Risale-i NurSinar-Sinar

Kepada Kehakiman Mahkamah Pidana Berat Afyon,

Sinar-Sinar · hlm. 536

Aku dituduh melakukan kejahatan mendirikan perkumpulan rahasia dan merusak keamanan negara. Karena dengan segi yang akan kusampaikan di bawah ini Tuan-tuan akan sampai kepada keyakinan yang pasti bahwa aku tidak melakukan kejahatan semacam itu, maka sejak sekarang pun aku menolak tuduhan ini. Ya, dengan senang hati dan seakan-akan mengumumkannya, aku dapat mengatakan bahwa aku adalah murid Risale-i Nur. Mengingkarinya bertentangan dengan pelajaran-pelajaran keutamaan yang diberikan Risale-i Nur kepadaku; karena itu aku tidak akan melakukan dosa itu. Seseorang yang menjadi pembaca Risale-i Nur tidak akan dapat menyembunyikan apa yang dibacanya. Sebaliknya, ia tidak segan mengatakannya dengan bangga tanpa rasa takut. Sebab tidak ada satu kalimat atau satu kata pun di dalamnya yang mengharuskan rasa segan.

Aku pernah berusaha menjelaskan nilai Risale-i Nur di dalam satu forma setebal empat puluh lima puluh halaman. Aku tidak dapat mengatakan bahwa aku telah memujinya, sebab jangankan seluruh Kulliyat Risale-i Nur — yang merupakan tafsir hakiki dari Al-Qur'an Al-Hakîm, matahari dan akal kainat, yang selama seribu tiga ratus tahun lebih menerangi dan membimbing umat manusia — bahkan satu juz pun darinya aku tidak sanggup menyanjungnya.

Sebagaimana kusampaikan di atas, jika di dalam karya-karya yang nilainya kucoba jelaskan itu ditetapkan adanya bahasan mengenai perkumpulan rahasia, hukumlah aku dengan kejahatan berusaha memperkenalkan karya-karya yang berbahaya. Akan tetapi, jika di dalam Kulliyat Risale-i Nur tidak terdapat bahasan mengenai kejahatan yang dituduhkan itu — Kulliyat yang oleh tokoh-tokoh keilmuan dibenarkan telah disusun dengan cara yang menakjubkan lagi luar biasa; yang memiliki kekuatan untuk memperbaiki masyarakat yang rusak; yang menjadi pemandu bagi manusia abad kedua puluh lalu menyelamatkan mereka dari jalan yang sesat serta dari foya-foya dan pikiran yang gelap pekat, yang diseret oleh materialisme, paham kebendaan, dan sikap menyembah alam; dan yang dengan limpahan karunia Al-Qur'an Al-Hakîm membuka jalan-jalan kebahagiaan dan keselamatan abadi bagi umat manusia lalu menunjukkannya dengan cahayanya secara terang benderang — maka hukuman atas diriku

akan bertentangan dengan asas-asas keadilan; dan aku berkeyakinan bahwa mahkamah Tuan-tuan pun akan menerima hal ini.

Di hadapan hakim penyidik dikatakan kepadaku: "Katanya engkau murid Risale-i Nur?"

Aku tidak melihat pada diriku kelayakan untuk menjadi murid seorang jenius seperti Bedîüzzaman Said Nursî. Jika beliau sudi menerimaku, dengan bangga aku akan berkata: "Ya, aku murid Risale-i Nur."

Ustazku Bedîüzzaman Said Nursî, penulis Risale-i Nur yang tiada bandingnya, berkali-kali difitnah oleh musuh-musuh tersembunyinya lalu diserahkan ke mahkamah, dan pada semuanya beliau memperoleh putusan bebas. Kulliyat Risale-i Nur telah diteliti baris demi baris oleh sebuah panitia yang terdiri atas para profesor dan ulama Islam, lalu diberikan laporan-laporan yang menyatakan bahwa karya-karya ini disusun dengan kedalaman ilmu yang luar biasa dan bahwa ia merupakan tafsir hakiki dari Al-Qur'an Al-Hakîm. Padahal hakikatnya demikian, mengapa ia masih juga diserahkan ke mahkamah? Keyakinanku yang pasti dalam hal ini kusampaikan sebagai berikut:

Orang-orang yang membaca Risale-i Nur, terutama para pemuda yang berakal tajam, memiliki iman yang kuat. Mereka menjadi orang beragama yang tidak tergoyahkan lagi penuh pengorbanan, menjadi pecinta tanah air. Ke tempat yang di dalamnya ada iman yang tidak lapuk, tidak dapat masuk rusaknya akhlak dan foya-foya yang ditanamkan oleh sebuah ideologi yang buruk. Semakin banyak orang yang memiliki iman yang tidak tergoyahkan ini, semakin tidak dapat meluas lingkaran kaum mason dan komunisme. Bahwa filsafat materialis (kaum materialis) yang menjadi sandaran kaum komunis sama sekali tidak berkaitan dengan haq dan hakikat, dan bahwa teori-teori mereka sepenuhnya tidak berdasar — semuanya dibuktikan oleh Risale-i Nur dengan ayat-ayat Al-Qur'an Al-Karîm dan dengan burhan serta hujah yang sangat kuat, secara akal, secara pikiran, dan secara logika. Ia menerangi dan menyelamatkan orang-orang yang jatuh ke dalam gelap pekatnya pikiran yang lapuk itu. Bahkan kepada kaum materialis yang hanya percaya kepada apa yang dapat dilihat matanya pun, ia membuktikan wujud Allah dengan dalil-dalil kuat yang tidak mungkin diingkari dan dibantah.

Terutama kepada kaum muda yang menempuh pendidikan di sekolah menengah dan universitas, karya-karya yang menakjubkan ini membuat dirinya dibaca dengan gaya bahasanya yang khas lagi memikat dan dengan seni sastranya yang tinggi.

Justru karena inilah kaum komunis dan kaum mason mengetahui bahwa Risale-i Nur merupakan penghalang yang kuat bagi tersebarnya pikiran mereka yang beracun. Untuk melenyapkan Risale-i Nur — yang karena merupakan tafsir hakiki dari Al-Qur'an menjadi sumber iman yang kuat — atau agar ia tidak dibaca orang, mereka menempuh berbagai tipu daya dan fitnah. Padahal sampai sekarang tidak ditemukan satu pun tanda dari kebohongan yang mereka

tuduhkan itu, namun mereka tetap melanjutkan serangan-serangan mereka.

Dari semua ini dapat dipahami bahwa mereka hendak menakut-nakuti kami dan menjauhkan kami dari Risale-i Nur, sementara di pihak lain menyodorkan terbitan-terbitan beracun mereka sendiri ke hadapan kami; dengan cara demikian mereka ingin melenyapkan iman pada bangsa dan pemuda kita serta menjatuhkan akhlaknya, sehingga mereka berhasil membuat pemerintahan runtuh dengan sendirinya. Mereka pun menyimpan cita-cita untuk menyerahkan tanah air dan bangsa kita kepada sebuah negara asing.

Di hadapan majelis hakim, tanpa gentar aku katakan kepada mereka: hendaklah mereka mengetahui dengan baik dan gemetar bahwa kami tidak mundur oleh gertakan. Sebab di dalam karya-karya Risale-i Nur kami telah melihat, mempelajari, dan meyakini haq dan hakikat. Pemuda Turki tidak sedang tidur. Bangsa Turki Islam yang pahlawan ini tidak akan sudi masuk ke bawah kuk kekuasaan negara lain. Pemuda Muslim yang rela berkorban, dengan kekuatan iman tahkiki yang dimilikinya, tidak akan membiarkan tanah airnya dijual. Bangsa Turki yang taat beragama lagi perkasa, dan pemuda Turki yang beriman lagi berani, tidak akan takut. Karena itulah kami membaca dan akan terus membaca karya-karya Risale-i Nur yang mengangkat kami ke tingkatan tertinggi dalam derajat dan tabiat kemanusiaan; yang menjamin kemajuan kami di setiap bidang; dan yang menanamkan kepada kami, para pemuda, kecintaan kepada agama, tanah air, dan bangsa, lalu mendidik kami menjadi pecinta agama yang sejati, yang rela mengorbankan seluruh keberadaan kami di jalannya.

Sebagaimana telah kusampaikan sebelumnya, meskipun aku baru membaca sedikit sekali dari Risale-i Nur, aku memperoleh manfaat yang amat besar. Sekiranya aku memiliki harta, seluruhnya akan kubelanjakan untuk menerbitkan kumpulan karya yang sangat bermanfaat ini, yang akan mendatangkan faedah amat besar bagi tanah air, bangsa, dan seluruh umat manusia. Sebab aku siap mengorbankan seluruh keberadaanku demi kebahagiaan abadi dan keselamatan agamaku, tanah air, dan bangsaku.

Lagi pula, aku tidak percaya kepada Risale-i Nur secara lugu tanpa berpikir. Tiga puluh tiga ayat Al-Qur'an, juga Sayidina Ali radiyallahu anhu dan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani radiyallahu anhu, memberitakan secara gaib bahwa Risale-i Nur akan ditulis dan akan membimbing manusia pada abad ini. Di samping itu, kitab-kitab Risale-i Nur yang telah kubaca memberikan keyakinan kepadaku bahwa kumpulan karya ini adalah karya yang mengajarkan haq dan hakikat serta memperbaiki umat manusia.

Ketika aku merasakan sebuah kekosongan besar dalam jiwaku dan mencari-cari kitab untuk kubaca, lalu aku membaca Risale-i Nur, tanpa kuasa menahan diri aku tidak dapat berpisah darinya. Aku merasakan bahwa karya-karya Risale-i Nur memenuhi kebutuhan besar di dalam hatiku itu. Bukti-bukti akli dan

imani yang menyelamatkan dari keraguan ilmiah dan keraguan iman, kutemukan di dalamnya. Dengan cara itulah aku terlepas dari kesempitan yang ditimbulkan oleh bisikan waswas. Dari hakikat-hakikat ini aku memahami bahwa Risale-i Nur dituliskan untuk kami, manusia abad ini.

Untuk dapat memiliki keutamaan tertinggi seperti akhlak, adab, dan didikan yang baik, seseorang harus memiliki iman yang kuat. Karena hakikat-hakikat iman dijelaskan di dalam Risale-i Nur dengan dalil-dalil yang sangat kuat dan perumpamaan-perumpamaan yang jelas, imanku semakin kuat setiap kali aku membacanya. Berkat itu aku terhindar dari terjatuh ke jalan yang sesat, dan terhindar dari bencana berpaling dari agamaku — yang merupakan haq dan hakikat serta menghimpun asas-asas peradaban tertinggi — lalu menjadi mangsa naga merah.

Karena itulah, tidak ada seorang pun yang memahami nilainya akan berpisah dari Risale-i Nur, apa pun harga yang harus dibayar; sebab ia menyelamatkan para pembacanya dari banyak bencana lahir dan batin, memberi mereka ilmu yang lebih daripada seorang lulusan universitas, menanamkan kecintaan kepada Islam, tanah air, dan bangsa, serta mengajarkan ketaatan kepada Allah, sikap rajin, dan kasih sayang. Rasa hormat dan pengagungan yang tulus tanpa riya ini tidak dapat dicabut dari hati siapa pun.

Risale-i Nur disebut oleh pihak penuntut umum sebagai karya-karya yang berbahaya. Aku memprotes keras sikap tanpa hati nurani dan kebohongan ini. Dituduhkan pula bahwa aku turut memberikan dorongan dan ajakan. Ya, hal ini benar. Akan tetapi, hati semua kaum terpelajar yang mendengar tuduhan dusta yang satunya lagi menjadi perih, bahkan menangis, dan gigi mereka gemeretak. Abad kedua puluh adalah zaman ketika pemikiran positif berkuasa. Hal-hal yang tanpa dalil dan tanpa bukti tidak dipercayai orang, dan kami pun tidak memercayainya. Kami menuntut bukti bahwa ia adalah karya-karya yang berbahaya.

Jika salah satu maksud musuh-musuh tersembunyi yang melancarkan tuduhan dusta itu adalah memecah sikap saling menopang di antara para pembaca Risale-i Nur — sikap saling menopang yang tampak dalam bentuk mereka berpegang erat satu sama lain dengan ikatan keislaman demi khidmah kepada Al-Qur'an, yang tidak tertuju kepada maksud apa pun selain itu, dan yang hanya merupakan ungkapan rasa hormat, kasih sayang, dan cinta — maka mereka telah tertipu. Janganlah mereka bersusah payah dengan sia-sia. Aku, yang paling belakang dan paling awam di antara para pembaca Risale-i Nur, menjawab mereka demikian:

Sekalipun salah seorang dari kami berada di timur, seorang di barat, seorang di selatan, seorang di utara, seorang di akhirat, dan seorang di dunia, kami tetap bersama satu sama lain. Sekiranya seluruh kekuatan kainat berkumpul, mereka tidak akan dapat memisahkan kami dari Ustaz kami yang agung, Said Nursî, tidak dapat memisahkan kami dari Risale-i Nur, dan tidak dapat pula memisahkan kami dari kami sendiri.

Sebab kami berkhidmah kepada Al-Qur'an dan akan terus berkhidmah. Karena kami beriman kepada hakikat akhirat, cinta dan sikap saling menopang kami yang bersifat maknawi ini sudah pasti

tidak akan dapat dicabut oleh kekuatan mana pun. Sebab seluruh kaum Muslim akan berkumpul di pusat kebahagiaan abadi.

Atas nama keselamatan tanah air dan bangsa kita, dengan izin Tuan-tuan aku sampaikan sebuah hakikat penting: salah satu rencana rahasia kaum komunis adalah menghasut rakyat agar menentang pemerintah.

Demi menjebloskan Bedîüzzaman Said Nursî ke dalam penjara dan menampilkan karya-karyanya seolah-olah berbahaya, laporan-laporan palsu disampaikan kepada para pembesar pemerintah; bersamaan dengan itu dilancarkan pula propaganda buruk yang tidak dipercayai oleh seorang pun.

Bangsa ini sejak bertahun-tahun begitu meyakini bahwa Bedîüzzaman Said Nursî adalah seorang jenius Islam yang langka pada abad ini dan sesosok pribadi yang tiada bandingnya dari segala segi, sehingga keyakinan yang benar ini tidak dapat digugurkan oleh propaganda apa pun, dan memang tidak akan pernah dapat digugurkan.

Aku memanjatkan segala puji dan sanjungan kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadaku manfaat dari karya-karya seorang ustaz yang agung... Aku berutang budi dengan seluruh ruh dan jiwaku kepada seorang ustaz yang menjadi sebab aku meraih faedah-faedah besar melalui pelajaran iman dan Islam. Demi seorang ustaz yang lurus, yang sejak bertahun-tahun menulis karya di tengah kesulitan dan menyelamatkan pemuda kita agar tidak menjadi umpan komunisme lalu dihukum kurungan sendirian yang abadi, aku siap tinggal bertahun-tahun di dalam penjara dunia.

Jika aku akan dihukum mati demi Risale-i Nur — tafsir Al-Qur'an yang sejak dua puluh tahun memberikan pelajaran agama, iman, keislaman, dan keutamaan kepada berjuta-juta manusia serta menjaga mereka agar tidak jatuh ke dalam hidup tanpa agama — aku akan berlari menuju tiang gantungan dengan seruan "Allah, Allah, yâ Rasulallah!" Jika aku akan ditembak mati demi Risale-i Nur yang melindungi para pemuda kita dari kejahatan-kejahatan yang membuat orang terseret ke dalam komunisme lalu keluar dari agamanya, terguling ke dalam bencana yang abadi, dan ditembak mati sebagai pengkhianat tanah air, maka tanpa ragu akan kubusungkan dadaku kepada peluru-peluru itu. Jika aku dicabik-cabik dengan belati demi Ustazku Bedîüzzaman, aku memohon kepada Rabb-ku agar darahku yang memercik ke sekeliling menuliskan: "Risale-i Nur! Risale-i Nur!"

Majelis Hakim Yang Terhormat!

Pendidikan Risale-i Nur sungguh luar biasa dan orisinal, tiada bandingnya. Dalam pendidikan mana pun, orang melanjutkan pendidikannya dengan menjadikan keuntungan materi dan sebuah kedudukan sebagai tujuan. Pelajaran-pelajaran umumnya dibaca demi meraih materi dan ketenaran, bahkan barangkali dengan terpaksa. Adapun mereka yang melanjutkan pendidikan Risale-i Nur — yang menyerupai sebuah universitas bebas yang tidak terorganisasi — dengan cara membaca

karya-karyanya, sama sekali tidak membawa maksud duniawi apa pun selain berkhidmah kepada Al-Qur'an dan iman.

Walaupun demikian, Risale-i Nur yang merupakan karya ilmiah, imani, dan sungguh-sungguh ini dibaca dengan semangat dan kecintaan yang begitu besar serta dengan kenikmatan yang begitu tak berhingga, sehingga ia menumbuhkan pada para pembacanya yang setia sebuah keinginan kuat untuk membacanya berulang-ulang. Mereka yang menulis dan membaca Risale-i Nur, sekalipun nyawa mereka terancam di depan pintu mahkamah, mengakui bahwa mereka membaca karya-karya luar biasa ini dan mengumumkan bahwa mereka akan terus membacanya. Sekalipun mereka tahu bahwa hukuman mati akan dijatuhkan, mereka tidak ragu menampakkan sikap teguh ini. Maka di antara sekian banyak keajaiban Risale-i Nur, keistimewaan ini memberikan kepada Tuan-tuan keyakinan berikut: apakah mereka yang mengakuinya itu mendapatkan nyawa mereka begitu saja di jalan?

Berarti, di dalam Risale-i Nur dan pada diri Bedîüzzaman terdapat hakikat yang demikian tinggi, dan pada keduanya tidak ada sesuatu pun yang berbahaya, sehingga mereka tidak mengingkarinya.

Para pelajar di bangku pendidikan diatur dengan otoritas dan disiplin agar mau belajar. Adapun Bedîüzzaman tidak pernah memaksa seorang pun kepada Risale-i Nur. Namun sebagian besar dari ratusan ribu pembaca, tanpa pernah melihatnya, menerima pelajaran mereka dari Risale-i Nur sebagai murid, dengan ikatan yang tidak tergoyahkan dan tidak terputuskan.

Maka pengajaran yang demikian luar biasa ini belum pernah terlihat di madrasah mana pun, baik dalam sejarah yang dekat maupun yang jauh, dan tidak pernah dijumpai di universitas mana pun.

Jaksa yang terhormat berkata, "Bentuk rasa hormat kepada Bedîüzzaman tidak terlihat pada para mufasir yang lain."

Benar. Mengingat bahwa rasa hormat dan pengagungan itu mengikuti derajat keagungan dan kesempurnaan, sedangkan rasa terima kasih dan syukur mengikuti kadar manfaat yang diperoleh, maka faedah-faedah besar yang diperoleh dari karya-karya Bedîüzzaman itulah yang membuat pengagungan dan rasa terima kasih kepadanya menjadi sedemikian rupa sehingga belum pernah terlihat sebelumnya.

Kaum komunis dan mason telah berusaha agar Bedîüzzaman — pemikir dan penulis Islam terbesar abad kedua puluh — tidak dikenalkan kepada kami, terutama kepada para pemuda kami. Akan tetapi bangsa Turki-Islam yang sadar beserta pemudanya telah mengenal ustaz pahlawan agama itu, telah mengambil manfaat darinya, dan telah membuat orang lain pun mengambil manfaat.

Maka karena itulah, kesetiaan dan kepercayaan yang luar biasa kepada Bedîüzzaman tidak akan tergoyahkan.

Karena ayat-ayat yang ada di dalam Risale-i Nur ditafsirkan ke dalam bahasa Turki kami dengan seni dan kemahiran yang besar tanpa menghilangkan keistimewaan-keistimewaan yang merupakan mukjizat terbesar Al-Qur'an Al-Hakîm, maka segala lapisan masyarakat — perempuan, laki-laki, pegawai dan pedagang, ulama dan filsuf — dapat membaca dan memahami Risale-i Nur. Di hadapan manfaat yang mereka lihat sesuai dengan kadar bakat masing-masing, mereka berpegang kepadanya semakin erat. Para pelajar sekolah menengah atas, mahasiswa, profesor, dosen, dan filsuf membacanya. Golongan terpelajar ini, selain mengambil manfaat yang luar biasa, juga membenarkan bahwa Risale-i Nur sungguh luar biasa dan unggul dalam seni penulisannya, lalu dengan penuh takjub mereka pun merindukan untuk membaca seluruh kumpulan karyanya.

Setiap orang yang berpikiran tajam lagi pandai menghargai, yang baru mengenal Bedîüzzaman dan Risale-i Nur, menyesal ribuan kali karena tidak mengenalnya lebih awal; lalu demi menebus waktu yang telah hilang, mereka tidak menyia-nyiakan waktu luang mereka, memberi arti bahkan kepada waktu lima menit, dan mulai menekuni Risale-i Nur siang dan malam. Sambutan dan perhatian yang begitu kuat ini belum pernah terlihat pada karya psikolog, sosiolog, dan filsuf mana pun. Dari karya-karya mereka hanya orang-orang terpelajar yang dapat mengambil manfaat. Seorang anak sekolah menengah pertama atau seorang perempuan yang sekadar bisa membaca, ketika membaca karya seorang filsuf besar, tidak dapat mengambil manfaat. Akan tetapi dari Risale-i Nur setiap orang mengambil manfaat sesuai dengan derajatnya. Karena itu, seluruh bangsa sedang menanti putusan bebas yang akan Tuan-tuan berikan kepada Bedîüzzaman dan murid-murid Risale-i Nur.

Sekiranya Said Nursî tidak menanamkan sikap sabar, tabah, dan tenang kepada murid-muridnya pada masa musibah, niscaya ribuan murid Risale-i Nur yang penuh hormat — seperti murid-murid yang ia himpun ketika ikut serta dalam perang sebagai komandan resimen sukarelawan — akan menanti putusan bebas dari Mahkamah Pidana Berat Afyon di dalam kemah-kemah yang mereka dirikan di perbukitan Afyon.

Kegiatan Said Nursî dan murid-murid Risale-i Nur tidak dapat dimasukkan ke dalam kerangka undang-undang, dan tidak dapat dibuktikan bahwa ia adalah sebuah perkumpulan rahasia. Mengapa tidak dapat dibuktikan? Apakah seseorang yang naik hingga jabatan kepala jaksa penuntut umum karena ia seorang ahli hukum yang mumpuni, lemah untuk membuktikannya dengan undang-undang? Tidak, sama sekali ia tidak lemah. Memang tidak ada organisasi yang dapat disebut perkumpulan rahasia. Karena itulah tuduhan membentuk perkumpulan tidak dapat dibuktikan.

Bahwa jaksa, yang mula-mula memberikan keputusannya dengan pandangan yang tepat lagi utuh dalam kerangka undang-undang, "Murid-murid Nur bukanlah sebuah perkumpulan," lalu tak lama kemudian entah

mengapa mendakwa, "Ia adalah sebuah perkumpulan," merupakan sebuah kontradiksi. Sudah tentu dakwaan itu tidak memiliki kekuatan hukum. Kami yakin bahwa Majelis Hakim akan memahami hakikat yang sangat jelas ini dan akan memutuskan, "Tidak ada perkumpulan rahasia."

Tuan-tuan Hakim yang terhormat! Sekiranya sepotong hati terlepas di hadapan kesedihan dan penderitaan, niscaya di hadapan kabar bahwa seorang pemuda telah kehilangan agamanya, hati itu harus hancur berkeping-keping sebanyak bilangan zarah atom.

Maka putusan bebas yang akan Tuan-tuan berikan akan menjadi sebab bagi pemuda Islam dan dunia Islam untuk terlepas dari bencana yang dahsyat ini dengan pengaruh yang nyata. Dan inilah salah satu pendorong yang mengikatku kepada Bedîüzzaman dan karya-karyanya dengan ikatan yang tidak terputuskan.

Putusan bebas yang akan Tuan-tuan berikan demi kebebasan Risale-i Nur akan menyelamatkan seluruh pemuda Turki dan seluruh kaum Muslimin dari malapetaka sikap tidak beragama. Sebab Risale-i Nur, yang merupakan perbendaharaan hakikat-hakikat yang tinggi, tanpa syak dan tanpa ragu sedikit pun pasti pada suatu hari nanti akan dikenal di seluruh dunia.

Dari sisi ini, Tuan-tuan akan memperoleh penghargaan seluruh umat manusia. Putusan bebas yang Tuan-tuan berikan akan membuat generasi-generasi pada masa kini dan masa depan berutang budi lagi bersyukur; dan selama Risale-i Nur dibaca serta manfaat-manfaat yang besar diperoleh darinya, nama Tuan-tuan akan senantiasa dikenang dengan penuh penghargaan.

Janganlah sekali-kali Tuan-tuan mengira bahwa dengan kata-kataku yang kusampaikan dengan tulus ini sedang dilakukan riya. Sekali-kali dan sama sekali tidak! Sebab di dalam mahkamah Bedîüzzaman aku tidak takut kepada siapa pun dan tidak merasa sungkan kepada siapa pun.

Hanya saja, dengan izin Tuan-tuan, secara sangat singkat aku menyampaikan sekadar ini: jika jaksa penuntut umum terus-menerus melontarkan tuduhan-tuduhan keji seperti itu kepada Risale-i Nur — yang merupakan jalan untuk mencegah masonisme dan komunisme di tanah air yang diberkahi ini dengan keunggulan yang luar biasa, dan yang memang sedang mencegahnya — serta kepada penulisnya dan para pembacanya; jika ia tidak melepaskan tuduhan-tuduhannya yang sepenuhnya keliru itu; dan jika ia terbawa perasaan lalu memusuhinya, maka ia berarti telah mendukung komunisme dan gerakan freemason, serta telah menolong tumbuhnya orang-orang berbahaya yang tidak beragama, yang sesungguhnya merekalah sasaran hakiki dari tuduhan-tuduhan itu.