Jawaban:
Sinar-Sinar · hlm. 97
Adapun kekufuran, karena ia mengingkari dan menafikan hakikat-hakikat iman, maka ia adalah tiada wujud. Sedangkan adanya ananiyah, karena ia lahir dari mengaku memiliki secara tidak berhak, dari tidak mengetahui bahwa dirinya hanya sebuah cermin, dan dari menganggap yang khayali sebagai sesuatu yang nyata, maka ia adalah tiada wujud yang telah mengambil warna dan bentuk wujud.
Selama sumber segala keindahan adalah wujud dan tambang segala keburukan adalah tiada wujud, maka pastilah wujud yang paling kuat, paling tinggi, paling cemerlang, dan paling jauh dari tiada wujud — yaitu wujud yang wajib ada, keberadaan yang azali dan abadi — menuntut keindahan yang paling kuat, paling tinggi, paling cemerlang, dan paling jauh dari cacat; bahkan ia menyatakan keindahan semacam itu, bahkan ia sendiri menjadi keindahan semacam itu. Sebagaimana matahari mesti memiliki cahaya yang meliputinya, demikian pula Wâjibul Wujûd meniscayakan keindahan yang kekal abadi, dan dengan keindahan itu Dia memberikan cahaya.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى نِعْمَةِ الْا۪يمَانِ ٭ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَٓا اِنْ نَس۪ينَٓا اَوْ اَخْطَاْنَا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ