Risale-i NurSinar-Sinar

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ

Sinar-Sinar · hlm. 444

Para tahanan sangat membutuhkan hiburan hakiki yang ada di dalam Risale-i Nur. Terutama mereka yang terkena pukulan masa muda lalu melewatkan umurnya yang masih segar dan manis di dalam penjara; kebutuhan mereka kepada Nur-Nur sebesar kebutuhan kepada roti.

Ya, urat masa muda lebih mendengarkan perasaan daripada akal. Sedangkan perasaan dan hawa nafsu itu buta, tidak melihat akibat. Satu dirham kelezatan yang ada di depan mata lebih ia utamakan daripada satu batman kelezatan di masa depan. Dengan kelezatan balas dendam selama satu menit ia membunuh, lalu menanggung derita penjara selama delapan puluh ribu jam; dan dengan kesenangan berfoya-foya selama satu jam dalam sebuah perkara kehormatan, kebahagiaan umurnya hancur oleh kesulitan-kesulitan selama ribuan hari, baik karena penjara maupun karena kecemasan terhadap musuhnya.

Diqiyaskan kepada hal-hal ini, para pemuda yang malang itu memiliki banyak jurang bahaya yang mengubah kehidupan mereka yang paling manis menjadi kehidupan yang paling pahit lagi paling menyedihkan.

Dan terutama sekali, sebuah negara besar di utara telah menguasai hawa nafsu masa muda lalu mengguncang abad ini dengan badai-badainya. Sebab, kepada para pemuda yang bergerak dengan perasaan buta yang tidak melihat akibat, negara itu menghalalkan anak-anak gadis dan istri-istri yang cantik dari kalangan orang-orang terhormat. Bahkan dari sisi mengizinkan laki-laki dan perempuan masuk bersama-sama dalam keadaan telanjang ke pemandian-pemandian mereka, negara itu menyemangati perbuatan keji ini. Ia pun menghalalkan harta orang-orang kaya bagi para gelandangan dan orang-orang miskin, sehingga seluruh umat manusia gemetar menghadapi musibah ini.

Maka pada abad ini, para pemuda Islam dan Turki mutlak harus bersikap sebagai pahlawan dan menghadapi bahaya yang menyerang dari dua sisi ini dengan pedang-pedang tajam Risale-i Nur seperti Risalah Buah dan Panduan Pemuda. Jika tidak, pemuda yang malang itu akan mengubah masa depan dunianya dan kehidupan bahagianya, juga kebahagiaan akhiratnya dan kehidupan kekalnya, menjadi azab dan derita, lalu membinasakannya; ia jatuh ke rumah-rumah sakit karena penyalahgunaan dan foya-foya, dan jatuh ke penjara-penjara karena luapan perasaan. Dengan seruan aduhai dan penuh penyesalan, ia akan banyak menangis pada masa tuanya.

Namun jika ia menjaga dirinya dengan pendidikan Al-Qur'an dan dengan hakikat-hakikat Nur, ia akan menjadi seorang pemuda pahlawan yang sempurna, manusia yang paripurna, Muslim yang berbahagia, dan semacam sultan bagi makhluk-makhluk hidup lainnya serta bagi hewan-hewan.

Ya, jika seorang pemuda di dalam penjara membelanjakan satu jam saja dari umur hariannya yang dua puluh empat jam itu untuk salat lima waktu yang fardu, dan sebagaimana penjara menghalanginya dari kebanyakan dosa, ia pun bertobat dari kesalahan yang menyebabkan musibah itu serta menjauhi dosa-dosa lain yang merugikan lagi menyakitkan; maka sebagaimana hal itu memberikan faedah besar bagi hidupnya, bagi masa depannya,

bagi tanah airnya, bagi bangsanya, dan bagi kerabatnya; demikian pula Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân, dan bersamanya seluruh kitab dan suhuf samawi, memberitakan dengan pasti serta menyampaikan kabar gembira bahwa dengan masa muda yang fana selama sepuluh atau lima belas tahun itu ia akan meraih masa muda yang abadi, cemerlang, dan kekal selamanya.

Ya, jika ia mensyukuri nikmat masa muda yang manis lagi indah itu dengan istikamah dan dengan ketaatan, nikmat itu bertambah, tetap kekal, dan makin terasa lezat. Jika tidak, ia menjadi bencana, dan ia berlalu dengan penuh derita, kesedihan, serta mimpi buruk. Bahkan hal itu menjadi sebab yang menjadikannya seorang gelandangan yang membahayakan kerabatnya, tanah airnya, dan bangsanya.

Jika seorang tahanan dihukum secara zalim, maka dengan syarat menunaikan salat fardunya, sebagaimana setiap jamnya bernilai satu hari ibadah, demikian pula penjara itu menjadi tempat khalwat untuk menyendiri baginya, sehingga mereka dapat digolongkan ke dalam orang-orang saleh yang mengasingkan diri, yang pada zaman dahulu masuk ke gua-gua untuk beribadah.

Jika ia miskin, atau tua, atau sakit, dan merindukan hakikat-hakikat iman, maka dengan syarat menunaikan yang fardu dan bertobat, setiap jamnya pun menjadi dua puluh jam ibadah; dan penjara berubah menjadi tempat istirahat baginya, serta menjadi rumah kecintaan, rumah pendidikan, dan ruang belajar bagi sahabat-sahabat yang menjaganya dengan penuh kasih sayang. Dengan tinggal di dalam penjara itu, ia dapat merasa lebih senang daripada kebebasan di luar yang kacau dan yang di setiap sisinya terbuka bagi serbuan dosa. Ia memperoleh pendidikan yang sempurna dari penjara. Ketika keluar, ia keluar bukan sebagai pembunuh dan pendendam, melainkan sebagai orang yang bertobat, berpengalaman, terdidik, dan bermanfaat bagi bangsanya.

Bahkan sebagian pihak terkait yang menyaksikan orang-orang di Penjara Denizli, yaitu mereka yang dalam waktu singkat mengambil pelajaran akhlak yang baik secara luar biasa dari Nur-Nur, telah berkata: "Daripada memasukkan mereka ke penjara lima belas tahun untuk mendidik mereka, jika mereka mengambil pelajaran Risale-i Nur lima belas pekan, itu jauh lebih memperbaiki mereka."

Selama kematian tidak pernah mati dan ajal itu tersembunyi sehingga dapat datang setiap saat; dan selama kubur tidak pernah tertutup, sedangkan mereka yang datang berkafilah demi kafilah masuk ke sana lalu lenyap; dan selama kehidupan dunia ini berlalu dengan sangat cepat; dan selama Risale-i Nur dengan hakikat Al-Qur'an telah memperlihatkan seterang matahari bahwa bagi ahli iman kematian itu berubah dari hukuman mati abadi menjadi surat pelepasan tugas, sedangkan bagi orang-orang yang sesat dan yang berfoya-foya ia adalah hukuman mati abadi sebagaimana terlihat dengan mata kepala, yaitu perpisahan yang tidak berkesudahan dari seluruh yang dicintainya dan dari seluruh yang ada.

Sudah pasti dan pasti tidak tersisa keraguan sedikit pun bahwa orang yang paling berbahagia ialah orang yang bersyukur di dalam kesabaran, memanfaatkan masa penjaranya secara sempurna, mengambil pelajaran Nur-Nur, dan berusaha berkhidmah kepada imannya dan kepada Al-Qur'an di dalam lingkaran istikamah.

Wahai manusia yang kecanduan zauk dan kelezatan! Pada usiaku yang ketujuh puluh, dengan ribuan pengalaman, hujah, dan peristiwa, aku mengetahui secara ainul yakin bahwa:

Zauk yang hakiki, kelezatan tanpa derita, kegembiraan tanpa kesedihan, dan kebahagiaan di dalam hidup hanya ada di dalam iman dan hanya terdapat di dalam lingkaran hakikat-hakikat iman. Jika tidak, di dalam satu kelezatan duniawi terdapat banyak derita. Ia memberi makan sebutir anggur, lalu menampar sepuluh kali, dan melenyapkan kelezatan hidup.

Wahai orang-orang malang yang tertimpa musibah penjara! Selama dunia kalian menangis dan kehidupan kalian yang manis telah menjadi pahit, berusahalah agar akhirat kalian tidak ikut menangis dan agar kehidupan kekal kalian tersenyum lagi menjadi manis; ambillah manfaat dari penjara. Sebagaimana adakalanya satu jam berjaga di hadapan musuh di bawah syarat yang berat dapat bernilai satu tahun ibadah; demikian pula setiap satu jam kepayahan ibadah kalian di bawah syarat yang berat menjadi berjam-jam yang banyak, lalu ia mengubah kepayahan-kepayahan itu menjadi rahmat.