Risale-i NurSinar-Sinar

Yang mendorong dan mengantarkan aku kepada buah ini adalah sebuah rasa sebagai berikut:

Sinar-Sinar · hlm. 15

Suatu ketika aku berada di puncak sebuah gunung yang tinggi. Melalui sentakan kesadaran ruhani yang membuyarkan rasa lalai, kubur tampak kepadaku dengan makna yang sepenuhnya, kematian tampak dengan segala ketelanjangannya, dan sirna serta fana tampak dengan lukisan-lukisannya yang membuat air mata bercucuran. Seperti pada setiap orang, cinta fitri untuk kekal selamanya yang ada dalam fitrahku tiba-tiba memberontak terhadap segala yang sirna dan bergolak. Rasa iba terhadap sesama jenis dan kasih sayang terhadap sesama umat manusia yang ada di dalam jati diriku pun memberontak dan bergolak terhadap kubur, karena padam dan binasanya para ahli kesempurnaan serta para nabi, wali, dan asfiya yang termasyhur, yang dengan kecintaan dan penghargaan begitu erat terikat denganku. Lalu aku memandang ke enam arah seraya memohon pertolongan. Aku tidak melihat satu pun hiburan dan satu pun pertolongan. Sebab aku melihat sisi masa lalu sebagai kuburan terbesar, masa depan sebagai tempat yang gelap, arah atas sebagai sesuatu yang dahsyat menakutkan; sedangkan dari arah bawah, kanan, dan kiri aku melihat keadaan-keadaan yang pedih dan menyayat serta serbuan benda-benda berbahaya yang tak terhingga.

Tiba-tiba rahasia tauhid datang menolongku, membuka tirai itu, dan memperlihatkan wajah hakikat yang sebenarnya. Ia berkata: Lihatlah! Mula-mula aku memandang wajah kematian yang paling menakutkanku. Aku melihat bahwa kematian bagi ahli iman adalah sebuah pelepasan tugas;

ajal adalah surat pelepasan tugas itu. Ia adalah pergantian tempat, mukadimah dan pintu bagi kehidupan yang kekal, keluar dari penjara dunia dan terbang menuju taman-taman surga. Ia adalah giliran untuk masuk ke hadirat Ar-Rahmân guna menerima upah khidmahnya, dan sebuah undangan untuk pergi ke negeri kebahagiaan. Karena aku memahaminya dengan pasti seperti itu, aku pun mulai mencintai kematian dan maut.

Kemudian aku memandang sirna dan fana, dan aku melihat bahwa keduanya—laksana layar-layar sinema dan laksana gelembung-gelembung yang mengalir berhadapan dengan matahari—merupakan pembaruan silih berganti dengan bentuk yang serupa, yang mendatangkan kelezatan, sebuah peremajaan. Keduanya juga merupakan sebuah perjalanan yang mengemban tugas, sebuah peredaran, yang datang dari alam gaib menuju alam nyata untuk memperbarui manifestasi-manifestasi Asmaul Husna yang begitu elok dan indah. Dan aku mengetahui dengan yakin bahwa keduanya adalah tampaknya keindahan rububiyah dengan penuh hikmah, dan bahwa segala yang ada menjadi cermin bagi keindahan yang kekal selamanya.

Kemudian aku memandang ke enam arah, dan aku melihat bahwa berkat rahasia tauhid semuanya begitu bercahaya sampai menyilaukan mata. Aku melihat bahwa masa lalu bukanlah kuburan terbesar, melainkan ribuan majelis yang bercahaya dan tempat berkumpulnya para kekasih, ribuan pemandangan yang bercahaya, yang berubah menjadi masa depan. Demikianlah, aku memandang wajah hakiki dari ribuan perkara seperti dua perkara ini, dan aku melihat bahwa semuanya tidak memberikan pengaruh dan keadaan apa pun selain kegembiraan dan syukur.

Zauk dan perasaanku yang berkaitan dengan Buah Ketiga ini telah kujelaskan dengan dalil-dalil juz'i dan menyeluruh di dalam mungkin empat puluh risalah Sirajunnur. Terutama di dalam tiga belas Harapan pada Risalah Orang-Orang Tua, yaitu Lem'a Kedua Puluh Enam, hal itu telah diterangkan sedemikian pasti dan indahnya sehingga tidak ada penjelasan yang melebihinya. Karena itu, kisah yang amat panjang ini kupersingkat sependek-pendeknya pada maqam ini.