Risale-i NurSinar-Sinar

Poin Keempat

Sinar-Sinar · hlm. 736

Maka, bahwa tiga puluh tiga ayat masyhur yang disebutkan di dalam risalah ini secara sepakat lagi tanpa dipaksakan, baik dari segi makna maupun dari segi jifir, meletakkan jari kepada Risale-i Nur, dan bahwa Ayatun-Nur di awal menunjuk kepadanya dengan sepuluh jari —

hal itu terjadi melalui sebuah kaidah yang sejak dahulu masyhur di kalangan ulama dan di antara para sastrawan, sebuah sumber istikhraj yang berdasar hakikat, bahkan sebuah kanun ilmiah yang dikenal, yang dipakai oleh para sastrawan di dalam tarikh-tarikh khusus dan pada batu-batu nisan. Jika ke dalam kaidah itu tidak tercampur sikap dibuat-buat, ia dapat menjadi isyarat gaib. Jika ia dibuat secara buatan lagi disengaja, ia hanya menjadi sebuah keindahan yang halus, sebuah keanggunan, dan sebuah kefasihan.

Ya, karena para sastrawan memperindah perkataan mereka dengan meniru hal itu di dalam tarikh-tarikh khusus lagi pribadi, dan karena isyarat melalui kedudukan abjad merupakan kaidah yang paling mendasar serta kunci yang penting dari ilmu jifir, maka isyarat dan tawafuk sekian banyak ayat masyhur Al-Qur'an kepada Risale-i Nur secara ijmak lagi sepakat — padahal Al-Qur'an dari segala segi adalah kesadaran itu sendiri, ilmu itu sendiri, dan kehendak yang murni; ia tidak memiliki keadaan-keadaan yang kebetulan dan tidak mengandung perkara-perkara yang tidak perlu — pada derajat kejelasan yang gamblang merupakan sebuah kesaksian atas diterimanya Risale-i Nur, sebuah tanda tangan atas kebenarannya, dan sebuah kabar gembira bagi murid-muridnya.