Sinar Kedelapan
Karamah Ali yang Ketiga
PERNYATAAN MAKSUD
Hendaknya diketahui bahwa, dengan menerangkan nilai serta pentingnya Risale-i Nur, aku ingin mengumumkan hakikat-hakikat Al-Qur’an dan rukun-rukun iman, mengajak mereka yang jatuh ke dalam lemahnya iman kepada semua itu, serta menunjukkan kekuatan dan kebenarannya. Aku tidak bermaksud—hâşâ—membuat orang mengagumi serta memuji diriku atau nafsu ammarahku, yang sama sekali tidak kusukai.
Aku juga tidak memuji Risale-i Nur karena secara lahiriah ia merupakan karyaku. Aku menerangkan keunggulannya hanya sebagai tafsir Al-Qur’an, penyampai sejatinya yang terilham dari Al-Qur’an, serta hujah dan pengumum iman. Bahkan, sebagaimana aku menulis sebagian risalah di luar pilihanku, demikian pula dalam menyebut pentingnya Risale-i Nur, aku berada dalam keadaan seperti tidak memiliki pilihan.
Tidak tersisa keraguan bagiku bahwa karamah Celcelutiye ini Diberikan oleh Pertolongan Ilahi sebagai balasan segera, tanda diterimanya, serta sarana dorongan atas banyaknya kesulitan yang kutanggung ketika menulis Risalah Sinar Ketujuh, yang diberi nama Âyetü'l-Kübra oleh Imam Ali radıyallahu anh. Sebagai cara menceritakan nikmat yang diterima, aku menulisnya sebagai Sinar Kedelapan. Kalau tidak, aku akan menulis dalil-dalil yang bermukjizat dari suatu ayat penting mengenai kebangkitan.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
(Ini merupakan karamah Imam Ali radıyallahu anh yang ketiga mengenai Risale-i Nur.)
Ya, dengan meneguhkan serta menguatkan kedua karamahnya yang jelas, yang diterangkan dan dibuktikan dalam Lem’a Kedelapan Belas serta Kedua Puluh Delapan, sebagaimana dalam Kaside-i Celcelutiye-nya ia memberi kabar mengenai Siracünnur hingga derajat jelas, demikian pula dalam kasidah tersebut ia menunjuk risalah-risalah Siracünnur yang paling terkenal, seakan-akan bertepuk tangan, serta menunjukkan sebagian risalahnya yang terkenal melalui delapan petunjuk tersirat.
PERTAMA
Setelah bagian
ﺗُﻘَﺎﺩُ ﺳِﺮَﺍﺝُ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺳِﺮًّﺍ ﺑَﻴَﺎﻧَﺔً
yang menyebut Risale-i Nur dengan jelas, ia memohon pertolongan melalui Asmaulhusna dalam bahasa Suryani dan bermunajat dengan surah-surah Al-Qur’an. Ia menyebut tepat tiga puluh tiga surah dengan cara yang begitu luar biasa serta bermakna, sehingga dipahami bahwa ia juga ingin memberitahukan sebagian rahasia serta kabar gaib. Pada waktu yang sama ketika aku menyelesaikan Sinar Ketujuh, yang diberi nama Âyetü'l-Kübra oleh Imam Ali radıyallahu anh, dalam masa penuh kesulitan, pada malam hari aku membaca Celcelutiye. Tiba-tiba, sebagai balasan serta upah segera bagiku menurut keyakinanku, seperti peringatan gaib, dikatakan kepada hatiku:
Imam Ali radıyallahu anh sangat banyak memperhatikan Risale-i Nur. Sebagaimana memberi kabar tentang keseluruhannya, demikian pula ia memberi petunjuk tersirat serta petunjuk kepada risalah-risalahnya yang berharga hingga derajat isyarat. Jika Hikmah Ilahi tidak Melarang pemberian kabar gaib secara jelas, karena hal itu memiliki banyak bahaya serta bertentangan dengan Hikmah, tentu ia akan menyatakannya secara terang-terangan. Misalnya, ketika menghitung surah-surah, pada yang kedua puluh lima ia berkata:
ﺑِﺤَﻖِّ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﺛُﻢَّ ﻧُﻮﻥٍ ﻭَ ﺳَﺎﺋِﻞٍ ﻭَ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓِ ﺍﻟﺘَّﻬْﻤ۪ﻴﺰِ ﻭَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻛُﻮِّﺭَﺕْ ﻭَ ﺑِﺎﻟﺬَّﺍﺭِﻳَﺎﺕِ ﺫَﺭْﻭًﺍ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﺠْﻢِ ﺍِﺫَﺍ ﻫَﻮٰﻯ ﻭَ ﺑِﺎِﻗْﺘَﺮَﺑَﺖْ ﻟِﻰَ الْاُمُورُ ﺗَﻘَﺮَّﺑَﺖْ ﻭَ ﺑِﺴُﻮَﺭِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺣِﺰْﺑًﺎ ﻭَ ﺍٰﻳَﺔً ﻋَﺪَﺩَ ﻣَﺎ ﻗَﺮَﺍَ ﺍﻟْﻘَﺎﺭ۪ﻯ ﻭَﻣَﺎ ﻗَﺪْ ﺗَﻨَﺰَّﻟَﺖْ ﻓَﺎَﺳْﺌَﻠُﻚَ ﻳَﺎ مَوْلَاىَ ﺑِﻔَﻀْﻠِﻚَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﻣَﺎ ﺍَﻧْﺰَﻟْﺖَ ﻛُﺘْﺒًﺎ ﺗَﻔَﻀَّﻠَﺖْ
Dalam bagian-bagian ini, Hazrat Imam Ali radıyallahu anh mengisyaratkan Kalimat Kedua Puluh Sembilan, yang membuat Pengadilan Pidana Berat Eskişehir heran serta terkenal melalui karamah yang terlihat oleh mata pada dirinya dan hujah-hujah luar biasa yang membuktikan kiamat serta kebangkitan, dengan
ﻭَﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻛُﻮِّﺭَﺕْ
pada urutan kedua puluh sembilan surah-surah yang disebut serta dihitungnya. Sebab, selaras sepenuhnya dengan Surah
ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻛُﻮِّﺭَﺕْ,
yang memberi kabar amat mengerikan tentang terjadinya kiamat, Kalimat Kedua Puluh Sembilan menyebut gambaran mengerikan surah tersebut ketika menerangkan hujah-hujah pasti kiamat, rusaknya alam, matinya dunia, kehidupan akhirat, serta dihidupkannya orang-orang mati. Selarasnya makna serta urutan kedua puluh sembilan keduanya membuktikan isyarat itu.
Hazrat Imam Ali radıyallahu anh juga mengisyaratkan Zerrat Risalesi, yang bernama Kalimat Ketiga Puluh, melalui sumpah
ﻭَﺑِﺎﻟﺬَّﺍﺭِﻳَﺎﺕِ ﺫَﺭْﻭًﺍ
pada urutan ketiga puluh. Risalah tersebut membungkam para materialis yang tenggelam dalam perubahan-perubahan zarah, serta membuktikan perubahan, gerak, tugas, dan keteraturan zarah dengan cara yang tidak tertandingi. Ya, dalam isyarat ini, bersama kemiripan lafaz serta bentuk antara Surah
ﻭَﺍﻟﺬَّﺍﺭِﻳَﺎﺕِ ﺫَﺭْﻭًﺍ
dan Risale-i Zerrat, juga terdapat hubungan dari segi makna. Sebab, pada awal Surah ﻭَﺍﻟﺬَّﺍﺭِﻳَﺎﺕ dinyatakan bahwa gelombang udara yang dianggap kebetulan serta tidak teratur menyampaikan Perintah Penciptaan Rububiyah ke berbagai arah dengan penuh Hikmah serta tugas. Demikian pula, Risale-i Zerrat membuktikan dengan dalil-dalil yang sangat kuat serta pasti bahwa gerak zarah, yang dianggap para materialis kebetulan serta tidak teratur, penuh Hikmah dan zarah-zarah itu diberi tugas-tugas teratur.
Hazrat Imam Ali (ra) juga mengisyaratkan Risale-i Mi'rac (Risalah Mikraj), yang berada pada nama serta urutan Kalimat Ketiga Puluh Satu, dengan cara yang mendekati terang-terangan pada urutan ketiga puluh satu. Risalah itu membuktikan mikraj Muhammad ﷺ melalui dalil akal dengan sangat masuk akal serta pasti. Isyaratnya melalui awal Surah
ﻭَ ﺍﻟﻨَّﺠْﻢِ ﺍِﺫَﺍ ﻫَﻮٰﻯ,
yang pada awalnya menyebut dengan jelas mikraj Ahmad ﷺ serta peristiwa menyaksikan dan bercakap-cakap di Qab Qawsain, yaitu kalimat
ﻭَ ﺍﻟﻨَّﺠْﻢِ ﺍِﺫَﺍ ﻫَﻮٰﻯ.
Meninggalkan Surah ﻭَ ﺍﻟﻄُّﻮﺭِ dan setelah ﻭَ ﺍﻟﺬَّﺍﺭِﻳَﺎﺕ menyebut Surah ﻭَ ﺍﻟﻨَّﺠْﻢِ menguatkan isyarat tersebut.
Hazrat Imam Ali (ra) juga mengisyaratkan risalah yang bernama Şakk-ı Kamer Risalesi (Risalah Terbelahnya Bulan), tambahan Mi'rac Risalesi pada akhir urutan ketiga puluh satu, dengan cara yang mendekati terang-terangan. Risalah itu membuktikan mukjizat terbelahnya bulan melawan para penyangkal melalui dalil-dalil yang kuat. Isyarat tersebut diambil dari Surah
ﺍِﻗْﺘَﺮَﺑَﺖِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﻭَ ﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ,
yang menyebut terbelahnya bulan dengan nas yang jelas, melalui bagian
ﻭَ ﺑِﺎِﻗْﺘَﺮَﺑَﺖْ ﻟِﻰَ الْاُمُورُ ﺗَﻘَﺮَّﺑَﺖْ
yang disebutkan setelah urutan ketiga puluh satu.
Diketahui bahwa Risale-i Nur terutama terdiri atas tiga puluh tiga Kalimat, dan disebut dengan nama Sözler. Namun, Kalimat Ketiga Puluh Tiga tidak berdiri sendiri; ia terdiri atas tiga puluh tiga Surat dan disebut Mektubat. Kemudian, Surat Ketiga Puluh Satu juga tidak berdiri sendiri; ia tersusun dari tiga puluh satu Lem’a dan terkenal dengan nama Lem’alar (Kilau-Kilau). Kemudian, Lem’a Ketiga Puluh Satu pun tidak berdiri sendiri; inşâallah, ia akan tersusun dari tiga puluh satu Sinar. El-Âyetü'l-Kübra merupakan Sinar Ketujuh, dan risalah ini Sinar Kedelapan. Jadi, penutup Sözler ialah Kalimat Ketiga Puluh Dua. Para murid memandang risalah luar biasa yang menyeluruh, bernama Kalimat Ketiga Puluh Dua dan memiliki tiga Bagian itu, sebagai matahari di antara bintang-bintang Risale-i Nur. Dari suatu segi, ia merupakan penutup serta hasil menyeluruh Sözler. Untuk menunjukkan pentingnya yang luar biasa serta cakupannya yang menyeluruh, Hazrat Imam Ali (ra) melalui banyak surah Al-Qur’an sekaligus mengisyaratkan risalah menyeluruh itu, yang berada pada Urutan Ketiga Puluh Dua, dengan sumpah
ﻭَ ﺑِﺴُﻮَﺭِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺣِﺰْﺑًﺎ ﻭَ ﺍٰﻳَﺔً
pada Urutan Ketiga Puluh Dua.
Adapun Kalimat Ketiga Puluh Tiga Risale-i Nur, sebagaimana telah diterangkan, terdiri atas tiga puluh tiga surat, yaitu tiga puluh tiga buku yang bernama Mektubat serta lebih dari seratus risalah. Untuk sekaligus mengisyaratkan seratus sepuluh buku dan surat yang merupakan bagian-bagian Kalimat Ketiga Puluh Tiga itu, pada urutan serta sumpah ketiga puluh tiga, Hazrat Imam Ali (ra) mengisyaratkannya melalui perkataan
ﻭَﺍَﺳْﺌَﻠُﻚَ ﻳَﺎ مَوْلَاىَ ﺑِﻔَﻀْﻠِﻚَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﻣَﺎ ﺍَﻧْﺰَﻟْﺖَ ﻛُﺘْﺒًﺎ ﺗَﻔَﻀَّﻠَﺖْ
ini, yang bermakna memohon pertolongan melalui seratus sepuluh buku ringkas bernama seratus sepuluh suhuf dari langit serta kitab-kitab suci besar tersebut.
Diketahui bahwa dalam ilmu balagah serta ilmu bayan, untuk menunjukkan makna-makna yang jauh dan tersembunyi, jika terdapat salah satu tanda atau hubungan yang disebut qarinah, makna yang jauh serta maksud yang tersembunyi dan isyari diterima, sesuai kekuatan qarinah, seperti makna yang jelas serta lahiriah. Berdasarkan kaidah ini, sebagaimana pada masing-masing makna isyari terdapat banyak qarinah serta tanda, demikian pula makna-makna lain yang menyertainya menjadi qarinah baginya. Bagian-bagian jelas yang memberi kabar tentang keseluruhan Risale-i Nur juga merupakan qarinah kuat bagi masing-masingnya.
PETUNJUK TERSIRAT KEDUA
Risalah Sinar Ketujuh menunjukkan hakikat terbesar serta tafsir terbesar dari
ﺗُﺴَﺒِّﺢُ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ وَالْاَرْضُ ﻭَ ﻣَﻦْ ﻓ۪ﻴﻬِﻦَّ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪,
El-Âyetü'l-Kübra Al-Qur’an, dan merupakan hadiah ilham Ramadan yang mulia. Hazrat Imam Ali (ra), setelah mengisyaratkan Mektubat, di dalam isyarat kepada Lem’alar, memandang Şuâlar dan mengisyaratkan risalah tersebut dengan mengatakan
ﻭَ بِالْاٰيَةِ ﺍﻟْﻜُﺒْﺮٰﻯ ﺍَﻣِﻨّ۪ﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔَﺠَﺖْ.
Isyaratnya melalui pengikutan makna lahiriah serta di balik tirainya, menurut kekuatan berbagai qarinah, yang dalam ilmu balagah disebut ‘müstetbeatü't-terakib’ serta ‘maârîzu'l-kelâm’. Ia memberi nama ‘Âyetü'l-Kübra’ kepada risalah yang luar biasa serta tinggi itu, hujah terbesar tauhid, tanda terbesar El-Âyetü'l-Kübra, dan tafsir yang teragung. Melalui nama tersebut, ia mengumumkan serta memberi kabar tentang keagungan Âyetü'l-Kübra yang merupakan sumbernya, dan kekuatan luar biasa Sinar Ketujuh ini, dalil terbesar Keesaan serta tauhid.
Siapa pun yang meragukan kelayakan risalah ini menerima perhatian besar Hazrat Imam Ali (ra), hendaknya datang dan membacanya sekali. Jika tidak berkata, ‘Ya, ia layak,’ hendaknya ia mencelaku!
Ya, pada setiap abad terdapat banyak pahlawan Al-Qur’an serta benteng rohani yang menolak dan menghadapi sanggahan orang-orang yang tidak beragama, yang selama seribu tahun dipersiapkan dengan keinginan membalas dendam terhadap Al-Qur’an; keraguan para filsuf kafir yang menumpuk, yang kini menemukan jalan untuk tersebar; serta serangan orang-orang Yahudi yang keras kepala, yang memendam dendam akibat pukulan keras Al-Qur’an, dan sebagian orang Kristen yang angkuh. Kini, kebutuhan telah naik dari satu atau dua menjadi seratus, sementara pembela turun dari seratus menjadi dua atau tiga.
Karena mempelajari hakikat-hakikat iman dari ilmu kalam serta madrasah memerlukan waktu panjang, pada zaman ini pintu itu juga telah tertutup. Risale-i Nur mengajarkan hakikat-hakikat paling mendalam dengan cepat serta dengan cara yang dapat dipahami setiap orang. Tentu, ia layak menerima perhatian Imam Ali radıyallahu anh ini.
Pada urutan kesepuluh perhitungannya, sebagai surah kesepuluh, Imam Ali (ra) juga mengatakan
ﻭَﺑِﺴُﻮﺭَﺓِ ﺍﻟﺪُّﺧَﺎﻥِ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺳِﺮًّﺍ ﻗَﺪْ ﺍُﺣْﻜِﻤَﺖْ,
yang memandang kiamat serta Lailatul Barâ’ah. Melalui makna isyari, ia mengisyaratkan Haşir Risalesi (Risalah Kebangkitan), yang bernama serta berada pada urutan Kalimat Kesepuluh. Melalui petunjuk serta petunjuk tersirat, ia memberi kabar tentang pentingnya risalah itu yang luar biasa, kekuatannya yang amat kokoh, serta keadaannya seperti lampu suatu Lailatul Barâ’ah yang menyingkirkan keadaan gelap berasap pada masa tersebut. Ia memberi kabar melalui pokok-pokok asap sebagai salah satu tanda kebangkitan serta kiamat, dan pemisahan serta pembagian urusan setiap tahun dengan Hikmah pada Lailatul Barâ’ah, juga melalui qarinah-qarinah lainnya.
Ya, Kalimat Kesepuluh menolak suatu bencana yang sangat penting. Pada masa bebasnya pikiran serta guncangan Perang Dunia, orang-orang munafik yang menyangkal kebangkitan memperoleh kesempatan dan mulai menampakkan pikiran beracun mereka di banyak tempat. Pada waktu itulah Kalimat Kesepuluh muncul serta dicetak. Seribu salinannya tersebar ke berbagai tempat. Setiap orang yang melihatnya membaca dengan minat serta keingintahuan penuh. Ia sepenuhnya mematahkan pikiran kafir para zindik dan membungkam mereka, serta membuktikan kelayakannya menerima penghargaan Imam Ali radıyallahu anh tersebut. Siapa pun yang ragu, hendaknya datang serta membacanya dengan saksama, lalu melihat betapa kuatnya dalil kebangkitan itu.
Hazrat Imam Ali radıyallahu anh juga menyebut Surah Nur sebagai surah kesembilan belas melalui bagian
ﺑِﺴِﺮِّ ﺣَﻮَﺍﻣ۪ﻴﻢِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺟَﻤ۪ﻴﻌِﻬَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﻳَﺎ ﻧُﻮﺭُ ﺍُﻗْﺴِﻤَﺖْ.
Untuk mengisyaratkan Kalimat Kesembilan Belas yang amat ringkas serta Surat Kesembilan Belas yang amat sempurna, ia mengulang lafaz nur. Dengan kembali menyebut Surah Nur pada yang kelima belas, ia memberi kabar dengan sangat halus serta teliti, memberi petunjuk kepada urutan surat-surat, yakni Surat Keempat Belas yang tetap tidak lengkap. Ia memberitahukan bahwa kedua risalah tersebut merupakan nur-nur besar Risale-i Nur. Ya, Kalimat Kesembilan Belas mengenai kerasulan Muhammad ﷺ serta Surat Kesembilan Belas yang mengandung karamah dan keajaiban dari tiga segi, benar-benar merupakan dua nur Risale-i Nur yang paling cemerlang.
Sehubungan dengan terbebasnya Aisyah As-Siddiqah radıyallahu anhâ dari tuduhan, menurut salah satu dari tiga segi, kata ganti dalam kata ﻣَﺜَﻞُ ﻧُﻮﺭِﻩ۪ pada ayat Nur kembali kepada Muhammad ﷺ. Karena Surah Nur sangat berkaitan dengan pribadi Muhammad ﷺ, melalui surah itu, dengan dua lafaz nur, bahkan tiga kata nur, ia kembali mengisyaratkan kedua risalah yang membuktikan kerasulan Muhammad ﷺ serta Mi'rac Risalesi yang juga membuktikan kerasulan Ahmad ﷺ.
Aku mengakui bahwa aku telah lupa Surat Keempat Belas tetap tidak lengkap. Melalui Hazrat Imam Ali (ra) mengulang surah yang sama dua kali, aku mengingatnya serta kagum kepada ketelitian isyaratnya. Namun, pengulangan itu dihitung hanya untuk Kalimat serta Surat Kesembilan Belas; tidak dihitung bagi yang sesudahnya.
PETUNJUK TERSIRAT KETIGA
Melalui bagian-bagian
ﺗُﻘَﺎﺩُ ﺳِﺮَﺍﺝُ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺳِﺮًّﺍ ﺑَﻴَﺎﻧَﺔً ٭ ﺗُﻘَﺎﺩُ ﺳِﺮَﺍﺝُ ﺍﻟﺴُّﺮْﺝِ ﺳِﺮًّﺍ ﺗَﻨَﻮَّﺭَﺕْ ﺑِﻨُﻮﺭِ جَلَالٍ ﺑَﺎﺯِﺥٍ ﻭَ ﺷَﺮَﻧْﻄَﺦٍ ٭ ﺑِﻘُﺪُّﻭﺱِ ﺑَﺮْﻛُﻮﺕٍ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﺍُﺧْﻤِﺪَﺕْ
yang diterangkan serta dibuktikan dalam Lem’a Kedua Puluh Delapan, ia memberi kabar tentang tiga keadaan penting Risale-i Nur. Karena isyarat bagian-bagian ini kepada Risale-i Nur, melalui ilmu jafr serta makna dengan cara yang mendekati terang-terangan, telah diterangkan dalam Lem’a Kedelapan Belas, di sini hanya akan diterangkan tiga rahasia yang tidak disebutkan di sana serta menarik perhatian Imam Ali radıyallahu anh:
Pertama:
Risale-i Nur layak diedarkan di antara umat Islam dengan diperlihatkan oleh para pengumum. Namun, sayang sekali, ia terpaksa tersebar serta tersembunyi di balik tirai yang sangat rahasia. Untuk mengisyaratkan hal ini, Imam Ali radıyallahu anh, dua kali melalui kata-kata ﺳِﺮًّﺍ ﺑَﻴَﺎﻧَﺔً serta ﺳِﺮًّﺍ ﺗَﻨَﻮَّﺭَﺕْ, memberi kabar dengan heran, ﺳِﺮًّﺍ, yakni ia hanya dapat tersebar secara rahasia.
Kedua:
Karena Risale-i Nur muncul melalui Manifestasi Ismul A'zham serta Tajalli Nama Ar-Rahîm dan Al-Hakîm, sifatnya yang istimewa berjalan di atas dasar Jalâl serta Keagungan yang diambil dari ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُٔ, Rahmat serta Belas Kasih yang diterima dari
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ,
dan Hikmah serta keteraturan yang diperoleh dari
ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ.
Semua itu merupakan ruh serta hidupnya. Sebagai pengganti cinta mendalam pada corak-corak jalan lain, pada corak jalan Risale-i Nur terdapat belas kasih yang penuh kerinduan serta cinta yang penuh kelembutan.
Sebagaimana Hazrat Imam Ali (ra) dengan jelas memberi kabar mengenai waktu penulisan Siracünnur, masa penyempurnaannya, serta namanya yang terkenal melalui bagian
ﺗُﻘَﺎﺩُ ﺳِﺮَﺍﺝُ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ,
demikian pula melalui bagian
ﺑِﻨُﻮﺭِ جَلَالٍ ﺑَﺎﺯِﺥٍ ﻭَ ﺷَﺮَﻧْﻄَﺦٍ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ
ia memberi kabar tentang dasar-dasar Siracünnur. Sebab, جَلَالٍ ﺑَﺎﺯِﺥٍ ialah Kemuliaan, Keagungan, Jalâl, serta Kebesaran. Dalam bahasa Suryani, ﺷَﺮَﻧْﻄَﺦٍ ialah Ar-Ra’ûf, dan ﺑَﺮْﻛُﻮﺕٍ ialah Ar-Rahîm.
Jadi, Hazrat Imam Ali radıyallahu anh melukiskan Siracünnur. Dengan mengatakan bahwa ia mengambil hidup serta nurnya dari Kebesaran, Keagungan, Kelembutan, serta Rahîmiyah, ia menerangkan sifat istimewanya.
Ketiga:
Dalam bagian ini, melalui kalimat
ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﺍُﺧْﻤِﺪَﺕْ,
Hazrat Imam Ali radıyallahu anh berkata bahwa pada tahun seribu tiga ratus lima puluh empat (1354), melalui Siracünnur, yakni nur Risale-i Nur, api kesesatan yang menyerang akan padam, inşâallah. Yakni, ia akan membuat api fitnah agama berhenti merusak, atau mematahkan serangan-serangan lebih jauhnya.
Jika menurut penanggalan Hijriah, dua tahun sebelum sekarang, serangan gagasan-gagasan mengerikan yang maju dengan merugikan agama serta Al-Qur’an, memanfaatkan kesempatan pemisahan agama dari dunia, telah berhenti. Hal itu tentu karena adanya penghalang kuat di hadapan mereka. Melalui banyak tanda, dirasakan bahwa penghalang tersebut ialah hujah-hujah tajam serta dalil-dalil kuat Risale-i Nur, yang pada zaman ini sangat tersebar. Isyarat Ali dalam kemungkinan kedua ini juga meneguhkannya. {(Catatan kaki): Rahasia ‘İnna A'tayna’ juga sebagian telah terwujud. Sebab, dari empat dasar Sufyaniyah, yang paling kuat serta mengerikan sepenuhnya telah tersingkir. Ia menderita azab di bawah kubur. Yang paling besar pun hubungannya telah terputus dalam tindakan nyata. Ia menjadi tawanan serta alat komite Freemason, sibuk dengan azabnya. Hanya bayangannya yang memerintah. Sambil tidak menyerang lebih jauh, sebagian ia mundur. Dua orang yang tersisa akan berusaha memperbaiki jika mampu.} Ya, menurut ilmu jafr,
ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﺍُﺧْﻤِﺪَﺕْ:
ﺥ berjumlah enam ratus; ﺕ empat ratus; ﺭ dua ratus; ﻥ bertasydid seratus; ﻡ empat puluh; ﺩ serta tiga elif tujuh; dalam ﺑِﻪِ, ﺏ dua; ﻩ lima. Keseluruhannya seribu tiga ratus lima puluh empat (1354).
Lillahi'l-hamd, Siracünnur memiliki banyak risalah seperti El-Âyetü'l-Kübra. Masing-masing seperti lampu kuat yang menunjukkan jalan lurus serta membuat kabar Imam Ali radıyallahu anh dibenarkan.
Sehubungan dengan rahasia ketiga ini, seperti
ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﺍُﺧْﻤِﺪَﺕْ,
suatu bagian pada akhir ‘Ercuze’ memandang tahun seribu tiga ratus lima puluh empat (1354) melalui nilai jafrnya, memberi petunjuk kepada dua julukan Said (ra) yang dikenal, secara tersirat serta melalui namanya, dan memberi perintah, ‘Jagalah dirimu!’ Ia memberi isyarat bahwa pada tahun itu Said akan menghadapi banyak bahaya, lebih daripada semua orang. Melalui bagian
ﻓَﺎﺳْﺌَﻞْ لِمَوْلَاكَ ﺍﻟْﻌَﻈ۪ﻴﻢِ ﺍﻟﺸَّﺎﻥِ ﻳَﺎ ﻣُﺪْﺭِﻛًﺎ ﻟِﺬٰﻟِﻚَ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ ﺑِﺎَﻥْ ﻳَﻘ۪ﻴﻚَ ﺷَﺮَّ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﻔِﺘْﻨَﺔِ ﻭَ ﺷَﺮَّ ﻛُﻞِّ ﻛُﺮْﺑَﺔٍ ﻭَ ﻣِﺤْﻨَﺔٍ,
ia berkata, ‘Yâ Saide'l-Kürdî! Jika engkau mencapai tahun seribu tiga ratus lima puluh empat (1354), mintalah serta mohonlah kepada Maulâmu Yang ‘Azhîm agar Menjagamu dari fitnah serta keburukan masa dan abad itu.’
Ya, dalam penjelasan Karamah Ali yang Pertama pada Lem’a Kedelapan Belas, isyarat-isyarat gaib Kaside-i Ercuziye mengenai Risale-i Nur serta penulisnya telah diterangkan. Melalui banyak tanda serta qarinah, telah dibuktikan bahwa ia berbicara dan memberi penghiburan kepada seorang murid yang selalu mendalami Ismul A'zham serta enam Nama terkenal yang disebutnya Sekine, dan murid tersebut ialah Said. Di sana, ia berkata kepada muridnya itu:
ﺍَﺣْﺮُﻑُ ﻋُﺠْﻢٍ ﺳُﻄِّﺮَﺕْ ﺗَﺴْﻄ۪ﻴﺮًﺍ ﺑِﺖَّ ﺑِﻬَﺎ الْاَم۪يرُ ﻭَﺍﻟْﻔَﻘ۪ﻴﺮَﺍ.
Yakni, huruf-huruf asing akan dibuat umum pada tahun seribu tiga ratus empat puluh delapan (1348). Keluarga serta anak-anak, para penguasa, serta orang-orang miskin akan dipaksa berusaha mempelajarinya melalui pelajaran malam.
Ya, kalimat
ﺳُﻄِّﺮَﺕْ ﺗَﺴْﻄ۪ﻴﺮًﺍ
berjumlah tepat demikian: Dua ﺕ delapan ratus; dua ﺱ seratus dua puluh; dua ﺭ empat ratus; dua ﻁ delapan belas; satu ﻯ sepuluh. Keseluruhannya seribu tiga ratus empat puluh delapan. Pada tahun yang sama, orang dipaksa mempelajari huruf Latin melalui pelajaran malam.
Kemudian, Imam Ali (ra) memandang serta berbicara kepada Said (ra), yang mendalami Sekine. Setelah itu, ia mengatakan
ﻳَﺎ ﻣُﺪْﺭِﻛًﺎ ﻟِﺬٰﻟِﻚَ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ.
Kepada murid yang di dua atau tiga tempat diberinya nama Said (ra) melalui isyarat yang kuat, ia berkata, ‘Berusahalah menjaga dirimu dengan berdoa melalui Sekine!’ Sesudah ya panggilan, berdasarkan banyak qarinah serta tanda, terdapat Said. Jadi, ia menjadi
ﻳَﺎ ﺳَﻌ۪ﻴﺪُ ﻣُﺪْﺭِﻛًﺎ ﻟِﺬٰﻟِﻚَ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ.
Melalui kata ﻣُﺪْﺭِﻛًﺎ, bagian ini memandang julukan ‘El-Kürdî’ melalui lafaz serta ilmu jafr. Sebab, ﺩﺭﻛًﺎ tanpa mim ialah pembalikan ‘Kürd’ {(): Yakni, bacaannya dari belakang. (Penerbit)}. Mim tepat sesuai dengan ‘lâm’ serta ‘ye’.
Demikian pula, melalui kata ‘ez-zaman’, ia juga memberi petunjuk kepada julukan Bedîüzzaman, nama lainnya. Melalui nilai jafr seribu tiga ratus lima puluh empat (1354) atau seribu tiga ratus lima puluh lima (1355), ia sepenuhnya melukiskan serta menyatakan keadaan Said (ra) yang sebenarnya dan luar biasa, doanya yang banyak untuk pemeliharaan serta perlindungan, dan khalwat serta pengasingan dirinya. Karena itu, dalam kasidah tersebut, dengan cara yang mendekati terang-terangan, ia menunjuk Said untuk memberinya penghiburan. Di sini pula, ia bertepuk tangan bagi Risale-i Nur, tempat terwujudnya rahasia
ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﺍُﺧْﻤِﺪَﺕْ.
Hendaknya diketahui bahwa, mengenai
ﺍَﻟْﻘَﺴَﻢُ ﺍﻟْﺠَﺎﻣِﻊُ ﻭَﺍﻟﺪَّﻋْﻮَﺓُ ﺍﻟﺸَّﺮ۪ﻳﻔَﺔُ وَالْاِسْمُ الْاَعْظَمُ,
dasar serta ruh Celcelutiye, Hüccetü'l-İslâm Imam Ghazali (ra) berkata, ‘Ketika semua itu diturunkan melalui wahyu kepada Nabi ﷺ, beliau memerintahkan Imam Ali (ra), “Tulislah!” Ia pun menulisnya, kemudian menyusunnya dalam syair.’ Imam Ghazali merupakan murid Uwaisi Imam Ali radıyallahu anh yang paling penting serta paling teliti, dan salah satu hujah Islam yang paling terkenal serta cemerlang. Imam Ghazali (ra) mengatakan:
ﺍِﻥَّ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟﺪَّﻋْﻮَﺓَ ﺍﻟﺸَّﺮ۪ﻳﻔَﺔَ ﻭَ ﺍﻟْﻮِﻓْﻖَ ﺍﻟْﻌَﻈ۪ﻴﻢَ ﻭَ ﺍﻟْﻘَﺴَﻢَ ﺍﻟْﺠَﺎﻣِﻊَ ﻭَ الْاِسْمَ الْاَعْظَمَ ﻭَ ﺍﻟﺴِّﺮَّ ﺍﻟْﻤَﻜْﻨُﻮﻥَ ﺍﻟْﻤُﻌَﻈَّﻢَ بِلَا ﺷَﻚٍّ ﻛَﻨْﺰٌ ﻣِﻦْ ﻛُﻨُﻮﺯِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَ الْاٰخِرَةِ
Dengan mengambil pelajaran dari Imam Nureddin, Imam Ghazali telah menjelaskan kata-kata Suryani dalam Celcelutiye, serta nilai dan sifat istimewanya.
PETUNJUK TERSIRAT KEEMPAT
Setelah memberi kabar tentang Siracünnur, ketika kembali menghitung tiga puluh tiga, dan dari suatu segi tiga puluh dua, Nama dalam bahasa Suryani, Imam Ali (ra) mengisyaratkan dengan kuat Risalah Mu'cizat-ı Kur'aniye serta Kalimat Ketiga Puluh Dua, yang paling kuat serta paling berharga dari Risale-i Nur. Demikian pula, ia memandang risalah-risalah lain melalui petunjuk tersirat, petunjuk, atau isyarat ringkas. Ya, dengan memandang Risale-i Nur, Hazrat Imam Ali (ra) memasukkan Nama-nama Suryani serta berkata:
ﺗُﻘَﺎﺩُ ﺳِﺮَﺍﺝُ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺳِﺮًّﺍ ﺑَﻴَﺎﻧَﺔً ٭ ﺗُﻘَﺎﺩُ ﺳِﺮَﺍﺝُ ﺍﻟﺴُّﺮْﺝِ ﺳِﺮًّﺍ ﺗَﻨَﻮَّﺭَﺕْ ﺑِﻨُﻮﺭِ جَلَالٍ ﺑَﺎﺯِﺥٍ ﻭَ ﺷَﺮَﻧْﻄَﺦٍ ٭ ﺑِﻘُﺪُّﻭﺱِ ﺑَﺮْﻛُﻮﺕٍ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﺍُﺧْﻤِﺪَﺕْ ﺑِﻴَﺎﻩٍ ﻭَﻳَﺎ ﻳُﻮﻩٍ ﻧَﻤُﻮﻩٍ ﺍَﺻَﺎﻟِﻴًﺎ ٭ ﺑِﻄَﻤْﻄَﺎﻡٍ ﻣِﻬْﺮَﺍﺵٍ ﻟِﻨَﺎﺭِ ﺍﻟْﻌِﺪَﺍﺳَﻤَﺖْ ﺑِﻬَﺎﻝٍ ﺍَﻫ۪ﻴﻞٍ ﺷَﻠْﻊٍ ﺷَﻠْﻌُﻮﺏٍ ﺷَﺎﻟِﻊٍ ٭ ﻃَﻬِﻰٍّ ﻃَﻬُﻮﺏٍ ﻃَﻴْﻄَﻬُﻮﺏٍ ﻃَﻴَﻄَّﻬَﺖْ ﺍَﻧُﻮﺥٍ ﺑِﻴَﻤْﻠُﻮﺥٍ ﻭَ ﺍَﺑْﺮُﻭﺥٍ ﺍُﻗْﺴِﻤَﺖْ ٭ ﺑِﺘَﻤْﻠ۪ﻴﺦِ ﺍٰﻳَﺎﺕٍ ﺷَﻤُﻮﺥٍ ﺗَﺸَﻤَّﺨَﺖْ ﺍَﺑَﺎﺫ۪ﻳﺦَ ﺑَﻴْﺬُﻭﺥٍ ﻭَ ﺫَﻳْﻤُﻮﺥٍ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ ٭ ﺧَﻤَﺎﺭُﻭﺥٍ ﻳَﺸْﺮُﻭﺥٍ ﺑِﺸَﺮْﺥٍ ﺗَﺸَﻤَّﺨَﺖْ ﺑِﺒَﻠْﺦٍ ﻭَ ﺳِﻤْﻴَﺎﻥٍ ﻭَ ﺑَﺎﺯُﻭﺥٍ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ ٭
{(): (Catatan kaki): Ia memandang Kalimat Kedua Puluh Sembilan yang terkenal mengenai kebangkitan, kemudian mikraj serta tambahannya mengenai terbelahnya bulan.} Ia menutup dengan doa,
ﺑِﺬَﻳْﻤُﻮﺥٍ ﺍَﺷْﻤُﻮﺥٍ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻜَﻮْﻥُ ﻋُﻤِّﺮَﺕْ ﺑِﺸَﻠْﻤَﺨَﺖٍ ﺍِﻗْﺒَﻞْ ﺩُﻋَﺎﺋ۪ﻰ.
Hazrat Imam Ali (ra), pada urutan pertama, dengan jelas menunjukkan serta menghitung Risale-i Nur, yang pada awal diberinya kabar dengan terang-terangan, melalui nama Siracünnur dan Siracüssürc. Ketika sampai pada yang kedua puluh lima, ia mengatakan
ﺑِﺘَﻤْﻠ۪ﻴﺦِ ﺍٰﻳَﺎﺕٍ ﺷَﻤُﻮﺥٍ ﺗَﺸَﻤَّﺨَﺖْ.
Ia mengisyaratkan Mu'cizat-ı Kur'aniye Risalesi, yang bernama Kalimat Kedua Puluh Lima, risalah Risale-i Nur yang paling terkenal serta cemerlang. Risalah itu menerangkan sifat ayat-ayat Al-Qur’an yang bermukjizat, serta membuktikan Al-Qur’an sebagai mukjizat dari empat puluh segi di dalam tujuh segi menyeluruh.
Sebab, dihitungnya Siracünnur pada urutan pertama di awal, dalam bagian ﺑِﺘَﻤْﻠ۪ﻴﺦِ ﺍٰﻳَﺎﺕٍ terdapatnya kata ﺍٰﻳَﺎﺕٍ, serta disebutkannya pada urutan kedua puluh lima, merupakan qarinah kuat bahwa melalui makna kiasan ia memandang Kalimat Kedua Puluh Lima, yang menyebut banyak ayat dan menerangkan sifatnya yang bermukjizat serta rahasianya. Dalam perhitungan surah-surah pun, kembali pada urutan kedua puluh lima, ia mengubah ungkapan dan, seakan memulai dari awal, mengatakan ﺑِﺤَﻖِّ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ. Dengan begitu, ia menunjukkan pentingnya Kalimat Kedua Puluh Lima, yang paling diberkahi serta penuh berkah dalam Risale-i Nur.
Kemudian, pada yang kedua puluh enam serta tujuh, ia mengatakan
ﺍَﺑَﺎﺫ۪ﻳﺦَ ﺑَﻴْﺬُﻭﺥٍ ﻭَ ﺫَﻳْﻤُﻮﺥٍ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ.
Lalu pada yang ketiga puluh serta tiga puluh satu, ia mengatakan
ﺑِﺒَﻠْﺦٍ ﻭَ ﺳِﻤْﻴَﺎﻥٍ ﻭَ ﺑَﺎﺯُﻭﺥٍ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ,
kembali mengubah ungkapan serta menyebut kata ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ. Melalui qarinah yang sangat jelas serta kuat, ia mengisyaratkan tambahan Kalimat Kedua Puluh Tujuh mengenai ijtihad yang membahas para sahabat, yang amat penting serta berharga, dan tambahan Kalimat Ketiga Puluh Satu mengenai mikraj yang membahas terbelahnya bulan, yang penting serta sangat dibutuhkan, seolah menunjukkannya melalui kata ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ.
Aku mengakui bahwa aku telah lupa tambahan-tambahan ini. Dengan peringatan Imam Ali (ra) ini, aku mengingatnya. Aku telah menulis terbelahnya bulan sebelumnya. Kini, pada saat ini, aku mengingat tambahan mengenai para sahabat.
Karena dalam ilmu balagah serta ilmu bayan suatu makna kiasan dapat dimaksudkan melalui satu qarinah, dan jika terdapat isyarat kepada suatu maksud melalui satu hubungan, maksud tersebut diterima sebagai makna isyari, tentu pengulangan kata ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ, yang bermakna tambahan, sambil mengubah ungkapan pada kedua tempat yang persis merupakan letak tambahan-tambahan itu, merupakan qarinah yang lengkap. Bahkan dengan mengesampingkan begitu banyak qarinah serta tanda yang jelas, hal itu menunjukkan bahwa Hazrat Imam Ali (ra) ingin menyatakan suatu makna kiasan serta isyari selain makna sebenarnya.
Kemudian, pada urutan kedua puluh sembilan, dengan cara yang penuh wibawa, ia mengatakan
ﺧَﻤَﺎﺭُﻭﺥٍ ﻳَﺸْﺮُﻭﺥٍ ﺑِﺸَﺮْﺥٍ ﺗَﺸَﻤَّﺨَﺖْ.
Dengan mengulang kata ﺗَﺸَﻤَّﺨَﺖْ yang terdapat pada yang kedua puluh lima serta bermakna mengetahui rahasia, melalui qarinah yang kuat ia mengisyaratkan Kalimat Kedua Puluh Sembilan yang luar biasa, yang telah kita terangkan.
Kemudian, pada urutan ketiga puluh dua, untuk kembali menarik perhatian dengan kuat kepada Kalimat Ketiga Puluh Dua, risalah menyeluruh yang diisyaratkan dengan perhatian penting dalam perhitungan surah-surah, ia mengatakan
ﺫَﻳْﻤُﻮﺥٍ ﺍَﺷْﻤُﻮﺥٍ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻜَﻮْﻥُ ﻋُﻤِّﺮَﺕْ,
dan dalam satu salinan,
ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻜَﻮْﻥُ ﻋُﻄِّﺮَﺕْ.
Yakni, melalui Tajalli Nama Al-‘Adl serta Al-Hakam, Keadilan dan Keseimbangan-Nya, serta Keteraturan dan Hikmah-Nya, dunia diperbaiki dan diselamatkan dari kerusakan. Menurut salinan kedua, melalui aroma baik serta harum kedua Nama itu, dunia memperoleh aroma indah. Ia memberi aroma baik seperti toko penjual wewangian.
Ia menunjuk Kalimat Ketiga Puluh Dua, yang seperti cermin cemerlang serta tafsir Nama Al-‘Adl dan Al-Hakam, lalu menyatakannya dalam bentuk makna kiasan. Dengan mengulang kata ﺫَﻳْﻤُﻮﺥٍ, ia memberi petunjuk bahwa, walaupun Sözler berjumlah tiga puluh tiga, satu urutannya terdiri atas surat-surat, dan Kalimat Ketiga Puluh Dua merupakan urutan terakhirnya.
Karena aku tidak sepenuhnya mengetahui makna kata-kata Suryani, dan Imam Ghazali (ra) pun tidak sepenuhnya menerangkannya, untuk saat ini aku meninggalkan isyarat Hazrat Imam Ali (ra) melalui kata-kata tersebut kepada risalah-risalah lainnya.