Bedîüzzaman Said Nursî
Sinar Pertama
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺑِﻪ۪ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ
Ini merupakan jawaban yang luar biasa, yang tiba-tiba terlintas terhadap dua pertanyaan yang menakjubkan.
Pertanyaan Pertama:
Dikatakan, ‘Wirid-wirid yang dibaca serta hal-hal suci seperti Fatiha, Yâsin, dan khatam Al-Qur’an, kadang dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal serta masih hidup, yang jumlahnya tidak terbatas. Namun, satu hadiah yang bersifat juz’i seperti ini dapat menjangkau orang-orang tanpa batas dalam satu saat, dan setiap orang menerima hadiah yang sama: Hal ini berada di luar jangkauan akal.’
Jawaban:
Sebagaimana Sang Fâthir Yang Hakîm Menjadikan unsur udara sebagai ladang serta sarana bagi kata-kata untuk tersebar seperti kilat dan berlipat ganda, serta melalui radio Membuat azan Muhammad ﷺ yang dibaca pada satu menara menjangkau semua tempat serta semua manusia pada saat yang sama, demikian pula, dengan Kudrat tanpa batas dan Hikmah tanpa akhir, Dia Membentangkan serta Menebarkan banyak listrik rohani dan radio rohani di alam rohani, dalam udara rohani, untuk menyampaikan satu Fatiha yang dibaca, misalnya, kepada semua ahli iman yang telah meninggal pada saat yang sama. Dia Menggunakan serta Mengoperasikannya dalam telepon-telepon nirkabel yang bersifat fitri.
Sebagaimana, ketika sebuah lampu menyala, satu lampu yang utuh masuk ke setiap cermin di antara ribuan cermin yang berada di hadapannya, demikian pula, jika satu Yâsin-i Şerif dibaca dan dihadiahkan kepada jutaan ruh, setiap ruh menerima satu Yâsin-i Şerif yang utuh.
Pertanyaan Kedua:
Dengan keras serta nada memerintah, dikatakan, ‘Engkau menunjukkan saksi mengenai diterimanya Risale-i Nur dari kasidah-kasidah tokoh seperti Hazrat Ali (ra) serta Ghauts Yang Agung (ra). Padahal, yang terutama berhak berbicara ialah Al-Qur’an. Risale-i Nur merupakan tafsir sejati Al-Qur’an, penyampai hakikatnya, serta dalil bagi persoalan-persoalannya. Al-Qur’an tidak seperti perkataan lain yang berkulit serta bertulang, dengan kesadaran yang khusus dan juz’i. Sebaliknya, Al-Qur’an, dengan semua isyarat serta bagiannya, merupakan kesadaran itu sendiri; ia tidak memiliki kulit, serta tidak memuat bahan yang berlebihan dan tidak perlu. Ia merupakan penyampai alam gaib. Ia berhak berbicara mengenai Sözler. Mari kita lihat apa yang dikatakannya!’
Jawaban:
Risale-i Nur merupakan dalil terang Al-Qur’an secara langsung, tafsir yang kuat, kilau cemerlang dari sifatnya yang bermukjizat secara rohani, setetes dari lautan itu, seberkas sinar dari matahari itu, serta terjemahan rohani yang terilham dari tambang ilmu hakiki itu dan datang dari limpahannya. Karena itu, menjelaskan nilai serta pentingnya menjadi penghormatan, demi kepentingan, serta pujian bagi Al-Qur’an. Tentu, menerangkan keunggulan Risale-i Nur dituntut oleh kebenaran, diminta oleh hakikat, serta diizinkan oleh Al-Qur’an. Bagian seorang penyampai sepertiku hanya syukur. Dalam hal apa pun, ia tidak memiliki, dan tidak dapat memiliki, hak untuk berbangga, memuji diri, serta menyombongkan diri.
Isyarat ayat-ayat yang akan datang harus dilihat dari sudut pandang ini. Jika tidak, aku tidak akan merelakan hakku kepada orang-orang yang menuduhku mementingkan diri sendiri.
Sebagai jawaban atas pertanyaan yang sangat penting ini, dalam dua atau tiga jam, tiba-tiba secara ringkas dan dari kejauhan terlihat isyarat kepada Risale-i Nur dari tiga puluh tiga ayat terkenal Al-Qur’an, sebanyak jumlah Sözler, baik melalui makna maupun ilmu jafr. Secara samar terlihat bahwa, dengan berbagai cara, tiga puluh tiga ayat bersama-sama menunjukkan Risale-i Nur melalui petunjuk tersiratnya.
Peringatan:
Pertama-tama, perhatian harus diberikan kepada peringatan yang disebutkan pada awal ayat kedua puluh empat. Tempat peringatan itu seharusnya di awal. Namun, ia terlintas di sana, sehingga masuk di sana.
Peringatan Kedua:
Jika isyarat melalui tawafuk tidak bertumpu pada hubungan-hubungan maknawi, nilainya kecil. Jika hubungan maknawinya kuat, dan hal ini merupakan salah satu anggota serta contoh nyata dari makna itu, juga memiliki kelayakan yang istimewa, pada saat itu tawafuk menjadi penting. Ia merupakan tanda bahwa hal ini dimaksudkan dalam perkataan tersebut. Dari situ, sebagai petunjuk tersirat, isyarat, atau penunjukan makna, ia menunjukkan bahwa anggota tersebut termasuk di dalamnya secara khusus.
Isyarat serta tawafuk ayat-ayat Al-Qur’an yang akan datang kepada Risale-i Nur kebanyakan bertumpu pada hubungan maknawi yang kuat. Ya, ayat-ayat terkenal yang akan datang ini bersama-sama mengarah, menurut ilmu jafr, kepada akhir abad ketiga belas serta awal abad keempat belas. Demi Al-Qur’an serta iman, mereka mengisyaratkan suatu hakikat. Mereka memberi kabar tentang suatu ‘Nur’ yang menjadi sarana penghiburan. Mereka menyampaikan kabar gembira tentang dalil Al-Qur’an yang akan menyingkirkan keraguan akibat fitnah kesesatan pada masa itu.
Tafsir Al-Qur’an seperti Risale-i Nur akan sepenuhnya menjadi tempat terwujudnya isyarat serta petunjuk tersirat tersebut, dan melaksanakan tugas-tugas itu sebagaimana mestinya. Orang-orang yang membacanya tidak meragukan bahwa Risale-i Nur terdepan dalam hal yang disebutkan ini. Hal itu menunjukkan bahwa ayat-ayat tersebut secara khusus memandang serta mengisyaratkan Risale-i Nur.
PERTAMA
Ini ialah Âyetü'n-Nur dari Surah Nur. Ia merupakan salah satu dari enam belas sebab penamaan Risale-i Nur dengan nama-nama Resaili'n-Nur, Risalei'n-Nur, serta Risaletü'n-Nur. Karena itu, ayat tersebut harus diterangkan sebagai yang pertama. Âyetü'n-Nur ini ialah:
ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻧُﻮﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻣَﺜَﻞُ ﻧُﻮﺭِﻩ۪ ﻛَﻤِﺸْﻜٰﻮﺓٍ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣِﺼْﺒَﺎﺡٌ ﺍَﻟْﻤِﺼْﺒَﺎﺡُ ﻓ۪ﻰ ﺯُﺟَﺎﺟَﺔٍ ﺍَﻟﺰُّﺟَﺎﺟَﺔُ ﻛَﺎَﻧَّﻬَﺎ ﻛَﻮْﻛَﺐٌ ﺩُﺭِّﻯٌّ ﻳُﻮﻗَﺪُ ﻣِﻦْ ﺷَﺠَﺮَﺓٍ ﻣُﺒَﺎﺭَﻛَﺔٍ ﺯَﻳْﺘُﻮﻧَﺔٍ لَا ﺷَﺮْﻗِﻴَّﺔٍ وَلَا ﻏَﺮْﺑِﻴَّﺔٍ ﻳَﻜَﺎﺩُ ﺯَﻳْﺘُﻬَﺎ ﻳُﻀ۪ٓﻰﺀُ ﻭَﻟَﻮْ ﻟَﻢْ ﺗَﻤْﺴَﺴْﻪُ ﻧَﺎﺭٌ ﻧُﻮﺭٌ ﻋَﻠٰﻰ ﻧُﻮﺭٍ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟِﻨُﻮﺭِﻩ۪ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ ﻭَﻳَﻀْﺮِﺏُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ الْاَمْثَالَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ
Ayat mengenai nur ini memiliki banyak lapisan makna serta banyak segi. Di antara lapisan serta segi itu, satu segi isyari dan tersirat, melalui makna serta ilmu jafr, memandang Risalei'n-Nur dan Risaletü'n-Nur, yang merupakan tafsir penuh nur, dari sepuluh arah melalui empat atau lima kalimatnya. Di antara lapisan serta segi itu, satu lapisan dan satu tirai juga memberi kabar mengenai listrik dengan cara yang bermukjizat.
Yang Memandang Risale-i Nur
Kalimat Pertama:
ﻣَﺜَﻞُ ﻧُﻮﺭِﻩ۪ ﻛَﻤِﺸْﻜٰﻮﺓٍ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣِﺼْﺒَﺎﺡٌ.
Yakni, perumpamaan Nur Ilahi, nur Al-Qur’an, atau nur Muhammad ﷺ ialah
ﻣِﺸْﻜٰﻮﺓٍ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣِﺼْﺒَﺎﺡٌ
ini. Nilai jafrnya ialah sembilan ratus sembilan puluh delapan (998), sehingga melalui tawafuk yang tepat ia mengisyaratkan Risaletü'n-Nur, dengan menghitung nun bertasydid sebagai dua nun.
Kalimat Kedua:
ﺍَﻟﺰُّﺟَﺎﺟَﺔُ ﻛَﺎَﻧَّﻬَﺎ ﻛَﻮْﻛَﺐٌ ﺩُﺭِّﻯٌّ ﻳُﻮﻗَﺪُ.
Sebagaimana diterangkan dengan terperinci dalam Lem’a Kedua Puluh Delapan, dalam Kaside-i Celcelutiye, Imam Ali (ra) memandang Risalei'n-Nur serta mengisyaratkannya hingga derajat terang-terangan dengan mengatakan:
ﺍَﻗِﺪْ ﻛَﻮْﻛَﺒ۪ﻰ بِالْاِسْمِ ﻧُﻮﺭًﺍ.
Aku memperkirakan bahwa isyarat Imam Ali (ra) ini terilham dari petunjuk tersirat kalimat mengenai nur tersebut. Nilai kalimat ayat ini berjumlah lima ratus empat puluh enam (546). Sebagaimana melalui tawafuk ia mengisyaratkan lima ratus empat puluh delapan (548), nilai Risale-i Nur, dengan selisih dua yang sangat kecil dan mengandung rahasia, demikian pula ia sepenuhnya memandangnya melalui makna tersirat.
Kalimat Ketiga:
ﻣِﻦْ ﺷَﺠَﺮَﺓٍ. Jika dalam ﻣِﻦْ ﺷَﺠَﺮَﺓٍ, huruf ﺓ dihitung sebagai ﻩ, seperti pada tempat-tempat wakaf, nilainya menjadi lima ratus sembilan puluh delapan (598). Bersama tawafuk yang tepat dengan lima ratus sembilan puluh delapan, nilai Resaili'n-Nur serta Risalei'n-Nur, ia juga memiliki tawafuk tersirat dengan nilai
ﻣِﻦْ ﻓُﺮْﻗَﺎﻥٍ ﺣَﻜ۪ﻴﻢٍ,
dengan satu selisih lagi yang mengandung rahasia. Ia memasukkan Resaili'n-Nur ke dalam anggota-anggota cakupannya, serta kembali menunjukkan bahwa pohon yang diberkahi dari Risalei'n-Nur ialah Al-Furqân Al-Hakîm. Jika dalam ﻣِﻦْ ﺷَﺠَﺮَﺓٍ, huruf ﺓ tetap sebagai ﺕ, nilai jafrnya menjadi sembilan ratus sembilan puluh tiga (993). Dengan selisih lima yang kecil serta mengandung rahasia, yang tidak merusak tawafuk, nilainya bertepatan dengan sembilan ratus sembilan puluh delapan (998), nilai Risaletü'n-Nur. Karena maknanya juga selaras, ia mengisyaratkannya.
Kalimat Keempat:
ﻧُﻮﺭٌ ﻋَﻠٰﻰ ﻧُﻮﺭٍ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟِﻨُﻮﺭِﻩ۪.
Nilainya menjadi sembilan ratus sembilan puluh sembilan (999). Dengan satu selisih yang mengandung rahasia, melalui tawafuk dengan sembilan ratus sembilan puluh delapan (998), nilai Risaletü'n-Nur, serta berdasarkan hubungan maknawi yang kuat, ia memberi petunjuk tersirat hingga derajat isyarat.
Kalimat Kelima:
Kalimat ﻣَﻦْ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ, dengan selisih yang amat kecil, memandang nama serta julukan terkenal penulis Risaletü'n-Nur melalui tawafuk, sebagaimana maknanya juga memandangnya. Jika kata ganti yang tersirat dalam ﻳَﺸَٓﺎﺀُ ditampakkan, ia menjadi ﻣَﻦْ ﻳَﺸَٓﺎﺋُﻪُ. Tawafuknya tepat sepenuhnya.
Sebagaimana ayat ini memandang Risalei'n-Nur melalui namanya, demikian pula melalui tawafuk yang tepat ia memandang secara tersirat waktu penulisan serta penyempurnaannya. Kalimat
ﻛَﻤِﺸْﻜٰﻮﺓٍ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣِﺼْﺒَﺎﺡٌ ﺍَﻟْﻤِﺼْﺒَﺎﺡُ ﻓ۪ﻰ ﺯُﺟَﺎﺟَﺔٍ,
dengan menghitung tanwin dalam ﻛَﻤِﺸْﻜٰﻮﺓٍ sebagai nun karena bukan tempat wakaf, serta karena ﻓ۪ﻰ ﺯُﺟَﺎﺟَﺔٍ merupakan tempat wakaf, menganggap ﺓ menjadi ﻩ, berjumlah seribu tiga ratus empat puluh sembilan (1349). Melalui tawafuk yang tepat, ia mengisyaratkan tahun seribu tiga ratus empat puluh sembilan, yaitu masa penulisan bagian-bagian Resaili'n-Nur yang paling penuh nur serta waktu penyempurnaannya.
Kalimat
ﺍَﻟْﻤِﺼْﺒَﺎﺡُ ﻓ۪ﻰ ﺯُﺟَﺎﺟَﺔٍ ﺍَﻟﺰُّﺟَﺎﺟَﺔُ ﻛَﺎَﻧَّﻬَﺎ ﻛَﻮْﻛَﺐٌ ﺩُﺭِّﻯٌّ
juga berjumlah seribu tiga ratus empat puluh lima (1345), sehingga bertawafuk dengan tepat kepada waktu tersebarnya, terkenalnya, serta bersinarnya Resaili'n-Nur. Sebab, ﺭ bertasydid dihitung sebagai dua ﺭ; ﻥ bertasydid sebagai dua ﻥ; ﺯ bertasydid, menurut asalnya, sebagai satu ﻝ serta satu ﺯ; dan ﺯُﺟَﺎﺟَﺔ yang pertama, dari segi wakaf, dihitung sebagai ﻩ, sedangkan yang kedua dihitung sebagai ﺕ karena bukan tempat wakaf. Jika ﺯ bertasydid dihitung sebagai dua ﺯ, nilainya menjadi seribu tiga ratus dua puluh dua (1322). Ini kembali bertawafuk dengan tepat kepada tahun yang sama ketika penulis Risalei'n-Nur mulai menyusun pendahuluan-pendahuluan Nur.
Kalimat
ﻣِﻦْ ﺷَﺠَﺮَﺓٍ ﻣُﺒَﺎﺭَﻛَﺔٍ
juga berjumlah seribu tiga ratus sebelas (1311), dengan ta pertama menjadi ﺕ, ta kedua ﺕ menjadi ﻩ karena merupakan tempat wakaf, dan tanwin dalam ﺷَﺠَﺮَﺓٍ dihitung sebagai ﻥ. Melalui tawafuk yang tepat, ia memandang secara tersirat tahun yang sama ketika penulis Resaili'n-Nur mulai mengajar ilmu-ilmu bahasa Arab, yang merupakan tangga menuju Al-Qur’an, pohon suci yang diberkahi dari Risaletü'n-Nur. Selarasnya begitu banyak tawafuk Al-Qur’an yang bermakna ini merupakan penunjukan makna yang kuat, melebihi sekadar tanda atau isyarat. Bahkan, bersama listrik, ia merupakan penyebutan terang-terangan Resaili'n-Nur melalui hubungan maknawinya.
Salah satu kehalusan hubungan maknawi ayat ini ialah: Sebagaimana, sebagai suatu kabar gaib, ia mengisyaratkan listrik serta Risalei'n-Nur dengan cara yang bermukjizat, demikian pula ia menunjukkan dengan amat indah kemunculan keduanya, waktu penyempurnaan setelah kemunculannya, serta keadaan-keadaan keduanya yang luar biasa.
Misalnya, kalimat
ﺯَﻳْﺘُﻮﻧَﺔٍ لَا ﺷَﺮْﻗِﻴَّﺔٍ ﻭَ لَا ﻏَﺮْﺑِﻴَّﺔٍ
mengatakan, ‘Barang berharga berupa listrik bukan barang yang didatangkan dari timur ataupun barat. Ia turun dari arah langit, dari khazanah Rahmat di udara di atas. Ia merupakan milik setiap tempat; tidak perlu mencarinya dari tempat lain.’
Demikian pula, Resaili'n-Nur, yang merupakan listrik rohani, bukan barang yang datang dari pengetahuan serta ilmu timur ataupun filsafat serta sains barat, dan bukan nur yang diambil dari keduanya. Ia diambil dari tingkat tinggi yang berkaitan dengan Arasy pada Al-Qur’an yang berasal dari langit, di atas timur serta barat.
Misalnya, kalimat
ﻳَﻜَﺎﺩُ ﺯَﻳْﺘُﻬَﺎ ﻳُﻀ۪ٓﻰﺀُ ﻭَ ﻟَﻮْ ﻟَﻢْ ﺗَﻤْﺴَﺴْﻪُ ﻧَﺎﺭٌ ﻧُﻮﺭٌ
juga mengatakan melalui makna tersiratnya: Pada abad ketiga belas serta keempat belas, lampu-lampu langit menyala tanpa api; lampu-lampu itu bersinar tanpa disentuh api. Waktunya dekat, yakni dekat dengan tahun seribu dua ratus delapan puluh (1280).
Sebagaimana melalui kalimat ini ia menerangkan secara tersirat keadaan listrik yang luar biasa serta kedatangannya, demikian pula Resaili'n-Nur merupakan listrik rohani. Walaupun ia merupakan ilmu yang sangat tinggi serta mendalam, tanpa harus menanggung beban belajar, mengerjakan pelajaran, belajar dari guru-guru lain, ataupun mengambil dari mulut para pengajar, setiap orang dapat memahami ilmu-ilmu tinggi tersebut menurut tingkatannya. Tanpa memerlukan api kesulitan, ia mengambil manfaat sendiri dan dapat menjadi ulama peneliti.
Ia juga mengisyaratkan bahwa penulis Resaili'n-Nur menyala tanpa api. Tanpa memerlukan beban menuntut ilmu serta kesulitan pelajaran, ia memperoleh nur sendiri dan menjadi ulama.
Ya, sebagaimana ketiga isyarat yang bermukjizat dalam kalimat ini benar mengenai listrik serta Resaili'n-Nur, demikian pula semuanya merupakan hakikat itu sendiri mengenai penulisnya. Orang yang membaca riwayat hidupnya serta orang-orang sedaerahnya mengetahui bahwa buku-buku yang menurut cara madrasah dipelajari dengan mengambil pelajaran selama lima belas tahun setelah buku ‘İzhar’, dipelajari penulis Resaili'n-Nur hanya dalam tiga bulan.
Sebagaimana kalimat ini memiliki isyarat yang kuat serta halus dari segi hubungan maknawi, demikian pula melalui tawafuk jafr serta abjad, ia memberi kabar tersirat mengenai dekatnya masa kemunculan listrik, munculnya Resaili'n-Nur, serta kelahiran penulisnya. Ia menunjukkan satu lagi kilau sifat yang bermukjizat. Demikianlah:
Nilai
ﻳَﻜَﺎﺩُ ﺯَﻳْﺘُﻬَﺎ ﻳُﻀ۪ٓﻰﺀُ
berjumlah seribu dua ratus tujuh puluh sembilan (1279). Adapun bagian
ﻭَﻟَﻮْ ﻟَﻢْ ﺗَﻤْﺴَﺴْﻪُ ﻧَﺎﺭٌ ﻧُﻮﺭٌ,
dengan menghitung dua tanwin sebagai dua ‘nun’, berjumlah seribu dua ratus delapan puluh empat (1284). Sebagaimana melalui kata suci ﻳَﻜَﺎﺩُ ia mengisyaratkan secara maknawi dekatnya listrik menjadi umum, dekatnya Resaili'n-Nur, serta kelahiran penulisnya empat belas tahun kemudian, demikian pula melalui ilmu jafr, ia mengisyaratkan tahun yang persis sama dengan tawafuk yang tepat.
Diketahui bahwa benang-benang yang lemah serta tipis menjadi kuat ketika berkumpul, lalu menjadi tali yang tidak putus. Berdasarkan rahasia ini, isyarat-isyarat ayat ini saling menguatkan serta meneguhkan. Walaupun tawafuknya tidak tepat sepenuhnya, ia dianggap tepat, dan isyaratnya naik hingga derajat penunjukan makna.
Peringatan:
Aku tidak menerangkan isyarat-isyarat ayat mengenai nur ini demi listrik serta Resaili'n-Nur. Aku ingin menunjukkan satu kilau dari suatu cabang sifat ayat ini yang bermukjizat secara rohani.
Kesimpulannya:
Sebagaimana melalui makna jelasnya ayat suci ini mengajarkan Nur Ilahi, nur Al-Qur’an, serta nur Muhammad ﷺ, demikian pula melalui makna isyarinya ia memandang setiap abad, termasuk akhir abad ketiga belas serta awal abad keempat belas, dan membuat orang memandang dengan saksama. Pada akhir serta awal kedua abad itu, listrik dan Resaili'n-Nur merupakan hal yang paling menarik perhatian, memiliki hubungan maknawi paling besar, serta paling sesuai dan selaras dengan semua kalimat ayat ini. Karena hal itu memberiku keyakinan pasti bahwa ayat tersebut memandangnya langsung melalui makna tersirat, aku menulis keyakinanku tanpa ragu. Jika aku telah keliru, aku memohon kepada Sang Arhamur-Râhimîn agar Mengampuniku dengan Rahmat-Nya.
Orang-orang yang ingin memahami kelayakan Resaili'n-Nur menerima perhatian ayat ini akan memahaminya jika memandang dengan saksama risalah mana pun. Setidaknya, hendaknya ia memperhatikan Altı Nükte Risalesi (Risalah Enam Butir Hikmah) mengenai enam Nama Ilahi, yang bernama Lem’a Ketiga Puluh, salah satu buah Penjara Eskişehir. Setidaknya lagi, jika memperhatikan Butir Hikmah Kelima serta Keenam dalam Lem’a itu, mengenai Nama Al-Hayy dan Al-Qayyûm, tentu ia akan membenarkannya.
AYAT KEDUA yang Mengisyaratkan Resaili'n-Nur
Ini ialah ayat terkenal
ﻓَﺎﺳْﺘَﻘِﻢْ ﻛَﻤَٓﺎ ﺍُﻣِﺮْﺕَ,
yang menjadi sebab munculnya hadis
ﺷَﻴَّﺒَﺘْﻨ۪ﻰ ﺳُﻮﺭَﺓُ ﻫُﻮﺩٍ.
Sebagaimana isyarat
ﺍِﺳْﺘَﻘِﻢْ ﻛَﻤَٓﺎ ﺍُﻣِﺮْﺕَ
telah diterangkan dengan terperinci dalam Lem’a Kedelapan, ini merupakan ayat yang amat terkenal, yang terletak berhadapan dengan halaman Surah Hud yang memuat ayat
ﻓَﻤِﻨْﻬُﻢْ ﺷَﻘِﻰٌّ ﻭَ ﺳَﻌ۪ﻴﺪٌ
ilâ âhirihî, yang memberikan dua isyarat kuat.
Nilai jafrnya berjumlah seribu tiga ratus tiga (1303). Adapun
ﻭَﺍﺳْﺘَﻘِﻢْ ﻛَﻤَٓﺎ ﺍُﻣِﺮْﺕَ
pada halaman kedua Surah Syura berjumlah seribu tiga ratus sembilan (1309). Pada tahun itu, di antara semua orang yang diajak berbicara, ia memberi perhatian kepada seorang tertentu secara khusus demi Al-Qur’an dan memerintahkannya untuk teguh di jalan lurus. Tahun yang pertama ialah tahun ketika penulis Resaili'n-Nur mulai mempelajari ilmu-ilmu yang menghasilkan Risale-i Nur.
Adapun tahun ayat kedua, melalui tawafuk yang tepat, merupakan isyarat tersirat kepada jalan lurus Risale-i Nur. Itu ialah tahun yang sama ketika penulis tersebut, dengan cara luar biasa, menyempurnakan ilmunya dalam waktu yang amat singkat, beralih dari belajar kepada mengajar, serta dalam tiga bulan dan satu musim dingin membaca lebih dari seratus buku yang di madrasah dibaca selama lima belas tahun. Di hadapan ulama paling terkenal di daerah itu pada masa tersebut, ia membuktikan melalui ujian berulang-ulang {(Catatan kaki): Pernyataan pujian ini bukan milik Said. Melalui bahasa serta keadaan Said (ra), ia melukiskan seorang murid serta pemberi khidmah kepada Al-Qur’an, agar khidmahnya dipercaya.} serta jawaban yang tepat atas setiap pertanyaan dari ilmu mana pun, bahwa hasil tiga bulan itu memberikan hasil setara lima belas tahun.
AYAT TERKENAL KETIGA
Ayat
ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺟَﺎﻫَﺪُﻭﺍ ﻓ۪ﻴﻨَﺎ ﻟَﻨَﻬْﺪِﻳَﻨَّﻬُﻢْ ﺳُﺒُﻠَﻨَﺎ,
bersama hubungan maknawi yang kuat, berjumlah seribu tiga ratus empat puluh empat (1344) menurut ilmu jafr. Pada tahun itu, secara lahiriah tidak terlihat orang-orang yang lebih menjadi tempat terwujudnya makna ayat ini daripada murid-murid Risale-i Nur. Jadi, dari suatu lapisan isyari di antara banyak lapisan maknanya serta dari suatu tirai tersirat, ayat ini memandang Risale-i Nur, tafsir Al-Qur’an yang cemerlang, dan seperti ayat
ﺍِﻥَّ الْاِنْسَانَ ﻟَﻴَﻄْﻐٰﻰ
dalam Surah Alak yang pertama diturunkan, ia menyatakan melalui makna serta nilai jafrnya bahwa pada tahun seribu tiga ratus empat puluh empat akan muncul pembangkangan serta penyangkalan yang tidak tertandingi, seperti Firaun, di antara umat manusia. Adapun ayat
ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺟَﺎﻫَﺪُﻭﺍ ﻓ۪ﻴﻨَﺎ
memuji orang-orang yang berjuang melawan pembangkangan tersebut.
Ya, akibat Perang Dunia, dunia manusia serta dunia Islam menderita banyak kerugian. Para tokoh manusia yang angkuh serta sewenang-wenang, khususnya di Eropa, terutama seorang di antara mereka, bertumpu pada kekuatan, kekayaan, serta uang, lalu memasuki pembangkangan seperti Firaun. Karena orang-orang tertentu itu membuat umat manusia ikut menanggung tanggung jawab, mereka disebut dengan nama umum ‘manusia’.
Jika ‘nun’ bertasydid dalam ﻟَﻨَﻬْﺪِﻳَﻨَّﻬُﻢْ dihitung sebagai satu ‘nun’, nilainya menjadi seribu dua ratus sembilan puluh empat (1294), yaitu basmalah kehidupan penulis Risaletü'n-Nur serta tahun pertama kelahirannya.
Jika ‘lâm’ bertasydid dihitung sebagai dua ‘lâm’, dan ‘nun’ sebagai satu, nilainya menjadi seribu tiga ratus dua puluh empat (1324). Itu ialah tahun tampilnya penulis Risalei'n-Nur, yang muncul melalui perjuangan rohani ketika kebebasan diumumkan.
AYAT TERKENAL KEEMPAT
Ini ialah ayat
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺍٰﺗَﻴْﻨَﺎﻙَ ﺳَﺒْﻌًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺜَﺎﻧ۪ﻰ.
Sebagaimana kalimat ini menyatakan Al-Qur’an yang agung serta Surah Fatiha melalui pujian berpasangan, demikian pula melalui ilmu jafr ia mengisyaratkan Risalei'n-Nur. Ia merupakan dalil yang layak bagi sifat berpasangan Al-Qur’an, yang membuktikan dengan cemerlang tujuh dasar: enam rukun iman bersama hakikat keislaman, tujuh yang terkenal dari Al-Qur’an. Ia merupakan cermin tempat terwujudnya nur ﺳَﺒْﻊَ ﺍﻟْﻤَﺜَﺎﻧ۪ﻰ. Sebab, nilai abjad
ﺍٰﺗَﻴْﻨَﺎﻙَ ﺳَﺒْﻌًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺜَﺎﻧ۪ﻰ,
dengan jumlah seribu tiga ratus tiga puluh lima (1335), merupakan tanda bahwa melalui tirai tersirat ia memandang tafsir İşaratü'l-İ'caz, pembuka Risalei'n-Nur. Nilainya bertawafuk dengan seribu tiga ratus tiga puluh lima atau enam, waktu tersebarnya bagian tafsir itu mengenai Surah Fatiha serta awal Surah Al-Baqarah melalui pencetakan.
AYAT KELIMA
Ini ialah
ﺍَﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻴْﺘًﺎ ﻓَﺎَﺣْﻴَﻴْﻨَﺎﻩُ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟَﻪُ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻳَﻤْﺸ۪ﻰ ﺑِﻪ۪ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ.
Petunjuk tersirat ayat ini halus. Sebab, melalui hubungan maknawi yang kuat serta ilmu jafr, di antara banyak anggota cakupannya ia memandang Risalei'n-Nur dan penulisnya secara khusus. Demikianlah:
Kata ﻣَﻴْﺘًﺎ berjumlah lima ratus (500) dengan menghitung tanwin sebagai ‘nun’. Melalui tawafuk dengan lima ratus, nilai ‘Saidü'n-Nursî’, ia mengisyaratkan, ‘Saidü'n-Nursî juga berada dalam keadaan seperti orang mati. Ia dihidupkan dengan Risaletü'n-Nur dan memperoleh hidup melaluinya.’
Ya, dua tanwin dalam
ﺍَﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻴْﺘًﺎ ﻓَﺎَﺣْﻴَﻴْﻨَﺎﻩُ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟَﻪُ ﻧُﻮﺭًﺍ
ialah ‘nun’. Nilainya menjadi seribu tiga ratus tiga puluh empat (1334), tahun ketika Said, dalam Perang Dunia, selamat dengan cara luar biasa dari kematian jasmani yang mengerikan. Pada waktu yang sama, menurut penanggalan Arab, ia juga selamat dari kematian rohani yang berat, yang datang dari filsafat serta kelalaian, dan memasuki kehidupan segar melalui air kehidupan Al-Qur’an. Tawafuk maknawi serta kesesuaian jafr ini merupakan isyarat hingga derajat penunjukan makna.
Dengan menghitung tanwin dalam
ﻓَﺎَﺣْﻴَﻴْﻨَﺎﻩُ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟَﻪُ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻳَﻤْﺸ۪ﻰ ﺑِﻪ۪ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ
sebagai ‘nun’, ‘nun’ bertasydid sebagai dua ‘nun’, serta dalam ﺑِﻪ۪ menghitung ﻯ yang dilafalkan, nilainya juga menjadi seribu dua ratus sembilan puluh empat (1294), yaitu tahun pertama kelahiran serta kehidupannya. Jadi, kalimat ini mengisyaratkan kehidupan jasmaninya, dan kalimat sebelumnya mengisyaratkan kehidupan rohaninya.
Kesimpulannya:
Dari satu lapisan isyari di antara banyak lapisannya, ayat ini memandang Risaletü'n-Nur, penulisnya, awal abad keempat belas ini, serta permulaan Risaletü'n-Nur pada awal abad itu, melalui petunjuk tersirat, bahkan isyarat, bahkan penunjukan makna.
ﺍَﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻴْﺘًﺎ
PELENGKAP AYAT TERSEBUT
ﺍَﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻴْﺘًﺎ ﻓَﺎَﺣْﻴَﻴْﻨَﺎﻩُ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟَﻪُ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻳَﻤْﺸ۪ﻰ ﺑِﻪ۪ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻛَﻤَﻦْ ﻣَﺜَﻠُﻪُ ﻓِﻰ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺨَﺎﺭِﺝٍ ﻣِﻨْﻬَﺎ
Pada Ramadan, tiga hubungan yang meneguhkan sekaligus memperhalus isyarat kuat ayat ini tiba-tiba datang ke hatiku. Semua itu memberiku keyakinan pasti bahwa Said-lah yang sepenuhnya sesuai dengan kata ﻣَﻴْﺘًﺎ. Salah satu Hikmah ayat ini menunjukkan Said, penyampai Risale-i Nur, dengan sebutan ‘meyyit’ ialah:
Melalui Risale-i Nur, ia telah membuka teka-teki serta rahasia kematian. Di bawah wajah mengerikan itu, ia menyingkap dan membuktikan hakikat yang amat akrab, menggembirakan, serta penuh nur bagi ahli iman. Terhadap orang-orang yang tidak beriman, yang tenggelam dalam kehidupan sementara yang bercampur kematian, ia menghadapi dengan kemenangan melalui kematian lahiriah sementara yang bercampur kehidupan kekal. Mereka yang merupakan tempat terwujudnya rahasia
ﻛَﻤَﻦْ ﻣَﺜَﻠُﻪُ ﻓِﻰ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ
menghias kehidupan tersebut dengan menghalalkan keinginan-keinginan yang tidak dibenarkan. Sebagai tandingannya, Risale-i Nur menghadapkan kematian kepada kehidupan sementara yang menipu itu, lalu menjungkirbalikkan kenikmatan serta hiasannya. Ia berkata serta membuktikan, ‘Kematian bagi orang-orang yang sesat ialah pemusnahan abadi. Hanya Al-Qur’an serta iman yang menyelamatkan dari tiang gantungan yang mengerikan itu dan mengubah kematian menjadi surat pembebasan yang diberkahi.’
Karena itu, hakikat kematian yang amat agung ini mengambil tempat yang sangat penting serta luas dalam Risale-i Nur. Bahkan, dalam sebagian besar serangannya, ia memegang kematian dan memukulkannya ke kepala orang-orang yang sesat, berusaha membuat mereka kembali berakal sehat.
Kedua:
Rabitah kematian, yakni mengingat kematian, merupakan salah satu dari empat dasar pengikut tarekat, khususnya Naqsyabandiyah, dan yang paling berpengaruh. Ia mengubah Said Lama menjadi Said Baru (ra), serta selalu menjadi teman Said Baru dalam gerak pikiran. Dengan terus menunjukkan hal-hal yang tersingkap melalui rabitah tersebut dalam risalah-risalah, terutama İhtiyarlar Risalesi, akhirnya ia melihat dan menunjukkan hakikat kematian yang penuh nur, hidup, serta indah bagi ahli iman.
Ketiga:
Melalui perhitungan jafr serta abjad, ayat ini menunjukkan dengan tepat dan bertawafuk dengan waktu serta tahun bersentuhannya tiga macam kematian yang menyerang Said dari segala arah. Jadi, di antara anggota cakupan kata ‘meyyit’ dalam ayat, satu anggota yang menjadi sasaran perhatian, serta satu contoh nyata yang menerima isyarat khusus karena namanya bertawafuk dengan tepat kepada nilai ‘meyyit’ menurut ilmu jafr, ialah ‘Saidü'n-Nursî’.
(Ini merupakan satu karamah kesetiaan Sabri.)
Ketika aku menulis pelengkap ini setelah salat, kulihat bahwa Sabri telah menerima bagian mengenai ayat
ﺍَﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻴْﺘًﺎ
serta meminta nur seperti penjelasan bagian itu dari limpahan Ramadan. Kutunjukkan apa yang kutulis kepada Emin, penerus Sıddık Süleyman. Dengan heran, ia berkata, ‘Ini merupakan karamah Sabri sekaligus Risale-i Nur.’
Ketika memikirkan perbandingan Al-Qur’an yang mengandung rahasia dalam ayat ini, terhadap bagian
ﻓَﺎَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺷَﻘُﻮﺍ
dalam Surah Hud, terlintas perbandingan dalam
ﻭَﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺳُﻌِﺪُﻭﺍ ﻓَﻔِﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ,
dan memberitahukan: Sebagaimana ayat kedua serta bagian pertama itu sepenuhnya memandang jalan Risale-i Nur dan murid-muridnya secara maknawi serta melalui ilmu jafr, demikian pula ayat
ﻓَﺎَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺷَﻘُﻮﺍ ﻓَﻔِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻟَﻬُﻢْ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺯَﻓ۪ﻴﺮٌ ﻭَ ﺷَﻬ۪ﻴﻖٌ,
melalui tawafuk jafr, mengisyaratkan para penentang dan musuh Risale-i Nur, permulaan arus-arus mereka, masa kegiatannya, serta akhirnya. Demikianlah:
Dalam pembahasan ayat-ayat seperti
ﻳُﺮ۪ﻳﺪُﻭﻥَ ﻟِﻴُﻄْﻔِﺆُﺍ ﻧُﻮﺭَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺑِﺎَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ
pada Sinar Pertama, tujuh atau delapan ayat menunjukkan dengan penting tahun seribu tiga ratus enam belas serta tujuh (1316–1317), permulaan niat buruk terhadap Al-Qur’an.
ﻓَﺎَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺷَﻘُﻮﺍ
menunjukkan tahun yang sama menurut ilmu jafr. Jika ‘mim’ bertasydid dihitung sebagai dua ‘mim’, nilainya menjadi seribu tiga ratus lima puluh tujuh (1357). Jika ‘lâm’ bertasydid dihitung sebagai dua ‘lâm’, nilainya menjadi seribu tiga ratus empat puluh tujuh (1347), yaitu tahun kegiatan yang melampaui batas pada abad ini. Jika kedua huruf bertasydid masing-masing dihitung dua, nilainya menjadi seribu tiga ratus delapan puluh tujuh (1387).
لَا ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ.
Ada kemungkinan itu merupakan tahun berakhirnya suatu arus yang mengerikan.
Adapun
ﻓَﻔِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻟَﻬُﻢْ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺯَﻓ۪ﻴﺮٌ ﻭَ ﺷَﻬ۪ﻴﻖٌ
berjumlah seribu tiga ratus enam puluh satu (1361). Jika dalam ﻓَﻔِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ huruf ﻯ yang tidak dibaca tidak dihitung, ia menunjukkan tahun seribu tiga ratus lima puluh satu (1351). Jika ‘nun’ bertasydid dihitung menurut asalnya sebagai satu ‘lâm’ serta satu ‘nun’, ia kembali menunjukkan tahun seribu tiga ratus tiga puluh satu (1331). Dengan menunjukkan kebakaran bencana Perang Dunia dalam jerit serta ratapan, ia memberi kabar tentang azab orang-orang yang celaka, yang mengembuskan serta menarik napas dengan rintihan di dalam api neraka, dan mengisyaratkan hukuman di dunia serta akhirat bagi orang-orang jahat yang menjerumuskan ahli iman ke dalam fitnah.
Demikian pula, dalam Surah
ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﺫَﺍﺕِ ﺍﻟْﺒُﺮُﻭﺝِ
yang mengandung rahasia serta secara lahiriah juga memandang abad ini, sebagaimana ungkapan
ﺍِﻥَّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻓَﺘَﻨُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻳَﺘُﻮﺑُﻮﺍ ﻓَﻠَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏُ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏُ ﺍﻟْﺤَﺮ۪ﻳﻖِ
dari ayat ini, ia mengisyaratkan bahwa dua kebakaran besar Istanbul serta kebakaran mengerikan Perang Dunia merupakan hukuman atas fitnah itu, seperti azab neraka.