HAKIKAT KEDUA
Sinar-Sinar · hlm. 198
yang dilihat musafir kita di persinggahan ketiga adalah HAKIKAT "RAHMANIYAH". Yakni: dengan mata kepala kita menyaksikan bahwa ada Zat yang telah memenuhi permukaan bumi ini bagi kita dengan ribuan hadiah rahmat lalu menjadikannya tempat jamuan; menjadikannya pula sebuah hidangan yang di atasnya tersusun ratusan ribu makanan lezat yang berbeda-beda dari rahmaniyah-Nya; dan menjadikan perut bumi sebagai gudang yang menghimpun ribuan pemberian berharga dari rahimiyah dan hakimiyah-Nya.
Dan Dia mengirimkan bumi kepada kita dalam perputaran tahunannya laksana sebuah kapal dagang — semacam bahtera atau kereta api yang setiap tahun mengangkut dari alam gaib sebaik-baik dari seratus ribu macam perbekalan manusia dan kehidupan — sedangkan setiap musim semi laksana sebuah gerbong yang mengangkut rezeki dan pakaian kita. Dia memelihara kita dengan penuh kasih sayang. Dan agar kita dapat mengambil manfaat dari semua hadiah dan nikmat itu, Dia pun memberi kita ratusan bahkan ribuan selera, kebutuhan, perasaan, getaran rasa, dan indra.
Ya, sebagaimana telah dijelaskan dan dibuktikan di dalam Sinar Keempat yang membahas Ayat Hasbiyah, Dia telah memberi kita sebuah perut yang dapat merasakan lezatnya makanan yang tak terhingga.
Dan Dia telah menganugerahkan sebuah kehidupan yang dengan indra-indranya — laksana hidangan nikmat — dapat mengambil manfaat dari nikmat-nikmat-Nya yang tak terhingga di dalam alam jasmani yang luas ini.
Dan Dia telah menganugerahkan kepada kita sebuah kemanusiaan yang dengan banyak perangkatnya — seperti akal dan kalbu — dapat merasakan zauk dari hadiah-hadiah yang tak berhingga, baik dari alam materi maupun alam maknawi.
Dan Dia telah memberitahukan kepada kita sebuah keislaman yang dapat mengambil cahaya dari khazanah alam gaib dan alam nyata yang tak berhingga.
Dan Dia telah menganugerahkan hidayah berupa sebuah iman yang menjadi bercahaya dan mengambil manfaat dari cahaya-cahaya serta hadiah-hadiah alam dunia dan alam akhirat yang tak terhitung banyaknya.
Seolah-olah kainat ini adalah sebuah istana yang dihiasi oleh rahmat dengan benda-benda antik, menakjubkan, lagi berharga yang tak terhingga. Dan kunci-kunci yang akan membuka peti-peti serta kamar-kamar yang tak terhingga di dalam istana itu telah diserahkan ke tangan manusia; sedangkan kebutuhan dan perasaan yang akan membuat manusia dapat mengambil manfaat dari semuanya telah ditanamkan pada fitrah manusia.
Maka rahmat yang meliputi dunia, akhirat, dan segala sesuatu seperti ini, sudah pasti merupakan manifestasi ahadiyah di dalam wâhidiyah.
Yakni: sebagaimana cahaya matahari menjadi contoh bagi wâhidiyah karena ia meliputi segala sesuatu yang berhadapan dengannya, demikian pula setiap benda yang mengilap dan bening menjadi contoh bagi ahadiyah karena — sesuai dengan kemampuannya — ia menerima cahaya matahari, panasnya, tujuh warna yang ada di dalam cahayanya, sekaligus bayangan gambarnya; maka sudah pasti orang yang melihat cahaya yang meliputi itu akan memutuskan bahwa matahari bumi ini wâhid, satu-satunya. Dan orang yang menyaksikan pantulan matahari yang bercahaya lagi panas pada setiap benda yang mengilap, bahkan pada tetes-tetes air, akan mengetahui ahadiyah matahari, yakni bahwa matahari itu sendiri dengan sifat-sifatnya berada di sisi setiap sesuatu dan di dalam cermin kalbu setiap sesuatu.
Demikian pula, sebagaimana rahmat luas Sang Rahmân Dzul-Jamâl yang meliputi segala sesuatu laksana cahaya menunjukkan wâhidiyah Ar-Rahmân itu dan menunjukkan bahwa Dia tidak memiliki sekutu dari segi mana pun, demikian pula pemberian-Nya kepada setiap individu berupa sebuah kehidupan yang menghimpun — yang membuat setiap individu memandang seluruh kainat dan memiliki kaitan dengannya, sebab di balik tabir rahmat yang menghimpun itu terdapat cahaya-cahaya dari sebagian besar nama Ar-Rahmân dan semacam manifestasi Zat-Nya pada segala sesuatu, khususnya pada setiap makhluk hidup, dan terutama pada manusia — membuktikan ahadiyah Ar-Rahmân itu, dan membuktikan bahwa Dialah yang hadir di sisi segala sesuatu serta Dialah yang mengerjakan segala sesuatu pada segala sesuatu.
Ya, sebagaimana Ar-Rahmân itu memperlihatkan kemegahan jalal-Nya pada keseluruhan kainat dan di permukaan bumi melalui wâhidiyah rahmat-Nya serta cakupan rahmat itu yang meliputi segala sesuatu; demikian pula — dengan manifestasi ahadiyah — Dia menghimpun contoh-contoh seluruh nikmat pada setiap makhluk hidup, khususnya pada manusia, lalu memindahkannya ke dalam alat dan perangkat makhluk hidup itu, menyusunnya dengan rapi, dan memberikan seluruh kainat kepada satu individu itu tanpa terpecah-pecah — dari satu segi seakan-akan kainat itu rumahnya sendiri — dan melalui pemberian itu pun Dia mengumumkan kasih sayang khusus dari jamal-Nya serta memberitahukan terhimpunnya berbagai macam pemberian-Nya pada diri manusia.
Dan lagi, sebagaimana pada setiap biji sebuah melon, misalnya, melon itu terhimpun; dan Zat yang membuat biji itu sudah pasti Dialah yang membuat
melon tersebut, lalu dengan timbangan khusus ilmu-Nya dan dengan hukum hikmah-Nya yang khusus bagi biji itu Dia memerah, menghimpun, dan mewujudkan biji itu dari melon tersebut. Dan tidak ada sesuatu pun selain pembuat melon itu yang tunggal lagi wâhid yang dapat membuat biji tersebut; bahkan mustahil ia membuatnya.
Demikian pula, karena dengan tajalli rahmaniyah kainat ini laksana sebuah pohon dan sebuah kebun, bumi laksana sebuah buah dan sebuah melon, sedangkan makhluk hidup dan manusia laksana sebuah biji, maka sudah pasti Khâliq dan Rabb bagi makhluk hidup yang paling kecil sekalipun haruslah Khâliq seluruh bumi dan seluruh kainat.