AYAT KEDUA PULUH ENAM
Sinar-Sinar · hlm. 741
Ia adalah ayat وَاَمَّا الَّذ۪ينَ سُعِدُوا فَفِى الْجَنَّةِ di dalam Surah Hud, yang datang dua baris setelah ayat فَمِنْهُمْ شَقِىٌّ وَ سَع۪يدٌ. Karena "mim" yang bertasydid, "lam" yang bertasydid, dan "nun" yang bertasydid pada ayat ini dihitung dua-dua, dan karena ة pada اَلْجَنَّةِ berada pada tempat waqaf sehingga menjadi ه, maka kedudukan jifirnya seribu tiga ratus lima puluh dua (1352); sehingga dengan tawafuk yang tepat sekali kepada tarikh seribu tiga ratus lima puluh dua, yaitu masa ketika murid-murid Risale-i Nur paling putus asa dan paling banyak ditimpa musibah, ia menjadi sebuah penghiburan dan sebuah kabar gembira yang suci lagi samawi di dalam keadaan mereka yang menyayat hati itu. Adapun kaitan maknawi ayat ini telah diterangkan di dalam satu dua risalah, yakni di dalam Keramat-ı Aleviye dan Gavsiye. Kata سُعِدُوا pada وَاَمَّا الَّذ۪ينَ سُعِدُوا datang persis sejajar dan berhadapan di halaman Al-Qur'an dengan kata سَع۪يدٌ pada فَمِنْهُمْ شَقِىٌّ وَ سَع۪يدٌ; hal itu menambahkan satu kehalusan lagi kepada tawafuk ini. Dengan mengisyaratkan melalui tawafuk yang tepat sekali bahwa di antara satuan-satuan makna suci ayat ini yang menyeluruh lagi amat luas terdapat sebuah satuan yang sangat membutuhkan penghiburan seperti murid-murid Risale-i Nur, yang berada pada abad ini, pada tahun seribu tiga ratus lima puluh dua, ia pun meletakkan jarinya di atas kepalanya.
Jika pada kata فَفِى الْجَنَّةِ tidak diwaqafkan, melainkan dihubungkan dengan kata خَالِد۪ينَ, maka pada waktu itu ة tidak menjadi ه. Namun tawafuknya menjadi lebih halus lagi lebih menghibur. Sebab, menurut kaidah nahwu, وَاَمَّا الَّذ۪ينَ سُعِدُوا adalah mubtada, sedangkan فَفِى الْجَنَّةِ خَالِد۪ينَ adalah khabarnya. Adapun khabar ini, dengan bilangan kedudukan jifirnya yang seribu tiga ratus empat puluh sembilan (1349), mengabarkan secara ramzi dengan penuh kabar gembira dari tarikh seribu tiga ratus empat puluh sembilan. Dan dengan makna isyarinya serta dengan tawafuk jifir, ia mengabarkan bahwa segolongan dari para khadim Al-Qur'an yang ada pada tarikh itu adalah ahli surga dan orang-orang yang berbahagia. Dan pada tarikh ini
tampaklah khidmah murid-murid Risale-i Nur yang luar biasa atas nama Al-Qur'an, terpancarnya cahaya mereka, penulisan risalah-risalah yang sangat penting, serta disiapkannya musibah yang kini menimpa mereka oleh pihak musuh-musuhnya; maka sudah pasti hal itu memperlihatkan bahwa kabar gembira Qur'ani yang menghibur lagi bersifat isyari, yang tertuju kepada tarikh ini, pertama-tama memandang kepada mereka.
Benar, pada فَفِى الْجَنَّةِ خَالِد۪ينَ, dengan memandang bahwa "nun" yang bertasydid dihitung satu "nun": ت empat ratus, خ enam ratus, jadi seribu. Dua ن seratus; satu ى, dua ف, satu ل dua ratus; ل yang lain tiga puluh, ى yang kedua sepuluh, dua alif dua, satu ج tiga, satu د empat, jadi empat puluh sembilan; sehingga jumlah seluruhnya seribu tiga ratus empat puluh sembilan (1349).
Bersentuhannya satu segi dari seribu segi kabar gembira Qur'ani ini dengan kami lebih berharga daripada seribu perbendaharaan. Salah satu pembawa kabar gembira ini adalah sebuah mimpi yang benar yang dilihat satu tahun sebelumnya. Yaitu demikian: Satu bulan sebelum peristiwa yang menimpa kami di Isparta ini, kepada seseorang di dalam mimpi dikatakan: