Risale-i NurSinar-Sinar

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ

Sinar-Sinar · hlm. 351

Ketua Mahkamah, Tuan Ali Rıza!

Untuk membela hak-hakku, aku memiliki satu permintaan dan satu harapan yang penting. Aku tidak mengenal huruf-huruf baru, dan tulisan lamaku pun sangat

kurang sempurna; lagi pula aku tidak diizinkan berjumpa dengan orang lain, seakan-akan aku diasingkan sepenuhnya dari siapa pun. Bahkan surat dakwaan pun diambil dariku setelah lima belas menit. Aku juga tidak mampu menyewa pengacara. Bahkan dari pembelaan yang kuajukan kepada kalian, dengan susah payah aku hanya dapat mengambil satu salinan dari sebagiannya secara sembunyi-sembunyi dengan huruf baru. Aku juga telah menyuruh menyalin Risalah Buah — yang merupakan semacam surat pembelaan bagi Risale-i Nur dan saripati jalan yang ditempuhnya — satu salinan untuk diberikan kepada jaksa penuntut umum dan satu dua salinan untuk dikirim kepada instansi-instansi di Ankara. Tiba-tiba mereka merampas salinan-salinan itu dari tanganku dan sampai kini belum mengembalikannya. Padahal dahulu Pengadilan Eskişehir mengirimkan sebuah mesin tik kepada kami di penjara. Dengan mesin itu kami menulis satu dua naskah pembelaan kami dengan huruf baru, dan mahkamah itu pun turut menuliskannya.

Inilah permintaanku yang penting: Berikanlah kepada kami sebuah mesin tik, atau izinkanlah kami mendatangkannya sendiri. Supaya kami dapat mengambil dua tiga salinan dengan huruf baru — baik pembelaan-pembelaanku maupun risalah yang berkedudukan sebagai surat pembelaan Risale-i Nur — lalu mengirimkannya kepada Kementerian Kehakiman, Dewan Menteri, Majelis Perwakilan Rakyat, dan Dewan Pertimbangan Negara. Sebab seluruh dasar surat dakwaan itu adalah Risale-i Nur, dan perkara serta bantahan yang berkaitan dengan Risale-i Nur bukanlah sebuah kejadian kecil dan bukan pula persoalan pribadi sehingga tidak perlu diberi banyak perhatian. Melainkan ia berkedudukan sebagai kejadian menyeluruh yang sungguh-sungguh menyangkut bangsa ini, negeri ini, dan pemerintah ini, dan karena itu akan menarik perhatian dunia Islam dalam bentuk yang penting; ia adalah sebuah persoalan umum.

Ya, yang menyerang Risale-i Nur di balik tabir adalah mereka yang — dengan campur tangan pihak asing, demi mematahkan perhatian, kecintaan, dan persaudaraan dunia Islam yang merupakan kekuatan terbesar bangsa di tanah air ini, serta demi menimbulkan kebencian — menjadikan politik sebagai alat bagi paham antiagama lalu menanamkan kufur mutlak di balik tabir; merekalah yang memperdaya pemerintah dan sudah dua kali menyesatkan lembaga peradilan seraya berkata: "Risale-i Nur dan murid-muridnya menjadikan agama sebagai alat politik; ada kemungkinan membahayakan keamanan."

Hai orang-orang celaka! Risale-i Nur memang tidak memiliki hubungan dengan politik, tetapi karena ia menghancurkan kufur mutlak, maka ia merusak dan menolak dari dasarnya anarkisme yang merupakan lapisan bawah kufur mutlak dan penindasan mutlak yang merupakan lapisan atasnya. Salah satu dari ratusan hujah bahwa ia menjamin keamanan, ketertiban umum, kebebasan, dan keadilan adalah Risalah Buah yang berkedudukan sebagai nota pembelaan ini. Hendaklah sebuah dewan ilmiah dan kemasyarakatan yang tinggi meneliti risalah ini; jika mereka tidak membenarkan aku, aku rela menerima setiap hukuman dan hukuman mati yang disertai siksaan!