Risale-i NurSinar-Sinar

Ayatul Kubra

Sinar-Sinar · hlm. 116

Inilah pengamatan seorang pengembara yang bertanya kepada kainat tentang Khâliq-nya.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوَاتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ ف۪يهِنَّ وَ اِنْ مِنْ شَىْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪ وَلٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْب۪يحَهُمْ اِنَّهُ كَانَ حَل۪يمًا غَفُورًا

Karena sangat banyak ayat Al-Qur'an, sebagaimana ayat yang agung ini, dalam hal memperkenalkan Khâliq kainat ini menyebutkan langit-langit pada urutan yang paling awal — yaitu lembaran tauhid yang paling cemerlang, yang setiap waktu dan oleh setiap orang paling banyak dipandang dengan takjub dan ditelaah dengan zauk — maka memulai dari langit itu pulalah yang paling tepat.

Ya, setiap tamu yang datang ke negeri dunia dan ke rumah tamu ini, setiap kali membuka mata dan memandang, ia melihat: ketika ia dengan rasa ingin tahu yang sangat kuat hendak mengenal dan mengetahui pemilik rumah tamu yang indah ini — yang merupakan tempat jamuan yang sangat penuh kemurahan, tempat pameran yang sangat penuh seni, markas dan tempat latihan pasukan yang sangat megah, tempat tamasya dan tempat pertunjukan yang sangat menakjubkan lagi membangkitkan kerinduan, serta tempat menelaah yang sangat penuh makna lagi penuh hikmah — dan hendak mengenal penulis kitab besar ini serta sultan negeri yang megah ini; maka yang pertama-tama tampak ialah wajah langit yang indah, yang tertulis dengan sepuhan cahaya. Wajah itu berkata: "Pandanglah aku, akan kuberitahukan kepadamu apa yang engkau cari!" Ia pun memandang, lalu melihat bahwa:

Ratusan ribu benda langit — sebagian darinya seribu kali lebih besar daripada bumi kita, dan sebagian dari yang besar-besar itu tujuh puluh kali lebih cepat daripada peluru meriam — ditahan tanpa tiang dan tanpa terjatuh, digerakkan bersama-sama dengan kecepatan yang melampaui batas tanpa saling berbenturan; lampu-lampu yang tak terhingga itu dinyalakan terus-menerus tanpa minyak dan tanpa padam; massa-massa yang amat besar lagi tak berujung itu dikendalikan tanpa menimbulkan satu pun kegaduhan dan kekacauan; dan makhluk-makhluk yang amat besar itu, tanpa sekali pun dibiarkan membangkang, dipekerjakan dengan berbagai tugas sebagaimana tugas matahari dan bulan;

dan di dalam jarak tak berujung yang tidak termuat oleh angka-angka perhitungan pada lingkaran dua kutub, pada waktu yang sama, dengan kekuatan yang sama, cara yang sama, cap fitrah yang sama, dan bentuk yang sama, pada semuanya sekaligus dilakukan tasarruf tanpa cacat sedikit pun; dan para pembawa kekuatan yang amat besar lagi melampaui batas itu ditundukkan untuk menaati hukum-Nya tanpa melanggar batas; dan wajah langit dibersihkan dengan sangat cemerlang lagi sangat indah, tanpa diberi peluang sedikit pun bagi sampah yang akan mengotorinya seperti puing-puing dari kerumunan yang tak berujung itu; dan semuanya digerakkan dalam manuver bagaikan manuver pasukan yang teratur; dan dengan diputarnya bumi, bentuk-bentuk hakiki dan khayali dari manuver yang megah itu diperlihatkan dalam rupa yang lain kepada makhluk-makhluk yang menontonnya, setiap malam dan setiap tahun, bagaikan lembaran-lembaran layar bioskop — inilah rububiyah yang tampak nyata; dan inilah sebuah hakikat yang tersusun dari menundukkan, mengatur, memutar, menata, membersihkan, dan menugaskan, yang terlihat di dalam kegiatan rububiyah itu. Hakikat ini, dengan keagungan dan keluasan cakupannya, bersaksi dengan mata kepala atas wujud Khâliq langit-langit itu yang wajib ada dan atas kesatuan-Nya, serta bersaksi bahwa wujud-Nya lebih nyata daripada wujud langit-langit itu sendiri. Dengan makna inilah, pada anak tangga pertama dari Maqam Pertama dikatakan: لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِهِ السَّمٰوَاتُ بِجَم۪يعِ مَا ف۪يهَا بِشَهَادَةِ عَظَمَةِ اِحَاطَةِ حَق۪يقَةِ التَّسْخ۪يرِ وَ التَّدْب۪يرِ وَ التَّدْو۪يرِ وَ التَّنْظ۪يمِ وَ التَّنْظ۪يفِ وَ التَّوْظ۪يفِ الْوَاسِعَةِ الْمُكَمَّلَةِ بِالْمُشَاهَدَةِ

Kemudian, kepada orang yang mengembara dan bertamu ke dunia itu, angkasa — yang disebut ruang angkasa dan yang merupakan tempat berhimpunnya segala keajaiban — berseru dengan suara gemuruh: "Pandanglah aku! Apa yang engkau cari dengan penuh rasa ingin tahu dan siapa yang mengirimmu ke sini dapat engkau ketahui dan engkau temukan melalui diriku." Tamu itu pun memandang wajahnya yang masam namun penuh kasih sayang; ia mendengarkan gemuruhnya yang dahsyat namun membawa kabar gembira, lalu melihat bahwa:

Awan yang ditahan tergantung di antara bumi dan langit itu, dengan cara yang sangat penuh hikmah lagi penuh kasih sayang, menyirami taman bumi, membawa air kehidupan bagi penduduk bumi, meredakan hawa panas (yakni kerasnya api kehidupan), dan datang menolong setiap tempat sesuai kebutuhannya. Dan selain menjalankan banyak tugas seperti tugas-tugas ini, sebagaimana pasukan yang teratur muncul dan bersembunyi menurut perintah yang mendadak, awan raksasa yang tiba-tiba memenuhi angkasa itu pun bersembunyi, seluruh bagiannya menarik diri untuk beristirahat, dan tidak satu jejak pun darinya yang terlihat. Kemudian, perintah "Maju ke pos hujan!"

begitu ia terima, dalam waktu satu jam, bahkan mungkin dalam beberapa menit, ia berkumpul dan memenuhi angkasa, lalu berdiri seperti sedang menantikan perintah seorang panglima.

Kemudian pengembara itu memandang angin di angkasa, lalu melihat bahwa: udara dipekerjakan dengan tugas yang demikian banyak, dengan cara yang sangat penuh hikmah lagi penuh kemurahan, sehingga seolah-olah setiap zarah dari zarah-zarah udara yang beku lagi tak berkesadaran itu mendengar dan mengetahui perintah-perintah yang datang dari Sultan kainat ini, lalu tanpa meninggalkan satu pun darinya, ia mengerjakannya dengan kekuatan panglima itu dan menunaikannya dengan teratur. Dengan keadaan sedemikian rupa, udara dipekerjakan oleh sebuah tangan gaib dengan penuh kesadaran, penuh ilmu, lagi penuh kasih terhadap kehidupan, di dalam tugas dan khidmah yang sangat menyeluruh, seperti memberi napas kepada seluruh penghuni bumi, menghantarkan suara serta zat-zat yang diperlukan makhluk hidup seperti panas, cahaya, dan listrik, dan menjadi perantara bagi penyerbukan tumbuh-tumbuhan.

Kemudian ia memandang hujan, lalu melihat bahwa: pada tetes-tetes yang lembut, bening, dan manis — yang dikirim dari tiada dan dari khazanah rahmat yang gaib — terdapat demikian banyak hadiah dan tugas yang bersifat rahmani, sehingga seakan-akan rahmat itu berwujud nyata lalu mengalir dalam bentuk tetes-tetes dari khazanah Rabbani. Karena makna inilah hujan diberi nama "rahmat".

Kemudian ia memandang kilat dan mendengarkan ra'd (guruh), lalu melihat bahwa keduanya dipekerjakan dalam khidmah-khidmah yang sangat menakjubkan lagi aneh.

Kemudian ia mengalihkan pandangannya, memandang kepada akalnya, dan berkata kepada dirinya sendiri: Awan yang beku lagi tak berkesadaran ini, yang bagaikan kapas terbusar, tentulah tidak mengenal kita, tidak pula berbelas kasih lalu berlari menolong kita dengan sendirinya, dan tidak muncul ataupun bersembunyi tanpa perintah. Ia pasti bergerak dengan perintah seorang panglima yang sangat Qadîr lagi Rahîm, sehingga ia bersembunyi tanpa meninggalkan jejak dan tiba-tiba muncul, lalu langsung bekerja. Dan dengan titah serta kekuatan seorang sultan yang sangat aktif berbuat lagi Mahatinggi, yang manifestasi-Nya sangat berkilau lagi megah, ia mengisi dan mengosongkan alam angkasa dari waktu ke waktu. Dan ia terus-menerus mengubah alam angkasa itu menjadi papan tulis yang ditulisi dengan hikmah lalu dihapus ketika waktunya usai, menjadi papan penghapusan dan penetapan, serta menjadi gambaran kebangkitan dan kiamat. Dan dengan pengaturan seorang penguasa yang mengatur segala urusan — yang sangat lembut, gemar memberi nikmat, sangat mulia, lagi penuh kasih dalam memelihara dengan rububiyah-Nya — ia menaiki angin dan mengangkut khazanah-khazanah hujan yang bagaikan gunung, lalu sampai ke tempat-tempat yang membutuhkan. Seakan-akan karena kasihan kepada mereka ia menangis, lalu dengan air matanya ia membuat mereka tertawa dengan bunga-bunga; ia menyejukkan panas api matahari yang membakar, memercikkan air ke taman-taman mereka bagaikan spons, membasuh wajah bumi, dan membersihkannya.

Dan pengembara yang penuh rasa ingin tahu itu berkata kepada akalnya: Melalui tabir dan bentuk lahiriah udara ini — yang beku, tak bernyawa, tak berkesadaran, terus-menerus berguncang, tak menentu, penuh badai, penuh gemuruh, tak tetap, lagi tanpa tujuan — terwujudlah

ratusan ribu pekerjaan, karunia, dan pertolongan yang penuh hikmah, penuh kasih sayang, lagi penuh seni. Semua itu membuktikan dengan sangat nyata bahwa: angin yang rajin dan pelayan yang selalu bergerak ini sama sekali tidak memiliki gerak atas kehendaknya sendiri; ia bergerak dengan perintah Sang Pemberi Perintah Yang sangat Qadîr lagi Alîm, dan Yang sangat Hakîm lagi Karîm.

Seolah-olah setiap zarahnya mengetahui setiap pekerjaan, memahami dan mendengar setiap perintah dari Sang Pemberi Perintah itu; bagaikan seorang prajurit, ia mendengarkan dan menaati setiap perintah Rabbani yang berlaku di dalam udara. Maka, selain khidmah yang umum dan menyeluruh — seperti memberi napas dan kehidupan kepada seluruh hewan, menyerbuki dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan serta menyiapkan zat-zat yang diperlukan bagi kehidupannya, menggiring dan mengatur awan, melayarkan kapal-kapal tanpa api, dan terutama menyampaikan suara serta percakapan melalui telepon tanpa kabel, telegraf, dan radio — aku melihat bahwa zarah-zarah udara, yang hanya tersusun dari dua zat sederhana yaitu nitrogen dan oksigen dan yang satu sama lain serupa, dipekerjakan oleh sebuah tangan hikmah dengan keteraturan yang sempurna di dalam ratusan ribu macam seni Rabbani yang terdapat di muka bumi.

Maka, dengan penegasan ayat وَتَصْر۪يفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَٓاءِ وَالْاَرْضِ, ia pun berkata dan memutuskan: Zat yang mengisarkan angin lalu memakainya dalam khidmah Rabbani yang tak terhingga, yang menundukkan awan lalu mempekerjakannya dalam pekerjaan Rahmani yang tak terhingga, dan yang menciptakan udara dalam bentuk sedemikian rupa, hanyalah Wâjibul Wujûd Yang Qadîr atas segala sesuatu lagi Alîm terhadap segala sesuatu, yaitu Sang Rabb Dzul-Jalâli wal-Ikrâm.

Kemudian ia memandang hujan, lalu melihat bahwa: di dalam hujan terdapat manfaat sebanyak butir-butirnya, manifestasi rahmani sebanyak tetes-tetesnya, dan hikmah sebanyak percikan-percikannya. Tetes-tetes yang manis, lembut, lagi penuh berkah itu diciptakan dengan begitu teratur dan indah — terutama hujan es yang datang pada musim panas, yang dikirim dan diturunkan dengan timbangan dan keteraturan sedemikian rupa — sehingga angin kencang yang berguncang oleh badai dan yang membenturkan benda-benda besar pun tidak merusak keseimbangan dan keteraturannya; angin itu tidak membenturkan tetes-tetes itu satu sama lain lalu menyatukannya menjadi gumpalan yang membahayakan. Dan air ini, yang tersusun dari dua zat sederhana yaitu hidrogen dan oksigen yang sederhana, beku, lagi tak berkesadaran, serta yang dipekerjakan dalam banyak pekerjaan penuh hikmah seperti ini dan terutama di dalam makhluk hidup, dipekerjakan pula di dalam ratusan ribu khidmah dan seni yang beragam, yang penuh hikmah lagi penuh kesadaran. Maka, hujan yang merupakan rahmat itu sendiri yang telah berwujud nyata ini hanyalah dibuat di dalam khazanah rahmat yang gaib milik Ar-Rahmân Ar-Rahîm,

dan dengan turunnya, ia menafsirkan secara nyata ayat وَهُوَ الَّذ۪ى يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ.

Kemudian ia mendengarkan ra'd dan memandang barq (kilat), lalu melihat bahwa: kedua peristiwa angkasa yang menakjubkan ini, selain menafsirkan secara nyata dan dengan tepat ayat وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِه۪ serta يَكَادُ سَنَا بَرْقِه۪ يَذْهَبُ بِالْاَبْصَارِ, juga memberitakan datangnya hujan dan menyampaikan kabar gembira kepada mereka yang membutuhkannya.

Ya, dengan keadaan-keadaan yang penuh hikmah lagi aneh — seperti membuat angkasa berbicara dari tiada secara tiba-tiba dengan gemuruh yang luar biasa, memenuhi angkasa yang gelap dengan cahaya melalui nur dan api yang luar biasa, serta menyalakan awan yang bagaikan gunung dan bagaikan kapas, yang berkedudukan sebagai hujan es, salju, dan pompa air — keduanya memukul kepala manusia lalai yang tertunduk itu bagaikan palu godam, seraya mengingatkan: "Angkatlah kepalamu, dan pandanglah pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari suatu Zat Yang Mahaaktif lagi Mahakuasa, yang berkehendak memperkenalkan diri-Nya! Sebagaimana engkau tidak dibiarkan tanpa tujuan, peristiwa-peristiwa ini pun tidak mungkin dibiarkan tanpa tujuan. Masing-masingnya dipacu mengejar tugas-tugas yang penuh hikmah. Semuanya dipekerjakan oleh Sang Pengatur Yang Hakîm."

Maka pengembara yang penuh rasa ingin tahu ini pun mendengar kesaksian yang tinggi lagi nyata dari sebuah hakikat yang tersusun dari ditundukkannya awan, diarahkannya angin, diturunkannya hujan, dan diaturnya segala peristiwa di ruang angkasa itu; lalu ia berkata, "Âmantu billâh." Kalimat لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِهِ الْجَوُّ بِجَم۪يعِ مَا ف۪يهِ بِشَهَادَةِ عَظَمَةِ اِحَاطَةِ حَق۪يقَةِ التَّسْخ۪يرِ وَ التَّصْر۪يفِ وَ التَّنْز۪يلِ وَ التَّدْب۪يرِ الْوَاسِعَةِ الْمُكَمَّلَةِ بِالْمُشَاهَدَةِ pada tingkatan kedua dari Maqam Pertama mengungkapkan segala yang telah disaksikan langsung oleh pengembara ini tentang ruang angkasa. {(Peringatan): Aku ingin menjelaskan sedikit tiga puluh tiga tingkatan tauhid yang disebutkan di dalam Maqam Pertama. Namun, karena keadaanku sekarang dan kondisiku tidak mengizinkan, aku terpaksa mencukupkan diri dengan burhan-burhannya yang amat ringkas serta terjemahan maknanya saja. Karena tiga puluh tiga tingkatan ini telah dijelaskan berikut dalil-dalilnya dengan cara yang berbeda-beda di dalam tiga puluh, bahkan seratus risalah Risale-i Nur — pada setiap risalah dijelaskan sebagian tingkatannya — maka rinciannya diserahkan kepada risalah-risalah itu.}

Kemudian bumi berkata dengan lisan keadaannya kepada musafir yang bertafakur dan telah terbiasa dengan perjalanan pemikiran itu: "Apa yang engkau cari dengan berkeliling di langit, di angkasa, dan di udara? Marilah, aku akan mengenalkan kepadamu apa yang engkau cari. Lihatlah tugas-tugas yang kuemban dan bacalah lembaran-lembaranku!" Ia pun memandang dan melihat bahwa:

Bumi, dengan dua gerakannya, laksana seorang darwis Maulawi yang tenggelam dalam kerinduan, menggambar sebuah lingkaran yang menjadi sebab terjadinya hari-hari, tahun-tahun, dan musim-musim, di sekeliling medan kebangkitan teragung. Dan ia adalah sebuah bahtera Rabbani yang megah lagi tunduk, yang memuat seratus ribu jenis makhluk hidup beserta seluruh rezeki dan perbekalan mereka, membawa mereka berkeliling di lautan angkasa dengan keseimbangan dan tatanan yang sempurna, serta mengembara mengelilingi matahari.

Kemudian ia memandang lembaran-lembaran bumi dan melihat bahwa setiap lembaran pada bab-babnya memperkenalkan Rabb bumi dengan ribuan ayatnya. Karena tidak mendapatkan waktu untuk membaca seluruhnya, ia hanya memandang satu lembaran saja, yaitu bagaimana makhluk hidup diciptakan dan diatur pada musim semi, lalu ia menyaksikan bahwa:

Bentuk-bentuk anggota yang tak terhingga dari seratus ribu jenis makhluk itu terbuka dari satu materi yang sederhana dengan sangat teratur, dan dipelihara dengan sangat penuh kasih, dan sebagian benihnya diberi sayap-sayap kecil lalu diterbangkan sehingga tersebar dengan cara yang sangat menakjubkan, dan diurus dengan sangat cermat lagi penuh pengaturan, dan diberi makan serta dijamu dengan sangat lembut lagi penuh belas kasih, dan rezeki mereka yang tak terhingga, beraneka macam, lezat, lagi manis ditumbuhkan dengan sangat penuh kasih dan limpahan rezeki — dari sesuatu yang sama sekali tidak ada, dari tanah yang kering, dari akar-akar yang serupa satu sama lain dan amat sedikit perbedaannya serta keras seperti tulang, dari biji-bijian, dan dari tetes-tetes air. Setiap musim semi, laksana sebuah gerbong, dimuati seratus ribu jenis makanan dan perbekalan dari khazanah gaib dengan keteraturan yang sempurna, lalu dikirimkan kepada makhluk hidup.

Dan terutama, dikirimkannya kaleng-kaleng susu kepada anak-anak yang masih kecil di dalam paket-paket rezeki itu, serta digantungkannya pompa-pompa kecil berisi susu manis pada dada ibu mereka yang penuh kasih, terlihat begitu penuh kasih sayang, rahmat, dan hikmah sehingga dengan sangat nyata membuktikan bahwa semua itu adalah manifestasi rahmat dan karunia dari Ar-Rahmân Yang Rahîm, yang sangat lembut lagi memelihara.