Ini pun terdiri atas dua persoalan:
Sinar-Sinar · hlm. 115
PERTAMA: Pada titik keagungan, kebesaran, dan sesuatu yang tak berkesudahan, akal-akal yang menjadi sempit karena tenggelam dalam keadaan lalai, atau dalam maksiat, atau dalam hal-hal materi, tidak mampu meliputi persoalan-persoalan yang agung, sehingga mereka menyimpang kepada pengingkaran dengan kesombongan ilmu, lalu menafikannya. Ya, karena mereka tidak mampu menampung persoalan-persoalan iman yang sangat luas, sangat dalam, lagi meliputi itu ke dalam akal mereka yang secara maknawi telah sempit dan kering, serta ke dalam hati mereka yang telah rusak dan mati dalam hal-hal maknawi, mereka pun menjerumuskan diri ke dalam kekufuran dan jalan yang sesat, lalu tenggelam.
Seandainya mereka dapat memandang dengan teliti kepada sisi dalam kekufuran mereka dan kepada hakikat diri kesesatan mereka, niscaya mereka akan melihat bahwa di hadapan keagungan yang masuk akal, layak, lagi mesti ada di dalam iman itu, terdapat seratus derajat hal yang mustahil, yang tidak mungkin, dan yang tertolak, di bawah dan di dalam kekufuran itu.
Risale-i Nur dengan ratusan timbangan dan perbandingan telah membuktikan hakikat ini secara pasti sampai pada derajat "dua kali dua sama dengan empat". Misalnya, orang yang tidak dapat menerima wujud Allah yang wajib ada, sifat azali-Nya, dan sifat-sifat-Nya yang meliputi, karena keagungan semuanya itu, maka ia dapat meyakini kekufurannya dengan memberikan wujud yang wajib ada itu, sifat azali, dan sifat-sifat keilahian kepada makhluk-makhluk yang tak terhingga, bahkan kepada zarah-zarah yang tak berkesudahan. Atau, seperti kaum sofis yang dungu, ia harus mengundurkan diri dari akal dengan mengingkari dan menafikan baik
dirinya sendiri maupun wujud kainat.
Demikian pula halnya, seluruh hakikat iman dan Islam, dengan bersandar kepada keagungan yang menjadi syuun dan tuntutan dirinya sendiri, menyelamatkan manusia dari hal-hal mustahil yang dahsyat, dari takhayul yang liar, dan dari kebodohan yang gelap milik kekufuran yang berhadapan dengannya; lalu hakikat-hakikat itu bersemayam di dalam hati yang bersih dan akal yang lurus dengan keyakinan dan penyerahan diri yang sempurna.
Ya, di dalam sebagian besar syiar Islam seperti azan dan salat, pengumuman keagungan dan kebesaran-Nya setiap waktu melalui ucapan اَللّٰهُ اَكْبَرُ اَللّٰهُ اَكْبَرُ ٭ اَللّٰهُ اَكْبَرُ اَللّٰهُ اَكْبَرُ yang berulang-ulang; juga firman hadis qudsi اَلْعَظَمَةُ اِزَار۪ى وَ الْكِبْرِيَاءُ رِدَائ۪ى; juga penjelasan munajat Ahmad صلى الله عليه وسلم yang sangat arif pada simpul kedelapan puluh enam dari munajat "Jausyan al-Kabir", yaitu يَا مَنْ لَا مُلْكَ اِلَّا مُلْكَهُ ٭ يَا مَنْ لَا يُحْصِى الْعِبَادُ ثَنَائَهُ ٭ يَا مَنْ لَا تَصِفُ الْخَلَائِقُ جَلَالَهُ ٭ يَا مَنْ لَا تَنَالُ الْاَوْهَامُ كُنْهَهُ ٭ يَا مَنْ لَا يُدْرِكُ الْاَبْصَارُ كَمَالَهُ ٭ يَا مَنْ لَا يَبْلُغُ الْاَفْهَامُ صِفَاتَهُ ٭ يَا مَنْ لَا يَنَالُ الْاَفْكَارُ كِبْرِيَائَهُ ٭ يَا مَنْ لَا يُحْسِنُ الْاِنْسَانُ نُعُوتَهُ ٭ يَا مَنْ لَا يَرُدُّ الْعِبَادُ قَضَائَهُ ٭ يَا مَنْ ظَهَرَ ف۪ى كُلِّ شَىْءٍ اٰيَاتُهُ ٭ سُبْحَانَكَ يَا لَا اِلٰهَ اِلَّا اَنْتَ الْاَمَانُ الْاَمَانُ نَجِّنَا مِنَ النَّارِ — semuanya menunjukkan bahwa keagungan dan kebesaran itu adalah tabir yang diperlukan.