Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Sosok yang memiliki keajaiban itu, sebelum mencapai usia balig, sebagai alim besar yang tidak memiliki tandingan, menantang seluruh dunia ilmu. Ia membuat ahli ilmu yang berdebat dengannya tidak dapat membantah serta terdiam. Di mana pun berada, ia menjawab seluruh pertanyaan dengan ketepatan mutlak serta tanpa keraguan sama sekali. Sejak usia empat belas tahun, ia membawa kedudukan ustad, lalu terus menyebarkan limpahan ilmu serta cahaya hikmah di sekelilingnya. Kehalusan serta kedalaman penjelasan, ungkapan yang luhur serta kukuh, firasat dan pandangan mendalam serta cahaya hikmah dalam arah pembahasannya membuat ahli pengetahuan terheran-heran, dan dengan layak membuatnya menerima gelar mulia ‘Bedîüzzaman’. Sosok demikian, yang melalui keistimewaan luhur serta keutamaan ilmunya tampil dalam kesempurnaan penuh demi menyebarkan dan membuktikan agama Muhammad ﷺ, tentu menerima perhatian paling luhur Pemimpin Para Nabi ﷺ, serta perlindungan dan dukungan beliau yang paling tinggi. Tanpa ragu, ia merupakan sosok bersifat mulia, yang berjalan melalui perintah serta sabda Nabi Yang Paling Suci ﷺ, bergerak melalui tindakan beliau, serta menjadi pewaris dan pemantul cahaya serta hakikatnya.

Sinar-Sinar · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Sosok yang memiliki keajaiban itu, sebelum mencapai usia balig, sebagai alim besar yang tidak memiliki tandingan, menantang seluruh dunia ilmu. Ia membuat ahli ilmu yang berdebat dengannya tidak dapat membantah serta terdiam. Di mana pun berada, ia menjawab seluruh pertanyaan dengan ketepatan mutlak serta tanpa keraguan sama sekali. Sejak usia empat belas tahun, ia membawa kedudukan ustad, lalu terus menyebarkan limpahan ilmu serta cahaya hikmah di sekelilingnya. Kehalusan serta kedalaman penjelasan, ungkapan yang luhur serta kukuh, firasat dan pandangan mendalam serta cahaya hikmah dalam arah pembahasannya membuat ahli pengetahuan terheran-heran, dan dengan layak membuatnya menerima gelar mulia ‘Bedîüzzaman’. Sosok demikian, yang melalui keistimewaan luhur serta keutamaan ilmunya tampil dalam kesempurnaan penuh demi menyebarkan dan membuktikan agama Muhammad ﷺ, tentu menerima perhatian paling luhur Pemimpin Para Nabi ﷺ, serta perlindungan dan dukungan beliau yang paling tinggi. Tanpa ragu, ia merupakan sosok bersifat mulia, yang berjalan melalui perintah serta sabda Nabi Yang Paling Suci ﷺ, bergerak melalui tindakan beliau, serta menjadi pewaris dan pemantul cahaya serta hakikatnya.

Melalui petunjuk bahwa ia mencerahkan cahaya Muhammad ﷺ, pengetahuan Ahmad ﷺ, serta limpahan obor Ilahi dengan cara yang paling cemerlang; isyarat-isyarat matematis Al-Qur’an dan hadis berakhir pada dirinya; dan ungkapan matematis ayat-ayat mulia yang menyatakan sapaan Nabi ﷺ terhimpun pada dirinya, tidak terdapat keraguan bahwa dari segi khidmah iman, sosok itu merupakan cermin kerasulan yang cemerlang serta satu buah bercahaya terakhir pohon kerasulan, mulut hakikat terakhir dari lisan kerasulan dari segi pewarisan, serta satu pembawa terakhir obor Ilahi yang penuh kebahagiaan dari segi khidmah iman.

Atas nama murid-murid Nur yang mendengarkan satu pelajaran Madrasah Yusuf Ketiga, yakni El-Hüccetü'z-Zehra serta Zühretü'n-Nur (Bunga Nur),

Ahmed Feyzi, Ahmed Nazif, Salahaddin, Zübeyr, Ceylan, Sungur, Tabancalı

Meskipun mereka memberikan bagianku seratus tingkat melebihi batas diriku, aku tidak berani menyakiti hati para penanda tangan ini. Dengan diam, aku menerima pujian tersebut atas nama pribadi maknawi murid-murid Risale-i Nur.

Bedîüzzaman Said Nursî

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَ ﺍِﻧْﻤِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ ﺍَﺑَﺪًﺍ ﺩَﺍﺋِﻤًﺎ

Kepada Ustad serta Tuan kami yang amat dicintai, amat diberkahi, amat berharga, dan amat penuh kasih!

Wahai Ustad yang terhormat, yang sepenuhnya meninggalkan kehendak bebas dirinya yang terbatas dan menyerahkan seluruh urusan kepada Kehendak Rabb, yang dalam setiap musibah serta kesulitan lahiriah melihat Belas Kasih dan Hikmah Takdir Ilahi, lalu dengan tawakal serta penyerahan diri sempurna menanti hasil Manifestasi Rabb itu dengan sabar! Dalam abad mengerikan yang membuat hati bergetar ini, di sebagian tempat titik sandaran ahli iman mulai runtuh; sebagian sebab serta penerbitan mengambil barisan yang menentang rukun iman; orang-orang yang mengingkari Allah سُبْحَانَهُ berkeliling secara terbuka dengan kebanggaan; menentang Perintah-Perintah Al-Qur’an, tidak beriman kepada kekuatan-kekuatan maknawi, dan memberikan hak menciptakan serta membuat kepada alam yang tidak sadar, buta, serta tuli, dianggap sebagai tanda peradaban, pengetahuan, dan pencerahan. Dengan menulis Risale-i Nur yang merupakan mukjizat maknawi Al-Qur’an, Anda memberikan kepada banyak hati malang yang menderita serta memerlukan air kehidupan iman obat-obat yang berkedudukan sebagai penawar racun, menyampaikan kabar gembira kebahagiaan abadi, dan membuktikan pernyataan-pernyataannya melalui bukti serta hujah yang amat pasti. Anda merupakan pedoman suci serta terhormat kami di jalan agung hakikat, dan menurut rahasia

ﺍَﻟﺴَّﺒَﺐُ ﻛَﺎﻟْﻔَﺎﻋِﻞِ,

Tuan kami yang penuh keutamaan, yang menerima dalam catatan amalnya kebaikan yang sama nilainya dengan kebaikan ratusan ribu murid Nur, yang melalui Risale-i Nur menyelamatkan iman mereka!

Sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ di Penjara Denizli menganugerahkan Risalah Buah yang memberi kesembuhan hingga derajat menghapus kesulitan penjara itu, dan menghilangkan kesulitan-kesulitan Anda yang fana seperti aroma amat manis bunga mawar menjadikan kepedihan durinya tidak berarti, demikian pula Sang Rahîm Dzul-Jamâl Yang Karîm kembali menganugerahkan melalui tangan Anda, Ustad kami yang dicintai, tauhid, tahmid, permohonan pertolongan, serta pembenaran kerasulan Muhammad ﷺ dan hujah-hujah agungnya, yang berkedudukan sebagai obat serta penawar racun, dalam Penjara Afyon ini, tempat satu hari penderitaan jasmani setara dengan kesulitan satu bulan Penjara Denizli. Kami, para murid Anda yang memiliki banyak kekurangan, yang melalui limpahan Risale-i Nur belajar membaca dan menulis, memahami ketiga risalah kecil ini sebagai hujah pasti kebenaran Risale-i Nur sekaligus suatu jenis intisari dari intisarinya, seperti biji pinus yang menyimpan daftar serta program pohon pinus besar di dalamnya.

Kami tidak mampu melukiskan keutamaan tiga risalah kecil ini. Namun, membacanya menjadi sarana rasa lega yang sangat besar dalam ruh kami, mengubah penderitaan jasmani kami menjadi kegembiraan, serta mendatangkan buah-buah tanpa batas dari taman iman. Yang pertama menjelaskan sebelas hujah tauhid yang akan mengusir serta melenyapkan keadaan gelap akibat kekufuran, kesesatan, dan tabiat pada zaman kita. Yang kedua menyajikan tafsir yang manis atas Fatiha-i Şerife, yang memuat hujah-hujah keimanan serta kesucian, dan di dalamnya terdapat sumber, dasar, serta guru bagi semua perbandingan Risale-i Nur. Yang ketiga menjelaskan terjemahan yang sempurna dari bagian mengenai kerasulan Muhammad ﷺ, yang juga terlintas dalam hati Anda yang diberkahi, Üstad kami yang tercinta, di Afyon Medrese-i Yusufiye. Terjemahan itu amat cemerlang serta memberikan ketenteraman penuh.

Kami yang sama sekali tidak layak dalam hal apa pun telah menerima karya-karya Anda yang demikian, yang akan kami usahakan penyebarannya dengan seluruh kekuatan kami. Dengan bersyukur tanpa batas kepada Allah سُبْحَانَهُ, kami berdoa, ‘Yâ Erhame'r-râhimîn! Ridhailah Üstad kami untuk selama-lamanya!’

ﺍَﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ

Atas nama murid-murid Risale-i Nur

Zübeyr, Ceylan, Sungur, İbrahim

MUKADIMAH TERJEMAHAN PELAJARAN BERBAHASA ARAB YANG BERNAMA EL-HUTBETÜ'Ş-ŞÂMİYE

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَ ﺍِﻧْﻤِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ ﺍَﺑَﺪًﺍ ﺩَﺍﺋِﻤًﺎ

Saudara-saudaraku yang mulia dan tulus!

Empat puluh tahun lalu, atas desakan para ulama Damaskus, pelajaran berbahasa Arab ini disampaikan di Camiü'l-Emevî kepada jemaah besar yang hampir berjumlah sepuluh ribu orang, di antaranya seratus ahli ilmu. Dengan firasat sebelum peristiwa terjadi, Said Lama telah merasakan hakikat-hakikat dalam risalah pelajaran ini, menyampaikan kabar gembira dengan kepastian penuh, dan mengira hakikat-hakikat itu akan tampak dalam waktu yang sangat dekat. Namun, dua Perang Dunia serta dua puluh lima tahun penindasan mutlak menyebabkan firasat itu tertunda selama empat puluh tahun. Kini, yang dahulu diberitakan itu mulai tampak persis di dunia Islam. Jadi, pelajaran yang amat penting ini merupakan pelajaran sosial dan keislaman yang benar serta segar, langsung bagi jemaah berjumlah tiga ratus tujuh puluh juta pada tahun 1371, menggantikan tahun 1327, di masjid dunia Islam, menggantikan Camiü'l-Emevî. Ia bukan khotbah lama yang sudah lewat waktunya. Jika kalian memandang layak menerbitkan terjemahannya, terbitkanlah.

Di sini terdapat kesempatan untuk menuliskan jawaban yang amat penting atas sebuah pertanyaan yang sangat penting. Sebab, dalam pelajarannya empat puluh tahun lalu, Said Lama berbicara dengan firasat sebelum peristiwa terjadi seolah telah melihat pelajaran-pelajaran luar biasa Risale-i Nur beserta pengaruhnya. Karena itu, kita akan menuliskan pertanyaan dan jawaban tersebut. Demikianlah:

Banyak orang telah bertanya, dan masih bertanya, kepadaku serta beberapa saudara Nur: ‘Mengapa Risale-i Nur tidak terkalahkan dalam menghadapi begitu banyak penentang, para filsuf yang keras kepala, serta orang-orang yang sesat? Mereka sampai batas tertentu menghalangi tersebarnya jutaan buku keimanan dan keislaman yang berharga serta benar. Dengan perilaku bejat dan kenikmatan hidup duniawi, mereka menjauhkan banyak pemuda serta manusia malang dari hakikat-hakikat iman. Padahal, dengan serangan yang paling keras, perlakuan yang paling kejam, kebohongan yang paling banyak, serta propaganda yang ditujukan kepadanya, mereka berusaha menghancurkan Risale-i Nur, membuat orang takut kepadanya, serta membuat mereka meninggalkannya. Walaupun demikian, dengan cara yang tidak terlihat pada karya lain, Risale-i Nur tersebar, bahkan enam ratus ribu eksemplar risalahnya, yang sebagian besar berupa tulisan tangan, tersebar secara tersembunyi dengan minat yang sangat besar. Orang-orang di dalam serta di luar negeri membacanya dengan minat yang amat besar. Apa hikmah di balik hal ini? Apa sebabnya?’ Terhadap banyak pertanyaan dengan maksud demikian, kita menjawab:

Sebagai tafsir sejati Al-Qur’an Al-Hakîm melalui rahasia sifatnya yang bermukjizat, Risale-i Nur menunjukkan adanya neraka rohani dalam kesesatan di dunia ini. Ia juga membuktikan adanya surga rohani dalam iman di dunia ini. Ia menunjukkan penderitaan rohani yang menyakitkan di dalam dosa, keburukan, serta kenikmatan haram. Ia membuktikan adanya kenikmatan rohani seperti kenikmatan surga di dalam amal baik, sifat-sifat terpuji, serta pengamalan hakikat-hakikat syariat. Dengan cara ini, ia menyelamatkan orang-orang yang masih berakal sehat di antara mereka yang berperilaku bejat serta yang terjatuh ke dalam kesesatan. Sebab, pada zaman ini terdapat dua keadaan yang mengerikan:

Pertama:

Perasaan manusia yang tidak melihat akibat lebih jauh memilih satu dirham kenikmatan saat ini daripada satu batman kenikmatan di masa depan. Karena perasaan itu mengalahkan akal serta pikiran, satu-satunya cara menyelamatkan orang-orang yang berperilaku bejat dari kebejatan itu ialah menunjukkan penderitaan di dalam kenikmatan tersebut, lalu mengalahkan perasaan mereka. Melalui isyarat ayat

ﻳَﺴْﺘَﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺍﻟْﺤَﻴٰﻮﺓَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ,

pada zaman ini orang mengetahui nikmat serta kenikmatan akhirat yang laksana berlian, tetapi memilih pecahan kaca duniawi yang mudah pecah daripada semua itu. Walaupun beriman, karena cinta dunia serta rahasia tersebut, ia mengikuti orang-orang yang sesat. Satu-satunya cara menyelamatkannya dari bahaya ini ialah menunjukkan penderitaan seperti azab neraka yang ada juga di dunia. Risale-i Nur menempuh jalan itu.

Cara memperkenalkan Allah سُبْحَانَهُ kepada manusia, lalu membuktikan adanya neraka serta membuat mereka meninggalkan keburukan dan dosa dengan azabnya, mungkin hanya memberi pelajaran kepada satu dari sepuluh, bahkan mungkin satu dari dua puluh orang di hadapan kerasnya kekufuran mutlak, kesesatan yang datang dari sains, serta kecanduan perilaku bejat pada zaman ini. Setelah mengambil pelajaran, ia pun dapat berkata, ‘Allah سُبْحَانَهُ adalah Sang Ghafûr Yang Rahîm; lagi pula, neraka sangat jauh,’ lalu kembali berperilaku bejat. Hati serta ruhnya dikalahkan oleh perasaannya.

Dengan sebagian besar perbandingannya, Risale-i Nur menunjukkan akibat kekufuran serta kesesatan yang menyakitkan dan menakutkan di dunia. Dengan begitu, bahkan orang-orang yang paling keras kepala serta memuja nafsunya merasa muak terhadap kenikmatan terkutuk yang tidak dibenarkan itu serta perilaku bejat. Ia mendorong mereka yang masih berakal sehat untuk bertobat. Di antara perbandingan-perbandingan itu, perbandingan singkat dalam Kalimat Keenam, Ketujuh, serta Kedelapan, dan perbandingan panjang dalam Bagian Ketiga Kalimat Ketiga Puluh Dua, membuat orang yang paling bejat perilakunya serta berjalan dalam kesesatan pun merasa takut dan menerima pelajarannya.

Misalnya, kita akan menunjukkan dengan sangat singkat keadaan-keadaan yang kulihat sebagai hakikat melalui perjalanan dalam khayal pada Âyet-i Nur. Orang yang menginginkan perinciannya hendaknya melihat bagian akhir Sikke-i Gaybiye.

Di antaranya: Ketika melihat alam hewan yang membutuhkan rezeki dalam perjalanan khayal itu, aku memandangnya melalui filsafat materialis. Kebutuhan tanpa batas serta rasa lapar yang sangat berat, disertai keadaan lemah dan tidak berdaya, membuat alam makhluk hidup tersebut terlihat amat menyedihkan serta menyakitkan bagiku. Karena memandangnya dengan mata orang-orang yang sesat serta lalai, aku berteriak. Tiba-tiba, melalui Hikmah Al-Qur’an serta teropong iman, aku melihat Nama Ar-Rahmân terbit seperti matahari yang cemerlang dalam gugusan Nama Ar-Razzâq. Dengan cahaya Rahmat, Nama itu menyepuh alam makhluk hidup yang lapar serta malang itu.

Kemudian, di dalam alam hewan, aku melihat alam lain dalam keadaan gelap yang menyedihkan, menyakitkan, serta membuat setiap orang tersentuh dan merasa iba. Di situ, anak-anak hewan bergulat dalam keadaan lemah, tidak berdaya, serta membutuhkan. Karena memandang dengan pandangan orang-orang yang sesat, aku berkata, ‘Aduh!’ Tiba-tiba, iman memberiku kacamata. Aku melihat Nama Ar-Rahîm terbit dalam gugusan Belas Kasih. Nama itu mengubah alam yang menyakitkan itu menjadi alam yang penuh kegembiraan serta meneranginya dengan begitu indah dan manis, sehingga air mataku yang timbul dari keluhan, rasa iba, serta kesedihan berubah menjadi tetes-tetes yang timbul dari nikmat kegembiraan serta syukur.

Kemudian, alam manusia tampak bagiku seperti layar bioskop. Aku memandangnya dengan teropong orang-orang yang sesat. Aku melihat alam itu begitu gelap serta mengerikan sehingga menjerit dari lubuk hatiku yang terdalam dan berkata, ‘Aduh!’ Sebab, pada manusia terdapat keinginan serta harapan yang membentang sampai selama-lamanya, gambaran serta pikiran yang meliputi kainat, cita-cita dan kemampuan bawaan yang sungguh-sungguh mendambakan hidup kekal, kebahagiaan abadi, serta surga. Terdapat pula daya-daya bawaan yang dibiarkan bebas tanpa diberi batas, kebutuhan yang mengarah kepada tujuan-tujuan tanpa batas, serta keadaan lemah dan tak berdaya. Bersama semua itu, mereka menghadapi serangan musibah serta musuh yang tidak terhitung. Dengan umur yang sangat singkat, kehidupan yang sangat penuh gejolak di bawah kekhawatiran akan kematian setiap hari dan setiap jam, serta penghidupan yang sangat menyedihkan demi bertahan hidup, mereka terus menanggung bencana lenyap dan berpisah. Keadaan itu merupakan yang paling menyakitkan serta mengerikan bagi hati dan nurani. Dalam keadaan demikian, mereka memandang kubur serta pemakaman yang bagi orang-orang yang lalai terlihat sebagai pintu menuju keadaan gelap abadi. Kulihat mereka dilemparkan ke dalam sumur yang gelap itu, satu demi satu serta kelompok demi kelompok.

Pada saat aku melihat alam manusia dalam keadaan gelap ini, seluruh latifah manusia dalam diriku, bersama hati, ruh, dan akalku, bahkan seluruh zarah tubuhku, siap menjerit serta menangis. Tiba-tiba, nur yang datang dari Al-Qur’an serta kekuatan iman memecahkan kacamata kesesatan itu, lalu memberiku mata untuk melihat. Kulihat:

Nama Allah سُبْحَانَهُ, Al-‘Âdil, terbit dalam gugusan Nama Al-Hakîm; Nama Ar-Rahmân dalam gugusan Nama Al-Karîm; Nama Ar-Rahîm dalam gugusan Nama Al-Ghafûr, yakni dalam maknanya; Nama Al-Bâ‘its dalam gugusan Nama Al-Wârits; Nama Al-Muhyî dalam gugusan Nama Al-Muhsin; dan Nama Ar-Rabb dalam gugusan Nama Al-Mâlik. Semuanya terbit seperti matahari. Seketika, Asma itu menerangi serta menggembirakan keseluruhan alam manusia yang gelap dan memuat begitu banyak alam itu. Asma itu mengusir keadaan-keadaan laksana neraka, membuka jendela-jendela dari alam akhirat yang penuh nur, lalu menebarkan nur ke dunia manusia yang malang. Aku mengucapkan

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ، ﺍَﻟﺸُّﻜْﺮُ ﻟِﻠّٰﻪِ

sebanyak zarah kainat. Aku melihat dengan ainulyaqin, dan mengetahui dengan pasti, bahwa di dunia ini pun terdapat surga rohani dalam iman serta neraka rohani dalam kesesatan.

Kemudian, alam bumi tampak. Dalam perjalanan khayalku itu, hukum-hukum ilmiah yang gelap dari filsafat yang tidak tunduk kepada agama memperlihatkan alam yang mengerikan kepada khayalku. Bumi bergerak tujuh puluh kali lebih cepat daripada peluru meriam, menempuh serta mengitari jarak dua puluh lima ribu tahun dalam satu tahun. Ia setiap saat dapat tercerai-berai serta pecah, bagian dalamnya berguncang oleh gempa, dan ia sudah sangat tua serta lanjut usia. Dalam bumi itu serta di atas kapal yang mengerikan itu, umat manusia yang malang bepergian di dalam ruang kosong kainat yang tidak berujung. Keadaan mereka tampak bagiku dalam keadaan gelap yang amat menakutkan. Kepalaku berputar, pandanganku menjadi gelap. Aku membanting kacamata filsafat ke tanah dan memecahkannya. Tiba-tiba, aku memandang dengan mata yang diterangi Hikmah Al-Qur’an serta iman. Kulihat:

Nama-nama Sang Khâliq bumi dan langit, yaitu Al-Qadîr, Al-‘Alîm, Ar-Rabb, Allah سُبْحَانَهُ, Rabb langit serta bumi, dan Sang Musahhir matahari serta bulan, terbit seperti matahari dalam gugusan Rahmat, Keagungan, serta Rububiyah. Nama-nama itu menerangi alam yang gelap, menakutkan, serta mengerikan tersebut sedemikian rupa sehingga, dalam keadaan itu, dengan mataku yang beriman, aku melihat bumi sebagai kapal perjalanan yang amat teratur, tunduk kepada Perintah, sempurna, menyenangkan, aman, serta memuat perbekalan semua orang. Bumi disiapkan untuk berjalan-jalan, bersenang-senang, dan berdagang. Kulihat ia sebagai kapal, pesawat, serta kereta api yang membawa makhluk-makhluk berjiwa mengelilingi matahari di negeri Rabb, serta membawa hasil musim panas, musim semi, dan musim gugur kepada mereka yang menginginkan rezeki. Aku mengucapkan

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﻧِﻌْﻤَﺔِ الْا۪يمَانِ

sebanyak zarah bumi.

Dengan bertolak dari hal ini, melalui banyak perbandingan dalam Risale-i Nur, telah dibuktikan bahwa orang-orang yang berperilaku bejat serta yang sesat menderita azab di dalam neraka rohani di dunia ini juga. Ahli iman serta orang-orang saleh dapat merasakan kenikmatan surga rohani di dunia ini pula, dengan perut keislaman serta kemanusiaan, dan melalui Tajalli serta Manifestasi iman. Bahkan, mereka dapat memperoleh manfaat sesuai derajat iman mereka.

Namun, arus-arus zaman yang penuh badai ini melumpuhkan rasa, menyebarkan serta menenggelamkan pandangan manusia ke arah luar. Arus-arus itu menimbulkan keadaan seperti mati rasa. Akibatnya, untuk sementara, orang-orang yang sesat tidak sepenuhnya merasakan azab rohani mereka. Kelalaian juga menyelimuti orang-orang yang mendapat hidayah, sehingga mereka tidak sepenuhnya menghargai kenikmatan sejatinya.

Keadaan mengerikan yang kedua pada abad ini:

Dahulu, kekufuran mutlak, kesesatan yang datang dari sains, serta pembangkangan yang datang dari kekufuran keras kepala sangat sedikit dibandingkan dengan zaman ini. Karena itu, pelajaran serta hujah para ulama Islam dahulu yang meneliti kebenaran sepenuhnya mencukupi pada masa mereka. Mereka dapat segera menyingkirkan kekufuran yang bersumber dari keraguan. Karena iman kepada Allah سُبْحَانَهُ tersebar luas, memperkenalkan Allah سُبْحَانَهُ serta mengingatkan azab neraka dapat membuat banyak orang meninggalkan perilaku-perilaku bejat serta kesesatan.

Kini, jika dahulu hanya ada satu orang yang mutlak tidak beriman dalam satu negeri, sekarang dapat ditemukan seratus orang demikian dalam sebuah kota kecil. Dibandingkan dahulu, kini orang yang memasuki kesesatan melalui sains serta ilmu, lalu dengan keras kepala dan pembangkangan menentang hakikat iman, telah bertambah seratus kali. Para pembangkang yang keras kepala ini menentang hakikat-hakikat iman dengan kesombongan setingkat kesombongan Firaun serta kesesatan yang mengerikan. Karena itu, tentu diperlukan suatu hakikat suci yang seperti bom atom akan menghancurkan dasar-dasar mereka di dunia ini, untuk menghentikan serangan mereka serta membawa sebagian dari mereka kepada iman.

Syukur tanpa batas kepada Allah سُبْحَانَهُ: Sebagai penawar yang tepat bagi luka zaman ini, Risale-i Nur merupakan mukjizat rohani serta kilau-kilau Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya. Melalui banyak perbandingan, ia mematahkan para pembangkang keras kepala yang paling mengerikan dengan pedang berlian Al-Qur’an. Ia menunjukkan hujah serta dalil bagi Keesaan Ilahi dan hakikat-hakikat iman sebanyak zarah kainat, sehingga selama dua puluh lima tahun ia tidak terkalahkan menghadapi serangan yang paling keras; ia telah menang serta terus menang.

Ya, melalui perbandingan iman dengan kekufuran serta hidayah dengan kesesatan, Risale-i Nur membuktikan hakikat-hakikat tersebut dengan kesaksian nyata. Misalnya, jika perbandingan-perbandingan lain disandingkan dengan dalil serta kilau dalam kedua Bagian Kalimat Kedua Puluh Dua, Bagian Pertama Kalimat Ketiga Puluh Dua, jendela-jendela Surat Ketiga Puluh Tiga, serta sebelas hujah Asa-yı Musa, lalu diperhatikan, akan dipahami bahwa hakikat Al-Qur’an yang bertajalli dalam Risale-i Nur-lah yang pada zaman ini akan mematahkan serta menghancurkan kerasnya kekufuran mutlak dan kesesatan yang membangkang.

İnşâallah, sebagaimana bagian-bagian yang menyingkap rahasia penting agama serta teka-teki penciptaan alam telah dikumpulkan dalam kumpulan Tılsımlar (Rahasia-Rahasia), demikian pula bagian-bagian Nur yang menunjukkan neraka orang-orang yang sesat bahkan di dunia, serta kenikmatan surga orang-orang yang mendapat hidayah di dunia, akan ditulis dalam bentuk singkat sebagai satu kumpulan kecil. Bagian-bagian itu menunjukkan bahwa iman merupakan benih rohani surga, sedangkan kekufuran merupakan benih pohon zaqqum neraka. Kumpulan itu akan diterbitkan, inşâallah.

Bedîüzzaman Said Nursî

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَ ﺍِﻧْﻤِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪

Saudara-saudaraku yang mulia, tulus, tidak tergoyahkan, teguh, rela berkorban, serta setia!

Kalian mengetahui bahwa para ahli Ankara tidak dapat menyangkal karamah serta isyarat gaib yang berhubungan dengan Risale-i Nur. Hanya saja, mereka keliru mengira aku memiliki bagian dalam karamah-karamah itu. Mereka menyanggah, ‘Hal-hal seperti ini seharusnya tidak ditulis dalam buku; karamah tidak ditampakkan.’ Terhadap kritik ringan itu, dalam pembelaanku aku telah menjawab:

Semua itu bukan milikku, dan memiliki karamah-karamah itu berada di luar kedudukanku. Semua itu merupakan tetesan serta kilau mukjizat rohani Al-Qur’an. Dalam Risale-i Nur, yang merupakan tafsir sejatinya, semua itu mengambil bentuk karamah dan termasuk ikram dari Allah سُبْحَانَهُ untuk menguatkan semangat rohani para muridnya. Menampakkan ikram merupakan syukur, dibolehkan, serta diterima.

Kini, karena suatu sebab penting, aku akan sedikit menjelaskan jawaban itu. Telah diajukan pertanyaan: Mengapa aku menampakkannya, mengapa aku begitu banyak mengerahkan perhatian pada hal ini, dan mengapa sejak beberapa bulan aku melangkah begitu jauh mengenai topik ini, sementara sebagian besar surat membahas karamah tersebut?

Jawaban:

Dalam khidmah keimanan Risale-i Nur pada zaman ini, ketika menghadapi ribuan perusak diperlukan ratusan ribu orang yang memperbaiki. Aku memerlukan setidaknya ratusan penulis serta pembantu bersamaku. Masyarakat serta para pengelola harus membantu dan menjalin hubungan dengan penghargaan serta dorongan, bukan menjauh dan menghindari hubungan. Karena khidmah keimanan itu mengarah kepada kehidupan kekal, ahli iman wajib mengutamakannya daripada kesibukan serta manfaat kehidupan sementara. Dengan mengambil diriku sebagai contoh, aku berkata:

Sambil menghalangiku dari segala sesuatu, hubungan, serta para pembantu, pihak-pihak yang menentang kami memakai seluruh kekuatannya untuk mematahkan semangat rohani sahabat-sahabatku, menjauhkan mereka dariku serta Risale-i Nur, dan membebankan kepadaku tugas yang seharusnya dikerjakan ribuan orang. Padahal, aku tua, sakit, lemah, asing, sendirian, serta malang. Dalam pengucilan serta tekanan ini, aku terpaksa menghindari pertemuan dan pergaulan dengan manusia, seperti suatu penyakit jasmani. Mereka juga menakut-nakuti masyarakat dengan cara yang begitu berpengaruh hingga mematahkan semangat rohani. Karena hal-hal serta sebab-sebab ini, di luar pilihanku, aku dibuat menulis hal-hal seperti ini. Hikmahnya ialah menghadapi semua penghalang itu dengan menerangkan ikram dari Allah سُبْحَانَهُ yang menjadi sarana menguatkan semangat rohani murid-murid Risale-i Nur, mengumpulkan kekuatan rohani di sekitar Risale-i Nur, serta menunjukkan bahwa Risale-i Nur sendiri, tanpa membutuhkan pihak lain, memiliki kekuatan setara satu pasukan.

Adapun menjajakan diri, mencari kekaguman, memuji diri, serta memamerkan diri—hâşâ—berarti merusak rahasia ikhlas, salah satu dasar penting Risale-i Nur. İnşâallah, sebagaimana Risale-i Nur membela dirinya sendiri serta menunjukkan nilainya dengan lengkap, ia juga akan membela kita secara rohani dan menjadi sarana agar kekurangan kita diampuni.

Dengan menyampaikan ribuan salam serta doa kepada semua saudara-saudaraku serta saudari-saudariku, khususnya kepada masing-masing anak yang polos serta diberkahi dan para orang tua yang dihormati, yang doa-doanya diterima, kami mengucapkan selamat atas Ramadan mereka yang mulia serta memohon doa mereka.

Saudara kalian yang sakit

Bedîüzzaman Said Nursî

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ

Saudara kalian yang tak berdaya ini menyatakan kepada sahabat lama yang menyanggah itu, kepada orang-orang yang memperhatikan dengan saksama, serta kepada kalian: Melalui limpahan Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya, Said Baru mengemukakan dalil-dalil mengenai hakikat iman yang begitu kuat menurut logika serta kenyataan, sehingga bukan hanya ulama Muslim, bahkan filsuf Eropa yang paling keras kepala pun terpaksa menerimanya, dan terus demikian.

Adapun isyarat serta petunjuk tersirat Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya, dari lapisan makna isyari yang menarik perhatian kepada Risale-i Nur sebagai mukjizat rohaninya pada zaman ini, merupakan bagian dari sifatnya yang bermukjizat. Hal ini seperti kabar Hazrat Ali (ra) serta Ghauts Yang Agung (ra) mengenai nilai dan pentingnya Risale-i Nur melalui isyarat serta petunjuk tersirat. Hal itu juga merupakan tuntutan balagah yang bermukjizat dari bahasa gaib tersebut.

Ya, pada masa yang mengerikan di Penjara Eskişehir, ketika kita sangat membutuhkan penghiburan suci, melalui suatu peringatan rohani, dikatakan, ‘Engkau mendatangkan saksi dari para wali dahulu mengenai diterimanya Risale-i Nur. Padahal, melalui rahasia

وَلَا ﺭَﻃْﺐٍ وَلَا ﻳَﺎﺑِﺲٍ اِلَّا ﻓ۪ﻰ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍ,

Al-Qur’an-lah yang paling berhak berbicara tentang masalah ini. Apakah Al-Qur’an menerima Risale-i Nur? Dengan pandangan bagaimana ia memandangnya?’ Aku berhadapan dengan pertanyaan yang menakjubkan itu.

Aku pun memohon pertolongan dari Al-Qur’an. Tiba-tiba, dalam satu jam, aku merasakan bahwa di antara lapisan-lapisan yang berupa perincian makna jelas dari tiga puluh tiga ayat, Risale-i Nur merupakan salah satu anggota yang termasuk dalam cakupan umum lapisan makna isyari. Pada masing-masing terdapat petunjuk kuat mengenai termasuknya Risale-i Nur serta hal yang membuatnya istimewa. Sebagiannya kulihat dengan penjelasan hingga suatu derajat, dan sebagiannya secara ringkas. Tidak tersisa keraguan, kebimbangan, dugaan mengganggu, ataupun waswas dalam keyakinanku. Dengan niat menguatkan iman ahli iman melalui Risale-i Nur, aku menulis keyakinan pasti tersebut dan memberikannya kepada saudara-saudaraku yang dekat, dengan syarat dijaga sebagai rahasia.

Dalam risalah itu kita tidak mengatakan, ‘Inilah makna jelas ayat-ayat tersebut,’ sehingga para guru akan mengatakan ﻓ۪ﻴﻪِ ﻧَﻈَﺮٌ. Kita juga tidak mengatakan, ‘Inilah seluruh cakupan makna isyarinya.’

Kita mengatakan bahwa di bawah makna jelas terdapat banyak lapisan. Salah satunya ialah lapisan makna isyari serta tersirat. Makna isyari tersebut juga bersifat universal; pada setiap abad terdapat contoh-contohnya yang juz’i. Pada abad ini, Risale-i Nur merupakan salah satu anggota dalam cakupan lapisan makna isyari itu. Melalui kaidah ilmu jafr serta matematika yang sejak dahulu terdapat di kalangan ulama, telah ditunjukkan petunjuk-petunjuk, bahkan hujah-hujah, bahwa anggota tersebut sengaja menjadi sasaran perhatian dan akan melaksanakan tugas penting. Hal itu sama sekali tidak mengganggu ayat Al-Qur’an ataupun makna jelasnya; sebaliknya, ia berkhidmah kepada sifatnya yang bermukjizat serta balagahnya.

Isyarat gaib semacam ini tidak dapat disanggah. Orang yang tidak dapat menyangkal kesimpulan para ahli hakikat yang tidak terhitung dari isyarat-isyarat Al-Qur’an yang tidak berujung, tidak seharusnya, dan tidak dapat, menyangkal hal ini pula.

Adapun orang yang menyanggah dengan merasa heran serta menganggap tidak masuk akal bahwa karya yang begitu penting muncul melalui seseorang yang tidak berarti sepertiku, jika ia memikirkan bahwa Penciptaan pohon pinus sebesar gunung dari biji pinus sebesar biji gandum merupakan dalil Keagungan serta Kudrat Ilahi, tentu ia terpaksa berkata: Munculnya karya seperti ini pada orang yang memiliki kelemahan mutlak serta fakir mutlak seperti kita, pada masa kebutuhan yang begitu mendesak, merupakan dalil luasnya Rahmat Ilahi.

Dengan kehormatan serta martabat Risale-i Nur, aku meyakinkan kalian dan para penyanggah bahwa isyarat-isyarat ini, kabar yang mengandung petunjuk dari para wali, serta petunjuk-petunjuk tersirat itu selalu mendorongku kepada syukur, pujian, serta istigfar atas kekuranganku. Melalui hasil kehidupanku selama dua puluh tahun ini yang ada di depan mata kalian, aku membuktikan bahwa semua itu tidak pernah, bahkan sesaat pun, memberiku ananiyah serta keakuan yang dapat menjadi sumber kebanggaan dan sikap sombong bagi nafsu ammarahku.

Ya, bersama hakikat ini, manusia tetap tidak bebas dari kekurangan serta lupa. Aku memiliki banyak kekurangan yang tidak kuketahui. Mungkin pikiranku telah bercampur-aduk, dan beberapa kesalahan terjadi dalam risalah-risalah. Namun, dengan kedok menempatkan terjemahan manusia menggantikan huruf-huruf suci Al-Qur’an, orang-orang yang sesat melakukan penafsiran rusak yang mengubah makna, melalui tulisan baru dengan huruf-huruf yang tidak lengkap, dan melukai makna jelas ayat-ayat. Seolah tidak memandang hal itu, mereka menyanggah seseorang yang malang dan teraniaya hingga melemahkan khidmah keimanannya, hanya karena ia menerangkan sebuah butir hikmah mengenai sifat Al-Qur’an yang bermukjizat untuk menguatkan iman saudara-saudaranya. Tentu orang yang memiliki keadilan walau sebesar zarah tidak dapat menyanggah demikian, terlebih lagi para ahli hakikat.

Aku juga menyatakan hal ini sebagai tambahan: Pada zaman ini terdapat corak jalan, jalan, serta tarekat yang sangat kuat dan benar, dengan jutaan orang yang rela berkorban. Walaupun demikian, secara lahiriah mereka mengalami kekalahan di hadapan serangan kesesatan yang mengerikan ini. Seseorang sepertiku, yang hanya sedikit mengenal baca-tulis, sendirian, terus-menerus diawasi, tinggal di depan pos polisi, dihadapkan pada propaganda mengerikan dari berbagai arah serta keadaan yang membuat semua orang menjauh darinya, bukan pemilik Risale-i Nur yang bertahan lebih maju serta lebih kuat daripada jalan-jalan tersebut. Karya itu tidak dapat merupakan hasil kemahirannya, dan ia tidak dapat membanggakannya. Karya itu Dianugerahkan langsung oleh Rahmat Ilahi sebagai suatu mukjizat rohani Al-Qur’an Al-Hakîm pada zaman ini.

Orang tersebut, bersama ribuan sahabatnya, telah meraih hadiah Al-Qur’an itu. Entah bagaimana, tugas sebagai penyampai pertama jatuh kepadanya. Dalil bahwa hal itu bukan karya pikiran, ilmu, serta kecerdasannya ialah adanya bagian-bagian dalam Risale-i Nur berupa risalah yang ditulis dalam enam jam, dua jam, satu jam, bahkan sepuluh menit. Aku meyakinkan dengan sumpah bahwa sekalipun daya ingat Said Lama (ra) {(Catatan kaki kecil): Beberapa penyalin menulis kata (ra) mengenai Said yang malang ini dengan niat berdoa. Aku ingin menghapusnya, tetapi terlintas, ‘Itu doa dengan makna “Semoga Allah سُبْحَانَهُ meridhainya”; jangan mengganggunya.’ Aku pun tidak menghapusnya.} menyertaiku, dengan pikiranku aku tidak dapat mengerjakan pekerjaan sepuluh menit itu dalam sepuluh jam. Dengan kemampuan serta pikiranku, aku tidak dapat mengerjakan risalah satu jam itu dalam dua hari. Risalah yang ditulis dalam enam jam pada satu hari, yaitu Kalimat Ketiga Puluh, tidak dapat kuteliti demikian dalam enam hari, dan para filsuf beragama yang paling teliti pun tidak dapat melakukannya. Demikian seterusnya...

Jadi, walaupun bangkrut, kita telah menjadi pengumum serta pelayan sebuah toko permata yang amat kaya. Semoga Allah سُبْحَانَهُ, dengan Kemurahan serta Kedermawanan⁠-⁠Nya, Menjadikan kita dan semua murid Risale-i Nur tetap teguh serta berhasil dalam khidmah ini dengan tulus serta ikhlas. âmin bihürmeti Seyyidi'l-mürselîn. ﷺ