Risale-i NurSinar-Sinar

Kesimpulannya,

Sinar-Sinar · hlm. 124

lembaran kehidupan musim semi ini, dengan memperlihatkan seratus ribu contoh dan misal dari kebangkitan teragung, فَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثَارِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِى الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْيِى الْمَوْتٰى وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ قَد۪يرٌ

menafsirkan ayat tersebut secara nyata dengan amat gemilang; sebagaimana ayat ini pun mengungkapkan makna-makna lembaran ini dengan cara yang menakjubkan. Dan ia pun memahami bahwa bumi, dengan seluruh lembarannya, sebesar dirinya dan sekuat kekuatannya, mengucapkan لَا اِلٰهَ اِلَّاهُوَ.

Maka dengan kesaksian ringkas dari satu segi saja di antara dua puluh segi pada satu lembaran saja di antara lebih dari dua puluh lembaran besar bumi — sebagai makna dari segala yang disaksikan pengembara itu pada lembaran-lembaran segi yang lain, dan untuk mengungkapkan segala yang disaksikannya itu — pada tingkatan ketiga dari Maqam Pertama dikatakan demikian: لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِهِ الْاَرْضُ بِجَم۪يعِ مَا ف۪يهَا وَ مَا عَلَيْهَا بِشَهَادَةِ عَظَمَةِ اِحَاطَةِ حَق۪يقَةِ التَّسْخ۪يرِ وَ التَّدْب۪يرِ وَ التَّرْبِيَةِ وَ الْفَتَّاحِيَّةِ وَ تَوْز۪يعِ الْبُذُورِ وَ الْمُحَافَظَةِ وَ الْاِدَارَةِ وَ الْاِعَاشَةِ لِجَم۪يعِ ذَوِى الْحَيَاةِ وَ الرَّحْمَانِيَّةِ وَ الرَّح۪يمِيَّةِ الْعَامَّةِ الشَّامِلَةِ الْمُكَمَّلَةِ بِالْمُشَاهَدَةِ

Kemudian, setiap kali pengembara yang bertafakur itu membaca satu lembaran, imannya yang merupakan kunci kebahagiaan pun semakin kuat, dan makrifatnya yang merupakan kunci pembuka segala kemajuan maknawi pun semakin bertambah, dan hakikat iman kepada Allah yang merupakan dasar dan sumber segala kesempurnaan pun semakin tersingkap satu tingkat lagi sehingga memberikan banyak zauk dan kelezatan maknawi; karena semua itu membangkitkan rasa ingin tahunya dengan amat kuat, maka meskipun ia telah mendengarkan pelajaran-pelajaran yang sempurna lagi pasti dari langit, ruang angkasa, dan bumi, ia tetap saja berkata هَلْ مِنْ مَز۪يدٍ. Ketika itulah ia mendengar zikir lautan dan sungai-sungai besar yang bergemuruh dan bergelora penuh kerinduan, serta suara-suaranya yang sendu lagi lezat. Dengan lisan keadaan dan lisan ucapan mereka berkata: "Pandanglah kami juga, bacalah kami juga!" Ia pun memandang dan melihat bahwa:

Lautan yang terus-menerus bergolak bagaikan hidup, yang secara fitrah cenderung berhamburan, tumpah, dan meluap menerjang, meliputi bumi dan bersama bumi dilarikan dengan sangat cepat dalam setahun menempuh sebuah lingkaran sepanjang dua puluh lima ribu tahun perjalanan; namun ia tidak berhamburan, tidak tumpah, dan tidak pula melampaui batas ke tanah yang menjadi tetangganya. Ini berarti bahwa lautan itu berdiri tetap, beredar, dan terjaga dengan perintah dan kekuatan Zat Yang Mahakuasa lagi Mahaagung.

Kemudian ia memandang ke dalam lautan dan melihat bahwa: selain permata-permatanya yang teramat indah, berhias, lagi teratur, ribuan jenis hewan di dalamnya diberi makan

dan diurus dengan begitu teratur, demikian pula kelahiran dan kematian mereka; rezeki dan jatah makanan yang diberikan kepada mereka dari pasir yang sederhana dan air yang pahit demikian sempurna, sehingga dengan sangat nyata membuktikan bahwa semua itu berlangsung dengan pengaturan dan pemberian rezeki dari Sang Qadîr Dzul-Jalâl dan Sang Rahîm Dzul-Jamâl.

Kemudian musafir itu memandang sungai-sungai dan melihat bahwa manfaat, tugas, pemasukan, dan pengeluarannya begitu penuh hikmah lagi penuh kasih; hal itu dengan sangat nyata membuktikan bahwa seluruh anak sungai, mata air, kali, dan sungai besar keluar dan mengalir dari khazanah rahmat Ar-Rahmân Dzul-Jalâli wal-Ikrâm. Bahkan semuanya disimpan dan dibelanjakan dengan cara yang begitu luar biasa sehingga diriwayatkan, "Empat sungai datang dari surga." Yakni: karena semuanya jauh berada di atas sebab-sebab lahiriah, maka artinya sungai-sungai itu mengalir dari khazanah sebuah surga maknawi dan dari limpahan sebuah sumber gaib yang tidak pernah habis.

Misalnya, Sungai Nil yang mubarak, yang mengubah hamparan pasir Mesir menjadi sebuah surga, mengalir terus-menerus tanpa pernah habis bagaikan lautan kecil dari sebuah gunung di sebelah selatan yang disebut "Jabal Qamar". Seandainya apa yang dikeluarkannya selama enam bulan dikumpulkan dalam bentuk gunung dan dibekukan, niscaya ia lebih besar daripada gunung itu. Padahal tempat dan gudang yang tersedia baginya di gunung tersebut tidak sampai seperenam bagiannya. Adapun pemasukannya, yaitu hujan yang di daerah yang sangat panas itu turun amat sedikit dan yang hanya sedikit sampai ke gudang karena cepat ditelan tanah yang kehausan, sudah pasti tidak dapat menjaga keseimbangan yang seluas itu. Karena itu, riwayat yang menyatakan bahwa Sungai Nil yang mubarak itu keluar dari sebuah surga gaib, melampaui kebiasaan yang berlaku di bumi, mengungkapkan sebuah hakikat yang amat dalam maknanya lagi indah.

Maka ia pun melihat satu dari seribu hakikat dan kesaksian lautan dan sungai yang luas bagaikan lautan itu. Dan ia memahami bahwa semuanya dengan sepakat mengucapkan لَا اِلٰهَ اِلَّاهُوَ dengan kekuatan sebesar lautan, dan bahwa untuk kesaksian ini lautan mengajukan saksi-saksi sebanyak jumlah makhluk yang ada di dalamnya. Dan dengan maksud menghendaki serta mengungkapkan seluruh kesaksian lautan dan sungai itu, pada tingkatan keempat dari Maqam Pertama dikatakan لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِه۪ جَم۪يعُ الْبِحَارِ وَ الْاَنْهَارِ بِجَم۪يعِ مَا ف۪يهَا بِشَهَادَةِ عَظَمَةِ اِحَاطَةِ حَق۪يقَةِ التَّسْخ۪يرِ وَ الْمُحَافَظَةِ وَ الْاِدِّخَارِ وَ الْاِدَارَةِ الْوَاسِعَةِ الْمُنْتَظَمَةِ بِالْمُشَاهَدَةِ.

Kemudian gunung-gunung dan padang-padang sahara memanggil pengembara yang tengah menempuh perjalanan pemikiran itu, seraya berkata, "Bacalah lembaran-lembaran kami juga!" Ia pun memandang dan melihat bahwa:

Tugas-tugas menyeluruh dan khidmah umum gunung-gunung begitu agung lagi penuh hikmah sehingga membuat akal tercengang. Misalnya, gunung-gunung keluar dari bumi dengan perintah Rabbani, lalu dengan keluarnya itu ia meredakan gejolak, amarah, dan murka bumi yang lahir dari pergolakan di dalam perutnya; maka bumi pun bernapas melalui semburan dan lubang gunung-gunung itu, selamat dari guncangan-guncangan yang berbahaya dan dari gempa yang merusak, sehingga dalam menjalankan tugas perputarannya ia tidak mengganggu istirahat para penghuninya.

Maka sebagaimana kapal-kapal dibangun di atas tiang-tiangnya untuk melindunginya dari guncangan dan menjaga keseimbangannya, demikian pula gunung-gunung merupakan tiang-tiang yang penuh khazanah bagi bahtera bumi dalam makna ini — sebagaimana difirmankan oleh Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân melalui banyak ayat seperti وَ الْجِبَالَ اَوْتَادًا ٭ وَاَلْقَيْنَا ف۪يهَا رَوَاسِىَ ٭ وَالْجِبَالَ اَرْسٰيهَا.

Dan misalnya pula, di dalam gunung-gunung itu segala macam sumber mata air, air, barang tambang, bahan-bahan, dan obat-obatan yang dibutuhkan makhluk hidup telah disimpan, disiapkan, dan ditata dengan begitu penuh hikmah, penuh pengaturan, penuh kemuliaan, dan penuh sikap berjaga-jaga, sehingga dengan sangat nyata gunung-gunung itu membuktikan bahwa dirinya adalah khazanah, gudang, dan pelayan bagi Sang Qadîr yang kudrat-Nya tidak terhingga dan Sang Hakîm yang hikmah-Nya tidak terhingga — demikianlah ia memahami.

Lalu dari tugas dan hikmah padang sahara serta gunung-gunung yang sebesar gunung itu, ia mengiaskan yang lainnya kepada dua permata ini; maka kesaksian yang dibawa oleh seluruh hikmah gunung dan sahara — terutama dari segi simpanan cadangan untuk berjaga-jaga — serta tauhid لَا اِلٰهَ اِلَّاهُوَ yang mereka ucapkan, ia lihat sekuat dan seteguh gunung-gunung, seluas dan sebesar padang-padang sahara; lalu ia berkata, "Âmantu billâh."

Maka untuk mengungkapkan makna inilah, pada tingkatan kelima dari Maqam Pertama dikatakan لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ جَم۪يعُ الْجِبَالِ وَ الصَّحَارٰى بِجَم۪يعِ مَا ف۪يهَا وَ مَا عَلَيْهَا بِشَهَادَةِ عَظَمَةِ اِحَاطَةِ حَق۪يقَةِ الْاِدِّخَارِ وَ الْاِدَارَةِ وَ نَشْرِ الْبُذُورِ وَ الْمُحَافَظَةِ وَ التَّدْب۪يرِ الْاِحْتِيَاطِيَّةِ الرَّبَّانِيَّةِ الْوَاسِعَةِ الْعَامَّةِ الْمُنْتَظَمَةِ الْمُكَمَّلَةِ بِالْمُشَاهَدَةِ.

Kemudian, ketika pengembara itu berkeliling dengan pikirannya di gunung dan di padang sahara, pintu alam pepohonan dan tumbuhan terbuka bagi pikirannya. Mereka memanggilnya masuk ke dalam. "Marilah, berkelilinglah pula di lingkungan kami, dan bacalah tulisan-tulisan kami!" kata mereka. Ia pun masuk dan melihat bahwa:

Mereka telah membentuk sebuah majelis tahlil dan tauhid serta halakah zikir dan syukur yang teramat megah lagi berhias. Ia memahami dari lisan keadaan mereka bahwa seluruh jenis pepohonan dan tumbuhan dengan sepakat bersama-sama mengucapkan ٔلَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ. Sebab ia melihat tiga hakikat besar lagi menyeluruh yang menunjukkan dan bersaksi bahwa seluruh pohon dan tumbuhan yang berbuah — dengan lidah daun-daunnya yang seimbang lagi fasih, dengan kata-kata bunga-bunganya yang berhias lagi mantap ungkapannya, dan dengan kalimat-kalimat buahnya yang teratur lagi penuh balaghah — bersaksi seraya bertasbih dan mengucapkan لَا اِلٰهَ اِلَّاهُوَ:

YANG PERTAMA: Makna dan hakikat pemberian nikmat dan kemuliaan yang disengaja, serta kebaikan dan anugerah yang lahir dari kehendak, terasa dengan sangat jelas pada masing-masing dari mereka; sedangkan pada keseluruhannya, hal itu tampak laksana cahaya matahari ketika ia terbit.

YANG KEDUA: Makna dan hakikat bahwa semuanya dibedakan dan dipilah dengan sengaja lagi penuh hikmah — yang sama sekali tidak mungkin diserahkan kepada kebetulan dari segi mana pun — serta dihias dan diberi rupa dengan pilihan yang penuh kasih, tampak terang benderang bagaikan siang hari pada jenis-jenis dan anggota yang tak terhingga itu, dan menunjukkan bahwa semuanya adalah karya dan ukiran Sang Pembuat Yang Hakîm.

YANG KETIGA: Adapun rupa-rupa dari ciptaan-ciptaan yang tak terhingga itu, yang berjumlah ratusan ribu macam dengan corak dan bentuk yang berbeda-beda — yakni terbukanya dan tersingkapnya rupa seluruh satuan dari dua ratus ribu jenis itu secara sangat teratur, seimbang, dan berhias, dari benih-benih dan butir-butir kecil yang terbatas lagi terhitung, yang serupa satu sama lain, sederhana, beku, sama satu sama lain atau sedikit berbeda dan bercampur baur; dalam keadaan yang berlainan tandanya, teratur, terpisah satu per satu, seimbang, hidup, penuh hikmah, tanpa keliru, dan tanpa salah — maka itu adalah sebuah hakikat yang lebih terang daripada matahari; dan sebanyak bunga, buah, daun, serta makhluk pada musim semi terdapat saksi-saksi yang membuktikan hakikat itu. Demikianlah ia mengetahuinya. Lalu ia mengucapkan: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى نِعْمَةِ الْا۪يمَانِ

Maka dengan maksud mengungkapkan hakikat-hakikat dan kesaksian-kesaksian yang telah disebutkan itu, pada tingkat keenam dari Maqam Pertama telah dikatakan:

لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِه۪ اِجْمَاعُ جَم۪يعِ اَنْوَاعِ الْاَشْجَارِ وَ النَّبَاتَاتِ الْمُسَبِّحَاتِ النَّاطِقَاتِ بِكَلِمَاتِ اَوْرَاقِهَا الْمَوْزُونَاتِ الْفَص۪يحَاتِ وَ اَزْهَارِهَا الْمُزَيَّنَاتِ الْجَز۪يلَاتِ وَ اَثْمَارِهَا الْمُنْتَظَمَاتِ الْبَل۪يغَاتِ بِشَهَادَةِ عَظَمَةِ اِحَاطَةِ حَق۪يقَةِ الْاِنْعَامِ وَ الْاِكْرَامِ وَ الْاِحْسَانِ بِقَصْدٍ وَ رَحْمَةٍ وَ حَق۪يقَةِ التَّمْي۪يزِ وَ التَّزْي۪ينِ وَ التَّصْو۪يرِ بِاِرَادَةٍ وَ حِكْمَةٍ مَعَ قَطْعِيَّةِ دَلَالَةِ حَق۪يقَةِ فَتْحِ جَم۪يعِ صُوَرِهَا الْمَوْزُونَاتِ الْمُزَيَّنَاتِ الْمُتَبَايِنَةِ الْمُتَنَوِّعَةِ الْغَيْرِ الْمَحْدُودَةِ مِنْ نُوَاتَاتٍ وَ حَبَّاتٍ مُتَمَاثِلَةٍ مُتَشَابِهَةٍ مَحْصُورَةٍ مَعْدُودَةٍ

Kemudian, pengembara dunia yang sedang menempuh perjalanan pemikiran itu — yang penuh rasa ingin tahu, dan yang zauk serta semangatnya kian bertambah seiring kemajuannya — ketika datang dari taman musim semi sambil membawa sekumpulan bunga makrifat dan iman sebesar satu musim semi, terbukalah pintu alam hewan dan burung bagi akalnya yang melihat hakikat dan bagi pikirannya yang akrab dengan makrifat. Dengan ratusan ribu suara yang berbeda-beda dan dengan aneka ragam bahasa mereka memanggilnya masuk seraya berkata, "Silakan!" Ia pun masuk, dan ia melihat bahwa:

Seluruh jenis, kelompok, dan bangsa dari segala hewan dan burung, dengan sepakat, melalui lisan ucapan dan lisan keadaan mereka, mengucapkan لَا اِلٰهَ اِلَّاهُوَ sehingga mereka mengubah wajah bumi menjadi sebuah rumah zikir dan sebuah majelis tahlil yang megah; masing-masing mereka, yang berkedudukan sebagai sebuah kasidah Rabbani, sebuah kalimat Subhani, dan sebuah huruf Rahmani yang sarat makna, menyifati Sang Pembuat mereka seraya memuji dan menyanjung-Nya. Demikianlah keadaan yang ia lihat. Seakan-akan perasaan, daya, perangkat, anggota tubuh, dan alat-alat hewan serta burung itu adalah kata-kata yang tersusun rapi lagi seimbang, dan ucapan-ucapan yang teratur lagi sempurna. Lalu ia menyaksikan tiga hakikat yang agung lagi meliputi, yang secara pasti menunjukkan bahwa dengan semua itu mereka mempersembahkan syukur kepada Sang Khallâq dan Sang Razzâq mereka serta bersaksi atas keesaan-Nya:

YANG PERTAMA: Yaitu hakikat mengadakan dari tiada secara penuh hikmah — yang dari sisi mana pun tidak mungkin diserahkan kepada kebetulan yang serampangan, kepada kekuatan yang buta, dan kepada alam yang tidak sadar — dan

mencipta tanpa contoh (ibda) dengan cita rasa seni, dan mencipta serta menyusun dengan kehendak dan dengan ilmu, dan meniupkan ruh serta menghidupkan — yang dari dua puluh sisi memperlihatkan pancaran ilmu, hikmah, dan kehendak. Sebagai burhan yang terang, yang memiliki saksi-saksi sebanyak jumlah makhluk bernyawa, hakikat ini bersaksi atas wujud yang wajib ada bagi Zat Yang Hayy lagi Qayyûm, atas tujuh sifat-Nya, dan atas kesatuan-Nya.

YANG KEDUA: Dari perbuatan membeda-bedakan, memperindah, dan membentuk rupa pada ciptaan-ciptaan yang tak terhingga itu — dengan cara yang berlainan wajahnya satu sama lain, berhias bentuknya, seimbang ukurannya, dan teratur rupanya — tampaklah sebuah hakikat yang begitu agung dan begitu kuat, sehingga selain Sang Qadîr atas segala sesuatu dan Sang 'Alîm atas segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang dapat memiliki perbuatan meliputi segala sesuatu yang dari segala sisi memperlihatkan ribuan keajaiban dan hikmah ini; dan sama sekali tidak ada kemungkinan maupun peluang untuk itu.

YANG KETIGA: Membuka dan menyingkapkan rupa-rupa hewan yang tak terhingga itu — yang berjumlah ratusan ribu macam dan masing-masing berupa mukjizat hikmah — dalam susunan yang sangat teratur, seimbang, dan tanpa salah, dari telur-telur dan telur-telur kecil serta tetes-tetes air yang disebut nutfah, yang serupa dan sama satu sama lain atau sedikit berbeda dan saling menyerupai, yang terhitung lagi terbatas: itu adalah sebuah hakikat yang demikian terang, sehingga bukti-bukti dan dalil-dalil sebanyak jumlah hewan menerangi hakikat itu.

Maka dengan bersatunya tiga hakikat ini, seluruh jenis hewan bersama-sama mengucapkan لَا اِلٰهَ اِلَّاهُوَ dan bersaksi sedemikian rupa, sehingga ia melihat seakan-akan bumi bagaikan seorang manusia yang besar, mengucapkan لَا اِلٰهَ اِلَّاهُوَ sesuai dengan besarnya, lalu memperdengarkannya kepada para penghuni langit. Demikianlah ia melihat dan mengambil pelajaran sepenuhnya. Pada tingkat ketujuh dari Maqam Pertama, dengan maksud mengungkapkan hakikat-hakikat yang telah disebutkan itu, telah dikatakan: لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِه۪ اِتِّفَاقُ جَم۪يعِ اَنْوَاعِ الْحَيَوَانَاتِ وَ الطُّيُورِ الْحَامِدَاتِ الشَّاهِدَاتِ بِكَلِمَاتِ حَوَاسِّهَا وَ قُوَاهَا وَ حِسِّيَّاتِهَا وَ لَطَائِفِهَا الْمَوْزُونَاتِ الْمُنْتَظَمَاتِ الْفَص۪يحَاتِ وَ بِكَلِمَاتِ جِهَازَاتِهَا وَ جَوَارِحِهَا وَ اَعْضَائِهَا وَاٰلَاتِهَا الْمُكَمَّلَةِ الْبَل۪يغَاتِ بِشَهَادَةِ عَظَمَةِ اِحَاطَةِ حَق۪يقَةِ الْا۪يجَادِ وَ الصُّنْعِ وَ الْاِبْدَاعِ بِالْاِرَادَةِ وَ حَق۪يقَةِ التَّمْي۪يزِ وَ التَّزْي۪ينِ بِالْقَصْدِ وَ حَق۪يقَةِ التَّقْد۪يرِ وَ التَّصْو۪يرِ بِالْحِكْمَةِ مَعَ

قَطْعِيَّةِ دَلَالَةِ حَق۪يقَةِ فَتْحِ جَم۪يعِ صُوَرِهَا الْمُنْتَظَمَةِ الْمُتَخَالِفَةِ الْمُتَنَوِّعَةِ الْغَيْرِ الْمَحْصُورَةِ مِنْ بَيْضَاتٍ وَ قَطَرَاتٍ مُتَمَاثِلَةٍ مُتَشَابِهَةٍ مَحْصُورَةٍ مَحْدُودَةٍ

Kemudian, ketika pengembara yang bertafakur itu hendak memasuki alam manusia dan dunia insan untuk melangkah lebih jauh di dalam tingkatan makrifat Ilahi yang tak terhingga, di dalam zauk-zauknya yang tiada berujung, dan di dalam cahaya-cahayanya, para nabi tampil di barisan terdepan mengundangnya masuk; ia pun masuk. Mula-mula ia memandang ke persinggahan masa lalu, dan ia melihat bahwa:

Seluruh nabi alaihimussalam — yang merupakan manusia paling bercahaya dan paling sempurna dari jenis manusia — dengan ijmak bersama-sama mengucapkan لَا اِلٰهَ اِلَّاهُوَ seraya berzikir; dan dengan kekuatan mukjizat mereka yang tak terhingga, yang terang lagi dibenarkan, mereka menegaskan tauhid; dan untuk mengangkat manusia dari tingkat hewan ke derajat malaikat, mereka memberikan pelajaran dengan menyeru manusia kepada iman kepada Allah. Demikianlah yang ia lihat. Ia pun berlutut di madrasah yang bercahaya itu dan duduk mengikuti pelajaran. Ia melihat bahwa:

Karena pada tangan masing-masing guru itu — yang merupakan orang-orang termasyhur di kalangan manusia, yang paling tinggi dan paling terkenal — terdapat mukjizat sebagai tanda yang membenarkan mereka, yang diberikan oleh Sang Khâliq kainat; dan karena dengan kabar yang dibawa masing-masing mereka satu kelompok besar dan satu umat dari kalangan manusia membenarkan lalu beriman, maka ia dapat mengukur betapa kuat dan betapa pastinya sebuah hakikat yang diputuskan dan dibenarkan dengan ijmak serta kesepakatan oleh ratusan ribu pribadi yang sungguh-sungguh dan benar itu. Dan ia memahami betapa tak terhingga kesalahan dan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang sesat, yang mengingkari sebuah hakikat yang sekuat itu — hakikat yang telah ditandatangani dan dibuktikan dengan mukjizat-mukjizat tak terhingga dari sekian banyak pembawa kabar yang jujur — serta betapa tak terhingga azab yang layak mereka terima; dan ia mengetahui betapa benar dan betapa berpijak pada hakikatnya orang-orang yang membenarkan mereka lalu beriman. Maka satu tingkat besar lagi dari kesucian iman tampak kepadanya.

Ya, selain dari mukjizat-mukjizat para nabi alaihimussalam yang tak terhingga — yang secara nyata membenarkan mereka dari sisi Allah — dan dari sekian banyak tamparan samawi yang menimpa para penentang mereka, yang memperlihatkan bahwa mereka berada di atas kebenaran; dan dari kesempurnaan pribadi mereka serta ajaran-ajaran mereka yang berpijak pada hakikat, yang menunjukkan bahwa mereka benar; dan dari kekuatan iman mereka, kesungguhan mereka yang penuh, serta pengorbanan mereka, yang bersaksi bahwa mereka jujur; dan dari kitab-kitab serta suhuf suci yang ada di tangan mereka; dan dari murid-murid mereka yang tak terhingga, yang dengan mengikuti mereka sampai kepada hakikat, kepada kesempurnaan, dan kepada cahaya, yang bersaksi bahwa jalan mereka lurus dan

benar — maka selain dari semua itu, ijmak, kesepakatan, dan tawatur (diberitakan oleh banyak orang) mereka serta para pembawa kabar yang sungguh-sungguh itu dalam persoalan-persoalan yang bersifat menetapkan, juga kesesuaian, saling menopang, dan saling bertepatannya mereka dalam membuktikannya, adalah sebuah hujah dan sebuah kekuatan sedemikian rupa, sehingga tidak ada satu kekuatan pun di dunia yang sanggup berhadapan dengannya, dan ia tidak menyisakan keraguan maupun rasa bimbang sedikit pun. Dan ia memahami bahwa tercakupnya sikap membenarkan seluruh nabi alaihimussalam ke dalam rukun-rukun iman menunjukkan bahwa sikap membenarkan itu merupakan sumber kekuatan yang besar. Dari pelajaran-pelajaran mereka ia memperoleh banyak limpahan iman.

Maka dengan maksud mengungkapkan pelajaran pengembara ini yang telah disebutkan itu, pada tingkat kedelapan dari Maqam Pertama telah dikatakan: لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِه۪ اِجْمَاعُ جَم۪يعِ الْاَنْبِيَاءِ بِقُوَّةِ مُعْجِزَاتِهِمُ الْبَاهِرَةِ الْمُصَدِّقَةِ الْمُصَدَّقَةِ

Kemudian, ketika musafir yang sedang mencari itu — yang dari kekuatan iman memperoleh zauk hakikat yang tinggi — datang dari majelis para nabi alaihimussalam, para muhakik yang dalam ilmunya lagi mujtahid, yang disebut asfiya dan Siddiqin, yang dengan dalil-dalil yang pasti dan kuat dalam bentuk ilmul yakin dari kalangan ulama membuktikan kebenaran dakwah para nabi alaihimussalam, memanggilnya ke ruang belajar mereka. Ia pun masuk dan melihat bahwa:

Ribuan orang jenius dan ratusan ribu peneliti yang cermat serta ahli tahkik yang tinggi, dengan meneliti secara mendalam sehingga tidak menyisakan keraguan sehelai rambut pun, membuktikan persoalan-persoalan iman yang bersifat menetapkan, terutama wujud yang wajib ada dan kesatuan. Ya, meskipun bakat dan jalan mereka berbeda-beda, kesepakatan mereka yang bulat dalam pokok-pokok dan rukun-rukun iman, serta bersandarnya masing-masing mereka kepada burhan-burhan yang kuat lagi meyakinkan, adalah sebuah hujah sedemikian rupa, sehingga orang hanya dapat berhadapan dengan mereka apabila ia mungkin memiliki kecerdasan dan kecakapan sebanyak kecerdasan mereka semua, dan menemukan burhan sebanyak seluruh burhan mereka. Jika tidak, para pengingkar itu hanya dapat menghadapi mereka dengan bersikap bodoh dan jahil, dengan mengingkari, dengan bersikeras dalam persoalan-persoalan negatif yang tidak dapat dibuktikan, dan dengan menutup mata. Orang yang menutup matanya hanya menjadikan siang sebagai malam bagi dirinya sendiri.

Musafir ini mengetahui bahwa di ruang belajar yang megah dan luas ini, cahaya-cahaya yang disebarkan oleh para guru yang mulia lagi dalam ilmunya itu telah menerangi separuh bumi lebih dari seribu tahun lamanya. Dan ia menemukan sebuah kekuatan maknawi sedemikian rupa, sehingga seandainya seluruh pengingkar berkumpul, mereka tidak sanggup membuatnya bingung ataupun mengguncangkannya sehelai rambut pun.

Maka sebagai isyarat singkat kepada pelajaran yang diperoleh pengembara ini dari ruang belajar tersebut, pada tingkat kesembilan dari Maqam Pertama telah dikatakan: لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِه۪ اِتِّفَاقُ جَم۪يعِ الْاَصْفِيَاءِ بِقُوَّةِ بَرَاه۪ينِهِمُ الظَّاهِرَةِ الْمُحَقَّقَةِ الْمُتَّفِقَةِ

Kemudian, ketika pengembara yang bertafakur itu — yang sangat rindu melihat cahaya-cahaya dan zauk-zauk yang terdapat pada bertambah kuatnya iman, pada terbukanya iman, dan pada naiknya iman dari derajat ilmul yakin ke tingkat ainul yakin — datang dari madrasah, ribuan bahkan jutaan mursyid yang suci memanggilnya masuk ke dergah: yaitu mereka yang berjuang menuju hakikat, sampai kepada kebenaran, dan meraih ainul yakin di dalam sebuah tekke, sebuah khanqah, sebuah rumah zikir, dan sebuah tempat bimbingan yang amat penuh limpahan karunia, bercahaya, dan seluas padang sahara — yang meluas karena berpadunya tekke-tekke kecil dan zawiyah-zawiyah yang tak terhingga — serta di bawah naungan jalan besar Muhammad صلى الله عليه وسلم dan mikraj Ahmad صلى الله عليه وسلم. Ia pun masuk dan melihat bahwa:

Para mursyid ahli kasyaf dan ahli karamah itu, dengan bersandar kepada apa yang tersingkap bagi mereka, kepada apa yang mereka saksikan langsung, dan kepada karamah mereka, dengan ijmak dan sepakat mengucapkan لَا اِلٰهَ اِلَّاهُوَ seraya mengumumkan kepada kainat wujud yang wajib ada dan kesatuan Rabbani. Sebagaimana matahari dikenali melalui tujuh warna yang ada pada cahayanya, demikian pula melalui tujuh puluh warna — bahkan sebanyak jumlah Asmaul Husna — yaitu warna-warna bercahaya yang berbeda-beda dan aneka corak yang bersinar, yang memancar dari cahaya Matahari Azali; maka dengan ainul yakin ia menyaksikan betapa nyata dan terangnya sebuah hakikat yang ditandatangani dengan ijmak dan kesepakatan oleh orang-orang jenius yang suci dan para arif yang bercahaya itu — mereka yang berada dalam tarekat-tarekat yang berbeda-beda namun berpijak pada hakikat, dalam jalan-jalan yang beragam namun lurus, dan dalam masyrab-masyrab (corak pembawaan) yang bermacam-macam namun benar. Dan ijmak para nabi alaihimussalam, kesepakatan para asfiya, bertepatannya para wali, serta bersatunya ketiga ijmak itu sekaligus, ia lihat lebih terang daripada cahaya siang yang memperlihatkan matahari.

Maka sebagai isyarat singkat kepada limpahan karunia yang diperoleh tamu ini dari tekke tersebut, pada tingkat kesepuluh dari Maqam Pertama telah dikatakan: لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِه۪ اِجْمَاعُ الْاَوْلِيَاءِ بِكَشْفِيَّاتِهِمْ وَ كَرَامَاتِهِمُ الظَّاهِرَةِ الْمُحَقَّقَةِ الْمُصَدَّقَةِ

Kemudian, sang pengembara dunia itu — yang mengetahui bahwa kesempurnaan manusia yang paling penting dan paling besar, bahkan sumber dan dasar seluruh kesempurnaan manusia, adalah cinta kepada Allah yang lahir dari iman kepada Allah dan dari makrifatullah — dengan segenap kekuatan dan segenap latifahnya, dengan maksud memohon agar ia semakin maju lagi dalam kekuatan iman dan dalam semakin terbukanya makrifat, mengangkat kepalanya dan memandang ke langit-langit. Ia berkata kepada akalnya sendiri:

"Selama sesuatu yang paling berharga di dalam kainat adalah kehidupan, dan segala yang ada di kainat ini ditundukkan untuk kehidupan; dan selama makhluk hidup yang paling berharga adalah makhluk bernyawa, sedangkan makhluk bernyawa yang paling berharga adalah makhluk berkesadaran; dan selama karena nilai yang demikian tinggi itu bumi ini pada setiap abad dan setiap tahun terisi lalu kosong kembali demi terus-menerus memperbanyak makhluk hidup — maka sudah pasti dan mesti, langit-langit yang megah lagi berhias ini pun memiliki penduduk dan penghuni yang sesuai dengannya dari kalangan makhluk hidup, makhluk bernyawa, dan makhluk berkesadaran; sebab peristiwa melihat malaikat dan bercakap-cakap dengan mereka — seperti Malaikat Jibril alaihissalam yang menjelma dalam rupa manusia sehingga terlihat oleh para sahabat di hadapan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم — sejak dahulu dinukilkan dan diriwayatkan secara mutawatir. Kalau begitu, alangkah baiknya seandainya aku pun dapat berjumpa dengan penghuni langit-langit dan mengetahui apa yang mereka pikirkan; sebab perkataan yang paling penting tentang Khâliq kainat adalah perkataan mereka." Ketika ia sedang berpikir demikian, tiba-tiba ia mendengar suara samawi seperti ini:

"Selama engkau ingin berjumpa dengan kami dan mendengarkan pelajaran kami, ketahuilah: masalah-masalah keimanan yang datang kepada seluruh nabi dengan perantaraan kami — terutama kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan Al-Qur'an Al-Mu'jizul-Bayân — kamilah yang paling awal mengimaninya. Selain itu, seluruh ruh yang baik dari golongan kami, yang menjelma dan tampak kepada manusia, tanpa terkecuali dan dengan sepakat telah bersaksi atas wujud yang wajib ada bagi Khâliq kainat ini, atas keesaan-Nya, dan atas sifat-sifat-Nya yang suci, lalu memberitakannya dalam keadaan saling bersesuaian dan saling bertepatan. Bersesuaian dan bertepatannya berita yang tak terhingga banyaknya ini adalah pemandu bagimu, laksana matahari." Demikianlah ia mengetahui apa yang mereka katakan; maka cahaya imannya pun berkilau, dan ia naik dari bumi ke langit.

Maka sebagai isyarat singkat kepada pelajaran yang diterima sang pengembara ini dari para malaikat, pada tingkatan kesebelas dari Maqam Pertama لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِه۪ اِتِّفَاقُ الْمَلٰئِكَةِ الْمُتَمَثِّل۪ينَ لِاَنْظَارِ النَّاسِ وَ الْمُتَكَلِّم۪ينَ مَعَ خَوَاصِّ الْبَشَرِ بِاِخْبَارَاتِهِمُ الْمُتَطَابِقَةِ الْمُتَوَافِقَةِ

telah dikatakan.

Kemudian, karena sang tamu yang penuh rasa ingin tahu dan penuh kerinduan itu telah mengambil pelajaran dari sisi alam nyata yang jasmani dan kebendaan, dari lisan berbagai golongan makhluk yang khusus, dan dari lisan keadaan mereka, maka ketika ia ingin melakukan satu perjalanan dan mencari kebenaran dengan menelaah alam gaib dan alam barzakh pula, terbukalah pintu akal-akal yang lurus lagi bercahaya dan hati-hati yang selamat lagi bercahaya — yang terdapat pada setiap golongan manusia, yang kedudukannya bagaikan benih bagi manusia yang merupakan buah kainat, dan yang meskipun kecil dapat mengembang secara maknawi seluas kainat.

Ia melihat bahwa keduanya adalah barzakh-barzakh insani di tengah-tengah alam gaib dan alam nyata; dan karena ia melihat bahwa persentuhan serta hubungan kedua alam itu satu sama lain, dari sisi manusia, terjadi pada titik-titik tersebut, ia pun berkata kepada akal dan hatinya sendiri: "Marilah, jalan menuju hakikat melalui pintu golongan yang serupa dengan kalian ini lebih pendek. Kita harus mengambil manfaat bukan seperti ketika kita mengambil pelajaran dari lisan-lisan pada jalan-jalan yang lain, melainkan dengan menelaah sifat yang mereka sandang pada titik iman, keadaan mereka, dan warna-warna mereka," katanya. Ia pun mulai menelaah. Ia melihat bahwa:

Seluruh akal yang lurus lagi bercahaya — yang bakatnya sangat berbeda-beda dan mazhabnya berjauhan serta bertentangan satu sama lain — ternyata memiliki itikad yang mereka sandang secara mendalam lagi kukuh dalam iman dan tauhid yang saling bersesuaian, serta kepastian dan keyakinan yang teguh lagi tenang yang saling bertepatan. Berarti mereka bersandar dan berpegang kepada satu hakikat yang tidak berubah, dan akar mereka telah menghunjam ke dalam hakikat yang kukuh sehingga tidak putus. Kalau begitu, ijmak mereka pada titik keimanan, pada wujud yang wajib ada, dan pada tauhid adalah rantai bercahaya yang sama sekali tidak akan putus, dan sebuah jendela terang yang terbuka ke arah hakikat.

Ia juga melihat bahwa seluruh hati yang selamat lagi bercahaya itu — yang jalannya berjauhan satu sama lain dan corak batinnya saling berbeda — apa yang mereka singkapkan dengan penglihatan batin dan apa yang mereka saksikan langsung mengenai rukun-rukun iman, dengan sepakat, dengan penuh ketenangan hati, dan dengan penuh ketertarikan, ternyata saling bersesuaian satu sama lain dan saling bertepatan dalam tauhid.

Berarti, hati-hati yang bercahaya itu — yang berhadapan dengan hakikat, sampai kepadanya, dan menampakkan wujudnya; yang masing-masing merupakan arasy mungil bagi makrifat kepada Allah dan cermin yang menghimpun bagi Allah Yang Shamad — adalah jendela-jendela yang terbuka ke arah matahari hakikat; dan seluruhnya sekaligus adalah cermin teragung, laksana lautan yang memantulkan matahari. Kesepakatan dan ijmak mereka atas wujud yang wajib ada dan atas keesaan adalah pemandu yang paling sempurna dan mursyid yang paling agung, yang tidak pernah keliru dan tidak pernah mengelirukan.

Sebab dari sisi mana pun sama sekali tidak ada satu pun kemungkinan dan satu pun peluang bahwa suatu waham selain hakikat, suatu pikiran yang tidak berdasar pada hakikat, dan suatu sifat yang tidak ada asalnya dapat — dengan cara yang demikian terus-menerus dan demikian kukuh — menipu mata yang sangat besar dan sangat tajam itu

seluruhnya sekaligus dan membuatnya keliru dalam menangkap kenyataan. Ia pun memahami bahwa akal yang rusak lagi busuk yang menganggap hal itu mungkin terjadi, bahkan tidak akan disetujui oleh kaum sofis yang bodoh yang mengingkari kainat ini, dan pasti mereka tolak. Lalu bersama akal dan hatinya, ia mengucapkan "Âmantu billâh".

Maka sebagai isyarat singkat kepada makrifat keimanan yang diperoleh sang pengembara ini dari akal-akal yang lurus dan hati-hati yang bercahaya, pada tingkatan kedua belas dan ketiga belas dari Maqam Pertama لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ الَّذ۪ى دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِه۪ اِجْمَاعُ الْعُقُولِ الْمُسْتَق۪يمَةِ الْمُنَوَّرَةِ بِاِعْتِقَادَاتِهَا الْمُتَوَافِقَةِ وَ بِقَنَاعَاتِهَا وَ يَق۪ينِيَّاتِهَا الْمُتَطَابِقَةِ مَعَ تَخَالُفِ الْاِسْتِعْدَادَاتِ وَ الْمَذَاهِبِ وَ كَذَا دَلَّ عَلٰى وُجُوبِ وُجُودِه۪ ف۪ى وَحْدَتِه۪ اِتِّفَاقُ الْقُلُوبِ السَّل۪يمَةِ النُّورَانِيَّةِ بِكَشْفِيَّاتِهَا الْمُتَطَابِقَةِ وَ بِمُشَاهَدَاتِهَا الْمُتَوَافِقَةِ مَعَ تَبَايُنِ الْمَسَالِكِ وَ الْمَشَارِبِ telah dikatakan.

Kemudian sang pengembara itu, yang memandang alam gaib dari dekat dan berjalan di dalam akal serta hati, dengan penuh rasa ingin tahu mengetuk pula pintu itu dengan pikiran sebagai berikut: apa gerangan yang dikatakan alam gaib? Yakni: selama dengan sangat nyata dipahami bahwa di balik tabir gaib terdapat satu Zat yang di alam nyata yang jasmani dan kebendaan ini secara nyata menghendaki — dengan cara yang lebih terang daripada ucapan dan perkataan — untuk memperkenalkan diri-Nya melalui ciptaan-ciptaan-Nya yang tak terhingga, yang demikian berhias dan penuh seni; untuk membuat diri-Nya dicintai melalui nikmat-nikmat-Nya yang demikian manis, indah, dan tiada berakhir; dan untuk memberitahukan kesempurnaan-Nya yang tersembunyi melalui karya-karya-Nya yang tak terhitung, penuh mukjizat, dan penuh kepiawaian, serta memberitahukan semuanya itu dengan lisan keadaan; maka sudah pasti dan mesti, sebagaimana Dia berbicara dengan perbuatan dan dengan keadaan, Dia pun berbicara dengan ucapan dan perkataan, memperkenalkan diri-Nya, dan membuat diri-Nya dicintai. Kalau begitu, dari sisi alam gaib kita harus mengenal-Nya melalui tanda-tanda-Nya yang tampak, katanya. Hatinya pun masuk ke dalam, dan dengan mata akalnya ia melihat bahwa:

Hakikat wahyu, dengan tanda-tanda yang tampak sangat kuat, berkuasa di setiap sisi alam gaib dan pada setiap zaman. Dari Allâmul-Ghuyûb datang kesaksian atas wujud dan tauhid yang jauh lebih kuat daripada kesaksian kainat dan seluruh makhluk, yaitu melalui hakikat wahyu dan ilham. Dia tidak membiarkan pengenalan tentang diri-Nya, tentang wujud dan keesaan-Nya, hanya kepada kesaksian ciptaan-ciptaan-Nya. Dia sendiri berbicara dengan kalam azali yang layak bagi diri-Nya. Di setiap tempat, dengan ilmu dan kudrat-Nya

Dia hadir dan menyaksikan; dan kalam-Nya pun tak terhingga. Sebagaimana makna kalam-Nya memperkenalkan diri-Nya, demikian pula perkataan-Nya memperkenalkan diri-Nya beserta sifat-sifat-Nya.

Ya, ia mengetahui bahwa dengan kabar mutawatir dari seratus ribu nabi alaihimussalam, dengan kesepakatan berita mereka pada titik bahwa mereka menjadi tempat turunnya wahyu Ilahi, dan dengan dalil-dalil serta mukjizat kitab-kitab suci dan lembaran-lembaran samawi — yang dibenarkan oleh mayoritas mutlak umat manusia, yang menjadi pemandu dan panutan mereka, yang merupakan buah wahyu, dan yang merupakan wahyu yang tersaksikan — terbukti dan tetapnya hakikat wahyu telah sampai kepada derajat yang begitu nyata. Ia pun memahami bahwa hakikat wahyu itu mengungkapkan dan memancarkan lima hakikat suci:

PERTAMA: Berbicara menurut kadar akal dan pemahaman manusia — yang disebut اَلتَّنَزُّلَاتُ الْاِلٰهِيَّةُ اِلٰى عُقُولِ الْبَشَرِ — adalah satu bentuk turunnya Allah kepada tingkat hamba-Nya. Ya, Zat Yang membuat seluruh makhluk bernyawa berbicara dan mengetahui percakapan mereka, sudah pasti Dia sendiri pun turut serta dalam percakapan itu dengan firman-Nya; dan itulah yang dituntut oleh rububiyah-Nya.

KEDUA: Zat Yang menciptakan kainat dengan biaya yang tak terhingga dan dari ujung ke ujung penuh keajaiban demi memperkenalkan diri-Nya, serta Yang membuat kesempurnaan-Nya dituturkan oleh ribuan lisan, sudah pasti akan memperkenalkan diri-Nya pula dengan firman-Nya sendiri.

KETIGA: Sebagaimana Dia menyambut dengan perbuatan munajat dan syukur manusia sejati — makhluk yang paling terpilih, paling butuh, paling halus, dan paling rindu di antara segala yang ada — maka menyambutnya dengan firman-Nya pula adalah tuntutan kedudukan-Nya sebagai Khâliq.

KEEMPAT: Sifat berbicara — yang merupakan keharusan pasti bagi ilmu dan kehidupan sekaligus tanda yang bercahaya dari keduanya — sudah pasti terdapat dalam bentuk yang meliputi dan kekal selamanya pada Zat Yang menyandang ilmu yang meliputi segala sesuatu dan kehidupan yang kekal selamanya.

KELIMA: Zat Yang menganugerahkan rasa lemah dan rindu, rasa fakir dan butuh, cemas akan masa depan, cinta, serta penyembahan kepada makhluk-makhluk-Nya — yang paling manis dan penuh kasih, yang paling cemas, yang paling butuh kepada titik sandaran, yang paling rindu untuk menemukan Pemilik dan Penguasanya, lagi fakir dan lemah — sudah pasti akan memberitahukan wujud-Nya kepada mereka melalui firman-Nya; dan itulah yang dituntut oleh keilahian-Nya.

Maka seluruh wahyu samawi yang bersifat umum — yang mengandung hakikat turunnya Allah kepada tingkat hamba-Nya, perkenalan diri dari Ar-Rabb, sambutan dari Ar-Rahmân, percakapan dari Zat Yang Mahasuci, dan pemberitahuan dari Allah Yang Shamad — dengan ijmaknya menunjuk kepada Wâjibul Wujûd,

yakni kepada wujud dan keesaan-Nya; dan penunjukan itu adalah hujah yang sedemikian kuat sehingga lebih kuat daripada kesaksian sinar-sinar matahari di siang hari atas adanya matahari — demikianlah ia memahaminya.

Kemudian ia memandang ke sisi ilham, dan ia melihat bahwa: ilham-ilham yang benar memang dari satu segi menyerupai wahyu dan merupakan semacam percakapan dari Allah, tetapi ada dua perbedaan:

PERTAMA: Wahyu, yang jauh lebih tinggi daripada ilham, umumnya datang dengan perantaraan malaikat, sedangkan ilham umumnya datang tanpa perantara.