Risale-i NurSinar-Sinar

Jawaban:

Sinar-Sinar · hlm. 103

Salat setiap mukmin adalah semacam mikraj baginya. Adapun kalimat-kalimat yang layak bagi hadirat itu ialah kata-kata yang diucapkan pada mikraj teragung Muhammad صلى الله عليه وسلم. Dengan menyebut kalimat-kalimat itu, percakapan suci itu teringat kembali. Dengan ingatan itu, makna kalimat-kalimat yang mubarak itu naik dari yang juz'i kepada yang menyeluruh, dan makna-makna yang suci lagi meliputi itu pun terbayangkan atau dapat terbayangkan. Dan dengan bayangan itu, nilai serta cahayanya pun meninggi dan meluas.

Misalnya, Rasul Yang Termulia صلى الله عليه وسلم pada malam itu, sebagai ganti salam kepada Allah, mengucapkan اَلتَّحِيَّاتُ لِلّٰهِ. Yakni: "Segala tasbih kehidupan yang diperlihatkan oleh seluruh makhluk hidup melalui hidup mereka, dan

hadiah-hadiah fitri yang mereka persembahkan kepada Sang Pembuat mereka, wahai Rabb-ku, semuanya khusus milik-Mu. Aku pun mempersembahkan semuanya kepada-Mu dengan bayanganku dan dengan imanku."

Ya, sebagaimana Rasul Yang Termulia صلى الله عليه وسلم dengan kalimat اَلتَّحِيَّاتُ meniatkan dan mempersembahkan seluruh ibadah fitri segala makhluk hidup; demikian pula dengan kalimat اَلْمُبَارَكَاتُ yang merupakan inti sari tahiat, beliau mengucapkannya dengan makna yang luas itu — dengan mewakili sifat mubarak yang fitri, keberkahan, dan ubudiyah seluruh makhluk yang menjadi sumber berkah dan tabrik, yang membuat orang mengucapkan "barakallah", yang disebut "mubarak", serta yang merupakan inti sari kehidupan dan makhluk hidup, terutama benih-benih, biji-bijian, butir-butiran, dan telur-telur.

Dan dengan kalimat اَلصَّلَوَاتُ yang merupakan inti sari mubarakat, beliau membayangkan ibadah-ibadah khusus seluruh makhluk yang berruh — yang merupakan inti sari makhluk hidup — lalu menghadapkannya ke hadirat Ilahi dengan makna yang meliputi itu.

Dan dengan kalimat اَلطَّيِّبَاتُ, beliau memaksudkan ibadah-ibadah yang bercahaya dan tinggi dari manusia-manusia yang kamil dan para malaikat muqarrabin — yang merupakan inti sari makhluk yang berruh — melalui tayibat yang merupakan inti sari salawat, lalu mengkhususkan dan mempersembahkannya kepada Ma'bûd-nya.

Kemudian, sebagaimana ucapan اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا اَيُّهَا النَّبِىُّ dari Allah pada malam itu memberitakan secara memerintah bahwa pada masa depan ratusan juta manusia, masing-masing mereka, setiap hari, sekurang-kurangnya sepuluh kali akan mengucapkan اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا اَيُّهَا النَّبِىُّ. Dan salam Ilahi itu memberikan cahaya yang luas serta makna yang tinggi kepada kalimat tersebut.

demikian pula ucapan Rasul Yang Termulia صلى الله عليه وسلم sebagai jawaban atas salam itu, yaitu اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلٰى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِح۪ينَ, menyatakan dan mengingatkan bahwa beliau dengan penuh harap dan penuh doa memohon kepada Khâliq-nya agar pada masa depan umatnya yang agung dan orang-orang saleh dari umatnya memperoleh Islam yang mewakili salam Ilahi itu, dan agar seluruh umat mengucapkan اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ وَ عَلَيْكَ السَّلَامُ di antara sesama mukmin, yang merupakan syiar umum Islam.

Dan ucapan Malaikat Jibril alaihissalam — yang turut mengambil bagian dalam percakapan itu — pada malam itu dengan perintah Ilahi, yaitu اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ, memberitakan sebagai kabar gembira bahwa seluruh umat sampai hari kiamat akan bersaksi demikian dan akan mengucapkan demikian.

Dan dengan mengingat kembali percakapan suci ini, makna kalimat-kalimat itu pun berkilau dan meluas.