Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kesimpulannya:

Sinar-Sinar · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Kesimpulannya:

Sebagaimana ayat ini memandang setiap abad, demikian pula untuk lebih menarik perhatian kepada abad ini, melalui ilmu jafr ia mengisyaratkan tahun-tahun serta peristiwa-peristiwa dalam tiga atau empat masa abad ini. Melalui bentuk makna serta cara ungkapannya, ia memberi petunjuk mengenai sifat serta keadaan dua arus.

Ketika surat Sabri masih dalam perjalanan, sebelum tiba, melalui pengaruh rohani surat itu, ketika memikirkan ayat ini bersama ayat

ﺍَﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻴْﺘًﺎ,

terlintas dalam pikiranku: Rahasia serta Hikmah Risale-i Nur menerima isyarat Al-Qur’an yang begitu kuat, dan para muridnya menerima kabar gembira Al-Furqan yang begitu berharga serta perhatian para kutub, ialah besarnya serta dahsyatnya musibah. Karena itu, ia memperoleh penghargaan serta pujian suci yang tidak diterima karya lain.

Jadi, pentingnya itu bukan karena kebesarannya yang luar biasa, melainkan karena perjuangannya melawan musibah yang sangat dahsyat serta merusak. Walaupun perjuangannya kecil dan sedikit, ia memperoleh nilai yang amat besar. Isyarat serta kabar gembira Al-Qur’an dalam ayat ini menyatakan bahwa orang-orang yang masuk ke dalam lingkaran Risale-i Nur menyelamatkan iman mereka yang berada dalam bahaya, masuk ke kubur dengan iman, serta akan pergi ke surga. Ya, kadang seorang prajurit, karena khidmah yang dilakukannya, naik melampaui seorang marsekal serta memperoleh nilai ribuan tingkat lebih tinggi.

Peringatan:

Isyarat ayat-ayat yang telah lalu serta yang akan datang tidak hanya bertumpu pada tawafuk, melainkan juga menyiratkan bahwa Risale-i Nur merupakan satu anggota juz’i di antara banyak contoh juz’i dalam makna universal setiap ayat. Berdasarkan hubungan maknawi, tawafuk jafr serta abjad meneguhkan hubungan itu; atas dasar hubungan tersebut, ayat memandangnya secara khusus.

AYAT KEENAM

Dalam Surah Hadid:

ﻭَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻜُﻢْ ﻧُﻮﺭًﺍ ﺗَﻤْﺸُﻮﻥَ ﺑِﻪ۪,

yakni, ‘Di dalam keadaan gelap, Aku akan Menganugerahkan kepada kalian suatu nur, agar melalui nur itu kalian menemukan jalan yang benar serta menempuhnya.’ Lillahi'l-hamd, sebagaimana Risale-i Nur merupakan satu anggota cemerlang dari makna suci serta universal ini, demikian pula dengan menghitung tanwin dalam ﻧُﻮﺭًﺍ sebagai ‘nun’, jumlah seribu tiga ratus delapan belas (1318) bertawafuk dengan masa lima tahun sebelum penulis Resaili'n-Nur beralih dari mengajar kepada tugas menulis serta perjalanan perjuangan, dan dua tahun setelah perubahan pikiran yang penting pada tahun seribu tiga ratus enam belas (1316), yang diisyaratkan banyak ayat. Itu merupakan tahun yang sama ketika ia mulai melakukan persiapan-persiapan Nur.

Tawafuk ayat yang penuh nur ini, melalui makna serta ilmu jafr, tentu tidak dapat sekadar kebetulan ataupun terjadi tanpa sengaja dalam Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya, yang seluruh seginya merupakan kesadaran itu sendiri.

AYAT KETUJUH

ﻭَ ﻳُﺤِﻖُّ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺗِﻪ۪.

Sebagaimana Risaletü'n-Nur merupakan contoh nyata yang jelas dari makna universal ayat terkenal ini pada zaman kita, demikian pula dengan syarat ‘lâm’ bertasydid dalam lafaz ‘Allah’ سُبْحَانَهُ dihitung sebagai satu ‘lâm’, serta ‘ya’ yang dilafalkan dalam ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺗِﻪ۪ dihitung, jumlah sembilan ratus sembilan puluh delapan (998) bertawafuk dengan tepat kepada nilai Risaletü'n-Nur, sembilan ratus sembilan puluh delapan. Berdasarkan hubungan maknawi, ia memandangnya secara tersirat. Salah satu hubungan yang memperhalus serta menguatkan petunjuk tersirat ini ialah:

Bagian-bagian Risaletü'n-Nur terkenal dengan nama Sözler. Sözler dalam bahasa Arab ialah ‘kelimat’. Melalui kelimat itu, ia membuktikan hakikat-hakikat Al-Qur’an sebagai kebenaran murni serta hakikat itu sendiri, hingga sepenuhnya membungkam para filsuf yang tidak beragama pada zaman ini.

AYAT KEDELAPAN

Ini ialah

ﻗُﻞْ ﺍِﻧَّﻨ۪ﻰ ﻫَﺪٰﻳﻨ۪ﻰ ﺭَﺑّ۪ٓﻰ ﺍِﻟٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ.

Sebagaimana Risaletü'n-Nur merupakan satu anggota yang selaras serta sesuai dengan makna universal ayat terkenal ini pada abad kita, demikian pula melalui ilmu jafr, kata ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ, dengan menghitung tanwin dalam ﺻِﺮَﺍﻁٍ sebagai ‘nun’, memandang sembilan ratus sembilan puluh delapan (998), nilai Risaletü'n-Nur, dengan dua selisih lagi yang mengandung rahasia {(Catatan kaki): Yakni, terdapat selisih dua untuk mengisyaratkan tingkatannya. Risale-i Nur merupakan ilham serta penggalian makna, bukan wahyu.}. Nilai abjad kalimat

ﻫَﺪٰﻳﻨ۪ﻰ ﺭَﺑّ۪ٓﻰ ﺍِﻟٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ

juga berjumlah seribu tiga ratus enam belas (1316), sehingga bertawafuk dengan tepat kepada jumlah seribu tiga ratus enam belas, tahun yang paling giat ketika penulis Risale-i Nur melakukan persiapan-persiapan Nur melalui pengajarannya.

AYAT KESEMBILAN

Ini ialah kalimat

ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺳْﺘَﻤْﺴَﻚَ ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻭَﺓِ ﺍﻟْﻮُﺛْﻘٰﻰ,

baik dalam Surah ‘Al-Baqarah’ maupun Surah ‘Luqman’. Yakni, ‘Orang yang beriman kepada Allah سُبْحَانَهُ memegang serta berpegang pada suatu rantai penuh nur yang tidak akan pernah putus.’ Telah nyata bahwa pada zaman ini Risale-i Nur merupakan dalil Al-Qur’an bagi iman kepada Allah سُبْحَانَهُ yang paling penuh nur serta paling kuat. Untuk meneguhkan bahwa ia termasuk secara khusus dalam cakupan

ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻭَﺓِ ﺍﻟْﻮُﺛْﻘٰﻰ

ini, nilai jafrnya berjumlah seribu tiga ratus empat puluh tujuh (1347). Dengan tawafuk yang tepat, ia memandang tahun ketika tersebarnya Risaletü'n-Nur bersinar luar biasa. Ia memberitahukan secara tersirat bahwa pada abad keempat belas ini, Risalei'n-Nur merupakan urwatul-wutsqa yang lahir dari sifat Al-Qur’an yang bermukjizat secara rohani, serta sarana penuh nur yang membawa keluar dari keadaan gelap menuju nur.

AYAT KESEPULUH

ﻳُﺆْﺗِﻰ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ

AYAT KESEBELAS

ﻭَ ﻳُﻌَﻠِّﻤُﻬُﻢُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَ ﻳُﺰَﻛّ۪ﻴﻬِﻢْ

AYAT KEDUA BELAS

Inilah ayat-ayatnya:

ﻭَ ﻳُﺰَﻛّ۪ﻴﻜُﻢْ ﻭَ ﻳُﻌَﻠِّﻤُﻜُﻢُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ.

Maksud ringkasnya menyatakan, ‘Al-Qur’an memberitahukan Hikmah suci kepada kalian. Ia membersihkan kalian dari kotoran rohani.’ Terdapat dua tanda kuat bahwa Risale-i Nur sengaja termasuk dalam makna universal serta umum ketiga ayat ini:

Salah satunya ialah: Sifat istimewa Risale-i Nur ialah menjadi tempat terwujudnya Nama Al-Hakam serta Al-Hakîm. Dalam seluruh bagian serta pembahasannya, melalui cermin keteraturan serta ketertiban kainat, ia mengajarkan Hikmah suci serta hikmah-hikmah Al-Qur’an yang merupakan Manifestasi Nama Al-Hakam dan Al-Hakîm. Pokok bahasan serta hasilnya ialah Hikmah Al-Qur’an.

Tanda Kedua:

Ayat pertama berjumlah seribu tiga ratus dua puluh dua (1322) menurut nilai abjad. Itu ialah tahun ketika penulis Risalei'n-Nur mengangkat kepalanya langsung dari ilmu-ilmu alat (ilmu penunjang) ﴾ﺍٰﻟِﻴَﻪ﴿, lalu mengarah kepada Hikmah Al-Qur’an serta mengambil kedudukan sebagai pemberi khidmah kepada Al-Qur’an. Setahun kemudian, ia pergi ke Istanbul dan memulai perjuangan rohaninya.

Adapun ayat kedua:

Nilai jafrnya berjumlah seribu tiga ratus dua (1302), bertawafuk dengan tepat kepada tahun ketika penulis Risale-i Nur menerima pelajaran Al-Qur’an. Secara tersirat, ia memandang Resaili'n-Nur, dalil terang Al-Qur’an.

Adapun ayat ketiga

berjumlah seribu tiga ratus tiga puluh delapan (1338). Melalui tawafuk yang tepat, secara tersirat ia memandang tahun yang sama ketika penulis Risalei'n-Nur, yang mampu menunjukkan dan telah menunjukkan Hikmah Al-Qur’an dengan cemerlang kepada para pemikir Eropa, membela Hikmah Al-Qur’an di ‘Dârülhikmeti'l-İslâmiye’. Bersamaan dengan menjawab enam pertanyaan pemimpin pendeta Inggris, yang meminta jawaban dalam enam ratus kata, dengan enam kata, ia memasuki pengasingan diri dan mulai mencurahkan seluruh usahanya untuk mengambil persoalan-persoalan Risale-i Nur dari ilham Al-Qur’an.

AYAT KETIGA BELAS

Dalam Surah Ali Imran:

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺗَﺎْﻭ۪ﻳﻠَﻪُٓ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﺍﻟﺮَّﺍﺳِﺨُﻮﻥَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ

AYAT KEEMPAT BELAS

Dalam Surah Nisa:

ﻟٰﻜِﻦِ ﺍﻟﺮَّﺍﺳِﺨُﻮﻥَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

Kedua ayat ini juga memandang abad kita secara khusus.

Maksud ayat pertama menunjukkan bahwa, pada masa orang-orang yang sesat berusaha mengubah makna ayat-ayat mutasyabih Al-Qur’an melalui takwil yang keliru serta memperbanyak keraguan, suatu kelompok yang mendalam ilmunya menerangkan takwil sejati ayat-ayat mutasyabih tersebut dan menyingkirkan keraguan itu dengan beriman. Makna universal ini memiliki contoh nyata serta contoh juz’i pada setiap abad.

Melalui Perang Dunia, sanggahan serta dugaan Eropa yang menumpuk selama seribu tahun melawan Al-Qur’an menemukan jalan ke dunia Islam dan tersebar di dalamnya. Sebagian keraguan itu mengenakan bentuk ilmiah lalu muncul. Karena pada zaman ini Risalei'n-Nur serta para muridnya tampil terdepan dalam menyingkirkan keraguan serta sanggahan itu, dan ayat ini memandang abad kita pula, ia secara tersirat memandang Risalei'n-Nur serta para muridnya. Menurut pendapat ulama belakangan, wakaf tidak dilakukan pada اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ. Dalam keadaan itu, nilai jafrnya berjumlah seribu tiga ratus empat puluh empat (1344), persis seperti nilai

ﺍِﻥَّ الْاِنْسَانَ ﻟَﻴَﻄْﻐٰﻰ.

Dengan tawafuk yang tepat kepada tahun ketika Resaili'n-Nur dan para muridnya terjun ke medan perjuangan rohani, ayat ini memasukkan mereka pula ke dalam wilayah sucinya.

Melalui tawafuk yang tepat, ia juga memandang waktu tersebarnya Kalimat Kesepuluh, dalil kebangkitan yang paling kuat serta cemerlang, waktu terkenalnya Kalimat Kedua Puluh Lima, yang menerangkan Al-Qur’an sebagai mukjizat dari empat puluh segi, serta nilai

ﺍِﻥَّ الْاِنْسَانَ ﻟَﻴَﻄْﻐٰﻰ.

Jika wakaf dilakukan pada اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ seperti menurut pendapat para pendahulu, kemudian dalam ﺍَﻟﺮَّﺍﺳِﺨُﻮﻥَ huruf ﺭ bertasydid dihitung sebagai dua ﺭ, nilainya menjadi seribu tiga ratus enam puluh (1360) lebih. Secara tersirat, ia memandang ilmu serta iman murid-murid Risaletü'n-Nur yang mendalam dan teliti lima belas atau dua puluh tahun sesudah sekarang. Jika ﺭ bertasydid dihitung menurut asalnya sebagai satu ‘lâm’ serta satu ﺭ, nilainya menjadi seribu dua ratus dua belas (1212). Melalui tawafuk yang tepat, ia memandang masa satu setengah abad sebelum sekarang ketika Mevlâna Hâlid Zülcenaheyn menyingkirkan takwil rusak serta keraguan yang muncul saat itu dengan kedalaman ilmu hakikat cemerlang yang dibawanya dari India. Dalam seratus tahun, lebih dari lima puluh juta orang masuk ke dalam lingkaran bimbingannya dan memperoleh cahaya.

Ayat kedua,

ﺍَﻟﺮَّﺍﺳِﺨُﻮﻥَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ,

dengan menghitung ﺭ bertasydid menurut asalnya sebagai satu ‘lâm’ serta satu ﺭ, memiliki nilai abjad seribu tiga ratus empat puluh empat (1344). Sebagaimana memandang setiap abad, demikian pula secara tersirat ia memandang abad kita secara khusus. Ia mengisyaratkan suatu kelompok yang bekerja dengan mendalam dalam ilmu hakikat dan beriman dengan kuat. Pada tahun seribu tiga ratus empat puluh empat yang ditunjukkan begitu banyak ayat dengan perhatian penting ini, secara lahiriah tidak terlihat pihak yang lebih teguh menjalankan tugas tersebut dalam keadaan sulit daripada Risaletü'n-Nur serta para muridnya. Jadi, ayat ini secara khusus memasukkan mereka pula ke dalam lingkaran sucinya.

AYAT KELIMA BELAS

ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻗَﺪْ ﺟَٓﺎﺀَﻛُﻢْ ﺑُﺮْﻫَﺎﻥٌ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﻭَﺍَﻧْﺰَﻟْﻨَٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻣُﺒ۪ﻴﻨًﺎ

Ayat ini berbicara kepada zaman kita pula. Sebab, keseluruhannya, jika ﻣُﺒ۪ﻴﻨًﺎ dikecualikan, berjumlah seribu tiga ratus enam puluh (1360) lebih. Jika yang dihitung ialah bagian sesudah ﻗَﺪْ ﺟَٓﺎﺀَﻛُﻢْ, dan tanwin dalam kata ﺑُﺮْﻫَﺎﻥٌ serta ﻧُﻮﺭًﺍ dihitung sebagai ‘nun’, nilainya menjadi seribu tiga ratus sepuluh (1310). Jadi, ia berbicara kepada abad ini pula.

Sebagaimana kalimat

ﻗَﺪْ ﺟَٓﺎﺀَﻛُﻢْ ﺑُﺮْﻫَﺎﻥٌ,

melalui tawafuk dengan nilai ﻓﺮﻗﺎﻥ yang hanya berselisih empat, memandangnya dengan jelas, demikian pula ia memberi kabar tersirat mengenai Resaili'n-Nur, dalil yang cemerlang serta kuat pada zaman ini bagi dalil suci Ilahi tersebut. Nilai kalimat keduanya,

ﺍَﻧْﺰَﻟْﻨَٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻣُﺒ۪ﻴﻨًﺎ,

dengan menghitung dua tanwin sebagai dua ‘elif’ ketika wakaf, berjumlah lima ratus sembilan puluh delapan (598). Melalui tawafuk yang persis serta tepat kepada nilai Resaili'n-Nur dan Risalei'n-Nur, ia memberi kabar tersirat bahwa Resaili'n-Nur merupakan dalil di bumi bagi dalil suci dari langit itu.

Peringatan:

Menghitung ‘nun’ bertasydid sebagai dua ‘nun’ pada ketiga nama Sözler, yaitu Risalei'n-Nur, Resaili'n-Nur, atau Risaleti'n-Nur, merupakan kaidah yang umum dalam ilmu jafr. Huruf bertasydid kadang dapat dihitung satu, kadang dua.

AYAT KEENAM BELAS

Ini ialah

ﻟِﻠَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻫُﺪًﻯ ﻭَ ﺷِﻔَٓﺎﺀٌ.

Sebagaimana ayat yang menyembuhkan ini sejak lama menjadi kesembuhan serta obat bagi penderitaanku, demikian pula dari obat penawar Al-Qur’an Al-Hakîm, apotek agung Ilahi, aku mengambil melalui botol-botol bagian Risalei'n-Nur. Mungkin bagi seribu penderitaan rohaniku aku menemukan seribu kesembuhan suci, dan para murid Resaili'n-Nur juga menemukannya. Banyak orang yang terserang penyakit zindik, yang keluar dari rawa sains serta filsafat dan sangat sulit diobati, memperoleh kesembuhan melaluinya.

Inilah petunjuk kuat bahwa Resaili'n-Nur, yang pada zaman ini menjadi sebagian botol obat Al-Qur’an yang menyembuhkan setiap derita, juga menjadi sasaran perhatian ayat yang menyembuhkan ini:

Jumlah seribu tiga ratus empat puluh enam (1346), nilai jafr ayat ini, bertawafuk dengan tepat kepada tahun seribu tiga ratus empat puluh enam, waktu tersebarnya Resaili'n-Nur ke berbagai tempat dengan membawa kesembuhan, serta waktu penulisan risalah luar biasa yang bernama Mu'cizat-ı Ahmediye ﷺ. Tawafuk ini meneguhkan hubungan maknawi, sekaligus diteguhkan olehnya, serta mengangkatnya dari petunjuk tersirat hingga derajat isyarat.

AYAT KETUJUH BELAS

Dalam

ﻓَﺎِﻥْ ﺗَﻮَﻟَّﻮْﺍ ﻓَﻘُﻞْ ﺣَﺴْﺒِﻰَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ,

nilai jafr

ﻗُﻞْ ﺣَﺴْﺒِﻰَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ,

dengan menghitung ‘lâm’ bertasydid masing-masing sebagai satu ‘lâm’ dan ‘kâf’ bertasydid sebagai satu ‘kâf’, berjumlah seribu tiga ratus dua puluh sembilan (1329). Nilainya bertawafuk dengan tepat kepada waktu penulisan tafsir İşaratü'l-İ'caz, permulaan Resaili'n-Nur, pada masa awal Perang Dunia. Dengan menghitung ‘kâf’ bertasydid sebagai dua ‘kâf’, nilainya menjadi seribu tiga ratus empat puluh sembilan (1349). Pada masa guncangan akibat Perang Dunia, Resaili'n-Nur mengatakan ٔﺣَﺴْﺒِﻰَ ﺍﻟﻠّٰﻪُٔ. Tanpa menerima perlindungan di mana pun dari orang-orang yang mengutamakan dunia, bahkan sambil menjadi sasaran serangan, mereka tanpa gentar, sendirian, menyebarkan nur-nur Al-Qur’an dalam berbagai kesulitan. Tawafuk yang tepat kepada tahun yang sama itu tentu tidak dapat merupakan kebetulan dalam ayat-ayat yang dari setiap segi merupakan kesadaran itu sendiri. Ayat-ayat seperti ini juga memandang secara khusus abad kita, masa yang paling sulit, serta memberi perhatian khusus kepada sebagian murid yang menjadikan ayat-ayat itu sebagai pembimbing, lalu menguatkan keberanian mereka melalui perhatian tersebut.

Walaupun hubungan maknawi ayat ini tidak tampak secara lahiriah sebagaimana tampak pada ayat-ayat terdahulu, dari suatu segi ia memiliki semacam hubungan dengan Resaili'n-Nur. Demikianlah: Sejak tiga belas tahun {(Catatan kaki): Menurut waktu penulisan. (Penerbit)}, ayat ini merupakan wirid khusus penulis Risaletü'n-Nur, kemudian para murid dekatnya, setelah Magrib.

Yang terdepan dalam menjadi tempat terwujudnya makna ayat ini sepenuhnya pada zaman kita, tanpa kehilangan semangat walaupun semua orang menjauh dari mereka, mengatakan ٔﺣَﺴْﺒِﻰَ ﺍﻟﻠّٰﻪُٔ, lalu dengan tawakal menyebarkan nur-nur iman serta rahasia-rahasia Al-Qur’an di tengah kesulitan besar dan menyelamatkan ahli iman dari putus asa, ialah Risaletü'n-Nur beserta para muridnya.

AYAT KEDELAPAN BELAS

Ini ialah

ﺍِﻥَّ ﺣِﺰْﺏَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻐَﺎﻟِﺒُﻮﻥَ.

Melalui maksudnya, ayat ini memberikan penghiburan suci untuk menyingkirkan putus asa yang timbul dari kekalahan lahiriah hizbullah, golongan Allah سُبْحَانَهُ. Ia memberi kabar bahwa golongan Al-Qur’an yang merupakan hizbullah akan menang dalam hakikat serta pada akhirnya. Pada abad ini, di antara anggota-anggota golongan Al-Qur’an yang tidak terhitung, murid-murid Resaili'n-Nur telah tampil. Sebagai tanda bahwa mereka termasuk secara khusus dalam makna universal ayat ini, jumlah seribu tiga ratus lima puluh (1350), nilai jafrnya, bertawafuk dengan tepat kepada seribu tiga ratus lima puluh, lima puluh satu, serta lima puluh dua (1350–1351–1352) menurut penanggalan Rumi. Pada masa itu tampak kekalahan lahiriah murid-murid Resaili'n-Nur, lalu setahun kemudian kemenangan rohani serta keteguhan mereka dalam penjara, dan keikhlasan serta kekuatan rohani mereka yang menggagalkan rencana pemusnahan mengerikan terhadap mereka. Tawafuk tersebut tentu merupakan petunjuk tersirat Al-Qur’an yang penuh belas kasih serta penghiburan.

AYAT KESEMBILAN BELAS

ﻭَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻣَﻌَﻪُ ﻧُﻮﺭُﻫُﻢْ ﻳَﺴْﻌٰﻰ ﺑَﻴْﻦَ ﺍَﻳْﺪ۪ﻳﻬِﻢْ ﻭَ ﺑِﺎَﻳْﻤَﺎﻧِﻬِﻢْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺭَﺑَّﻨَٓﺎ ﺍَﺗْﻤِﻢْ ﻟَﻨَﺎ ﻧُﻮﺭَﻧَﺎ ﻭَ ﺍﻏْﻔِﺮْﻟَﻨَﺎ

Satu lapisan isyari di antara lapisan-lapisan makna umum ayat ini memandang abad kita pula. Sebab,

ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺭَﺑَّﻨَٓﺎ ﺍَﺗْﻤِﻢْ ﻟَﻨَﺎ ﻧُﻮﺭَﻧَﺎ

memiliki hubungan maknawi yang kuat, dan menurut ilmu jafr berjumlah seribu tiga ratus dua puluh enam (1326). Pada masa badai yang timbul dari perubahan kebebasan pada tahun itu, di antara orang-orang beriman yang mencari nur untuk selamat dari keadaan gelap akibat badai serta perang yang mengguncang segala sesuatu, murid-murid Resaili'n-Nur tampil tidak lama kemudian. Ini merupakan tanda bahwa mereka merupakan salah satu contoh nyata di antara banyak anggota cakupan ayat ini pada abad kita. Kalimat ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟَﻨَﺎ memandang seribu tiga ratus enam puluh (1360). Jadi, lima atau enam tahun setelah sekarang merupakan masa istigfar. Secara tersirat, hal itu merupakan petunjuk bahwa murid-murid Resaili'n-Nur akan memberi pelajaran istigfar pada waktu itu.

AYAT KEDUA PULUH

ﻭَ ﻧُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَٓﺎﺀٌ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ

Sebagaimana ayat yang agung ini dengan jelas memandang turunnya Al-Qur’an pada Zaman Kebahagiaan Nabi ﷺ, demikian pula melalui makna isyari ia memandang abad-abad lain. Ia mengisyaratkan nur-nur yang menyembuhkan, yang datang sebagai ilham dari langit Al-Qur’an. Risaletü'n-Nur diambil langsung dari limpahan serta cahaya Al-Qur’an Al-Hakîm, penyembuh hati. Sebagaimana, berdasarkan banyak pengalamanku, ia menjadi kesembuhan bagi seluruh penderitaan rohaniku, demikian pula para murid Resaili'n-Nur membenarkanku melalui pengalaman mereka. Jadi, Resaili'n-Nur termasuk dalam suatu makna isyari ayat ini.

Sebagai tanda termasuknya ia, nilai jafr

ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَٓﺎﺀٌ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ

berjumlah seribu tiga ratus tiga puluh sembilan (1339). Pada tahun yang sama, Resaili'n-Nur yang terilham dari Al-Qur’an mulai tampil sebagai kesembuhan bagi penyakit-penyakit rohani yang mengerikan pada abad ini. Hal itu memberiku keyakinan bahwa ayat ini secara khusus memberi petunjuk tersirat kepadanya. Aku telah menulis keyakinanku sendiri; keyakinan tidak dapat disanggah.

AYAT ATAU AYAT-AYAT KEDUA PULUH SATU

ﻗُﻞْ ﺍِﻧَّﻨ۪ﻰ ﻫَﺪٰﻳﻨ۪ﻰ ﺭَﺑّ۪ٓﻰ ﺍِﻟٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ ٭ ﻭَ ﻫَﺪٰﻳﻪُ ﺍِﻟٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ

Dalam delapan atau sembilan ayat, pandangan diarahkan kepada ‘sırat-ı müstakim’, jalan yang lurus. Agar jalan yang benar serta lurus ini ditemukan, pada setiap abad selalu terdapat nur-nur yang datang dari nur Al-Qur’an untuk mengusir keadaan gelap pada abad itu serta menerangi jalan yang lurus. Pada abad yang mengerikan serta penuh badai ini, untuk saat ini yang terdepan tampil menunjukkan jalan yang benar itu tanpa membuat orang tersesat ialah Risaletü'n-Nur. Nilai jafr kata ‘sırat-ı müstakim’ ini juga berjumlah seribu (1000), dengan menghitung tanwin sebagai ‘nun’. Jika tidak terdapat mad, nilainya menjadi sembilan ratus sembilan puluh sembilan (999), sehingga dengan hanya satu atau dua selisih {(Catatan kaki): Yakni, hal itu mengisyaratkan bahwa tingkatan Risaletü'n-Nur berada pada yang kedua serta ketiga. Ia bukan wahyu dan tidak dapat menjadi wahyu. Ia merupakan ilham serta penggalian makna.}, ia bertawafuk dengan sembilan ratus sembilan puluh delapan (998), nilai Risaletü'n-Nur. Seperti kedua ayat yang disebutkan ini, kata-kata ‘sırat-ı müstakim’ dalam delapan atau sembilan ayat secara khusus memasukkan Risaletü'n-Nur di antara anggota cakupan ‘sırat-ı müstakim’, membuat orang memandangnya secara tersirat, serta mengisyaratkan lurusnya jalannya. Jika tanwin dalam ﺻِﺮَﺍﻁٍ tidak dihitung, ‘nun’ bertasydid dalam ﺍَﻟﻨُّﻮﺭِ dihitung sebagai satu ‘nun’; tawafuk kembali terjadi.

Sebagaimana ayat ini memandang Risalei'n-Nur melalui namanya, demikian pula ia memandang masa persiapannya. Sebab, nilai jafr

ﻫَﺪٰﻳﻨ۪ﻰ ﺭَﺑّ۪ٓﻰ ﺍِﻟٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ

berjumlah seribu tiga ratus enam belas (1316). Nilainya bertawafuk dengan tepat kepada seribu tiga ratus enam belas, masa yang paling giat ketika penulis Risaletü'n-Nur, di luar pilihannya, melakukan persiapan-persiapan Nur dan menjadikan seluruh pengetahuannya sebagai tangga untuk memahami Al-Qur’an. Tentu, sambil meneguhkan isyarat-isyarat sebelumnya dan diteguhkan olehnya, ia memasukkan Risaletü'n-Nur ke dalam lingkaran sucinya melalui petunjuk tersirat, bahkan isyarat.

Ini merupakan tawafuk yang menarik perhatian serta penting: Sekitar tahun seribu tiga ratus enam belas (1316), penulis Risaletü'n-Nur mengalami perubahan pikiran yang penting. Demikianlah:

Hingga tahun itu, ia tertarik pada berbagai ilmu hanya untuk memperoleh cahaya melalui ilmu. Ia membaca serta mengajarkannya. Namun, tiba-tiba pada tahun itu, melalui almarhum Gubernur Tahir Paşa, ia mengetahui adanya niat buruk Eropa yang mengerikan terhadap Al-Qur’an. Bahkan, dalam sebuah surat kabar, seorang menteri kolonial Inggris berkata:

‘Selama Al-Qur’an ini berada di tangan umat Islam, kita tidak dapat benar-benar menguasai mereka. Kita harus berusaha menjatuhkannya.’ Ia mendengar perkataan tersebut, lalu bangkit semangatnya. Tiba-tiba, dengan mendengar secara maknawi Firman ﻓَﺎَﻋْﺮِﺽْ ﻋَﻨْﻬُﻢْ, yang nilai jafrnya seribu tiga ratus enam belas (1316), melalui perubahan pikiran ia mengubah arah minatnya. Ia menjadikan seluruh ilmu yang diketahuinya sebagai tangga untuk memahami Al-Qur’an serta membuktikan hakikat-hakikatnya. Ia memandang Al-Qur’an saja sebagai sasaran, tujuan ilmunya, serta hasil kehidupannya. Sifat Al-Qur’an yang bermukjizat secara rohani menjadi pembimbing, penuntun, serta gurunya. Namun, sayang sekali, karena banyak gangguan yang menipu pada masa mudanya, ia belum benar-benar mulai melaksanakan tugas tersebut. Beberapa waktu kemudian, ia terbangun oleh gemuruh serta kegaduhan Perang Dunia. Pikiran tetap itu hidup kembali dan mulai keluar dari potensi menjadi tindakan nyata.

Banyak ayat bersama-sama memandang tahun seribu tiga ratus enam belas (1316) ini, yang sangat berkaitan dengan dirinya serta Risaletü'n-Nur. Misalnya, sebagaimana ayat

ﻫَﺪٰﻳﻨ۪ﻰ ﺭَﺑّ۪ٓﻰ ﺍِﻟٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ

mengisyaratkannya dengan tawafuk yang tepat, demikian pula nilai jafr ayat terkenal

ﺍِﻥَّ ﺭَﺑّ۪ﻰ ﻋَﻠٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ

berjumlah seribu tiga ratus enam belas jika ‘nun’ bertasydid dihitung sebagai satu ‘nun’ serta tanwin tidak dihitung, sehingga mengisyaratkan tahun itu dengan tawafuk yang persis serta tepat.

Sebagaimana ayat-ayat yang datang dalam tujuh atau delapan surah, dan kalimat-kalimat ‘sırat-ı müstakim’ di dalamnya, selain bertawafuk dengan nama Risaletü'n-Nur, sebagiannya menunjukkan waktu penulisan Risaletü'n-Nur seperti kedua ayat yang disebutkan ini, demikian pula kalimat suci

ﺗِﻠْﻚَ ﺍٰﻳَﺎﺕُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ

datang tujuh kali pada awal tujuh surah. Nilai jafrnya seribu tiga ratus enam belas atau tujuh (1316–1317), sehingga melalui tawafuk yang persis serta tepat ia mengisyaratkan tahun seribu tiga ratus enam belas tersebut. Ayat

ﻃٰﺲٓ ﺗِﻠْﻚَ ﺍٰﻳَﺎﺕُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ

juga persis berjumlah seribu tiga ratus enam belas dan mengisyaratkan tahun itu melalui tawafuk. Seakan-akan, sebagaimana pada Zaman Kebahagiaan Nabi ﷺ, Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya berulang kali membuat pengumuman melalui Firman-Firman

ﺗِﻠْﻚَ ﺍٰﻳَﺎﺕُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ٭ ﺗِﻠْﻚَ ﺍٰﻳَﺎﺕُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ٭ ﺗِﻠْﻚَ ﺍٰﻳَﺎﺕُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ,

dengan maksud memperlihatkan kepada mata pula tanda serta dalil bagi hakikat iman di dalam Al-Qur’an, serta dalil dan hujah bagi pernyataan Kitâb Mubîn, demikian pula pada abad yang mengerikan ini, melalui suatu makna isyari, ia berulang kali menyampaikan Firman

ﺗِﻠْﻚَ ﺍٰﻳَﺎﺕُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ.

Aku meyakini bahwa melalui makna isyarinya ia mengarahkan perhatian, demi Al-Qur’an, kepada abad ini serta Resaili'n-Nur pada abad ini. Resaili'n-Nur merupakan dalil ayat-ayat Al-Furqan, tanda kebenarannya, hujah hakikatnya, serta dalil bahwa ia merupakan Kalam Allah سُبْحَانَهُ yang benar. Dalam makna tanda, dalil, petunjuk, serta bukti, semua itu disebut ayat-ayat dari ayat-ayat tersebut.

Ya, ayat-ayat Al-Qur’an, yang dari setiap segi merupakan kesadaran itu sendiri, bersama-sama mengisyaratkan hal yang sama melalui dua puluh segi serta dua puluh jari. Hal itu memberiku keyakinan hingga derajat penyebutan terang-terangan. Orang yang tidak turut menerima keyakinanku akan berkata apa mengenai kesepakatan ini, dan dapat berkata apa? Kekuatan mana yang akan merusak kesepakatan tersebut?

Orang yang meragukan bahwa Resaili'n-Nur secara khusus menjadi sasaran perhatian isyarat Al-Qur’an yang datang kepada abad ini hendaknya melihat Kalimat Kedua Puluh Lima, yang bernama Mu'cizat-ı Kur'aniye dan membuktikan mukjizat Al-Qur’an dari empat puluh segi, Bagian Kedua Kalimat Kedua Puluh, serta Kalimat Kesepuluh dan Kedua Puluh Sembilan mengenai kebangkitan. Jika keraguannya tidak hilang, hendaknya ia datang dan menusukkan jarinya ke mataku.

AYAT DAN AYAT-AYAT KEDUA PULUH DUA

Ini ialah pengumuman suci

ﺗِﻠْﻚَ ﺍٰﻳَﺎﺕُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ,

yang terdapat pada awal Surah Yunus, Yusuf, Ra’d, Hijr, Syuara, Qasas, serta Luqman. Hubungan maknawinya telah diterangkan hingga suatu derajat pada penutup ayat kedua puluh satu. Adapun perhitungan jafrnya: Dalam ayat ini, tiga ﺕ berjumlah seribu dua ratus, dan dua ﻙ serta dua ﻝ berjumlah seratus, sehingga keseluruhannya seribu tiga ratus. Satu ﻯ, satu ﺏ, serta empat atau lima ﺍ menghasilkan jumlah seribu tiga ratus enam belas atau tujuh (1316–1317). Nilainya bertawafuk dengan tepat kepada tahun ketika penulis Resaili'n-Nur, melalui perubahan pikiran, menjadikan berbagai ilmu sebagai tangga untuk naik kepada hakikat-hakikat Al-Qur’an. Berdasarkan kuatnya hubungan maknawi itu, kita berkata:

Tawafuk tersebut memberi petunjuk tersirat bahwa pada abad ini, tiga puluh tiga Kalimat, tiga puluh tiga Surat, serta tiga puluh satu Lem’a yang disebut Resaili'n-Nur merupakan ayat-ayat dari ayat-ayat Kitâb Mubîn pada zaman kita. Yakni, semua itu merupakan tanda hakikat-hakikatnya, dalil bahwa semuanya benar serta merupakan hakikat, dan hujah yang sangat kuat bagi hakikat iman di dalam ayat-ayat tersebut. Melalui isyarat indrawi kata suci ﺗِﻠْﻚَ, semuanya merupakan dalil-dalil yang layak menerima isyarat demikian, yang menyatakan bahwa semuanya begitu jelas hingga terlihat pula oleh mata. Dengan petunjuk tersirat ini, ia memasukkan Resaili'n-Nur sebagai anggota khusus yang menjadi sasaran perhatian ke dalam lingkaran universal suatu makna isyarinya.

Kesimpulannya:

Sebagaimana makna isyari dalam ayat ini, karena berada dalam tujuh surah, menjadi tujuh isyarat dan naik hingga derajat penunjukan makna, bahkan kejelasan, demikian pula petunjuk tersirat dalam ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ, karena terdapat dalam tujuh atau delapan surah, menjadi tujuh atau delapan petunjuk tersirat. Ia mengangkat petunjuk tersirat itu hingga derajat isyarat, bahkan penunjukan makna, bahkan kejelasan.

Peringatan:

Isyarat-isyarat yang tiba-tiba terlintas tanpa kesulitan telah dicatat. Agar tidak memaksakan diri, banyak isyarat dari tiga puluh tiga ayat yang mengandung isyarat tidak dicatat.

AYAT KEDUA PULUH TIGA

ﻋَﺴٰﻰ ﺭَﺑُّﻨَٓﺎ ﺍَﻥْ ﻳُﺒْﺪِﻟَﻨَﺎ ﺧَﻴْﺮًﺍ.

Sebagaimana ayat ini memandang setiap abad, demikian pula ia memandang abad kita. Pada abad ini, orang-orang jatuh ke dalam musibah seperti mimpi buruk serta memohon kepada Rabb mereka Yang Rahîm agar Mengubahnya menjadi kebaikan. Di antara mereka, ayat ini secara khusus memberi petunjuk tersirat kepada murid-murid Resaili'n-Nur. Salah satu tandanya ialah:

Pada tahun seribu tiga ratus empat puluh lima (1345), nilai jafr ayat ini, bersama penulisan risalah-risalah penting, peristiwa-peristiwa luar biasa bersiap terjadi. Di desa Barla, pusat penyebaran Resaili'n-Nur, penulisnya diberi lebih banyak kesulitan. Khususnya, ketika masjid kecilnya diganggu, murid-murid Resaili'n-Nur berlindung ke Hadirat Ilahi dengan permohonan yang kuat. Mereka memohon, ‘Yâ Rab! Ubahlah mimpi yang mengerikan ini menjadi kebaikan!’ Menghadapi putus asa semua orang, mereka menguatkan semangat rohani umat Islam dengan harapan serta permohonan yang sangat kuat.

Inilah yang tiba-tiba terlintas tanpa kesulitan mengenai ayat ini. Rahasianya banyak. Agar tidak memaksakan diri, aku mempersingkatnya.