Inilah keadaan ruhani yang aneh, yang menolongku dalam tersingkapnya hakikat yang telah disebutkan itu:
Sinar-Sinar · hlm. 105
Pada suatu waktu, dalam perantauan yang gelap, di sebuah malam yang gelap, dalam keadaan lalai yang gelap gulita, kainat yang besar dan ada pada masa kini ini tampak dalam khayalku sebagai sebuah jenazah yang beku, tak berruh, mati, kosong, hampa, lagi dahsyat. Masa lalu pun terbayang olehku sama sekali mati, kosong, menjadi mayat, dan dahsyat. Ruang yang tak terhingga dan waktu yang tak berbatas itu berubah menjadi sebuah tempat sunyi yang mencekam dan gelap. Untuk lepas dari keadaan itu, aku berlindung kepada salat. Ketika di dalam tasyahud aku mengucapkan اَلتَّحِيَّاتُ, seketika itu juga kainat menjadi hidup; ia mengambil bentuk yang hidup lagi bercahaya, lalu bangkit kembali. Ia menjadi cermin yang berkilau bagi Zat Yang Hayy lagi Qayyûm. Aku mengetahui dan melihat dengan ilmul yakin, bahkan dengan haqqul yakin, bahwa kainat beserta seluruh bagiannya yang hidup senantiasa mempersembahkan tahiat kehidupan mereka dan hadiah-hadiah kehidupan mereka kepada Zat Yang Hayy lagi Qayyûm.
Kemudian, ketika aku mengucapkan اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا اَيُّهَا النَّبِىُّ, waktu yang tak berbatas dan hampa itu seketika berubah dari bentuk tempat sunyi yang mencekam menjadi sebuah tempat tamasya yang penuh keakraban, dipenuhi ruh-ruh yang hidup, di bawah pimpinan Rasul Yang Termulia صلى الله عليه وسلم. PERTANYAAN KEDUA: Perumpamaan yang terdapat pada akhir tasyahud, yaitu di dalam اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى اِبْرَاه۪يمَ وَعَلٰى اٰلِ اِبْرَاه۪يمَ, tampak tidak sesuai dengan kaidah perumpamaan. Sebab Muhammad صلى الله عليه وسلم lebih banyak memperoleh rahmat dan lebih besar daripada Ibrahim alaihissalam. Apakah rahasianya?
Lalu apakah hikmah dikhususkannya salawat dalam bentuk seperti ini di dalam tasyahud?
Doa yang sama itu diulang oleh seluruh umat sejak zaman dahulu pada setiap salat... Padahal sebuah doa cukuplah bila dikabulkan satu kali. Namun pribadi-pribadi yang jutaan doanya makbul justru berdoa dengan penuh desakan, terlebih lagi jika hal itu telah disertai janji Ilahi... Misalnya,
عَسٰى اَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا Meskipun Allah telah menjanjikannya, di dalam doa yang diriwayatkan sesudah setiap azan dan ikamah tetap diucapkan وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًاۨ الَّذ۪ى وَعَدْتَهُ, dan seluruh umat berdoa agar janji itu ditunaikan. Apakah rahasia hikmahnya?