Risale-i NurSinar-Sinar

AYAT KEDUA PULUH LIMA

Sinar-Sinar · hlm. 740

Ia adalah ayat suci حٰمٓ ٭ تَنْز۪يلٌ مِنَ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ. Makna isyari ayat ini sangat kuat kaitannya dengan Risale-i Nur. Salah satu seginya ialah bahwa jalan yang ditempuh Risale-i Nur dan murid-muridnya berjalan di atas empat asas.

Yang pertama adalah tafakur; ia memandang kepada nama Al-Hakîm.

Salah satunya lagi adalah kasih sayang, yaitu merasakan diri yang fakir tanpa batas; dan itu memandang kepada nama Ar-Rahmân dan Ar-Rahîm.

Dan sebagaimana ayat ini meletakkan jari dengan tawafuk kepada tarikh penulisan dan penyempurnaan Risale-i Nur, demikian pula dengan kalimat تَنْز۪يلٌ — karena bukan tempat waqaf, tanwin dihitung sebagai "nun" — kedudukannya menjadi lima ratus empat puluh tujuh (547), lalu ia bertawafuk dengan lima ratus empat puluh delapan atau empat puluh sembilan (548-549) yang merupakan bilangan Resaili'n-Nur dan Risale-i Nur, yaitu nama kedua dan ketiga dari Sözler, dari sisi "nun" yang bertasydid dihitung satu "nun", dengan satu atau dua perbedaan yang sangat kecil lagi penuh rahasia; lalu secara ramzi ia memandang kepadanya dan mengambilnya ke dalam lingkarannya.

Lagi pula, kedudukan jifir حٰمٓ ٭ تَنْز۪يلٌ مِنَ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ, menurut satu segi — yakni jika tanwin dihitung "nun", jika "lam" asli pada dua "ra" yang bertasydid turut dihitung, dan jika حٰمٓ menjadi حَام۪يمْ sebagaimana dalam pelafalan — berjumlah seribu tiga ratus lima puluh empat atau lima (1354-1355). Adapun menurut segi yang lain, yakni jika tanwin tidak dihitung, ia berjumlah seribu tiga ratus empat (1304). Menurut segi ketiga, yakni jika dua "lam" yang tidak ada dalam pelafalan tidak masuk hitungan, ia berjumlah seribu dua ratus sembilan puluh empat (1294).

Adapun pada segi pertama, tawafuknya yang tepat sekali dengan tarikh seribu tiga ratus lima puluh lima dan lima puluh empat menurut penanggalan Arab — yaitu tarikh ketika Risale-i Nur semakin sempurna dari sisi penulisannya, menjadi luar biasa penting, diterpa badai, dan murid-muridnya sangat membutuhkan sebuah penghiburan yang suci — dan juga dengan masa penulisan Surat Ketiga Puluh Satu yang terdiri atas tiga puluh satu Lem'a, dengan waktu munculnya Lem'a Ketiga Puluh Satu dari surat itu, dengan penulisan Sinar Pertama dari Lem'a itu, dengan saat ketika isyarat tiga puluh tiga ayat kepada Risale-i Nur digali di dalam dua puluh sembilan maqam Sinar itu, dan dengan waktu ini, dengan detik ini, dengan keadaan ini ketika isyarat-isyarat halus ayat kedua puluh lima kepada Risale-i Nur sedang dituliskan — sungguh layak bagi i'jaz maknawi Al-Qur'an. Ia adalah sebuah tawafuk yang sangat halus lagi penuh kabar gembira.

Pada segi kedua, yakni dengan kedudukan seribu tiga ratus empat (1304), ia meletakkan jarinya dengan tawafuk yang tepat sekali pada masa ketika penerjemah Risale-i Nur mulai membaca basmalah bagi ilmu-ilmu permulaan yang menjadi anak tangga Risale-i Nur, ketika ia mengucapkan basmalahnya di dalam futuhat Nuriyah, dan ketika ia membaca "Bismillahirrahmanirrahim" pada pembukaan hidup keilmuannya; ia menepuk punggungnya lalu berkata secara ramzi: "Ayo pergilah, bekerjalah dengan selamat!"

Pada segi ketiga, yakni dengan kedudukan jifirnya yang berjumlah seribu dua ratus sembilan puluh tiga atau empat (1293-1294), ia memberi isyarat halus kepada basmalah kehidupan dunia penerjemah itu, kepada

permulaannya, dengan rahasia tawafuk yang tepat sekali, bahwa hidupnya — sekalipun akan melihat dan menanggung guncangan serta badai yang sangat dahsyat — senantiasa akan dijaga dengan rahmat dan dididik dengan kasih sayang sebagai tempat tampaknya nama Ar-Rahmân dan Ar-Rahîm; demikianlah ia mengabarkannya secara ramzi dengan penuh limpahan nikmat. Dengan cara ini ia memperlihatkan sebuah sinar dari jenis kabar gaib yang berasal dari i'jaz maknawi Al-Qur'an.