Poin Kelima
Sinar-Sinar · hlm. 737
Dalil bahwa hitungan abjad ini merupakan kaidah ilmiah yang diterima lagi menyeluruh serta sebuah kanun sastra sangatlah banyak. Di sini kami hanya akan menerangkan empat lima di antaranya sebagai contoh:
Yang pertama: Suatu ketika, sebagian ulama Bani Israil, tatkala mendengar huruf-huruf muqatha'ah pada awal surah seperti الٓمٓ ٭ كٓهٰيٰعٓصٓ di hadapan Nabi صلى الله عليه وسلم, berkata dengan hitungan jifir: "Wahai Muhammad! Masa umatmu sedikit." Menanggapi mereka, beliau bersabda: "Tidak sedikit." Beliau membaca huruf-huruf muqatha'ah pada awal surah-surah yang lain lalu bersabda: "Masih ada lagi." Mereka pun terdiam.
Yang kedua: Kasidah Jaljalutiyah yang paling masyhur dari Sayidina Ali radiyallahu anhu ditulis dari awal hingga akhir dengan semacam hitungan abjad dan jifir, dan demikian pula ia dicetak di percetakan-percetakan.
Yang ketiga: Para tokoh yang menekuni rahasia-rahasia gaib seperti Ja'far as-Sadiq radiyallahu anhu dan Muhyiddin al-Arabi radiyallahu anhu, serta orang-orang yang mendalami ilmu rahasia huruf, menerima hitungan abjad ini sebagai sebuah kaidah gaib dan sebuah kunci.
Yang keempat: Para sastrawan tinggi menerima hitungan ini sebagai sebuah kanun keindahan halus dalam sastra dan telah memakainya sejak zaman dahulu. Bahkan demi keindahan halus itu — padahal seharusnya ia tidak bersifat disengaja, buatan, dan tiruan — mereka meniru kunci-kunci gaib itu secara buatan lagi disengaja.
Yang kelima: Kaidah-kaidah yang paling halus dari para ulama ilmu matematika di dalam hubungan bilangan, serta kanun-kanun mereka yang bagi orang awam tampak menakjubkan, adalah sejenis dengan hitungan tawafuk ini. Bahkan pada fitrah segala sesuatu, Sang Fâthir Yang Hakîm menjadikan tawafuk hitungan ini sebagai sebuah kaidah tatanan, sebuah kanun kesatuan dan susunan serasi, sebuah sumber yang membuat segala sesuatu serasi dan sepakat, serta sebuah hukum kebagusan dan keteraturan yang rapi.
Misalnya, sebagaimana jari-jari, saraf-saraf, tulang-tulang, bahkan sel-sel dan pori-pori dari kedua tangan dan kedua kaki saling bertawafuk secara hitungan; demikian pula, sebagaimana pohon ini bertawafuk dalam hal bunga, daun, dan buah pada musim semi ini dengan musim semi yang telah lalu, maka kesesuaian yang penuh rahasia lagi hanya berbeda sedikit itu — yaitu bertawafuknya musim semi ini dengan musim semi yang lalu, dan bertawafuknya musim-musim semi yang akan datang dengan musim-musim semi masa lalu, yang memperlihatkan pilihan dan iradah Ilahi — merupakan saksi keesaan yang kuat, yang menunjukkan kesatuan Sang Pembuat Yang Hakîm lagi Dzul-Jamâl.
Maka, selama tawafuk jifir dan abjad ini menjadi sebuah kanun ilmiah, sebuah kaidah matematis, sebuah hukum fitri, sebuah metode sastra, dan sebuah kunci gaib; sudah pasti bahwa dipakainya dan didayagunakannya kanun tawafuk itu di dalam isyarat-isyarat Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân — yang merupakan sumber segala ilmu, tambang segala rahasia, penerjemah ayat-ayat penciptaan pada fitrah, mukjizat terbesar sastra, dan lisan gaib — adalah tuntutan dari i'jaznya.
Peringatan telah selesai; sekarang kita kembali ke pokok pembicaraan.
Karena kaitan maknawi dari ayat-ayat تَنْز۪يلُ الْكِتَابِ مِنَ اللّٰهِ الْعَز۪يزِ الْحَك۪يمِ yang berada pada awal Surah Az-Zumar, Al-Jatsiyah, dan Al-Ahqaf telah diterangkan pada poin kedua dari peringatan yang lalu, maka di sini kami hanya akan menerangkan ramz jifirnya.
Yaitu demikian: dua ت delapan ratus, dua ن seratus, dua م delapan puluh, dua ك empat puluh, tiga ز dua puluh satu, tiga ى tiga puluh, satu ب satu, satu ح sepuluh, "lafzullah" enam puluh tujuh, satu ع tujuh puluh, empat ل dan empat ا seratus dua puluh empat; sehingga jumlahnya menjadi seribu tiga ratus empat puluh dua (1342), lalu di samping menarik perhatian kepada tarikh abad ini, ia meletakkan jari kepada sebuah Nur yang sangat berkaitan dengan diturunkannya Al-Qur'an.
Dan tidak lama setelah tarikh itu, keluarnya ke medan penyebaran juz-juz Risale-i Nur yang paling bercahaya, seperti Risalah Mukjizat-Mukjizat Ahmad صلى الله عليه وسلم serta Surat Kedua Puluh dan Surat Kedua Puluh Empat,
dan tersebarnya dua risalah — yaitu Risalah Mukjizat-Mukjizat Al-Qur'an yang membuktikan i'jaz Al-Qur'an dari empat puluh segi, dan Kelimat Kesepuluh yang berkenaan dengan kebangkitan — pada tahun empat puluh dua, serta termasyhurnya keduanya secara luar biasa pada tahun empat puluh enam, yang semuanya terjadi pada tarikh yang sama, merupakan sebuah tanda yang kuat bahwa ayat ini memiliki perhatian yang khusus kepadanya.
Dan sebagaimana ayat-ayat ini mengisyaratkan kepada penulisan dan penyebarannya, demikian pula kalimat تَنْز۪يلُ الْكِتَابِ saja bertawafuk dengan nama Risaletü'n-Nur — dari sisi "nun" yang bertasydid dihitung satu "nun" — dengan perbedaan yang sangat kecil, lalu memandangnya secara ramzi dan menerimanya sebagai miliknya. Sebab kalimat تَنْز۪يلُ الْكِتَابِ berjumlah sembilan ratus lima puluh satu (951), lalu dari titik tawafuk dengan tiga perbedaan yang penuh rahasia ia memandang kepada sembilan ratus empat puluh delapan (948) yang merupakan kedudukan Risaletü'n-Nur.
Seketika terlintas di hati: Adapun rahasia tiga perbedaan ini ialah bahwa tingkatan Risale-i Nur berada pada yang ketiga. Yakni ia bukan wahyu dan tidak mungkin menjadi wahyu. Ia pun secara umum bukan ilham, melainkan pada umumnya merupakan sunuhat serta istikhraj-istikhraj Qur'ani yang datang ke dalam hati dengan limpahan karunia dan pertolongan Al-Qur'an.
Patut diperhatikan bahwa kedudukan jifir dari تَنْز۪يلُ الْكِتَابِ مِنَ اللّٰهِ الْعَز۪يزِ الْعَل۪يمِ di dalam Surah Al-Mu'min yang merupakan حٰمٓ yang pertama, seperti sebagian ayat penting yang lain, memandang kepada seribu tiga ratus tujuh puluh (1370). Entah lima belas dua puluh tahun kemudian akan muncul cahaya Al-Qur'an yang lain, ataukah Risale-i Nur akan memperoleh sebuah futuhat dengan perkembangan yang luar biasa; karena aku tidak mengetahuinya, aku tidak dapat membuka pintu itu.