Risale-i NurSinar-Sinar

INILAH SEBUAH BAGIAN DARI NOTA KASASI KEPADA MAHKAMAH KASASI

Sinar-Sinar · hlm. 546

Karya-karya Risale-i Nur, dengan cara membuktikan, membangun kembali iman-iman yang runtuh akibat waswas dan keraguan yang ditimbulkan oleh terbitan-terbitan komite-komite yang tidak beragama.

Maka inilah salah satu rahasia dan hikmah yang paling halus dari eratnya pemuda kita berpegang kepada Risale-i Nur seakan-akan mereka dialiri listrik: bertahun-tahun lamanya, dengan melupakan kepentingan dirinya dan dengan pengorbanan yang tiada bandingnya, di usia tua, dalam keadaan sakit, dan pada masa yang sangat membutuhkan perawatan, dengan kesabaran yang melampaui batas kesanggupan menanggung terhadap berbagai penyiksaan dari musuh-musuhnya yang tersembunyi — yaitu kaum komunis dan mason serta orang-orang yang tertipu oleh mereka — Bedîüzzaman Said Nursî telah menyadari banyak rencana licik yang ditujukan untuk memerangi agama, dengan pandangannya yang menembus hakikat dan penglihatannya yang realistis; lalu beliau menulis karya-karya imani yang akan menggagalkan rencana-rencana yang dahsyat, penuh tipu daya, dan tersembunyi di balik tabir itu.

Akan tetapi, alangkah pilu, alangkah menyayat hati, dan alangkah layaknya keadaan ini menerima ribuan penyesalan: pahlawan Islam dan sosok agung yang luar biasa ini, selama dua puluh lima tahun, di dalam penjara-penjara, di dalam sel-sel bawah tanah, dan di dalam pengasingan mutlak, terus-menerus diusahakan untuk dibinasakan.

Sekalipun penulis Risale-i Nur dihukum karena berbagai kedengkian yang merupakan tuntutan dan akibat dari waham yang timbul karena pengkhianatan kaum komunis, karya-karya Risale-i Nur tetap akan terus dibaca dengan kerinduan yang besar dan dengan perhatian yang kian bertambah.

Dalil pertama dan yang paling kuat mengenai hal ini adalah: para pemuda yang membaca karya Asa-yı Musa (Tongkat Musa) — yang dapat diperbanyak dengan mesin stensil dalam huruf baru — dalam waktu singkat turut mempelajari tulisan itu agar dapat membaca pula karya-karya selebihnya yang ditulis dengan huruf Al-Qur'an. Dengan cara ini mereka meruntuhkan pula sebuah penghalang besar, yaitu tidak mengenal tulisan Al-Qur'an; sesuatu yang menghalangi dipelajarinya banyak ilmu dan memaksa orang membaca karya-karya yang disusun untuk mengeluarkan manusia dari agama dan iman.

Kapan saja pemuda sebuah bangsa telah dipersenjatai dan diperkuat dengan Al-Qur'an serta ilmu-ilmu yang memancar darinya, pada saat itulah bangsa itu mulai maju dan meninggi. Para pemuda telah mulai memenuhi jiwa mereka yang terbakar oleh kebutuhan akan iman dan Islam dengan limpahan karunia dan cahaya-cahaya Risale-i Nur, tafsir Al-Qur'an itu. Begitulah, pemuda kita yang akan memiliki iman tahkiki itu akan berjuang melawan sikap tidak beragama dan komunisme, dan sekali-kali tidak akan membiarkan tanah air mereka dijual kepada musuh-musuh Islam.

Karena itulah, seandainya kaum komunis menemukan pula kesempatan untuk melenyapkan tinta dan kertas, banyak pemuda dan orang tua seperti diriku akan rela menjadi penebus jiwa, dan demi tersebarnya Risale-i Nur yang merupakan perbendaharaan hakikat, jika mungkin kami akan menjadikan kulit kami sebagai kertas dan darah kami sebagai tinta.

Ya, ya, ya. Ribuan kali ya!

Jaksa penuntut umum berkata di dalam surat dakwaannya: "Said Nursî telah meracuni para pemuda universitas dengan karya-karyanya." Sebagai jawabannya kami pun berkata: "Jika Risale-i Nur adalah sebuah racun, maka kami membutuhkan racun ini berton-ton, beribu-ribu kilogram. Jika ia mengetahui tempat racun itu berada dalam jumlah yang banyak, hendaklah ia mengirimkannya kepada kami dengan pesawat-pesawat terbang."

Kami, murid-murid Risale-i Nur, ketika kami ditimpa kezaliman orang-orang zalim di jalan khidmah kepada iman dan Islam, lebih memilih mati di sudut-sudut penjara atau di tiang-tiang gantungan daripada mati di atas ranjang istirahat. Daripada hidup di dalam sebuah perbudakan yang lahirnya kebebasan namun hakikatnya penindasan mutlak, kami memandang gugur sebagai syahid di dalam penjara — tempat kami dilemparkan secara zalim karena khidmah kami kepada Al-Qur'an — sebagai sebuah karunia Ilahi yang besar.