Risalah Nur — Bahasa Indonesia

AYAT DAN AYAT-AYAT KEDUA PULUH EMPAT

Sinar-Sinar · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

AYAT DAN AYAT-AYAT KEDUA PULUH EMPAT

Inilah ayat-ayat agung

ﺗَﻨْﺰ۪ﻳﻞُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰِ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢِ,

yang terdapat pada awal Surah Zumar, Jatsiyah, serta Ahqaf. Seperti ayat-ayat pada yang kedua puluh dua, melalui suatu makna tersirat ayat-ayat ini juga memandang nama serta diri Risaletü'n-Nur, dan penulisan serta penyebarannya.

Suatu peringatan penting sebelum penjelasan

(Empat atau lima pokok yang diperlukan akan diterangkan.)

Pokok Pertama:

Sebagaimana terdapat dalam hadis, ‘Pada tingkatan-tingkatan makna setiap ayat terdapat zahir, batin, batas, serta tempat pandangan yang tinggi. Masing-masing dari keempat lapisan ini memiliki cabang, isyarat, dahan, serta ranting, yang dalam hadis disebut “şücûn ve gusûn”.’ Berdasarkan ketentuan hadis dengan maksud tersebut, ayat suci yang turun mengenai Al-Qur’an ini memandang tafsir yang memiliki hubungan amat kuat dengan Al-Qur’an, melalui suatu lapisan cabang serta suatu makna isyari. Hal itu merupakan tuntutan sifatnya yang bermukjizat secara rohani dalam bahasa gaib tersebut, dan tidak mengurangi kedudukannya.

Pokok Kedua:

Setiap orang yang membacanya membenarkan bahwa, di antara anggota-anggota cakupan makna isyari suatu lapisan, satu anggota yang tampil pada abad ini serta memiliki hubungan yang amat kuat ialah Risaletü'n-Nur. Ya, dengan menjadikan murid-murid dekat Risaletü'n-Nur sebagai saksi, aku berkata:

Risaletü'n-Nur tidak diambil dari ilmu, sains, serta buku-buku lain seperti karya-karya lainnya. Ia hanya memiliki Al-Qur’an sebagai sumber, hanya memiliki Al-Qur’an sebagai guru, serta hanya memiliki Al-Qur’an sebagai rujukan. Ketika ditulis, tidak ada buku apa pun di dekat penulisnya. Ia terilham langsung dari limpahan Al-Qur’an, turun dari langit Al-Qur’an serta bintang-bintang ayatnya.

Pokok Ketiga:

Karena dari awal hingga akhir Resaili'n-Nur menjadi tempat terwujudnya Nama Al-Hakîm serta Ar-Rahîm, ketiga ayat ini diakhiri dengan Nama Al-Hakîm, dan ayat kedua puluh lima yang akan datang diakhiri dengan Ar-Rahmân serta Ar-Rahîm. Hal itu benar-benar menguatkan hubungan maknawi. Berdasarkan hubungan maknawi yang kuat ini, kita berkata:

Sebagaimana salah satu makna jelas kalimat

ﺗَﻨْﺰ۪ﻳﻞُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ

ialah turunnya Kitâb Mubîn dalam bentuk wahyu pada Zaman Kebahagiaan, demikian pula melalui makna isyari ia berkata: Pada setiap abad, dari tingkat Arasy Kitâb Mubîn itu serta mukjizat rohaninya, hakikat-hakikatnya yang tersembunyi dan dalil-dalil hakikatnya turun melalui limpahan serta ilham. Pada abad ini, dengan perhatian khusus, ia mengambil seorang murid serta suatu kilau darinya ke dalam sayap perlindungan serta lingkaran sucinya.

Pokok Keempat:

Tiga puluh tiga ayat terkenal yang disebutkan dalam risalah ini bersama-sama, tanpa dipaksakan, menunjuk Resaili'n-Nur melalui makna serta ilmu jafr. Terutama, Âyeti'n-Nur mengisyaratkannya dengan sepuluh jari melalui kaidah yang sejak dahulu terkenal di kalangan ulama serta para sastrawan, sarana penggalian makna yang benar, bahkan hukum ilmiah yang dikenal dan digunakan para sastrawan pada penanggalan khusus serta batu nisan. Jika tidak dicampuri rekayasa, hukum itu dapat menjadi isyarat gaib. Jika dilakukan dengan rekayasa serta kesengajaan, ia hanya menjadi kehalusan, keindahan, serta kekuatan ungkapan.

Ya, para sastrawan memperindah perkataan mereka dengan meniru hal itu pada penanggalan khusus serta pribadi. Isyarat melalui nilai abjad merupakan salah satu kaidah paling mendasar dan kunci penting ilmu jafr. Dari setiap segi, Al-Qur’an merupakan kesadaran itu sendiri, ilmu itu sendiri, serta kehendak semata; ia tidak memiliki keadaan yang kebetulan ataupun bahan yang tidak diperlukan. Begitu banyak ayat terkenalnya bersama-sama dan sepakat mengisyaratkan serta bertawafuk dengan Risalei'n-Nur. Hal itu merupakan kesaksian bagi diterimanya hingga derajat jelas, tanda pengesahan bahwa ia benar, serta kabar gembira bagi para muridnya.

Pokok Kelima:

Dalil bahwa perhitungan abjad ini merupakan kaidah ilmiah yang diterima serta umum, dan hukum sastra, sangat banyak. Di sini kita hanya akan menerangkan empat atau lima sebagai contoh:

Pertama:

Pada suatu waktu, ketika sebagian ulama Bani Israil mendengar huruf-huruf terpisah pada awal surah, seperti ﺍﻟٓﻢٓ ٭ ﻛٓﻬٰﻴٰﻌٓﺺٓ, di hadapan Nabi ﷺ, mereka berkata melalui perhitungan jafr, ‘Yâ Muhammed! ﷺ Masa umatmu singkat.’ Beliau menjawab mereka, ‘Tidak singkat.’ Beliau membaca huruf-huruf terpisah pada awal surah-surah lain, lalu menyatakan, ‘Masih ada lagi.’ Mereka terdiam.

Kedua:

Kaside-i Celcelutiye yang paling terkenal dari Hazrat Ali radıyallahu anh, dari awal hingga akhir, ditulis melalui semacam perhitungan abjad serta jafr, dan dicetak di percetakan demikian pula.

Ketiga:

Orang-orang yang mendalami rahasia gaib, seperti Ja'far As-Sadiq radıyallahu anh serta Muhyiddin Arabi (ra), dan yang mendalami ilmu rahasia huruf, menerima perhitungan abjad ini sebagai kaidah gaib serta kunci.

Keempat:

Para sastrawan besar menerima perhitungan ini sebagai hukum kehalusan sastra dan memakainya sejak dahulu. Bahkan, demi kehalusan, walaupun seharusnya tidak dilakukan dengan sengaja, direkayasa, ataupun ditiru, mereka meniru kunci-kunci gaib tersebut dengan rekayasa serta kesengajaan.

Kelima:

Kaidah-kaidah yang paling halus di dalam hubungan angka pada para ahli matematika, serta hukum-hukum yang terlihat luar biasa bagi orang awam, termasuk jenis perhitungan tawafuk ini. Bahkan, dalam fitrah segala sesuatu, Sang Fâthir Yang Hakîm Menjadikan tawafuk perhitungan ini sebagai kaidah keteraturan, hukum kesatuan serta keadaan serasi, dasar proporsi serta kesesuaian, dan hukum keindahan serta ketertiban.

Misalnya, sebagaimana jari-jari, saraf, tulang, bahkan sel serta pori-pori kedua tangan dan kedua kaki bertawafuk secara perhitungan, demikian pula pohon ini bertawafuk dalam bunga, daun, serta buah pada musim semi ini dengan musim semi lalu. Musim semi ini juga bertawafuk dengan musim semi lalu melalui selisih kecil. Selarasnya musim-musim semi mendatang dengan musim-musim semi lampau, melalui selisih yang kecil serta mengandung rahasia, menunjukkan Pilihan dan Kehendak Ilahi. Semua itu merupakan saksi kuat Keesaan yang menunjukkan Keesaan Sang Pembuat Yang Hakîm Dzul-Jamâl.

Karena tawafuk jafr serta abjad ini menjadi hukum ilmiah, kaidah matematika, hukum fitrah, cara sastra, serta kunci gaib, tentu Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya menggunakan hukum tawafuk itu dalam isyarat-isyaratnya sebagai tuntutan sifatnya yang bermukjizat. Ia merupakan sumber ilmu, tambang rahasia, penyampai ayat-ayat penciptaan fitrah, mukjizat terbesar sastra, serta bahasa gaib.

Peringatan telah selesai; kini kita kembali kepada pokok pembahasan.

Hubungan maknawi ayat-ayat

ﺗَﻨْﺰ۪ﻳﻞُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰِ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢِ

pada awal Surah Zumar, Jatsiyah, serta Ahqaf telah diterangkan pada Pokok Kedua peringatan terdahulu. Karena itu, di sini kita hanya akan menerangkan petunjuk tersirat jafrnya.

Demikianlah: Dua ﺕ berjumlah delapan ratus; dua ﻥ seratus; dua ﻡ delapan puluh; dua ﻙ empat puluh; tiga ﺯ dua puluh satu; tiga ﻯ tiga puluh; satu ﺏ serta satu ﺡ sepuluh; ‘lafzullah’ enam puluh tujuh; satu ﻉ tujuh puluh; empat ﻝ serta empat ﺍ seratus dua puluh empat. Keseluruhannya seribu tiga ratus empat puluh dua (1342). Sambil menarik perhatian kepada tahun ini pada abad kita, ia menunjuk suatu Nur yang sangat berkaitan dengan turunnya Al-Qur’an.

Tidak lama setelah tahun itu, bagian-bagian Risaletü'n-Nur yang paling penuh nur, seperti Risalah Mu'cizat-ı Ahmediye ﷺ serta Surat Kedua Puluh dan Kedua Puluh Empat, mulai tersebar. Risalah Mu'cizat-ı Kur'aniye, yang membuktikan sifat Al-Qur’an yang bermukjizat dari empat puluh segi, serta Kalimat Kesepuluh mengenai kebangkitan, sama-sama tersebar pada tahun empat puluh dua dan terkenal luar biasa pada tahun empat puluh enam. Kejadian pada waktu yang sama ini merupakan tanda kuat bahwa ayat tersebut memberi perhatian khusus kepadanya.

Sebagaimana ayat-ayat ini mengisyaratkan penulisan serta penyebarannya, demikian pula kata

ﺗَﻨْﺰ۪ﻳﻞُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ

saja, dengan menghitung ‘nun’ bertasydid sebagai satu ‘nun’, bertawafuk dengan nama Risaletü'n-Nur melalui selisih yang amat kecil. Ia memandangnya secara tersirat serta menerimanya ke dalam cakupannya. Sebab, kata

ﺗَﻨْﺰ۪ﻳﻞُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ

berjumlah sembilan ratus lima puluh satu (951). Melalui tawafuk dengan selisih tiga yang mengandung rahasia, ia memandang sembilan ratus empat puluh delapan (948), nilai Risaletü'n-Nur.

Tiba-tiba terlintas bahwa rahasia selisih tiga ini ialah tingkatan Risaletü'n-Nur berada pada yang ketiga. Yakni, ia bukan wahyu dan tidak dapat menjadi wahyu. Secara umum, ia juga bukan ilham; sebagian besarnya merupakan lintasan yang datang ke hati melalui limpahan serta pertolongan Al-Qur’an, dan penggalian makna Al-Qur’an.

Ini menarik perhatian: Pada Surah Mu’min, yang merupakan ﺣٰﻢٓ pertama, nilai jafr

ﺗَﻨْﺰ۪ﻳﻞُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰِ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢِ,

seperti beberapa ayat penting, memandang seribu tiga ratus tujuh puluh (1370). Apakah lima belas atau dua puluh tahun kemudian akan muncul nur Al-Qur’an lain, ataukah Resaili'n-Nur akan mencapai kemenangan melalui perkembangan yang luar biasa? Karena tidak mengetahuinya, aku tidak dapat membuka pintu itu.

AYAT KEDUA PULUH LIMA

Ini ialah ayat suci

ﺣٰﻢٓ ٭ ﺗَﻨْﺰ۪ﻳﻞٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ.

Hubungan makna isyari ayat ini dengan Resaili'n-Nur sangat kuat. Salah satu seginya ialah jalan Risaletü'n-Nur serta para muridnya berjalan di atas empat dasar.

Yang pertama ialah tafakur, yang memandang Nama Al-Hakîm.

Salah satunya juga ialah belas kasih dan merasakan kebutuhan diri yang tidak terbatas; hal itu memandang Nama Ar-Rahmân serta Ar-Rahîm.

Sebagaimana ayat ini menunjuk waktu penulisan serta penyempurnaan Resaili'n-Nur melalui tawafuk, demikian pula kata ﺗَﻨْﺰ۪ﻳﻞٌ, dengan menghitung tanwin sebagai ‘nun’ karena bukan tempat wakaf, memiliki nilai lima ratus empat puluh tujuh (547). Dengan menghitung ‘nun’ bertasydid sebagai satu ‘nun’, nilainya bertawafuk dengan lima ratus empat puluh delapan atau empat puluh sembilan (548–549), nilai nama kedua serta ketiga Sözler, yaitu Resaili'n-Nur dan Risale-i Nur, melalui satu atau dua selisih yang amat kecil serta mengandung rahasia. Secara tersirat, ia memandangnya dan mengambilnya ke dalam lingkarannya.

Nilai jafr

ﺣٰﻢٓ ٭ ﺗَﻨْﺰ۪ﻳﻞٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ

juga, dari satu segi, berjumlah seribu tiga ratus lima puluh empat atau lima (1354–1355): Yakni, jika tanwin dihitung sebagai ‘nun’, lâm asal pada kedua ‘ra’ bertasydid diperhitungkan, dan ﺣٰﻢٓ menjadi ﺣَﺎﻣ۪ﻴﻢْ seperti dalam pelafalan. Dari segi lain, yakni jika tanwin tidak dihitung, nilainya menjadi seribu tiga ratus empat (1304). Dari segi ketiga, yakni jika kedua ‘lâm’ yang tidak terdapat dalam pelafalan tidak diperhitungkan, nilainya menjadi seribu dua ratus sembilan puluh empat (1294).

Dari segi pertama, tawafuknya yang tepat kepada tahun seribu tiga ratus lima puluh lima serta lima puluh empat menurut penanggalan Arab ini sesuai dengan sifat Al-Qur’an yang bermukjizat secara rohani. Pada masa itu, penulisan Resaili'n-Nur mencapai kesempurnaan hingga suatu derajat, memperoleh nilai yang luar biasa penting, diterpa badai, serta para muridnya membutuhkan penghiburan suci. Tawafuk itu juga tepat kepada waktu penulisan Surat Ketiga Puluh Satu yang terdiri atas tiga puluh satu Lem’a; waktu munculnya Lem’a Ketiga Puluh Satu surat tersebut; penulisan Sinar Pertama dari Lem’a itu; saat isyarat tiga puluh tiga ayat kepada Risale-i Nur digali dalam dua puluh sembilan Bagian Sinar tersebut; serta saat ini, menit ini, keadaan ini, ketika petunjuk ayat kedua puluh lima kepada Risale-i Nur ditulis. Ini merupakan tawafuk yang amat halus serta penuh kabar gembira.

Dari segi kedua, yakni dengan nilai seribu tiga ratus empat (1304), melalui tawafuk yang tepat ia menunjuk masa ketika penyampai Risale-i Nur memulai dengan basmalah dasar-dasar ilmu, tangga menuju Risale-i Nur, mengucapkan basmalah dalam pencapaian-pencapaian Nur, serta membaca ‘Bismillahirrahmanirrahîm’ pada pembuka kehidupan ilmunya. Ia menepuk punggungnya dan berkata secara tersirat, ‘Majulah, bekerjalah dengan selamat!’

Dari segi ketiga, yakni melalui nilai jafr seribu dua ratus sembilan puluh tiga atau empat (1293–1294), melalui rahasia tawafuk yang tepat, ia memberi petunjuk kepada awal basmalah kehidupan duniawi penyampai tersebut. Secara tersirat, dengan penuh pemberian nikmat, ia memberi kabar bahwa, walaupun melihat serta menanggung gejolak dan badai yang amat mengerikan, kehidupannya akan selalu menjadi tempat terwujudnya Nama Ar-Rahmân serta Ar-Rahîm, dilindungi dengan Rahmat, serta dipelihara dengan Belas Kasih. Dengan cara ini, ia menunjukkan suatu sinar dari jenis kabar gaib dalam sifat Al-Qur’an yang bermukjizat secara rohani.

AYAT KEDUA PULUH ENAM

Dalam Surah Hud, dua baris setelah ayat

ﻓَﻤِﻨْﻬُﻢْ ﺷَﻘِﻰٌّ ﻭَ ﺳَﻌ۪ﻴﺪٌ

datang ayat

ﻭَﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺳُﻌِﺪُﻭﺍ ﻓَﻔِﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ

ini. Dengan menghitung ‘mim’, ‘lâm’, serta ‘nun’ bertasydid masing-masing sebagai dua, dan dalam ﺍَﻟْﺠَﻨَّﺔِ huruf ﺓ menjadi ﻩ karena berada pada wakaf, nilai jafr ayat ini menjadi seribu tiga ratus lima puluh dua (1352). Dengan tawafuk yang persis serta tepat kepada tahun seribu tiga ratus lima puluh dua, masa murid-murid Resaili'n-Nur paling putus asa serta tertimpa musibah, ia menjadi penghiburan suci dari langit dan kabar gembira dalam keadaan mereka yang patut dikasihani. Hubungan maknawi ayat itu telah diterangkan dalam satu atau dua risalah, yakni Keramat-ı Aleviye serta Gavsiye. Di dalam

ﻭَﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺳُﻌِﺪُﻭﺍ,

kata ﺳُﻌِﺪُﻭﺍ, pada halaman Al-Qur’an, tepat sejajar serta berhadapan dengan kata yang terdapat dalam

ﻓَﻤِﻨْﻬُﻢْ ﺷَﻘِﻰٌّ ﻭَ ﺳَﻌ۪ﻴﺪٌ,

yakni ﺳَﻌ۪ﻴﺪٌ. Hal ini menambah kehalusan tawafuk tersebut. Melalui tawafuk yang tepat, ia mengisyaratkan serta menunjuk bahwa pada tahun seribu tiga ratus lima puluh dua di abad ini terdapat suatu contoh juz’i yang sangat membutuhkan penghiburan, seperti murid-murid Risale-i Nur, di antara contoh-contoh juz’i makna suci ayat ini yang universal serta amat luas.

Jika wakaf tidak dilakukan pada kata ﻓَﻔِﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ, dan ia dihubungkan dengan kata ﺧَﺎﻟِﺪ۪ﻳﻦَ, pada saat itu ﺓ tidak menjadi ﻩ. Namun, terjadi tawafuk yang lebih halus serta menghibur. Sebab, menurut kaidah nahwu,

ﻭَﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺳُﻌِﺪُﻭﺍ

merupakan mubtada, dan

ﻓَﻔِﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺧَﺎﻟِﺪ۪ﻳﻦَ

merupakan khabarnya. Melalui jumlah seribu tiga ratus empat puluh sembilan (1349), nilai jafrnya, khabar ini memberi kabar tersirat yang menggembirakan mengenai tahun seribu tiga ratus empat puluh sembilan. Melalui makna isyari serta tawafuk jafr, ia memberi kabar bahwa suatu kelompok pemberi khidmah kepada Al-Qur’an pada tahun itu merupakan penghuni surga serta orang-orang yang berbahagia. Pada tahun ini, khidmah luar biasa murid-murid Risale-i Nur demi Al-Qur’an, cahaya yang mereka peroleh, penulisan risalah-risalah yang sangat penting, serta persiapan musibah yang kini menimpa mereka oleh para musuhnya, telah tampak. Tentu, hal itu menunjukkan bahwa kabar gembira Al-Qur’an yang bersifat isyari, menghibur, serta mengarah kepada tahun ini memandang mereka terutama.

Ya, dalam

ﻓَﻔِﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺧَﺎﻟِﺪ۪ﻳﻦَ,

dengan menghitung ‘nun’ bertasydid sebagai satu ‘nun’, ﺕ berjumlah empat ratus, dan ﺥ enam ratus, sehingga menjadi seribu. Dua ﻥ seratus; satu ﻯ, dua ﻑ, serta satu ﻝ dua ratus; ﻝ lainnya tiga puluh; ﻯ kedua sepuluh; dua elif dua; satu ﺝ tiga; satu ﺩ empat. Bagian akhir itu berjumlah empat puluh sembilan, sehingga keseluruhannya seribu tiga ratus empat puluh sembilan (1349).

Bersentuhannya satu dari seribu segi kabar gembira Al-Qur’an ini dengan kita lebih berharga daripada seribu khazanah. Salah satu pembawa kabar bagi kabar gembira ini ialah mimpi yang benar yang terlihat setahun sebelumnya. Demikianlah: Sebulan sebelum peristiwa yang menimpa kita di Isparta ini, kepada seseorang dikatakan dalam mimpi:

‘Murid-murid Resaili'n-Nur akan masuk ke kubur dengan iman; mereka tidak akan wafat tanpa iman.’

Pada saat itu, kita sangat gembira atas mimpi tersebut. Jadi, kabar gembira itu merupakan pembawa kabar bagi kabar gembira Al-Qur’an ini. {(Catatan kaki): Pada halaman ini terdapat kabar gembira Al-Qur’an, kabar baik dari langit, yang lebih berharga daripada kekuasaan seluruh dunia.}

AYAT KEDUA PULUH TUJUH

Dalam Surah Saff:

ﻳُﺮ۪ﻳﺪُﻭﻥَ ﻟِﻴُﻄْﻔِﺆُﺍ ﻧُﻮﺭَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺑِﺎَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣُﺘِﻢُّ ﻧُﻮﺭِﻩ۪ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ.

Nilai jafr kalimat

ﻧُﻮﺭَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺑِﺎَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣُﺘِﻢُّ ﻧُﻮﺭِﻩ۪

dalam ayat ini ialah seribu tiga ratus enam belas atau tujuh (1316–1317). Tahun tersebut, dalam hubungan perubahan pikiran yang telah disebutkan pada penutup ayat kedua puluh satu, ialah tahun ketika seorang menteri kolonial Eropa berusaha memadamkan nur Al-Qur’an. Itu juga merupakan tahun yang sama ketika penulis Resaili'n-Nur, sebagai tandingannya, melalui perubahan pikiran itu berusaha membuat nur tersebut bersinar. Dalam tujuh surah, tujuh kali

ﺗِﻠْﻚَ ﺍٰﻳَﺎﺕُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ

juga mengarah kepada tahun yang sama, dan

ﻃٰﺲٓ ﺗِﻠْﻚَ ﺍٰﻳَﺎﺕُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ

juga mengarah kepada tahun yang sama;

ﻫَﺪٰﻳﻨ۪ﻰ ﺭَﺑّ۪ٓﻰ ﺍِﻟٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ

juga kepada tahun yang sama;

ﺍِﻥَّ ﺭَﺑّ۪ﻰ ﻋَﻠٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ

juga, dengan menghitung ‘nun’ bertasydid sebagai satu ‘nun’ serta tidak menghitung tanwin, kepada tahun yang sama; Firman ﻓَﺎَﻋْﺮِﺽْ ﻋَﻨْﻬُﻢْ juga kepada tahun yang sama; dan

ﻧُﻮﺭَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺑِﺎَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣُﺘِﻢُّ ﻧُﻮﺭِﻩ۪

juga kepada tahun yang sama. Selarasnya semua itu tentu merupakan kejelasan yang melampaui petunjuk tersirat, isyarat, serta penunjukan makna. Melalui makna isyari, ia menyampaikan kabar gembira bahwa Risale-i Nur akan menjadi suatu kilau dari Nur Ilahi tersebut, dan mengusir keadaan gelap akibat keraguan yang datang dari para musuhnya.

Tawafuk-tawafuk jafr yang banyak serta bermakna ini bertumpu pada hubungan maknawi yang kuat. Ya, nyata bahwa seratus dua puluh sembilan risalah Resaili'n-Nur terpasang pada ujung kabel-kabel yang membentang dari nur terbesar Al-Qur’an, seperti kaca seratus dua puluh sembilan lampu listrik, dan menyebarkan nur itu. Setengah nama Risale-i Nur terdapat dua kali dalam kalimat ayat ini, sehingga membuat hubungan tersebut amat halus.

AYAT KEDUA PULUH DELAPAN

Dalam Surah Tawbah, pada ayat

ﻳُﺮ۪ﻳﺪُﻭﻥَ ﺍَﻥْ ﻳُﻄْﻔِﺌُﻮﺍ ﻧُﻮﺭَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺑِﺎَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ ﻭَﻳَﺎْﺑَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ اِلَٓا ﺍَﻥْ ﻳُﺘِﻢَّ ﻧُﻮﺭَﻩُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ,

kalimat

ﻧُﻮﺭَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺑِﺎَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ ﻭَﻳَﺎْﺑَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ اِلَٓا ﺍَﻥْ ﻳُﺘِﻢَّ ﻧُﻮﺭَﻩُ,

bersama hubungan maknawi yang kuat serta halus, berjumlah seribu tiga ratus dua puluh empat (1324), dengan menghitung ‘lâm’ bertasydid masing-masing sebagai satu ‘lâm’, serta ‘mim’ bertasydid sebagai dua ‘mim’ karena berasal dari kata asal. Pada waktu itu, para penindas Eropa membuat rencana niat buruk yang mengerikan untuk memadamkan nur negara Islam. Sebagai tandingannya, para pencinta tanah air di Türkiye berusaha menggagalkan rencana itu dengan mengumumkan kebebasan pada tahun dua puluh empat. Namun, sayang sekali, enam atau tujuh tahun kemudian, akibat Perang Dunia, dengan niat buruk yang sama, melalui Perjanjian Sèvres, mereka kembali melaksanakan pikiran-pikiran kafirnya dengan syarat-syarat yang amat berat dan merugikan Al-Qur’an, untuk menggagalkan rencana tersebut, para pencinta bangsa Turki berusaha menghadapi dengan mengumumkan republik. Melalui tawafuk yang tepat kepada tahun seribu tiga ratus dua puluh empat, kemudian tiga puluh empat, kemudian lima puluh empat, terlihat upaya menghadapi oleh penulis Resaili'n-Nur pada tahun dua puluh empat (1324), pendahuluan-pendahuluan Resaili'n-Nur pada tahun tiga puluh empat (1334), serta bagian-bagiannya yang penuh nur dan para muridnya yang rela berkorban pada tahun lima puluh empat (1354), di antara mereka yang berusaha menjaga nur Al-Qur’an dalam kekacauan tersebut. Bahkan, mereka membuat sebagian orang yang berkecimpung dalam politik, yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya, gelisah. Karena mereka sepenuhnya menjalankan tugas menerangi sebagai tandingan niat buruk untuk memadamkan itu, hal ini merupakan tanda kuat bahwa mereka menjadi sasaran perhatian makna isyari ayat ini. Kini, sebagian besar keadaan di antara umat Islam yang bertentangan dengan Nur Al-Qur’an merupakan akibat berat dari niat-niat buruk tersebut serta perjanjian-perjanjian kejam seperti Perjanjian Sèvres.

Jika ‘mim’ bertasydid juga dihitung satu seperti ‘lâm’ bertasydid, nilainya menjadi seribu dua ratus delapan puluh empat (1284). Pada tahun itu, orang-orang kafir Eropa berniat memadamkan nur negara Islam. Sepuluh tahun kemudian, mereka menghasut orang Rusia, lalu melalui perang Rusia yang terkutuk pada tahun sembilan puluh tiga (1293), untuk sementara menutupi nur cemerlang dunia Islam dengan awan. Namun, di sini, sebagai pengganti murid-murid Resaili'n-Nur, murid-murid Mevlâna Hâlid (ks) mengusir keadaan gelap akibat awan itu. Karena itu, dari segi ini ayat tersebut secara tersirat menunjuk mereka.

Kini terlintas bahwa jika ‘lâm’ serta ‘mim’ bertasydid masing-masing dihitung dua, tokoh-tokoh yang akan mengusir keadaan gelap satu abad setelah sekarang mungkin ialah murid-murid Hazrat Mahdi. Bagaimanapun... Ayat yang penuh nur ini memiliki banyak butir hikmah yang penuh nur. Melalui rahasia

ﺍَﻟْﻘَﻄْﺮَﺓُ ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ,

kita mempersingkatnya.

AYAT KEDUA PULUH SEMBILAN

Ini ialah ayat

ﺍﻟٓﺮٰ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﺍَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﻟِﺘُﺨْﺮِﺝَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺑِﺎِﺫْﻥِ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﺍِﻟٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁِ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰِ ﺍﻟْﺤَﻤ۪ﻴﺪِ

pada awal Surah Ibrahim. Dalam empat atau lima kalimat ayat ini terdapat empat atau lima petunjuk. Keseluruhannya menjadi satu isyarat.

Pertama:

Kalimat

ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺑِﺎِﺫْﻥِ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ

menyatakan, ‘Melalui Kitâb Mubîn, dari keadaan gelap pada abad keempat belas, manusia biiznillah keluar menuju suatu nur yang datang dari Al-Qur’an.’ Sebagaimana maksud ini, khususnya lafaz nur, selaras dengan Resaili'n-Nur, demikian pula nilai jafrnya, dengan menghitung ‘nun’ bertasydid sebagai dua ‘nun’, berjumlah seribu tiga ratus tiga puluh delapan atau sembilan (1338–1339). Nilainya bertawafuk dengan tepat kepada waktu munculnya tafsir İşaratü'l-İ'caz dalam keadaan gelap itu, pembuka Resaili'n-Nur yang ditulis dalam keadaan gelap akibat Perang Dunia. Kata Nur pada ayat memandang lafaz Nur dalam Risale-i Nur melalui petunjuk.

Kedua:

Kalimat

ﺍِﻟٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁِ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰِ ﺍﻟْﺤَﻤ۪ﻴﺪِ,

dengan melukiskan Nur pada kalimat sebelumnya, berkata: Nur itu ialah jalan yang menunjukkan Kemuliaan Allah سُبْحَانَهُ serta keadaan⁠-⁠Nya Yang Terpuji. Nilai abjad kalimat ini, lima ratus empat puluh delapan atau lima puluh (548–550), bertawafuk dengan tepat kepada lima ratus empat puluh delapan, nilai Resaili'n-Nur dengan menghitung ‘nun’ bertasydid sebagai satu ‘nun’. Jika kedua ‘elif’ yang tidak dibaca dihitung, ia kembali bertawafuk dengan tepat melalui selisih dua yang mengisyaratkan tingkatannya. Terdapat hubungan yang meneguhkan sekaligus memperhalus petunjuk ini. Demikianlah:

Karena masa paling mengerikan bagi dunia Islam ialah abad keenam dengan fitnah Hulagu, serta akhir abad ketiga belas dan abad keempat belas dengan fitnah serta akibat Perang Dunia, kalimat ini melalui nilai abjadnya memberi petunjuk kepada abad keenam. Seperti kalimat sebelumnya, melalui kata-kata

ﺍَﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰِ ﺍﻟْﺤَﻤ۪ﻴﺪِ,

ia memberi petunjuk kepada abad ini, masa Sultan Abdülaziz serta Sultan Abdülhamid.

Semua ayat terdahulu yang mengisyaratkan nama kedua Resaili'n-Nur melalui tawafuk juga memberi petunjuk kepada abad mengerikan Hulagu serta Jenghis. Bahkan, karena ayat-ayat tersebut memberi petunjuk kepada abad itu serta abad ini, ketika Hazrat Ali (ra) dalam Ercuze-nya dan Ghauts Yang Agung (ra) dalam kasidahnya mengisyaratkan Resaili'n-Nur dengan karamah, mereka memandang kedua abad itu serta mengisyaratkannya dengan marah.

Ketiga:

Dalam kata ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ, nilai ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ berjumlah seribu tiga ratus tujuh puluh dua (1372). Dengan memberi petunjuk sampai kapan penindasan serta keadaan gelap pada abad ini akan berlangsung, dan bahwa suatu Nur akan selalu berusaha menerangi di dalam keadaan gelap tersebut, ia secara tersirat memandang penerangan Risale-i Nur.

Keempat:

Kalimat ﻟِﺘُﺨْﺮِﺝَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ berkata, ‘Pada tahun seribu tiga ratus empat puluh lima (1345), melalui suatu Nur yang datang dari Al-Qur’an, manusia akan dikeluarkan dari keadaan gelap menuju cahaya.’ Maksud ini sepenuhnya sesuai serta selaras, melalui ilmu jafr dan makna, dengan Resaili'n-Nur, yang mulai menerangi secara luar biasa pada tahun seribu tiga ratus empat puluh lima. Ia memberi petunjuk, bahkan petunjuk tersirat, mengenai diterimanya Risale-i Nur.

Kelima:

Dalam

ﺍﻟٓﺮٰ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﺍَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﺍِﻟَﻴْﻚَ,

kata ﺍِﻟَﻴْﻚَ dikecualikan karena memandang Al-Qur’an secara khusus. Nilai kalimat

ﺍﻟٓﺮٰ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﺍَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ

bertawafuk dengan tepat kepada nama pertama Risaletü'n-Nur. Secara tersirat, hal itu menyatakan bahwa Risaletü'n-Nur merupakan tafsir serta makna lengkap dari Kitab yang Diturunkan, dan tidak asing darinya. Sebab, ﺍﻟٓﺮٰ berjumlah tiga ratus delapan puluh dua; ﻛِﺘَﺎﺏٌ empat ratus dua puluh tiga; ﺍَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ seratus empat puluh empat. Keseluruhannya sembilan ratus empat puluh sembilan (949). Jika tanwin dihitung sebagai ‘nun’, nilainya menjadi sembilan ratus sembilan puluh sembilan (999). Melalui satu selisih yang mengandung rahasia, yakni untuk menyatakan bahwa ia bukan wahyu, nilai itu bertawafuk dan memberi petunjuk kepada nilai Risaletü'n-Nur: Sembilan ratus empat puluh delapan (948), jika ‘nun’ bertasydid dihitung sebagai satu ‘nun’; atau sembilan ratus sembilan puluh delapan (998), jika dihitung sebagai dua ‘nun’.

Kesimpulannya:

Keyakinan bahwa lima petunjuk dalam lima kalimat yang disebutkan pada satu ayat ini, dengan memperhatikan hubungan maknawi, dapat menjadi isyarat kuat, bahkan penunjukan makna, membuatku menulisnya. Jika aku telah keliru, dengan menjadikan Kitâb Mubîn sebagai pemberi syafaat, aku memohon kepada Sang Arhamur Râhimîn agar kekuranganku Diampuni.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ

Perincian Mengenai Kekeliruan pada Ayat Kedua Puluh Sembilan

Dari sebuah kekeliruan kecil, aku melihat isyarat gaib yang kuat. Dari situ aku mengetahui bahwa kekeliruan itu terjadi untuk hal ini. Demikianlah:

Pada ayat kedua puluh sembilan İşarat-ı Kur'aniye, yang merupakan Sinar Pertama, di awal Surah Ibrahim, dalam

ﺍﻟٓﺮٰ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﺍَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﻟِﺘُﺨْﺮِﺝَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺑِﺎِﺫْﻥِ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ,

mengenai kalimat

ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺑِﺎِﺫْﻥِ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ,

telah dikatakan bahwa nilai jafrnya, secara keliru, berjumlah seribu tiga ratus tiga puluh empat (1334), sehingga melalui tawafuk memandang waktu muncul serta dicetaknya tafsir İşaratü'l-İ'caz, pembuka Risale-i Nur. Padahal, nilai huruf-huruf yang dilafalkan ialah seribu tiga ratus tiga puluh sembilan (1339). Dengan tawafuk, ia memandang dengan penghargaan waktu tafsir itu terkenal luar biasa, dan salinan-salinan yang dikirim Dârülhikmet kepada sebagian besar mufti menjadi benteng serta pedang berlian di tangan sebagian besar mufti, dari segi perlindungan terhadap guncangan berbagai perubahan jasmani dan rohani, sebagaimana ditunjukkan banyak tanda serta pengakuan para mufti. Jika kedua ‘elif’ yang tidak dibaca dihitung, nilainya menjadi seribu tiga ratus empat puluh satu (1341), sehingga memandang permulaan munculnya Risale-i Nur melalui tawafuk yang tepat.

Kekeliruan kecil ini tiba-tiba memperingatkan dengan kuat suatu makna: Bukan hanya keempat kalimat ayat pada awal Surah Ibrahim (as) itu yang secara tersirat memandang Risale-i Nur. Bahkan, hingga akhir halaman pertama tersebut, dari segi hubungan maknawi, melalui suatu makna tersirat, di antara banyak anggota cakupannya ia memberi petunjuk kepada Risale-i Nur dengan kekhususan tersembunyi serta memandangnya secara tersirat. Untuk saat ini, aku tidak dapat menerangkan hakikat tersirat itu. Hanya sebuah isyarat singkat akan diberikan.

Ya, karena inti serta corak jalan Risale-i Nur ialah tafakur dan belas kasih, melalui rahasia tawafuk yang tepat dengan tafakur serta belas kasih, corak jalan khusus Nabi Ibrahim (as), surah ini semakin mengambil Risale-i Nur ke dalam pelukannya. Melalui empat kalimat, ayat awal menunjuk suatu nur yang keluar dari Al-Qur’an serta membawa manusia menuju nur di tengah gelap demi gelap, keadaan gelap demi keadaan gelap, pada abad yang paling gelap. Ia juga melukiskan mereka yang berada dalam keadaan paling gelap serta berjalan melawan arus Risale-i Nur.