Tertulis di dalam bengkel Lauh Mahfuz hakikat
Sinar-Sinar · hlm. 194
Setiap yang ada di alam ini adalah lafal bermakna yang berwujud nyata.
Dan dengarkanlah: چُو لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ بَرَابَرْ م۪يزَنَنْدْ هَرْ شَىْ دَمَادَمْ جُويَدَنْدْ يَا حَقْ سَرَاسَرْ گُويَدَنْدْ يَا حَىْ نَعَمْ وَ ف۪ى كُلِّ شَىْءٍ لَهُ اٰيَةٌ تَدُلُّ عَلٰى اَنَّهُ وَاحِدٌ — seraya mengucapkan hal itu, nafsunya pun ikut membenarkan bersama hatinya, lalu keduanya berkata, "Benar, benar!"
Maka sebagai isyarat singkat kepada lima hakikat tauhid yang disaksikan tamu dunia dan pengembara kainat pada persinggahan kedua, di dalam bab kedua dari Maqam Pertama, yang berkaitan dengan persinggahan kedua, dikatakan demikian: لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْاَحَدُ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وَحْدَتِه۪ ف۪ى وُجُوبِ وُجُودِه۪ مُشَاهَدَةُ حَق۪يقَةِ الْكِبْرِيَاءِ وَ الْعَظَمَةِ فِى الْكَمَالِ وَ الْاِحَاطَةِ وَ كَذَا مُشَاهَدَةُ حَق۪يقَةِ ظُهُورِ الْاَفْعَالِ بِالْاِطْلَاقِ وَ عَدَمُ النِّهَايَةِ لَا تُقَيِّدُهَا اِلَّا الْاِرَادَةُ وَ الْحِكْمَةُ وَ كَذَا مُشَاهَدَةُ حَق۪يقَةِ ا۪يجَادِ الْمَوْجُودَاتِ بِالْكَثْرَةِ الْمُطْلَقَةِ فِى السُّرْعَةِ الْمُطْلَقَةِ وَ خَلْقُ الْمَخْلُوقَاتِ بِالسُّهُولَةِ الْمُطْلَقَةِ فِى الْاِتْقَانِ الْمُطْلَقِ وَ اِبْدَاعُ الْمَصْنُوعَاتِ بِالْمَبْذُولِيَّةِ الْمُطْلَقَةِ ف۪ى غَايَةِ حُسْنِ الصَّنْعَةِ وَ غُلُوِّ الْقِيْمَةِ وَ كَذَا مُشَاهَدَةُ حَق۪يقَةِ وُجُودِ الْمَوْجُودَاتِ عَلٰى وَجْهِ الْكُلِّ وَ الْكُلِّيَّةِ وَ الْمَعِيَّةِ وَ الْجَامِعِيَّةِ وَ التَّدَاخُلِ وَ الْمُنَاسَبَةِ وَ كَذَا مُشَاهَدَةُ حَق۪يقَةِ الْاِنْتِظَامَاتِ الْعَامَّةِ الْمُنَافِيَةِ لِلشِّرْكَةِ وَ كَذَا مُشَاهَدَةُ وَحْدَةِ مَدَارَاتِ تَدَاب۪يرِ الْكَائِنَاتِ الدَّالَّةِ عَلٰى وَحْدَةِ صَانِعِهَا بِالْبَدَاهَةِ وَ كَذَا وَحْدَةُ الْاَسْمَاءِ وَ الْاَفْعَالِ الْمُتَصَرِّفَةِ الْمُح۪يطَةِ وَ كَذَا وَحْدَةُ الْعَنَاصِرِ وَ الْاَنْوَاعِ الْمُنْتَشِرَةِ الْمُسْتَوْلِيَةِ عَلٰى وَجْهِ الْاَرْضِ
Kemudian, ketika pengembara alam itu berkeliling menyusuri abad demi abad, ia bertemu dengan madrasah Imam Rabbani Ahmad al-Faruqi, sang mujaddid seribu tahun kedua; ia pun masuk dan mendengarkan beliau. Imam itu berkata ketika sedang memberikan pelajaran:
"Hasil yang paling penting dari seluruh tarekat adalah tersingkapnya hakikat-hakikat iman." Dan, "Tersingkapnya satu persoalan iman saja dengan jelas itu lebih utama daripada seribu karamah dan zauk." Beliau juga berkata:
Pada zaman dahulu para tokoh besar telah berkata: "Akan datang seseorang dari kalangan mutakallimin dan ulama ilmu kalam yang akan membuktikan seluruh hakikat iman dan Islam dengan dalil-dalil akal secara sangat jelas." Aku ingin sekali seandainya akulah orang itu; barangkali {(Catatan kaki): Zaman telah membuktikan bahwa orang itu bukanlah seorang manusia, melainkan Risale-i Nur. Barangkali para ahli kasyaf menyaksikan Risale-i Nur di dalam kasyaf mereka dalam rupa penerjemah dan penyebarnya yang tidak berarti itu, lalu mereka mengatakan "seorang manusia".} akulah orang itu — demikianlah ia berkata; dan ia mengajarkan bahwa iman dan tauhid adalah asas, ragi, cahaya, dan kehidupan bagi seluruh kesempurnaan manusia; bahwa kaidah تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ berkaitan dengan tafakur imani; dan bahwa pentingnya zikir khafi dalam tarekat Naqsyabandi adalah karena zikir itu merupakan salah satu jenis dari tafakur yang sangat berharga ini.
Sang pengembara mendengar seluruhnya. Ia pun berpaling dan berkata kepada nafsunya: Selama imam yang perkasa ini berkata demikian; dan selama bertambahnya kekuatan iman walau sebesar zarah lebih berharga daripada makrifat dan kesempurnaan seberat satu batman, serta lebih manis daripada madu seratus zauk; dan selama bantahan dan keraguan para filsuf Eropa yang menumpuk sejak seribu tahun terhadap iman dan Al-Qur'an kini menemukan jalan lalu menyerang ahli iman; dan selama mereka hendak mengguncang rukun-rukun iman yang menjadi kunci, sumber, dan asas bagi kebahagiaan abadi, kehidupan yang kekal selamanya, serta surga yang abadi — maka sudah pasti sebelum segala sesuatu kita harus mengubah iman kita dari taklid menjadi tahkik lalu menguatkannya.
Kalau begitu, mari maju! Ayo, dengan niat menyampaikan dua puluh sembilan tingkatan iman yang telah kita temukan — yang masing-masing sekuat sebuah gunung — kepada tiga puluh tiga tingkatan, yaitu bilangan mubarak dari tasbih salat yang mubarak, dan untuk melihat satu persinggahan ketiga lagi dari tempat ibrah ini, kita harus mengetuk dan membuka pintu pengaturan dan pemberian rezeki Rabbani di alam makhluk hidup dengan kunci Bismillâhirrahmânirrahîm — demikianlah ia berkata, lalu dengan penuh permohonan ia mengetuk pintu persinggahan ketiga ini, yang merupakan himpunan hal-hal menakjubkan dan kumpulan keajaiban, dan membukanya dengan Bismillâhil-Fattâh. Maka tampaklah persinggahan ketiga itu.
Ia masuk dan melihat bahwa empat hakikat yang agung lagi meliputi segala sesuatu menerangi persinggahan itu dan menunjukkan tauhid laksana matahari. HAKIKAT PERTAMA: HAKIKAT "FATTAHIYAH". Yakni: dengan tajalli (pancaran) nama Al-Fattâh, terbukanya bentuk-bentuk teratur yang tak terhingga, yang satu berbeda dari yang lain dan bermacam-macam jenisnya, dari satu materi yang sederhana — secara bersama-sama, di segala penjuru, dalam satu waktu, dan dengan satu perbuatan. Ya, sebagaimana di taman seluruh kainat kudrat Sang Fâthir telah membuka dan memberikan kepada setiap satu dari makhluk yang tak terhingga lagi berbeda-beda — laksana bunga-bunga — sebuah bentuk teratur yang sesuai dengannya dan sebuah pribadi yang istimewa, dengan nama Al-Fattâh; demikian pula — bahkan dengan cara yang lebih menakjubkan — di kebun bumi ini Dia telah memberikan kepada masing-masing dari empat ratus ribu jenis makhluk hidup sebuah bentuk yang seimbang, berhias, lagi istimewa, yang sangat penuh seni dan hikmah. يَخْلُقُكُمْ ف۪ى بُطُونِ اُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ ف۪ى ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لَٓا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَاَنَّا تُصْرَفُونَ ٭ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَىْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَٓاءِ ٭ هُوَ الَّذ۪ى يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَٓاءُ لَٓا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ Sebagaimana dinyatakan oleh ayat-ayat ini, dalil tauhid yang paling kuat dan mukjizat kudrat yang paling mengherankan adalah dibukanya bentuk-bentuk. Berdasarkan hikmah ini, karena hakikat pembukaan bentuk telah berulang kali — dalam beberapa bentuk penyampaian — dibuktikan dan dijelaskan di dalam Risale-i Nur, khususnya pada tingkatan keenam dan ketujuh dalam Bab Pertama dari Maqam Kedua risalah ini, maka kami serahkan pembahasannya kepada tempat-tempat itu, dan di sini kami hanya mengatakan sebanyak ini:
Dengan kesaksian ilmu tumbuhan dan ilmu hewan serta penelitian mendalam keduanya, pada pembukaan bentuk-bentuk ini terdapat cakupan, keluasan, dan seni sedemikian rupa sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat memiliki perbuatan yang menghimpun lagi meliputi segala sesuatu ini, selain Zat Yang Wâhid lagi Ahad dan selain Sang Qadîr Mutlak yang dapat melihat dan melakukan segala sesuatu pada segala sesuatu. Sebab perbuatan membuka bentuk-bentuk ini menuntut hikmah, ketelitian, dan cakupan pada tingkat yang tak terhingga di dalam kudrat yang tak berhingga, yang hadir di setiap tempat dan pada setiap saat. Adapun kudrat semacam itu hanya dapat berada pada satu Zat tunggal yang mengatur seluruh kainat.
Ya, misalnya — sebagaimana difirmankan oleh ayat-ayat yang telah disebutkan itu — membuka dan menciptakan bentuk-bentuk manusia di dalam rahim semua ibu, di tengah tiga lapis gelap, satu per satu
secara berbeda-beda, seimbang, istimewa, berhias, dan teratur, tanpa bingung, tanpa keliru, dan tanpa tertukar, dari satu materi yang sederhana — itulah hakikat fattahiyah; dan hakikat pembukaan bentuk yang meliputi seluruh manusia, hewan, dan tumbuhan di segenap permukaan bumi dengan kudrat yang sama, hikmah yang sama, dan seni yang sama, merupakan burhan yang paling kuat bagi keesaan Allah. Sebab meliputi segala sesuatu itu adalah kesatuan, dan ia tidak menyisakan tempat bagi syirik.
Dan sebagaimana sembilan belas hakikat yang bersaksi atas wujud yang wajib ada di dalam Bab Pertama menunjukkan wujud Sang Khâliq melalui keberadaan mereka, demikian pula mereka bersaksi atas kesatuan melalui cakupan mereka yang meliputi segala sesuatu.