Dan misalnya pula,
Sinar-Sinar · hlm. 4
menganugerahkan iman dan hidayah kepada seseorang yang merasakan pedih batin yang teramat dahsyat akibat kesesatan: apabila dipandang dengan pandangan tauhid, seketika itu juga — pada wajah dan raut karunia teragung ini, yakni bahwa orang yang juz'i, fana, lagi lemah itu menjadi hamba yang diajak bicara oleh Ma'bûd-nya, Khâliq dan Sultan seluruh kainat; bahwa melalui iman itu Dia menganugerahkan kepadanya kebahagiaan abadi, sebuah kerajaan kekal yang megah, amat luas, dan berkilau, serta sebuah dunia yang kekal; dan bahwa Dia menjadikan seluruh mukmin yang lain pun memperoleh limpahan karunia itu sesuai derajat masing-masing — tampaklah keindahan azali dan keindahan yang tidak pernah sirna dari Zat Yang Mahamulia lagi Maha Pemberi kebaikan, sedemikian rupa sehingga dengan sekilau cahaya-Nya saja Dia menjadikan seluruh ahli iman sebagai sahabat-Nya dan menjadikan golongan istimewa di antara mereka sebagai pencinta-Nya. Jika tidak dipandang dengan pandangan tauhid, ia akan menyerahkan iman yang juz'i itu kepada dirinya sendiri — seperti kaum Mu'tazilah yang memaksakan pendapatnya dan hanya melihat dirinya sendiri — atau kepada sebab-sebab tertentu; sehingga berlian Rahmani yang harga sejatinya adalah surga itu turun menjadi sekadar pecahan kaca, lalu lenyaplah kilau keindahan suci yang selama ini ia cerminkan.
Maka, dengan mengiaskan kepada tiga contoh ini, pada keadaan-keadaan juz'i dari juz'iyat yang berada di ujung lingkaran kemajemukan, dari sisi tauhid akan terlihat, dipahami, diketahui, dan terbukti dengan pasti ribuan macam serta ratusan ribu ragam keindahan Ilahi dan kesempurnaan Rabbani yang terpusat pada juz'iyat itu. Karena keindahan dan kesempurnaan Ilahi di dalam tauhid itulah yang terlihat oleh hati dan terasa oleh ruh, maka seluruh wali dan asfiya menemukan zauk mereka yang paling manis dan rezeki batin mereka yang paling nikmat di dalam berzikir dan mengulang-ulang kalimat tauhid, yaitu "Lâ ilahe illallah".
Dan karena di dalam kalimat tauhid itu terwujud keagungan kebesaran-Nya, jalal Zat Yang Mahasuci, serta kerajaan mutlak rububiyah Yang Shamad, maka Rasul Yang Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda: اَفْضَلُ مَا قُلْتُ اَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْل۪ى لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ
Yakni: "Perkataan yang paling utama dan paling berharga dariku dan dari para nabi yang datang sebelumku adalah kalimat 'Lâ ilahe illallah'."
Ya, sebuah karunia, sebuah nikmat, sebuah rezeki yang mungil — seperti sebutir buah, setangkai bunga, seberkas cahaya — meskipun hanya sebuah cermin kecil, dengan rahasia tauhid ia seketika bersambung dan berjajar bahu-membahu dengan seluruh sesamanya, sehingga ia berubah menjadi cermin besar bagi jenisnya dan memperlihatkan satu ragam keindahan Ilahi yang memancar khusus pada jenis itu. Dengan keindahan yang fana lagi sementara, ia memperlihatkan satu ragam keindahan yang kekal selamanya. Dan sebagaimana dikatakan oleh Maulana Jalaluddin, dengan rahasia اٰنْ خَيَالَات۪ى كِه دَامِ اَوْلِيَاسْتْ ٭ عَكْسِ مَهْرُويَانِ بُوسْتَانِ خُدَاسْتْ ia menjadi cermin keindahan Ilahi. Namun jika rahasia tauhid tidak ada, buah yang juz'i itu tinggal sendirian. Ia tidak memperlihatkan keindahan yang suci itu, tidak pula kesempurnaan yang tinggi itu. Sekilau cahaya juz'i yang ada di dalamnya pun padam dan hilang. Ia seakan-akan terbalik ke bawah, berubah dari intan menjadi kaca biasa.
Dan dengan rahasia tauhid, pada makhluk hidup yang merupakan buah-buah pohon penciptaan, tampaklah pribadi Ilahi, ahadiyah Rabbani, wajah maknawi Rahmani melalui tujuh sifat-Nya, terpusatnya asma, serta manifestasi kehadiran diri yang nyata lagi khusus dari Zat yang menjadi lawan bicara dalam seruan اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ. Jika tidak demikian, pribadi itu, ahadiyah itu, wajah itu, dan manifestasi kehadiran diri itu akan terbentang meluas seukuran kainat, lalu tersebar dan tersembunyi. Ia hanya terlihat oleh mata hati yang sangat besar dan luas cakupannya. Sebab keagungan dan kebesaran-Nya menjadi tabir, sehingga tidak setiap hati mampu melihat pancaran itu.
Dan pada makhluk-makhluk hidup yang juz'i itu dapat dipahami dengan sangat jelas bahwa Sang Pembuatnya melihatnya, mengetahuinya, mendengarnya, dan berbuat sekehendak-Nya. Seakan-akan, di balik keadaan makhluk hidup itu sebagai ciptaan, tampaklah kepada iman kehadiran diri yang maknawi dan tertentu dari Zat Yang Mahakuasa, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Mengetahui, lagi Maha Melihat. Terlebih lagi di balik penciptaan manusia — di antara semua makhluk hidup — kehadiran diri yang maknawi dan suci itu disaksikan dengan sangat nyata melalui rahasia tauhid dan dengan iman. Sebab, dasar-dasar kehadiran diri Yang Ahad itu — yaitu ilmu, kudrat, kehidupan, pendengaran, dan penglihatan — contoh kecilnya ada pada diri manusia, dan dengan contoh-contoh itu manusia menunjuk kepada makna-makna suci tersebut. Sebab, misalnya, Zat yang memberikan mata tentu melihat mata itu, dan melihat pula apa yang dilihat oleh mata — suatu makna yang halus — barulah kemudian Dia memberikannya. Ya, tukang kacamata yang membuat sebuah kacamata untuk matamu tentu melihat lebih dahulu bahwa kacamata itu cocok bagi mata, barulah ia membuatnya. Demikian pula Zat yang memberikan telinga, sudah pasti Dia mendengar apa yang didengar oleh telinga itu, barulah Dia membuat dan memberikannya. Sifat-sifat yang lain hendaknya dikiaskan kepada hal ini.
Ukiran dan pancaran asma pun ada pada diri manusia, dan dengan semua itu ia bersaksi atas makna-makna yang suci itu. Manusia juga, dengan dirinya yang lemah, tak berdaya, fakir, dan tidak tahu, menjadi cermin dalam bentuk yang lain; ia bersaksi atas kudrat, ilmu, dan kehendak — demikian pula sifat-sifat lain — dari Zat yang mengasihi kelemahan dan kefakirannya serta memberinya pertolongan. Maka, karena di ujung lingkaran kemajemukan dan pada juz'iyat yang paling tersebar seribu satu asma Ilahi terpusat dengan rahasia keesaan di dalam surat-surat mungil yang bernama makhluk hidup sehingga dapat dibaca dengan terang, Sang Pembuat Yang Hakîm pun memperbanyak salinan makhluk hidup itu. Terlebih lagi Dia memperbanyak salinan kelompok-kelompok kecil dari makhluk hidup itu dalam berbagai macam bentuk, dan menyebarkannya ke segala penjuru.
Yang mengantarkan dan menggiringku kepada hakikat buah pertama ini adalah sebuah rasa yang lahir dari zauk. Yaitu demikian:
Suatu ketika, karena rasa haru yang berlebihan, kasih sayang yang begitu besar, dan perasaan iba di dalam diriku, keadaan makhluk hidup — terutama makhluk berkesadaran di antara mereka, lebih-lebih manusia, dan terlebih lagi orang-orang yang dizalimi serta mereka yang tertimpa musibah — sangat menyentuh rasa haru, kasih sayang, dan hatiku. Di dalam hati aku berkata: "Derita makhluk-makhluk malang yang lemah dan tak berdaya ini tidak didengar oleh hukum-hukum seragam yang berkuasa di alam ini; demikian pula unsur-unsur dan peristiwa-peristiwa yang menyerbu lagi tuli itu pun tidak mendengarnya. Tidak adakah yang mengasihani keadaan mereka yang porak-poranda ini lalu turun tangan mengurus urusan khusus mereka?" — begitulah ruhku menjerit dari lubuk yang paling dalam. Dan hatiku pun berteriak sekuat tenaga: "Tidakkah hamba-hamba yang begitu elok, harta-harta yang begitu berharga, dan sahabat-sahabat yang begitu rindu lagi penuh terima kasih ini memiliki Pemilik, Penguasa, dan Sahabat hakiki yang akan mengurus urusan mereka, menyertai mereka, dan melindungi mereka?"
Adapun jawaban yang memadai, mencukupi, menenangkan, dan memuaskan bagi jeritan ruhku dan tangis hatiku adalah ini: dengan rahasia tauhid, melalui rahasia Al-Qur'an dan cahaya iman, aku mengetahui bahwa Zat Dzul-Jalâl Yang Rahmân lagi Rahîm melimpahkan karunia khusus dan pertolongan istimewa-Nya — di atas segala hukum — kepada hamba-hamba-Nya yang tercinta, yang menangis dan merintih di bawah tekanan hukum-hukum umum dan serbuan berbagai peristiwa; bahwa Dia secara langsung memelihara segala sesuatu dengan rububiyah khusus-Nya; bahwa Dia sendirilah yang mengatur urusan tiap-tiap sesuatu dan Dia sendiri pula yang mendengar keluhan tiap-tiap sesuatu; dan bahwa Dia adalah Pemilik, Penguasa, dan Pelindung hakiki bagi segala sesuatu. Sebagai ganti rasa putus asa yang tak terhingga itu, aku merasakan rasa gembira yang tiada berujung.
Dan setiap makhluk hidup, karena bernisbat kepada Sang Mâlik Dzul-Jalâl yang demikian agung dan karena menjadi milik-Nya, di dalam pandanganku memperoleh arti penting dan
nilai yang berlipat ribuan derajat. Sebab, selama setiap orang berbangga dengan kemuliaan tuannya serta dengan kedudukan dan nama besar pihak yang menjadi sandarannya, lalu memperoleh kehormatan karenanya, maka sudah pasti — tatkala hubungan dan kedudukan sebagai milik Allah ini tersingkap dengan cahaya iman — sebagaimana seekor semut mengalahkan seorang Firaun dengan kekuatan hubungan itu, demikian pula (dengan kemuliaan hubungan itu pula) ia dapat berbangga sebanding dengan kebanggaan seribu firaun yang lalai, yang menyangka dirinya milik dirinya sendiri dan bebas tanpa pemilik, yang berbangga dengan nenek moyangnya dan dengan kerajaan Mesir, namun kebanggaannya padam di pintu kubur. Bahkan seekor lalat pun dapat memperlihatkan kemuliaan nisbatnya di hadapan kebanggaan Namrud — kebanggaan yang berubah menjadi azab dan kehinaan pada saat sakratulmaut — lalu menjadikan kebanggaan Namrud itu tidak bernilai sama sekali.
Maka ayat اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظ۪يمٌ memberitakan bahwa di dalam syirik terdapat kezaliman yang tak terhingga lagi sangat besar. Syirik adalah kejahatan yang merupakan pelanggaran terhadap hak, kemuliaan, dan kehormatan setiap makhluk. Hanya nerakalah yang dapat membersihkannya. BUAH KEDUA TAUHID: Sebagaimana Buah Pertama memandang kepada Zat Yang Mahasuci, Sang Khâliq seluruh kainat, maka Buah Kedua memandang kepada zat kainat dan hakikat dirinya. Ya, dengan rahasia keesaan, segala kesempurnaan kainat menjadi nyata; tugas-tugas mulia segala yang ada menjadi dipahami; hasil penciptaan makhluk-makhluk menjadi tetap dan pasti; nilai ciptaan-ciptaan menjadi diketahui; maksud-maksud Ilahi di alam ini pun terwujud; hikmah penciptaan dan rahasia diadakannya makhluk hidup serta makhluk berkesadaran menjadi tampak; di balik wajah badai membinasakan yang penuh amarah lagi masam di tengah perubahan-perubahan yang mengerikan ini terlihatlah wajah rahmat dan hikmah yang indah dan tersenyum; dan diketahui pula bahwa segala yang ada, yang hilang dalam fana dan sirna, terlebih dahulu meninggalkan banyak wujud sebagai ganti dirinya di alam nyata — seperti hasil-hasilnya, jati dirinya, hakikat dirinya, ruhnya, dan tasbihnya — barulah kemudian ia pergi.
Dan bahwa kainat dari ujung ke ujung adalah kitab Samadani yang sarat makna; bahwa segala yang ada, dari bumi hingga arasy, adalah kumpulan surat-surat Subhani yang sungguh menakjubkan; bahwa seluruh golongan makhluk adalah bala tentara Rabbani yang sangat teratur lagi megah; bahwa seluruh kabilah ciptaan — mulai dari mikroba dan semut sampai badak, sampai elang, sampai bintang-bintang yang beredar — adalah pegawai-pegawai Sang Sultan Azali yang sangat mencintai tugasnya; dan bahwa segala sesuatu, dari sisi kedudukannya sebagai cermin dan nisbatnya kepada Allah, memperoleh nilai berlipat ribuan derajat lebih tinggi daripada nilai dirinya sendiri; demikian pula pertanyaan-pertanyaan bertilsam (rahasia terkunci) yang tak terpecahkan — "Dari mana datangnya arus segala yang ada dan kafilah makhluk ini, ke mana ia akan pergi, untuk apa mereka datang, dan apa yang mereka kerjakan?" — pertanyaan-pertanyaan itu
maknanya pun tersingkap baginya: semua itu hanyalah dan semata-mata terjadi dengan rahasia tauhid. Jika tidak demikian, segala kesempurnaan kainat yang tinggi dan telah disebutkan itu akan padam, dan hakikat-hakikatnya yang mulia lagi suci itu akan berbalik menjadi lawannya.
Maka justru karena kejahatan syirik dan kufur merupakan pelanggaran terhadap seluruh kesempurnaan kainat, terhadap hak-haknya yang tinggi, dan terhadap hakikat-hakikatnya yang suci, kainat pun murka terhadap orang-orang musyrik dan kafir; langit-langit dan bumi marah kepada mereka; dan unsur-unsur bersepakat untuk membinasakan mereka, lalu mencekik dan menenggelamkan orang-orang musyrik seperti kaum Nabi Nuh alaihissalam, kaum Ad, Tsamud, dan Firaun. Dengan rahasia ayat تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ, neraka pun demikian murka dan berkobar amarahnya terhadap orang-orang musyrik dan kafir sehingga hampir-hampir ia terpecah-belah karenanya. Ya, syirik adalah penghinaan besar dan pelanggaran yang sangat berat terhadap kainat. Dengan mengingkari tugas-tugas suci kainat dan hikmah-hikmah penciptaan, syirik meruntuhkan kemuliaannya. Sebagai contoh, dari ribuan misalnya akan kami tunjukkan satu misal saja.
Misalnya, dengan rahasia keesaan, kainat menjadi laksana satu malaikat raksasa yang berjasad: ia memiliki ratusan ribu kepala sebanyak jenis-jenis makhluk yang ada; pada setiap kepalanya terdapat ratusan ribu mulut sebanyak jumlah individu yang ada di dalam jenis itu; dan pada setiap mulutnya terdapat ratusan ribu lidah sebanyak perangkat, bagian, anggota, dan sel individu itu — dengan seluruh lidah itu ia menyucikan Sang Pembuatnya sambil bertasbih, laksana Israfil, sehingga ia menjadi salah satu keajaiban makhluk yang memiliki maqam tinggi dalam ubudiyah; sementara dengan rahasia tauhid pula ia menjadi ladang yang menumbuhkan hasil melimpah bagi alam-alam akhirat dan persinggahan-persinggahannya, menjadi pabrik yang menyiapkan segala perbekalan bagi tingkatan-tingkatan negeri kebahagiaan dengan hasilnya yang berlimpah seperti amal-amal manusia, dan menjadi alat potret bersinema berwajah seratus ribu yang bekerja tanpa henti untuk memperlihatkan pemandangan-pemandangan abadi yang diambil dari dunia kepada para penonton di alam kekal, khususnya di surga tertinggi. Adapun syirik, ia mengubah malaikat berjasad yang sungguh menakjubkan, sepenuhnya taat, dan hidup itu menjadi kumpulan yang porak-poranda lagi hampa — beku, tanpa ruh, fana, tanpa tugas, binasa, dan tanpa makna — yang terguling-guling di bawah kekacauan berbagai peristiwa, di dalam badai perubahan, dan di dalam gelap pekat tempat segala sesuatu lenyap sama sekali; syirik pula mengubah pabrik yang sungguh ajaib, sangat teratur, dan penuh manfaat ini menjadi sesuatu yang tanpa hasil, tanpa buah, tanpa kerja, terbengkalai, dan kacau-balau: menjadi mainan bagi kebetulan-kebetulan yang tidak sadar, menjadi arena permainan bagi alam yang tuli dan kekuatan yang buta, menjadi rumah duka bagi seluruh makhluk berkesadaran, serta menjadi rumah jagal dan tempat kesedihan bagi seluruh makhluk hidup. Maka dengan rahasia اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظ۪يمٌ, syirik yang hanya satu keburukan itu ternyata menjadi sebab bagi kejahatan yang demikian banyak dan demikian besar
sehingga pelakunya berhak menerima azab yang tak terhingga di dalam neraka. Bagaimanapun juga... Karena penjelasan dan hujah-hujah Buah Kedua ini telah berulang kali dipaparkan di dalam Sirajunnur, kisah yang panjang itu kami ringkaskan.
Yang menggiring dan mengantarkanku kepada Buah Kedua ini adalah sebuah rasa yang menakjubkan dan zauk yang ajaib. Yaitu demikian:
Suatu ketika, tatkala aku menyaksikan musim semi, aku melihat bahwa di permukaan bumi — di dalam perjalanan dan arus yang memperlihatkan ratusan ribu contoh kebangkitan (hasyr) dan penyebaran teragung — segala yang ada, khususnya makhluk-makhluk hidup, dan lebih khusus lagi makhluk-makhluk hidup yang mungil, datang dan pergi silih berganti kafilah demi kafilah, tampak sekejap lalu langsung lenyap; lembaran-lembaran kematian dan sirnanya segala sesuatu di tengah kesibukan dahsyat yang tiada henti itu tampak begitu memilukan bagiku, menyentuh rasa haruku dengan keras, dan membuatku menangis. Setiap kali melihat matinya hewan-hewan mungil yang elok itu, hatiku terasa perih. Sambil berkata, "Aduh, sayang sekali! Ah, sayang sekali!" aku merasakan jeritan ruh yang sangat dalam di balik segala keluh dan rintih itu. Dan kehidupan yang berakhir demikian itu kupandang sebagai azab yang lebih pedih daripada kematian. Selain itu, di alam tumbuhan dan hewan, makhluk-makhluk hidup yang sangat indah, memikat, dan bernilai seni sangat tinggi itu membuka matanya sekejap, memandang taman tamasya kainat ini, lalu pada saat itu juga binasa dan pergi.
Setiap kali menyaksikan keadaan ini, sanubariku terasa ngilu. Aku ingin menangis dan mengadu; hatiku melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang dahsyat kepada perputaran zaman, "Mengapa mereka datang, lalu pergi tanpa pernah berhenti?" Dan setiap kali aku melihat ciptaan-ciptaan mungil ini — yang tampak tanpa guna, tanpa tujuan, tanpa hasil, dan dengan cepat dihukum mati — sesudah diadakan di depan mata kita dalam bentuk yang begitu berharga dengan penuh perhatian, ketelitian, seni, perangkat, tarbiyah, dan pengaturan, lalu dicabik-cabik seperti kain buruk yang tak berarti dan dilemparkan ke dalam gelap pekat kehampaan, seluruh latifah (daya halus dalam diriku) dan perasaanku — yang terpikat kepada segala kesempurnaan, tergila-gila kepada keindahan, dan jatuh cinta kepada segala yang bernilai — menjerit dan berteriak: "Mengapa mereka tidak dikasihani? Tidakkah mereka patut dikasihani? Dari mana datangnya fana dan sirna dalam perputaran yang memusingkan ini sehingga menimpa makhluk-makhluk malang itu?" Pada saat bantahan-bantahan dahsyat terhadap takdir mulai bermunculan karena keadaan-keadaan pedih yang tampak di wajah lahir ketentuan hidup itu, tiba-tiba tauhid datang menolongku dengan cahaya Al-Qur'an, rahasia iman, dan kelembutan Ar-Rahman; ia menerangi segala yang gelap itu, mengubah semua "Ah!" dan "Aduh!"-ku menjadi "Oh!", tangisku menjadi rasa senang, dan ucapan "Sayang sekali!"-ku menjadi "Mâsyâallah, bârakallah"; lalu ia membuatku mengucapkan, "Alhamdulillâhi 'alâ nûril-îmân."
Sebab, dengan rahasia keesaan aku melihat demikian: setiap makhluk, khususnya setiap makhluk hidup, dengan rahasia tauhid memiliki hasil-hasil yang sangat besar dan manfaat-manfaat yang menyeluruh. Di antaranya:
Setiap makhluk hidup — misalnya bunga berhias ini dan lalat pencinta manisan itu — adalah sebuah kasidah mungil bergubahan Ilahi yang sarat makna, yang ditelaah oleh makhluk-makhluk berkesadaran yang tak terhingga jumlahnya dengan kenikmatan yang sempurna. Ia juga merupakan mukjizat kudrat yang sangat berharga dan maklumat hikmah yang memamerkan seni Sang Pembuatnya secara memikat kepada para pengagum yang tiada terhingga banyaknya. Selain itu, tampak di hadapan pandangan Sang Fâthir Dzul-Jalâl yang menyaksikan segala sesuatu — Zat yang berkehendak menyaksikan sendiri seni-Nya, memandang sendiri keindahan fitrah ciptaan-Nya, dan menatap sendiri keelokan pancaran asma-Nya di dalam cermin-cermin mungil — serta menjadi mazhar (tempat tampaknya) bagi pandangan itu, merupakan hasil penciptaan yang sangat tinggi baginya. Dan khidmahnya dengan lima segi kepada tampaknya rububiyah serta menonjolnya segala kesempurnaan Ilahi — yang menuntut adanya kegiatan tak terhingga di dalam kainat (sebagaimana dijelaskan dalam Surat Kedua Puluh Empat) — juga merupakan tugas fitrahnya yang tinggi.
Dan di samping memberikan manfaat-manfaat dan hasil-hasil seperti itu, setiap makhluk hidup — jika ia bernyawa — meninggalkan ruhnya di tempatnya sendiri, di alam nyata ini; meninggalkan rupa dan jati dirinya di dalam ingatan-ingatan yang tak terhingga dan di dalam lembaran-lembaran mahfuz lainnya; meninggalkan hukum-hukum hakikat dirinya dan semacam kehidupan masa depannya di dalam benih-benih dan telur-telur mungilnya; serta meninggalkan segala kesempurnaan dan keindahan yang ia cerminkan di alam gaib dan di lingkaran asma — lalu ia pun sirna di balik sebuah tabir melalui kematian lahiriah yang sesungguhnya bermakna pembebasan tugas dengan penuh suka cita. Aku melihat bahwa hakikatnya ia hanya disembunyikan dari mata duniawi, lalu aku berkata, "Oh, alhamdulillah!"
Ya, keindahan dan kebagusan yang terlihat oleh mata pada seluruh lapisan kainat dan pada segenap jenisnya, yang berakar ke segala arah, yang amat mendasar, sangat kuat, tanpa cacat, dan bercahaya sampai ke puncaknya, sudah pasti menunjukkan bahwa keadaan pertama yang dituntut oleh syirik—keadaan yang sangat buruk, kasar, sangat menjijikkan, dan porak-poranda itu—adalah mustahil dan sekadar khayalan. Sebab, di bawah tirai keindahan yang begitu mendasar, keburukan yang begitu dahsyat tidak dapat disembunyikan dan tidak mungkin ada. Kalau sampai ada, keindahan yang hakiki itu menjadi tidak hakiki, tidak berdasar, rapuh, dan hanya waham belaka. Jadi, syirik tidak memiliki hakikat, jalannya tertutup, ia terperosok di dalam rawa; hukumnya mustahil dan tidak mungkin terjadi. Hakikat iman yang bersifat rasa ini telah dijelaskan secara terperinci dengan burhan-burhan yang pasti di dalam berbagai risalah Sirajunnur, maka di sini kami cukupkan dengan isyarat yang amat singkat ini. BUAH KETIGA: Ia memandang kepada makhluk berkesadaran, terutama kepada manusia. Ya, dengan rahasia kesatuan, manusia dapat menjadi pemilik kesempurnaan yang besar di antara seluruh makhluk
dan menjadi buah kainat yang paling berharga, makhluk yang paling halus dan paling sempurna, makhluk hidup yang paling beruntung dan paling bahagia, serta menjadi pihak yang diajak bicara oleh Sang Khâliq seluruh alam dan menjadi kekasih-Nya. Bahkan seluruh kesempurnaan manusia dan segenap maksud luhur umat manusia terikat kepada tauhid dan menjadi ada berkat rahasia kesatuan. Sebaliknya, jika kesatuan itu tidak ada, manusia menjadi makhluk yang paling celaka, wujud yang paling hina, hewan yang paling malang, dan makhluk berkesadaran yang paling berduka, paling tersiksa, serta paling gundah.
Sebab manusia, di samping memiliki kelemahan yang tanpa akhir, musuh-musuh yang tanpa akhir, kefakiran yang tak terbatas, dan kebutuhan yang tak terbatas, jati dirinya pun dilengkapi dengan sedemikian banyak alat dan perasaan yang beragam sehingga ia merasakan seratus ribu macam derita dan menginginkan kelezatan dalam seratus ribu bentuk sambil mengecapnya. Ia juga memiliki maksud dan keinginan yang sedemikian rupa sehingga zat yang perintahnya tidak berlaku atas seluruh kainat sekaligus tidak akan sanggup memenuhi keinginan itu. Misalnya, di dalam diri manusia terdapat keinginan yang amat kuat untuk kekal selamanya. Maksud manusia ini hanya dapat dipenuhi oleh Zat yang mengatur dan menguasai seluruh kainat bagaikan sebuah istana; Zat yang sanggup menutup pintu dunia dan membuka pintu akhirat dengan cara yang mudah, semudah menutup pintu sebuah kamar lalu membuka pintu kamar yang lain. Umat manusia memiliki ribuan keinginan negatif dan positif yang—seperti keinginan untuk kekal ini—terjulur hingga ke alam yang kekal selamanya dan menyebar ke seluruh penjuru alam; dan Zat yang menyembuhkan dua luka dahsyat manusia, yaitu kelemahan dan kefakirannya, dengan memenuhi semua keinginan itu, hanyalah Zat Yang Ahad yang dengan rahasia kesatuan menggenggam seluruh kainat di dalam genggaman-Nya.
Selain itu, pada manusia terdapat permintaan-permintaan yang amat halus, tersembunyi, dan juz'i yang berkaitan dengan keselamatan dan ketenangan hatinya, serta maksud-maksud yang besar, meliputi segala sesuatu, dan menyeluruh yang menjadi sebab kekalnya ruh dan kebahagiaannya; semua itu hanya dapat dipenuhi oleh Zat yang melihat tirai hati yang paling halus dan tak terlihat, lalu tidak bersikap acuh terhadapnya. Zat yang mendengar suara-suaranya yang paling tersembunyi, tak terdengar, dan amat samar, lalu tidak membiarkannya tanpa jawaban. Zat yang demikian berkuasa sehingga sanggup menundukkan langit-langit dan bumi kepada perintah-Nya laksana dua prajurit yang patuh, lalu mempekerjakan keduanya dalam khidmah yang menyeluruh.
Lagi pula, seluruh perangkat dan perasaan manusia memperoleh nilai yang amat tinggi berkat rahasia kesatuan, dan jatuh sejatuh-jatuhnya oleh syirik dan kekufuran. Misalnya, perangkat manusia yang paling berharga adalah akal. Jika ia berada di atas rahasia tauhid, akal itu menjadi kunci laksana berlian yang membuka perbendaharaan suci Ilahi sekaligus ribuan khazanah kainat. Namun jika ia jatuh ke dalam syirik dan kekufuran, akal itu justru menimbunkan ke atas kepala manusia segala kesedihan pedih dari masa lalu dan segala ketakutan liar dari masa
depan, sehingga ia menjadi alat bencana yang membawa sial dan senantiasa mengusik ketenangan.
Contoh lain, kasih sayang yang merupakan tabiat manusia yang paling halus dan paling manis; jika rahasia tauhid tidak datang menolongnya, ia berubah menjadi rasa terbakar yang dahsyat, sebuah perpisahan, sebuah kepiluan, sebuah musibah yang menurunkan manusia ke derajat yang paling celaka. Seorang ibu yang lalai, yang kehilangan satu-satunya anaknya yang elok untuk selamanya, merasakan rasa terbakar ini dengan sepenuhnya.
Contoh lain, kecintaan yang merupakan perasaan manusia yang paling lezat, paling manis, dan paling berharga; jika rahasia tauhid menolongnya, ia membuat manusia yang mungil ini membesar seluas kainat, melapangkannya, dan menjadikannya sultan yang halus lagi mulia atas segenap makhluk. Namun jika ia jatuh ke dalam syirik dan kekufuran—al-'iyâdzu billâh—ia berubah menjadi musibah sedemikian rupa sehingga setiap menit mencabik-cabik hati manusia yang malang dengan perpisahan abadi dari kekasih-kekasihnya yang tak terhingga, yang terus-menerus binasa dalam sirna dan fana. Hanya saja, hiburan-hiburan yang melalaikan itu untuk sementara mematikan rasa, sehingga secara lahiriah hal itu tidak terasa.
Maka, jika engkau mengiaskan ratusan perangkat dan perasaan manusia kepada tiga contoh ini, engkau akan memahami sejauh mana kesatuan dan tauhid menjadi sumber bagi kesempurnaan manusia. Buah Ketiga ini pun telah dijelaskan dengan uraian yang amat indah dan dengan hujah yang kuat di dalam mungkin dua puluh risalah Sirajunnur, maka di sini kami cukupkan dengan isyarat yang singkat.