Risale-i NurSinar-Sinar

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ

Sinar-Sinar · hlm. 342

Dengan mengikuti sebuah kebiasaan Islam yang berlaku sejak masa kebahagiaan sampai sekarang, kami menghimpun ratusan ayat masyhur yang menjadi sumber khusus Risale-i Nur menjadi sebuah Hizb Qurani, laksana sebuah kitab En'am yang besar; namun mereka mencela kami dengan berkata: "Ia melakukan pengubahan di dalam agama."

Lagi pula, dengan Risalah Tesettür — yang hukumannya selama satu tahun telah kujalani, yang disimpan sebagai barang rahasia, dan yang sebagaimana dicatat di dalam berita acara dikeluarkan dari bawah tumpukan kayu bakar — mereka hendak menuduh kami seolah-olah risalah itu ditulis dan disebarkan pada tahun ini.

Lagi pula, kritik-kritikku yang wajar, perlu, lagi bersifat rahasia — yaitu kritik di dalam penjelasan sebuah hakikat hadis yang memperlihatkan kekeliruan seseorang yang berada di puncak pemerintahan di Ankara (yakni Mustafa Kemal), yang dahulu memilih diam dan tidak membalas keberatan-keberatan serta kata-kata keras yang kuucapkan kepadanya, dan yang kusampaikan setelah ia meninggal — dijadikan sebab tuntutan. Di manakah letak perasaan hati seorang pribadi yang telah meninggal dan telah putus hubungannya dengan pemerintah? Dan di manakah keadilan serta undang-undang yang menjadi kenangan bagi pemerintah dan bangsa, yang merupakan tajalli hakimiyah Allah?

Lagi pula, asas kebebasan hati nurani — yang paling banyak kami jadikan titik sandaran di antara pemerintahan republik dan asas-asasnya, dan yang dengannya kami membela diri — justru dijadikan sebab tuntutan terhadap kami; seolah-olah kami berjalan menentang asas kebebasan hati nurani itu.

Lagi pula, karena Risale-i Nur mengkritik keburukan-keburukan dan kekurangan-kekurangan peradaban, di dalam berita-berita acara itu mereka menisbatkan kepadaku sesuatu yang tidak pernah terlintas di hati dan khayalku: seolah-olah aku tidak menerima penggunaan radio, {(Catatan kaki): Sebagai syukur yang agung terhadap nikmat Ilahi yang agung seperti radio, aku pernah berkata: "Yaitu radio membaca Al-Qur'an dan memperdengarkannya kepada seluruh manusia di muka bumi, sehingga lapisan udara menjadi seorang hafiz Al-Qur'an."} pesawat terbang, dan kereta api; lalu mereka menuntutku dengan alasan bahwa aku menentang kemajuan masa kini.

Maka dengan mengukur pada contoh-contoh ini, insya Allah Jaksa Penuntut dan Mahkamah Denizli yang berlaku insaf lagi adil akan memperlihatkan betapa perlakuan itu bertentangan dengan keadilan, dan mereka tidak akan memberi perhatian kepada waham-waham di dalam berita-berita acara itu.

Lagi pula, yang paling ajaib adalah ini: jaksa penuntut dari mahkamah lain bertanya kepadaku: "Di dalam Sinar Kelima yang rahasia engkau berkata: 'Tentara akan melepaskan kendalinya dari tangan

orang yang dahsyat itu.' Maksudmu adalah menggerakkan tentara kepada pembangkangan terhadap pemerintah."

Aku pun menjawab: "Maksudku ialah bahwa panglima itu akan mati atau akan diganti, sehingga tentara terlepas dari kesewenang-wenangannya. Bagaimana mungkin sebuah risalah menjadi sebab tuduhan, padahal ia sangat rahasia dan dalam delapan tahun hanya dua kali sampai ke tanganku lalu pada saat itu juga hilang; padahal ia menjelaskan makna sebuah hadis tentang akhir zaman secara menyeluruh; padahal aslinya telah ditulis sejak dahulu; dan padahal tidak seorang prajurit pun pernah melihatnya?" Sayang sekali, tuduhan aneh dari orang-orang yang tidak berlaku insaf itu masuk ke dalam surat dakwaan.

Lagi pula, yang paling ganjil adalah ini: di suatu tempat aku pernah berkata: "Terhadap pesawat terbang, kereta api, dan radio yang merupakan nikmat-nikmat besar dari Allah, seharusnya manusia menyambutnya dengan syukur yang besar; namun manusia tidak melakukannya, sehingga dengan pesawat-pesawat terbang itu bom pun berhamburan menimpa kepala mereka. Adapun radio, ia adalah nikmat Ilahi yang demikian besar sehingga syukur yang setimpal dengannya ialah radio itu menjadi seorang hafiz Al-Qur'an menyeluruh yang berlidah jutaan, lalu memperdengarkan Al-Qur'an kepada seluruh manusia di muka bumi." Dan di dalam Kelimat Kedua Puluh, ketika menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberitakan keajaiban-keajaiban peradaban secara gaib, aku berkata sebagai isyarat sebuah ayat: "Orang-orang kafir akan mengalahkan alam Islam dengan kereta api." Padahal aku mendorong umat Islam kepada keajaiban-keajaiban ini, namun di akhir surat dakwaan itu — berdasarkan maksud buruk jaksa penuntut yang terdahulu — aku dituduh dengan perkataan: "Ia menentang kemajuan masa kini seperti kereta api, pesawat terbang, dan radio."

Lagi pula, meskipun sama sekali tidak ada kaitannya, seseorang berkata mengenai ungkapan "Risaletü'n-Nur" yang merupakan nama kedua bagi Risale-i Nur: "Ia adalah sebuah risalah dan sebuah ilham dari cahaya Al-Qur'an." Namun di dalam surat dakwaan, dengan makna keliru yang diberikan oleh pihak lain, seolah-olah dikatakan "Risale-i Nur adalah seorang rasul", lalu hal itu dijadikan sebab tuduhan terhadapku.

Lagi pula, di dalam pembelaan-pembelaanku, di dua puluh tempat kami telah membuktikan secara pasti dengan hujah-hujah bahwa — sekalipun berhadapan dengan seluruh dunia — kami tidak dapat menjadikan agama, Al-Qur'an, dan Risale-i Nur sebagai alat, dan semuanya itu memang tidak boleh dijadikan alat; dan bahwa kami tidak akan menukar satu hakikat pun darinya dengan kerajaan dunia, bahkan secara nyata kami memang demikian. Tanda-tanda kebenaran pernyataan ini dalam dua puluh tahun ini berjumlah ribuan. Selama keadaannya demikian, aku dan kami dengan segenap kekuatan kami berkata: حَسْبُنَا اللّٰهُ وَ نِعْمَ الْوَك۪يلُ