Pelengkap bagi Surat Keberatan terhadap Surat Dakwaan
Sinar-Sinar · hlm. 345
Di dalam keberatan ini, yang kuajak bicara bukanlah Mahkamah Denizli dan Jaksa Penuntutnya, melainkan para pegawai yang bermaksud buruk lagi penuh waham — terutama para jaksa penuntut Isparta dan İnebolu — yang dengan berita-berita acara mereka yang keliru lagi tidak lengkap telah menyebabkan surat dakwaan yang aneh di sini dikeluarkan terhadap kami.
PERTAMA: Betapa jauhnya dari hakikat keadilan tindakan menempelkan nama sebuah perkumpulan politik — yang tidak berpangkal dan tidak berujung serta tidak pernah terlintas di benakku — kepada murid-murid Risale-i Nur yang tidak berdosa dan sama sekali tidak mempunyai kaitan dengan politik; lalu menganggap bersalah orang-orang malang yang masuk ke dalam lingkaran itu dan yang tidak mempunyai maksud apa pun selain iman dan akhirat mereka, dengan alasan bahwa mereka adalah penyebar perkumpulan itu, atau rukunnya yang aktif, atau anggotanya, atau karena mereka telah membaca, mengajarkan, atau menulis Risale-i Nur; lalu menyeret mereka ke mahkamah — hujah yang pasti mengenai hal itu adalah demikian:
Karya-karya berbahaya yang ditulis untuk menyerang Al-Qur'an — karya Doktor Duzi dan zindik-zindik lainnya — tidak dianggap sebagai kejahatan bagi para pembacanya dengan kaidah kebebasan berpikir dan kebebasan ilmiah; namun membaca dan menulis Risale-i Nur, yang memberitahukan hakikat Al-Qur'an dan hakikat iman laksana matahari kepada orang-orang yang sangat butuh lagi sangat rindu untuk mempelajarinya, justru dianggap sebagai kejahatan. Dan lagi, dari sekian ratus risalah, mereka menjadikan hanya beberapa kalimat di dalam dua tiga risalah — yang kami rahasiakan dan tidak kami izinkan penyebarannya agar tidak diberi makna yang salah — sebagai dalih untuk menuduh. Padahal risalah-risalah itu (kecuali satu) telah diteliti oleh Mahkamah Eskişehir dan telah diselesaikan sebagaimana mestinya. Adapun yang satu itu, jawaban yang sangat pasti telah kuberikan baik di dalam surat permohonanku maupun di dalam surat bantahanku, dan telah dibuktikan secara pasti dengan dua puluh segi di Mahkamah Eskişehir dengan ucapan: "Di tangan kami ada nur, tidak ada gada politik." Meskipun demikian, para penuduh yang tidak berlaku adil itu memberlakukan tiga empat kalimat dari tiga risalah yang dirahasiakan dan tidak disebarkan itu seakan-akan berlaku bagi seluruh Risale-i Nur, lalu menganggap orang yang membaca dan menulis Risale-i Nur sebagai penjahat, dan menuduhku memerangi pemerintah.
Dengan mempersaksikan diriku, orang-orang yang dekat denganku, dan sahabat-sahabatku yang berjumpa denganku, serta dengan bersumpah, aku tegaskan bahwa: Lebih dari sepuluh tahun ini, selain dua orang kepala negara, seorang anggota dewan, dan Gubernur Kastamonu, aku sama sekali tidak tahu siapa saja para pembesar pemerintahan, para menteri, para komandan, para pegawai, dan para anggota dewan; dan aku pun tidak pernah ingin tahu. Mungkinkah seseorang tidak mengenal orang-orang yang ia perangi dan tidak ingin tahu tentang mereka? Kawan atau lawan? Tidak menganggap penting untuk mengenali orang
yang ada di hadapannya? Dari keadaan seperti ini dipahami bahwa mereka dengan sengaja mengada-adakan dalih-dalih yang sama sekali tidak berdasar demi menghukumku bagaimanapun caranya.
Karena keadaannya demikian, aku pun berkata — bukan kepada mahkamah di sini, melainkan kepada orang-orang yang tidak berlaku adil itu: Hukuman terberat yang akan kalian jatuhkan kepadaku sama sekali tidak kuhiraukan dan tidak ada artinya bagiku. Sebab aku sudah berada di pintu kubur, berusia tujuh puluh tahun. Menukar satu dua tahun hidup yang terzalimi dan tak berdosa seperti ini dengan tingkatan syahid adalah kebahagiaan besar bagiku. Dengan ribuan hujah Risale-i Nur, aku memiliki iman yang pasti bahwa kematian bagi kami adalah surat pelepasan tugas. Sekalipun berupa hukuman mati, satu jam kesusahan bagi kami menjadi kunci bagi kebahagiaan abadi dan rahmat yang kekal selamanya.
Akan tetapi kalian, wahai orang-orang yang tidak berlaku adil, yang demi kepentingan zandaqah menyesatkan lembaga peradilan dan menyibukkan pemerintah dengan kami tanpa sebab! Ketahuilah dengan pasti dan gemetarlah, bahwa kalianlah yang sedang dijatuhi hukuman mati abadi dan kurungan sendirian yang kekal selamanya. Kami melihat bahwa balasan bagi kami telah diambil dari kalian dengan berlipat-lipat ganda. Bahkan kami merasa kasihan kepada kalian.
Ya, hakikat kematian yang telah seratus kali mengosongkan kota ini ke pekuburan tentu memiliki satu tuntutan yang lebih besar daripada tuntutan hidup ini. Dan cara untuk selamat dari hukuman mati yang dijatuhkannya adalah kebutuhan yang mutlak lagi pasti, yang paling besar, paling penting, dan paling diperlukan, di atas segala persoalan manusia. Maka betapa besar orang-orang yang dengan dalih-dalih murahan menuduh para murid Risale-i Nur yang telah menemukan cara itu untuk dirinya, dan menuduh Risale-i Nur yang membuat mereka menemukan cara itu dengan ribuan hujah — betapa besar mereka sendiri menjadi tertuduh di hadapan hakikat dan keadilan; orang gila sekalipun dapat memahaminya.
Ada tiga hal yang menipu orang-orang yang tidak berlaku adil ini dan menimbulkan waswas tentang adanya sebuah perkumpulan politik yang sama sekali tidak berkaitan dengan kami:
Yang Pertama: Sejak dahulu murid-muridku sangat erat berhubungan denganku laksana saudara; hal inilah yang menimbulkan waswas adanya sebuah perkumpulan.
Yang Kedua: Sebagian murid Risale-i Nur bergerak seperti kelompok-kelompok jemaah Islam yang terdapat di mana-mana, yang diizinkan dan tidak diganggu oleh undang-undang republik; karena itu mereka disangka sebuah perkumpulan. Padahal niat tiga empat murid yang jumlahnya terbatas itu bukanlah perkumpulan atau apa pun semacamnya, melainkan semata-mata persaudaraan yang ikhlas dan saling menopang untuk akhirat di dalam khidmah iman.
Yang Ketiga: Karena orang-orang yang tidak berlaku adil itu mengetahui diri mereka sesat dan menyembah dunia, dan karena mereka mendapati sebagian undang-undang pemerintah sesuai
dengan kepentingan mereka, maka di dalam pikiran mereka berkata: "Pastilah Said dan kawan-kawannya menentang kami dan menentang undang-undang pemerintah yang membuka jalan bagi hawa nafsu kami yang tidak sah namun berbaju peradaban. Kalau begitu, mereka adalah perkumpulan politik yang menjadi penentang."
Aku pun berkata: Hai orang-orang yang celaka! Andaikan dunia ini kekal selamanya, dan manusia tinggal di dalamnya selama-lamanya, dan tugas-tugas kemanusiaan hanyalah politik, barangkali tuduhan dusta kalian ini masih ada artinya. Lagi pula, andaikan aku terjun ke dalam politik, di dalam seratus risalah kalian akan menemukan bukan sepuluh kalimat, melainkan seribu kalimat yang bercorak politik dan bernada perlawanan. Lagi pula, seandainya — sebagai andaian yang mustahil — kami pun seperti kalian bekerja dengan segenap kekuatan untuk maksud-maksud dunia, kesenangan-kesenangannya, dan politiknya — suatu hal yang setan sekalipun tidak sanggup meyakinkannya dan tidak dapat diterimakannya kepada siapa pun — baiklah, andaikan memang demikian; karena dalam dua puluh tahun ini tidak ada satu pun peristiwa yang dapat ditunjukkan dari pihak kami, dan pemerintah hanya melihat perbuatan yang tampak, ia tidak dapat melihat isi hati, dan di dalam setiap pemerintahan pasti terdapat para penentang yang keras — tentu kalian tetap tidak dapat menjerat kami dengan undang-undang peradilan. Kata terakhirku: حَسْبِىَ اللّٰهُ لَٓا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظ۪يمِ