Jawaban:
Sinar-Sinar · hlm. 34
Segala kebaikan, keindahan, dan nikmat yang ada, semuanya datang secara langsung dari khazanah rahmat Sang Jamîl dan Sang Rahîm Mutlak itu serta dari karunia-karunia khusus-Nya. Adapun musibah dan kejahatan, karena semuanya hanyalah segelintir hasil juz'i di antara sekian banyak hasil dari hukum-hukum umum dan menyeluruh milik kerajaan rububiyah — hukum-hukum yang berjalan dengan nama sunatullah dan yang menjadi wakil dari kehendak-kehendak yang menyeluruh — dan karena semuanya merupakan tuntutan juz'i dari berjalannya hukum-hukum itu, maka sudah pasti, demi menjaga dan memelihara hukum-hukum yang menjadi sumber kebaikan menyeluruh itu, Dia pun menciptakan hasil-hasil juz'i yang buruk tersebut.
Namun, menghadapi hasil-hasil juz'i yang menyakitkan itu, dengan pertolongan khusus Rahmani dan karunia khusus Rabbani, Dia datang menyambut jeritan orang-orang yang tertimpa musibah dan permohonan tolong dari pribadi-pribadi yang terjerat berbagai malapetaka. Dan dengan memperlihatkan bahwa Dia adalah Pelaku Yang bebas berkehendak; bahwa setiap urusan dari segala sesuatu bergantung kepada masyîah-Nya; bahwa seluruh hukum umum pun senantiasa tunduk kepada kehendak dan pilihan-Nya; bahwa Rabb Yang Rahîm mendengarkan hamba-hamba yang menjerit karena tekanan hukum-hukum itu; dan bahwa Dia datang menolong mereka dengan karunia-Nya — Dia telah membuka pintu-pintu karunia khusus dan curahan kecintaan yang khusus, yakni dengan membuat diri-Nya dicintai, serta pintu-pintu pancaran (tajalli) yang khusus, melalui pengecualian-pengecualian dari kaidah-kaidah sunatullah yang menyeluruh dan hukum-hukum umum itu, dan juga melalui hasil-hasil juz'i yang buruk itu; semuanya untuk membuka medan yang tak terhingga dan tanpa batas bagi manifestasi Asmaul Husna yang tak terhingga dan tanpa batas pula.
Karena tanda tauhid yang kedua ini telah dijelaskan barangkali di seratus tempat di dalam Sirajunnur, di sini kami mencukupkan diri dengan sebuah isyarat ringan.