Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Jika pada timbangan yang amat besar serta sepenuhnya peka hingga dapat menimbang gunung diletakkan dua buah kenari yang setara, lalu satu biji kecil ditambahkan kepada satu kenari, dengan mudah satu sisi timbangan naik ke puncak gunung serta sisi lainnya turun ke lembah dalam. Demikian pula, jika sebagai ganti kedua kenari itu diletakkan dua gunung yang setara pada kedua sisi timbangan, melalui penambahan satu kenari kepada salah satunya, satu gunung diangkat ke langit serta satu gunung diturunkan ke lembah dengan kemudahan yang sama.

Sinar-Sinar · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Jika pada timbangan yang amat besar serta sepenuhnya peka hingga dapat menimbang gunung diletakkan dua buah kenari yang setara, lalu satu biji kecil ditambahkan kepada satu kenari, dengan mudah satu sisi timbangan naik ke puncak gunung serta sisi lainnya turun ke lembah dalam. Demikian pula, jika sebagai ganti kedua kenari itu diletakkan dua gunung yang setara pada kedua sisi timbangan, melalui penambahan satu kenari kepada salah satunya, satu gunung diangkat ke langit serta satu gunung diturunkan ke lembah dengan kemudahan yang sama.

Demikian pula, menurut istilah ilmu kalam, ‘İmkân, müsaviü't-tarafeyn’. Yakni, wujud serta keadaan tidak ada dari hal-hal yang tidak niscaya maupun mustahil, tetapi mungkin serta dapat terjadi, setara jika tidak terdapat sebab; keduanya tidak berbeda. Dalam imkan serta kesetaraan ini, sedikit dan banyak, besar dan kecil adalah satu. Makhluk-makhluk bersifat mungkin, dan dalam lingkup imkan, wujud serta keadaan tidak ada mereka setara. Karena itu, dengan kemudahan memberikan wujud kepada satu hal yang mungkin, Kudrat azali Wâjibul Wujûd yang tanpa batas merusak keseimbangan wujud serta keadaan tidak ada seluruh yang mungkin, lalu mengenakan wujud yang sesuai kepada setiap hal. Jika tugasnya telah selesai, Dia melepaskan pakaian wujud lahiriah, dan secara tampak mengirimnya ke keadaan tidak ada, sebenarnya ke wujud maknawi dalam lingkup Ilmu.

Jadi, jika segala sesuatu diserahkan kepada Sang Qadîr Mutlak, satu musim semi semudah satu bunga, dan penghidupan seluruh manusia pada hari kebangkitan semudah satu jiwa. Jika dinisbatkan kepada sebab-sebab, satu bunga sesulit satu musim semi, dan satu lalat sesulit seluruh hewan.

Melalui rahasia keteraturan, menggerakkan kapal besar atau pesawat dengan menyentuhkan satu jari pada tombolnya semudah serta senyaman menggerakkan jam dengan menyentuhkan jari bersama kunci pada pegasnya.

Demikian pula, melalui prinsip Ilmu azali, hukum Hikmah abadi, serta Manifestasi menyeluruh dan kaidah tertentu Kehendak Rabb, setiap hal, yang menyeluruh maupun juz'i, besar maupun kecil, sedikit maupun banyak, diberikan cetakan maknawi, ukuran khusus, serta batas tersendiri. Karena itu, semuanya berada dalam keteraturan Ilmu yang penuh serta hukum Kehendak. Tentu, melalui Kudrat⁠-⁠Nya tanpa batas, memutar tata surya serta menggerakkan kapal bumi dalam jalur tahunannya bagi Sang Qadîr Mutlak semudah dan selancar menggerakkan darah dalam tubuh, butir-butir merah dan putih dalam darah, serta zarah dalam butir-butir tersebut dengan keteraturan serta Hikmah. Dengan demikian, Dia menciptakan manusia dengan perlengkapan-perlengkapannya yang luar biasa dalam sistem kainat, dari setetes air, sekaligus tanpa kesulitan.

Jadi, jika dinisbatkan kepada Kudrat azali serta tanpa batas itu, penciptaan kainat ini memperoleh kemudahan serta menjadi semudah penciptaan seorang manusia. Jika tidak diserahkan kepada⁠-⁠Nya, menciptakan seorang manusia dengan perlengkapan serta indra lahir dan batinnya yang menakjubkan menjadi sesulit kainat.

Melalui rahasia ketaatan, kepatuhan, serta mendengarkan perintah, sebagaimana panglima melalui satu perintah ‘Maju!’ mengarahkan seorang prajurit untuk menyerang, melalui perintah yang sama ia juga dengan mudah menggerakkan satu pasukan besar yang taat untuk menyerang.

Demikian pula, ciptaan-ciptaan berada dalam ketaatan sempurna kepada hukum Kehendak Ilahi. Seperti prajurit pembawa perintah serta hamba perintah, mereka memiliki kecenderungan dan kerinduan alami kepada isyarat Perintah Penciptaan Rabb, serta berada dalam lingkup prinsip jalan gerak yang ditetapkan Ilmu azali dan Hikmah. Mereka berkedudukan sebagai seribu tingkat lebih taat, mendengarkan perintah, serta menjadi hamba perintah daripada para prajurit. Terutama dari makhluk hidup, kepada satu individu diberikan Perintah Rabb, ‘Marilah keluar dari keadaan tidak ada ke wujud, masuklah ke tugasmu!’ Melalui cara yang ditetapkan Ilmu serta rupa yang dikhususkan Kehendak, Kudrat mengenakan wujud khusus kepadanya, memegang tangannya, serta membawanya ke medan. Dengan kemudahan yang sama, Dia menciptakan pasukan makhluk hidup dalam musim semi melalui Kekuatan serta Kudrat yang sama, lalu memberikan tugas-tugas.

Jadi, jika setiap hal dinisbatkan kepada Kudrat itu, penciptaan seluruh pasukan zarah serta kelompok bintang menjadi semudah dan selancar satu zarah serta satu bintang. Jika dinisbatkan kepada sebab-sebab, menciptakan satu zarah dalam pupil mata serta otak makhluk hidup dengan kemampuan menjalankan tugas-tugas menakjubkannya menjadi sesulit serta seberat pasukan hewan.

TAHAP KETIGA:

ialah

ﻭَﺑِﺴِﺮِّ ﺍِﻣْﺪَﺍﺩِ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪِﻳَّﺔِ ﻭَ ﻳُﺴْﺮِ ﺍﻟْﻮَﺣْﺪَﺓِ ﻭَ ﺗَﺠَﻠِّﻰ الْاَحَدِيَّةِ.

Melalui isyarat-isyarat amat singkat, kita akan memandang maknanya. Yakni, melalui Wahidiyah kekuasaannya serta seluruh rakyat yang bergerak hanya menurut perintahnya, mengatur negeri besar serta bangsa besar bagi seorang raja dan panglima tertinggi semudah mengatur penduduk satu desa. Sebab, melalui Wahidiyah dalam pemerintahan, anggota-anggota bangsa, persis seperti prajurit, menjadi sarana kemudahan, dan perintah serta undang-undang diterapkan dengan mudah. Jika diserahkan kepada penguasa-penguasa berbeda, selain jatuh dalam banyak kekacauan, mengatur satu desa, bahkan satu rumah, menjadi sesulit negeri itu.

Melalui ikatan bangsa yang taat itu dengan satu panglima, setiap individu, seperti prajurit, melalui kekuatan yang bersandar pada kekuatan, gudang perlengkapan, serta pasukan panglima itu, dapat menawan seorang raja dan mengerjakan pekerjaan seribu tingkat melebihi kekuatan pribadinya. Ikatannya dengan raja tersebut menjadi kekuatan serta kemampuan tanpa batas, dan ia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan amat besar. Jika ikatan itu terputus, kekuatan besar itu pergi; ia hanya dapat bertindak sesuai kekuatan kecil pada lengannya sendiri serta sedikit amunisi dan peluru pada pinggangnya. Jika seluruh pekerjaan yang dilakukan prajurit tersebut melalui kekuatan ikatan diminta darinya, pada lengannya harus terdapat kekuatan satu pasukan, dan pada pinggangnya harus terdapat lumbung amunisi raja.

Demikian pula, Sang Sultan Azali serta Abadi, Sang Pembuat Yang Qadîr, melalui Wahidiyah Kerajaan serta Kekuasaan mutlak⁠-⁠Nya, membuat kainat semudah satu kota, musim semi semudah satu kebun, dan menghidupkan seluruh yang mati pada hari kebangkitan semudah menciptakan daun, bunga, serta buah pohon-pohon kebun itu pada musim semi mendatang. Dengan mudah, Dia menciptakan lalat dalam sistem burung elang besar dan menjadikan manusia sebagai kainat kecil. Jika diserahkan kepada sebab-sebab, satu mikroba menjadi sesulit seribu badak, serta satu buah sesulit pohon besar. Bahkan setiap zarah yang menjalankan tugas menakjubkan dalam tubuh makhluk hidup harus diberi mata yang melihat setiap hal serta ilmu yang mengetahui setiap hal, agar dapat menjalankan tugas kehidupan yang halus dan sempurna itu.

Dalam kesatuan, kelancaran serta kemudahan mencapai derajat demikian. Sebagaimana melalui kedatangan perlengkapan satu pasukan dari satu tangan serta satu pabrik, semuanya menjadi semudah perlengkapan militer satu prajurit, jika tangan-tangan berbeda ikut campur dan setiap perlengkapan beraneka ragam diambil dari pabrik lain, pada waktu itu perlengkapan satu prajurit dari segi jumlah hanya dapat disediakan melalui seribu kesulitan. Karena banyak pemimpin serta perwira ikut campur, muncul kesulitan sebesar seribu prajurit. Jika pengaturan serta kepemimpinan seribu prajurit diberikan kepada satu perwira, dari satu segi hal itu semudah satu prajurit. Jika diserahkan kepada sepuluh perwira atau para prajurit, hal itu menjadi amat kacau dan sulit.

Demikian pula, jika setiap hal diserahkan kepada Sang Wâhid lagi Ahad, semuanya semudah satu hal. Jika dinisbatkan kepada sebab-sebab, satu makhluk hidup menjadi sesulit bumi, bahkan mustahil. Jadi, kemudahan dalam kesatuan mencapai derajat niscaya serta harus. Campur tangan banyak tangan menjadikan kesulitan mencapai derajat mustahil.

Sebagaimana dikatakan dalam Mektubat Risale-i Nur, jika perubahan malam dan siang, gerakan bintang, serta perubahan musim seperti gugur, dingin, semi, dan panas dalam tahun diserahkan kepada Satu Pengelola serta Pemberi Perintah, Panglima Tertinggi itu memerintahkan bola bumi, yang merupakan seorang prajurit⁠-⁠Nya, ‘Bangunlah, berputarlah, berkelilinglah!’ Melalui kegembiraan serta kesenangan akan Perhatian dan Perintah itu, seperti derwis Mevlevi yang tenggelam dalam ekstase, melalui kedua gerakannya bumi menjadi sarana yang amat mudah bagi perubahan harian dan tahunan, serta gerakan bintang yang tampak dan dalam khayal. Ia memperlihatkan kelancaran penuh serta kemudahan amat besar dalam kesatuan. Jika hal itu diserahkan kepada sebab-sebab serta keinginan bintang, alih-alih Satu Pemberi Perintah tersebut, dan bumi diberi perintah, ‘Berhentilah; jangan berkeliling!’ pada keadaan itu, keadaan bumi serta langit seperti musim dan malam-siang hanya dapat muncul melalui ribuan bintang serta matahari, yang ribuan tingkat lebih besar daripada bumi, menempuh dan mengelilingi jarak jutaan serta miliaran tahun pada setiap malam dan setiap tahun. Hal ini menjadi begitu sulit serta berat sehingga tidak mungkin dan mustahil.

Ungkapan

ﻭَﺗَﺠَﻠِّﻰ الْاَحَدِيَّةِ

dalam Tahap Ketiga menunjuk hakikat yang amat besar, halus, mendalam, serta luas. Dengan menyerahkan penjelasan dan buktinya kepada Risale-i Nur, melalui perumpamaan amat singkat kita akan menjelaskan satu butir hikmahnya.

Ya, sebagaimana matahari melalui sinarnya menerangi seluruh bumi serta menjadi contoh Wahidiyah, melalui rupa gambaran, pantulan, sinar tujuh warna, serta rupa dirinya, ia terdapat dalam setiap hal bening yang menghadapnya seperti cermin, dan juga menjadi contoh Ahadiyah. Seandainya matahari memiliki ilmu, kekuatan, serta pilihan, dan potongan-potongan kaca serta tetes air dan gelembung yang memperlihatkan matahari kecil memiliki kemampuan, melalui hukum Kehendak Ilahi satu matahari penuh akan terdapat dalam serta di sisi setiap darinya melalui rupa gambaran dan sifat-sifatnya. Kehadirannya di tempat lain tidak akan mengurangi tindakan matahari itu sama sekali; melalui Perintah, Pengaruh, serta Ketentuan Kudrat Rabb, ia akan menjadi sebab kemunculan yang amat besar dan memperlihatkan kemudahan luar biasa dalam Ahadiyah.

Demikian pula, dari segi Wahidiyah, Sang Pembuat Dzul-Jalâl memandang melalui Ilmu, Kehendak, serta Kudrat⁠-⁠Nya yang meliputi seluruh hal; Dia Hadir dan melihat. Dari segi Ahadiyah serta melalui Tajalli⁠-⁠Nya, Dia berada di sisi setiap hal, terutama makhluk hidup, melalui Nama-Nama dan Sifat-Sifat⁠-⁠Nya, sehingga dengan mudah, dalam satu saat, Dia menciptakan lalat dalam sistem elang dan manusia dalam sistem kainat kecil. Dia menciptakan makhluk hidup dengan rupa sedemikian bermukjizat sehingga jika seluruh sebab berkumpul, mereka tidak dapat membuat satu burung bulbul atau lalat. Yang Menciptakan burung bulbul dapat merupakan Yang Menciptakan seluruh burung, dan Yang Menciptakan manusia hanyalah Zat yang menciptakan kainat.

TAHAP KEEMPAT SERTA KELIMA:

ﻭَ ﺑِﺴِﺮِّ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺏِ ﻭَ ﺍﻟﺘَّﺠَﺮُّﺩِ ﻭَ ﻣُﺒَﺎﻳَﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺎﻫِﻴَّﺔِ ﻭَ ﺑِﺴِﺮِّ ﻋَﺪَﻡِ ﺍﻟﺘَّﻘَﻴُّﺪِ ﻭَ ﻋَﺪَﻡِ ﺍﻟﺘَّﺤَﻴُّﺰِ ﻭَ ﻋَﺪَﻡِ ﺍﻟﺘَّﺠَﺰّ۪ﻯ

Karena amat sulit mengungkapkan hakikat kedua tahap ini kepada semua orang, hanya satu-dua butir hikmah yang amat singkat serta makna ringkasnya akan dijelaskan. Yakni, Sang Qadîr Mutlak memiliki Wujud pada derajat niscaya yang paling kuat serta tidak dapat digoyahkan di antara derajat-derajat wujud, pada derajat azali serta abadi. Dia bebas serta terlepas dari materi dan memiliki Hakikat Suci yang berbeda dari seluruh hakikat. Bagi Kudrat⁠-⁠Nya, bintang semudah zarah, kebangkitan seperti satu musim semi, dan menghidupkan seluruh manusia pada hari kebangkitan semudah menghidupkan satu jiwa.

Sebab, satu kuku dari jenis yang kuat di antara lapisan-lapisan wujud dapat mengambil gunung dari lapisan yang lemah dalam tangannya, lalu memutarnya. Misalnya, cermin serta daya ingat dari wujud lahiriah yang kuat mengambil seratus gunung serta seribu kitab dari wujud gambaran dan maknawi yang lemah serta ringan ke dalamnya, dan dapat memutarnya.

Hingga derajat apa wujud gambaran lebih rendah daripada wujud lahiriah dari segi kekuatan, demikian pula wujud segala yang mungkin, yang terjadi kemudian serta tidak berasal dari dirinya sendiri, ribuan tingkat lebih rendah dan ringan daripada Wujud yang azali, abadi, serta niscaya. Wujud suci itu melalui Tajalli sebesar zarah memutar satu alam segala yang mungkin. Sayang, untuk saat ini, tiga sebab penting seperti penyakit beracun tidak mengizinkan lebih jauh, sehingga kita menyerahkan hakikat yang amat panjang ini serta butir-butir hikmahnya kepada Risale-i Nur dan waktu lain.

TAHAP KEENAM:

ﻭَ ﺑِﺴِﺮِّ اِنْقِلَابِ ﺍﻟْﻌَﻮَﺍﺋِﻖِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﻮَﺍﻧِﻊِ ﺍِﻟٰﻰ ﺣُﻜْﻢِ ﺍﻟْﻮَﺳَﺎﺋِﻞِ الْمُسَهِّلَاتِ

Yakni, melalui satu hukum Manifestasi Kehendak Ilahi serta Perintah Penciptaan, yang dalam istilah sains disebut simpul kehidupan, dan melalui Arah Perintah serta Kehendak itu, cabang yang tidak sadar serta ranting keras pohon besar tidak menjadi penghalang, rintangan, atau penyekat bagi zat-zat dan perbekalan yang diperlukan buah, daun, serta bunganya, yang akan datang dari simpul kehidupan itu, yang berkedudukan sebagai pegas dan perut mereka. Sebaliknya, cabang serta ranting menjadi sarana kemudahan bagi semuanya. Demikian pula, dalam penciptaan kainat serta seluruh makhluk, segala penghalang meninggalkan perlawanan terhadap satu Manifestasi Kehendak serta Arah Perintah Rabb, lalu menjadi alat kemudahan. Karena itu, Kudrat abadi menciptakan kainat serta jenis-jenis makhluk di bumi semudah menciptakan pohon tunggal itu; tidak sesuatu pun berat bagi⁠-⁠Nya.

Jika seluruh penciptaan tidak diserahkan kepada Kudrat itu, pada waktu itu membangun serta mengatur pohon tunggal tersebut menjadi sesulit menciptakan dan mengatur seluruh pohon, bahkan bumi, sebab pada waktu itu setiap hal menjadi rintangan dan penyekat. Meskipun seluruh sebab berkumpul, mereka tidak dapat mengirim perbekalan serta perlengkapan yang diperlukan buah, daun, cabang, dan ranting dengan keteraturan dari perut serta pegas simpul kehidupan pohon yang datang dari Perintah dan Kehendak. Kecuali jika kepada setiap bagian pohon, bahkan setiap zarahnya, diberikan mata yang akan melihat seluruh pohon, bagian, serta zarahnya, Ilmu yang meliputi, Kudrat luar biasa, serta bantuan yang amat luar biasa, yang akan mengetahui dan menolong semuanya.

Naikilah kelima tahap ini dan pandanglah. Lihat serta ketahuilah hingga derajat apa kesulitan, bahkan hal-hal yang mustahil, terdapat dalam kekufuran dan syirik; hingga derajat apa ia jauh dari akal serta logika, dan mustahil. Lihat pula hingga derajat apa kelancaran serta kemudahan hingga derajat niscaya, dan kebenaran serta hakikat yang amat masuk akal, diterima, pasti hingga derajat perlu, serta nyaman, terdapat dalam iman dan jalan Al-Qur’an. Katakan

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﻧِﻌْﻤَﺔِ الْا۪يمَانِ.

(Keadaan sakit serta kesulitan menjadi sebab menunda bagian yang tersisa dari tahap penting ini.)

TAHAP KETUJUH:

ﻭَ ﺑِﺴِﺮِّ ﺍَﻥَّ ﺍﻟﺬَّﺭَّﺓَ ﻭَ ﺍﻟْﺠُﺰْﺀَ ﻭَ ﺍﻟْﺠُﺰْﺋِﻰَّ ﻭَ ﺍﻟﻨُّﻮَﺍﺓَ ﻭَ الْاِنْسَانَ ﻟَﻴْﺴَﺖْ ﺑِﺎَﻗَﻞَّ ﺻَﻨْﻌَﺔً ﻭَ ﺟَﺰَﺍﻟَﺔً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺠْﻢِ ﻭَ ﺍﻟْﻜُﻞِّ ﻭَ ﺍﻟْﻜُﻠِّﻰِّ ﻭَ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮِ ﻭَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢِ

Suatu Peringatan:

Dasar, tambang, serta matahari hakikat kesembilan tahap ini ialah ayat-ayat

ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﺣَﺪٌ ٭ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟﺼَّﻤَﺪُ

dari Surah Al-Ikhlas. Semuanya merupakan isyarat singkat kepada kilau yang datang dari rahasia Ahadiyah serta Manifestasi Shamadiyah.

Kita akan memandang makna tahap ketujuh ini dengan amat ringkas melalui satu-dua butir hikmah, lalu menyerahkan perinciannya kepada Risale-i Nur. Yakni, satu zarah yang menjalankan tugas-tugas menakjubkan dalam mata serta otak, dibandingkan bintang; satu bagian dibandingkan keseluruhan seutuhnya, misalnya otak serta mata dibandingkan manusia seutuhnya; dan satu individu juz'i, dari segi keindahan seni serta keunikan penciptaan, dibandingkan seluruh jenis; manusia dengan perlengkapan menakjubkannya dibandingkan jenis hewan yang menyeluruh; biji yang berkedudukan sebagai daftar, program, serta daya ingat, dari segi kesempurnaan ciptaan dan penyimpanan, dibandingkan pohon besarnya; serta manusia yang merupakan kainat kecil, dari segi kesempurnaan penciptaan dan perlengkapannya yang menyeluruh dan luar biasa, yang diciptakan dengan cara menjalankan ribuan tugas menakjubkan, dibandingkan kainat, semuanya tidak lebih rendah.

Jadi, Yang Menciptakan zarah tidak mungkin tak berdaya dalam menciptakan bintang. Yang Menciptakan anggota tubuh seperti lidah tentu dengan mudah menciptakan manusia. Yang Menciptakan seorang manusia dengan sempurna demikian pasti dapat menciptakan seluruh hewan dengan kemudahan sempurna, dan menciptakannya di depan mata kita. Yang Menciptakan biji sebagai daftar, katalog, buku hukum-hukum Perintah, serta simpul kehidupan tentu dapat merupakan Sang Khâliq seluruh pohon. Zat yang menciptakan manusia, yang merupakan suatu jenis biji maknawi serta buah menyeluruh alam, dan menjadikannya penerima serta cermin seluruh Asma Ilahi, berkaitan dengan seluruh kainat, serta khalifah bumi, tentu, tentu, memiliki Kudrat demikian sehingga menciptakan serta menyusun kainat besar semudah dan selancar menciptakan manusia.

Karena itu, siapa pun Sang Khâliq, Pembuat, serta Rabb zarah, bagian, juz'i, biji, dan manusia, tentu dengan jelas Dialah juga Sang Khâliq, Pembuat, serta Rabb bintang, jenis, keseluruhan, hal-hal yang menyeluruh, pohon, dan seluruh kainat. Yang lain mustahil serta tidak mungkin.

TAHAP KEDELAPAN:

ﻭَﺑِﺴِﺮِّ ﺍَﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﻁَ ﻭَ ﺍﻟْﺠُﺰْﺋِﻴَّﺎﺕِ كَالْاَمْثِلَةِ ﺍﻟْﻤَﻜْﺘُﻮﺑَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺼَﻐَّﺮَﺓِ ﺍَﻭْ ﻛَﺎﻟﻨُّﻘَﻂِ ﺍﻟْﻤَﺤْﻠُﻮﺑَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻌَﺼَّﺮَﺓِ فَلَا ﺑُﺪَّ ﺍَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟْﻤُﺤ۪ﻴﻂُ ﻭَ ﺍﻟْﻜُﻠِّﻴَّﺎﺕُ ﻓ۪ﻰ ﻗَﺒْﻀَﺔِ ﺧَﺎﻟِﻖِ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﻁِ ﻭَ ﺍﻟْﺠُﺰْﺋِﻴَّﺎﺕِ ﻟِﻴُﺪْﺭِﺝَ ﻣِﺜَﺎﻟَﻬَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺑِﻤَﻮَﺍﺯ۪ﻳﻦِ ﻋِﻠْﻤِﻪ۪ ﺍَﻭْ ﻳُﻌَﺼِّﺮَﻫَﺎ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺑِﺪَﺳَﺎﺗ۪ﻴﺮِ ﺣِﻜْﻤَﺘِﻪ۪

Yakni, hubungan hal-hal juz'i yang dilingkupi, serta individu, benih, dan biji yang terdapat dalam keseluruhan dan hal-hal yang menyeluruh, dengan keseluruhan-keseluruhan besar yang melingkupi, seakan-akan berupa contoh mungil, salinan, serta gambaran keseluruhan dan hal-hal menyeluruh yang sama, yang ditulis pada bidang amat kecil melalui tulisan yang amat halus. Karena itu, hal-hal menyeluruh yang melingkupi harus berada dalam Genggaman serta sepenuhnya dalam Pengelolaan Sang Khâliq hal-hal juz'i tersebut, agar melalui keseimbangan Ilmu⁠-⁠Nya serta Pena-Pena halus⁠-⁠Nya, Dia dapat memasukkan kitab lingkungan besar itu dalam ratusan bidang serta buku catatan yang amat kecil.

Hubungan serta gambaran bagian-bagian dan hal-hal juz'i yang dilingkupi dengan yang melingkupi juga seakan-akan berupa tetes-tetes yang diperah dari lingkungan seperti susu, atau seseorang memeras lingkungan tersebut dan titik-titik itu mengalir darinya. Misalnya, biji melon merupakan tetes yang diperah dari seluruh sekelilingnya, atau titik yang di dalamnya kitab itu ditulis sepenuhnya, yang membawa daftar, katalog, serta programnya.

Karena demikian, tentu keseluruhan serta hal-hal menyeluruh yang melingkupi harus berada dalam Tangan Sang Pembuat hal-hal juz'i, tetes, titik, serta individu itu, agar melalui Prinsip Hikmah⁠-⁠Nya yang peka, Dia dapat memerah individu, tetes, serta titik tersebut darinya.

Jadi, tentu Yang Menciptakan satu benih serta individu juga Dialah Yang Menciptakan keseluruhan serta hal-hal menyeluruh yang besar itu, dan jenis serta keseluruhan lain yang melingkupinya dan jauh lebih besar darinya; tidak dapat berupa Yang lain. Karena itu, Yang Menciptakan satu jiwa dapat menciptakan seluruh manusia. Yang Menghidupkan satu orang mati dapat menghidupkan seluruh jin serta manusia yang mati pada hari kebangkitan, dan akan melakukannya.

Lihatlah bahwa ketentuan serta pernyataan ayat

ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ

dengan amat pasti dan terang benar serta merupakan hakikat itu sendiri.

TAHAP KESEMBILAN:

ﻭَ ﺑِﺴِﺮِّ ﻛَﻤَﺎ ﺍَﻥَّ ﻗُﺮْﺍٰﻥَ ﺍﻟْﻌِﺰَّﺓِ ﺍﻟْﻤَﻜْﺘُﻮﺏَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺬَّﺭَّﺓِ ﺍﻟْﻤُﺴَﻤَّﺎﺓِ ﺑِﺎﻟْﺠَﻮْﻫَﺮِ ﺍﻟْﻔَﺮْﺩِ ﺑِﺬَﺭَّﺍﺕِ الْاَث۪يرِ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺎَﻗَﻞَّ ﺟَﺰَﺍﻟَﺔً ﻭَ ﺧَﺎﺭِﻗِﻴَّﺔَ ﺻَﻨْﻌَﺔٍ ﻣِﻦْ ﻗُﺮْﺍٰﻥِ ﺍﻟْﻌَﻈَﻤَﺔِ ﺍﻟْﻤَﻜْﺘُﻮﺏِ ﻋَﻠٰﻰ ﺻَﺤ۪ﻴﻔَﺔِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﺑِﻤِﺪَﺍﺩِ ﺍﻟﻨُّﺠُﻮﻡِ ﻭَ ﺍﻟﺸُّﻤُﻮﺱِ ﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﺍِﻥَّ ﻭَﺭْﺩَ ﺍﻟﺰُّﻫْﺮَﺓِ ﻟَﻴْﺴَﺖْ ﺑِﺎَﻗَﻞَّ ﺟَﺰَﺍﻟَﺔً ﻭَ ﺻَﻨْﻌَﺔً ﻣِﻦْ ﺩُﺭِّﻯِّ ﻧَﺠْﻢِ ﺍﻟﺰُّﻫْﺮَﺓِ ﻭَ لَا ﺍﻟﻨَّﻤْﻠَﺔُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔ۪ﻴﻠَﺔِ ﻭَ لَا ﺍﻟْﻤِﻜْﺮُﻭﺏُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜَﺮْﻛَﺪَﺍﻥِ ﻭَ لَا ﺍﻟﻨَّﺤْﻠَﺔُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺨْﻠَﺔِ ﺑِﺎﻟﻨِّﺴْﺒَﺔِ ﺍِﻟٰﻰ ﻗُﺪْﺭَﺓِ ﺧَﺎﻟِﻖِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻓَﻜَﻤَﺎ ﺍَﻥَّ ﻏَﺎﻳَﺔَ ﻛَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟﺴُّﺮْﻋَﺔِ ﻭَ ﺍﻟﺴُّﻬُﻮﻟَﺔِ ﻓ۪ﻰ ﺍ۪ﻳﺠَﺎﺩِ الْاَشْيَاءِ ﺍَﻭْﻗَﻌَﺖْ ﺍَﻫْﻞَ الضَّلَالَةِ ﻓ۪ﻰ ﺍِﻟْﺘِﺒَﺎﺱِ ﺍﻟﺘَّﺸْﻜ۪ﻴﻞِ ﺑِﺎﻟﺘَّﺸَﻜُّﻞِ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻠْﺰِﻡِ لِمُحَالَاتٍ ﻏَﻴْﺮِ ﻣَﺤْﺪُﻭﺩَﺓٍ ﺗَﻤُﺠُّﻬَﺎ الْاَوْهَامُ ﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﺍَﺛْﺒَﺘَﺖْ لِاَهْلِ ﺍﻟْﻬِﺪَﺍﻳَﺔِ ﺗَﺴَﺎﻭِﻯَ ﺍﻟﻨُّﺠُﻮﻡِ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺬَّﺭَّﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨِّﺴْﺒَﺔِ ﺍِﻟٰﻰ ﻗُﺪْﺭَﺓِ ﺧَﺎﻟِﻖِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﺟَﻞَّ جَلَالُهُ ﻭَ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ

Aku ingin menyampaikan makna tahap terakhir ini melalui penjelasan panjang. Namun, sayang, kesulitan berat yang datang dari kekuasaan sewenang-wenang serta tekanan, dan kelemahan serta penyakit pedih yang datang dari keracunan menghalanginya, sehingga aku terpaksa mencukupkan hanya isyarat amat singkat mengenai maknanya.

Yakni, andaikan pada satu zarah yang tidak dapat dibagi dan dalam ilmu kalam serta filsafat diberi nama jauhar fard, ditulis Al-Qur’an Yang Amat Agung melalui zarah-zarah materi eter yang lebih kecil darinya, dan pada lembaran langit juga ditulis Al-Qur’an Agung lainnya melalui bintang serta matahari, lalu keduanya dibandingkan, tentu Al-Qur’an mikroskopis yang ditulis pada zarah jauhar fard itu tidak tertinggal, bahkan dari satu segi lebih maju, dari segi keajaiban serta sifat bermukjizat seni, dibandingkan Al-Qur’an Yang Agung dan Besar yang menghiasi permukaan langit. Demikian pula, bagi Kudrat Sang Khâliq kainat, dari segi keunikan serta keagungan ciptaan, bunga (zühre) tidak tertinggal dari bintang Zühre (Venus); semut tidak lebih rendah daripada gajah; mikroba lebih menakjubkan daripada badak dari segi penciptaan; dan lebah melalui fitrahnya yang menakjubkan lebih maju daripada pohon kurma.

Jadi, Yang Menciptakan lebah dapat menciptakan seluruh hewan. Yang Menghidupkan satu jiwa dapat menghidupkan seluruh manusia pada hari kebangkitan serta mengumpulkannya di medan kebangkitan, dan akan melakukannya. Tidak sesuatu pun berat bagi⁠-⁠Nya; di depan mata kita, Dia menciptakan seratus ribu contoh kebangkitan pada setiap musim semi dengan amat cepat serta mudah.

Makna amat singkat kalimat Arab terakhir ialah: Karena orang-orang sesat tidak mengetahui hakikat-hakikat yang tidak dapat digoyahkan dalam tahap-tahap tersebut, dan makhluk-makhluk terwujud sekaligus dengan amat cepat serta mudah, mereka mengira bahwa makhluk yang dibentuk serta diciptakan melalui Kudrat tanpa batas Sang Pembuat itu terbentuk dan muncul sendiri. Dengan begitu, mereka membuka bagi diri sendiri pintu takhayul yang tidak diterima pikiran mana pun, bahkan khayalan sekalipun, dan mustahil serta tidak mungkin dari setiap segi.

Misalnya, pada keadaan itu setiap zarah makhluk hidup harus diberikan kudrat tanpa batas, ilmu, mata yang melihat setiap hal, serta kemampuan mengerjakan setiap seni. Dengan tidak menerima Allah سُبْحَانَهُ Yang Esa, berdasarkan aliran mereka, mereka terpaksa menerima ilah-ilah sebanyak zarah, lalu layak masuk ke tingkatan paling rendah neraka.

Adapun orang-orang yang menerima hidayah, hakikat-hakikat kuat serta hujah-hujah yang tidak dapat digoyahkan dalam tahap-tahap sebelumnya memberikan keyakinan amat pasti, iman kuat, serta pembenaran ainulyaqin kepada hati mereka yang sehat dan akal yang lurus. Melalui ketenteraman hati tanpa ragu serta bisikan, mereka meyakini bahwa bintang, zarah, yang paling kecil, dan yang paling besar tidak berbeda bagi Kudrat Ilahi; karena itulah keajaiban-keajaiban ini terjadi di depan mata kita. Setiap keajaiban seni membenarkan pernyataan ayat

ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ

serta bersaksi bahwa ketentuannya benar dan merupakan hakikat itu sendiri, lalu melalui bahasa keadaan berkata Allahu ekber. Kita juga berkata Allahu ekber sebanyak jumlah mereka. Melalui seluruh kekuatan serta keyakinan, kita membenarkan pernyataan ayat tersebut, dan melalui hujah tanpa batas bersaksi bahwa ketentuannya merupakan kebenaran itu sendiri serta hakikat sejati.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺍَﺭْﺳَﻠْﺘَﻪُ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ

Sebuah Ulasan Pengantar Mengenai ‘Apakah Risale-i Nur, serta Bagaimanakah Hakikat Risale-i Nur dan Penyampainya di Hadapan Hakikat-Hakikat?’

Para pemberi khidmah agama yang luhur, yang kedatangannya pada awal setiap abad diberi kabar gembira dalam hadis, dalam urusan agama merupakan pengikut, tidak memulai ajaran baru. Yakni, mereka tidak menciptakan sesuatu dari diri sendiri serta dari awal, dan tidak membawa hukum-hukum baru. Melalui mengikuti dasar serta hukum agama dan sunah Muhammad ﷺ secara harfiah, mereka meluruskan serta menguatkan agama, memperlihatkan hakikat serta keasliannya, menghapus dan membatalkan kebatilan yang hendak dicampurkan ke dalamnya, menolak serta memusnahkan serangan terhadap agama, menegakkan Perintah-Perintah Rabb, serta memperlihatkan dan mengumumkan kemuliaan serta luhurnya Hukum-Hukum Ilahi. Hanya tanpa merusak cara dasar atau melukai ruh asli, mereka menjalankan tugas melalui cara penjelasan baru, metode meyakinkan baru yang sesuai pemahaman zaman, serta arah pembahasan dan perincian baru.

Para petugas Rabb ini melalui tindakan serta amal juga menjadi pembenar tugas mereka. Mereka sendiri mencerminkan keteguhan iman serta ikhlas mereka, dan secara nyata memperlihatkan derajat iman. Mereka memperlihatkan bahwa mereka sepenuhnya menjalankan akhlak Muhammad ﷺ serta benar-benar mengenakan perilaku Ahmad ﷺ dan keindahan sifat Nabi ﷺ.

Ringkasnya,

dari segi amal serta akhlak, dan mengikuti serta berpegang kepada sunah Nabi ﷺ, mereka menjadi contoh yang sepenuhnya baik bagi umat Muhammad ﷺ, serta teladan untuk diikuti.

Karya-karya yang mereka tulis untuk menafsirkan Kitab Allah سُبْحَانَهُ, menjelaskan hukum agama, serta mengarahkan pembahasan menurut pemahaman dan derajat ilmu zaman bukan hasil dari diri serta bakat luhur mereka sendiri, bukan pula hasil kecerdasan dan pengetahuan mereka. Karya-karya itu merupakan ilham serta pengajaran maknawi secara langsung dari Sosok Suci Rasul ﷺ, yang merupakan sumber wahyu. Celcelutiye, Mesnevî-i Şerif (Mesnevî yang Mulia), Fütuhu'l-Gayb (Terbukanya Perkara Gaib), serta karya-karya serupa semuanya termasuk jenis ini. Terhadap karya-karya suci tersebut, pribadi-pribadi yang mulia itu hanya berkedudukan sebagai penyampai. Mereka memiliki bagian dalam penyusunan serta cara pengungkapannya; yakni, pribadi-pribadi suci tersebut berkedudukan sebagai penerima, cermin, serta pemantul makna itu.

Mengenai Risale-i Nur serta Penyampainya:

Karena dalam karya yang mulia ini terdapat limpahan luhur serta kesempurnaan tanpa akhir yang hingga kini belum memiliki tandingan, dan karena terlihat bahwa ia mewarisi limpahan Al-Qur’an yang mulia dengan cara yang tidak dicapai karya mana pun, sedangkan Al-Qur’an merupakan obor Ilahi, matahari hidayah, serta cahaya kebahagiaan, menjadi hakikat sejelas matahari bahwa dasarnya ialah cahaya murni Al-Qur’an; ia membawa limpahan cahaya Muhammad ﷺ melebihi karya-karya para wali Allah سُبْحَانَهُ; dan bagian, hubungan, serta pengelolaan suci Sosok Suci Rasul ﷺ di dalamnya melebihi dalam karya-karya para wali Allah سُبْحَانَهُ. Kedudukan sebagai penerima serta kesempurnaan sosok maknawi yang menjadi penerima dan penyampainya pun luhur serta tanpa tandingan sesuai perbandingan itu.

Ya, ketika masih kanak-kanak, tanpa melakukan pendidikan apa pun, dalam masa pendidikan tiga bulan hanya demi memenuhi bentuk lahiriah, sosok itu telah dijadikan pewaris ilmu orang-orang terdahulu serta kemudian, ilmu laduni, hakikat segala sesuatu, rahasia kainat, serta Hikmah Ilahi. Hingga kini, tidak seorang pun mencapai kedudukan sebagai penerima yang seluhur itu. Keajaiban ilmu ini sama sekali tidak memiliki contoh sebelumnya. Tidak dapat diragukan bahwa Penyampai Nur melalui keadaan ini, serta keteguhan akhlaknya yang luar biasa yang seluruhnya merupakan kesucian diri yang berwujud jasmani, keberanian luar biasa, dan sama sekali tidak bergantung kepada manusia, sendiri merupakan mukjizat fitrah, inayah yang berwujud jasmani, serta anugerah mutlak.