِالْاٰيَةِ ﺍﻟْﻜُﺒْﺮٰﻯ ﺍَﻣِﻨّ۪ﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔَﺠَﺖْ,
yakni, ‘Yâ Rab! Selamatkanlah aku, Berilah perlindungan serta keamanan.’ Melalui qarinah tawafuk yang tepat dengan keadaan Lem’a Kedua Puluh Sembilan serta penulisnya, yang ditulis dalam bahaya hukuman mati serta penjara panjang di Penjara Eskişehir, perkataannya menunjukkan secara tersirat dan isyari. Karena itu, kita dapat berkata bahwa Hazrat Imam Ali (ra) juga melalui hal ini mengisyaratkannya.
Dengan memandang Risalah Asma yang bernama Lem’a Ketiga Puluh dan memiliki enam butir hikmah, ia mengatakan
ﻭَ ﺑِﺎَﺳْﻤَﺎﺋِﻚَ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨٰﻰ.
Melalui qarinah isyarat-isyarat lain, qarinah mengikuti Lem’a Kedua Puluh Sembilan, qarinah tawafuk nama serta lafaz asma pada keduanya, dan keadaan penulisnya yang jatuh dalam keadaan tercerai-berai, pengasingan sulit, serta kesengsaraan, tetapi memperoleh penghiburan dan ketabahan melalui berkah penulisannya, melalui makna kiasan, bahasa Hazrat Imam Ali (ra) menjadi doa bagi dirinya,
ﻭَ ﺑِﺎَﺳْﻤَﺎﺋِﻚَ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨٰﻰ ﺍَﺟِﺮْﻧ۪ﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺘَﺖْ.
Yakni, ‘Melalui berkah Risalah Asma itu, yang merupakan Ismul A'zham, Jagalah aku dari keadaan tercerai-berai serta sengsara, yâ Rabbi!’ Melalui qarinah tawafuk yang tepat antara maksud ini dan keadaan risalah serta penulisnya, kita dapat berkata bahwa perkataan tersebut menunjukkan secara kiasan, dan Imam Ali (ra) memberi isyarat gaib.
Karena asal Celcelutiye ialah wahyu, mengandung rahasia, memandang masa mendatang, serta memberi kabar mengenai perkara-perkara gaib di masa depan;
karena dari segi Al-Qur’an abad ini mengerikan, dan demi Al-Qur’an Risale-i Nur merupakan peristiwa penting pada abad yang gelap ini;
karena melalui banyak qarinah serta tanda hingga derajat jelas, Risale-i Nur masuk ke dalam Celcelutiye serta menetap pada tempatnya yang paling penting;
karena Risale-i Nur serta bagian-bagiannya layak bagi kedudukan ini, dan memiliki kelayakan serta nilai untuk menerima penghargaan dan pujian Hazrat Imam Ali (ra), serta kabarnya mengenai semua itu;
karena setelah memberi kabar tentang Siracünnur dengan jelas, melalui qarinah yang kuat telah dibuktikan bahwa perkataan Hazrat Imam Ali (ra) menunjukkan, dan beliau mengisyaratkan, Kalimat-Kalimat, kemudian Surat-Surat, kemudian Lem’a-Lem’a, dalam tingkat kedua dengan cara terselubung, di bawah urutan, bagian, serta nomor yang sama seperti dalam risalah-risalah;
dan karena pada awal,
ﺑَﺪَﺋْﺖُ ﺑِﺒِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺭُﻭﺣ۪ﻰ ﺑِﻪِ ﺍﻫْﺘَﺪَﺕْ ﺍِﻟٰﻰ ﻛَﺸْﻒِ ﺍَﺳْﺮَﺍﺭٍ ﺑِﺒَﺎﻃِﻨِﻪِ ﺍﻧْﻄَﻮَﺕْ
memandang Bismillah Risalesi, awal risalah-risalah serta Kalimat Pertama, sedangkan pada akhir sumpah agung yang menyeluruh itu tampak suatu cara ungkapan yang seolah memandang Lem’a-Lem’a serta Sinar-Sinar terakhir, bagian akhir risalah-risalah, khususnya Lem’a Kedua Puluh Sembilan berbahasa Arab yang luar biasa, suatu ayat terbesar tauhid, Risale-i Esma-i Sitte, Risale-i İşarat-ı Huruf-u Kur'aniye, serta khususnya risalah luar biasa yang untuk saat ini merupakan Sinar paling akhir, yang memiliki sifat mampu membatalkan seluruh sihir rohani kesesatan seperti tongkat Musa, dan dari suatu segi mengambil nama Âyetü'l-Kübra;
karena tanda-tanda serta qarinah dalam satu persoalan saling menguatkan dari segi kesatuan persoalan, dan melalui hubungan yang lemah, suatu tetesan pun disambungkan kepada sumbernya,
tentu dengan bertumpu pada ketujuh dasar ini, kita berkata:
Sebagaimana Hazrat Imam Ali (ra) mengisyaratkan Kalimat-Kalimat terkenal menurut urutannya serta memandang sebagian Mektubat dan Lem’a-Lem’a yang paling penting secara berurutan, demikian pula melalui kalimat
ﺑِﺎَﺳْﻤَﺎﺋِﻚَ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨٰﻰ ﺍَﺟِﺮْﻧ۪ﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺘَﺖْ
ia memandang dengan pujian Lem’a Ketiga Puluh, yakni Esma-i Sitte Risalesi, yang paling akhir dari Lem’a-Lem’a yang berdiri sendiri.
Melalui perkataan
ﺣُﺮُﻭﻑٌ ﻟِﺒَﻬْﺮَﺍﻡٍ ﻋَﻠَﺖْ ﻭَ ﺗَﺸَﺎﻣَﺨَﺖْ,
ia juga menghargai Risalah İşarat-ı Huruf-u Kur'aniye yang mengikuti Lem’a Ketiga Puluh, serta membenarkannya melalui isyarat.
Dari cara ungkapan yang seolah menunjukkan dengan pujian melalui kata
ﻭَ ﺍﺳْﻢُ ﻋَﺼَﺎ ﻣُﻮﺳٰﻰ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻈُّﻠْﻤَﺖُ ﺍﻧْﺠَﻠَﺖْ
risalah kumpulan yang untuk saat ini paling akhir, dalil paling kuat dan luar biasa yang seperti tongkat Musa di tangan tauhid serta iman, tanpa gentar kita memutuskan bahwa:
Hazrat Imam Ali (ra) memberi kabar mengenai Risale-i Nur serta risalah-risalahnya yang sangat penting, melalui makna hakiki dan kiasan, dengan cara isyari, tersirat, melalui petunjuk, serta isyarat ringkas. Siapa pun yang ragu, hendaknya sekali memandang dengan saksama risalah-risalah yang diisyaratkan. Aku mengira, jika ia memiliki keadilan, keraguannya tidak akan tersisa.
Qarinah yang paling indah serta halus bagi makna isyari dan penunjukan kiasan di sini ialah hubungan nama-nama yang diberikan sambil menjaga urutan yang sama. Misalnya, pada urutan perhitungan kedua puluh sembilan, tiga puluh, tiga puluh satu, serta tiga puluh dua, ia mengisyaratkan Kalimat Kedua Puluh Sembilan, Ketiga Puluh, Ketiga Puluh Satu, serta Ketiga Puluh Dua dengan nama-nama yang sangat sesuai. Pada awal, ia mengisyaratkan Kalimat Pertama, awal Sözler, melalui rahasia basmalah yang sama, dan pada akhir, ia memberikan nama-nama yang layak serta menunjukkan hakikat masing-masing kepada risalah-risalah yang untuk saat ini paling akhir. Walaupun tersembunyi, isyarat itu sangat indah serta halus.
Aku mengakui bahwa aku sama sekali tidak layak bagi kedudukan menjadi tempat terwujudnya karya yang begitu diterima ini. Namun, Menciptakan pohon sebesar gunung dari biji kecil yang tidak berarti merupakan Ciri serta Kebiasaan Kudrat Ilahi, dan dalil Keagungan-Nya.
Aku meyakinkan dengan sumpah bahwa tujuanku memuji Risale-i Nur ialah meneguhkan, membuktikan, serta menyebarkan hakikat Al-Qur’an dan rukun iman.
Ratusan ribu syukur kepada Khâliq-ku Yang Rahîm, yang tidak Membuatku mengagumi diriku sendiri, Memperlihatkan aib serta kekurangan nafsuku kepadaku, dan tidak Menyisakan keinginan untuk membuat orang lain mengagumi nafsu ammarah tersebut. Seseorang yang menunggu di pintu kubur memandang dunia sementara di belakangnya dengan riya merupakan kebodohan yang patut dikasihani serta kerugian yang mengerikan.
Dengan keadaan jiwa ini, aku akan menyampaikan hubungan yang halus mengenai tepat serta benarnya Risale-i Nur, yang hanya merupakan penyampai hakikat-hakikat iman. Demikianlah:
Celcelutiye dalam bahasa Suryani berarti bedî', dan memiliki makna bedî'. Risale-i Nur, yang ungkapannya luar biasa, mengambil tempat penting dalam Celcelutiye, dan tetes-tetes darinya tampak pada sebagian besar tempatnya. Karena itu, nama kasidah seolah diberikan dengan memandangnya. Kini aku memahami bahwa julukan Bedîüzzaman yang diberikan kepadaku sejak dahulu, walaupun aku tidak layak, bukan milikku; ia merupakan nama rohani Risale-i Nur. Nama itu dipasangkan kepada penyampainya yang tampak sebagai pinjaman serta amanah. Kini, nama amanah tersebut telah dikembalikan kepada pemilik sejatinya.
Jadi, nama Celcelutiye yang diberikan kepada kasidah karena bermakna bedî' dalam bahasa Suryani serta berulang di dalam kasidah itu, dengan cara isyari membuat orang merasakan hubungannya dengan sifat luar biasa Risale-i Nur dari segi ungkapan, makna, serta nama. Risale-i Nur muncul pada masa bidah, luar biasa dalam penjelasannya serta luar biasa pada zamannya. Aku memperkirakan bahwa, karena Risale-i Nur mengambil banyak tempat dalam musamma (pemilik nama) ini, ia berhak agar nama tersebut juga sedikit memandangnya.
ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَٓﺎ ﺍِﻥْ ﻧَﺴ۪ﻴﻨَٓﺎ ﺍَﻭْ ﺍَﺧْﻄَﺎْﻧَﺎ
PETUNJUK TERSIRAT KEDELAPAN
Sebelum petunjuk tersirat ini diterangkan, jawaban atas dua pertanyaan yang paling penting akan ditulis.
Pertanyaan Pertama:
Di antara semua buku berharga, apa kekhususan Risale-i Nur untuk menerima isyarat serta perhatian Al-Qur’an, penghargaan dan pujian Hazrat Imam Ali (ra), serta perhatian dan kabar gembira Ghauts Yang Agung? Apa hikmah kedua tokoh tersebut melalui karamah memberi nilai serta perhatian yang begitu besar kepada Risale-i Nur?
Jawaban:
Diketahui bahwa kadang satu menit memberikan hasil serta menjadi sepenting satu jam, bahkan satu hari atau bertahun-tahun; dan satu jam seperti satu tahun, bahkan satu umur. Misalnya, seseorang yang menjadi syahid dalam satu menit memperoleh kewalian. Pada saat tubuh membeku karena dingin yang berat serta serangan musuh yang mengerikan, satu jam berjaga dapat menjadi seperti satu tahun ibadah.
Demikian pula, nilai penting yang diberikan kepada Risale-i Nur datang dari pentingnya zaman, kedahsyatan kerusakan abad ini terhadap syariat Muhammad ﷺ serta syiar Ahmad ﷺ, seluruh umat yang sejak dahulu memohon perlindungan dari fitnah akhir zaman, serta diselamatkannya iman orang-orang beriman dari serangan fitnah tersebut. Risale-i Nur memperoleh nilai yang demikian penting sehingga Al-Qur’an memberinya perhatian melalui isyarat yang kuat; Hazrat Imam Ali (ra) memberinya kabar gembira melalui tiga karamah; dan Ghauts Yang Agung (ra) memberi kabar tentangnya dengan karamah serta menguatkan keberanian penyampainya.
Ya, menghadapi kedahsyatan abad ini, benteng-benteng sandaran keyakinan yang hanya mengikuti orang lain telah terguncang, menjauh, serta tertutup tirai. Karena itu, setiap mukmin memerlukan iman tahqiqi yang sangat kuat, yang membuatnya seorang diri mampu menghadapi serangan kesesatan yang datang bersama-sama, agar ia dapat bertahan.
Pada masa yang paling mengerikan serta saat yang paling diperlukan dan genting, Risale-i Nur melaksanakan tugas ini dengan membuktikan hakikat Al-Qur’an serta iman yang paling mendalam dan tersembunyi melalui dalil-dalil yang amat kuat, dengan cara yang dapat dipahami setiap orang. Para muridnya yang ikhlas serta setia, yang membawa iman tahqiqi tersebut, dari segi khidmah keimanan, seperti para wali qutub yang tersembunyi serta titik sandaran rohani bagi orang-orang beriman di kota kecil, desa, serta kota tempat mereka berada. Walaupun tidak diketahui, tidak terlihat, dan tidak ditemui, kekuatan rohani keyakinan mereka, seperti perwira-perwira berani, memberi kekuatan rohani ke hati ahli iman serta memberi daya tahan dan keberanian kepada orang-orang beriman secara rohani.
Pertanyaan Kedua:
Walaupun lebih utama karamah tidak ditampakkan, mengapa engkau mengumumkannya?
Jawaban:
Ini bukan karamah yang menjadi milikku. Dari sifat Al-Qur’an yang bermukjizat secara rohani, ia menetes melalui tafsir khususnya, dalam bentuk karamah, sebagai ikram dari Rabb serta Pemberian Nikmat Ilahi kepada kita dan ahli iman. Tentu, mukjizat Al-Qur’an serta kilau-kilaunya ditampakkan. Mengumumkan nikmat dengan niat bersyukur merupakan cara menceritakan nikmat yang diterima. Ayat
ﻭَ ﺍَﻣَّﺎ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺔِ ﺭَﺑِّﻚَ ﻓَﺤَﺪِّﺙْ
memerintahkan agar hal itu ditampakkan. Dengan sumpah, aku mengakui bahwa aku tidak memiliki kelayakan atau hak yang dapat menjadi sumber kebanggaan serta sikap sombong bagiku. Aku telah membusuk serta mengering seperti biji. Aku mengetahui bahwa seluruh nilai, hidup, serta kehormatan telah beralih kepada pohon Risale-i Nur yang keluar dari biji itu dan mukjizat rohani Al-Qur’an. Karena meyakininya demikian, aku menampakkannya demi sifat Al-Qur’an yang bermukjizat. Seluruh nilai terdapat pada Risale-i Nur, suatu mukjizat Al-Qur’an. Bahkan, nama Bedîüzzaman yang kubawa sejak dahulu ternyata miliknya, dan kembali dikembalikan kepadanya. Adapun Risale-i Nur ialah milik serta makna Al-Qur’an.
Dalam petunjuk tersirat ini terdapat banyak tanda serta qarinah yang khusus bagiku dan meneguhkan keyakinan pribadiku. Namun, karena aku tidak dapat membuktikannya kepada orang lain, aku tidak dapat menuliskannya. Hanya terdapat kesempatan untuk mengisyaratkan dua atau tiga:
Pertama:
Ketika membaca Celcelutiye, berbeda dari munajat lain, aku merasakan bahwa aku sendiri secara langsung bermunajat dengan perasaanku. Itu bukan peniruan melalui bahasa orang lain. Bagiku, ia sangat fitri, berkaitan dengan penderitaanku, serta menjadi landasan yang menyenangkan bagi tafakur rohaniku. Beberapa tahun kemudian, aku melihat karamahnya serta hubungannya dengan Risale-i Nur, dan memahami bahwa keadaan itu datang dari hubungan tersebut.
Kedua:
Pada awal Hazrat Imam Ali (ra) menunjukkan
ﺭُﻭﺣ۪ﻰ ﺑِﻪِ ﺍﻫْﺘَﺪَﺕْ ﺍِﻟٰﻰ ﻛَﺸْﻒِ ﺍَﺳْﺮَﺍﺭٍ ﺑِﺒَﺎﻃِﻨِﻪِ ﺍﻧْﻄَﻮَﺕْ,
di tengah
ﻭَﺍَﻣْﻨِﺤْﻨ۪ﻰ ﻳَﺎ ﺫَﺍ الْجَلَالِ ﻛَﺮَﺍﻣَﺔً ٭ ﺑِﺎَﺳْﺮَﺍﺭِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻳَﺎ ﺣَﻠ۪ﻴﻢُ ﺑِﻚَ ﺍﻧْﺠَﻠَﺖْ,
dan pada akhir
ﻣَﻘَﺎﻝُ ﻋَﻠِﻰٍّ ﻭَ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﻢِّ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ٭ ﻭَ ﺳِﺮُّ ﻋُﻠُﻮﻡٍ لِلْخَلَائِقِ ﺟُﻤِّﻌَﺖْ
sebagai khazanah ilmu. Padahal, secara lahiriah ia hanya merupakan munajat. Bahkan, hubungan sepenuhnya dengan rahasia ilmu tidak tampak seperti kasidah-kasidah Imam Ali (ra) lain yang menebarkan hakikat serta munajat-munajatnya yang bersifat ilmiah. Keyakinan pribadiku ialah:
Karena Celcelutiye telah memasukkan Risale-i Nur ke dalamnya, memeluknya, serta menerima seperti anak rohani, tentu melalui bagian
ﻭَ ﺳِﺮُّ ﻋُﻠُﻮﻡٍ لِلْخَلَائِقِ ﺟُﻤِّﻌَﺖْ,
ia dapat menjadikan Risale-i Nur, yang menyebarkan sebagian berlian khazanahnya pada akhir zaman, sebagai saksi, lalu dengan benar memuji Celcelutiye sebagai khazanah serta harta terpendam ilmu.
Ketiga:
Diketahui bahwa kadang suatu tanda yang sangat kecil, dalam keadaan-keadaan tertentu, menjadi dalil yang sangat kuat dan memberi keyakinan hingga derajat yakin. Dari banyak contoh yang memberiku keyakinan demikian, satu contoh yang telah kuterangkan saja mencukupi bagiku. Demikianlah:
Setelah melalui bagian
ﺗُﻘَﺎﺩُ ﺳِﺮَﺍﺝُ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ
menunjukkan Risale-i Nur melalui waktu, nama, hakikat, dasar, khidmah, serta tugasnya, Hazrat Imam Ali (ra) bermunajat dengan menghitung Nama-nama dalam bahasa Suryani. Di antara tiga puluh dua atau tiga puluh tiga Nama itu, ia mengulang kata ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ dua kali. Pada yang kedua puluh tujuh, ia mengatakan
ﻭَ ﺫَﻳْﻤُﻮﺥٍ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ,
dan pada yang ketiga puluh satu,
ﻭَ ﺑَﺎﺯُﻭﺥٍ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ.
Kalimat-Kalimat Risale-i Nur berjumlah tiga puluh tiga, dan dari satu segi tiga puluh dua; risalah-risalah yang bernama Mektubat juga, dari satu segi, tiga puluh dua, dan dari satu segi tiga puluh tiga, sehingga selaras dengan munajat ini. Hanya terdapat dua tambahan dalam bentuk risalah. Salah satunya ialah tambahan penting Kalimat Kedua Puluh Tujuh, dan yang lain tambahan berharga Kalimat Ketiga Puluh Satu. Kedua risalah tambahan itu tidak memiliki urutan serta nomor tersendiri. Kata ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ bertawafuk pada tempat serta makna yang sama. Semua itu memberiku keyakinan setingkat dua kali dua adalah empat, bahwa Hazrat Imam Ali (ra) melakukan demikian untuk memandang Risale-i Nur, bahkan tambahan-tambahannya, melalui makna yang mengikuti serta maksud isyari.
Masih terdapat banyak qarinah serta hubungan yang masing-masing mengisyaratkan satu Kalimat. Namun, karena tersembunyi serta halus, semuanya tidak disebutkan. {(Catatan kaki): Misalnya, pada urutan kedua puluh delapan, melalui kata
ﻭَ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓِ ﺍﻟﺘَّﻬْﻤ۪ﻴﺰِ
ia mengisyaratkan dalil yang sangat kuat bagi persoalan neraka, bagian akhir Kalimat Kedua Puluh Delapan. Pembahasan persoalan surga di awal yang hanya mengenai dua atau tiga pertanyaan serta jawaban diisyaratkan di tempat lain, sehingga hubungan tersebut tersembunyi.
Misalnya lagi, pada urutan kedua, melalui kata ﻳٰﺲٓ ia memandang Kalimat Kedua, Surat Kedua, Lem’a Kedua, serta Sinar Kedua. Karena hubungan itu meluas, ia tersembunyi.
Misalnya juga,
ﻭَ ﻛَﺎﻑٍ ﻭَ ﻫَﺎ ﻳَﺎﺀٍ ﻭَ ﻋَﻴْﻦٍ ﻭَ ﺻَﺎﺩِﻫَﺎ,
yakni ﻛٓﻬٰﻴٰﻌٓﺺٓ, berada pada urutan kelima dan memandang Kalimat Kelima, Surat Kelima, Lem’a Kelima, Risalah Âyet-i Hasbiye yang merupakan Sinar Keempat, serta Munajat yang merupakan Sinar Ketiga. Karena itu, hubungan tersebut meluas serta tersembunyi. Yang lain hendaknya disandingkan dengan contoh-contoh ini.}
لَا ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ٭ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺎﻟﺼَّﻮَﺍﺏِ ﺍَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻣِﻦْ ﺧَﻄَﺎﺋ۪ﻰ ﻭَﺧَﻄ۪ﻴﺌَﺎﺗ۪ﻰ ﻭَ ﻣِﻦْ ﺳَﻬْﻮ۪ﻯ ﻭَﻏَﻠَﻄَﺎﺗ۪ﻰ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﻧِﻌْﻤَﺔِ الْا۪يمَانِ ﻭَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺣَﺎﺻِﻞِ ﺿَﺮْﺏِ ﺣُﺮُﻭﻑِ ﺭَﺳَﺎﺋِﻞِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺍﻟْﻤَﻘْﺮُﻭﺋَﺔِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﻜْﺘُﻮﺑَﺔِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺘَﻤَﺜِّﻠَﺔِ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻬَﻮَﺍﺀِ ﻓ۪ﻰ ﻋَﺎﺷِﺮَﺍﺕِ ﺩَﻗَﺎﺋِﻖِ ﺣَﻴَﺎﺗ۪ﻰ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَ ﺍﻟْﺒَﺮْﺯَﺥِ ﻭَ الْاٰخِرَةِ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪ۪ ﺑِﻌَﺪَﺩِﻫَﺎ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻭَ ﺍﺭْﺣَﻢْ ﻃَﻠَﺒَﺔَ ﺭَﺳَﺎﺋِﻞِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺑِﻌَﺪَﺩِﻫَﺎ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
BAB KEDUA DARI LEM’A KEDUA PULUH SEMBILAN
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ
Bab Kedua ini mengenai ‘Elhamdülillah’.
Dalam risalah kecil yang disebut Bab Kedua ini, hanya sembilan dari manfaat serta nur iman yang tidak berujung, yang membuat manusia mengatakan kalimat ‘Elhamdülillah’, akan diterangkan.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
Pokok Pertama:
Pertama-tama, dua hal akan diingatkan:
1- Filsafat merupakan kacamata hitam yang memperlihatkan segala sesuatu sebagai buruk serta menakutkan. Iman merupakan kacamata transparan, jernih, serta penuh nur yang memperlihatkan segala sesuatu sebagai indah dan akrab.
2- Manusia berkaitan dengan seluruh makhluk serta memiliki semacam hubungan timbal balik dengan segala sesuatu. Menurut penciptaannya, ia harus bertemu, berbicara, serta bertetangga, melalui kata dan makna, dengan hal-hal yang mengelilinginya. Ia memiliki enam arah: kanan, kiri, depan, belakang, bawah, serta atas.
Dengan mengenakan kedua kacamata yang disebutkan pada matanya, manusia dapat melihat makhluk serta keadaan-keadaan yang terdapat pada arah-arah tersebut.
Arah Kanan:
Yang dimaksud dengan arah ini ialah masa lampau. Karena itu, ketika arah kanan dipandang dengan kacamata filsafat, negeri masa lampau akan terlihat seperti pemakaman besar yang gelap serta menakutkan, yang kiamatnya telah terjadi dan keadaannya telah terbalik. Tidak diragukan bahwa dalam pandangan ini manusia menghadapi rasa ngeri, rasa asing, serta putus asa yang sangat besar.
Namun, ketika arah itu dipandang dengan kacamata iman, walaupun negeri tersebut memang terlihat dalam keadaan terbalik, tidak ada nyawa yang hilang. Dipahami bahwa para awak serta penghuninya telah dipindahkan ke alam yang lebih indah serta penuh nur. Kubur serta lubang-lubang itu juga akan dipandang sebagai terowongan bawah tanah yang digali untuk memasuki alam penuh nur. Jadi, rasa gembira, lega, tenteram, serta lapang yang diberikan iman kepada manusia merupakan nikmat yang membuatnya mengatakan ‘Elhamdülillah’ ribuan kali.