Risale-i NurSinar-Sinar

Di sana mereka bertanya kepadaku:

Sinar-Sinar · hlm. 348

Apa pendapatmu tentang republik?

Aku pun berkata: Selain Ketua Mahkamah Eskişehir, kalian semua bahkan belum lahir ke dunia ketika aku sudah menjadi seorang republikan yang taat beragama; riwayat hidupku yang ada di tangan kalian membuktikannya. Saripatinya adalah demikian:

Ketika itu, seperti sekarang, aku sedang berkhalwat di dalam kubah sebuah makam yang sunyi; kepadaku dikirimkan sup. Butiran-butirannya kuberikan kepada semut-semut, sedangkan rotiku kumakan dengan kuahnya. Orang-orang yang mendengarnya bertanya kepadaku, dan aku menjawab: Bangsa semut dan bangsa lebah ini adalah kaum republikan. Karena menghormati kecintaan mereka kepada republik, butiran-butiran itu kuberikan kepada semut-semut. Kemudian mereka berkata: Apakah engkau menyalahi salaf saleh? Aku menjawab: Khulafaur Rasyidin, masing-masing mereka adalah khalifah sekaligus presiden republik. As-Siddiq Al-Akbar radiyallahu anhu tentu berkedudukan sebagai presiden republik bagi Asyarah Mubasysyarah dan bagi para sahabat yang mulia. Namun mereka bukanlah pemimpin republik yang sekadar nama dan bentuk tanpa makna, melainkan pemimpin republik yang bermakna religius, yang mengemban hakikat keadilan dan kebebasan yang sesuai syariat.

Maka wahai jaksa penuntut umum dan para anggota mahkamah! Kalian menuduhku dengan kebalikan dari sebuah pemikiran yang telah ada padaku sejak lima puluh tahun. Jika yang kalian tanyakan adalah republik yang laik, aku tahu bahwa makna laik itu adalah bersikap netral; yakni dengan kaidah kebebasan hati nurani, aku memandangnya sebagai pemerintahan yang — sebagaimana ia tidak mengganggu orang-orang yang tidak beragama dan orang-orang yang berfoya-foya — demikian pula tidak mengganggu orang-orang yang taat beragama dan orang-orang yang bertakwa. Sudah sepuluh tahun — sekarang menjadi dua puluh tahun — aku menarik diri dari hidup berpolitik dan hidup bermasyarakat. Aku tidak tahu keadaan apa yang telah dicapai oleh pemerintahan republik. Aku berlindung kepada Allah! Jika ia telah masuk ke dalam sebuah bentuk yang dahsyat, yaitu membuat dan menerima undang-undang yang — demi kepentingan paham antiagama — menjerat orang-orang yang berjuang untuk iman dan akhiratnya, maka tanpa gentar aku umumkan dan aku peringatkan kepada kalian bahwa:

Sekalipun aku memiliki seribu nyawa, aku siap mengorbankan semuanya untuk iman dan akhiratku. Perbuatlah apa saja yang kalian kehendaki! Kata terakhirku adalah حَسْبُنَا اللّٰهُ وَ نِعْمَ الْوَك۪يلُ; sebagai jawaban atas keputusan kalian menghukumku secara zalim dengan hukuman mati dan hukuman berat, aku berkata:

Dengan tersingkapnya hakikat secara pasti melalui Risale-i Nur, aku bukanlah sedang dihukum mati, melainkan sedang dilepaskan dari tugas lalu berangkat menuju alam cahaya dan alam kebahagiaan; sedangkan kalian, wahai orang-orang celaka yang menindas kami demi kepentingan jalan yang sesat! Karena aku mengetahui dan menyaksikan bahwa kalianlah yang dijatuhi hukuman mati abadi dan kurungan sendirian yang kekal, maka setelah balasanku terhadap kalian terambil dengan sempurna, aku siap menyerahkan ruhku dengan hati yang sepenuhnya tenang!