Dan misalnya pula,
Sinar-Sinar · hlm. 3
sembuhnya seseorang dari penyakit yang menakutkan: apabila dipandang dengan pandangan tauhid, seketika itu juga tampaklah secara menyeluruh dan berkilau keindahan kasih sayang Sang Rahîm Mutlak serta segala kebagusan sifat rahîm-Nya, pada wajah karunia kesembuhan yang Dia limpahkan kepada seluruh orang yang menderita di rumah sakit terbesar yang bernama bumi, dengan obat dan penawar yang diambil dari apotek terbesar yang bernama alam. Jika tidak dipandang dengan pandangan tauhid, kesembuhan yang juz'i — tetapi penuh ilmu, penuh penglihatan, dan penuh kesadaran — itu pun disandarkan kepada khasiat obat-obat yang beku tak bernyawa, kepada kekuatan yang buta, dan kepada alam yang tidak sadar. Maka lenyaplah seluruh hakikat, hikmah, dan nilainya.
Berkenaan dengan maqam ini, aku hendak menjelaskan sebuah nukta dari sebuah salawat yang terlintas dalam hatiku. Yaitu demikian: salawat yang amat sering diamalkan dan masyhur di kalangan mazhab Syafi'i pada akhir tasbihat salat, yakni اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كُلِّ دَاءٍ وَدَوَاءٍ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ كَث۪يرًا كَث۪يرًا, demikian besar kedudukannya karena hikmah penciptaan manusia dan rahasia dirinya yang menghimpun segala sesuatu ialah agar ia senantiasa, setiap waktu dan setiap menit, berlindung dan bermohon kepada Khâliq-nya serta
memuji dan bersyukur kepada-Nya. Maka, sebagaimana pendorong yang paling tajam dan paling berpengaruh, yang mencambuk manusia dan menggiringnya ke hadirat Ilahi, adalah penyakit; demikian pula nikmat-nikmat manis yang menggerakkan manusia untuk bersyukur dengan kerinduan yang sempurna, yang membuatnya benar-benar berterima kasih dan memuji, terutama adalah kesembuhan, obat, dan kesehatan — karena itulah salawat yang mulia ini menjadi sangat terhormat dan sarat makna. Terkadang, setiap kali aku mengucapkan بِعَدَدِ كُلِّ دَاءٍ وَ دَوَاءٍ, aku merasakan bumi ini bagaikan sebuah rumah sakit, dan aku merasakan betapa nyata wujud Asy-Syâfî Yang Hakiki — Zat yang menganugerahkan penawar bagi segala derita dan kebutuhan, baik yang lahir maupun yang batin — serta merasakan kasih sayang-Nya yang menyeluruh dan sifat rahîm-Nya yang suci lagi luas.