HAKIKAT KELIMA
Sinar-Sinar · hlm. 191
yang dilihat pengembara kita pada persinggahan kedua: Adanya keteraturan yang paling sempurna pada keseluruhan kainat, pada rukun-rukunnya, pada bagian-bagiannya, dan pada setiap yang ada di dalamnya; dan bahwa materi-materi serta para petugas yang menjadi sebab berputar dan teraturnya negeri yang luas itu, yang berkaitan dengan keseluruhannya, masing-masing adalah satu; dan
bahwa asma dan perbuatan yang melakukan tasarruf di dalam kota dan balai pameran yang megah itu berada di dalam satu sama lain, masing-masing satu, memiliki satu hakikat diri, bersifat wâhid, dan di setiap tempat merupakan nama yang sama dan perbuatan yang sama, namun sekaligus meliputi dan mencakup segala sesuatu atau sebagian besar sesuatu; dan bahwa unsur-unsur serta jenis-jenis yang menjadi sebab teraturnya, ramainya, dan terbangunnya istana yang berhias itu berada di dalam satu sama lain, masing-masing satu, memiliki satu hakikat diri yang sama, dan di setiap tempat merupakan unsur yang sama dan jenis yang sama, namun sekaligus menyebar sehingga meliputi wajah bumi dan sebagian besarnya — semua itu pastilah dengan sangat nyata dan secara pasti mengharuskan, menunjukkan, bersaksi, dan memperlihatkan bahwa:
Sang Pembuat dan Sang Pengatur kainat ini, Sang Sultan dan Sang Pemelihara negeri ini, serta Sang Pemilik dan Sang Pembangun istana ini adalah satu, tunggal, Wâhid, dan Ahad. Tiada yang menyamai dan menyerupai-Nya, serta tiada wazir dan penolong bagi-Nya. Tiada sekutu dan lawan bagi-Nya, serta tiada kelemahan dan cacat pada-Nya.
Ya, keteraturan itu adalah satu kesatuan yang sempurna; ia menuntut satu penata saja. Ia tidak menerima syirik yang menjadi sumber pertikaian.
Karena pada setiap sesuatu — baik yang menyeluruh maupun yang juz'i — terdapat keteraturan yang penuh hikmah lagi penuh ketelitian, mulai dari kainat ini secara keseluruhan dan perputaran bumi setiap hari dan setiap tahun sampai kepada wajah manusia, susunan indra pada kepalanya, serta perputaran dan aliran butir-butir darah putih dan merah di dalam darahnya; maka pastilah tidak ada satu pun selain Sang Qadîr Mutlak dan Sang Hakîm Mutlak yang dapat mengulurkan tangannya kepada sesuatu dan mencampurinya dengan maksud dan penciptaan. Semuanya hanya menerima saja, menjadi mazhar dan menjadi yang dikenai perbuatan.
Dan karena menata, terlebih lagi mengejar berbagai tujuan dan memberikan keteraturan dengan memperhatikan berbagai kebaikan, hanya terjadi dengan ilmu dan hikmah serta hanya dikerjakan dengan iradah dan pilihan; maka pastilah dan sudah semestinya keteraturan yang memelihara hikmah ini, serta keteraturan makhluk yang tak terhingga dan bermacam-macam ragamnya lagi penuh memperhatikan kebaikan yang ada di depan mata kita ini, menunjukkan dan bersaksi dengan sangat nyata bahwa Khâliq dan Sang Pengatur segala yang ada ini adalah satu, Dia Yang berbuat, dan Dia Yang berkehendak lagi memilih. Segala sesuatu terwujud dengan kudrat-Nya, mengambil satu keadaan yang khusus dengan iradah-Nya, dan mengenakan satu bentuk yang teratur dengan pilihan-Nya.
Dan karena lampu berpemanas di rumah penginapan dunia ini satu, pelita berpenanggalannya satu, spons rahmatnya satu, juru masaknya yang berapi satu, sirup kehidupannya satu, dan ladang pelindungnya satu... Satu, satu, satu... Sampai sebanyak seribu satu "satu"; maka pastilah "satu-satu" ini bersaksi dengan sangat nyata bahwa Sang Pembuat dan Sang Pemilik rumah penginapan ini adalah satu. Dia juga amat mulia lagi amat memuliakan tamu, sehingga para pegawai-Nya yang tinggi dan besar ini Dia jadikan pelayan bagi para pengembara yang hidup dan Dia pekerjakan demi istirahat mereka.
Dan karena asma seperti "Hakîm, Rahîm, Musawwir, Mudabbir, Muhyî, Murabbi" — yang melakukan tasarruf di seluruh penjuru dunia dan yang ukiran serta manifestasinya terlihat — dan sifat-sifat asali seperti "hikmah, rahmat, dan inayah", serta perbuatan seperti "membentuk rupa, mengatur perputaran, dan mendidik" itu satu adanya. Di setiap tempat, nama yang sama dan perbuatan yang sama itu berada di dalam satu sama lain, berada pada tingkatan yang paling tinggi, sekaligus meliputi segalanya. Keduanya pun saling menyempurnakan ukiran satu sama lain sedemikian rupa sehingga seakan-akan asma dan perbuatan itu bersatu, lalu kudrat menjadi hikmah dan rahmat itu sendiri, dan hikmah menjadi inayah dan kehidupan itu sendiri.
Misalnya, pada saat tampak tasarruf nama Yang Memberi Hidup pada sesuatu, pada saat itu juga tampak tasarruf banyak nama lain seperti Yang Menciptakan, Yang Membentuk Rupa, dan Yang Memberi Rezeki, di setiap tempat dan dengan cara yang sama. Maka pastilah, sungguh pastilah, dan dengan sangat nyata hal itu bersaksi bahwa musamma dari asma yang meliputi itu dan pelaku dari perbuatan-perbuatan menyeluruh yang tampak dengan cara yang sama di setiap tempat adalah satu, tunggal, Wâhid, dan Ahad. Âmannâ wa saddaqnâ!
Dan karena unsur-unsur yang menjadi materi dan bahan dasar bagi ciptaan-ciptaan itu meliputi bumi; dan karena jenis-jenis makhluk yang membawa berbagai macam cap yang menunjukkan kesatuan itu, meskipun masing-masing satu, menyebar dan menguasai wajah bumi; maka pastilah hal itu membuktikan dengan sangat nyata bahwa unsur-unsur itu beserta segala isinya dan jenis-jenis itu beserta satuan-satuannya adalah harta dan milik satu Zat saja. Dan semuanya adalah ciptaan serta pelayan Zat Yang Wâhid lagi Qadîr, yang mempekerjakan unsur-unsur penguasa yang amat besar itu sebagai pelayan yang amat taat, dan jenis-jenis yang tersebar ke seluruh penjuru bumi itu sebagai prajurit yang amat teratur.
Karena hakikat ini pun telah dibuktikan dan dijelaskan di dalam Risale-i Nur, di sini kami mencukupkan diri dengan isyarat singkat ini. Maka pengembara kita, dengan kegembiraan limpahan karunia iman dan zauk tauhid yang ia peroleh dari lima hakikat ini, meringkas segala yang disaksikannya menjadi saripati dan menerjemahkan segala yang dirasakannya, lalu berkata kepada hatinya: