Risale-i NurSinar-Sinar

Tentang Burhan-Burhan Tauhid

Sinar-Sinar · hlm. 175

Musafir dunia — yang dikirim ke dunia untuk beriman, yang mengembara dengan pikirannya di seluruh kainat, yang menanyakan Khâliq-nya kepada segala sesuatu, yang mencari Rabb-nya di setiap tempat, dan yang menemukan Ilah-nya pada sisi wujud yang wajib ada sampai derajat haqqul yakin — berkata kepada akalnya sendiri: "Mari, kita kembali pergi bersama dalam sebuah pengembaraan untuk menyaksikan burhan-burhan kesatuan Khâliq kita Yang Wâjibul Wujûd."

Keduanya pun pergi bersama. Pada persinggahan pertama keduanya melihat bahwa empat hakikat suci yang menguasai kainat menuntut dan mengharuskan kesatuan sampai tingkat yang sangat nyata. HAKIKAT PERTAMA: "KEILAHIAN YANG MUTLAK".

Ya, setiap golongan umat manusia sibuk dengan satu macam ibadah seakan-akan secara fitri; khidmah fitri makhluk hidup lainnya, bahkan benda-benda mati sekalipun, berkedudukan sebagai satu macam ibadah; setiap nikmat dan pemberian di kainat ini, baik yang lahir maupun yang batin, menjadi sarana bagi penyembahan dan syukur kepada Zat Yang berhak disembah, yang membuat hamba memuji dan beribadah; dan seluruh percikan gaib serta segala yang tampak secara maknawi, seperti wahyu dan ilham, mengumumkan bahwa hanya satu Ilah sajalah yang berhak disembah. Maka sudah pasti dan dengan sangat nyata semuanya membuktikan nyatanya keilahian yang mutlak dan bahwa keilahian itulah yang berkuasa memerintah.

Selama hakikat keilahian semacam ini ada, sudah pasti ia tidak dapat menerima sekutu. Sebab, yang membalas keilahian — yakni hak untuk disembah — dengan syukur dan ibadah adalah buah-buah berkesadaran yang berada di ujung-ujung terjauh pohon kainat. Adapun pihak lain yang menyenangkan makhluk berkesadaran itu dan membuat mereka merasa berutang budi lalu memalingkan wajah mereka kepada dirinya, serta membuat mereka melupakan Ma'bûd hakiki mereka — yang karena tidak terlihat mudah dilupakan — maka hal itu adalah pertentangan terhadap

hakikat diri keilahian dan maksud-maksud sucinya; pertentangan yang sedemikian rupa sehingga keilahian itu sama sekali tidak mengizinkannya.

Dari segi inilah Al-Qur'an menolak syirik dengan berulang-ulang lagi keras dan mengancam kaum musyrik dengan neraka. HAKIKAT KEDUA: "RUBUBIYAH YANG MUTLAK".

Ya, tasarruf menyeluruh yang berlangsung di seluruh kainat, khususnya pada makhluk hidup, terlebih dalam pemeliharaan dan pemberian rezeki mereka — yang terjadi di segala penjuru dengan cara yang sama dan dengan bentuk yang tak terduga, secara bersamaan dan saling terpadu, oleh sebuah tangan gaib yang penuh hikmah lagi penuh kasih sayang — sudah pasti merupakan percikan dan cahaya dari rububiyah yang mutlak serta burhan yang pasti atas nyatanya rububiyah itu.

Selama rububiyah yang mutlak itu ada, sudah pasti ia tidak menerima syirik dan sekutu. Sebab, maksud dan tujuan terpenting rububiyah itu — seperti menampakkan keindahan-Nya, mengumumkan kesempurnaan-Nya, memamerkan seni-seni-Nya yang berharga, dan memperlihatkan keahlian-keahlian-Nya yang tersembunyi — terpusat dan berkumpul pada juz'iyat dan pada makhluk hidup; maka syirik yang ikut campur dengan kekuatannya sendiri terhadap sesuatu yang paling kecil dan terhadap makhluk hidup yang paling remeh akan merusak tujuan-tujuan itu dan menghancurkan maksud-maksud itu. Dan karena syirik memalingkan wajah makhluk berkesadaran dari tujuan-tujuan itu dan dari Zat yang menghendaki tujuan-tujuan itu, lalu melemparkan mereka kepada sebab-sebab; dan karena keadaan ini sama sekali bertentangan dengan hakikat diri rububiyah, bahkan memusuhinya — maka sudah pasti rububiyah yang mutlak semacam ini tidak mengizinkan syirik dari segi mana pun.

Betapa banyak Al-Qur'an menyucikan Allah dan bertasbih kepada-Nya, dan betapa terus-menerus ia membimbing kepada tauhid dengan ayat-ayat dan kalimat-kalimatnya, bahkan dengan huruf-huruf dan bentuk susunannya; semua itu bersumber dari rahasia yang agung ini. HAKIKAT KETIGA: "KESEMPURNAAN-KESEMPURNAAN".

Ya, seluruh hikmah yang tinggi, keindahan yang menakjubkan, hukum-hukum yang adil, dan tujuan-tujuan yang penuh hikmah di kainat ini dengan sangat nyata menunjukkan adanya hakikat kesempurnaan; dan sungguh sangat terang kesaksiannya atas kesempurnaan Sang Khâliq — yang mengadakan kainat ini dari tiada dan mengelolanya dari segala sisi dalam bentuk yang penuh mukjizat lagi indah — serta atas kesempurnaan manusia yang menjadi cermin berkesadaran bagi Khâliq itu.

Selama hakikat kesempurnaan itu ada. Dan selama kesempurnaan Sang Khâliq yang mengadakan kainat di dalam kesempurnaan itu pasti adanya. Dan selama kesempurnaan manusia — buah kainat yang paling penting, khalifah di bumi, ciptaan Sang Khâliq yang paling utama sekaligus yang paling Dia cintai — adalah benar lagi berhakikat.

Maka sudah pasti syirik itu tidak mungkin ada dan tidak berhakikat; yaitu syirik yang mengubah kainat yang penuh kesempurnaan dan hikmah, yang kita saksikan dengan mata kita sendiri ini, menjadi sesuatu yang bergulingan menuju fana dan lenyap, menjadi mainan kebetulan tanpa hasil apa pun, menjadi arena permainan alam, menjadi rumah jagal yang zalim bagi makhluk hidup, dan menjadi tempat duka yang mencekam bagi makhluk berkesadaran; yang menurunkan manusia — yang kesempurnaannya tampak dari karya-karyanya — ke derajat hewan yang paling melarat, paling kacau, dan paling rendah; dan yang menutup serta menirai kesempurnaan Sang Khâliq itu — Zat yang memiliki kesempurnaan suci tak terhingga menurut kesaksian seluruh yang ada, yang menjadi cermin bagi kesempurnaan-Nya — lalu membatalkan hasil dari aktivitas dan penciptaan-Nya.

Karena pertentangan syirik terhadap kesempurnaan Ilahi, kesempurnaan manusia, dan kesempurnaan alam ini, serta rusaknya kesempurnaan-kesempurnaan itu oleh syirik, telah dibuktikan dan dijelaskan dengan dalil-dalil yang kuat lagi pasti pada Maqam Pertama Risalah Sinar Kedua yang membahas tiga buah ketauhidan, maka kami menyerahkannya kepada risalah itu dan mencukupkan pembahasan di sini. HAKIKAT KEEMPAT: yaitu "HAKIMIYAH" (kekuasaan yang memerintah).

Ya, siapa yang memandang kainat ini dengan perhatian yang luas akan melihatnya laksana sebuah negeri yang sangat megah dan sangat penuh aktivitas, bahkan laksana sebuah kota yang pengaturannya sangat penuh hikmah dan hakimiyahnya sangat kuat; ia akan mendapati segala sesuatu dan setiap jenis makhluk sibuk menunaikan tugasnya masing-masing dalam keadaan tunduk dan ditundukkan. Menurut perumpamaan ayat وَ لِلّٰهِ جُنُودُ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضِ yang membuat terasa makna keprajuritan: dari bala tentara Rabbani — mulai dari pasukan zarah, resimen tumbuhan, dan batalion hewan hingga pasukan bintang-bintang — pada petugas-petugas yang amat kecil dan pada prajurit-prajurit yang amat besar itu berlakunya perintah-perintah penciptaan yang bersifat menguasai, ketetapan-ketetapan yang bersifat memerintah, dan undang-undang yang bersifat rajawi, dengan sangat nyata menunjukkan adanya hakimiyah mutlak dan kekuasaan memerintah yang menyeluruh.

Selama hakikat hakimiyah mutlak itu ada, maka sudah pasti syirik tidak mungkin memiliki hakikat. Karena, menurut hakikat pasti dari ayat لَوْ كَانَ ف۪يهِمَٓا اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَفَسَدَتَا, apabila banyak tangan turut campur secara sewenang-wenang dalam satu urusan, mereka pasti mengacaukannya. Jika dalam satu negeri ada dua raja, bahkan jika dalam satu kecamatan ada dua orang kepala, keteraturan pun rusak dan pemerintahan menjadi kacau balau. Padahal, mulai dari sayap seekor lalat hingga pelita-pelita langit, dan dari sel-sel tubuh hingga buruj tempat beredarnya planet-planet, terdapat keteraturan sedemikian rupa sehingga campur tangan syirik sebesar zarah pun tidak mungkin ada.

Lagi pula, hakimiyah adalah kedudukan kemuliaan; menerima adanya saingan akan meruntuhkan kemuliaan hakimiyah itu. Ya, manusia yang karena kelemahannya membutuhkan banyak penolong itu,

demi hakimiyah yang juz'i (yang hanya sebagian), lahiriah, lagi sementara, tega membunuh saudara dan anaknya sendiri secara zalim; hal ini menunjukkan bahwa hakimiyah tidak menerima saingan. Jika seorang yang demikian lemah berbuat sedemikian rupa demi hakimiyah yang juz'i, maka sudah pasti sekali-kali tidak mungkin Sang Qadîr Mutlak, pemilik seluruh kainat, menyekutukan yang lain dalam hakimiyah-Nya yang suci — yang menjadi sumber bagi rububiyah dan keilahian-Nya yang hakiki lagi menyeluruh — dan tidak mungkin pula Dia memberi izin kepada sekutu, dengan cara apa pun.

Karena hakikat ini telah dibuktikan dengan dalil-dalil yang kuat pada Maqam Kedua dari Sinar Kedua dan di banyak tempat dalam Risale-i Nur, maka kami menyerahkan pembahasannya kepada bagian-bagian tersebut.

Maka dengan menyaksikan empat hakikat ini, pengembara kita mengetahui keesaan Allah pada derajat menyaksikan langsung, dan imannya pun berkilau. Dengan segenap kekuatannya ia mengucapkan لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَر۪يكَ لَهُٔ. Dan sebagai isyarat singkat kepada pelajaran yang diperolehnya dari persinggahan ini, pada bab kedua dari Maqam Pertama telah dikatakan: لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْاَحَدُ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وَحْدَانِيَّتِه۪ وَ وُجُوبِ وُجُودِه۪ مُشَاهَدَةُ عَظَمَةِ حَق۪يقَةِ تَبَارُزِ الْاُلُوهِيَّةِ الْمُطْلَقَةِ وَ كَذَا مُشَاهَدَةُ عَظَمَةِ اِحَاطَةِ حَق۪يقَةِ تَظَاهُرِ الرُّبُوبِيَّةِ الْمُطْلَقَةِ الْمُقْتَضِيَّةِ لِلْوَحْدَةِ وَ كَذَا مُشَاهَدَةُ عَظَمَةِ اِحَاطَةِ حَق۪يقَةِ الْكَمَالَاتِ النَّاشِئَةِ مِنَ الْوَحْدَةِ وَ كَذَا مُشَاهَدَةُ عَظَمَةِ اِحَاطَةِ حَق۪يقَةِ الْحَاكِمِيَّةِ الْمُطْلَقَةِ الْمَانِعَةِ وَ الْمُنَافِيَةِ لِلشِّرْكَةِ

Kemudian tamu yang tak pernah diam itu berkata kepada hatinya: Ahli iman, terutama ahli tarekat, senantiasa mengulang-ulang ucapan لَا اِلٰهَ اِلَّاهُوَ, mengenang dan memaklumkan tauhid; hal itu menunjukkan bahwa tauhid memiliki tingkatan yang amat banyak. Lagi pula, tauhid adalah tugas suci yang paling penting, paling manis, dan paling tinggi; ia adalah kewajiban fitrah dan ibadah keimanan. Kalau begitu, marilah, untuk menemukan satu tingkatan lagi, kita buka pula pintu persinggahan lain dari rumah ibrah ini.

Karena tauhid hakiki yang kita cari bukanlah makrifat yang hanya sebatas gambaran (tasawwur). Melainkan ia adalah pembenaran — yang dalam ilmu mantik menjadi lawan dari tasawwur, yang jauh lebih berharga daripada makrifat yang hanya berupa gambaran, yang merupakan hasil dari burhan, dan yang disebut ilmu.

Dan tauhid hakiki adalah ketetapan, pembenaran, keyakinan yang mantap, dan sikap menerima yang sedemikian rupa sehingga dengan setiap sesuatu ia dapat menemukan Rabb-nya, pada segala sesuatu ia melihat sebuah jalan yang menuju kepada Khâliq-nya, dan tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya untuk hadir di hadirat-Nya. Kalau tidak demikian, untuk menemukan Rabb-nya ia harus merobek dan menyingkap tabir kainat setiap saat. "Kalau begitu, mari maju!" katanya, lalu ia mengetuk pintu kebesaran dan keagungan. Ia memasuki persinggahan perbuatan dan karya, serta alam penciptaan dan pengadaan dari tiada; lalu ia melihat bahwa lima hakikat yang meliputi segala sesuatu, yang telah menguasai kainat, sedang memerintah dan dengan sangat nyata membuktikan tauhid. YANG PERTAMA: yaitu hakikat kebesaran dan keagungan. Karena hakikat ini telah dijelaskan dengan burhan-burhan pada Maqam Kedua dari Sinar Kedua dan di berbagai tempat dalam Risale-i Nur, maka di sini kami hanya mengatakan sebatas ini:

Zat yang menciptakan dan menguasai bintang-bintang yang jarak antara satu dengan yang lain ribuan tahun, pada saat yang sama dan dengan cara yang sama; dan yang menciptakan serta menggambar tak terhingga individu dari bunga yang sama, yang berada di timur, barat, selatan, dan utara bumi, pada satu waktu dan dalam satu bentuk…

Dan lagi, Zat yang membuktikan sebuah peristiwa masa lalu yang gaib lagi amat menakjubkan — yaitu peristiwa seperti هُوَ الَّذ۪ى خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضَ ف۪ى سِتَّةِ اَيَّامٍ, yakni menciptakan langit dan bumi dalam enam hari — dengan sebuah peristiwa yang hadir di depan mata; dan sebagai bandingan yang sama menakjubkannya, di muka bumi pada musim semi Dia membangun lebih dari dua ratus ribu golongan tumbuhan dan kabilah hewan dalam lima enam pekan, seakan-akan memperlihatkan lebih dari seratus ribu contoh kebangkitan teragung; lalu dengan keteraturan yang sempurna dan dengan timbangan yang tepat, tanpa tercampur, tanpa kurang, tanpa salah, secara bersamaan dan saling bersisipan, Dia mengatur, memelihara, memberi makan, membedakan, dan menghiasi mereka…

Dan lagi, Zat yang sama itu — yang dengan penjelasan tegas ayat يُولِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَ يُولِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ memutar bumi, menjadikan dan membalik lembaran-lembaran malam dan siang, menuliskannya dengan peristiwa-peristiwa harian lalu menggantinya — pada saat yang sama juga mengetahui lintasan-lintasan hati yang paling tersembunyi dan paling kecil, serta mengaturnya dengan kehendak-Nya.

Dan karena masing-masing perbuatan yang telah disebutkan itu adalah satu perbuatan tunggal, maka pelakunya pun niscaya satu; dan Sang Pelaku Dzul-Jalâl Yang Wâhid lagi Qadîr itu, dengan sangat nyata, memiliki kebesaran dan keagungan sedemikian rupa sehingga di tempat mana pun, pada sesuatu apa pun, dan dari segi mana pun, Dia tidak menyisakan satu pun kemungkinan bagi syirik dan satu pun peluangnya, bahkan Dia memotongnya sampai ke akar.

Selama kebesaran dan keagungan kudrat semacam ini ada, dan selama kebesaran itu berada pada puncak kesempurnaan lagi meliputi segala sesuatu, maka sudah pasti syirik yang menyematkan kelemahan atau

kebutuhan kepada kudrat itu, cacat kepada kebesaran itu, kekurangan kepada kesempurnaan itu, batas kepada apa yang meliputi segala sesuatu itu, dan ujung kepada apa yang tidak berujung itu — sekali-kali tidak mungkin Dia beri peluang dan tidak mungkin Dia izinkan, dengan cara apa pun. Tidak ada satu pun akal yang fitrahnya belum rusak yang dapat menerimanya.

Maka syirik, karena ia menyentuh kebesaran-Nya, melukai kemuliaan jalal-Nya, dan mengusik keagungan-Nya, adalah kejahatan yang sedemikian besar sehingga sama sekali tidak dapat diampuni; dan Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân memfirmankan hal itu dengan ancaman yang dahsyat: اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُشْرَكَ بِه۪ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ. HAKIKAT KEDUA: yaitu tampaknya perbuatan-perbuatan Rabbani, yang tasarrufnya terlihat di kainat, dalam bentuk yang mutlak, meliputi segala sesuatu, dan tak terhingga. Yang mengikat dan membatasi perbuatan-perbuatan itu hanyalah hikmah dan kehendak-Nya serta kemampuan tempat-tempat yang menjadi mazharnya. Adapun kebetulan yang serampangan, alam yang tidak berkesadaran, kekuatan yang buta, sebab-sebab yang mati, dan unsur-unsur yang tanpa ikatan, yang berhamburan ke segala arah lagi mencampuradukkan — semuanya tidak dapat turut campur dalam perbuatan-perbuatan yang demikian tertimbang, penuh hikmah, penuh penglihatan, penuh kehidupan, teratur, lagi kukuh itu; bahkan mereka digunakan sebagai tabir kudrat yang lahiriah dengan perintah, kehendak, dan kekuatan Sang Pelaku Dzul-Jalâl.

Dari contoh-contohnya yang tak terhingga, kami akan menjelaskan tiga contoh: yaitu tiga nukta dari nukta-nukta yang tak terhingga pada tiga perbuatan yang diisyaratkan oleh tiga ayat yang berurutan dalam satu halaman Surah An-Nahl.

YANG PERTAMA: وَ اَوْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذ۪ى مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا اِلٰى اٰخِره

Ya, lebah madu, baik dari segi fitrahnya maupun dari segi tugasnya, adalah mukjizat kudrat yang sedemikian rupa sehingga surah yang besar, yaitu Surah An-Nahl, dinamai dengan namanya. Karena menuliskan program yang sempurna bagi tugasnya yang amat penting itu di dalam kepalanya yang sekecil zarah; meletakkan dan memasak makanan yang paling manis di dalam perutnya yang mungil; serta menempatkan racun yang berkhasiat merusak dan mematikan anggota tubuh makhluk hidup di dalam sengatnya yang kecil itu tanpa membahayakan anggota tubuh dan jasadnya sendiri — semua itu terjadi dengan ketelitian dan ilmu yang sempurna, dengan hikmah dan kehendak yang amat tinggi, serta dengan keteraturan dan timbangan yang sempurna; maka sudah pasti hal-hal seperti alam dan kebetulan, yang tidak berkesadaran, tidak teratur, dan tidak bertimbangan, tidak dapat turut campur dan tidak dapat mengacaukannya.

Maka seni Ilahi yang penuh mukjizat dari tiga segi ini dan perbuatan Rabbani ini — yang muncul dan meliputi lebah-lebah yang tak terhingga di seluruh muka bumi dengan hikmah yang sama, dengan

ketelitian yang sama, dengan timbangan yang sama, pada saat yang sama, dan dengan cara yang sama — dengan sangat nyata membuktikan kesatuan-Nya.

AYAT KEDUA: وَ اِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْق۪يكُمْ مِمَّا ف۪ى بُطُونِه۪ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَ دَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَٓائِغًا لِلشَّارِب۪ينَ. Ayat ini adalah firman yang menaburkan ibrah. Ya, meletakkan susu yang murni, bersih, jernih, bergizi, lezat, lagi putih — di tengah darah dan kotoran, tanpa terkotori dan tanpa keruh, bahkan sama sekali berbeda dengan keduanya — pada kelenjar susu para ibu yang menjadi pabrik susu, terutama sapi, unta, kambing, dan domba; serta meletakkan di dalam hati mereka rasa kasih sayang terhadap anak-anak mereka yang lebih lezat, lebih manis, lebih berharga, dan lebih penuh pengorbanan daripada susu itu sendiri — semua itu sudah pasti menuntut rahmat, hikmah, ilmu, kudrat, kehendak memilih, dan ketelitian yang sedemikian tinggi sehingga kebetulan-kebetulan yang penuh badai, unsur-unsur yang mencampuradukkan, dan kekuatan-kekuatan yang buta sama sekali tidak mempunyai urusan di dalamnya.

Maka seni Rabbani yang demikian penuh mukjizat dan hikmah serta perbuatan Ilahi ini — yang bertajalli (memancar), bertasarruf, terlaksana, dan meliputi segalanya di seluruh muka bumi, pada hati dan kelenjar susu para ibu yang tak terhingga dari ratusan ribu jenis makhluk, pada saat yang sama, dengan cara yang sama, dengan hikmah yang sama, dan dengan ketelitian yang sama — dengan sangat nyata membuktikan kesatuan-Nya.

AYAT KETIGA: وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخ۪يلِ وَالْاَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا اِنَّ ف۪ى ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Ayat ini menarik perhatian kepada kurma dan anggur seraya berkata: "Bagi orang-orang yang berakal, pada kedua buah ini terdapat sebuah ayat yang besar, sebuah dalil, dan sebuah hujah bagi tauhid." Ya, kedua buah ini sekaligus menjadi makanan dan bahan pokok kehidupan, buah segar dan buah-buahan, serta sumber berbagai hidangan yang sangat lezat; di samping itu, pohon-pohon yang berdiri di atas pasir tanpa air dan tanah yang kering itu sedemikian rupa merupakan mukjizat kudrat dan keajaiban hikmah, dan ia adalah pabrik gula yang menghasilkan halwa, mesin sirup bermadu, timbangan yang sedemikian peka, keteraturan yang sempurna, serta seni yang penuh hikmah lagi penuh ketelitian, sehingga seorang yang memiliki akal walau sebesar zarah pun terpaksa berkata: "Yang membuat semuanya seperti ini, sudah pasti hanyalah Zat yang menciptakan kainat ini."

Sebab, misalnya, pada ranting anggur sebesar jari yang ada di depan mata kita ini terdapat dua puluh tandan, dan pada setiap tandan terdapat seratus butir pompa kecil sirup bergula. Lalu, mengenakan pada wajah setiap butir itu selubung yang sangat tipis, elok, halus, dan berwarna; meletakkan di dalam hatinya yang lembut lagi lunak biji-biji berkulit keras dan berisi seperti kenari, yang berkedudukan sebagai daya ingat, program, dan riwayat hidupnya; membuat di dalam perutnya manisan seperti halwa surga dan madu seperti air kausar; serta menciptakan hal yang sama di seluruh permukaan bumi pada contoh-contohnya yang tak terhingga, dengan ketelitian yang sama, hikmah yang sama, dan keajaiban seni yang sama, pada waktu yang sama dan dengan cara yang sama — semua itu sudah pasti dengan sangat nyata memperlihatkan bahwa yang mengerjakan pekerjaan ini adalah Khâliq seluruh kainat, dan bahwa perbuatan yang menuntut kudrat tanpa batas serta hikmah tak terhingga ini hanyalah perbuatan-Nya.

Ya, ke dalam timbangan yang sangat peka ini, ke dalam seni yang sangat mahir ini, dan ke dalam keteraturan yang sangat penuh hikmah ini, segala kekuatan, tabiat, dan sebab yang buta, ngawur, tanpa aturan, tanpa kesadaran, tanpa tujuan, suka menyerbu, dan suka mengacaukan itu tidak dapat ikut campur dan tidak dapat mengulurkan tangannya. Mereka hanya dipekerjakan dengan perintah Rabbani dalam kedudukan sebagai yang dikenai perbuatan, sebagai penerima, dan sebagai pemegang tirai.

Maka, sebagaimana tiga nukta yang menunjukkan tauhid dari tiga hakikat yang diisyaratkan oleh tiga ayat ini, demikian pula manifestasi dan tasarruf yang tak terhingga dari perbuatan-perbuatan Rabbani yang tak terhingga itu bersaksi dengan sepakat atas kesatuan satu Zat Yang Wâhid lagi Ahad, yaitu Zat Dzul-Jalâl. HAKIKAT KETIGA: Yaitu diciptakannya segala yang ada, terutama tumbuh-tumbuhan dan hewan — di dalam kecepatan mutlak, namun dengan kemajemukan mutlak dan keteraturan mutlak; di dalam kemudahan mutlak, namun dengan seni yang sangat indah, kemahiran, kerapian, dan keteraturan; serta di tengah kelimpahan mutlak dan campur baur yang mutlak, namun sangat bernilai dan sangat jelas berbeda satu dari yang lain.

Ya, membuat sesuatu dalam jumlah yang sangat banyak dengan kecepatan yang sangat tinggi; dengan seni yang sangat mahir, dengan ketelitian dan keteraturan, namun dengan sangat mudah dan ringan; serta di tengah kelimpahan dan campur baur yang luar biasa, namun tetap sangat bernilai dan sangat jelas dibedakan — tanpa tercampur, tanpa mencampurkan, dan tanpa mengeruhkan — hanya dan hanya dapat terjadi dengan kudrat dari satu Zat Yang Wâhid, yaitu kudrat yang bagi-Nya tidak ada sesuatu pun yang berat. Dan dibandingkan dengan kudrat itu, bintang-bintang sama seperti zarah-zarah, yang terbesar sama seperti yang terkecil, satu jenis yang anggotanya tak terhingga sama seperti satu individu tunggal, satu keseluruhan yang agung lagi meliputi sama seperti satu bagian khusus yang sedikit; menghidupkan dan membangkitkan bumi yang begitu luas semestinya semudah sebatang pohon, dan membangun sebatang pohon sebesar gunung semestinya semudah, seringan, dan segampang sebutir biji sebesar kuku. Agar Dia dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikerjakan di depan mata kita ini.

Maka, dengan menjelaskan, memecahkan, menyingkap, dan membuktikan rahasia penting dari tingkatan tauhid ini, dari hakikat ketiga ini, dan dari kalimat tauhid ini — yakni bahwa satu keseluruhan yang paling besar sama seperti satu bagian yang paling kecil, dan bahwa antara yang paling banyak dan yang paling sedikit tidak ada perbedaan — serta hikmahnya yang menakjubkan ini, tilsamnya yang agung ini, teka-tekinya yang berada di luar jangkauan akal ini, asas Islam yang paling penting ini, sumber iman yang paling dalam ini, dan tiang tauhid yang paling besar ini, maka terbukalah tilsam Al-Qur'an, dan diketahuilah teka-teki penciptaan kainat yang paling tersembunyi lagi tidak diketahui, yang membuat filsafat tidak mampu memahaminya.

Seratus ribu kali syukur dan pujian sebanyak jumlah huruf Risale-i Nur bagi Khâliq-ku Yang Rahîm, bahwa Risale-i Nur telah memecahkan, menyingkap, dan membuktikan tilsam yang menakjubkan dan teka-teki yang aneh ini. Dan terutama pada bagian-bagian akhir Surat Kedua Puluh, dalam pembahasan وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ قَد۪يرٌ serta dalam pembahasan "Sang Pelaku Mahakuasa" pada Kelimat Kedua Puluh Sembilan yang membahas kebangkitan, dan dalam penetapan kudrat Ilahi pada tingkatan-tingkatan "Allahu akbar" dalam Lem'a Kedua Puluh Sembilan berbahasa Arab, hal itu telah dibuktikan dengan burhan-burhan yang pasti, sampai pada tingkat dua kali dua sama dengan empat.

Karena itu, sambil menyerahkan penjelasannya kepada risalah-risalah tersebut, aku ingin menerangkan secara ringkas — dalam kedudukan sebagai sebuah daftar isi — asas-asas dan dalil-dalil yang membuka rahasia ini, dan mengisyaratkan tiga belas rahasia dalam bentuk tiga belas anak tangga. Rahasia pertama dan kedua telah kutulis. Namun sayang sekali, dua penghalang yang kuat, baik yang lahir maupun yang batin, membuatku untuk sementara ini mengurungkan sisanya. RAHASIA PERTAMA: Jika sesuatu itu bersifat zati, lawannya tidak dapat menghinggapi zat itu. Sebab, hal itu berarti berkumpulnya dua hal yang saling berlawanan, dan itu mustahil. Maka, berdasarkan rahasia ini, karena kudrat Ilahi itu bersifat zati dan menjadi keharusan yang niscaya bagi Zat Yang Mahasuci, sudah pasti kelemahan yang menjadi lawan dari kudrat itu tidak mungkin menghinggapi Zat Yang Qadîr itu.

Dan karena adanya tingkatan pada sesuatu itu hanya terjadi apabila lawannya menyusup ke dalam sesuatu itu — misalnya tingkatan cahaya yang kuat dan yang lemah terjadi karena bercampurnya gelap, derajat panas yang tinggi dan yang rendah terjadi karena bercampurnya dingin, dan kadar kekuatan yang keras dan yang kurang terjadi karena adanya daya tahan yang melawan dan menghalanginya — maka sudah pasti pada kudrat zatiyah itu tidak terdapat tingkatan. Dia menciptakan segala sesuatu seperti menciptakan satu benda saja.

Dan karena pada kudrat zatiyah itu tidak terdapat tingkatan, tidak ada kelemahan dan tidak ada kekurangan, maka sudah pasti tidak ada satu penghalang pun yang dapat menghadangnya, dan tidak ada satu penciptaan pun yang berat bagi-Nya.

Dan karena tidak ada sesuatu pun yang berat bagi-Nya, maka sudah pasti, sebagaimana Dia menciptakan kebangkitan agung semudah satu musim semi, satu musim semi seringan sebatang pohon, dan sebatang pohon tanpa susah payah sebagaimana setangkai bunga; demikian pula Dia menciptakan setangkai bunga yang berseni seperti sebatang pohon, sebatang pohon yang penuh mukjizat seperti satu musim semi, dan satu musim semi yang menghimpun segala sesuatu lagi menakjubkan seperti satu kebangkitan — dan Dia menciptakannya di depan mata kita.

Di dalam Risale-i Nur telah dibuktikan dengan banyak burhan yang pasti lagi kuat bahwa: Seandainya tidak ada kesatuan dan tauhid, setangkai bunga akan sesulit sebatang pohon, bahkan lebih sulit lagi; dan sebatang pohon akan seberat satu musim semi, bahkan lebih berat lagi; di samping itu, nilai dan seninya pun akan jatuh sama sekali. Dan satu makhluk hidup yang sekarang dibuat dalam satu menit, baru akan dapat dibuat dalam satu tahun, bahkan mungkin tidak akan pernah dibuat.

Maka, berdasarkan rahasia yang telah disebutkan itulah buah-buah ini, bunga-bunga ini, pohon-pohon ini, dan hewan-hewan kecil ini — yang di samping sangat melimpah dan sangat banyak namun sangat bernilai, dan di samping sangat cepat serta mudah namun sangat berseni — muncul dengan teratur, menempati tugasnya masing-masing, melakukan tasbihnya lalu menyelesaikannya, kemudian pergi seraya mewakilkan benih-benihnya di tempatnya. RAHASIA KEDUA: Sebagaimana dengan rahasia sifat bercahaya, sifat bening, dan sifat patuh, serta dengan satu manifestasi dari kudrat zatiyah-Nya, satu matahari saja memberikan pantulan bercahaya kepada satu cermin; demikian pula, dari luasnya aktivitas kudrat-Nya yang tidak terikat itu, Dia dapat dengan mudah memberikan pantulan yang sama, yang bercahaya lagi berhawa panas, kepada cermin-cermin, benda-benda mengkilat, dan tetes-tetes air yang tak terhingga banyaknya, dengan perintah Ilahi. Yang sedikit dan yang banyak adalah satu, tidak ada bedanya.

Dan sebagaimana, apabila satu kata diucapkan, karena keluasan tak terhingga dari daya cipta-Nya yang tiada berujung, kata yang satu itu masuk tanpa susah payah ke telinga satu orang; demikian pula ia masuk tanpa susah payah ke dalam kepala sejuta telinga dengan izin Rabbani. Ribuan pendengar dan satu pendengar adalah sama, tidak berbeda.

Dan sebagaimana satu cahaya seperti mata, atau satu makhluk ruhani yang bercahaya seperti Jibril, karena sempurnanya keluasan aktivitas Rabbani yang berada di dalam pancaran rahmat, dengan mudah memandang ke satu tempat, pergi ke sana, dan berada di satu tempat; demikian pula ia berada, memandang, dan masuk dengan mudah di ribuan tempat dengan kudrat Ilahi; sedikit dan banyak tidak ada bedanya.

Demikian pula, karena kudrat zatiyah yang azali itu adalah cahaya yang paling halus, paling khusus, dan cahaya dari segala cahaya; dan karena hakikat diri segala sesuatu serta hakikat-hakikatnya

dan segi malakutnya bening lagi berkilau seperti cermin; dan karena segala sesuatu — mulai dari zarah-zarah, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk hidup sampai kepada bintang-bintang, matahari-matahari, dan bulan-bulan — sangat taat lagi tunduk kepada ketetapan kudrat zatiyah itu, dan sangat patuh lagi ditundukkan bagi perintah-perintah kudrat azali itu; maka sudah pasti Dia menciptakan benda-benda yang tak terhingga banyaknya seperti menciptakan satu benda saja, dan Dia berada di sisi mereka. Satu pekerjaan tidak menghalangi pekerjaan yang lain. Yang besar dan yang kecil, yang banyak dan yang sedikit, yang sebagian dan yang menyeluruh adalah satu. Tidak satu pun dari semuanya itu berat bagi-Nya.

Dan sebagaimana disebutkan dalam Kelimat Kesepuluh dan Kelimat Kedua Puluh Sembilan; dengan rahasia keteraturan, keseimbangan, tunduk kepada ketetapan, dan melaksanakan perintah, Dia memutar dan menjalankan sebuah kapal besar sebesar seratus rumah, sebagaimana seorang anak memutar mainannya dengan jarinya.

Dan sebagaimana seorang komandan menyuruh satu prajurit menyerbu dengan satu perintah "Maju!", demikian pula dengan satu perintahnya itu juga ia menggerakkan satu pasukan yang teratur lagi patuh untuk menyerbu.

Dan sebagaimana, apabila pada kedua sisi sebuah timbangan besar yang sangat peka terdapat dua gunung dalam keadaan seimbang, lalu pada timbangan lain yang kedua piringnya berisi dua butir telur, sebutir kenari saja mengangkat satu piringnya ke atas dan menurunkan yang satunya ke bawah; demikian pula sebutir kenari itu, dengan sebuah hukum hikmah, dapat menaikkan satu sisi timbangan besar tadi beserta gunungnya sampai ke puncak gunung, dan menurunkan gunung yang satunya lagi sampai ke dasar lembah.

Demikian pula, karena di dalam kudrat Rabbani yang tidak terikat, tanpa batas, bercahaya, bersifat zati, lagi kekal selamanya itu — dan bersama kudrat itu — terdapat hikmah yang tiada berujung serta keadilan Ilahi yang sangat peka, yang menjadi asal, sumber, poros, dan mata air dari segala keteraturan, segala tatanan, dan segala keseimbangan; dan karena segala sesuatu, baik yang sebagian maupun yang menyeluruh, yang besar maupun yang kecil, serta segenap benda, tunduk kepada ketetapan kudrat itu dan patuh kepada tasarruf-Nya; maka sudah pasti, sebagaimana Dia dengan mudah mengatur dan menggerakkan zarah-zarah, demikian pula dengan mudah Dia memutar dan mengedarkan bintang-bintang dengan rahasia tatanan hikmah.

Dan sebagaimana pada musim semi Dia dengan mudah menghidupkan seekor lalat dengan satu perintah; demikian pula, dengan rahasia hikmah dan timbangan yang ada di dalam kudrat-Nya, dengan perintah yang sama dan dengan kemudahan yang sama, Dia menghidupkan seluruh kelompok lalat, seluruh tumbuh-tumbuhan, dan bala tentara hewan-hewan kecil, lalu menggiring mereka ke medan kehidupan.

Dan sebagaimana Dia dengan cepat menghidupkan sebatang pohon pada musim semi dan memberi hayat kepada tulang-tulangnya; demikian pula, dengan kudrat mutlak yang penuh hikmah lagi penuh keadilan itu, Dia dengan mudah menghidupkan bumi yang begitu luas dan jenazah tanah ini pada musim semi seperti pohon itu, lalu menciptakan ratusan ribu macam contoh kebangkitan.

Dan sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan satu perintah penciptaan, demikian pula dengan firman-Nya اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَاِذَاهُمْ جَم۪يعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ yakni: "Seluruh manusia dan jin, dengan satu pekik dan satu perintah saja, akan hadir di sisi Kami di medan kebangkitan."

Dan dengan firman-Nya وَمَٓا اَمْرُ السَّاعَةِ اِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ اَوْ هُوَ اَقْرَبُ Dia berfirman, yakni: "Urusan kiamat dan kebangkitan serta bagaimana ia dilaksanakan hanyalah selama memejamkan mata lalu segera membukanya, bahkan lebih dekat lagi."

Dan dengan rahasia tiga ayat — yang salah satunya adalah ayat مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ اِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ — yang bermakna, "Wahai manusia! Penciptaan dan penghidupan kalian, serta kebangkitan dan penyebaran kalian, adalah semudah menghidupkan satu jiwa saja. Hal itu tidak berat bagi kudrat-Ku," Dia mendatangkan seluruh manusia dan jin, hewan, makhluk ruhani, dan malaikat ke medan kebangkitan agung dan ke hadapan timbangan teragung dengan perintah yang sama dan dengan kemudahan yang sama. Satu pekerjaan tidak menghalangi pekerjaan yang lain.

Rahasia ketiga, serta dari yang keempat sampai yang ketiga belas, berlawanan dengan keinginanku, ditangguhkan ke waktu yang lain. HAKIKAT KEEMPAT: Wujud dan kemunculan segala yang ada — pada sekian banyak titik segi kesatuan, yaitu: berada bersama-sama, menyatu di dalam satu sama lain, saling menyerupai, yang satu menjadi miniatur bagi yang lain dan yang lain menjadi contoh terbesar baginya, sebagiannya berkedudukan sebagai keseluruhan dan sebagai yang menyeluruh sedangkan sebagian yang lain menjadi bagian-bagian dan satuan-satuannya, saling mirip pada cap fitrah dan saling berkaitan pada ukiran seni, saling menolong, serta saling menyempurnakan tugas fitri satu sama lain — mengumumkan tauhid dengan sangat nyata, membuktikan bahwa Sang Pembuat mereka adalah Wâhid, dan menampakkan bahwa kainat dari segi rububiyah berkedudukan sebagai satu keseluruhan dan satu kesatuan menyeluruh yang tidak dapat dipecah dan dibagi.

Ya, misalnya: pada setiap musim semi, menciptakan satuan-satuan yang tak terhingga dari empat ratus ribu jenis tumbuhan dan hewan, bersama-sama dan di dalam satu sama lain, dalam satu waktu dan dengan satu cara, tanpa keliru dan tanpa salah, dengan hikmah yang sempurna dan keindahan seni, lalu mengatur dan memberi mereka makan...

Dan menciptakan satuan-satuan yang tak terhingga, mulai dari lalat yang menjadi miniatur burung sampai kepada elang yang menjadi contoh terbesarnya, lalu memberikan kepada mereka perangkat yang menolong mereka mengembara dan hidup di alam udara, serta membuat mereka berkeliling

dan bersamaan dengan meramaikan udara, meletakkan sebuah cap seni yang menakjubkan pada wajah mereka, sebuah stempel hikmah yang penuh pengaturan pada tubuh mereka, dan sebuah tanda kebesaran ahadiyah yang penuh pemeliharaan pada hakikat diri mereka...

Dan dengan penuh hikmah lagi penuh rahmat, menyuruh berlari serta mengirimkan zarah-zarah makanan untuk menolong sel-sel tubuh, tumbuh-tumbuhan untuk menolong hewan, hewan untuk menolong manusia, dan seluruh ibu untuk menolong anak-anak yang tak berdaya...

Dan melakukan tasarruf dengan keteraturan dan keindahan seni yang sama, serta dengan perbuatan dan hikmah sempurna yang sama — mulai dari lingkaran Bimasakti, tata surya, dan unsur-unsur bumi sampai kepada tirai-tirai biji mata, kelopak kuncup mawar, kelobot tongkol jagung, dan biji-biji buah melon — laksana lingkaran-lingkaran yang saling termuat satu di dalam yang lain, baik yang berkedudukan sebagai juz'i maupun sebagai yang menyeluruh; semua itu pastilah membuktikan dengan sangat nyata bahwa:

Zat yang mengerjakan semua ini adalah Wâhid, Dia satu; cap-Nya terdapat pada segala sesuatu.

Dan sebagaimana Dia tidak berada di suatu tempat pun, Dia hadir di setiap tempat.

Dan Dia laksana matahari: segala sesuatu jauh dari-Nya, sedangkan Dia dekat kepada segala sesuatu.

Dan sebagaimana hal-hal yang paling besar seperti lingkaran Bimasakti dan tata surya tidak berat bagi-Nya, demikian pula butir-butir darah dan lintasan-lintasan hati tidak tersembunyi dari-Nya; tidak ada yang berada di luar tasarruf-Nya.

Dan betapa pun besar dan banyaknya segala sesuatu, semuanya mudah bagi-Nya laksana satu hal yang paling kecil dan paling sedikit; sehingga dengan mudah Dia menciptakan seekor lalat dalam susunan seekor elang, sebutir biji dalam hakikat diri sebatang pohon, sebatang pohon dalam rupa sebuah kebun, sebuah kebun dalam seni sebuah musim semi, dan sebuah musim semi dalam keadaan sebuah kebangkitan.

Dan segala sesuatu yang dari segi seninya amat bernilai itu Dia berikan dan Dia anugerahkan kepada kita dengan amat murah. Adapun harga yang Dia minta hanyalah satu "Bismillah" dan satu "Alhamdulillah". Yakni, harga yang diterima bagi nikmat-nikmat yang amat bernilai itu adalah mengucapkan "Bismillâhirrahmânirrahîm" pada permulaannya dan "Alhamdulillah" pada akhirnya.

Karena Hakikat Keempat ini pun telah dijelaskan dan dibuktikan di dalam Risale-i Nur, kami mencukupkan diri dengan isyarat yang amat singkat ini.