Risale-i NurSinar-Sinar

Inilah contoh sebuah pelajaran yang sangat ringkas bagi para murid Nur di dalam penjara. Yaitu sebagai berikut:

Sinar-Sinar · hlm. 615

Fatihah di dalam salat memerintahkan kepada hati untuk menerangkan setetes dari samudra Surah Al-Fatihah yang mulia dan satu kilau cahaya dari tujuh warna mataharinya, yakni dari tujuh warna yang ada di dalam sinarnya. Memang, pada salah satu bagian Surat Kedua Puluh Sembilan — khususnya pada perjalanan khayali di dalam huruf “nun” pada kata نَعْبُدُ — serta di dalam Rumuz-u Semaniye, di dalam Tafsir Isyaratul I'jaz, dan di dalam bagian-bagian Nur lainnya, kami telah menuliskan nukta-nukta yang sangat manis dan indah dari khazanah suci ini. Namun dari saripati Qur'ani yang sangat manis itu, dalam satu segi aku merasa terpaksa menuliskan sendiri tafakurku di dalam salat — seperti ungkapan pada bagian pertama — yaitu hanya isyarat-isyaratnya kepada rukun-rukun iman dan hujah-hujahnya, sebuah saripati ringkas yang sangat pendek. Kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ kuserahkan kepada dua tiga risalah Nur, lalu aku memulai dari اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ ٭ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ الخ Kelimat PERTAMA: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. Inilah isyarat yang sangat ringkas kepada hujah imaniah yang ada di dalamnya:

Benar, pemberian-pemberian nikmat yang disengaja serta nikmat-nikmat yang menjadi sebab pujian dan syukur di dalam kainat — khususnya pengiriman susu yang murni, bersih, lagi bergizi dari antara darah dan kotoran kepada anak-anak makhluk yang lemah — serta ihsan-ihsan yang diberikan dengan kehendak, hadiah-hadiah, pemberian-pemberian mulia yang penuh kasih sayang, dan jamuan-jamuan, telah memenuhi permukaan bumi, bahkan memenuhi kainat.

Adapun harganya ialah: di awal Bismillah, di akhir Alhamdulillah, dan di tengahnya merasakan pemberian nikmat di dalam nikmat itu serta mengenal Rabb-nya melalui nikmat itu.

Lihatlah dirimu sendiri, lambungmu, dan perasaan-perasaanmu! Betapa banyak hal dan nikmat yang mereka butuhkan. Dan lihatlah, betapa besar mereka meminta rezeki dan kelezatan dengan harga pujian dan syukur; kiaskanlah setiap makhluk hidup kepada dirimu sendiri.

Maka pujian-pujian tak terhingga yang dipersembahkan dengan lisan keadaan dan lisan ucapan sebagai balasan atas pemberian-pemberian nikmat yang menyeluruh ini, dengan sangat pasti memperlihatkan laksana matahari wujud Sang Ma'bûd Yang Terpuji, Sang Pemberi Nikmat Yang Rahîm, serta rububiyah-Nya yang menyeluruh. Kelimat KEDUA: رَبِّ الْعَالَم۪ينَ. Inilah isyarat yang sangat ringkas kepada hujah yang ada di dalamnya:

Benar, kami melihat dengan mata kami sendiri: di dalam kainat ini bukan ribuan, melainkan mungkin jutaan alam, kainat-kainat kecil, yang sebagian besarnya berada satu di dalam yang lain, sedangkan cara mengurus dan menata masing-masingnya berbeda-beda — semuanya diasuh, ditata, dan diatur dengan begitu sempurna sehingga seluruh kainat, laksana satu halaman, setiap saat berada di dalam pandangan-Nya, dan seluruh alam, laksana baris-baris tulisan, ditulis, diperbarui, dan diubah dengan pena kudrat dan takdir-Nya. Kesaksian-kesaksian yang menyeluruh dan yang juz'i atas wujud yang wajib ada bagi Rabbul-'Âlamîn serta atas keesaan-Nya — Zat yang di dalam rububiyah yang tak berkesudahan mengatur jutaan alam dan kainat-kainat yang mengalir ini dengan ilmu dan hikmah yang tak berkesudahan serta dengan rahmat dan ketelitian yang meliputi lagi tak terhingga — datang setiap saat dan setiap waktu, tak terhingga lagi tak berkesudahan, sebanyak jumlah zarah dan sebanyak jumlah maujud yang tersusun dari zarah-zarah.

Manusia yang tidak membenarkan, tidak merasakan, tidak mengetahui, dan tidak melihat sebuah rububiyah yang mengurus dan mengasuh dengan hukum yang sama, rububiyah yang sama, dan hikmah yang sama — mulai dari ladang zarah sampai kepada tata surya, sampai kepada lingkaran galaksi yang disebut Bimasakti, dan dari satu sel di dalam tubuh sampai kepada gudang bumi, sampai kepada kainat secara keseluruhan — sudah pasti menjadikan dirinya berhak atas azab yang tak terhingga dan mencabut kelayakan dirinya untuk mendapat kasih sayang. Kelimat KETIGA: اَلرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ. Inilah isyarat yang sangat ringkas kepada hujah yang ada di dalamnya:

Benar, wujud dan hakikat rahmat yang tak terhingga di dalam kainat ini tampak persis seperti sinar matahari. Dan sebagaimana sinar itu bersaksi secara pasti atas adanya matahari, demikian pula rahmat yang luas ini bersaksi atas Sang Rahmân lagi Rahîm di balik tabir. Benar, salah satu bagian penting dari rahmat adalah rezeki, sehingga kepada Ar-Rahmân diberikan makna Ar-Razzâq. Adapun rezeki, dengan cara yang begitu nyata ia

memperlihatkan Ar-Razzâq Yang Rahîm sehingga siapa pun yang memiliki kesadaran sebesar zarah terpaksa membenarkannya.

Misalnya, rezeki seluruh makhluk hidup — khususnya makhluk-makhluk yang lemah dan terutama anak-anaknya — di seluruh permukaan bumi dan di angkasa, Dia tumbuhkan dengan cara yang sangat menakjubkan, di luar kehendak dan kemampuan mereka, dari yang tidak ada sama sekali, dari benih-benih yang serupa, dari tetes-tetes air, dan dari butir-butir tanah.

Bahkan bagi anak-anak burung yang lemah lagi belum bersayap di dalam sarang di puncak pohon, Dia menjadikan induk-induk mereka berkeliling laksana prajurit yang siap menerima perintah, lalu menyuruh mereka membawakan rezekinya.

Dan Dia menundukkan seekor singa yang lapar kepada anaknya, sehingga daging yang telah diperolehnya tidak ia makan sendiri, melainkan ia berikan kepada anaknya.

Dan kepada anak-anak hewan lainnya dan anak-anak manusia, Dia mengirimkan pertolongan berupa susu putih yang lezat laksana air kautsar, bergizi, murni, lagi bersih, dari keran buah dada — dari antara darah merah dan kotoran yang menjijikkan — tanpa terkotori dan tanpa keruh sedikit pun; dan Dia memberikan kasih sayang para ibu sebagai penolong bagi mereka.

Dan sebagaimana Dia melarikan rezeki yang sesuai kepada seluruh pohon yang meminta semacam rezeki, dengan cara yang sangat menakjubkan, demikian pula kepada perasaan manusia yang meminta semacam rezeki lahir dan batin — kepada akal, hati, dan ruhnya — dianugerahkan pula hamparan hidangan rezeki yang sangat luas.

Seakan-akan kainat ini adalah ratusan ribu hidangan yang berbeda-beda lagi bermacam-macam, yang terbungkus satu di dalam yang lain laksana kelopak-kelopak bunga mawar dan pelepah-pelepah tongkol jagung; sehingga sebanyak jumlah hidangan itu dan sebanyak makanan serta nikmat yang ada padanya, dengan lidah-lidah dan dengan lisan-lisan yang berbeda-beda, yang menyeluruh dan yang juz'i, ia memperlihatkan Sang Rahmân Ar-Razzâq, Sang Rahîm Yang Mahamulia, kepada siapa saja yang tidak buta sama sekali.

Jika dikatakan: “Musibah, keburukan, dan kejahatan yang ada di dunia ini bertentangan dengan rahmat yang meliputi itu dan mengeruhkannya.”

Jawaban: Di dalam risalah-risalah Nur seperti Risalah Takdir, pertanyaan yang dahsyat ini telah dijawab dengan lengkap. Dengan menyerahkan kepadanya, inilah isyaratnya yang sangat ringkas:

Setiap unsur, setiap jenis, dan setiap maujud memiliki tugas yang banyak, baik yang menyeluruh maupun yang juz'i; dan setiap tugas itu memiliki banyak hasil dan buah. Adapun sebagian besarnya secara mutlak adalah manfaat, kebagusan, kebaikan, dan rahmat. Sedangkan sebagian kecilnya menimpa orang-orang yang tidak memiliki kelayakan, orang-orang yang salah dalam memulai pekerjaan, atau orang-orang yang berhak menerima hukuman dan didikan, atau orang-orang yang menjadi sarana bagi tumbuhnya banyak kebaikan laksana bulir. Maka terjadilah kejahatan dan keburukan yang lahiriah lagi juz'i; dan tampak seolah-olah tanpa kasih sayang.

Seandainya, agar kejahatan juz'i itu tidak datang, rahmat mencegah unsur dan maujud yang menyeluruh itu dari tugasnya, maka pada waktu itu seluruh hasil lainnya yang baik lagi bagus

tidak akan terwujud. Karena tidak adanya suatu kebaikan itu adalah kejahatan dan rusaknya suatu keindahan itu adalah keburukan, maka sebanyak jumlah hasil itu akan lahir kejahatan, keburukan, dan hilangnya kasih sayang. Artinya, demi agar satu kejahatan saja tidak datang, ratusan kejahatan dan hilangnya kasih sayang justru dilakukan — dan hal itu sama sekali bertentangan dengan hikmah, dengan manfaat, dan dengan rahmat yang ada di dalam rububiyah.

Misalnya, di dalam ratusan hikmah dan manfaat dari jenis-jenis seperti salju, dingin, api, dan hujan, jika sebagian orang yang tidak teliti dan tidak waspada, dengan pilihan buruknya sendiri, mendatangkan kejahatan atas dirinya sendiri — misalnya ia memasukkan tangannya ke dalam api lalu berkata bahwa di dalam penciptaan api tidak ada rahmat — maka faedah-faedah api yang baik, bermanfaat, lagi penuh kasih sayang, yang tidak terhingga banyaknya, akan mendustakannya dan memukul mulutnya.

Lagi pula, hawa nafsu manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri serta perasaannya yang rendah dan tidak melihat akibat, tidak dapat menjadi ukuran, batu uji, dan timbangan bagi hukum-hukum rahmaniyah, hakimiyah, dan rububiyah yang berlaku di dalam kainat. Ia melihat menurut warna cerminnya sendiri. Sebuah hati hitam yang tanpa kasih sayang akan melihat kainat ini dalam rupa yang menangis, buruk, penuh kezaliman dan gelap gulita.

Namun jika ia memandang dengan mata iman, ia akan menyaksikan kainat sebagai manusia terbesar yang mengenakan tujuh puluh ribu pakaian indah yang dijahit dari rahmat, kebaikan, dan hikmah, satu di atas yang lain — laksana bidadari surga yang mengenakan tujuh puluh hullah yang indah — yang senantiasa tertawa dan tersenyum dengan rahmat; dan ia akan menyaksikan jenis manusia yang ada di dalamnya sebagai kainat kecil, serta setiap manusia sebagai alam yang lebih kecil lagi. Lalu dengan segenap ruh dan jiwanya ia berkata: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ مَالِكِ يَوْمِ الدّ۪ينِ. Kelimat KEEMPAT: مَالِكِ يَوْمِ الدّ۪ينِ. Inilah isyarat yang sangat ringkas kepada hujahnya:

Pertama: Seluruh dalil yang bersaksi atas hujah وَ اِلَيْهِ الْمَص۪يرُ di akhir bagian pertama pelajaran ini, dan yang bersaksi atas kebangkitan serta akhirat, juga bersaksi atas hakikat imaniah yang luas yang diisyaratkan oleh مَالِكِ يَوْمِ الدّ۪ينِ.

Kedua: Sebagaimana dikatakan di akhir Kelimat Kesepuluh, rububiyah, rahmat, dan hikmah Sang Pembuat kainat ini yang kekal selamanya, keindahan, keagungan, dan kesempurnaan-Nya yang azali lagi abadi, sifat-sifat-Nya yang tak berkesudahan, serta ratusan nama-Nya, secara pasti menuntut adanya akhirat; demikian pula, manusia yang tidak beriman kepada kehidupan yang kekal di negeri akhirat — yang disaksikan oleh Al-Qur'an dengan ribuan ayat dan burhannya, oleh Muhammad alaihis-salâtu was-salâm dengan ratusan mukjizat dan hujahnya, serta oleh seluruh nabi alaihimus-salâm, kitab-kitab samawi, dan suhuf dengan dalil-dalilnya yang tak terhingga — melemparkan dirinya ke dalam neraka maknawi yang lahir dari kufur, bahkan ketika ia masih berada di dunia, lalu ia senantiasa merasakan azab.

Sebagaimana dijelaskan di dalam Panduan Pemuda, seluruh masa yang telah lalu dan yang akan datang, seluruh makhluk, dan seluruh kainat, dengan lenyap dan perpisahan mereka, terus-menerus menghujankan derita yang tak terhingga ke atas ruh dan hatinya, serta membuatnya merasakan azab neraka sebelum ia pergi ke neraka.

Ketiga: Dengan ramznya, يَوْمِ الدّ۪ينِ mengisyaratkan kepada sebuah hujah kebangkitan yang besar lagi kuat. Namun pada kedudukan ini tiba-tiba sebuah keadaan menjadi sebab tertundanya hujah itu ke waktu yang lain; bahkan mungkin ia tidak diperlukan lagi. Sebab risalah-risalah Nur telah membuktikan pagi kebangkitan dan musim semi penyebaran dengan ratusan hujah yang kuat, dengan kepastian datangnya siang setelah malam dan datangnya musim semi setelah musim dingin. Kelimat KELIMA: اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ. Sebelum memberikan isyarat kepada hujah yang ada di dalamnya, terlintas di dalam hati untuk menerangkan secara ringkas sebuah perjalanan khayali yang hakiki, berdasarkan penjelasan Surat Kedua Puluh Sembilan. Yaitu demikian:

Pada suatu masa, ketika aku mencari mukjizat-mukjizat Al-Qur'an — sebagaimana keterangannya di dalam Risale-i Nur, terutama di dalam tafsir Nuri Isyaratul I'jaz dan di dalam Rumuz-u Semaniye — yakni pada masa aku menemukan empat lima mukjizat dan kabar gaib di dalam ayat yang terletak di akhir Surah Al-Fath, bahkan sebuah mukjizat sejarah di dalam kalimat اَلْيَوْمَ نُنَجّ۪يكَ بِبَدَنِكَ, bahkan beberapa kilau cahaya i'jaz di dalam banyak katanya serta nukta-nukta yang penuh mukjizat di dalam sebagian hurufnya; ketika aku membaca Al-Fatihah di dalam salat, sebuah pertanyaan terlintas di dalam hatiku untuk memberitahukan kepadaku salah satu mukjizat huruf "nun" yang terdapat pada نَعْبُدُ نَسْتَع۪ينُ: Mengapa tidak dikatakan اَعْبُدُ اَسْتَع۪ينُ, yakni "Aku beribadah dan aku memohon pertolongan"? Mengapa dikatakan dengan nun mutakallim ma'al-gair, yakni "Kami beribadah kepada-Mu dan kami memohon pertolongan kepada-Mu"?

Tiba-tiba, melalui pintu huruf "nun" itu, terbukalah sebuah medan perjalanan khayali. Aku mengetahui dan melihat sampai pada tingkat menyaksikan langsung rahasia agung dan manfaat besar dari berjamaah di dalam salat, serta bahwa satu huruf ini adalah sebuah mukjizat. Yaitu demikian:

Ketika itu aku sedang salat di Masjid Bayezid di Istanbul, lalu aku mengucapkan اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ. Aku memandang; dan pada saat jamaah di masjid itu mengucapkan seperti yang kuucapkan sehingga mereka turut serta sepenuhnya dalam dakwaanku ini dan dalam doaku pada اِهْدِنَا serta membenarkannya, terbukalah satu tabir lagi.

Aku melihat bahwa seluruh masjid di Istanbul berubah menjadi satu Bayezid yang besar. Persis seperti aku, mereka mengucapkan اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ lalu membubuhkan tanda tangan pada dakwaan-dakwaan dan doa-doaku, dan mengucapkan amin. Dan di dalam keadaan mereka mengambil rupa semacam pemberi syafaat bagiku itu, terbukalah satu tabir lagi bagi khayalku.

Aku melihat bahwa alam Islam mengambil rupa sebuah masjid yang besar. Mekah dan Kakbah menjadi mihrabnya. Saf-saf seluruh Muslim yang sedang salat menghadap mihrab yang suci itu dalam bentuk lingkaran, lalu masing-masing mengucapkan اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ اِهْدِنَا seperti aku; dan atas nama semuanya, setiap mereka berdoa, mengajukan dakwaan, sekaligus membenarkan, sekaligus menjadikan mereka semua sebagai pemberi syafaat bagi dirinya. Lagi pula, jalan dan dakwaan jamaah yang sedemikian agung ini tidak mungkin salah, dan doanya tidak akan ditolak; ia mengusir segala waswas setan. Ketika aku berpikir demikian dan membenarkan dengan mata kepala manfaat-manfaat besar berjamaah di dalam salat, terbukalah satu tabir lagi.

Aku melihat bahwa kainat adalah sebuah masjid teragung, dan seluruh golongan makhluk seakan-akan sedang menunaikan semacam salat secara berjamaah di dalam sebuah salat terbesar — masing-masing dengan ibadah yang khusus baginya dan dengan lisan keadaan — sehingga untuk menyambut rububiyah Sang Ma'bûd Dzul-Jalâl yang meliputi segala sesuatu dengan ubudiyah yang sangat luas, setiap mereka membenarkan persaksian dan tauhid yang diucapkan oleh semuanya, lalu mengambil kedudukan dalam bentuk menetapkan hasil yang sama. Ketika aku menyaksikan hal itu, tiba-tiba terbukalah satu tabir lagi.

Aku melihat: sebagaimana kainat yang merupakan manusia terbesar mengucapkan اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ dengan lisan keadaan, sedangkan banyak bagiannya mengucapkannya dengan lisan bakat dan kebutuhan fitri, dan makhluk-makhluk berkesadaran mengucapkannya dengan lisan ucapan, lalu semuanya memperlihatkan ubudiyah mereka kepada rububiyah Khâliq-nya yang penuh kasih sayang; demikian pula halnya — masing-masing laksana kainat yang sangat kecil — di dalam jamaah teragung itu, zarah-zarah, daya-daya, dan perasaan-perasaan di dalam tubuhku, sebagaimana tubuh setiap saudaraku, memperlihatkan bahwa mereka pun mengucapkan اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ dengan lisan keadaan berupa ketaatan dan kebutuhan mereka kepada rububiyah Khâliq-nya, lalu bergerak menurut perintah dan kehendak Ilahi, serta memperlihatkan bahwa pada setiap saat mereka membutuhkan inayah, rahmat, dan pertolongan Khâliq mereka. Semua itu aku lihat.

Setelah menyaksikan dengan takjub rahasia suci dari berjamaah di dalam salat sekaligus mukjizat indah dari huruf "nun" itu, aku keluar melalui pintu "nun" sebagaimana aku dahulu memasukinya, lalu aku mengucapkan Alhamdulillah. Sejak itu aku terbiasa mengucapkan kalimat اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ atas nama tiga jamaah itu serta atas nama saudara-saudaraku yang besar dan yang sangat kecil. Kini mukadimah telah selesai; kita kembali kepada pokok pembicaraan.

Inilah isyarat yang sangat ringkas kepada hujah yang diisyaratkan oleh اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ:

Pertama: Kami melihat dengan mata kami sendiri: di dalam kainat, terutama di permukaan bumi, di tengah berlangsungnya secara teratur sebuah aktivitas dan khallâqiyah yang dahsyat lagi terus-menerus, tampaklah sebuah rububiyah mutlak yang penuh kasih sayang lagi mengatur segala sesuatu, yang dengan hikmah dan inayah yang sempurna menolong permohonan makhluk hidup yang tak terhingga — permintaan tolong dan doa mereka yang disampaikan dengan perbuatan, dengan keadaan, dan dengan ucapan — lalu menjawab setiap mereka dengan perbuatan; dan di dalam kenyataan itu tampak pula sebuah keilahian mutlak serta pancaran hak Allah untuk disembah yang bersifat umum, yang menyambut ribuan macam ibadah — baik yang fitri maupun yang ikhtiari (dilakukan dengan pilihan sendiri) — dari seluruh makhluk, terutama makhluk hidup, dan lebih-lebih dari golongan-golongan manusia. Akal sehat dan mata iman melihat hal itu, sebagaimana seluruh firman samawi dan para nabi pun mengabarkannya.

Kedua: Dengan ramz huruf "nun" pada نَعْبُدُ, kesibukan masing-masing dari tiga jamaah yang telah disebutkan di dalam mukadimah — dan kesibukan semuanya sekaligus — dengan bermacam-macam ibadah fitri dan ikhtiari, tanpa ragu dan dengan sangat nyata merupakan sambutan penuh syukur terhadap hak Allah untuk disembah, sekaligus sebuah persaksian yang tak terhingga lagi tak diragukan atas adanya Sang Ma'bûd Yang Mahasuci.

Dan dengan ramz huruf "nun" pada نَسْتَع۪ينُ, setiap golongan dan setiap individu dari tiga jamaah yang telah disebutkan itu — yakni mulai dari keseluruhan kainat sampai kepada jamaah zarah-zarah di dalam satu tubuh — memiliki permohonan tolong dan doa, baik dengan perbuatan maupun dengan keadaan. Semua itu tanpa ragu bersaksi atas adanya Sang Pengatur yang penuh kasih sayang, yang bersegera menolong mereka dan menjawab doa mereka dengan mengabulkannya. Misalnya, sebagaimana dikatakan di dalam Kelimat Kedua Puluh Tiga, terkabulnya tiga macam doa seluruh makhluk di bumi secara sangat menakjubkan dan di luar harapan merupakan persaksian yang pasti atas adanya Rabb Yang Rahîm lagi Al-Mujîb.

Ya, sebagaimana biji-bijian dan benih-benih, dengan lisan bakat, masing-masing memohon kepada Khâliq-nya agar menjadi sebuah pohon dan setangkai bulir, lalu doa mereka dikabulkan di hadapan mata kita; demikian pula seluruh hewan, dengan lisan kebutuhan fitri, meminta rezeki mereka dari tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh tangan mereka, dan meminta hal-hal yang diperlukan bagi kehidupan mereka

serta hal-hal yang mereka inginkan namun berada di luar kemampuan mereka — semuanya mereka minta kepada Zat tertentu; dan seluruh doa yang mereka panjatkan dengan lisan kebutuhan fitri itu bersaksi dengan nyata atas adanya Sang Khâliq Yang Mahamulia, yang mengabulkan doa-doa itu di hadapan mata kita dan yang dengan hikmah menggerakkan makhluk-makhluk yang menakjubkan lagi tak berkesadaran untuk bersegera menolong mereka tepat pada waktunya.

Maka dengan mengiaskan kepada dua bagian ini, seluruh macam doa yang dipanjatkan dengan lisan ucapan — terutama terkabulnya doa para nabi alaihimus-salâm dan orang-orang khusus secara menakjubkan — bersaksi atas hujah keesaan yang terdapat di dalam اِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ. Kelimat KEENAM: اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَق۪يمَ. Inilah isyarat yang sangat ringkas kepada hujah yang ada di dalamnya:

Ya, sebagaimana jalan yang paling pendek di antara jalan-jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain, dan garis yang paling pendek di antara garis-garis yang ditarik dari satu titik ke titik yang jauh, adalah jalan dan garis yang paling benar lagi paling lurus; demikian pula, di dalam perkara maknawi, di dalam jalan-jalan maknawi, dan di dalam jalan-jalan yang ditempuh hati, yang paling benar lagi paling lurus adalah yang paling pendek dan paling mudah.

Misalnya, seluruh perbandingan di dalam Risale-i Nur dan seluruh perbandingan antara jalan kufur dengan jalan iman menunjukkan dengan pasti bahwa jalan iman dan tauhid sangatlah pendek, benar, lurus, dan mudah; sedangkan jalan kufur dan pengingkaran sangatlah panjang, penuh kesulitan, dan berbahaya.

Jadi, di dalam kainat ini — yang digiring pada jalan yang lurus, penuh hikmah, serta paling pendek dan paling mudah dalam segala hal — sudah pasti syirik dan kufur tidak mungkin memiliki hakikat; sedangkan hakikat iman dan tauhid adalah suatu keharusan yang mutlak bagi kainat ini, laksana matahari.

Selain itu, di dalam akhlak manusia pun, jalan yang paling nyaman, paling bermanfaat, paling pendek, dan paling selamat terletak pada jalan yang lurus, yakni pada istikamah.

Misalnya, jika daya akal kehilangan hikmah yang merupakan batas pertengahan serta kehilangan istikamah yang mudah lagi bermanfaat, ia akan jatuh — dengan sikap berlebihan atau dengan sikap yang terlalu kurang — kepada akal licik yang membahayakan dan kepada sikap dungu yang mendatangkan bencana, lalu menanggung berbagai bahaya di sepanjang jalannya yang panjang.

Dan jika daya amarah tidak mengikuti keberanian yang merupakan batas istikamah, ia akan jatuh — dengan sikap berlebihan — kepada kemarahan yang meledak-ledak dan sikap sewenang-wenang yang sangat merugikan lagi zalim; dan — dengan sikap yang terlalu kurang — kepada sifat pengecut dan penakut yang sangat hina lagi menyakitkan. Sebagai hukuman atas kesalahannya kehilangan istikamah, ia menanggung azab hati nurani yang terus-menerus.

Dan jika daya syahwat di dalam diri manusia menyia-nyiakan istikamah yang selamat serta menyia-nyiakan iffah, ia akan jatuh — dengan sikap berlebihan — kepada kefasikan dan perzinaan yang mendatangkan musibah lagi memalukan; dan — dengan sikap yang terlalu kurang — kepada humud,

yakni ia menjadi terhalang dari zauk dan kelezatan yang ada di dalam nikmat-nikmat, lalu ia menanggung azab dari penyakit maknawi itu.

Maka dengan mengiaskan kepada contoh-contoh ini, di seluruh jalan kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat, istikamah adalah yang paling bermanfaat, paling mudah, dan paling pendek. Dan jika jalan yang lurus itu hilang, jalan-jalan tersebut menjadi sangat penuh bencana, panjang, dan merugikan.

Jadi, اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَق۪يمَ bukan hanya sebuah doa dan sebuah ubudiyah yang sangat mencakup lagi luas, melainkan juga mengisyaratkan kepada sebuah hujah tauhid, sebuah pelajaran hikmah, dan sebuah pengajaran akhlak. Kelimat KETUJUH: صِرَاطَ الَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ. Inilah isyarat yang sangat ringkas kepada hujah yang ada di dalamnya:

Pertama: Siapakah عَلَيْهِمْ itu? Ayat مِنَ النَّبِيّ۪نَ وَالصِّدّ۪يق۪ينَ وَالشُّهَدَٓاءِ وَالصَّالِح۪ينَ menerangkannya; dan di dalam keterangan tentang empat golongan umat manusia yang menjadi tempat tampaknya nikmat istikamah, ayat itu mengisyaratkan kepada para pemimpin golongan-golongan tersebut: dengan اَلنَّبِيّ۪نَ kepada Muhammad alaihis-salâtu was-salâm, dengan وَالصِّدّ۪يق۪ينَ kepada Abu Bakar as-Siddiq radiyallahu anhu, dan dengan وَالشُّهَدَٓاءِ kepada Umar, Utsman, serta Ali radiyallahu anhum. Lalu, dengan kabar gaib bahwa sesudah Nabi صلى الله عليه وسلم akan datang as-Siddiq radiyallahu anhu, kemudian Umar radiyallahu anhu, Utsman radiyallahu anhu, dan Ali radiyallahu anhu — yang ketiganya akan menjadi syahid sekaligus khalifah — ayat itu memperlihatkan sekilau cahaya i'jaz.

Kedua: Hakikat tauhid yang didakwakan dengan segenap kekuatan oleh empat golongan umat manusia yang paling tinggi, paling lurus, lagi paling benar ini — sejak zaman Adam alaihissalam, melalui hujah-hujah, mukjizat-mukjizat, keramat-keramat, dalil-dalil, dan berbagai kasyaf yang tak terhingga — serta yang dibenarkan oleh sebagian besar umat manusia, sudah pasti sepasti matahari. Para tokoh besar umat manusia yang tak terhingga jumlahnya ini memperlihatkan kebenaran dan kelurusan mereka dengan ratusan ribu mukjizat serta hujah yang tak terhingga; maka kesepakatan dan ijmak mereka dalam persoalan-persoalan yang bersifat penetapan — seperti tauhid, wujud yang wajib ada, dan keesaan Sang Khâliq — merupakan hujah yang tidak menyisakan keraguan sedikit pun.

Adapun orang yang tidak mengenal dan mengingkari sebuah hakikat yang diimani dan dikabarkan dengan ijmak serta kesepakatan oleh empat golongan yang telah disebutkan itu — yaitu golongan-golongan yang paling lurus dari jenis manusia, yang merupakan hasil penciptaan kainat yang penting, khalifah di bumi, dan makhluk hidup yang paling lengkap bakatnya lagi paling tinggi; mereka pula para mursyid yang paling benar lagi paling dibenarkan dan para pemimpin dalam segala kesempurnaan — hakikat yang mereka tegakkan dengan menjadikan kainat beserta seluruh makhluknya sebagai dalil, yang mereka itikadkan dengan haqqul yakin, ainul yakin, dan ilmul yakin, serta yang mereka pegang dengan keyakinan yang tidak

tergoyahkan; tidakkah ia layak menerima hukuman atas kejahatan yang tak terhingga dan berhak atas azab yang tanpa berkesudahan? Kelimat KEDELAPAN: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّٓالّ۪ينَ. Inilah isyarat ringkas kepada hujah yang ada di dalamnya:

Ya, sejarah manusia dan kitab-kitab suci, dengan bersandar kepada berbagai tawatur serta kepada peristiwa, pengetahuan, dan apa yang disaksikan langsung oleh manusia — yang bersifat menyeluruh lagi pasti — secara sepakat mengabarkan dengan jelas dan pasti bahwa:

Datangnya pertolongan gaib secara menakjubkan kepada para nabi alaihimus-salâm — yang merupakan ahli jalan yang lurus — di dalam ribuan peristiwa ketika mereka memohon pertolongan, dan diberikannya persis apa yang mereka minta; serta datangnya murka pada saat itu juga kepada para pengingkar yang menjadi musuh mereka di dalam ratusan peristiwa, dan turunnya musibah samawi ke atas kepala mereka — semua itu menunjukkan dengan pasti lagi tanpa keraguan bahwa kainat ini dan jenis manusia yang ada di dalamnya memiliki Zat Yang bertasarruf atasnya dan Rabb Yang Hakîm, Yang Âdil, Yang Muhsin, Yang Karîm, Yang Azîz, lagi Yang Qahhâr; Dialah yang telah memberikan kemenangan dan keselamatan kepada banyak nabi seperti Nuh dan Ibrahim, Musa, Hud, dan Salih alaihimus-salâm melalui peristiwa-peristiwa sejarah yang besar lagi sangat menakjubkan. Dan Dia pula yang telah menurunkan musibah samawi yang dahsyat ke atas kepala banyak kaum yang zalim lagi ingkar — seperti kaum Tsamud, kaum 'Ad, dan kaum Firaun — sebagai hukuman di dunia atas pemberontakan mereka terhadap para nabi.

Benar, sejak zaman Adam alaihissalam, dua arus besar telah berjalan di dalam umat manusia sambil saling berbenturan. Yang pertama adalah ahli kenabian, ahli kesalehan, dan ahli iman yang, dengan menempuh jalan istikamah, memperoleh nikmat serta kebahagiaan dua negeri; karena mereka bergerak di atas istikamah, selaras dengan keindahan hakiki kainat serta keteraturan dan kesempurnaannya, mereka memperoleh karunia Sang Pemilik kainat sekaligus kebahagiaan dua alam, lalu — dengan menjadi sarana untuk menaikkan manusia ke derajat malaikat, bahkan ke atasnya — mereka meraih dan memberikan sebuah surga maknawi di dunia dengan hakikat-hakikat iman, serta kebahagiaan di akhirat.

Adapun arus kedua: karena ia meninggalkan istikamah dan, dengan sikap berlebihan serta sikap meremehkan, mengubah akal menjadi sarana azab dan alat pengumpul derita, ia menjatuhkan kemanusiaan ke tingkat yang lebih rendah daripada kehewanan yang paling celaka; dan di samping menerima murka Ilahi serta tamparan musibah di dunia sebagai balasan atas kezaliman-kezalimannya, dan karena ia sesat serta karena akalnya ikut terlibat, ia memandang kainat sebagai tempat duka dan rumah ratapan bagi semua, sebagai tempat pemotongan dan rumah jagal bagi makhluk-makhluk hidup yang bergulir menuju lenyap, serta sebagai sesuatu yang sangat buruk dan kacau; sehingga ruh dan hati nuraninya

berada di dalam neraka maknawi di dunia, dan ia menjadikan dirinya berhak menerima azab yang terus-menerus di akhirat.

Maka ayat اَلَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّٓالّ۪ينَ di akhir Surah Al-Fatihah yang mulia mengajarkan dua arus besar ini. Dan sumber, dasar, serta guru dari seluruh perbandingan yang ada di dalam Risale-i Nur adalah ayat ini. Karena risalah-risalah Nur telah menafsirkan ayat ini dengan ratusan perbandingan, kami pun menyerahkan penjelasannya kepada risalah-risalah itu dan mencukupkan diri dengan isyarat singkat ini. Kelimat KESEMBILAN: اٰم۪ينَ. Inilah isyarat yang sangat singkat kepadanya:

Karena huruf “nun” pada نَعْبُدُ نَسْتَع۪ينُ memperlihatkan kepada kita tiga jemaah yang agung — terutama jemaah orang-orang yang bertauhid di dalam masjid alam Islam, dan khususnya jemaah yang berjumlah jutaan, yang sedang menunaikan salat pada waktu itu — lalu menempatkan kita di tengah-tengah mereka, dan membuka jalan bagi kita untuk ikut mengambil bagian dari doa-doa mereka, dari pembenaran mereka — sebab mereka mengucapkan persis apa yang kita ucapkan — serta dari semacam syafaat mereka. Maka dengan kata “Âmin” ini pun, dengan menolong doa-doa jemaah orang-orang yang bertauhid dan yang menunaikan salat itu, dengan membenarkan dakwaan mereka, dan dengan memohon melalui “Âmin” itu agar syafaat serta permohonan pertolongan mereka diterima, ubudiyah, doa, dan dakwaan kita yang juz'i diubah menjadi ubudiyah yang menyeluruh lagi luas, lalu dijadikan menyambut rububiyah yang menyeluruh lagi umum.

Artinya, dengan rahasia persaudaraan iman dan kesatuan Islam, pada setiap waktu salat, dari sebuah jemaah yang anggotanya berjumlah jutaan di dalam masjid alam Islam — melalui ikatan kesatuan dan melalui radio-radio maknawi — “Âmin” di dalam Al-Fatihah memperoleh sifat menyeluruh dan dapat menempati kedudukan jutaan “Âmin”.

(Catatan kaki): Maka menurut derajat masing-masing, jika seorang awam mengambil bagian dari hakikat yang suci ini sebesar sebutir benih, seorang insan kamil yang telah maju secara ruhani akan mengambil bagian sebesar sebatang pohon kurma. Akan tetapi, orang yang belum maju hendaknya tidak dengan sengaja menghadirkan makna-makna ini ketika membaca Al-Fatihah, agar kehadiran hatinya tidak terganggu. Jika ia telah naik ke maqam itu, makna-makna itu akan memperlihatkan dirinya dengan sendirinya.

(Catatan kaki kecil): Kami menanyakan penjelasan kata “dengan sengaja” di dalam catatan kaki ini kepada Ustaz kami. Jawaban yang kami terima kami tuliskan apa adanya: